oleh teraseni | Nov 28, 2018 | Uncategorized
Rabu, 28 November 2018 | teraSeni.com~
Keramaian adalah hal yang lumrah untuk Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul Yogyakarta. Pasalnya di desa tersebut terdapat sebuah petilasan bernama Selo Gilang, tempat di mana lokasi Tumurun Wahyuning Mataram yang diturunkan oleh Panembahan Senopati. Berbeda dengan keramaian pada hari-hari biasanya, pada hari Sabtu (17/11/2018) kerumunan manusia berpuluh-puluh kali lipat memadati desa untuk menikmati sajian musik jazz.
Adalah Ngayogjazz sebuah festival musik jazz yang diselenggarakan setiap tahun dengan tempat penyelenggaraan yang selalu berpindah. Festival yang tahun ini mengusung tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara” ini memang lazim ‘mengincar’ desa sebagai ruang alternatif penyelenggaraan musik jazz yang kerap kaku di sekat beton gedung pertunjukan.
 |
Panggung Ngayogjazz dari depan, tampak pemain sedang mempersiapkan penampilan
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas |
Di desa Gilangharjo, pelataran hingga lapangan olahraga disulap menjadi enam panggung yang tersebar di area desa. Alih-alih hanya panggung dan rumah masyarakat yang memberikan ambience yang berbeda, Ngayogjazz tahun 2018 ini turut menggandeng Prihatmoko Moki dengan muralnya di tembok-tembok desa dan Annisa P Cinderakasih dengan instalasi bambunya.
Pada pergelaran Ngayogjazz tahun ini, turut berpartisipasi beberapa musisi jazz tanah air dan mancanegara, semisal: Syaharani dan Queenfireworks, Tophati Bertiga, Yuri Mahatma Quartet, Idang Rasidi and His Next Generataion feat Tompi dan Margie Segers, Brayat Endah Laras, Purwanto dan Kua Etnika, Kika Sprangers, Ozma Quintet, Rodrigo Parejo, dan lain sebagainya. Sejumlah musisi jazz tersebut lantas menjadi agen dalam menghubungkan dan memberikan penonton dengan pengalaman berbeda dalam menyaksikan jazz.
Tawaran ini lah yang lantas membuat festival Ngayogjazz ditunggu oleh para musisi dan penonton Indonesia—terlebih para penonton baru. Namun untuk mereka yang rajin hadir, rasanya Ngayogjazz semakin terasa biasa-biasa saja. Secara lebih lanjut, sebagai sebuah festival tahunan yang diacu oleh festival jazz lainnya, rasanya Ngayogjazz minim gagasan dan kejutan baru di tahun kedua belas penyelenggaraan. Padahal di belakang pergelaran tersebut, terpampang nama-nama beken pelaku kreatif di Yogyakarta. Mungkin, serupa dengan tidak turunnya hujan di perhelatan Ngayogjazz tahun ini, mereka agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’.
Pisau Bermata Dua
Sebuah keniscayaan jika Ngayogjazz ditunggu-tunggu oleh penonton. Pasalnya mereka telah membuktikan dirinya sebagai festival jazz dengan konsistensi dan gagasan yang kuat. Idenya begitu mewah dalam semesta musik Jazz yakni penyelenggaraan di ruang yang tidak pernah terpikirkan oleh kalangan lainnya, desa.
 |
Panggung Ngayogjazz dari sisi kanan, telihat penonton begitu sesak
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas |
Alih-alih hanya berserah pada ‘keeksotikan’ desa sebagai ruang festival, Ngayogjazz mengajak serta masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam hal penyelenggaraan. Hal ini tentu berkesan positif bagi mereka yang melihatnya dari luar. Terlebih penonton dapat melihat peran aktif masyarakat dalam beberapa hal, seperti: parkir, pusat jajanan, penunjuk arah, dan lain sebagainya. Namun apakah masyarakat setempat—juga dapat dirujuk pada lokasi-lokasi sebelumnya—diberikan peran lebih dalam penyelenggaraannya?
Terlebih dalam buku program tertulis“Festival jazz yang berkolaborasi dengan pesta rakyat.” Dalam hal ini, terma kolaborasi seyogianya tidak berat sebelah. Di mana masyarakat setempat tidak mempunyai porsi dan posisi yang ‘tinggi’ dalam penyelenggaraan ataupun kepanitiaan. Singkat kata, menjadikan masyarakat setempat sebagai objek semata perlu dihindari.
Pasalnya, jika alasan tidak seimbangnya peran dan porsi penyelenggaraan adalah modal intelektual yang berbeda, bukankah kerja partisipasi semacam ini seyogianya diarahkan pada edukasi untuk masyarakat. Alhasil masyarakat dapat memetik pembelajaran dan dapat mengembangkannya sesuai orientasi mereka masing-masing. Secara lebih lanjut, sebuah festival mempunyai nilai lebih untuk keberlangsungan masyarakat, tidak hanya sebagai ‘peminjaman’ ruang semata.
Tidak hanya itu, turut tersemat kalimat “mengajak kearifan lokal dan menggunakan jazz sebagai penghubungnya.” Jika langsung dirujuk pada desa Gilangharjo, seberapa jauh Ngayogjazz menjadi penghubung nilai kearifan lokal—baik lokasi ataupun narasi—untuk masyarakat? Pasalnya kesadaran narasi atas kearifan lokal yang dimaksud justru tidak terlalu tampak. Paling banter adalah mengetahui lokasi petilasan, tanpa adanya keingintahuan dan partisipasi lebih, semisal: masuk ke petilasan, atau kearifan apa yang terkandung di dalamnya.
Kendati demikian, Ngayogjazz tahun ini tetap perlu diberikan pujian atas upaya mengakomodasi masyarakat sebagai penampil festival secara lebih, baik dengan karnaval keliling desa hingga panggung khusus untuk warga. Dalam hal ini, Ngayogjazz telah berani menampilkan masyarakat sebagai bagian dari pergelaran tahunan tersebut. Namun kiranya menyematkan pertunjukan masyarakat setempat dalam panggung yang bercampur dengan musisi jazz agaknya perlu dicoba, guna menghindari pemisahan masyarakat dari panggung ‘utama.’
 |
Panggung Lurah, pangung lain, khusus untuk warga dalam rangkaian Ngayogjazz
Foto: Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas |
Pasalnya dapat dipahami bahwa enam panggung yang digelar pada waktu yang bersamaan telah memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk memilih. Namun menampilkan kesenian masyarakat di panggung tersendiri telah meminimalisir mobilitas penonton ke panggung tersebut. Oleh karena itu, jikalau kesenian masyarakat bercampur dengan panggung pertunjukan jazz lainnya, kiranya kesempatan mereka mendapat perhatian akan lebih besar.
Menunggu Tawaran Baru
Hujan mempunyai makna tersendiri untuk Ngayogjazz. Beberapa pergelaran Ngayogjazz sebelumnya kerap dirundung hujan. Tanah, becek, jas hujan, payung, dan alunan jazz seakan menyatu dengan alam. Namun tahun ini hujan seakan enggan turun di tanah di mana pergelaran Ngayogjazz dihelat, pasalnya gagasan dan terobosan baru tak kunjung tiba.
Penyakit dari kreativitas adalah perasaan mapan yang kerap menenggelamkan ide-ide baru. Hal ini tentu tidak menjadi masalah jika sebuah festival menjadi rutinitas belaka, tetapi hal ini berlaku sebaliknya jika festival diperuntukkan untuk menciptakan pengalaman dan peristiwa. Dalam hal ini, Ngayogjazz agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’, hingga hanya isu jazz di pedesaan terus digaungkan, tanpa adanya eksplorasi yang sebenarnya punya kesempatan untuk terus berkembang.
 |
Penampilan kelompok seni masyarakat
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas |
Dalam hal ini, Ngayogjazz perlu kiranya memberikan tawaran-tawaran baru yang tentu berkenaan dengan masyarakat, semisal: residensi untuk musisi jazz yang ditujukan untuk menciptakan karya yang terinspirasi dari desa setempat; kerja kolaborasi dari masyarakat dan musisi jazz terpilih. Di mana karya akhir dari kerja kolaborasi dipentaskan di panggung Ngayogjazz; pengelolaan program keberlanjutan dari lokasi yang pernah digunakan oleh Ngayogjazz, yang kiranya bisa digunakan sebagai pra-event Ngayogjazz; atau pembuatan statue sebagai tanda pernahnya dihelat Ngayogjazz di lokasi tertentu; dan lain sebagainya.
Itu semua tentu pilihan dari Ngayogjazz sebagai pihak penyelenggara. Namun menurut hemat saya, dua belas tahun bukan usia yang singkat sebagai sebuah festival di Indonesia. Pasalnya, namanya telah menjadi canon dan para inisiatornya telah menjadi patron untuk penyelenggara festival lainnya.Oleh karena itu, sangat disayangkan jika Ngayogjazz tidak menciptakan terobosan baru atau—bahkan—ketinggalan dari festival berbasis masyarakat ‘kemarin sore’ lainnya.[]
oleh teraseni | Okt 23, 2018 | Uncategorized
Selasa, 23 Oktober 2018 | teraSeni.com~
Seorang penari berdiri tegap di atas 35 tumpukan piring dengan tangan terbentang. Ibu jarinya menengadah sebuah piring kecil dengan lilin yang menyala. Ia diam, tak bergerak dengan durasi yang cukup panjang, 48 menit.Ia tersenyum hingga menyematkan wajah geram tanpa alasan secara berulang. Sedangkan di sisi yang lain, seorang penari perempuan melemparkan piring ke seorang laki-laki secara berbalas. Sesekali sang perempuan tidak benar-benar melemparkan piring tersebut, namun tangan mengepal yang ia dapat. Tidak hanya itu, beberapa piring juga tidak berhasil diterima mengakibatkan pecahan piring yang berserak. Alih-alih diam, mereka berdua saling bertatap tajam dan terus melanjutkannya, seolah-olah ada namun tidak ada.
 |
Seorang penari meletakkan piring dengan lilin menyala di ibu jarinya Dokumentasi karya tari karya tari Li Tu Tu Fotografer: Hoshi |
Ayu Permata Dance Company menggelar pertunjukan bertajuk Li Tu Tu, singkatan dari Lingkaran Tunggu Tubang. Karya koreografi Ayu Permata Sari ini merupakan hasil penelitiannya terhadap tari Kuadai, salah satu tari tradisi di Lampung yang lumrah dimainkan oleh perempuan. Lantas Ayu mengeksplorasi penelusurannya menjadi sebuah karya koreografi kontemporer yang melibatkan oleh tiga orang penari, yakni: Nur Rachma Dinda, Ghalib Muhammad, dan dirinya.Karya yang digelar pada tanggal 11 hingga 15 Oktober 2018 di ArtspaceHelutrans, Jogja National Museum, Yogyakarta, ini turut mengadakan sesi diskusi setelah pertunjukan berlangsung. Ruang dialog ini menjadi kesempatan Ayu dan tim untuk menyampaikan gagasan, serta menyerap impresi terburai atas penonton yang lazimnya surut seiring mereka keluar dari tempat pertunjukan.
Dari sesi percakapan, Ayu secara jelas meletakkan fondasi dasar kekaryaannya, yakni tari Kuadai. Namun tidak hanya mengotak-atik tari tersebut secara tekstual, Ayu turut mengurai persoalan lain, yakni soal Tunggu Tubang. Sebuah sebutan untuk anak perempuan pertama yang diberi kepercayaan untuk mengelola ekonomi keluarga. Hal dominasi ini yang lantas Ayu berikan perhatian lebih di dalam karyanya. Dengan bingkai kontemporer, Ayu justru dapat lebih leluasa menyisipkan gerak, mengatur alur, hingga menebalkan makna yang berdasar pada keseimbangan, kepercayaan, dan komunikasi.
 |
Tampak dua penari saling mengepalkan tinju Dokumentasi karya tari Li Tu Tu Fotografer: Hoshi |
Tentang Konflik yang Memuncak
Di awal pertunjukan, Ayu, Dinda, dan Ghalib menyambut para penonton yang datang. Dengan ramah ia bertegur sapa hingga menyatakan bahwa mereka akan bersiap-siap. Secara bersama-sama, mereka mulai menata piring di tengah arena dengan penonton yang mengelilinginya. Sejumlah 35 piring tertumpuk, lantas Dinda mulai menaikinya dengan berhati-hati. Sebelum mulai, Ayu menanyakan pertanyaan kepadanya, “Aman?”, dan Dinda pun membalasnya dengan senyum, tanda pertunjukan dimulai. Dari awal pertunjukan ini, kiranya Ayu dan tim sudah meletakkan pertunjukannya bukan sebagai satu karya sulapan, melainkan kerja riskan yang membutuhkan persiapan.
Dinda berdiri mematung dengan posisi tangan terlentang. Kedua ibu jarinya menengadah menahan sebuah piring dengan lilin yang menyala di atas. Ia hanya berdiam laiknya sebuah patung. Namun yang menarik, Dinda tidak hanya diam melainkan ia menyematkan ekspresi wajah yang berganti, gradual. Di sini, Dinda justru mempunyai kekuatan yang paling kuat dalam pertunjukan. Secara lebih lanjut, Dinda tidak hanya menunjukkan keseimbangan namun memberikan imajinasi lebih, laiknya simbol, bahkan menjelma menjadi totem.
Di sisi yang lain, Ayu dan Ghalib saling melempar piring satu sama lain. Namun Ayu tidak mewujudkan saling melempar piring secara langsung, melainkan dibuat gradual. Di mana diawali dengan seolah-olah saling melempar untuk membuat kuda-kuda, lalu saling melempar piring namun dengan tempo yang lambat; mereka bergerak memutari Dinda; menyisipi dengan gerak berputar di tempat; saling menjatuhkan piring; hingga mereka seolah-olah melempar piring setelah piring-piring tersebut pecah. Gradasi tersebut tidak hanya pada tahap eksplorasi gerak, melainkan pada gekstur dan raut wajah. Di mana pada tahap awal, Ayu justru tidak menatap mata Ghalib, tetapi setelah piring pecah, Ayu menatap tajam mata Ghalib, begitu pun sebaliknya.
 |
Para penari saling lempar dan tangkap piring Dokumentasi karya tari Li Tu Tu Forografer: Hoshi |
|
Dalam hal ini, Ayu seakan mengajak penonton pada dimensi konflik secara sabar dan perlahan. Ia tidak terburu-buru dalam menempatkan gerak. Hal ini kiranya penting di mana para penari lazimnya kerap berburai gerak namun nir makna. Dan dalam karya ini, Ayu dapat menempatkan gerak demi gerak dengan hati-hati. Hanya saja yang perlu Ayu lihat lebih lanjut adalah eksplorasi gerak dengan layer yang bertingkat. Pasalnya di tengah bagian, eksplorasi gerak yang Ayu sematkan justru terlalu tipis untuk terbedakan dari fase sebelumnya. Sebagaimana Ayu menegaskan bahwa terdapat sembilan bagian tegas yang sebenarnya menjadi ruang “bermain-main” maka kiranya perlu dipertimbangkan lebih lanjut.
Namun catatan gerak ini justru berlaku sebaliknya pada sisipan raut wajah dan kontak mata yang—baik sengaja ataupun sebaliknya—Ayu ciptakan. Di awal Ayu sama sekali tidak menatap Ghalib, namun ketika piring pecah secara perlahan, Ayu mulai berani menatap mata Ghalib, mulai dari biasa saja hingga tampak geram. Hal ini kiranya cukup sesuai dalam mengisi tahapan yang sifatnya memuncak. Hal ini kiranya menyiratkan dominasi patriarkal, terlebih hanya Ghalib yang dapat mengepalkan tangan ketika Ayu tidak benar-benar memberikan piring-piring tersebut.
Selain itu, agaknya karya ini merupakan presentasi akumulasi pembelajaran yang Ayu dapat. Di bagian tengah pertunjukan Ayu turut menyisipkan interaksi dengan penonton. Di mana Ayu dan Ghalib menyebar dan melakukan saling melempar piring dengan penonton. Hal ini kiranya memberikan satu pengalaman langsung dalam menangkap peristiwa dalam pertunjukan. Pengalaman tersadar—merujuk pada fenomenologi—penonton dalam melakukan interaksi akan membantu penonton dalam terkoneksi pada pertunjukan.
 |
kedua penari saling menatap dengan ekspresi tidak senang Dokumentasi karya tari Li Tu Tu Forografer: Hoshi |
|
Setelah interaksi penonton, pertunjukan kembali berlanjut, dengan prosesi saling melempar piring satu sama lain, walau piring-piring tersebut sudah tidak ada. Bagian ini, Ayu mengajak kita memikirkan bahwa kata kunci yang ia sematkan keseimbangan, kepercayaan, dan komunikasi, justru menjadi pisau bermata dua. Di mana dampak dari hal tersebut adalah dominasi yang mengakibatkan konflik runcing antar dominan dan subordinan. Hal ini kiranya tidak hanya terjadi pada konteks tari Kuadai, namun dapat diluaskan kepada pelbagai hal yang dialami kini. Mungkin tengah terjadi pada anda?
Karya Yang Selalu Berbeda
Impresi di atas adalah tangkapan saya pada hari ketiga pertunjukan Li Tu Tu, yang berjalan dengan mengalir, yakni porsi piring pecah hingga akhir pertunjukan. Hal ini jelas berbeda dengan apa yang Ayu ungkapkan ketika semua piring telah pecah ketika di tengah pertunjukan, di beberapa hari sebelumnya. Ketidak-terkiraan ini kiranya yang menjadi menarik, pasalnya Ayu pun tidak dapat memastikan kapan porsi piring pecah. Dalam hal ini, strategi Ayu dalam menyikapi ketersediaan piring membuatnya harus memutuskan tindakan dengan cepat. Alhasil, karya Ayu tidak selalu menghasilkan karya jadi dengan tingkat sublimasi yang tunggal, namun beragam di tiap harinya. Keriskanan ini dapat memberikan kesempatan keberhasilan ataupun sebaliknya, gagal, terbuka lebar.
 |
Penari tampak sedang mengajak penonton menjadi bagian pertunjukan Dokumentasi karya tari Li Tu Tu Fotografer: Hoshi |
Kendati demikian, ada satu benang merah yang kiranya ia pegang, yakni Ayu tetap menerapkan sembilan bagian yang menjadi ruang pijak karyanya. Hal yang menarik selanjutnya, bagaimana Ayu ‘bermain-main’ dengan bagian-bagian tersebut ketika piring telah habis. Dalam hal ini, kita patut mempertanyakan seberapa lentur Ayu memosisikan relasi di tiap bagiannya. Pasalnya Ayu menyebutkan bahwa relasi tersebut bertingkat, lantas apa yang dikorbankan dari bagian-bagian tersebut ketika dihapus?
Bertolak dari itu semua, karya Li Tu Tuperlu diapresiasi baik. Pasalnya,Ayu bekerja dengan bijak, seperti: mulai dari menyoal gagasan dari tari Kuadai; mewujudkannya pada koreografi, di mana Ayu mengembangkan dari dua motif, yakni: yang pertama adalah tangan merentang dan silang piring; hingga memberikan ruang pemaknaan yang terbuka. Karyayang dikerjakan selama setahun lamanya ini kiranya cukup matangdan baik di antara karya Ayu lainnya. Selamat Ayu![]
oleh teraseni | Sep 26, 2018 | Uncategorized
Rabu, 26 September 2018 | teraSeni.com~
Parade Teater Yogayakarta (PTY) 2018 baru saja usai. Sebuah Platform tontonan anyar bagi kelompok dan publik teater Jogja yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 4-5 Sepetember 2018, di Concert Hall TBY. Publik dan kelompok teater Jogja mungkin lebih akrab dengan Festival Teater Jogja (FTJ) dimana ditahun-tahun sebelumnya kegiatan teater selalu bergulir dalam platform tersebut dan melibatkan pula berbagai kelompok dengan format dan cara yang berbeda. Namun ditahun ini FTJ nampaknya tidak terdengar lagi. Justru yang terdengar adalah Festival Teater Antar Kabupaten dan Kota yang dilaksanakan di Stage Jurusan Institut Seni Indonesia di bulan Juni 2018 lalu, dengan harapan tumbuhnya kreasi seniman dalam penggalian ekpresi dan potensi kedaerahan.
PTY hadir menawarkan sebuah platform baru berbentuk parade (baca: perayaan) teater dengan mengusung tema mengenai rujukan sejarah , fenomena dan dinamika perkembangan pertunjukan teater hari ini ternyata telah multi disiplin. PTY menawarkan istilah postdramatic dengan mengandaikan teater adalah “teks terbuka”, maka tidak mengungkung dirinya pada dominasi tekstual tertentu. Teks terbuka dimaknai sebagai perayaan bertemunya antar disiplin, juga bisa tanpa sejarah tertentu (sumber Booklet). PTY mencoba menawarkan warna baru bagi panggung-panggung teater konvensional TBY, harapannya menjadi icon untuk mewadahi perkembangan ragam gagasan pemanggungan kelompok partisipan melalui penyelenggaraan Parade Teater Yogyakarta pada 4-5 September 2018 (Kalanari Theatre Movement, Teater Jubah Macan, Dewan Teater Jogja, Mantradisi).
 |
Seorang perempuan serupa aktor berada di tengah-tengah penonton
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakarta |
Kalanari Theatre Movement dan Ruang Singgah Sebagai Teks
Di hari selalasa 4 Sepetember 2018 Kalanari menawarkan pertunjukan dengan judul (Un) Fitting : Sebuah Percobaan Menyandang Sejarah Teater yang Mendekam dalam Gudang dan Lemari. Tajuk yang dibuat dalam (UN) Fitting amat provokatif dan cukup untuk kita mengernyitkan dahi sejenak. Nampak tajuk yang dibuat menyandingkan sejarah teater dengan gudang, dan lemari, sebagai operasi bahasa sekilas mengingatkan pada puisi-puisi yang sering ditulis Afrizal Malna. Afrizal memang salah satu sastrawan yang juga banyak berkecipung di seni pertunjukan sebagai penulis naskah di teater SAE dan pengamat teater sejak 1980-an, jadi mungkin operasi bahasanya yang banyak mengekplorasi dialog benda-benda akrab pula bagi orang-orang teater .
Pertunjukan ini cukup menarik sebab nampaknya Kalanari sebagaimana pertunjukan sebelumnya mempertimbangkan tawaran segar dengan menggunakan ruang sebagai bagian dari teks pertunjukan. Penonton PTY diarahkan oleh panitia menuju pintu masuk samping, kemudian duduk di tempat duduk konvensional Concert Hall, sebelum akhirnya ada pengumuman bahwa penonton diberi pula keleluasan ruang menonton diatas panggung. Dengan dibagi-bagi kedalam bebeberapa kotak-kota berbataskan tali rafia. Penonton dipersilahkan duduk lesehan atau di atas level di atas panggung concert hall. Adapula beberapa penonton lain yang tetap duduk di kursi duduk penonton kenvensional. Tampaknya sejak awal Kalanari telah menyadari ruang singgah panggung Concert Hall TBY menjadi bagian pula dari merepresentasikan “teks” pertunjukan. Panggung atau ruang mereka susun menjadi bagian dari teks dalam keseluruan dramaturgi pertunjukan.
 |
Para penonton menyaksikan pertunjukan di atas panggung
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakarta |
Peristiwa teater yang berlangsung menggambarkan pergeseran sejarah dan perkembangan teater dan penyikapannya terhadap politik ruang serta penonton saat ini. Sebuah pergeseran ruang dalam teater yang memberikan bagian pada penonton untuk memilih peranan dan keterlibatannya sendiri dalam pertunjukan tersebut. “Penonton” menjadi bagian di dalam dan di luar peristiwa, sebab penonton yang sejajar dengan pemain diatas panggung, ditonton pula oleh penonton dari kursi duduk penonton panggung konvensional, yang seolah tidak terlibat dalam pertunjukan. Padahal keseluruhan ruang adalah teks, sehingga keseluruhan yang terjadi dalam concert hall begitu pula dengan manusianya adalah bagian keseluruhan teks mengenai wacana sejarah teater yang ingin di tawarkan Kalamari.
Ruang singgah panggung sebagai bagian teks pertunjukan membawa keseluruhan narasi dan konsekwensi pembacaan atas teks lain, bagaimana kemudian kostum, ruang, aktor, penonton, benda-benda, serta peristiwa yang terjadi adalah bagian dari teks teater yang sedang diberlangsungkan secara bersama. Concert Hall sebagai bangunan panggung bersejarah yang menyimpan jejak kolonial, memiliki nilai-nilai historis terhadap perkembangan seni pertunjukan dan konvensi-konvensi seni pertunjukan sebagaiman dulu hingga kini diberlakukan. Concert Hall TBY tak ubahnya sebagai lemari atau gudang yang pernah menampung sekian ratus pertunjukan silih berganti digelar ruang tersebut. Lemari atau gudang pertunjukan bernama Concert hall yang bersisi sejarah teater dulu dan kini berkelindan dengan aktor, penonton, artistik, kostum, setting, musik, sebagi teks-teks hidup yang terus bergerak (UN) Fitting.
Dramaturgi permainan teks dan pertunjukan (UN) Fitting berkelindan melalui aktor yang bermain, memainkan, membebaskan diri atas politik teks tubuh dari berbagai peran, tototonan, dan interaksi budaya yang pernah mereka lewati. Aktor tampaknya dituntut untuk menyesuaikan terhadap apa yang tidak sesuai atau sebaliknya, terhadap teks atas dirinya, kostum, properti, musik, ruang, lampu, penonton, untuk menyusun teks peristiwa lain, menyusun alur dan cerita dalam pemanggungan. Sebuah pertunjukan teater yang disusun dari barang-barang, peristiwa, tema, aktor, alur cerita, sutradara dalam dilaog mengenai keusangan dalang ruang lingkup teater, dipertontonkan, dan ditonjolkan pada publik sebagai bagian dari sejarah teater yang turut terlibat baik langsung maupun tidak.
 |
Seorang aktor berakting begitu dekat dengan penonton
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakarta |
Sekilas dalam pertujukan cara-cara dan model perlakukan atas keseluruhan yang belaku di atas panggung pertunjukan Klanari nampak muncul sebagaimana teks anonimus yang berjajar secara bersamaan kita dapat melihat jejak SAE, Garasi, Gandrik, Bengkel Mime, Papermoon, Kalanari, bercampur baur dalam sekian reportoarnya. Didalam teks – teks sejarah teater yang berkelindan tersebut terdapat tokoh anak perempuan yang menginginkan dan meminta baju baru pada ibunya, ia mencarinya dan tak kunjung ketemu, hingga tersesat dan diculik oleh makluk aneh. Pada akhirnya anak perempuan tersebut kemudian telah berubah menjadi makluk lain berkepala aquarium dan dipenuhi dengan berbagai teks.
Teater Jubah Macan, Generasi Milenal dan Drama Jeng Menul
Dari beberapa kelompok atau komunitas teater terdapat pula teater SMA yaitu Jubah Macan, satu-satunya kelompok teater pelajar yang di undang dalam parade ini. Meski berbeda dengan pertunjukan Kalanari Theatre Movement yang secara pertunjukan lebih tampak site-spesific dan menghindari aktor untuk berakting diatas panggung. Teater pelajar ini justru sangat percaya diri memainkan lakon “Jeng Menul” karya Putut Buchori sebagaimana drama lakon pemanggungan teater realis secara umum. Pertunjukan sungguh berkebalikan dengan teater kekinian, meski secara “teks” tubuh dan wajah dipanggung anak-anak pelajar SMA tampak lebih kontemporer.
Aktor-aktor yang terlibatpun cukup banyak dengan usia relatif amat muda. Para pemain teater yang tumbuh dari generasi milenial ini adalah generasi yang lahir dari rentan waktu 1980 – awal 2000-an sebagai akhir. Generasi ini sebenaranya sebagaimana mampu menjadi postdramatic atau “teks terbuka”, melihat rentan usia nilai tawar mereka terhadap sejarah teater. Sebuah teks perlintasan antara yang tengah berlalu dan berlangsung. Sebagai potensi generasi ini sebenarnya sedang menawar untuk terlahir tanpa sejarah tertentu. Meski secara bentuk mereka seperti tidak mau tampil kalah bertenaga dan eksis beradu akting dari kelompok pertunjukan sebelumnya.
 |
Para aktor yang tampak sangat muda
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakartaa |
Para kru panggung yan terlibat membantu menata setting, pemain musik, penonton yang hadir, tampak khas sekali sebagai ruang tenaga dan kreativitas inter-aksi anak muda. Mengenal inter disiplin dalam proses keberlangsungan dan inter-aksi di dalam pergaulan teater SMA. Anak-anak SMA Jubah Macan ini dengan sangat antusias mencoba membaca teater dalam cara dan gayanya, menawar naskah, setting, adegan dan karakter tokoh yang dimainkan dengan caranya sediri.
Teater sebagai potensi keberklangsungan interdisiplin dan inter-aksi ekpresi, bagi para siswa yang terlibat tampak tak lebih seperti kegiatan ekstra lain seperti sepak bola, pramuka, musik, tari, robotik, dsb, adalah sarana ekpresi dan berorganisasi sebagaiman upacara seremonial. Teater dan akting memang seperti bagian dari permainan untuk saling mengenali lawan jenis dan berinteksi lintas kerja dengan beragam karakter orang dan sebagai cara diri untuk bersikap dan menemukan ekpresi serta ciri sebagai individu di dalam kelompok.
Melihat potensi pertunjukan Kalanari Theatre Movement dan Teater Jubah Macan dalam Parade Teater Yogyakarta seperti membaca posisi dan potensi tawar teater atas masa lampau dan masa depan diberlangsunkan secara menaraik di atas panggung bersama publiknya. Jika teater adalah potensi dan posisi tawar bagi publik penontonya, merefleksi apa yang telah terjadi lalu muncul pertanyaan sejauh mana linimasa perjumpaan potensi dan posisi tawar antara yang lampau dan masa depan teater saat ini sedang diberlangsungkan? Sebagai sebuah dialog wacana perlintasan gagasan sejarah teater dan dinamika perkembanganya ini menarik untuk terus digulirkan.
Sedayu, 15 September 2018
oleh teraseni | Agu 11, 2018 | Uncategorized
Sabtu, 11 Agustus 2018 | teraSeni.com~
PUNO LETTER TO THE SKY adalah sebuah pertunjukan teater boneka yang disajikan oleh Papermoon Pupet Theatre Rabu, 4 Juli 2018, pukul 19.30 di Institut Francais Indonesia (IFI), Jl. Sagan no. 3 Terban, Gondokusuman Yogyakarta. Sebelumnya pertunjukan Puno ini telah melanglang buana ke beberapa tempat dan festival antara lain di Jakarta, Thailand, Singapura, Filipina, sebelum akhirnya pulang dan dipertontonkan untuk publik Yogyakarta. Dalam beberapa hari saja tersiar kabar tiket pertunjukan Papermoon selama tiga hari 5-8 Juli 2018 dengan cepat sudah sold out oleh penonton. Beruntung sehari sebelum pementasan, saat Gladi Bersih Papermoon berbaik hati mengundang dan membuka kesempatan bagi para teman dan perwakilan kelompok seni untuk hadir menjadi saksi. Sehingga saya berkesempatan menonton secara langsung.
Terlihat para penonton banyak menghadiri momen gladi bersih pada malam itu, hingga nyaris memenuhi halaman area IFI, para undangan mengkonfirmasi kehadiranya untuk terlibat dalam pertunjukan ke meja penerima tamu. Dari sana kemudian diberi sebuah booklet yang dibukus dalam sebuah amplop, berwarna oranye dengan perangko dan cap pos bergambar Tala digendong oleh ayahnya, amat sangat manis sekali. Pukul 19.30 pertunjukan akan mulai, penonton berbondong antri masuk. Penonton yang datangpun sangat bervariasi secara usia mulai dari anak muda, orang tua, dan anak-anak laki-laki dan perempuan. Ruang IFI yang telah lama hadir bagi publik seni di Jogja, meski kecil sangat khas sekali dan kuat kehadirannya, sebab ruang tersebut banyak menyimpan memori dan nuansa romantisme. Nuansa Romantisme amat kuat sekali, akan berbagai peristiwa pertunjukan yang pernah tampil ataupun menjadi penonton dalam ruangan tersebut.
 |
Terlihat beberapa orang sedang memainkan boneka
Foto: Papermoon Pupet Theatre |
Keakraban ruang khas IFI adalah keterbukaan dan kedekatan antara si penyaji peristiwa dan penonton. Karena ruanganya terbatas, kita dapat melihat dan bercakap dengan para penonton lain jika saling mengenal, atau bisa mengamati reaksi raut wajah penonton dengan jelas terhadap peristiwa yang terjadi, bisa pula melihat dengan jelas dapur kerja artistik seniman, sebab IFI adalah salah satu dari banyak lain ruang pertunjukan alternatif dan ekplorasi bagi seniman. Banyak bermunculnya ruang alternatif di Jogja karena terbatas dan mahalnya tempat pertunjukan konvensinal dan profesional standar internasional. Justru hal tersebut yang menjadi menarik dan khas di Jogja sebab banyak tumbuh ruang-ruang alternatif bagi seniman dan kesenian. Yang sejak Bengkel Teater, Padepokan Bagong Kussudiardja, Wayang Ukur Sigit Sukasman, hingga kini dikatakan belum ada lahir kelompok seni ‘profesional’ meski seniman-seniman tersebut dan banyak seniman saat ini sudah memiliki ruang dan bekerja amat profesional dengan berbagai relasi dan jaringan yang tidak remeh pula.
Lepaskan dialog dan lamunan mengenai kelompok dan ruang bagi kelompok ‘profesional’ bagi seniman dan kelompok seni di Jogja. Sebab malam ini adalah pertunjukan Puno. Tumbuhnya banyak komunitas, kerja kreatif, keakraban dan dialog seni khas Jogja, lebih penting dari pada dialog ‘profesonalitas’ berbagai elemen dan ukuran seni pertunjukan standar inetrnasional, meski hal-hal tesebut juga penting jika ingin meletakan gagasan seni Jogja/Indonesia dalam kerangka gagasan dan isu wacana seni di dunia yang luas dan besar. Salah-salah suara dan wacana tersebut hanya akan menjadi buih dilaut yang maha luas. Dari ruang penonton dan ruang pertunjukan yang kecil di IFI dapat langsung tampak banyak kapal-kapal bergantungan diatas langit-langit dan pertunjukan dimulai dengan pengatar oleh Ria, selaku produser, konseptor, direktur artistik dan penulis naskah.
 |
Kapal-kapal bergelantungan di laggit-langit panggung
Foto: Papermoon Pupet Theatre |
Pertunjukan berjalan kurang lebih satu jam, cerita berjalan mengalir, menceritakan kisah seorang gadis bernama Tala, yang menyusun petualangan-petualangan dan ingatan bersama ayahnya. Objek-objek boneka yang dimainkan sangat rapi dan detail sekali, dapat nampak bagaimana perkembangan dan cara aktor-aktor boneka memainkan dan berinteraksi satu dengan yang lain dengan bonekanya. Cerita Puno ini sangat personal dan emosional sebab bangunan yang disusun pada kerangka narasinya adalah pengalaman rasa personal kehilangan sosok yang kita cintai. Kehilangan menjadi sebuah relasi kunci dan kepercayaan terhadap sesuatu yang dulunya ada dan telah tiada. Oleh karena perasaan lebih sensistif dari pada sebelumnya. Sebab yang bekerja adalah perasaan akan kenangan dan kenyataan.
Peramainan Boneka menjadi lebih pelan, penuh dengan intensitas dan imajinasi, bayangan warna-warna lembut bercampur dengan elemen-elemen keras, tipis, dan kecil keluar dalam berbagai elemen boneka dan propertinya. Permainan komunikasi dan relasi antar pemain boneka dalam memainkan objek mendapat tantangan untuk lebih peka dan berhati-hati serta berkonsentrasi penuh untuk menyadari berbagai kehadiran, situasi berbagai objek; boneka, properti, cahaya, musik, penonton, ruang, adalah kesatuan dari kepercayaan sekaligus kerapuhan akan kehadiran kenangan. Oleh karenanya dialog intens terhadap objek-objek tersebut akan hidup jika sentuhan dan komunikasi dari kesemuanya terjalin baik. Sebab kepercayaan akan kenangan akan indah dan sangat bersifat personal serta ‘spiritual’.
 |
Beberapa orang berbaju hitam yang menghidupkan boneka di atas panggung
Foto: Papermoon Pupet Theatre |
Anton Fanjri bermain sangat konsetrasi sekali dengan perasaan dan penghayatanya akan relasi antar objek sangat memukau. Beni Sanjaya, Pambo Priyo Jati, Rangga Apria Dinnur pun tak kalah baik secara teknik, namun ketika keempatnya bermain bersama terkadang ada patahan dan perasaan komunikasi antar pemain yang kurang imbang. Puno telah dimainkan berkali-kali tentu saja untuk mendapatkan rasa dan tidak sekedar permainan teknis dibutuhkan kesadaran dan kehadiran yang berulang-ulang dan dialog perasaan dalam setiap moment peristiwa langsung dengan penonton, dan hal tersebut pastilah melelahkan. Musik yang selalu berdengung terus menerus ditelinga juga amat tidak nyaman, cahaya yang asal terang dan hadir dalam situasi yang tidak tepatpun amat menganggu panggilan terhadap kenangan-kenangan untuk muncul dan hidup bernyawa dalam benak. Sebab persaaan ‘spriritual’ akan kenangan sangatlah subtil.
Banyak narasi dongeng cerita-cerita rakyat kita penuh dengan hal subtil itu. Oleh karenanya mudah melekat dan tersimpan dalam ingatan menjelma berbagai kenangan dan imajinasi terhadapnya. Bahkan sampai ada istilah dongeng dalam operasi bahasa jawa Jarwo Dhosok diartikan dengan dipaido keneng (mampu mengakomodasi bumbu-bumbu imajinasi) tanpa kehilangan hal-hal subtil dan unsur-unsur magisnya/spiritualnya. Ada baiknya mungkin Cerita Puno dapat pula menengok ulang estetika dari akar-akar cerita dongeng-dongeng rakyat dinusantara untuk menampung hal-hal yang bersifat magis dan ‘spriritual’.
 |
Tampak ekspresi boneka yang begitu hidup
Foto: Papermoon Pupet Theatre |
Tim Artistik dan Produksi:
Maria Tri Sulistyani selaku produser, konseptor, direktur artistik dan penulis naskah, Pupet Engineer Anton Fajri, Pupet Designer dan Music Director: Iwan Efendi, Music Composer Yennu Ariendra. Artistik tim : Anton Fajri, Beni Sanjaya, Pambo Priyojati, Rangga Dwi Apriadinnur, dan Rusli Hidayat, Costume : Retno Intiani dan Sherry Harper Mc-Comb, Grapic Disigner : Gamaliel . Budiharga. Producer Manager : Rismilliana Wijayanti, Tecnical Direktor : Gading Narendra Paksi, Crew : Egi Kuspriyanto dan Rusli Hidayat, Merchandes : Studio Batu, Artworks for Mechandise : Ruth Marbun dan Vitarlenology.
oleh teraseni | Jul 8, 2018 | Uncategorized
Minggu, 8 Juli 2018 | teraSeni.com~
Hanya muram yang tertinggal di wajah Tala ketika melihat seonggok tubuh terbaring tak bernyawa. Puno, sang ayah telah berpulang menghadap yang empunya kuasa. Untuk mewakili kegundahannya, Tala menorehkannya pada berlembar-lembar kertas. Mengetahui bahwa Puno masih berada di sekitarnya, di hari ke-40 ia merangkai berpucuk-pucuk surat menjadi kapal laut yang siap berlayar ke nirwana bersama Puno, sang ayah. “Kapal laut” tersebut turun perlahan dari langit-langit secara bersamaan, membuat kesan haru sekaligus takjub. Isak tangis dari penonton terdengar bersusulan, pertunjukan diakhiri dengan sangat menyentuh.
Adalah Puno: Letters to The Sky atau Surat ke Langit, sebuah karya dari kelompok teater boneka, Papermoon Puppet Theatre yang berhasil digelar dengan memuaskan di IFI-LIP Yogyakarta. Kelompok teater boneka asal Yogyakarta ini memang dikenal cakap dalam merangkai cerita sekaligus mewujudkannya. Pada karya berdurasi 50 menit ini, Papermoon Puppet Theatre meracik cerita tentang bagaimana menghadapi kehilangan orang terdekat. Cerita personal tersebut lantas Papermoon Puppet Theatre wujudkan dengan sentuhan artistik dan estetik yang tidak kalah menawan.
 |
Pertunjukan Teater Boneka, Papermoon Puppet Theatre di IFI-LIP Yogyakarta
Foto: Dokumentasi Papermoon Puppet Theatre |
Kerja sama apik terjalin antar Maria Tri Sulistiyani (konseptor, direktur artistik, produser, sutradara, lighting designer);Iwan Effendi (konseptor, pendesain boneka, direktur musik); Yennu Ariendra (komposer musik pertunjukan); Anton Fajri (puppet engineer dan tim artistik); Beni Sanjaya, Pambo Priyojati, Rangga Dwi Apriadinnur (tim artistik); Retno Intiani (kostum); Andreas Praditya (manajer produksi); Gading Paksi (technical director) dalam menjalin pertunjukan sedemikian rupa.
Dengan beragam sentuhan, karya empat tahun silam tersebut direproduksi. Tercatat bahwa karya ini pernah dipentaskan pada September 2014 di Festival Salihara di Teater Salihara, Jakarta. Karya dengan versi baru ini lalu dipentas kelilingkan di Thailand, Singapura, dan Filipina pada bulan Mei hingga Juni 2018 secara independen. Setelah Asia Tenggara, pada akhirnya Papermoon Puppet Theatre menggelar pertunjukan di tanah kelahirannya.
Di Yogyakarta, karya ini menuai antusias penonton yang besar. Di mana jadwal pentas yang semula digelar pada tiga hari di awal bulan Juli, yakni 5, 6, dan 7 Juli 2018 dengan dua pertunjukan di setiap harinya, menjadi bertambah satu slot pertunjukan di hari terakhir. Bahkan, Papermoon Puppet Theatre harus membuka sesi pertunjukan tambahan di tanggal 8 Juli 2018. Dari jadwal pertunjukan tersebut, kiranya terhitung sekitar 1500 kepala—baik berasal dari Yogyakarta maupun luar daerah—ikut merasakan rindu yang dirajut Papermoon Puppet Theatre untuk mereka yang telah pergi.
Kisah Menyentuh dengan Perwujudan Menawan
Pertunjukan Puno Letters to The Sky mempunyai struktur cerita tegas, dengan detail yang jelas. Diawali dengan bagian yang cukup unik yakni dalam gelap muncul roh yang bersusulan, baik dari arena penonton hingga dari atas panggung. Perhatian penonton kemudian terarah pada tubuh gempal bernama Awan Merah, melayang membawa sehelai daun yang tergambar wajah Puno. Di sisi lainnya, tergantung sebuah lingkaran menghasilkan bayangan pepohonan yang disusul dengan sehelai daun bertuliskan Puno terbang dari satu dahan ke dahan lain. Introduksi pertunjukan yang rasanya sungguh menarik.
 |
Introduksi pertunjukan dengan visualisasi berupa pohon di salah satu sisi panggung
Foto: Dokumentasi Papermoon Puppet Theatre |
Selanjutnya sebuah boneka perempuan duduk bersembunyi di panggung dari sisi kanan penonton, sedangkan boneka laki-laki diperagakan tengah mencari boneka perempuan tersebut. Adalah Puno dan Tala, kisah tentang hubungan seorang ayah dan anak perempuannya. Untuk menggambarkan kebahagiaan tersebut, petak umpat menjadi awal perjumpaan penonton dengan Puno dan Tala. Alih-alih hanya itu, kebahagiaan juga tercurah dengan beragam aktivitas ayah-anak lainnya, seperti menggendong sambil berlarian, memayungi saat hujan, membeli ice cream, hingga “mencari” sosok ibu dari barisan penonton untuk Tala. Bagian awal pertunjukan ini telah berhasil memberikan impresi bahagia. Terlebih turut didukung oleh para peraga boneka yang kerap kali masuk dalam set cerita, semisal ketika Puno membeli ice cream, dan lain sebagainya.
Pada bagian selanjutnya, kebahagiaan tetap dimunculkan walau beberapa hal janggal mulai muncul perlahan. Puncaknya adalah ketika Puno berada di ruang kerja, di mana ia bertatap langsung dengan Awan Merah—laiknya malaikat pencabut nyawa. Puno pun seraya tak percaya dengan apa yang ia lihat, kendati demikian ia berusaha tak acuh padanya. Tidak lama berselang, Tala menghampiri ke ruang kerjanya. Kemudian Puno memberikan benda laiknya teropong bergambar kepada Tala. Lantas Tala melihat pelbagai pemandangan, baik hutan, perkotaan, hingga balon udara berserta gambaran atas ayah dan dirinya di dalam alat tersebut. Di kanan panggung dari penonton, lingkaran-lingkaran yang bergantung menjadi visualisasi atau media pencipta bayangan atas rekaan yang dilihat Tala pada teropong tersebut. Pemanfaatan beragam media tersebut berhasil memberikan referensi estetik atas teater boneka yang dipertunjukkan.
 |
Tampak Tala (boneka) sedang melihat sesuatu di dalam teropong
Foto: Dokumentasi Papermoon Puppet Theatre |
Kejanggalan itu pun semakin jelas, dalam teropong yang sama Tala melihat seekor burung gagak seakan menghantui. Tala yang takut memeluk sang ayah, Puno lalu memberikannya sebuah lipatan kertas berbentuk kapal laut kepadanya. Dengan riang gembira Tala mengambilnya dan memainkannya di sisi rumah yang berbeda. Namun naas, ketika Puno tengah asik menggambar, ia terbatuk-batuk tak sadarkan diri. Bahkan tak lama berselang, ajal ikut menjemputnya. Dari cerita tersebut, Papermoon Puppet Theatre lantas fase tersebut diartikulasikan dengan detail, semisal ketika Puno mengalami sakratul maut dengan visualisasi tubuhnya yang melayang di udara; atau ketika Puno belum menyadari bahwa ia telah meninggal, lalu ia terbangun dan berupaya menyapa Tala. Hal-hal ini kiranya membawa penonton pada dimensi kematian yang kerap terpikirkan namun jarang digambarkan.
 |
Puno (terlelap) telah meninggal
Foto: Papermoon Puppet Theatre |
Alih-alih pertunjukan ditutup dengan kesedihan yang berlarut, cerita kembali berlanjut pada kehidupan Tala pasca ditinggalkan sang ayah. Kesedihan yang dirasakan Tala sangat mendalam, ia berusaha menjalani hari hingga ia tersadar bahwa ayahnya masih melindunginya dan berada di sekelilingnya selama 40 sejak hari kematiannya. Tidak divisualisasikan dengan banal, pertunjukan justru menggunakan pelbagai metafora serta simbol tertentu untuk menggambarkan hubungan mereka berdua, semisal ketika Tala digambarkan tengah berjalan di jalan sempit lalu diarahkan oleh Puno untuk dapat melewatinya; atau di kala Tala melompat, lantas Puno membantu menarik tangannya untuk sampai hingga tujuan, dan sebagainya.
Puncak pertunjukan adalah cara Tala mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya. Adalah sebuah surat menjadi ruang kesedihan berlarut yang dicurahkan Tala. Pasca Tala mengetahui ayahnya akan pergi ke alam yang berbeda dengan segera, maka ia merangkai berpucuk-pucuk surat yang ia buat menjadi kapal laut, persis seperti yang Puno berikan ketika Tala merasa ketakutan beberapa waktu silam. Di hari keempat puluh Tala mengirimkan surat itu ke langit bersama sang ayah. Tidak kalah menarik, puncak pertunjukan tersebut divisualisasikan dengan estetis, yakni turunnya surat-surat berbentuk kapal laut tergantung secara bersamaan di tengah-tengah penonton, pertunjukan menjadi sangat menyentuh bercampur takjub. Hal yang lebih menyayat, ternyata surat tersebut adalah surat dari mereka yang memang ditinggalkan oleh orang terdekat. Tangis mulai bersusulan dari arena penonton menemani Tala dan puluhan kapal laut tergantung yang cahayanya semakin redup, hingga mati.
Paket Lengkap
Utuh adalah terma yang tepat untuk mewakili pertunjukan Puno Letters to The Sky dari Papermoon Puppet Theater. Pasalnya kelompok teater boneka dari Yogyakarta ini berhasil meracik pertunjukan dengan sangat baik. Jika bicara tema cerita, kiranya Papermoon Puppet Theatre mengangkat persoalan sederhana, yakni kematian. Namun kelompok ini cukup piawai dalam mengambil sudut pandang, yakni menggambarkan kematian dari dua belah sisi, dari yang meninggalkan ataupun mereka yang ditinggalkan. Sudut pandang ini kiranya membuat para penonton mempunyai rasa keterhubungan atau related dengan pertunjukan. Alhasil, basis pengalaman yang sama membuat pertunjukan yang didedikasikan untuk mereka yang telah pergi ini lebih mudah diterima.
Namun tema bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa pertunjukan dapat diterima dengan mudah, perwujudan tema pada pertunjukan tidak kalah penting. Tema tersebut “disulap” menjadi satu struktur cerita dengan jalinan kisah menyentuh yang tersemat hampir di setiap bagian. Dengan paduan artistik dan estetik yang cakap, struktur hingga transisi cerita dapat berjalan dengan mulus, semisal penonton yang ikut merasakan ngilu ketika Puno kesakitan hingga menghadapi sakratul maut, ataupun perasaan sedih Tala ketika ia menjalani hari tanpa sang ayah hingga ia menyadari bahwa Puno masih berada di sekelilingnya.
 |
Tampak Puno (boneka atas) masih melindungi Tala (boneka bawah) meskipun sudah meninggal
Foto: Papermoon Puppet Theatre |
Selain itu, Papermoon Puppet Theatre menggunakan artistik panggung yang sederhana namun mangkus dan sangkil. Semisal set “panggung” tiap adegan yang menggunakan roda sehingga dapat mudah dibawa kemana saja. Dampak dari “panggung dorong” ini kiranya bukan sekedar alasan kemudahan, namun memberikan sudut pandang lain untuk penonton dalam melihat satu adegan. Tidak hanya itu, lingkaran di belakang panggung yang bergantung turut digunakan menjadi media dalam menciptakan bayangan. Bayangan-bayangan tersebut pun mendukung cerita menjadi lebih variatif. Di mana menghadirkan teater boneka dan wayang—merujuk pada definisi bayangan—dalam satu cerita.
Mengingat boneka ciptaan Papermoon Puppet Theatre berwajah nir ekspresi, maka kerja pencahayaan menjadi sangat penting. Tanpa pencahayaan, wajah Puno dan Tala terasa datar dan cenderung ambigu. Alhasil kerja pencahayaan membantu memperkuat impresi perasaan ketika Puno dan Tala bergekstur atau bergerak menjadi semakin kuat. Paduan ini lantas dinaungi dengan komposisi musik yang membuat pertunjukan menjadi hidup. Alih-alih hanya artistik, perwujudan juga terjalin taktis pada kerja peraga yang dapat membuat pelbagai benda menjadi hidup. Empat peraga di atas panggung kiranya membuat Puno dan Tala menjadi satu kisah yang dimiliki oleh penonton. Alih-alih peraga bekerja di belakang layar dan tidak masuk dalam cerita, dalam pertunjukan Puno Letters to The Sky para peraga turut berinteraksi di dalam cerita tersebut. Mereka bermain dengan dua peran sekaligus, sebagai peraga ataupun lawan bicara Puno maupun Tala. Peran ganda ini kiranya membuat pertunjukan lebih cair dan partisipatif, semisal ketika Puno menggoda penonton wanita, ataupun menjadikan kepala penonton sebagai pijakan dalam melompat.
Kiranya kelengkapan tersebut membuat pertunjukan teater boneka yang berlangsung tanpa bahasa tertentu ini justru lebih mudah dinikmati oleh penonton dengan latar belakang apapun. Dari pertunjukan macam inilah kita dapat melihat bahwa daya seni bekerja menyatukan perbedaan dengan pengalaman dan rasa yang sama.[]
oleh teraseni | Jul 3, 2018 | Uncategorized
Selasa, 3 Juli 2018 |
teraSeni.com~
Hawa dingin, diikuti kabut tipis, dan angin yang sedikit kencang, turun dari puncak Gunung Sago bagian utara, lalu menyisir sepanjang lerengnya. Terkadang angin dan kabut itu berpiuh karena terhalang gundukan bukit, dan kemudian mencari jalannya sendiri untuk keluar dari keterkungkungan yang ada, seperti yang dikerjakan oleh beberapa anak muda di Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padangpanjang, Kecamatan Luak, Kabupaten 50 Kota.
Nagari yang memang tepat berada di lereng utara Gunung Sago itu, yang dihiasi beberapa bukit kecil dan lembah yang terbentang sepanjang mata memandang, mulai begitu sibuk dan ramai pasca Hari Raya Idul Fitri ketiga. Bukan karena para perantau pulang basamo seperti yang terjadi di beberapa nagari lain di Sumatera Barat ini, namun kesibukan dan keramaian itu terjadi karena dimulainya Legusa Musik Festival; Perayaan Proses Kreatif Musik Anak Nagari, pada tanggal 18 – 23 Juni 2018.
 |
Hamparan sawah yang melereng di kaki gunung sago Foto: Roni Azhar |
Seperti yang terbaca pada tajuk judul, acara ini memang benar-benar sebuah perayaan tentang apa yang sudah diperbuat oleh anak nagari selama satu tahun belakangan ini, terutama pada musik tradisi—yang kemudian dibungkus menjadi musik kontemporer.
Selama ini, dalam dunia seni pertunjukan kontemporer selalu mendengung bunyi “bernapaskan tradisi” atau “kembali pada tradisi”, dengan kata lain bahwa pertunjukan-pertunjukan kontemporer (hendaknya) mengandung unsur tradisi di dalamnya, sebagaimana lazim kita jumpai, misalnya adanya unsur randai dalam sebuah pertunjukan teater atau ada unsur dendang atau saluang dalam sebuah pertunjukan musik, atau setidaknya (semati-mati akal) memakai celana galembong dalam pertunjukannya. Bentuk-bentuk (penempelan) tradisi yang sudah lazim kita saksikan. Lalu, apakah Legusa Musik Festival ini juga seperti itu? Tunggu dulu, jika dibilang “tidak” terlalu cepat untuk menyimpulkan, namun jika dibilang “iya”nanti kita juga masuk golongan “seniman sumbu pendek”.
 |
Salah satu pertunjukan pada perayaan proses Legusa Music Festival Foto: Keron |
Menancap bukan Mencabut
Enam hari waktu festival, dengan masing-masing penampil dari enam jorong yang ada di Nagari Sikabu-kabu Tanjung Haro Padangpanjang, yakni Santan Batapih dari Jorong Lakuak Dama, Puti Ambang Bulan dari Jorong Sikabu-kabu, Sabai nan Aluih dari Tanjung Haro Utara, Rantak Sadaram dari Jorong Padangpanjang, Carano Badantiang dari Jorong Tanjung Haro Selatan, dan Puti Indah Jalito dari Jorong Bukik Kanduang.
Keenam penampil tersebut berasal dari anak nagari sendiri, dengan kata lain festival ini benar-benar berasal dari anak nagari, bukan festival yang dibangun untuk mengundang orang luar tampil di nagari tersebut. Di sinilah letak sebuah proses berkesenian yang luar biasa tersebut. Kerja kesenian yang, mungkin, akan sangat sulit kita temui pada nagari-nagari lain. Ditelisik dari kerja berkesenian ini, proses dari awal terbangun festival ini sampai terselenggaranya Legusa Musik Festival ini sendiri bisa diukur melalui prosesnya (dan mohon dikesampingkan dulu tingkat tingginya kemampuan penampil).
 |
Pertunjukan penutupan di jorong Sikabu-Kabu Foto: Keron |
Sebagaimana nama dari festival ini, Legusa, yang berarti Lereng Gunung Sago. Nagari Sikabu-kabu Tanjung Haro Padangpanjang ini (yang sudah disinggung di awal paragraf) terletak persis di lereng Gunung Sago. Sebagai nagari yang terletak di lereng gunung dengan suasana dingin berkabut, tentu sudah dapat dibayangkan bagaimana damainya kehidupan di sana. Masyarakat petani yang masih mengolah lahan-lahan pertanian yang begitu luas, baik itu sawah maupun ladang. Lurah-lurah dan bukit-bukit kecil yang masih hijau sepanjang mata memandang. Keadaan seperti itu tentu membuatnya jauh dari gegap-gempita festival, terutama yang bersifat seni kontemporer,walaupun nagari ini berada di pinggir Kota Payakumbuh.
Ketenangan memang sering menghanyutkan. Siapa menduga, di balik keasrian nagari ini, anak-anak nagari ini tidak mau hanya sekedar berangkat ke sawah, lalu pulang ke rumah dan bergelumun dengan selimut. Mereka tetap bergerak—dengan kesenian, agar darah mereka tetap hangat, tidak ikut beku dipagut dingin. Berawal dari sanggar kecil di halaman sebuah Rumah Gadang di Jorong Sikabu-kabu, lalu yang lain (jorong) ikut bergeliat tidak tinggal diam. Hingga kemudian tercetuslah ide untuk merayakan proses mereka ini dalam bentuk festival, dengan tajuk Legusa Musik Festival.
 |
Seorang sedang berpose dengan latar Gunung Sago Foto: Roni Azhar |
Ide dan geliat ini tidak datang dari siapa-siapa, dari luar nagari mereka sekalipun. Ide dan geliat ini datang dari anak nagari mereka sendiri, lalu digerakkan bersama-sama oleh anak nagari. Supaya proses itu berjalan, barulah kemudian mereka mendatangkan pengasuh untuk melancarkan proses kreatif mereka. Anak-anak nagari tersebut datang kembali masuk ke dalam nagari mereka, untuk kembali menghidupkan potensi estetik yang ada dalam nagari mereka, berproses, kemudian merayakannya langsung di tempatnya
Inilah, kenapa dikatakan menancap. Bukankah nilai estetik itu sendiri datang dari dalam diri. Tidak seperti kebanyakan praktik kesenian, orang-orang datang untuk menyesap dan mencabut estetik yang ada, membawanya dan mengembangkannya sesuai dengan kepentingannya, lalu merayakannya di tempat lain, yang jauh dari akarnya.
Pamenan Pangulu
Berkesenian dalam konsep Minangkabau disebut dengan Pamenan Pangulu. Berdasarkan konsep ini, kesenian tidak hanya semata hiburan, namun lebih pada falsafah keseimbangan hidup. Setelah seharian bekerja di sawah dan ladang—atau mungkin di sela-sela rutinitas sehari-hari tersebut, maka di sanalah kesenian itu berlangsung. Tanpa adanya kesenian, maka kehidupan tradisi juga tidak akan berlangsung dengan seimbang. Sebagaimana halnya ketika Legusa Musik Festival ini.
 |
Salah satu pertunjukan pada perayaan proses Legusa Music Festival Foto: Muhammad Halim |
Festival ini tidak bisa hanya dipandang ketika waktu penyelenggaraannya saja, yang berlangsung pada malam hari. Contohnya, penyelenggaraan festival pada hari ketiga di Jorong Bukik Kanduang, pukul 9 pagi anak nagari di sana sudah berkumpul di sebuah gundukan bukit kecil berupa tanah lapang, lokasi yang nantinya akan dipakai berlangsungnya festival. Jika berdiri di tengah lapangan gundukan bukit kecil itu, mata akan terlempar pada hamparan lembah yang luas, yang langsung dihadang Gunung Marapi di seberang lembahnya. Dan jika memutari arah pandang, Gunung Sago telah memunggungi seolah menjaga lereng itu.
Pada gundukan tanah lapang itu, anak-anak nagari tengah mempersiapkan lokasi agar mendukung terselenggaranya festival: merambah rumput-rumput liar, membuat panggung di salah-satu sudut lapangan, dan persiapan lainnya. Namun, bukan aktivitas di tanah lapang itu inti dari geliat yang terjadi di nagari tersebut. Gundukan tanah lapang di atas bukit kecil itu juga merupakan jalan bagi orang-orang kampung menuju sawah mereka. Laki-laki dan perempuan berjalan menyisir aspal kasar di pinggir lapangan itu menuju sawah mereka. Namun sebelum itu mereka terlebih dahulu singgah di tanah lapang itu, barangkali sekedar menyapa, atau meninggalkan alat perkakas mereka, bahkan ikut bekerja membersihkan tanah lapang itu sejenak sebelum mereka kembali berangkat ke sawah mereka.
 |
Bukik Nganang, gundukan tanah lapang yang diseting menjadi lokasi pertunjukan Foto: Embot Anwar |
Ketika siang tiba, ibu-ibu beserta anak-anak perempuan mereka, datang berbondong ke tanah lapang itu membawa daun pisang, periuk nasi, dan talam-talam sambalado. Daun-daun pisang itu dibentangkan di salah-satu sisi lapangan dekat sebuah pohon ketaping yang agak rindang. Nasi dan sambalado dijejerkan di atas daun pisang, lalu orang-orang kampung dan para anak nagari makan bersama di atas tanah lapang itu. Orang-orang yang masih membungkuk-bungkuk di sawah mereka di panggil dan disoraki agar menghentikan pekerjaan mereka sejenak dan ikut bergabung makan bersama di atas tanah lapang itu. Pemandangan seperti inilah sebenarnya yang luar biasa dari festival anak nagari ini. Sebuah keseimbangan antara rutinitas sehari-hari dengan kegembiraan yang terpendam di dalam diri, beserta alam yang menjaga. Dan di situlah letak proses yang sesungguhnya, sedangkan penampilan mereka malamnya itu hanya bonus dari sebuah perayaan diri dengan alam, sebagai hasil dari pamenan diri itu sendiri.