Pilih Laman
Para Pensiunan 2049 : Balada Koruptor yang Dikejar hingga Alam Kubur

Para Pensiunan 2049 : Balada Koruptor yang Dikejar hingga Alam Kubur

Rabu, 24 April 2019 | teraSeni.com~
Seonggok jenazah lelaki paruh baya tidak bisa disemayamkan. Sang penjaga kubur kekeh menolak
untuk menguburkannya walau jenazah adalah orang terpadang di masa hidupnya. Pasalnya
sederhana, sang jenazah tidak mempunyai sehelai surat penting, ‘SKKB’ Surat Keterangan Kematian yang Baik sebagai
syarat pemakaman. Jenazah tersebut
disinyalir melakukan korupsi di masa hidupnya. Implikasinya sang jenazah akan diperlakukan
dan dibuang laiknya sampah. Arwah dari jenazah tersebut gusar, ia mulai
mendatangi satu per satu orang yang bisa memberikan SKKB kepadanya. Pelbagai
upaya (baca: intrik) mulai dilakukan, agar kelak ia tidak hanya dapat
dikuburkan, namun untuk mengembalikan nama baiknya. 
Bukan Teater Gandrik,
jika tidak “mengusik” persoalan sosial serta politik Indonesia dan
menerjemahkannya dalam peristiwa teater. Bertajuk Para Pensiunan: 2049, mereka mengangkat isu yang familier dan terus
berulang di masyarakat Indonesia, sekaligus tak pernah punya jalan keluar,
yakni korupsi. Alih-alih mensosialisasikan pesan dan jargon anti korupsi dengan
kaku, Teater Gandrik justru menghadirkannya dengan narasi tentang korupsi dan
kematian. Namun kematian di sini tidak seperti tayangan azab di layar televisi,
melainkan sebuah cerita hukuman duniawi—pasca kematian—untuk para koruptor. 
Tetaer Gandrik: Teraseni.Com
Tampak seorang aktor digambarkan sedang berada pada dimensi lain
Foto: Yuke Arfiyahya
Naskah menarik buatan
Agus Noor dan Susilo Nugroho ini lalu disutradarai oleh G. Djaduk Ferianto.
Kemudian Rombongan pemain, yakni: Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Jujuk
Prabowo, Rulyani Isfihana, Sepnu Heryanto, Gunawan Maryanto, Citra Pratiwi,
Feri Ludiyanto, Jamiatut Tarwiyah, Nunung Deni Puspitasari, Kusen Ali, M Yusuf
Peci Miring, Broto Wijayanto, Muhamad Ramdan, Akhmad Yusuf Pratama,
mempertunjukkannya dengan balutan kritik khas ala Gandrik, “guyon parikena”.
Tidak hanya dengan
canda dan sindiran ala Teater Gandrik, proporsi plot cerita, pelakonan tiap
pemain, hingga alunan musik tergarap sebagaimana mestinya. Kerja sama antar
lini, yakni penata musik (Djaduk Ferianto dan Kuaetnika), penata artistik (Ong
Hari Wahyu), penata cahaya (Dwi Novianti), penata kostum (Djaduk, dkk), dan
penata suara (Antonius Gendel) bersinergi dengan apik. Di bawah komando Djaduk
Ferianto, karya  yang digelar di Concert
Hall, Taman Budaya Yogyakarta (8-9 April)—dan akan dipentaskan di Ciputra
Artpreneur Teater, Jakarta (25-26 April)—ini membuktikan bahwa mereka bukan teater
klangenan belaka.
 
Persekongkolan Melenyapkan
Kebenaran: Tamparan Untuk Indonesia
 
Jenazah seorang
laki-laki paruh baya terpandang, bernama Doorstoot—yang diperankan oleh Butet
Kartaredjasa—ditolak untuk dikuburkan. Penguburannya tidak dapat dilakukan
karena terkendala ‘SKKB’ Surat Keterangan
Kematian yang Baik
yang tidak dikeluarkan oleh ‘KPK’ Komisi Pertimbangan Kematian. Dugaan adanya penundaan terjadi
karena Doorstoot disinyalir melakukan tindak korupsi di masa hidupnya. Sementara
itu seorang juru doa, Slepen—diperankan oleh Gunawan Maryanto—memperjualbelikan
doa dalam pelbagai varian. Namun segala doa tidak dapat dilakukan, pasalnya Kerkop—yang
diperankan oleh Susilo Nugroho—sebagai petugas penguburan menjaga marwah makam
dengan tegas. Ia menolak pelbagai rayuan, mulai dari harta, takhta, hingga
wanita.
Teater Gandrik : Teraseni.Com
Dua orang pemeran digambarkan pada dunia yang berbeda
Foto: Yuke Arfiyahya
Adalah langkah jitu
bagi Butet Cs membuka pertunjukan dengan adegan yang menyita perhatian. Di mana
beberapa orang tengah menggali kubur, sementara terdapat rombongan yang
mengantarkan seonggok jenazah untuk dikuburkan. Proses pemakaman tidak berjalan
dengan lancar, terjalin percakapan yang rigid, mengapa
hal tersebut terjadi. Tidak dilakukan dengan dingin dan kaku, percakapan justru
terasa kuat dengan pendalaman karakter dari setiap tokoh dan lelucon segar yang
kerap menaungi mereka. Hal ini kiranya berhasil memberikan landasan persoalan
dengan jelas, sekaligus memudahkan penonton mengidentifikasi tokoh hingga
persoalan yang diangkat.
Cerita kematian
koruptor memang tidak terbayangkan untuk diangkat. Terlebih dengan mengangkat cerita
pensiunan yang mengalami kesulitan penguburan. Padahal pensiunan merupakan
figur yang lazimnya digambarkan menikmati masa tua dengan tenang. Alih-alih
serupa, cerita daur ulang isu Pensiunan (1986)
karya alm. Heru Kesawa Murti, diubah sedemikian rupadi tangan Teater Gandrik,
khususnya pada alur cerita dan orientasi pensiunan. Di bawah komando Djaduk
Ferianto, para pensiunan dibuat ‘sengsara’ dan tidak tenang, terlebih jika
mereka melakukan korupsi.
Pelbagai piranti pun
disiapkan, semisal plesetan terma yang
lazimnya digunakan untuk korupsi, serta terma yang familier. Beberapa di
antaranya adalah SKKB, singkatan dari Surat Keterangan Kelakuan Baik menjadi
Surat Keterangan Kematian yang Baik; KPK yang lazimnya singkatan dari Komisi
Pemberantasan Korupsi berubah menjadi Komisi Pertimbangan Kematian; hingga
adanya undang-undang PELAKOR yakni undang-undang pemberantasan pelaku korupsi. Kehadiran
Plesetan terma ini berfungsi dengan
baik, walau seolah digambarkan berbeda dengan Indonesia tetapi plesetan tersebut membuat persoalan
terasa dekat dengan permasalahan di tanah air.
Kembali
pada cerita yang dibangun, pertunjukan Teater Gandrik kali ini mengisahkan
upaya Doorstoot yang ingin mendapatkan SKKB. Namun menjaminnya tidak korupsi
adalah sebuah kemustahilan, maka pelbagai cara mendapatkan SKKB dilakukan, mulai
dari upaya keluarga membujuk, menjebak, atau menyuap penjaga kubur; hingga jenazah
yang terus mendatangi instansi berwenang dengan harapan mendapatkan SKKB. Narasi
tersebut dibangun dengan alur maju mundur pada adegan-adegan berikutnya.
Teater gandrik : Teraseni.Com
Salah seorang aktor terduduk, sementara aktor lain memegang dengan ekspresi cemas
Foto: Yuke Arfiyahya
Di antaranya adalah ketika
Katelin—yang diperankan oleh Nunung Puspitasari—beradu argumen dengan sang
suami, Jacko—yang diperankan oleh Sepnu Heryanto—yang membicarakan ayahnya
serta hutang budi sang suami. Pembicaraan berakhir pada desakan Katelin pada
sang suami agar “menyelamatkan” mayat ayahnya . Lainnya, beberapa adegan
percakapan Rainne Alleman—yang diperankan oleh Citra Pratiwi—dengan Jacko,
serta percakapan dengan para pensiunan, yang membicarakan tentang ketakutan sehingga
mereka harus bersatu; dan Doorstoot yang bernegosiasi dengan Kerkop. Selain
karakter yang kuat dari setiap tokoh, adegan percakapan tersebut telah
mengungkap kausalitas yang artikulatif. Terlebih percakapan selalu disisipi guyonan dan satire politik, sehingga
seberapa kompleks cerita yang dibangun, penonton dapat mengikutinya dengan saksama.
Pada struktur
pertunjukan, di bawah arahan Djaduk Ferianto, Teater Gandrik menggunakan
struktur yang lebih struktural laiknya gaya pewayangan. Di mana berisikan unsur
dasar, seperti: pemaparan, konflik, goro-goro, dan epilog. Pilihan struktur
pertunjukan ini memberikan alur yang bertingkat, sehingga proses menuju klimaks
pertunjukan dapat dirasakan secara perlahan. Hal ini tampak pada konflik yang
dimunculkan yakni para pensiunan berkomplot untuk melenyapkan undang-undang
PELAKOR. Pun hal ini ditunjukkan secara jelas di dalam pertunjukan, mulai dari
laku provokasi terhadap para pensiunan, hingga pertemuan para pemangku kuasa,
yakni Doorstoot, Jacko, Vonis—diperankan oleh Broto Wijayanto—, dan
Strook—diperankan oleh Feri Ludiyanto—yang sepakat untuk melenyapkan
undang-undang PELAKOR.
Konflik tersebut telah
mengantarkan adegan “goro-goro”menjadi semakin mendalam. Di mana para pensiunan
bekerja sama menguburkan paksa sang penjaga kubur, Kerkop. Hal ini mereka lakukan
untuk meniadakan undang-undang PELAKOR yang menyulitkan mereka. Tentu adegan
ini telah menjadi penutup yang apik, mulai dari kejutan cerita hingga
penggarapan visualisasi di dalam pertunjukan. Tidak sampai di situ, menurut
hemat saya bagian paling penting adalah pada adegan setelahnya di mana Onderdeel—diperankan
oleh Jujuk Prabowo—sang pemungut jenazah koruptor diam kebingungan. Onderdeel membuka
plastik besar yang lazimnya digunakan untuk memungut jenazah koruptor, tetapi
undang-undang telah dilenyapkan, sehingga tidak ada lagi undang-undang apalagi koruptor.
Sebuah refleksi untuk Indonesia, atas konsensus yang kerap melanggengkan
kesalahan untuk kepentingan semata.
 
Teater ‘Pensiunan’ yang Kembali Segar 
Pada awalnya, saya
mempunyai kecemasan ketika menonton Teater Gandrik; apakah mereka kembali
menjadi teater klangenan yang lebih
banyak mengeksplorasi guyonan ketimbang
teaternya? Namun ternyata saya keliru, berbeda dengan Hakim Sarmin yang tampil tidak menggairahkan, Para Pensiunan 2049 terasa lebih cakap dalam ide, naskah, hingga
perwujudannya sebagai sebuah pertunjukan teater.
Menurut hemat saya, latihan
delapan bulan yang mereka lakukan telah membuahkan hasil. Kendati Djaduk
mengatakan bahwa pada karya ini menggunakan konsep trial and error, tetapi percobaannya cukup berhasil—bahkan
melampaui ekspektasi untuk kelompok teater senior tersebut. Hal yang paling
saya garis bawahi dari Para Pensiunan
2049
ini adalah proporsi yang tepat di setiap lininya. Isi cerita yang kuat
disisipi dengan guyon parikena yang sesuai,
bukan sebaliknya. Lebih lanjut, mereka tetap fokus pada struktur cerita yang
telah ditetapkan sehingga satire politik menjadi sisipan cerita semata. Alhasil
pertunjukan bukan mencari tawa tanpa tahu arah, namun menyajikan sebuah cerita dari
kenyataan dan menertawakannya secara bersama-sama.
Teater gandrik: Teraseni.Com
Seorang aktor diatas kasur dikelilingi beberapa aktor lainnya
Foto: Yuke Arfiyahya
Pun hal menarik yang
perlu saya catat dari pertunjukan Para
Pensiunan 2049
ini adalah pendalaman karakter yang dirasa semakin kuat.
Selaku sutradara, Djaduk Ferianto telah berhasil dengan proses penggalian karakter
dari setiap pemainnya. Hal ini dapat dilihat dari adegan percakapan antar
karakter hingga beragamnya jenis percakapan yang terjalin, mulai dari
percakapan biasa, penggunaan nada tertentu, hingga nada laiknya pasio—bacaan
kisah sengsara Isa Almasih pada ibadat Jumat Agung. Alhasil munculnya beberapa
pemain baru yang mengisi Para Pensiunan
2049
ini tidak sia-sia, melainkan membuat Teater Gandrik semakin berwarna
dan kuat di dalam pertunjukan.
Tidak hanya itu, apresiasi
juga perlu diberikan pada pencahayaan dan alunan musik. Di mana pencahayaan
telah merangkai visual pertunjukan semakin kuat. Sedangkan pada alunan musik,
Djaduk Ferianto dan Kuaetnika—Purwanto, Indra Gunawan, Sukoco, Sony Suprapto,
Beny Fuad Hermawan, dan Arie Senjayanto—telah menciptakan suasana pertunjukan
semakin representatif. Alunan dan susunan suara terasa tepat pada tiap adegan,
semisal ketika Djaduk bersenandung di setiap transisi pertunjukan, ataupun
menyisipkan bunyi ketika pertunjukan berlangsung. Selain musik, rombongan musisi
juga cukup menghibur dengan mengisi ruang tegang pada adegan konflik.
Kendati tetap perlu
dicatat bahwa ada perasaan grogi dari segelintir pemain, tetapi hal tersebut
tidak terlalu mengganggu solidnya pertunjukan. Alhasil tidak adanya hambatan teknis
dan unsur artistika untuk para penonton dalam menyerap pesan dari pertunjukan. Pesan
tentang korupsi yang dapat menjadi refleksi kita bersama dan bukan tidak
mungkin jika diajukan sebagai usulan hukuman koruptor di negeri ini. Bertolak
dari itu semua, Teater Gandrik perlu diapresiasi baik karena kesetiaannya
menautkan persoalan dan konteks yang terjadi di Indonesia, sekaligus
menerjemahkannya dengan cara yang khas menjadi sebuah pertunjukan menarik nan
menggigit.[]
Sesaji Nagari: Mewacanakan Persatuan Melalui Musik

Sesaji Nagari: Mewacanakan Persatuan Melalui Musik

Minggu, 7 April 2019 | teraSeni.com~

Ketika musik-musik etnik yang sudah familier di telinga masyarakat awam terus direproduksi; ketika banyak kelompok musik etnik yang lebih memilih jalan ‘aman’ dengan mengaransemen ulang lagu-lagu yang telah dikenal, grup musik etnik kawakan, Kuaetnika justru mengusung aksi berbeda. Mereka menggarap lagu-lagu daerah yang—bagi mereka—belum tersentuh dan dikenal oleh publik.

Djaduk Ferianto dan Kuaetnika mengaransemen sekaligus mengembangkan lagu-lagu daerah terpilih dengan satu tujuan, yakni menyelaraskan semangat keindonesiaan. Garapan dengan maksud ‘mulia’ tersebut lantas dikemas menjadi sebuah album yang bertajuk Sesaji Nagari. Alih-alih hanya melalui kepingan cakram padat, Kuaetnika turut mendesiminasikannya melalui konser musik yang diselenggarakan di dua tempat, yaitu: Taman Ismail Marzuki, Jakarta (23/2) dan Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta (10/3).

kuaetnika: teraseni.com
Tampak seseorang diatas panggung menyapa penonton
Foto: Erwin Octavianto

Di dua tempat tersebut, Djaduk mengajak penonton untuk kembali meresapi apa yang terjadi dengan Indonesia beberapa waktu belakangan. Secara gamblang, Djaduk dan Kuaetnika ingin mengekspresikan kegelisahannya tentang negeri yang sedih. Atas dasar refleksi tersebut, Kuaetnika menyulam kembali rasa persatuan dengan menghadirkan keberagaman melalui 10 lagu—baik lagu daerah ataupun lagu karangan sendiri. Lagu-lagu tersebut diibaratkan menjadi sesaji guna memohon kedamaian, persatuan, dan keutuhan kepada Tuhan, sekaligus umatnya.

Dalam hal ini, pilihan menarasikan persatuan melalui musik tentu menarik. Pasalnya di tengah keruhnya konstelasi politik dan gesekan paham menjelang Pemilu, pelbagai ajakan dan seruan yang eksplisit tentu terasa politis. Bahkan di dalam bukletnya, Kuaetnika turut menuliskan “Ini Bukan Pertunjukan Politik”. Namun apakah Kuaetnika—sebagai kelompok musik—setia menarasikan gagasannya dan berhasil mengartikulasikannya melalui musik, ataukah sebaliknya, terjerembap pada lubang politik?

Mendengar Wacana Menelisik Musik

Sebagai kelompok musik etnik yang dibuat sejak tahun 1996, Kuaetnika memang kerap berkreasi dan melakukan inovasi pada musik-musik daerah. Kuaetnika kerap menciptakan lagu baru dengan sumber, baik aural, ataupun visual dari sosio kultural beberapa lokus hasil eksplorasi mereka. Tidak hanya itu, Kuaetnika kerap melakukan penyilangan genre, eksperimen melodi, tempo, beat, bahkan harmoni.

 kuetnika: teraseni.com
Tampak penyanyi seolah terhanyut dalam lagu yang dinyanikannya
Foto: Erwin Octavianto

Pun konsistensi Kuaetnika tidak bisa diragukan. Mereka jarang absen dalam memproduksi musik, semisal: Nang Ning Nong Orkes Sumpek (1996); Ritus Swara (2000); Unen-Unen (2001); Many Skyns One Rhythm (2002); Pata Java (2003); Vertigong (2008); Nusa Swara (2010); dan Gending Djaduk (2014). Bahkan mereka juga tidak jarang pentas di festival musik, baik lokal ataupun internasional. Alhasil telah terpatri akan kualitas Kuaetnika sebagai kelompok musik yang bernas.

Konser di Yogyakarta (10/3), Kuaetnika mempertunjukkan kesepuluh lagu pada album yang dirilis akhir tahun lalu, dengan urutan sebagai berikut: “Kadal Nongak”, “Doni Dole”, “Batanghari”, “Anak Khatulistiwa”, “Lalan Belek”, “Sesaji Nagari”, “Ulan Andung-Andung”, “Made Cenik”, “Sigule Pong”, dan “Air kehidupan”. Alih-alih dipentaskan secara kaku, konser musik justru berlangsung cair dan akrab. Semisal di awal pertunjukan yang dikemas laiknya mereka tengah berlatih—lebih lanjut mereka melakukan improvisasi dengan prinsip interlocking—, yang kemudian “diganggu” oleh kehadiran Alit dan Gundi, selaku master of ceremony (seterusnya ditulis dengan MC).

Percakapan antara Djaduk dan MC juga melibatkan tema umum dengan gaya yang jenaka. Beberapa tema yang diangkat seperti tingkah laku generasi milenial yang kurang paham tata krama, kecenderungan praktis, penggunaan gadget, dan lain sebagainya. Di dalam hal ini, mereka agaknya menyadari akan posisi anak muda sebagai agent of change ke depan. Pasalnya pelbagai tingkah laku ‘nyeleneh’ anak muda selalu berujung petuah dari Djaduk. Lebih lanjut, petuah-petuah tersebut mengarah pada satu isu, yakni kesatuan Indonesia, atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di dalam konser tersebut, Djaduk dan Kuaetnika ‘menyulap’ sejumlah tujuh lagu daerah—yang bagi mereka kurang mendapat perhatian lebih—dan menciptakan tiga lagu dengan bernuansa nusantara. Khususnya pada tujuh lagu daerah yang berasal dari barat hingga timur Indonesia tersebut, unsur etnik dari setiap lokus tetap dijaga, tidak dicerabut sesukanya.

Terjaganya etnik diejawantahkan dengan penggunaan instrumen asli; penggunaan bahasa dan lirik yang sama; aransemen yang pada beberapa bagian di dalam lagu tidak jauh berbeda. Semisal pada lagu “Kadal Nongak” asal Nusa Tenggara Barat atau lagu “Sigule Pong” asal Sumatera Utara, yang masih mengedepankan instrumentasi di beberapa bagian lagu. Namun cukup disayangkan, pada beberapa bagian musik etnik hanya tampak secara visual. Pasalnya ada beberapa bagian di mana musik etnik yang semestinya ‘tampil’ justru tidak terdengar jelas atau ‘kalah’ dengan suara instrumen lainnya.

kuaetnika: teraseni.com
Siluet dengan latar cahaya biru
Foto: Erwin Octavianto

Pun Kuaetnika juga melakukan inovasi dan sentuhan musik yang berbeda-beda. Pada beberapa lagu tersebut, Djaduk memasukkan unsur genre lain, semisal pada lagu “Kadal Nongak” yang dibuat lebih “pop” pada bagian chorus, atau “Sigule Pong” yang disilangkan dengan genre jazz pada bagian chorus. Sedangkan pada lagu lainnya, Djaduk dan Kuaetnika “bermain-main” dengan beat dan tempo lagu. Semisal beat yang lebih cepat pada lagu asal Poso, “Doni Dole”. Inovasi tersebut tentu memberikan impresi yang berbeda dari lagu aslinya, tetapi apakah perubahan pada beat atau silang genre mempertimbangkan konteks atau impresi dari versi aslinya? Jika demikian, apakah impresi selalu bertuan pada kecenderungan selera konsensus?

Bertolak dari itu semua, Kuaetnika konsisten dalam menciptakan lagu apik serta meracik musik nusantara menjadi sajian pertunjukan yang menarik. Terlebih pada singkupasi, harmoni, hingga perpaduan bunyi dari alat musik yang beraneka. Sesaji Nagari tentu membuktikan kualitas baik dari Kuaetnika sudah menjadi keniscayaan, tetapi laiknya sesaji, mengharap kejutan memukau atau kebaruan tentu perlu dipanjatkan pada kelompok musik dengan potensi yang berlimpah ini.

Wacana Persatuan di tengah Badai Politik 

Tentu menggalang pesan persatuan di tengah hiruk pikuk politik Indonesia belakangan memang penting, tetapi kesan politis tidak dapat terhindarkan. Kenyataannya, perpecahan karena kontestasi pemilu memang menggerogoti masyarakat Indonesia. Keberagaman pun menjadi cita-cita yang kini jauh panggang dari api.

kuaetnika: teraseni.com
Terlihat komunikasi Djaduk dengan MC di atas panggung
Foto: Erwin Octavianto

Dari keadaan tersebut, konser musik Sesaji Nagari dipertunjukkan sebagai doa guna menyadarkan kita akan beberapa hal, pertama, narasi keberagaman; kedua, optimisme akan potensi kebudayaan; ketiga, kesadaran untuk mencintai budaya, terlebih masih banyaknya budaya yang belum terjamah dan dieksplorasi secara luas. Maka kehadiran seniman laiknya Djaduk Ferianto dan Kuaetnika memang diperlukan. Pasalnya jika dalam porsi yang sesuai, melalui senilah kewarasan berbangsa dan bernegara justru dapat distimulasi.

Namun yang perlu menjadi catatan, lagu-lagu pada konser Sesaji Nagari yang sudah menyimpan pesan keberagaman justru terlalu padat dalam pesan. Singkat kata, konser tersebut berlimpah pesan dan muatan oleh karena sesi percakapan yang dirasa terlalu panjang. Hal ini tentu mengundang pertanyaan, mengapa Djaduk memerlukan durasi panjang untuk sesi percakapan di setiap lagu? Tentu hal tersebut sah-sah saja, terlebih percakapan dapat memberikan kesan interaktif dan penekanan, tetapi efek percakapan membuat penekanan dirasa berlebih.

Hal tersebut membuat saya berpikir ulang, tetapi bukan tentang kurasi dibuatnya album, melainkan tujuan konser tersebut dihelat. Pasalnya album Sesaji Nagari sudah memiliki muatan yang baik, terlebih mengangkat lagu-lagu daerah tertentu untuk lebih dikenal luas, bukan ‘belum tersentuh’. Dalam hal ini, beberapa lagu sudah dikenal oleh publik di lokasi dan sekitarnya. Semisal “Sigule Pong” yang kerap menjadi lagu perayaan siklus hidup ataupun dinyanyikan Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) untuk publik Sumatera Utara dan sekitar, dan lain sebagainya. Lebih lanjut, album Sesaji Nagari mempunyai misi menunjukkan keberagaman sebagai potensi kekayaan dari bangsa Indonesia. Hal ini kiranya dapat menjadi contoh baik bagi kelompok musik etnik lain untuk lebih mempopulerkan atau mengaransemen lagu-lagu daerah lainnya. Upaya tersebut perlu dimulai kembali guna menguatkan ulang kesadaran masyarakat akan berbudaya.

Lantas, apakah keliru jika sebuah konser mempunyai tujuan dan kepentingan politik? Tentu hal tersebut juga bukan kekeliruan, pun dari konser Sesaji Nagari juga lah saya melihat bahwa musik tradisi mempunyai suara untuk bersumbangsih pada konstelasi perpolitikan. Namun alangkah eloknya jika pesan musik dan muatan politik dalam satu level kepentingan yang tidak jauh berbeda, sehingga sebuah pertunjukan dengan maksud politik apapun dapat terjalin tanpa mengingkari atau mengorbankan kekuatan dari pertunjukan itu sendiri.[]

Dibalik Pembatalan Konser Slank Di Aceh

Dibalik Pembatalan Konser Slank Di Aceh

Selasa, 22 Januari 2019 | teraSeni.com~

Slank adalah grup band rock asal Jakarta yang kariernya terbilang gemilang dan konstan di dunia rmusik tanah air. Namun siapa sangka, grup yang telah aktif mengguncang panggung Indonesia sejak 1983 ini justru ditolak tampil di Alun-alun Sigli, Aceh pada 29 September 2018 lalu. Menurut pihaknya, grup ini telah diberi izin oleh Direktorat Intelijen Keamanan Polda Aceh dengan segenap Polri dan TNI yang siap mengamankan jalannya acara. Sayang, tidak demikian dengan MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) yang terang-terangan melarang konser Slank melalui surat edaran nomor 451/314/2018. 
Surat tersebut tidak lain adalah hasil keputusan rapat MPU yang ditandatangani oleh Bupati Pidie Jaya dan seluruh anggota Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah). Agus Setyadi, melalui Detik.com mencatat bahwa konser Slank dilarang tampil karena dinilai tidak berkaitan dengan akidah keagamaan, khususnya ajaran Islam. Hal yang cukup disayangkan, pernyataan pembatalan konser baru sampai ke telinga penonton kira-kira satu jam sebelum waktu pentas. Sontak saja hal tersebut membuat ribuan penonton kecewa.

Slank: Teraseni.Com
Slank, sebuah grub band rock asal Jakarta
Sumbe Foto: https://citypost.id/berita-sekian-lama-berkarya-slank-rilis-album-religi-perdananya.html
Kejadian itu ditutup oleh pernyataan Slank yang tak kalah Diplomatis. Melalui sebuah video berdurasi 26 detik, Bimbim selaku drummer Slank angkat bicara, katanya: “Karena dalam keadaan berkabung atas bencana yang terjadi di Palu dan Donggala serta akan diadakan dzikir bersama di Sigli. Maka, dengan berat hati Slank terpaksa membatalkan konser malam hari ini di Sigli, see you next week di Lampung”.
Kejadian ini lantas menuai berbagai asumsi terkait pembatalan konser. Manajer Slank, (Bunda Iffet) menduga ada campur tangan politik dibalik pelarangan MPU terhadap pihaknya. Ia bahkan mengaku bingung, kenapa acara hiburan seperti itu harus diseret ke ranah politik hanya karena persoalan sponsor tertentu. Simpang siur pendapat seperti ini saya kira wajar adanya, mengingat saat itu bukanlah kali pertama Slank menggelar konser di tanah Syari’at Islam ini. Tercatat bahwa sebelumnya Slank pernah tampil dua kali di Aceh. Salah satunya adalah konser cinta damai dan anti-teroris bertajuk Death on Terrorism yang diadakan di Lapangan Blang Padang Banda, Aceh pada Mei 2010 silam. Kemudian selang empat tahun (September 2014), Slank kembali mengadakan konser di Lapangan dalam acara kampanye anti narkoba yang bertajuk Silaturahmi Budaya. 
Pemberitaan pembatalan konser disertai dengan pengetahuan atas riwayat konser Slank di Aceh tentu mengundang pertanyaan besar, bagaimana bisa Slank dianggap tidak mencerminkan Aqidah Islam di tahun 2018, sedangkan sebelumnya Slank ‘melenggang’ aman memasuki panggung pertunjukan di wilayah Aceh; atau, Apakah benar ini terkait Politik karena sponsor tertentu, seperti pernyataan sang manajer Slank, Bunda Iffet? Terkait dengan praduga yang muncul, tentu kita perlu ‘mengintip’ bagaimana MPU di Aceh bekerja. 
Sponsor Rokok dan Konser Aceh 
Usut punya usut ternyata konser Slank yang gagal tampil di Aceh Desember lalu merupakan bagian dari tur Magnumotion yang digelar di sembilan kota di Indonesia. Konser tersebut sengaja digelar dalam rangka mempromosikan Magnum, salah satu brand rokok Indonesia. Tidak begitu jelas mengapa manajer Slank menganggap sponsor rokok ada sangkut pautnya dengan pembatalan konser di Aceh. Apakah karena hukum merokok itu makruh dalam Islam sehingga bertentangan dengan putusan MPU atau kasus ini terpaut urusan politik, seprti yang diungkap oleh wanita yang berumur 81 tahun itu.

Majelis Permusyawaratan Umat: Teraseni.Com
Foto pengukuhan Majelis Pemusyawaratan Ulama Aceh
Foto diambil dari:
https://steemit.com/news/@antonysteem

Untuk tidak terburu-buru memutuskan, mari menyoroti kembali sponsor dari pihak mana sajakah yang pernah melatarbelakangi pendanaan Slank di dua konser sebelumnya. Pertama, konser cinta damai dan anti teroris di 2010. Menurut informasi dari ketua pelaksana konser saat itu, konser yang ikut melibatkan Slank delapan tahun lalu memang tidak melibatkan sponsor dari banyak kalangan. Konser tersebut terlaksana atas sumbangan dari beberapa pengusaha Aceh. Kedua, Road Show Silaturahmi Budaya Slank di 2014. Konser ini dimotori oleh Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Aceh dan didukung penuh oleh salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia (Clavo). 

Selain Slank, ada beberapa konser musik lain yang bisa dijadikan bahan pertimbangan. Adalah sederetan grup musik yang juga disokong oleh perusahaan rokok, di antaranya; Konser Grup Band Kotak di Banda Aceh Mei 2010, disponsori oleh PT. Sampoerna. Konser Wali Band Aceh Utara, November 2012 disponsori oleh SURYA 16, setelah itu di akhir Juli 2017 Wali Band hadir kembali di Aceh Tengah yang disponsori oleh Gudang Garam. The Changcuters di panggung Magnify di Aceh Tengah Oktober 2016 lalu. Grup ini bahkan berhasil tampil di Aceh Tengah meski menggunakan sponsor yang sama dengan Slank, yaitu Magnum Filter. Sebenarnya bukan hanya di Aceh, kecenderungan perusahaan rokok mensponsori konser musik memang menjadi lazim sejak era 1980an.
Qanun Aceh Tentang Konser 
Menurut peraturan yang berlaku, untuk menghelat sebuah konser di daerah khusus Aceh terdapat dua pihak yang harus dilewati, yaitu: tahap keamanan negara (Polri dan TNI) dan tahap Hukum Islam Aceh (MPU). MPU adalah pihak yang berhak memberi masukan, pertimbangan dalam menentukan kebijakan daerah dari aspek syariat Islam secara kaffah (keseluruhan). Terkait Syariat Islam, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga telah mengeluarkan peraturan terkait kriteria kegiatan seni budaya dan hiburan yang diperbolehkan dalam Islam. Hal itu tertuang dalam fatwa MPU Aceh Nomor 12 Tahun 2013. Fatwa tersebut nantinya akan mengatur seluruh isi konten nyanyian, kegiatan hiburan, dan penonton. 
Pembatalan Konser Slank: Teraseni.Com
Pemisahan penonton konser di Aceh
Foto diambil dari:
http://aceh.tribunnews.com/2016/08/10
Dari 15 butir fatwa tersebut beberapa berkaitan dengan konser, sebagai berikut: (1) Syair dan nyanyian tidak menyimpang dari aqidah ahlu sunnah wal jamaah, tidak bertentangan dengan hukum Islam, tidak disertai dengan alat-alat musik yang diharamkan, tidak mengandung fitnah, dusta, caci maki dan yang dapat membangkitkan nafsu syahwat; (2) Penyair dan penyanyi harus memenuhi kriteria busana muslim dan muslimah, tidak melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan atau dapat menimbulkan nafsu birahi, tidak bergabung/bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tidak menyalahi kodratnya sesuai dengan jenis kelamin, tidak ditonton langsung oleh lawan jenis yang bukan mahram, kegiatan bernyanyi dan bersyair dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak mengganggu ibadat dan ketertiban umum; (3) Penonton hiburan tidak bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. 
Tarik Ulur Peraturan MPU di Aceh dan Sekitar 
Terdapat dua tingkat MPU yang menaungi masyarakat Aceh yaitu, MPU tingkat Provinsi dan MPU tingkat Kabupaten/kota. Semua Pihak MPU pada dasarnya wajib menerapkan aturan yang telah ditetapkan. Walaupun nanti di dalam pelaksanaannya tentu tidak serta merta seragam di setiap tempat. Hal ini akan sangat tergantung pada negosiasi-negosiasi yang terjadi antar pemerintah Kabupaten/kota setempat. 
Ada empat tugas utama MPU tingkat kabupaten/kota. Salah satunya, MPU memiliki hak untuk mempertimbangkan dan memberi saran kepada pemerintah daerah dan DPRK dalam menetapkan kebijakan berdasarkan syariat Islam, termasuk konser. Sebagai contoh, kasus yang terjadi di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat di tahun 2016. Band lokal maupun nasional ditolak pentas di tempat tersebut tanpa pandang bulu. Hal ini terjadi karena Ulama Aceh Barat menilai bahwa konser musik bertentangan dengan syariat Islam yang berlaku di Aceh. Merujuk pada Hadits Nabi SAW yang menganjurkan untuk meninggalkan sesuatu yang lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. 
Sejak saat itu baik pihak MPU maupun Pemerintah daerah setempat tidak akan mengeluarkan izin untuk konser musik. Berbeda dengan Aceh Barat, di Kota Banda Aceh justru tetap aktif mengadakan konser hingga saat ini. Walaupun dengan syarat akan selalu mengindahkan aturan-aturan dari MPU. Seperti adanya pemisahan penonton laki-laki dan perempuan, memakai pakaian syar’i dan lain sebagainya. Melihat kejadian di Aceh Barat, tidak menutup kemungkinan jika hal semacam ini juga sedang terjadi di Kabupaten Pidie Jaya terkait pembatalan konser Slank. Telah terjadi semacam negosiasi antar segenap pemerintah daerah dan MPU di tingkat Kabupaten Sigli sehingga sampai pada titik kesimpulan, Slank dilarang tampil di Sigli. 
Melalui pembatalan konser Slank ada hal yang bisa kita pelajari bersama, bahwasanya kebijakan pemerintah Aceh terutama kaitannya dengan Syari’at Islam tidak sama di setiap tempat dan tidak bisa dipukul sama rata. Pada praktiknya hal semacam ini juga akan sangat tergantung pada Ulama dan pemerintah daerah yang menjabat saat itu, sebagai pemimpin yang dipilih masyarakat untuk menentukan keputusan di tingkat daerah. 
Negosiasi Perlu Dilakukan: Sebagai Penutup 
Di balik pembatalan Konser Slank bukan hanya campur tangan MPU, namun ada banyak pihak lain yang turut membentengi para Ulama tersebut. Seperti Bupati yang ikut menandatangani surat penolakan konser, FPI yang mendesak aparat penegak hukum untuk mematuhi MPU, Ormas dan partai-partai lokal ikut unjuk nyali untuk mendukung keputusan Ulama. Mereka siap mempertaruhkan diri demi mempertahankan marwah Ulama. Dengan sekian banyak pertentangan yang terjadi, alhasil konser Slank yang rencana akan tetap digelar meski tanpa restu dari MPU resmi dibatalkan satu jam sebelum jadwal pentas. 
Penulis selaku salah satu warga Aceh juga ikut gelagapan menanggapi kasus seperti ini. Lantas bagaimana nasib konser musik di Tanah Aceh kedepannya? Mungkin sudah saatnya menjadi renungan bersama, apakah Aceh perlu daerah/tempat khusus untuk pelaksanaan konser? Atau pihak penyelenggara yang seharusnya lebih memperhatikan dan mendalami lebih lanjut perihal kebijakan masing-masing daerah, tentu dengan tidak melupakan konteks daerahnya. Dengan begitu, aksi serupa yang merugikan tersebut tidak akan terulang. Mungkin hal ini dapat mulai dipikirkan sekaligus dicoba, dan kiranya tahun 2019 adalah awal yang baik untuk memulai.
Nosheheorit: Dialog Gender dalam Proses Menjadi Lengger

Nosheheorit: Dialog Gender dalam Proses Menjadi Lengger

Jumat, 28 Desember 2018 | teraSeni.com~

Seorang laki-laki menggunakan kemban merah meratap dengan wajah nanar ke penonton. Di dalam pelukannya, terdapat rangkaian bunga mawar. Kiranya terdapat satu kontras di mana tubuh sang laki-laki berpakaian kemban merah memeluk rangkaian bunga tersebut. Sementara lima penari lainnya mengibaskan bunga mawar ke punggung mereka masing-masing. Beberapa menit berselang, laki-laki tadi mulai ikut mengibaskan bunga yang ia peluk ke arah punggungnya. 

Nosheheorit: Teraseni.Com
Penari memeluk bunga sambil menatap ke arah penonton
Foto: Arsip Otniel Tasman
Potongan pertunjukan di atas merupakan secuil peristiwa yang terjadi pada karya bertajuk Nosheheorit dari koreografer, Otniel Tasman. Karya yang menyoal ihwal maskulinitas dan femininitas pada tubuh ini dipentaskan pada gelaran Indonesia Dance Festival (7/11) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Karya Otniel ini terinspirasi dari seorang lengger laki-laki dari Banyumas, Dariah. Di dalam karya berdurasi 50 menit ini, Otniel mendialogkan dua gender di dalam satu tubuh hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

Di dalam karya ini, Otniel selaku koreografer bekerja sama dengan Bagus TWU (komposer), Khoerul Munna dan Yenni Arama (pemusik), Iskandar Kamaloedin (lighting designer), Sekar Putri Handayani (produser), Reizki Habibullah (project manager), Dany Wulansari (asistant produksi), dan para penari, yakni: Sutrianingsih, Yoga Ardanu, Kurniadi Ilham, Ahmad Saroji, Damasus CV Waskito. Karya yang sempat dipentaskan di Belgia ini kiranya mengajak kita untuk berpikir ulang soal ihwal gender yang kerap kita abaikan, atau sengaja tidak dibicarakan.
 

Tubuh Sebagai Ruang Dialog 
Dengan cahaya samar-samar, seorang perempuan berdiri di tengah panggung. Membentuk kuda-kuda dengan posisi jari laiknya kipas yang bergerak cepat. Dua laki-laki lainnya hanya duduk termangu. Mereka terbangun, menunjukkan gerak gemulai laiknya Lengger tetapi dengan gerak yang patah-patah. 
Sementara terdapat seorang penari berdiri di sisi depan bagian kiri panggung. Adalah Ilham menunjukkan gerak-gerak pencak tetapi dalam busana yang asing, laiknya gaun berwarna hitam dengan sepatu berhak. Di satu sisi ia menampilkan kegagahan, tetapi di sisi lain busana membuatnya kontraproduktif. Gerak demi gerak ia tunjukkan, kuda-kuda demi kuda-kuda ia peragakan hingga suara berbisik “noshe, no he, orit” terdengar lantang. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Penari dengan kuda-kuda serupa pencak silat
Foto: Arsip Otniel Tasman
Dengan suara berbisik tersebut, lantas ia terjatuh di tempat tak berdaya. Sekembalinya ia bangkit, ia lantas berjalan dan bergerak lebih gemulai ke tengah panggung. Lantas ia menunjukkan kontras gerak, dengan bergeal-geol hingga menunjukkan kosa gerak Lengger. Dalam hal ini, kita dapat melihat perubahan kontras tubuh dari basis tubuh pencak ke Lengger. Ada dua yang terlucuti, pertama, pergantian gerak yang signifikan, kedua, konstruksi tubuh dan gender. 
Bertolak dari adegan pertama, hal ini kiranya terjalin kemudahan dalam menangkap adanya dua kecenderungan gender pada satu tubuh. Hal ini kiranya menarik, namun Otniel cukup diuntungkan melihat Ilham berbasis gerak pencak, sehingga gerak maskulin dapat tergambar dengan jelas. Dengan sangat mudah penonton menangkap signifikansi antara maskulin dan feminin yang terejawantahkandengan detail dari basis gerak yang ditunjukkan. Namun, kiranya menarik mengetahui siasat Otniel jika gerak maskulin tidak ditunjukkan dengan gerak pencak. Lebih lanjut, seberapa kuatkan maskulinitas pada tubuh para Lengger Lanang hingga diwujudkan dengan kontras yang tegas? 
Selanjutnya, para penari turut mewujudkan kontak tubuh hingga motif gerak Lengger. Namun yang cukup menarik, Otniel tidak langsung menerapkannya secara eksplisit, melainkan mewujudkannya perlahan, yakni dengan gerak patah-patah—laiknya ada keraguan tertentu yang terjalin. Dalam hal ini, saya melihat bahwa Otniel tidak hanya menggunakan penari sebagai peraga gerak-gerak, tetapi medium interpretasi atas dialog gender. Hal ini kiranya yang membuat karya semakin kaya. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Para penari tampak sedang menjalin kotak tubuh satu sama lain
Foto: Arsip Otniel Tasman
Selain itu, hal yang cukup menarik adalah Otniel membuat dramaturginya bertingkat. di mana ia memulai dengan tubuh personal sebagai pembeda gender. Secara lebih lanjut, setiap tubuh bergerak maskulin, feminin, dan keduanya, baik secara terpisah, patah-patah, hingga berkelindan. Alih-alih hanya menunjukkannya pada tubuh terpisah, Otniel juga menjalin ketersatuan gender ketika setiap penari saling menyentuh dan menyangga satu sama lain. Tidak hanya berpelukan, Otniel turut menyematkan visual pose yang menarik di setiap penari yang menyangga satu sama lain. Pada adegan ini, laiknya semua konstruksi menjadi lenyap dan berkelindan. 
Setelah itu, Otniel muncul dengan kemban berwarna merah. Ia menari lengger sambil menyanyikan beberapa patah frase yang kerap digunakan oleh Lengger. Pasca Otniel masuk, kiranya penari-penari lain dihadirkan bergantian, baik gerak patah-patah ataupun lengger. Interaksi gerak yang muncul pun inovatif dengan eksplorasi gerak dari basis tubuh lengger yang cukup variatif.

Eksplorasi gerak itu pun menyuarakan maksud yang berbeda-beda, mulai dari keragu-raguan, keterasingan, hingga keutuhan. 

Nosheheorit: Teraseni.Com
Seorang penari dengan kostum kemben merah
Foto: Arsip Otniel Tasman
Dalam diam dan tubuh kelima penari yang membeku, Otniel berjalan ke dalam panggung sambil memeluk bunga mawar. Ia memberikannya satu per satu ke kelima penari yang ada. Bunga tersebut diletakkan di atas kepala mereka masing-masing, dan perlahan para penari mulai merespons bunga-bunga tersebut. Puncak dari adegan itu adalah ketika kelima penari menyabet-nyabetkan bunga tersebut ke punggung mereka masing-masing, sedangkan Otniel menatap nanar sembari memeluk bunga mawar tersebut. Setelah para penari, lantas Otniel lah yang menyabetkan bunga-bunga tersebut ke punggungnya hingga lampu berangsur padam. Adegan menyentuh tersebut menutup pertunjukan.
Fase Liminalitas dan Cara Ungkap 
Bertolak dari karya tersebut, kita dapat melihat tawaran biografi tubuh dari seorang Lengger Lanang, bernama Dariah. Diibaratkan sebagai sebuah perjalanan, Dariah mengalami fase yang tidak mudah. Pertentangan demi pertentangan terjalin, ketidak-terimaan berbuntut persetujuan diri terbentuk, hingga kehadiran inang membuat seseorang ‘menjadi’ Lengger Lanang terwujud. Dalam hal ini, Otniel mengartikulasikan fase liminalitas (baca: ambang) dari tubuh seorang Lengger Lanang. Secara lebih lanjut, dapat kita lihat adanya fase ‘menjadi’ tubuh Lengger yang melibatkan dialog dua gender yang berlainan. Di mana diawali dengan tubuh laki-laki, persilangan dengan perempuan, dan menjadi Lengger Lanang. 
Hal lain yang cukup menarik, saya melihat karya ini diungkap Otniel dengan cara yang ‘puitis’ dan penuh emosi. Hal ini mungkin dapat ditafsir akan relasi Otniel yang cukup dekat dengan Dariah, sehingga bahasa-bahasa yang muncul begitu dekat dan mendalam. Kiranya Otniel tidak perlu takut soal kedekatan yang terjalin dengan Dariah, pasalnya kreativitas dan inspirasi memang datang dari hal tersebut. Namun Otniel perlu berhati-hati dengan ihwal kedekatan ketika mengartikulasikan kedirian Dariah. Pasalnya subjektivitas kerap menyederhanakan atau memburamkan beberapa momen yang seharusnya penting menjadi tidak, dan sebaliknya. Dalam hal ini kiranya kesadaran Otniel sebagai insider ataupun outsider di dalam Lengger perlu dicoba. Alhasil karya Otniel akan menjembatani segala persoalan, terlebih untuk mereka yang akrab ataupun asing terhadap Lengger.[]
Teriakan Sunyi Milenia*

Teriakan Sunyi Milenia*

Kamis, 13 Desember 2018 | teraSeni.com~

Mime on Stage serta Temu Karya Mimer meningkahi geliat milenia dengan pantomim. Kesunyian yang mengakrabkan. Kesunyian yang mengakrabi perubahan. 


Ingatkah anda akan situasi seperti ini: suasana kelas gaduh, murid-murid saling bercanda dan berbincang riuh tanpa peduli guru sepuh yang tengah bersusah-payah menerangkan pelajaran di depan kelas. Betapapun kerasnya upaya sang guru menenangkan murid dan mengharapkan perhatian mereka, tetap saja sia-sia. Semakin cerewet sang guru menggerutu, semakin menggila tingkah polah para murid. Akhirnya sang guru menyerah. Tiba-tiba saja dia berhenti bicara, diam seribu bahasa. Dengan membisu sang guru hanya berdiri di samping papan dan memandang para murid dengan sayu. Anehnya, alih-alih merasa diberikan kesempatan untuk semakin gaduh, semua murid malah perlahan diam dan duduk manis sambil tertunduk seperti anjing yang akan dilempari batu. Kesunyian melawan kegaduhan. Kesunyian jauh lebih nyaring dari teriakan. 
 *** 
Dua bulan belakangan ini, saya bertandang ke beberapa peristiwa “seni sunyi” ini. “Seni sunyi” ini lebih akrab dikenal dengan nama Pantomim. Disebut sunyi sebab kesenian ini menonaktifkan verbal sebagai medium komunikasinya. Tak hanya nirverbal, pertunjukan yang bisa dibilang masih menjadi bagian dari teater ini juga menafikan properti. Ruang, properti, bahasa verbal, bahkan hingga lawan main pun sepenuhnya dibangun oleh bahasa tubuh. 
Pantomime: teraseni.com
mimer (aktor pantomime) dengan ekspresi wajah, gestur, sebagai bahasa berkomunikasi dengan penonton
Foto: Agathon Hutama
Setidaknya ada tiga perhelatan gelar pantomim yang terjadi dalam rentang akhir Oktober hingga menjelang akhir November 2018 ini di Yogyakarta. Ada Mime on Stage yang digelar di Omah Kebon pada 28 Oktober 2018, ada Temu Karya Mimer yang digelar di Yogyatourium Dagadu Yogyakarta pada 30 Oktober 2018 dan ada Tunggak Semi yang diselenggarakan di beberapa lokasi di Yogyakarta dari tanggal 12 hingga 19 November 2018. Sayangnya saya hanya mampu bersilaturahim ke dua perhelatan di awal karena kesibukan saya. Karena itulah, pada tulisan kali ini saya hanya akan lebih banyak membahas tentang kedua pergelaran pantomim tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan Tunggak Semi tetap “kena getahnya” juga. 
Pantomim dalam Pertemuan dan Perubahan 
Meski sama-sama menyajikan pertunjukan-pertunjukan pantomim, Mime on Stage (MOS) dan Temu Karya Mimer (TKM) memiliki perbedaan yang menjadi kekhasan masing-masing. Walaupun tentu saja keduanya sama-sama berupaya untuk menghidupkan kembali geliat pantomim di kota Gudeg ini. 
Adalah tokoh pantomim (mimer) kenamaan Yogyakarta, Asita Kaladewa bersama dua rekannya, Krismantoro dan Markus yang kemudian berkumpul dan mengangkat sebuah kesadaran melalui wacana bahwa selaku mimer sekaligus guru pantomim di sekolah-sekolah, mereka juga membutuhkan ruang untuk mengekspresikan karya pribadi mereka masing-masing. Dari pemikiran inilah, ketiga tokoh ini kemudian mengajak tiga mimer yang lain yakni Banon Gautama, Sabil, dan Feri Ludianto Pawiro untuk menggelar rangkaian pertunjukan pantomim yang diberikan tajuk: Mime on Stage: Mime’s Archive and Collective. 
Pantomime: Teraseni.Com
tampak para mimer dengan rias serba putih seperti topeng
Foto: Qorin Syah
Pergelaran MOS pada 28 Oktober 2018 di Omah Kebon, Nitiprayan, Yogyakarta itu menginjak seri yang pertama. Dengan kata lain, perhelatan yang digelar di homestay milik dramawan senior, Whani Darmawan, itu baru saja menggelar pertunjukan perdana mereka. Menurut Asita, fokus nomor-nomor karya pantomim yang ditampilkan di MOS lebih condong ke pantomim gaya klasik (classic). Pantomim gaya klasik adalah pantomim yang menggunakan teknik-teknik pantomim yang cenderung realis dan berangkat dari peristiwa keseharian. Pantomim realis umumnya lebih dikenal dengan tata rias yang serba putih seperti topeng, mengenakan sarung tangan putih dan baju garis-garis hitam-putih. Meskipun tentu saja masalah sarung tangan dan kostum ini masih bisa dialihrupakan. Menurut Asita, pantomim gaya klasik seperti ini perlu kembali dihidupkan untuk memperkenalkan pantomim ke masyarakat, serupa dasar-dasar berpantomim. 
Pergelaran MOS dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah presentasi karya dari masing-masing mimer, bagian kedua adalah kolaborasi antar mimer, sedangkan di bagian ketiga, para penonton dipersilahkan untuk maju ke atas panggung dan mencoba berpantomim dengan gaya mereka sendiri-sendiri. Penonton tidak hanya menjadi penikmat pertunjukan secara pasif tapi juga diberikan kesempatan untuk merasakan seperti apa rasanya berpantomim itu ibarat ngibing dalam tari-tarian rakyat. 
Yang menarik lagi, meskipun pertunjukan ini tidak berbayar, tapi penonton disarankan untuk menyumbangkan cerita pendek yang ditulis di sehelai kertas sebagai ganti tiket masuknya. Meskipun ternyata ketentuan ini tidak membatasi siapa saja yang ingin menonton walaupun mereka tidak sempat untuk membuat dan menuliskan cerita pendek. Cerita-cerita pendek ini nantinya akan dijadikan bahan nomor-nomor karya yang akan disajikan di pergelaran MOS seri berikutnya. 
Pantomime: Terseni.Com
Penggunaan topeng yang berbeda oleh mimer
Foto: Agathon Hutama
Lain MOS, lain pula TKM (Temu Karya Mimer). Jika MOS baru saja menginjak pergelaran perdananya, TKM, yang digelar tepat dua hari berikutnya, 30 Oktober 2018 di Yogyatourium Dagadu Yogyakarta, itu telah menginjak seri yang kedua. Gelaran yang pertama dari komunitas yang diinisiasi oleh pantomimer Jogja, Ficky Tri Sanjaya dan kawan-kawan, ini telah dilaksanakan di awal tahun 2018 ini. Mengambil tajuk “I Should Be Sleeping Under The Tree With A Cup of Tea”, TKM juga menampilkan karya enam mimer muda Yogyakarta. Bedanya, jika seluruh mimer dari MOS adalah laki-laki, TKM memiliki tiga mimer perempuan yakni Tiaswening Maharsi, Patricia Yuristavia, dan Gabriella Srie Nareswari (Gabby). Tiga mimer pria lainnya yakni Capriano David Liat Tewar, dan Ficky Tri Sanjaya. 
Perhelatan TKM, secara format pertunjukan, juga tidak kalah eksperimental jika dibandingkan dengan MOS. Secara performatif, sebagian besar karya TKM digelar sebagai pertunjukan yang menjaga jarak dengan penonton, dalam artian penonton benar-benar diposisikan sebagai penikmat pasif (kecuali pada karya dari Patricia Yuristavia yang mengajak penonton untuk berpartisipasi di tengah-tengah pertunjukannya). Ruang eksperimental justru terletak di pembagian ruang-ruang pertunjukan. Alih-alih sekedar menggunakan satu titik sebagai panggung, TKM menggunakan tiga titik di Yogyatourium sebagai ruang pertunjukannya. Tiga mimer tampil di panggung ruang terbuka Yogyatourium, satu mimer tampil di samping ruang lesehan penonton, dan dua mimer terakhir tampil di pendopo Yogyatourium. Untungnya, jarak antara ketiga titik ruang ini tidak lebih dari sepelemparan batu sehingga penonton bisa berpindah tempat dengan mudah dan cepat, setidaknya tidak sampai membuat mereka keburu menggerutu. 
Ruang eksperimental lain dari TKM juga terletak pada format bentuk karyanya. Meskipun tiga mimer masih berpentas secara konvensional (pantomim klasik), tiga mimer yang lain sudah berani untuk mengeksplorasi pantomim ke wilayah yang lebih luas. Selain itu, tiga dari enam mimer yang ada memilih untuk tidak mengenakan tata rias serba putih layaknya pantomim konvensional. Ada Gabby dan Tias yang membiarkan wajah mereka natural tanpa riasan serba putih serta Ficky Tri Sanjaya yang bahkan menutupi wajahnya dengan topeng. Sebuah keputusan yang cukup berani, mengingat pantomim identik dengan permainan ekspresi mimik wajah. 
Tiaswening Maharsi (Tias) berpantomim hanya di satu titik tanpa berpindah tempat selangkahpun. Alih-alih sekedar bercerita dengan plot yang linear dan bahasa yang gamblang, Tias menggunakan bahasa puisi sebagai keberangkatannya seperti “Sehelai uban yang melayang menjadi gumpalan awan yang berlarian diterpa angin” dan lain sebagainya. Ada pula Patricia Yuristavia, seperti yang telah saya singgung sebelumnya, yang mengajak dua orang penonton ke atas panggung untuk menyumbangkan masing-masing satu kata yang nantinya akan dia jadikan sebagai bagian dari karya yang ditampilkan. Hingga ada pula Ficky Trisanjaya yang mengajak kolaborasi penari dan koreografer muda, Megatruh Banyumili, untuk mereinterpretasikan tari Topeng Klana ke dalam bentuk pantomim. 
Pantomime: Teraseni.Com
Tampak mime tanpa rias membuat pola atau simbol tertentu dengan kedua tangannya
Foto: Agathon Hutama
Kedua perhelatan ini (MOS dan TKM) juga mengangkat dua tema yang berbeda. Jika MOS lebih menyorot pada tema tentang pertemuan—itulah mengapa ada segmen “pertemuan” antar mimer maupun panggung dengan penonton—maka TKM lebih banyak berbicara tentang waktu dan perubahan. Bagi saya, keduanya sama-sama cukup berhasil dalam mempertanggungjawabkan tema yang mereka angkat masing-masing. Tidak hanya dalam bentuk narasi, tema-tema itu diwujudkan dalam bentuk pilihan format pertunjukan maupun pola interaksi dengan penonton. 
Capaian semacam ini yang sangat patut untuk diapresiasi. Tidak hanya berupaya untuk sekedar menghidupan dan memperkenalkan pantomim ke masyarakat tapi juga mengembangkannya ke dalam wilayah jelajah seni yang lebih luas dan beragam. Bukankah kita memang tengah menapaki era jelajah lintas-apapun? 
Pantomim dan Teriakan Sunyi Milenia 
Entah sudah berapa banyak karya seni yang berupaya untuk menggugah kesadaran kita akan bahaya laten tenggelam dalam dunia sosial media yang begitu hingar-bingarnya saat ini. Kemudahan media komunikasi bukannya membuat kita mampu untuk saling memahami dengan lebih baik tapi sebaliknya, kita malah saling berlomba-lomba untuk mengaktualisasi diri, berpacu untuk didengar. Kebebasan untuk bersuara yang tidak terkendali membiaskan makna dari demokrasi itu sendiri. Demokrasi dimaknai sebagai kebebasan untuk memaki, alih-alih memahami. 
Jenakanya, beberapa karya-karya seni yang berupaya untuk menyindir perilaku masyarakat milenial yang serba hectic di internet itu malah semakin menambah kebisingan yang ada. Eksperimentasi visual yang serba gegap gempita, celotehan-celotehan retorika verbal yang begitu berbusa-busa, hingga gerak-gerak tubuh “kontemporer” yang tidak bermakna dan tidak jelas juntrungannya menambah kecerewetan generasi milenia. Maksud hati mencipta satir, apa daya ikut terpelintir.
Dalam keadaan seperti inilah pantomim kemudian muncul layaknya guru renta yang berupaya untuk membungkam murid-murid yang tidak mengindahkannya—seperti yang telah diceritakan di awal tulisan ini. Sang guru tidak berusaha membungkam para murid dengan kata-kata verbal. Sebaliknya, guru hanya berdiam diri dan menatap sayu murid-muridnya. Begitu semua murid membisu, sang guru tetap tidak berkata sepatah katapun. Dia hanya berbalik menghadap papan, lalu menuliskan beberapa soal dan duduk di kursi guru, masih tanpa sekecap katapun. Meski tanpa mendapatkan instruksi verbal, para murid langsung segera mengambil alat tulis dan mencatat soal yang ditorehkan sang guru di papan lalu mulai mengerjakannya dengan tertib. 
Mungkin pantomim memang tidak seheroik itu sebagai agen perubahan. Tapi setidaknya, dari pantomim kita bisa belajar bahwa menghadirkan peristiwa tidak harus melulu melalui wacana-wacana verbal yang biasanya memang cenderung jadi perang wacana itu. Pantomim seolah ingin mengingatkan kita bahwa yang paling utama dalam hidup adalah bergerak dan beraksi. 
MOS ingin mengingatkan kita bahwa sudah lupakah kita untuk mencari titik temu dalam berkomunikasi, alih-alih sekedar ingin memaki dan didengarkan? 
TKM ingin menyadarkan kita bahwa waktu terus berubah. Kesadaran harus terus dibuncahkan. Jangan terlena pada keadaan. MOS dan TKM ingin mengingatkan: mari bertemu untuk melakukan perubahan!! 

*tulisan ini terinspirasi dari film A Quiet Place arahan sutradara John Krasinski.

Pertemuan Komunitas Seni Anak Muda Sumatra Barat (Catatan Lokakarya: Kota dan Seni Anak Muda)

Pertemuan Komunitas Seni Anak Muda Sumatra Barat (Catatan Lokakarya: Kota dan Seni Anak Muda)

Minggu, 2 Desember 2018 | teraSeni.com~

Di pertengahan Oktober 2018 lalu, saya diajak bertemu oleh Roni “Keron” Putra di Padang. Ia mengundang Metasinema dan Shelter Utara untuk datang ke Payakumbuh dalam agenda pertemuan komunitas seni anak muda di Sumatra Barat. Setelah bertemu beberapa saat itu, Keron langsung pergi ke Solok, untuk mengundang komunitas-komunitas seni di sana. Ternyata selama tiga hari itu ia bersama rekannya berkeliling Sumbar untuk mengundang komunitas-komunitas seni di provinsi ini. Sebelum ia beranjak dari Padang, saya tanyakan “komunitas seni seperti apa yang Abang undang?”yang terlihat aktif, baik itu di nyata atau di maya, jawab Keron. 

24 November 2018, pukul 20.00 malam, di Basecamp Legusa Fest, Nagari Tanjung Haro, Kabupaten Lima Puluh Kota, agenda itu dihadiri oleh sebelas komunitas berbasis seni dari berbagai daerah di Sumbar. Diselenggarakan oleh Payakumbuh Youth Artee Committee (PYAC), pertemuan itu dijuduli Lokakarya Seni dan Anak Muda: Mengisi Ruang Kosong Kota. Keron sebagai moderator memberi pengantar dan latar belakang agenda tersebut. Pertemuan ini muncul merespon semaraknya media sosial yang berisi kegiatan komunitas-komunitas berbasis seni di Sumbar, munculnya ruang dan media alternatif yang dikelola oleh anak muda, bahkan yang mengisi media cetak di Sumbar kebanyakan anak muda. Bahkan, kegiatan-kegiatan tersebut telah ikut turut menyumbang sesuatu untuk citra dan branding kota. Lantas kenapa kita tidak saling bersinergi dan berkolaborasi untuk memajukan kesenian di Sumbar? 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Anak-anak muda pegiat seni Sumatera Barat saling membicarakan apa yang telah dan akan mereka kerjakan
Sepuluh komunitas itu adalah: PYAC berbasis di Payakumbuh, Legusa, di tempat agenda itu berlangsung, Sibiran, Metasinema, dan Shelter Utara berbasis di Padang, Ladang Rupa dari Bukittinggi, Sarueh di Koto Tuo Ampe Angkek, Agam, Takasiboe dari Solok Selatan, Gubuak Kopi di Solok, Sapakek di Padang Panjang, dan 9 Pucuak Fest di Sungai Talang, Lima Puluh Kota. 
Keron meminta para komunitas dengan perwakilannya untuk mengenalkan diri dan apa kegiatan-kegiatannya, dan bagaimana pembacaan serta respon atas kondisi bidang yang digeluti. Pada bagian selanjutnya, pembahasan berlanjut pada kemungkinan kolaborasi antar komunitas. Kebetulan saya diminta untuk jadi pencatat pembicaraan, saya coba rangkum poin-poin itu seperti berikut. 
Komunitas dan Sikap Terhadap Kondisi Sekitar 
Keron melanjutkan dengan penjelasannya mengenai PYAC. Di Payakumbuh, banyak anak muda dengan segala macam kreativitasnya, mereka coba untuk berkumpul dan membuat sebuah ruang jejaring bernama PYAC. Diniatkan untuk merealisasikan ide-ide yang ada pada diri anak muda itu, sehingga tercipta sebuah momen untuk dinikmati oleh warga, bisa untuk saling mendukung dan menginspirasi. Salah satu kegiatannya adalah Ngopini, sebuah diskusi yang dilaksanakan setiap bulan di sebuah kafe atau ruang terbuka untuk mebicarakan fenomena anak muda yang merespon kondisi sekitarnya, baik itu di kesenian, kebudayaan, industri kreatif, sejarah, dll. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Setiap komunitas mempresentasikan program
Vhky Putra dari Sibiran melajutkan pergiliran mikrofon. Dari sebuah industri kreatif, memproduksi buah tangan (merchandise) dari kayu-kayu, kemudian berkembang menjadi ruang kegiatan musik dan teater. Kebiasaan mereka semenjak jadi mahasiswa yang dekat dengan kegiatan itu, ditambah keengganan untuk bekerja dibawah orang lain, akhirnya membentuk sebuah komunitas Sibiran.Ia melanjutkan dengan pengamatannya atas kondisi komunitas seni di Padang.Ia merasa ada yang tidak sehat, komunitas serta kegiatannya itu terfragmen, dan jarang yang melebur antara lain. Akhirnya muncul nabi-nabi (baca:penggiat) di antara mereka, bersabda untuk lingkungan mereka pula. 
Namun, Shelter Utara, seperti yang dipaparkan salah satu penggiatnya Randi Reimena, hadir dan berusaha untuk meleburkan kondisi itu. Sebagai perpustakaan terbuka dan ruang yang bisa dipakai untuk diskusi, pertunjukan, pemutaran, dengan beragam kegiatan disana, mulai dari sastra, musik, film, fotografi, sejarah, dan filsafat. SU agaknya telah berhasil mempertemukan orang-orang dari berbagai kalangan serta memicu berlangsungnya interaksi lintas disiplin. 
Saya menceritakan mengenai posisi Metasinema, yang notabene adalah Unit Kegiatan Mahasiswa, di Universitas Andalas. Satu-satunya komunitas kampus yang hadir di pertemuan ini. Metasinema mencoba menjadi ruang untuk mempelajari film, baik itu sekedar hiburan atau tak sekedar hiburan, karena siapa saja dan dimana saja bisa menonton bahkan memproduksi film hari ini. Atas itu perlu rasanya mengambil kesempatan untuk menjadikan film sebagai medium edukasi. Dengan semangat itu lahirlah program apresiasi seperti Layar Terkembang dan Andalas Film Festival. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Setiap komunitas juga saling bertanya dan berjawab
Lain pula kondisi di kota Bukittinggi dan Padang Panjang. Ladang Rupa lahir karena merespon keengganan kota Bukittinggi atas kegiatan kesenian, terutama seni rupa, jelas Ogy Wisnu, salah seorang penggiat di Ladang Rupa. Sedangkan di Padang Panjang yang telah berdiri kampus seni, mayoritas warga di luar kampus berpandangan negatif atas kesenian, papar Maulana Ahlan, seorang penggiat di Sapakek. Untuk itu mereka mencoba hadir di tengah-tengah masyarakat, dan memperkenalkan seni dengan sehat. 
Sedangkan di Solok, ada Gubuak Kopi yang konsisten dan produktif belakangan ini. Mereka berusaha untuk membaca kebudayaan sekitar, mulai dari sejarahnya hingga perkembangannya hari ini, yang kemudian direproduksi dan didistribusikan dengan seni media. Beberapa programnya adalah Lapuak-Lapuak Dikajangi, Daur Subur, dan Sinema Pojok. 
Jika itu adalah gambaran komunitas dan aktivitasnya di kota, beberapa komunitas fokus di wilayah rural, seperti Legusa dan 9 Pucuak Fest. Andes Satolari menjelaskan ada kondisi yang memprihatinkan di kampungnya.Anak-anak muda kebanyakan mempunyai kegiatan yang negatif, seperti ma lem (menghisap lem), ia contohkan. Atas itu, ia dan kawan-kawan mencoba mengaktifkan kembali kesenian yang pernah ada di jorong-jorong, mengajak anak-anak muda untuk menyentuh kesenian mereka, dan dirayakan di nagari tempat kesenian itu tumbuh.Perayaan itu kemudian disebut Legusa Fest. 
Tidak jauh dari Nagari Tanjung Haro, ada kawan-kawan di Sungai Talang yang memicu potensi-potensi yang ada di nagari mereka untuk digiatkan. Mulai dari bidang pertanian, kerajinan, kuliner, adat, kesenian dipantik dan dirayakan nantinya di 9 Pucuak Fest. Serupa pula dengan apa yang digalakkan oleh komunitas Sarueh di Agam, mereka berusaha untuk mengajak anak muda untuk berkegiatan dan berkesenian, sambung Muhammad Lutfi, salah satu penggiatnya. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Foto bersama seusai lokakarya
Dan tidak semua daerah pula mempunyai ruang-ruang kreatif untuk menstimulus anak muda di sekitarnya. Mardani Syah salah satu anggota Takasiboe menggambarkan kondisi Solok Selatan yang absen ruang-ruang baik tersebut. Tak lain karena kurangnya manusia-manusia yang mau bersitungkin untuk menghadirkan ruang tersebut. Ia kemudian mengajak komunitas-komunitas yang ada dalam pertemuan itu untuk berkolaborasi dengan Takasiboe untuk mencipta ruang dan memicu kegiatan-kegiatan seni di Solok Selatan. 
Ada semangat baik yang terlihat dari gagasan dan kegiatan masing-masing komunitas itu. Baik itu berupa gerakan literasi, seni untuk masyarakat, distribusi pengetahuan yang mudah diakses, dll. Jika komunitas-komunitas ini saling berkolaborasi, apa kemungkinan yang akan terjadi? Kegiatan apa yang bisa muncul dari jejaring ini? Pertanyaan-pertanyaan itu disepakati akan dibahas pada pertemuan selanjutnya di bulan Desember nanti, di markas Gubuak Kopi, Solok.