Di tengah riuh festival seni nasional dan gegap gempita pertunjukan modern, ada sebuah cerita kesenian yang lahir dan tumbuh dari ruang yang sederhana: sebuah lapau (warung tradisional) di Nagari Lubuak Batingkok, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Di sinilah Grup Teater Sambilan Ruang — yang juga menyebut diri sebagai Kelompok Sandiwara Sambilan Ruang — berproses. Mereka bukanlah seniman akademisi yang bergelar, melainkan pedagang, petani, ibu rumah tangga, dan pemuda lokal yang memiliki semangat bersama untuk melestarikan cerita dan nilai-nilai Minangkabau melalui teater.
Namun, di balik semangat itu, tersimpan sejumlah tantangan klasik yang menghambat perkembangan mereka: keterbatasan akses pelatihan, isolasi jaringan, ketiadaan status hukum, serta minimnya peralatan teknis pendukung pertunjukan. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang digagas Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, kelompok ini tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan komprehensif menuju kemandirian sebagai lembaga seni berbadan hukum.
Akar Masalah: Antara Semangat dan Keterbatasan
Didirikan pada 11 November 2011 oleh sejumlah mahasiswa seni teater, Teater Sambilan Ruang sejak 2014 telah bertransformasi menjadi grup teater organik yang melibatkan warga lokal dalam setiap produksinya. Karya-karya mereka — seperti Cadlak Patah (2016), Bayang Kaki Limo (2022), dan Renteng Langsai (2024) — kerap mengangkat tema-tema aktual masyarakat Minangkabau dengan bahasa lokal yang kental.
Meski telah tampil di berbagai festival seperti Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Barat dan Djakarta International Theatre Platform, mereka masih bergulat dengan tiga masalah utama. Pertama, kelompok ini belum memiliki sistem pelatihan dan metode artistik yang khas, sehingga identitas kelompok kurang terdefinisi dengan baik. Kedua, Teater Sambilan Ruang belum memiliki badan hukum, yang menutup akses terhadap bantuan pemerintah, hibah, dan program pendanaan lainnya. Dan Ketiga, sebagai akibatnya, grup ini belum mampu menghasilkan sistem produksi mandiri yang melibatkan penjualan tiket atau donasi, sehingga masih sangat bergantung pada undangan festival. Selain itu, fasilitas yang mereka miliki sangat sederhana: lapau sebagai ruang latihan, sound system portabel, dan properti seadanya. Akses terhadap lighting, set panggung, dan peralatan teknis lainnya hampir tidak ada.
Intervensi Program: Pelatihan yang Mengakar, Pendampingan yang Menyeluruh
Program PISN 2025 hadir dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Project-Based Training, yang memastikan bahwa seluruh proses dilakukan secara kolaboratif dengan anggota grup. Tim yang diketuai Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.A., bersama Fresti Yuliza dan Naufal Hibatullah, tidak sekadar memberikan pelatihan teknis, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan.
Inovasi Artistik: Dramaturgi Realisme Minangkabau dan Skenografi Ideogram
Dua konsep ini menjadi jantung program pelatihan artistik. Pertama, Dramaturgi Realisme Minangkabau menggabungkan pendekatan realisme Barat dengan estetika dan konteks sosial Minangkabau. Naskah yang dihasilkan menggunakan bahasa sehari-hari, mengangkat konflik tradisi-modernitas, dan menampilkan karakter yang dekat dengan realita masyarakat setempat. Kedua, Skenografi Ideogram mengutamakan simbol-simbol visual esensial yang dibuat dari bahan lokal, daur ulang, dan proyeksi digital, menciptakan panggung yang minimalis namun penuh makna. “Kami tidak ingin mereka kehilangan akar budaya, justru itulah kekuatan utama yang harus dikemas dengan pendekatan kontemporer,” ujar Dede Pramayoza, yang juga berperan sebagai dramaturg dan pelatih akting.
Selain pelatihan akting, olah tubuh, vokal, dan analisis karakter, anggota grup juga dilatih dalam manajemen produksi teater. Mereka diajarkan menyusun proposal, anggaran produksi (RAB), timeline, strategi pemasaran sederhana, hingga sistem dokumentasi dan pelaporan keuangan. Tim PISN juga mendampingi proses penyusunan AD/ART, pengurusan Akta Notaris, hingga pengajuan SK Kemenkumham. Legalitas ini diharapkan membuka pintu akses pendanaan, hibah, dan kolaborasi yang lebih luas. Sebagai bagian dari program, diserahkan peralatan panggung senilai Rp 23,2 juta, termasuk: Lampu Par LED, Lampu Fresnel, Mixer Lighting, proyektor, layar, dan Mic Wireless. Peralatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas pertunjukan, tetapi juga menjadi aset berharga untuk produksi mandiri ke depannya.
Hasil yang Terlihat: Dari Naskah hingga Panggung Uji Coba
Dalam kurun waktu enam bulan, program ini telah mencatat sejumlah capaian signifikan. Capaian utama adalah sebuah naskah lakon baru berjudul Bayang Kaki Limo dengan pendekatan dramaturgi realisme Minangkabau. Berbarengan dengan itu, juga telah terjadi peningkatan kapasitas artistik para anggota, yang ditunjukkan dengan peningkatan kemampuan dan teknik akting, pemahaman atas konsep skenografi, dan kemampuan analisis karakter. Berangkat dari hasil itu, maka sebuah pementasan uji coba kemudian dilaksanakan di SD Nagari Lubuak Batingkok dengan jumlah penonton sekitar 100 orang.
Hal ini menjadi pijakan awal menuju produksi mandiri berbayar. Simultan dengan itu, juga berlangsung proses legalitas, ditandai dengan dirumuskan dan diajukannnya draft AD/ART Grup untuk diterbitkan sebagaai Akta Notaris dan SK Kemenkumham, yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi. Hal yang tak kalah pentingnya adalah pembuatan Portofolio Dokumentasi, dimana saat ini proses editing video dan foto dokumentasi sedang berjalan untuk keperluan promosi dan arsip. Secara finansial, realisasi anggaran telah mencapai 65% dari total dana yang disetujui, dengan sebagian besar dialokasikan untuk pelatihan, pendampingan, dan pengadaan aset teknologi.
Tantangan di Tengah Jalan dan Solusi Kreatif
Kendati demikian, tidak semua proses berjalan mulus. Tim dan anggota grup menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan waktu adalah masalah utama. Pasalnya, sebagian besar anggota bekerja di siang hari, sehingga latihan harus dialihkan ke malam hari dan akhir pekan. Selain itu, anggaran yang terbatas mengharuskan desain skenografi akhirnya disederhanakan dengan memanfaatkan bahan lokal dan daur ulang, serta mengoptimalkan proyeksi digital. Di sisi lain, proses hukum juga memakan waktu. Pengurusan badan hukum membutuhkan waktu lama. Solusinya, tim mempercepat koordinasi dengan notaris dan pihak Kemenkumham. “Kami belajar bahwa seni tidak hanya soal konsep, tetapi juga tentang mengelola keterbatasan dengan kreativitas,” tutur Fresti Yuliza, yang bertanggung jawab pada pendampingan manajerial.

Rencana Ke Depan: Menuju Kemandirian dan Jejaring yang Lebih Luas
Program PISN ini tidak berhenti pada pelatihan dan pendampingan. Rencana tindak lanjut telah disusun, termasuk: Penyelesaian Dokumen Badan Hukum: Targetnya adalah terbitnya Akta Notaris dan SK Kemenkumham dalam waktu dekat. Selain itu Pementasan Publik Skala Lebih Besar: Menyelenggarakan pertunjukan dengan target 150 penonton berbayar atau donasi. Tentunya hal itu perlu pula didukung dengan Publikasi dan Dokumentasi Final: Mengunggah portofolio ke media sosial dan mengirimkan karya ke festival seni.
Secara lebih jauh, melalui pelaksanaan PISN ini, diharapkan Kelompok Teater Sambilan Ruang memiliki kemempuan untuk menjalin Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata, agar mereka berkenan memasukkan kegiatan Teater Sambilan Ruang ke dalam kalender wisata daerah. Tentunya, hal yang tak kalah pentingnya adalah Pelatihan Lanjutan, Khususnya di bidang digital marketing dan manajemen keuangan, untuk mendukung kemandirian finansial grup.
Refleksi: Lebih dari Sekadar Pelatihan, Ini Adalah Pemberdayaan
Program PISN 2025 untuk Teater Sambilan Ruang bukan sekadar proyek pelatihan sesaat. Ini adalah proses pemberdayaan yang menyentuh aspek artistik, manajerial, legalitas, dan teknologi. Yang paling penting, program ini dilaksanakan dengan prinsip partisipatif — anggota grup tidak hanya sebagai penerima, tetapi sebagai subjek yang terlibat aktif dalam setiap tahapan. Mereka kini tidak hanya lebih percaya diri di panggung, tetapi juga memiliki alat, pengetahuan, dan jalan menuju legitimasi hukum yang akan membuka banyak pintu baru. Di tangan mereka, teater bukan lagi sekadar hiburan, tetapi medium pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan wahana ekspresi yang berkelanjutan. “Kami sekarang punya bekal untuk tidak hanya pentas, tapi juga mengelola diri sebagai lembaga seni yang mandiri dan diakui,” kata Fitri Noveri, sutradara Teater Sambilan Ruang, penuh harap.
Penutup: Seni yang Tumbuh dari Akar, Berkembang dengan Ilmu
Kisah Teater Sambilan Ruang adalah bukti bahwa seni tradisi dan kontemporer dapat bersinergi, bahwa keterbatasan tidak harus menjadi penghalang, dan bahwa pendampingan yang tepat dapat mengubah kelompok seni komunitas menjadi lembaga yang profesional dan berdaya tahan. Mereka mengajarkan kita bahwa inovasi tidak harus meninggalkan tradisi, dan bahwa legalitas bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah langkah strategis menuju kemandirian. Dari warung tradisional di Lubuak Batingkok, kini mereka siap melangkah ke panggung yang lebih luas — dengan identitas yang kuat, legalitas yang jelas, dan semangat yang tak lagi terbendung.
Artikel ini disarikan dari Laporan Kemajuan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 oleh Institut Seni Indonesia Padangpanjang, yang dilaksanakan atas dukungan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
