
Rabu malam, 9 Juli 2025, sekitar pukul 7.00, Saya bersama seorang kawan, Andes Satolari, berkendara dari arah tenggara Lima Puluh Kota, nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang di Kecamatan Luak, menuju nagari Lubuak Batingkok di Kecamatan Harau, arah utara Lima Puluh Kota.
Saya datang ke Lubuak Batingkok untuk melihat proses latihan kelompok Teater Sambilan Ruang. Sebuah kelompok teater yang digerakkan oleh kawan saya, Fitri Noveri (tapi ia lebih senang dengan istilah sandiwara). Selain untuk mencatat hal-hal yang menarik, saya juga sekalian membantu Andes untuk menambah-nambahi ambient musik yang nanti akan disusunnya. Latihan ini adalah persiapan untuk sebuah pementasan terbarunya. Bayang Kaki Limo, cerita ketiga dari empat cerita yang sudah dikarang Feri. Cerita ini, beberapa tahun lalu dipentaskan di Taman Budaya, Padang. Pada Agustus ini akan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam gelaran Djakarta International Theater Flatform 2025.
Feri lebih senang dengan istilah sandiwara sebetulnya karena alasan historis. Sebab yang menyejarah. Seusia sekolah dasar, ia kerap diajak menjadi pemeran sandiwara di kampungnya, Lubuak Batingkok. Ia memerankan seorang anak yang hidup bersama ibunya. Saban hari bekerja sebagai tukang semir sepatu di pasar. Di keramaian pasar, ia menyemir sepatu seorang laki-laki gagah yang ternyata itu adalah ayahnya. Meskipun cerita yang begitu klise, namun Ia mengenang masa-masa itu sebagai puncaknya kreativitas pemuda dan pemudi di nagarinya yang tersuruk itu. Ia mengingat, setiap setahun sekali, pasti ada pementasan sandiwara. Yang kemudian dijadikan arena pementasan adalah ruang di sekolah dasar.
Feri menceritakan tentang bangunan kelas sekolah dasar masa lalu itu dirancang selalu memanjang. Setiap kelas akan dipisahkan oleh dinding yang terbuat dari susunan papan yang cukup tebal yang diberi nomor. Susunan itu menjadi pemisah antara ruang kelas satu dengan yang lainnya. Dan di ruang paling ujung biasanya menjadi ruang khusus. Ruang ini memang dijadikan untuk pementasan-pementasan dan penampilan bakat siswa ketika penghujung tahun ajaran telah usai. Maka, papan-papan pembatas tadi akan diturunkan. Dengan begitu, ruang memanjang itu akan beralih fungsi sebagai “gedung pertunjukan”. Ruang itulah yang kerap dipinjam oleh pemuda pemudi untuk menggelar pementasan-pementasan sandiwara dan juga paket pertunjukan lainnya. Feri masih mengingat dengan jelas meskipun itu sudah empat dekade yang lalu.
Bahkan lebih jauh sebelum itu, sandiwara bukanlah kerja-kerja kreatif yang asing bagi masyarakat nagari Lubuak Batingkok. Di tahun 50an hingga 80an proses kreatif sandiwara telah berlangsung di Lubuak Batingkok. Sejauh yang bisa ditelusuri, ada beberapa lakon sandiwara yang memang dikarang oleh orang Lubuak Batingkok, dan diperankan langsung oleh anak-anak nagari pemuda dan pemudi Lubuak Batingkok. Salah satunya, Yusfia Helmi. Lakon yang dikarangnya, Titian Kehidupan (1981), Siti Baheram (1985).
***
Jam 8 lebih sedikit Saya sampai di sebuah warung kopi. Warung itu milik Feri. Di warung itu, pada pagi hari, ia dan istrinya berjualan sarapan pagi. Jika malam tempat menyandarkan resah orang-orang kalah ditemani segelas kopi. Setelah memarkirkan motor, beberapa orang yang memang sudah Saya kenali ada di sana. Saya lantas bersalaman. Ada Dayat, Yudha, Datuak Manso, dan Uda Febri Nova. Mereka adalah pemeran dalam cerita yang nantinya akan digarap. Cerita itu berjudul bayang kaki limo. Cerita yang dikarang sendiri oleh Feri.
Setelah meminta kopi, sembari menunggu para pemeran lainnya, Saya berkesempatan mengajak beberapa orang untuk bercerita. Tapi pembicaraan kami bukanlah soal peran masing-masing. Melainkan hal yang lain. Sambil memukul-mukulkan gulungan kertas yang ada di tangannya ke meja, Dayat bercerita tentang ladang timunnya yang gersang. Kemarau yang panjang ini membuat timunnya tidak kunjung manggarik –tak tumbuh sebagaimana mestinya. Tidak dapat di akalnya lagi. Pertaniannya memang sangat bergantung pada musim. Sebagaimana timun, ia pun sudah menyerahkan panennya pada iklim yang berubah-ubah itu.
Sebelas dua belas dengan Dayat, Datuak Manso juga menceritakan parasaiannya. Sambil menyeruput kopi, ia menertawakan tanaman jagungnya. “Panas berdengkang tahun ini membuat jagung saya berubah jadi popcorn semenjak dari batangnya,” celetuknya. Dayat ikut tertawa mendengar lelucon Datuak Manso.
“Ada rumah atau gedung yang mau di pasang gypsum di tempat Uda?” Yudha mendahului pertanyaan saya. Anak muda gondrong ini memang sedang senang-senangnya bermain dengan bubuk putih bahan gyspsum itu. Sudah lebih dari 5 tahun ia bekerja di bengkel gypsum. Baginya lebih artistik bekerja sebagai tukang pasang gypsum dari pada pada jadi pramusaji di hotel. Meskipun hotelnya ada di dekat rumahnya.
Di bangku sebelah luar, Uda Febri Nova tak mengambil pusing hari-harinya. Ia menikmati benar jadi “bujangan”. Dengan begitu ia sangat leluasa tanpa beban mencubit kartu koa atau domino ketika tidak ada jadwal latihan, tidur larut malam, dan bangun larut siang.
Sementara itu, di sudut dekat pintu dapur warung, sambil terus membaca-baca dialog, Nanik terus saja meracit buncis, memotong-motong pakis, dan juga ada cempedak. Sebelum subuh, sayur-sayur itu sudah harus dimasak jadi gulai. Kalau kesiangan, bagaimana nanti langganan sarapan paginya. Sandiwara tentu perlu untuk jiwanya, sedangkan jualan sarapan pagi begitu penting bagi raganya. Nanik tidak lain adalah istri dari Fitri Noveri. Nanik adalah pemeran yang perannya begitu sentral dalam kehidupan Feri. Baik perannya di balik etalase dan rak sarapan pagi, maupun perannya dalam empat karya dari naskah-naskah yang sudah dikarangnya itu. Beberapa aktor lainnya sudah tampak berdatangan. Latihan segera akan dimulai. Saya tidak sempat bercerita dengan aktor lainnya.
***
Tanpa menunggu aba-aba dari Feri selaku tukang karang cerita ataw sutradara, Dayat, Yudha, dan Uda Febri mulai mengeluarkan beberapa box buah dari dalam warung. Tampaknya itu sudah menjadi tugas mereka. Box itu disusun di halaman warung. Halaman warung pada malam itu telah berubah menjadi pentas. Pada box tersebut, ditegakkan sebuah payung. Di atas box, digelar tampah bambu. Di dalam tampah-tampah itu diisi daun-daunan. Sebuah peristiwa akan mereka hidupkan, kehidupan para pedagang kelas bawah di sebuah pasar.

Uda Febri Nova, Uda Wan, Nanik, Gita, Yudha, Dayat, Anggun, dan Palito mondar mandir di area masing-masing. Sementara di sebelah kiri, Andes begitu serius memindah-mindahkan tangannya di neck gitar. Datuak Manso mengulang-ngulang ritma yang sama di membran gendang ketipungnya. Dan Uni Yeni tampak cukup kewalahan mencobakan pengetahuan barunya dalam bernyanyi, solfegio. Dari suara rendah, langsung meloncat dari satu interval ke interval lain di atas ataupun di bawah. Dan juga yang menarik, bagaimana mereka mencipta harmoni dengan suara. Saya sesekali juga terpancing untuk ikut menyanyikannya.
Beberapa kali diskusi, Feri begitu sering mengulang-ulang kata sandiwara. Namun, ia tidak memberi penjelasan yang rinci tentang sandiwara yang ia maksud. Dan bagaimana keterhubungannya dengan cerita bayang kaki limo yang akan ia pentaskan itu. Jika kemudian kita bersepakat dengan Dede Pramayoza dalam bukunya dramaturgi sandiwara, bahwa sandiwara diartikan sebagai sebuah seni dramatik yang berkembang pesat di nagari-nagari Sumatera Barat pada dekade 60an, yang secara bentuk membedakan dirinya dengan begitu tajam dengan randai (dramatik tradisi). Lebih jauh dapat dilihat ketajamannya, bahwa sandiwara secara pementasan menggunakan pendekatan apa yang dibayangkan dalam teater dalam konteks Eropa. Dimana, ada jarak yang tegas dan jelas antara penonton dan apa yang sedang ditontonnya. Sedangkan randai (dramatik tradisi) berada di seberangnya. Apa yang sedang dipentaskan berada begitu dekat dengan penonton, dan adakalanya penonton juga menjadi bagian dari apa yang ditontonnya. Serta kerap sekali keterbatasan-keterbatasan secara teknis pementasan dalam randai (dramatik tradisi) bisa diselesaikan secara imajiner kepada penonton. Dan ini tidak terjadi pada sandiwara ataupun teater tadi.
Namun, jika ditonton dari apa yang sedang dikembangkan oleh Feri, terlihat tidak bercorak dua-duanya, dan terkadang juga sangat bercorak dua-duanya. Bahwa, apa yang sedang digarap Feri tidak berjarak bahkan sangat dekat dengan para penontonnya. Sangat khas randai (dramatik tradisi). Namun, sebalik pada itu, jika mengacu pada apa yang dijelaskan Dede, bahwa sandiwara dalam pementasannya sangat khas Eropa. Dimana ada pentas, ada batas yang jelas dengan penonton, serta ada ruang khusus untuk pemain keluar masuk dalam peran. Serta yang paling penting juga dalam sandiwara ada istilah babakan, dan istilah selingan. Hal itu, tidak terasa ada dalam apa yang sedang diproduksi Feri melalui karya-karyanya.
Namun terlepas dari istilah tersebut, apakah teater atau sandiwara, secara dramaturgi ada banyak hal yang mungkin bisa dilihat sekaligus dicatat. Misalnya tentang teks lakon yang dikarang Feri. Bayang kaki limo ini misalnya. Teks yang dihadirkan menggunakan bahasa Minang. Teks tersebut dipotret dari kisah, dari fenomena sosial yang ada di Lubuak Batingkok. Sebagaimana digambarkan dalam tokoh ibu dalam cerita. Ibu dengan kehidupannya sebagai pedagang di pasar tradisional. Pedagang kecil dengan mimpi besar. Kehidupan yang tidak jauh dari lilitan hutang, membicarakan kejelekan orang lain, melihat dan menyimpulkan sesuatu dari apa yang tampak semata, kerap bergeming dengan segala kepura-puraan, sinisme adalah kecemburuan yang membatu, paradoks dunia pendidikan, dan lain sebagainya.
Cerita itu disampaikan oleh tokoh atau pemeran yang juga warga Lubuak Batingkok. Para pemeran ini seakan sedang menceritakan diri mereka sendiri. Adakalanya dialog-dialog yang dimuculkan untuk mencemooh. Maka ketika itu tentu saja para pemeran ini sedang mencemooh diri mereka sendiri. Kadang cemooh itu juga diikuti dengan gelak tawa sungguhan.

Menemukan para pemeran diantara warga masyarakat menjadi tantangan sendiri bagi Feri. Pada satu ketika Feri membuat surat kepada warga. Surat yang sebetulnya bermaksud mengundang. Namanya undangan, tentu di dalam termaktub maksud dan tujuannya. Bahwa ia akan membuat gelaran drama. Drama yang bercerita tentang kisah-kisah yang dekat dengan masyarakat Lubuak Batingkok. Untuk itu, yang bersedia untuk ikut ambil bagian bisa datang berkumpul di satu tempat. Dari 30 surat undangan yang disebar, separohnya datang. Dari yang separoh itu menandakan kesediaan untuk ikut bergabung. Orang-orang inilah kemudian yang dikelola oleh Feri menjadi pemeran dan tim produksi aatas karya-karyanya.
Tantangan pertama selesai, mentransfer teks ke laku dan suara kepada pemeran menjadi tantangan lebih berat lagi. Mendedahkan teori-teori pemeranan menjadi hal yang lebih rumit lagi. Tetapi, tentu Feri memulai dengan memperkenalkan cerita. Kemudian mendorong pemeran untuk memberi nada dan penekanan-penekanan suara pada dialog yang dibaca. Tidak mempan juga, Feri membuatkan pengandaian-pengandaian yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan memotret tokoh-tokoh tertentu dalam realitas Lubuak Batingkok kepada pemeran. Jika belum sampai juga, pada satu titik, Feri menyuntikkan bentuk laku, dan nada suara atas dialog yang akan dibacakan kepada para pemeran. Maka, menghapal laku, gerak, dan nada dialog menjadi pilihan oleh para pemeran bayang kaki limo ini.
Namun, yang lumayan melekat oleh para pemeran dan dijadikan sebagai “kunci” adalah bagaimana kemudian bisa mendengarkan dengan seksama dialog dari lawan main. Mendengarkan dengan seksama berarti memberi ruang pada emosi. Dengan begitu ekspresi tertentu bisa muncul dengan sendirinya. “Teori” ini kemudian begitu melekat dan selalu dipraktekan oleh para pemeran.
***
Feri begitu yakin, bahwa kesenian, apapun itu, baik seni rupa, seni pertunjukan, atau yang lainnya, mestinya tumbuh di dalam masyarakat. Biar kemudian, antara keduanya, kesenian dan masyarakat saling berpantul satu sama lain. Karena itu, ia mendirikan sebuah kelompok teater atau sandiwara di tengah-tengah masyarakat. Di nagari Lubuak Batingkok, kampung halamannya sendiri.
