Komunitas ActorIdea Padangpanjang kembali akan menapaki satu perjalanan penting di jalur kesenian mereka. Sebuah perjalanan yang mereka bangun dari perjumpaan, serta kerja-kerja kolektif. Kali ini, lakon “Malin Kundang Lirih” akan mereka bawa melintas dibeberapa kota di Indoensia dalam rangkaian tur bertajuk “Selirih Dua Kota”. ActorIdea merupakan komunitas seni yang tumbuh dari inisiatif Wanda Rahmad Putra, Fajar Eka Putra, dan Akbar Munazif, yang sejak 2021 membangun ruang berkesenian di Padangpanjang. Komunitas ini tidak hanya memproduksi pertunjukan, tetapi juga menempatkan diri sebagai ruang belajar kolektif tentang seni akting dan teater. Di dalamnya, praktik panggung senantiasa disandingkan dengan produksi wacana, pembuatan konten, serta aktivitas literasi, menjadikan ActorIdea sebagai ekosistem kecil tempat eksperimen artistik dan pengetahuan saling berkelindan.
Pertunjukan dibeberapa kota ini bagi Actoridea tentu tidak hanya sebuah penjelajahan yang bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi juga upaya merawat ingatan tentang cerita rakyat dalam lanskap budaya hari ini, kontemporer. Perjalanan pertama rencananya akan dilabuhkan di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada 10 Desember 2025, dalam program Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST). Sebuah ruang temu yang digarap bersama oleh Lab Teater Ciputat (LTC) dan MTN Seni Budaya. Lalu, beberapa hari kemudian, rombongan ini akan bergerak ke kota kedua, tepatnya di Gedung Hall Suyitno, Universitas Bojonegoro, 14 Desember 2025. Bersama Yayasan Teman Penggerak Indonesia (YTPI), Teater Geniwara, dan Kolektif Ataraksa.
Sebelumnya, “Malin Kundang Lirih” telah lebih dulu menguji “kelirihannya” dan mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dimana “mitos” ini tumbuh. Di Gedung Teater Arena Mursal Esten ISI Padangpanjang, dalam program Lab Indonesiana, Dapur LTC 2024. Sebagaimana Sumatera Barat, tentu tidak ada yang tidak jadi bahan untuk didialogkan. Karya ini pun kemudian mendorong percakapan-percakapan baru. Karya ini menjadi semacam pembacaan ulang atas mitos, dengan bahasa yang lain. Dengan tubuh teater kontemporer. Pementasan berikutnya di Padang, pada 6 November 2025, dalam momen Pergelaran Seni Peringatan Sumpah Pemuda & Hari Pahlawan di Taman Budaya Sumatera Barat.
Sesungguhnya, bagi ActorIdea, tur keluar dari landscape budaya “Malin Kundang” ini bukan sekadar perjalanan pertunjukan, tetapi upaya memperluas percakapan lintas budaya. Mengenai maskulinitas, pengalaman perantauan, hingga kerentanan identitas. Tema-tema yang tentu terus bergerak seiring pengalaman-pengalaman penonton yang berbeda, ruang yang berubah, serta konteks sosial yang senantiasa membuka diri bagi tafsir baru. “Malin Kundang Lirih” sebetulnya adalah sebuah naskah monolog karya Pandu Birowo. Staf pengajar di jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Melalui naskah ini, Malin ditempatkan bukan lagi sekadar figur dalam dongeng moral. Ia adalah sosok manusia yang dibentuk oleh arus budaya rantau. Sebuah tradisi yang menjadi semacam jalan hidup sekaligus medan uji bagi anak laki-laki Minang. Dalam tafsir ini, panggung dibayangkan sebagai ruang intim bagi Malin untuk bisa diperdengarkan. Bukan kutukan sebagaimana yang selalu dilekatkan padanya, melainkan lapisan-lapisan pergulatan dirinya. Keraguan yang mengendap, rasa salah yang tak selesai, ambisi yang menggerakkan, serta kegelisahan yang menandai perjalanan seorang pemuda yang tengah merumuskan dirinya sebagai subjek sosial.

Sebagai bagian dramatik, jejak tradisi Minangkabau, khususnya Randai dan Tupai Janjang akan senantiasa menemani Malin dalam pertunjukan ini. Legaran, silek, tari, dendang, dan kostum kemudian menjadi bagian yang tidak kalah penting. Tetapi, unsur-unsur itu tidak dihadirkan sebagai masa lalu yang hanya sebagai tempelan-tempelan semata. Tetapi sebagai teknik tubuh dan pengetahuan kultural yang hidup. Ia kemudian diramu dalam estetika teater modern. Dengan begitu, pertunjukan ini seakan hendak menciptakan jembatan yang akan mempertemukan antara yang tradisional dan kontemporer. Menariknya, sebagaimana sebuah monolog, tokoh Malin tidak dibiarkan sepi sendiri dalam igauannya. Ia ditemani dan dikelilingi oleh pemain legaran, tukang kaba, dan seorang pendendang yang memerankan tokoh lainnya, ibunya. Kehadiran mereka tidak hanya berfungsi sebagai penanda perpindahan suasana, akan tetapi pembawa suasana dramatik, dan penjaga ritme yang mengatur napas cerita.
Bagian kelirihan Malin sengaja ditempatkan pada akhir pementasan sebagai momen pecahnya ketegangan. Setelah penonton mengikuti alur cerita melalui kekuatan tutur sejak awal, adegan penutup yang pelan, rapuh, dan menundukkan diri itu menghasilkan kontras emosional yang tajam. Kelirihan tersebut tidak hanya menguatkan tema, tetapi juga menempatkan kisah Malin dalam cakupan yang lebih luas, melampaui batas etnis Minangkabau. Sebagai pergulatan manusia yang berhadapan dengan ekspektasi, asal-usul, dan beban identitas.
Menelusuri konteks sosial Malin di perantauan
Jakarta dan Bojonegoro, sebagai dua titik penting dalam perjalanan tur ini, ditempatkan bukan sekadar lokasi pementasan, tetapi untuk menelusuri ruang sosial yang barangkali ikut membentuk Malin. Selain itu, tentu juga untuk membuka percakapan baru tentang rantau sebagai pengalaman lintas budaya. Jakarta, dengan ritme metropolis yang padat dan hiruk-pikuk mobilitas ekonominya, memperlihatkan wajah perantauan yang keras, kompetitif, tekanan-tekanan sosial yang tidak terlihat tetapi menghimpit, serta tempat bergulirnya negosiasi identitas yang harus terus diperbarui di tengah kota yang nyaris tak memberi jeda.

Berbeda dengan Bojonegoro, yang memberikan lanskap sosial yang lain. Di kota dengan dinamika desa-kota, kehidupan kampus, serta komunitas muda yang aktif. Dimana gagasan merantau sering dipahami sebagai proyeksi harapan generasi, yakninya sebuah dorongan untuk “pergi demi masa depan” yang sudah tentu membawa serta beban ekspektasi keluarga dan masyarakat. Lingkungan ini memunculkan refleksi tentang bagaimana impian dan tekanan saling berkelindan dalam jalan hidup anak-anak muda.
Dalam dua ruang yang kontras inilah, figur Malin ingin ditemukan kembali, dan sekaligus dieja ulang. Lagi-lagi, tentu saja bukan hanya sebagai tokoh legenda, tetapi sebagai perwakilan manusia yang tumbuh dalam pusaran tuntutan kesuksesan sekaligus rapuh oleh ketidakpastian hidup. Menjadi simbol manusia yang dibentuk oleh tuntutan kesuksesan, sekaligus korban dari ketidakpastian yang lahir dari hidup itu sendiri.
Pendeknya, melalui tur “Selirih Dua Kota,” ActorIdea mengajak publik, komunitas seni, para akademisi, dan masyarakat luas untuk menyelam kembali ke dalam mitos Malin Kundang. Tetapi tentu bukan sebagai cerita yang beku, tetapi sebagai pengetahuan budaya yang terus berubah bentuk sesuai konteks zaman. Karya ini tidak mengajukan satu kebenaran atau kesimpulan akhir. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi penonton untuk merasakan, menafsirkan, dan mempertanyakan ulang relasi mereka dengan tanah asal, perjalanan hidup, dan masa depan dalam budaya rantau yang terus tumbuh, bergerak, dan menuntut negosiasi diri di setiap langkahnya.
