Pilih Laman

Pesona Silat Jawa-Minang: Duel Karya Eko Supriyanto dan Ali Sukri

Selasa, 9 Agustus 2016 | teraSeni ~

Pertengahan bulan Agustus 2016 ini masyarakat seni pertunjukan di beberapa kota di Indonesia akan mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan duel karya dua koreografer tari kontemporer Indonesia, yakni Eko Supriyanto dari Surakarta dan Ali Sukri dari Padang Panjang. Kedua koreografer yang tengah sama-sama mendapatkan banyak sorotan di dunia seni pertunjukan ini, akan menampilkan karya masing-masing secara bersama, yakni tra•jec•to•ry dan Tonggak Raso.

Kedua karya ini dipertemukan karena berangkat dari konsep dan dasar filosofi penciptaan yang hampir serupa, yakni berangkat dari penggalian atas seni beladiri silat. Hal yang membedakan, adalah silat yang yang dijadikan titik berangkat oleh kedua koreografer, karena keduanya berasal dari latar budaya yang berbeda, dan masing-masing sepakat untuk berangkat dari khasanah seni beladiri silat di budayanya masing-masing. Ali Sukri, akan mencoba mengeksplorasi silek Minangkabau, sementara Eko Supriyanto dari silat Jawa.

Pesona Silat Jawa-Minang, Eko Supriyanto dan Ali Sukri - teraSeni
Pergelaran Pesona Silat Jawa-Minang
akan mempertemukan Eko Supriyanto (Surakarta)
dan Ali Sukri (Padang Panjang),
masing-masing
dengan karya
tra•jec•to•ry dan Tonggak Raso

Meski memiliki kesamaan dasar filosofi penciptaan, namun karya yang akan ditampilkan oleh kedua koreografer dipastikan akan menampilkan ciri dan gaya yang berbeda. Selain perbedaan latar budaya silat yang dijadikan bahan eksplorasi, perbedaan juga akan timbul karena karya dua orang koreografer ini berbeda generasi. Eko Supriyanto memasuki fase puncak karirnya pada tahun 2000-an hingga sekarang, dan Ali Sukri baru muncul sekitar 10 tahun sesudahnya.

Perbedaan gaya dan karakter tersebut sesungguhnya terepresentasikan secara signifikan dalam karya-karya mereka berdua sejauh ini. Meski keduanya memiliki kualitas stamina, endurance, kecerdasan, dan kepekaan visual yang sama kuat, namun cara pandang mereka terhadap penciptaan karya masing-masing sangat berbeda.

Demikian pula halnya yang akan terjadi dalam projek yang diberi judul Pesona Silat Jawa-Minang ini. Ali Sukri, dengan dasar silek Minangnya, menciptakan Tonggak Raso  dengan mengambil sudut pandang ke arah luar, di mana ia merasa pentingnya sebuah tonggak dalam diri seseorang sebagai mekanisme pertahanan diri dalam menerima berbagai pengaruh dari lingkungan luarnya. Sementara, Eko Supriyanto, yang memiliki dasar Silat BIMA di Magelang, memilih untuk menggali ke dalam, menelusuri akar tanah dan filosofi leluhurnya sebagai upaya penguatan identitas, yang ia wujudkan dalam sebuah interpretasi gerak yang dituangkannya dalam karya tra.jec.to.ry.

Projek duel koreografi Pesona Silat Jawa-Minang ini didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Bakti Budaya Djarum Foundation serta bekerjasama dengan berbagai lembaga seni yaitu Yayasan Ekosdance, Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, Universitas Muria Kudus, dan NuArt Sculpture Park, Bandung. Pesona Silat Jawa-Minang akan melakukan tur petas keliling di pulau Sumatera dan Jawa, dengan mengunjungi titik-titik yang dianggap potensial untuk perkembangan seni pertunjukan di Indonesia.

Direncanakan, pementasan akan berlangsung pada tanggal 12 Agustus 2016 pukul 19.00 WIB di Gedung Hoeriyah Adam, ISI Padang Panjang; tanggal 6 September 2016 pukul 19.00 WIBdi Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta; tanggal 8 September 2016 pukul 19.00 WIB di Auditorium Universitas Muria Kudus; dan tanggal 10 September 2016 pukul 19.00 WIB di NuArt Sculpture Park, Bandung.

Eko Supriyanto,  meyelesaikan program S1 di ISI Surakarta, dan kemudian  melanjutkan studi magisternya di UCLA, AS dalam bidang Koreografi dan Seni Pertunjukan dengan dukungan dari beasiswa Ford Foundation, Asian Cultural Council, dan UCLA. Program doktoralnya diselesaikan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada tahun 2015 dalam kajian Seni Pertunjukan. Pengalaman menari dimulai Eko saat kecil dengan mempelajari beladiri silat di bawah bimbingan BIMA (Budaya Indonesia Mataram) dan tari-tarian Jawa, di Magelang, Jawa Tengah.

Karya-karya Eko telah medapat apresiasi secara luas oleh masyarakat dunia, baik di Indonesia maupun di negara lain, seperti di Amerika Serikat, juga di berbagai panggung dan festival prestitius di Asia, Australia, Afrika dan Eropa. Eko pernah terlibat sebagai penari dalam tur konser Drowned World penyanyi Madonna pada tahun 2001, dan bekerja sebagai Konsultan Tari dalam karya Los Angeles and National Tour of Julie Taymor saat memproduksi teater Broadway Lion King.

Dalam dunia layar lebar di tanah air, Eko telah terlibat menjadi aktor, penari, dan koreografer dalam beberapa film antara lain Opera Jawa (Garin Nugroho, 2006) dan Generasi Biru (Garin Nugroho), Kisah Tiga Titik dan Negeri Tanpa Telinga (Lola Amaria), dan film terbaru Sunya bersama Harry Dagoe. Saat ini Eko fokus membangun EkosDance Company dan Yayasan EkosDance yang menjadi wadahnya menghasilkan karya-karya terbarunya seperti Cry Jailolo (2014-2015), yang baru saja menyelesaikan tour dunia ke festival-festival seni pertunjukan kontemporer di Australia, Eropa, dan Asia, serta karya terbarunya Balabala dan SALT karya tunggalnya yang melengkapi Research Performance  Trilogy of Jailolo (2017-2018).

Sementara itu Ali Sukri, yang lahir di Pariaman, 28 Oktober 1978, kini merupakan salah seorang koreografer muda asal Sumatra Barat. Tahun 1994, Sukri lulus SMP dan melanjutkan studi ke Sekolah Teknik Menengah mengambil jurusan bangunan. Tetapi karena semua keluarga mengharapkan Sukri masuk ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia akhirnya ia masuk SMKI di Padang. Ia meneruskan pendidikannya di STSI Padang Panjang.

Di STSI Sukri membuktikan kemampuannya dengan menyusun duet Dentuman Gong untuk memperingati wafatnya perintis tari baru  Minang: Hoerijah Adam 10 November 1998. Karya ini berkisah tentang seseorang yang berada di lingkungan yang baru dan harus merintis hidup yang baru dari nol. Bulan yang sama, Sukri membuat Baliak Ka-Asa untuk merayakan ulangtahun STSI Padangpanjang dan mendapat sambutan hangat. Di samping belajar dari Ery Mefri dan pendidikan formal di STSI Padangpanjang, Sukri pernah belajar koreografi dari penata tari Boi G. Sakti, Tom Ibnur, dan mengikuti workshop koreografi penati tari Taiwan kenamaan Lin Hwai-min yang diselenggarakan Kelola di Surakarta 2007.

Lulus S-1 STSI tahun 2002, Sukri menjadi guru tidak tetap di SMKI Padang. Baru tahun 2004 ia menjadi dosen di almamaternya, STSI Padangpanjang sambil tetap aktif membuat karya. Tahun yang sama Sukri mendirikan “Sukri Dance Theatre” sebagai wadah kegiatan kreatif. Tahun 2006, Sukri mengambil program pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta yang ia selesaikan tahun 2008.

Monolog: Menyoal Praktik Keaktoran Teater

Senin, 8 Agustus 2016 | teraSeni ~

Menyoal praktik ‘keaktoran,’ terutama terkait proses dan metode yang harus dilalui untuk menjadi aktor yang baik, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor teater. Tantangan itu terutama mengemuka bagi para aktor yang terbiasa terlibat dalam pementasan teater yang berbasis pada naskah drama (realisme, surealisme dan absurd), terutama ketika harus berhadapan dengan monolog atau teater yang berbasis pada gagasan dan ‘tubuh’ sebagai teks dalam menyampaikan peristiwa di atas panggung.

Monolog Sengketa,  karya Afrizal Harun - teraSeni
Monolog Sengketa,
naskah dan sutradara Afrizal Harun (2012)

Guna menjawab tantangan ini, dibutuhkan para aktor yang memiliki kesadaran kreatif, agar kita tidak hanya mengulang kebesaran nama-nama aktor teater dekade 1980-an dan 1990-an era Bengkel Teater, Teater Kecil, Teater Populer, Teater Koma dan lain-lain. Tentunya, kesadaran keaktoran kita adalah kesadaran hari ini, di mana tradisi keaktoran itu diciptakan.

Radhar Panca Dahana menyebutnya dengan istilah Tiga Kesadaran Seorang Aktor. Dalam catatan Radhar, posisi seorang aktor di dalam pertunjukan teater memiliki peranan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan bahwa seorang aktor harus mampu: (1) membuat sebuah panggung menjadi hidup atau merepresentasi kehidupan; (2) aktor harus mampu menjadi representasi terbaik dari penonton dengan seluruh kenyataannya; dan (3) kemampuan seorang aktor di dalam menghidupkan tubuh, pikiran dan emosi di atas panggung, sehingga panggung (teater) tidak sekedar menjadi perkakas yang diletakkan begitu saja, tanpa dihidupkan.

Tiga penjabaran di atas, Radhar meletakkan tiga pondasi utama yang disebut dengan ‘kesadaran’ yang harus dimiliki seorang aktor yaitu kesadaran tubuh, kesadaran akal dan kesadaran jiwa. Rahman Sabur menyebut kesadaran aktor ini sebagai kepekaan aktor dalam mengeksplorasi tubuh atas ‘ketubuhan’-nya, tubuh dengan ‘sosial’-nya, tubuh dengan lingkunganya sampai pada tahap yang lebih sublim bagaimana eksplorasi tubuh atas Tuhannya sendiri.

Jelajah kerja keaktoran tidak pernah berhenti ditulis semenjak Constantin Stanislavsky meletakkan fondasi kerja keaktoran sebagai metode maupun sistem pelatihan menjadi seorang aktor melalui buku An Actor Prepare, diterjemahkan oleh Asrul Sani (1978) dengan judul Persiapan Seorang Aktor. Begitu juga, buku Stanislvasky selanjutnya seperti Building A Character yang diterjemahkan dengan judul Membangun Tokoh (2008), menjadi referensi otentik dikalangan para penggiat aktor teater di Indonesia, Asia, Amerika dan Eropa. Kerja keaktoran tidak bisa hanya mengandalkan instingtif dan intuisi semata. Namun, praktik keaktoran senantiasa berada pada ruang teoretik dan praktik di dalam memperkaya ‘kesadaran’ dirinya sebagai manusia ‘aktor’ di atas panggung teater.

Pertunjukan teater atau monolog dihadapkan pada persoalan teknis tentang bagaimana aktor ‘menyikapi’ tubuh melalui laku berupa gestur dan bisnis akting, vokal, emosi dan keterlibatan aktor dengan elemen spektakel lainnya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Artinya, berakting tidak hanya sekadar mengucapkan ‘hafalan’ naskah di atas panggung, tetapi bagaimana seorang aktor harus mampu ‘menghidupkan’ naskah itu sendiri melalui kecerdasan, kesadaran dan kepekaan aktor yang sublim.

Event Monolog untuk Membaca Praktik Keaktoran
Monolog di Era Yunani Klasik (550 SM) telah ditandai dengan kehadiran ‘aktor’ tunggal yaitu Thespis, yang dikelilingi oleh chorus. Sejak itu para aktor monolog disebut sebagai Thespian. Thespis sebagai aktor keluar dari dialog antar tokoh. Bersama chorus, Thespis mengungkapkan narasi panjang berupa puisi, mencoba mengkritisi persoalan internal dan eksternal yang dialami oleh‘tokoh’ melalui narasi soliloqui dan nyanyian dithyramb. Begitulah, soliloqui menjadi embrio lahirnya tradisi monolog. Di Amerika, tradisi monolog diperkenalkan pertama kali pada tahun 1964 sebagai bentuk studi keaktoran.

Monolog dalam perkembangan teater menjadi sebuah genre baru, keluar dari konvensi teater yang berbasis pada naskah drama, memuat dialog antar tokoh di dalam menyampaikan tematik cerita. Aktor monolog merupakan seorang aktor yang berada pada fase in character, yang artinya seorang aktor menjadi bagian dari karakter tokoh yang diperankan di dalam naskah.  Walaupun aktor juga memerankan berbagai karakter yang dikenal dengan istilah ‘peran di atas peran’.

Di samping in character, seorang aktor di dalam pertunjukan monolog juga berada di luar karakter tokoh yang diperankannya, disebut dengan out of character. Istilah ini merujuk pada posisi seorang aktor sebagai penutur cerita atau seorang narator, nantinya juga memerankan berbagai karakter di dalam naskah monolog yang dimainkan. Dalam tradisi teater dikenal dengan istilah one man play. Tentunya, istilah ini terus menjadi perdebatan dengan istilah lainnya seperti one man showmono play, mono drama, dan lain-lain.

Terkait ruang aktualisasi praktik keaktoran di Sumatera Barat, hanya ada tiga kegiatan yang bisa saya ingat terkait dengan iven monolog yaitu Festival (lomba) monolog dengan tema ‘Meminang para Aktor’ pada tahun 2005, pementasan monolog dalam kegiatan Rumah Budaya Nusantara (RBN) KSST Noktah bertajuk Minangkabau Arts Festival pada 23-28 Desember 2013 dan Medan Monolog pada 20-24 Oktober 2014 yang juga digagas oleh  KSST Noktah. Setelah itu, boleh dikatakan tidak ada lagi iven monolog di Sumatera Barat.

Potensi keaktoran di Sumatera Barat saat ini boleh dikatakan mampu berkompetisi dalam percaturan teater secara nasional. Namun yang menjadi kelemahan adalah minim-nya event monolog di Sumatera Barat, sehingga kita sulit melakukan pemetaan dan membaca progesivitas potensi keaktoran yang dimiliki oleh berbagai kelompok independen, UKM Seni (teater) dan Program Studi Seni Teater ISI Padangpanjang. Namun, Sumatera Barat masih bisa bangga setelah menjadi juara 1 monolog dalam Festival Seni Mahasiswa Nasional (Feksiminas) di Palangkaraya tahun 2014. Namun, setelah itu apa?

Aktualisasi keaktoran (monolog) di Sumatera Barat melalui event monolog menjadi program penting saat ini, karena di sanalah kita bisa bercermin, melakukan pemetaan atas progresivitas praktik keaktoran yang tidak hanya selesai di warung kopi saja, tetapi benar-benar berada pada ruang laboratory, bercermin di ruang kaca, sembari berucap “saya aktor? lalu apa yang harus saya lakukan sebagai aktor?” pertanyaan ini terus menerus menjadi stimulan dalam setiap eksplorasi dan elaborasi praktik keaktoran. Event Minangkabau Monolog Festival (MMF) adalah sebuah tawaran atas aktualisasi praktik keaktoran di Sumatera Barat yang dilaksanakan setiap tahunnya. Semoga!

(Pernah dimuat di Harian Padang Ekspress, Minggu 15 November 2015)

Membaca Garis Penyesalan dalam Tiga Puisi Chairil Anwar

Senin, 8 Agustus 2016 | teraSeni ~

Ungkapan Chairil Anwar dalam bait pertama puisinya Lagu Siul, yang berbunyi “Adakah kematian menjadi arti atas ketidak berdayaan?” merupakan pertanyaan yang mencerca kepedihan tentang kematian.
Bertahan dalam kepasrahan bukan berarti menolak kenyataan.  Seperti
“Ajal di cerlang caya matamu,” adalah harapan terputus oleh kenyataan
yang bernama takdir. Seperti laron yang mengharap terang, setelah
tenggelam dalam gelap akhirnya terbakar dan mati oleh harapan sendiri.
Di baris terakhir pada bait pertama Chairil seakan tidak peduli, sebuah
keterpaksaan yang sederhana, “Ku kayak tidak tahu saja,” dan ternyata ia
tidak mampu bersikap tidak peduli.

Ada tema
bertendensi romantis pada bait kedua, tentang keremajaan yang terbuai
dan terbakar oleh dendam terhadap kekasih. “Kau kawin, beranak dan
berbahagia,” jelas bukan simbol terhadap perilaku yang menyimpang dari
diri si penulis. Seperti pernah dikatakan teman dekat Chairil Anwar,
Asrul Sani bahwa kebanyakan tema puisi-puisi Chairil bertemakan in-door – bermuara dari kegelisahan pribadi dan rumah tangga.

Lukisan Chairil Anwar, karya Gusti Solihin - teraSeni
Lukisan cat minyak di atas kanvas berjudul
Chairil Anwar, berdimensi 95x75cm,
 karya Gusti Solihin
(Sumber Foto: www.arsip.galeri-nasional.or.id)

Layaknya manusia ditinggal kekasih, Chairil tidak menemukan jalan keluar karena tidak satu pun tempat mau menerima. Maka ia menganggap dirinya sebagai Ahasveros yang dikutukan Eros. Pengembalian kepada mitologi yang diyakini adalah akibat kepercayaan yang semu dan usaha untuk mempersonifikasikan dirinya – dalam hal ini Chairil kembali berada di jurang yang mencemaskan.

“Jadi baik kita padami Unggunan api ini,” adalah perlawanan terhadap muara kegelisahan, penyebab dari akhir perjalanan yaitu mati. Chairil mencoba memintasi kegamangan dan keraguan karena ia tidak mau menyesal  dengan mengatakan “Aku terpanggang tinggal rangka”.

Lazimnya puisi-puisi Chairil yang lahir dalam suasana perang, maka setiap penyelesaian seolah-olah tidak lagi mengenal kata selain mati. Kebanyakan manusia ketika ditimpa derita justru menginginkan lebih agar penderitaan itu semakin menjadi. Kemiskinan adalah hal biasa, seperti dikatakan Chairil Anwar dalam puisi Sebuah Kamar bahwa “sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia,” untuk dilihat dan diratapi. Ia justru tidak menemukan kepedulian selain tatapan , “bulan yang menyinar ke dalam,”. Tidak ada yang mau peduli meski Chairil meneriakkan tentang penghuni yang “bernyawa,” dan tentang dirinya yang berontak.

Apa yang dimaksud dengan ,”tersalib di batu,” dimana seorang terpaku tanpa daya dan sementara itu  bulan hanya bisa bersinar?  Sedikit terselip kesan akan harapan kepada orang lain yang tersalib meski dalam  ketidak berdayaan yang sama? Ada ruang ke-Tuhanan dari kata , ‘salib’ yang terpaku bisu dan tidak  mampu menolong. Dalam hal ini apakah Chairil sedang mencoba untuk menggugat Tuhan itu sendiri yang membiarkan kemiskinan di depan mata? Penderitaan yang sama juga menimpa sosok “ibuku tertidur dalam tersedu,” adalah naluri wanita yang rentan dan lemah. Lain halnya dengan si bapak yang  “terbaring jemu,”, oleh harapan yang terkikis, kandas dan membosankan.

Apakah hal sama juga terjadi di luar sana, di luar rumah yang dikatakan sebagai “keramaian penjara sepi selalu,”. Ia sendiri dengan ke empat saudaranya sesak dalam sempitnya kamar, “3×4 m,” sebuah ukuran di luar kelayakan.

Jelas terlihat in-door-nya puisi Chairil kali ini setelah menceritakan ratapan keluarganya sendiri dalam ketidak berdayaan. Bahkan ia menantang dengan mengatakan, “Aku minta adik lagi pada ibu dan bapakku,”. Chairil kembali memotong garis penyesalan menjadi kesengsaraan berikutnya. Selain itu sedikit bimbang tentang eksistensi ibu dan bapaknya, “karena mereka berada di luar hitungan,”. Chairil seolah menafikan keberadaan ke dua orang tua itu dengan menonjolkan harapan hidup bagi kelima anak-anaknya

Dalam puisinya berjudul Malam, Chairil kembali masuk ke dalam rasa takut yang menyesakkan. “Mulai kelam,”  saat kekacauan menjelma dalam warna temaram, dingin dan diam. Chairil tidak sendiri di tengah kebutaan yang buntu dan satu pertanyaan “Thermopylae?”  pertanyaan adalah persamaan tentang suatu pertempuran yang terjadi di Yunani tempo dulu. Akankah kejadian itu hadir dalam saat bersamaan ketika malam semakin menenggelamkan semangat? Chairil kembali kepada mati, memintas sebelum terjadi. Sama halnya dengan penggal garis penyesalan dalam puisi-puisi sebelumnya. Gambaran suasana perang sangat nyata dan mungkin ia menyaksikan korban-korban berjatuhan dan kebinasan yang musnah.

Memperalat Seni untuk Pencitraan Politik di Berbagai Media

Sabtu, 6 Agustus 2016 | teraSeni ~

Televisi dengan kekuatan teknologi yang dimilikinya dianggap oleh banyak kalangan sebagai penanda kehidupan modern. Betapa tidak, masyarakat  masakini seperti tidak dapat dipisahkan dari televisi. Keduanya bahkan ibarat simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan di antara kedua belah pihak. Televisi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, yang berfungsi selain sebagai penyebar informasi dan hiburan, juga sebagai alat propaganda yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dengan membuatnya percaya dan yakin terhadap pesan yang ada dibalik tayangan televisi itu.

propaganda di televisi melalui seni - teraSeni
Ilustrasi tentang propaganda di televisi
(sumber:www.wakingtimes.com)

Kekuatan utama televisi adalah gambar, dan apapun gambar yang ditayangkannya bisa berdampak pada perilaku orang yang melihatnya. Menyadari kekuatan inilah banyak politisi memanfaatkan media televise sebagai sarana propaganda bagi kepentingan politiknya. Berbagai macam cara perekayasaan gambar dilakukan demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Manipulasi gambar tayangan televisi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mempengaruhi pemirsa, agar percaya dan yakin dengan pencitraan dari tayangan tersebut.

Padahal, semua gambar tayangan televisi bukanlah gambar yang sebenarnya, melainkan sudah mengalami penyuntingan atau pengeditan sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Sayangnya,  hanya sedikit dari pemirsa yang tahu dan memikirkan hal itu. Hal inilah yang tak terbayangkan oleh kita, bahwa dibalik tayangan yang spektakuler itu, terselip maksud ‘busuk’ yang berusaha mempengaruhi perasaan dan kesadaran kita. Diperlukan suatu kekuatan dan kejernihan berpikir dalam mencerna segala tayangan, agar tidak terjerumus dengan sarana propaganda melalui tayangan televisi.

Hal yang menarik dewasa ini ialah ketika kegiatan seni dimanfaatkan oleh para politikus untuk mendapatkan simpati dari masyarakat, sebagai senjata untuk memenangkan pemilu. Padahal, di luar itu mereka tidak peduli pada kegiatan seni. Salah satu contohnya ialah apa yang dilakukan oleh presiden kita saat, Jokowi, ketika ia memanfaatkan media televisi dan seni pada pemilu dua tahun lalu.  Ya, Jokowi adalah contoh paling jelas, dari bagaimana seni dan televisi digunakan untuk mendapatkan simpati. Dengan memanfaatkan jasa band terkenal seperti Slank, yang terkenal dengan lagu-lagunya yang berisikan pesan perjuangan membela Indonesia, Jokowi berhasil menarik simpati masyarakat, terutama anak muda. Setidaknya, hal ini telah membuat para Slankers memilih Jokowi.

Pencitraan yang didapatkan oleh para politikus dari media televisi ini sungguh hebat. Semua yang tergambar pada setiap frame menjelaskan kebaikan, kedermawanan, kehebatan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari para politikus. Jarang sekali ada tayangan yang memperlihatkan sisi buruk dari mereka. Tidak saja media televisi yang dimanfaatkan, beberapa media cetak yang siap terbit setiap harinya juga dipenuhi ‘koar-koar’ janji para politikus untuk membangun pencitraannya. Masyarakat diajak menilai sesuatu berdasarkan pencitraan yang tidak nyata ini. Mendadak, seni lalu diagung-agungkan, misalnya dengan mengangkat kembali kesenian tradisi sebagai visi misi dalam kampanye. Berbagai macam pertunjukan seni diadakan di desa-desa yang didanai oleh para politikus dengan embel-embel baliho yang terpajang di sepanjang jalan.

Apakah seni masih pantas dianggap sebagai suatu keindahan ketika ia hanya dimanfaatkan sebagai sarana pencitraan? Pada umumnya, seni diartikan sebagai wahana keindahan, perbuatan manusia yang timbul dari perasaan, sehingga menggerakan jiwa dan perasaan manusia lain. Seni adalah suatu kreativitas yang diciptakan oleh manusia yang berasal dari ide, gagasan, perasaan, suara hati, gejolak jiwa, yang diwujudkan atau di ekspresikan. Dari pengertian seni ini seharusnya seni benar-benar dijadikan sebagai wahana kebudayaan untuk menciptakan keindahan dan hiburan, bukan untuk mendapatkan pencitraan demi mendapatkan jabatan.

Banyak juga orang yang demi mengejar ambisi tertentu, lantas mengemas dirinya terlalu berlebihan. Mereka berupaya mengekspos diri dengan berbagai cara. Dengan adanya sosial media, orang kini bahkan bisa bebas menciptakan citra diri untuk mencapai tujuan tertentu. Orang seperti ini ‘berbahaya’, karena akan tumbuh menjadi ‘narsis’ yang bisa menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya.

Seni dalam pencitraan adalah seni yang tidak berbicara apa adanya. Mendengarkan atau menonton kegiatan seni dalam iklan atau pidato kampanye diwarnai ambiguitas atau ketidakpastian. Ini disebabkan oleh pencitraan yang terlalu berlebihan. Lebih dari 63 persen caleg, menurut KPU Pusat, tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Itu artinya, ada tindak improvisasi ‘kotor’ dalam penggunaan seni sebagai sarana pencitraan, padahal improvisasi adalah bayi yang dilahirkan oleh dunia kesenian. Pada situasi politis demikian, kita dihantui kecemasan, karena seni akan semakin berkurang maknanya, terlebih jika di dalamnya terdapat pencitraan yang berlebihan.

Tetapi kenapa seni justru dilarang untuk jadi ajang kreatifitas dan medium kritik? Pertanyaan ini saya ajukan karena ketidakseimbangan antara seniman dengan politikus? Jika seseorang pejabat dapat melakukan pencitraan dengan seni, lalu kenapa seniman tidak diperbolehkan untuk menyampaikan kritik melalui seni? Kita ingat bahwa musisi semacam Iwan Fals  dan Sawung Jabo pernah dicekal masuk layar televisi, karena syair-syair lagunya yang dianggap membahayakan stabilitas pemerintahan (rezim Soeharto).

Demikian juga sastrawan WS Rendra yang pernah dilarang masuk televisi terutama untuk pembacaan puisi, karena karya-karyanya dianggap membahayakan kedudukan pemerintahan di mata masyarakat. Aktifitas Rendra pada masa itu seringkali mendapat kontrol ketat dari Departemen Penerangan, Kepolisian, bahkan Kodim. Ketika WS Rendra bergabung dengan group musik Swami, Rendra dan kelompok inipun dilarang tampil di televisi.

Jika siapa saja bebasmelakukan kegiatan seni, bebas mengekspresikan apa saja untuk dirinya dan penonton, kenapa banyak seniman yang dicekal? Seniman juga melakukan pencitraan dengan karyanya. Mereka ingin proses kreatif dari usahanya membangun kesadaran masyarakat dan mampu menjelaskan permasalahan negara saat ini, seperti lagu yang dibawakan Iwan Fals dan puisi WS Rendra.

Apa sebenarnya seni itu ketika dijadikan sebagai sekadar bagian dari pencitraan? Sungguh jelas bahwa pada abad 20 ini seni sangat dibutuhkan oleh semua kalangan. Para politikus memanfaatkan seni untuk pencitraan dan berbagai stasiun televisi memanfaatkan seni sebagai sumber uang. Seni dikembangkan sedemikian meriah sehingga seringkali melupakan hakikatnya sebagai wahana pengalman keindahan. Seni dimanfaatkan dengan menghadirkannya berbagai hiburan yang dipertontonkan tanpa keindahan.

Dr Nigel dalam filmnya yang berjudul “More Human Than Human” menunjukkan bagaimana pencitraan berhubungan erat dengan gambar, simbol, dan seni. Ia menjelaskan bahwa jawaban dari pertanyaan ini terdapat ribuan tahun yang lalu, ketika nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu mewariskan seni di dalam bentuk visual. Bagaimana seniman pertama memperjuangkan peradaban terbesar. Ia menjelaskan hasil surveinya bagaimana manusia membentuk seni dan seni membuat kita menjadi manusia. Lalu bagaimana seni membentuk dunia?

Tidak ada yang mendominasi hidup manusia begitu besar. Namun bentuk tubuh manusia menjadi obsesi beberapa seniman besar dunia. Faktanya, citra bentuk tubuh manusia tidak satupun mirip dengan bentuk manusia pada nyatanya. Mereka jarang mencipta tubuh yang realistis. Jika diperhatikan, kelima seri film Dr Nigel menjelaskan secara rinci awal mula seni sebagai pencitraan, dan bagimana perkembangan seni yang ternyata telah dimafaatkan oleh banyak orang dari dahulu hingga sekarang.

Filsafat seni bersangkutan dengan masalah-masalah konseptual yang muncul dari pengertian kita tentang seni. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seperti pertanyaan yang diajukan oleh Dr. Nigel dalam film-filmnya merupakan bagian dari pertanyaan dasar dalam estetika atau filsafat seni, yaitu: Bagaimana awal mulanya seni? Bagaimana seni di definisikan? Apa yang membuat karya seni indah, menarik dan jelek? Bagaimana seseorang menanggapi karya seni? Apakah ungkapan artistik merupakan bentuk ungkapan yang unik? Apakah seni menyingkap kebenaran tentang segala sesuatu? Mengapa manusia menciptakan karya-karya seni?

Pada umumnya seni adalah segala melalui unsur-unsur tertentu, yang bersifat indah untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sifatnya tak terbatas. Seni dapat mengharukan, seni dapat menyatukan seluruh kalangan maupun komunitas, seni juga dapat menciptakan keakraban dapat menciptakan hal-hal lain yang tidak dapat kita bayangkan. Seni adalah kegiatan yang menghasilkan karya indah. Tujuan seseorang berkesenian di antaranya untuk kepuasan pribadi, tuntutan keadaan, tujuan praktis untuk mencari uang, dan ada pula demi kepentingan kesejahteraan umat manusia.

Intinya, seni pada dasarnya adalah kegiatan untuk menghibur. Tapi jika seni terus dimanfaatkan sebagai sarana pencitraan yang berlebihan untuk mendapatkan simpati dari banyak orang, sei akan berkurang maknyanya.Seorang menciptakan karya seni dengan tujuan meningkatkan kualitas kehidupan zamannya sehingga memilki arti penting bagi generasi berikutnya, tapi seni untuk pencitraan diciptakan untuk menghipnotis pikiran masyarakat untuk melihat seseorang secara berlebihan. Demikian pula pandangan masyarakat yang ‘meminggirkan’ seni dalam proses pendidikan maupun kehidupan sehari-hari seharusnya telah ditinggalkan. Sebab, tujuan manusia menciptakan karya seni adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan zamannya, dan bukan merusaknya.

Tari Pasambahan: Tari Minangkabau Dalam Budaya Populer

Selasa, 2 Agustus 2016 | teraSeni ~

Penampilan tari Pasambahan Masakini - teraSeni
Salah satu penampilan tari Pasambahan
dalam acara Masakini
(Sumber: www.tradisikita.my.id)

Tujuh orang laki-laki berpakaian tradisional daerah Minangkabau secara rampak memperagakan gerakan-gerakan mancak (pencak), semacam variasi gerak silek (silat) yang diakhiri dengan sambah (sembah) hormat kepada para tamu. Setelah mereka tujuh orang perempuan, berpakaian adat lengkap menggunakan suntiang (sunting) dan memegang carano (cerana), sementara enam lainnya mengenakan tikuluak tanduak (kain berbentuk tanduk), menarikan gerak-gerak yang kebanyakan berakhir dengan gerak sambah dengan kedua tangan dirapatkan di depan dada.

Diiringi suara bansi (alat tiup tradisional), perempuan yang mengenakan suntiang ditemani dua orang yang mengenakan tikuluak tanduak dan salah seorang laki-laki yang tadi mempergakan mancak kemudian berjalan pelan dan anggun ke arah para tamu. Sesampai di hadapan para tamu, mereka berempat membungkukkan badan, sang laki-laki membukakan tutup carano dan mempersilahkan beberapa orang tamu untuk mengambil sirih dan pinang. Sementara itu, terdengar suara seperti deklamasi dalam bahasa Minangkabau dari pengeras suara mengiringi mereka.

Adegan di atas bukanlah upacara adat atau alek (helat) pengangkatan pangulu (pemuka adat) di Minangkabau, melainkan adalah pemandangan dalam sebuah pembukaan acara bertajuk Malam Pagelaran Kesenian Minangkabau, Dies Natalis ke-36, Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB, yang digelar di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, Jumat 22 April 2011. Tari yang dalam tayangannya di situs youtube diberi judul “Tari Galombang Pasambahan (Dies Natalis 36) UKM-ITB” itu mengawali acara yang mengusung tema “Minangkabau for Indonesia,” yang menurut rilis panitianya dihadiri sekitar 900 orang penonton yang membeli tiket.

Pemberian judul ‘Tari Galombang Pasambahan’ tersebut di atas menarik karena menggabungkan dua nama tarian yang biasanya digunakan terpisah dalam khasanah seni tari Minangkabau, yakni Tari Galombang atau Tari Pasambahan. Semakin menarik, karena tarian itu tidak ditampilkan dalam suasana perhelatan adat-istiadat masyarakat Minangkabau, melainkan dalam suatu acara yang cenderung bernuansa kehidupan modern yakni sebuah Dies Natalis organisasi. Menarik pula untuk mencermati bahwa penampilan tari Galombang atau tari Pasambahan tersebut berlangsung di rantau, atau jauh dari kampung halaman, oleh sebuah organisasi mahasiswa asal Minangkabau. Sementara, ada pernyataan tentang tari Galombang, yang mengatakan bahwa tarian ini lazimnya hanya ditampilkan sebagai bagian upacara adat di Minangkabau, terutama untuk pengangkatan pangulu.

Budaya Populer dan Tari Pasambahan
Seperti berbagai wilayah di Indonesia, masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat juga terlibat secara aktif dalam gegap gempita budaya pop. Kata ‘pop’ menurut Raymond William secara diskursif berasal dari kata ‘populer,’ yang mempunyai makna: disukai banyak orang dan memang diciptakan untuk menyenangkan banyak orang. Adapun menurut Dominic Strinati, budaya populer dihasilkan secara massal dengan bantuan teknologi industri, dan dipasarkan secara professional bagi publik konsumen dengan tujuan untuk mendatangkan profit.

Menurut Dominic Strinati, budaya populer atau budaya massa berkembang, terutama sejak dasawarsa 1920-an dan 1930-an, yang ditandai dengan munculnya sinema dan radio, produksi massal dan konsumsi kebudayaan yang terjadi karena adanya kemajuan media dan teknologi. Budaya pop menghilangkan batasan antara budaya tinggi dengan budaya rendah dan kerap kali dihubungkan dengan ciri-ciri kehidupan postmodernisme.

Memang ada pengaruh kecil dari hal-hal lain, namun identitas didominasi oleh pengaruh dari budaya populer. Budaya populer, menurut Heryanto, perlu dipahami sebagai pelbagai ’’…suara, gambar, dan pesan yang diproduksi secara massal dan komersial’’ dan juga ’’…berbagai bentuk praktik komunikasi lain yang bukan hasil industrialisasi, relatif independen, dan beredar dengan memanfaatkan berbagai forum dan peristiwa seperti acara keramaian publik, parade, dan festival’’ (hlm 22).

Karena itu, bisa dikatakan bahwa identitas Minangkabau populer tersebut juga terbentuk melalui film dan sinetron. Sebagai media komunikasi yang menggunakan audiovisual, pencitraaan tentang Minangkabau masakini dibangun. Namun yang paling kuat pengaruhnya adalah perkembangan internet, terutama melalui media social semacam Twitter, Facebook, dan instagram, yang berperan sebagai pasar citra dan teks.

Seperti halnya masyarakat di beragai daerah di Indonesia, mayoritas penduduk Sumatera Barat juga tergiur dan berperan aktif di dalam budaya populer. Hal itu misalnya tampak dalam berkembangnya industri rekaman lagu pop Minang sejak tahun 1980-an, juga melalui perkembangan Talempong kreasi atau talempong goyang dewasa ini.

Konsumsi budaya pop juga terjadi melalui campur tangan ‘organ tunggal’ yang sempat mewabah di Sumatera Barat. Tentu saja peranan televisi juga tidak kecil dalam menciptakan selera populer ini. Melalui berbagai acara, sejak zamannya TVRI, ‘tari kreasi’ Minangkabau ditampilkan dan diterima sebagai identitas tari secara bersama oleh masyarakat Minangkabau. Melalui penampilan di televisi pula, masyarakat Minangkabau yang berada di rantau terhubung dengan kampung halamannya.

Perkembangan itu diikuti pula oleh berkembangnya jenis tarian yang dinamakan sebagai ‘tari kreasi’ juga sejak dasawarsa 1980-an. Apa yang dinamakan sebagai ‘tari kreasi’ ini umumnya adalah jenis tarian yang dikembangkan dari berbagai tema-tema sehari-hari dengan memanfaatkan ragam gerak dari tari-tari tradisional. Sepintas, hal ini seperti melanjutkan cita-cita pengembangan tari Minangkabau modern yang diperjuangkan Huriah Adam dan Gusmiati Suid. Hal inilah yang dapat dilihat sebagai konteks dari perubahan tari Galombang menjadi tari Pasambahan.

Penampilan Tari Galombang Pasambahan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-36, Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB di atas karena itu dapat dilihat sebagai salah satu ciri dari berkembangnya budaya popular.  Pada mulanya tari Pasambahan merupakan kesenian tari yang dinamakan tari Galombang, yang berasal dari Minangkabau. Tari Galombang dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan rasa hormat kepada tamu. Setelah Tari Galombang, acara biasanya dilanjutkan dengan suguhan Daun Sirih dalam Carano kepada Sang tamu.

Jika ditelusuri, maka Tari Pasambahan semula diciptakan oleh Syofyani pada tahun 1962, yang ditampilkan untuk penyambutan Raja Belgia (Belanda) di Bukittinggi. Sebagaimana halnya di daerah lain, untuk menyambut para tamu yang datang ke daerah tersebut, disambut dengan suatu upacara adat yang dibuka dengan tarian penyambutan tamu. Itulah kiranya tari Pasambahan  semula berkembang sebagai tarian untuk kegiatan penyambutan tamu.

Tari Pasambahan, yang kini terkadang juga disebut tari Galombang kreasi, menjadi salah satu tarian tradisional yang sangat populer di Sumatera Barat, khususnya di kota-kota. Tari ini sering ditampilkan pada acara-acara seremonial pembukaan acara resmi pemerintah dan acara resmi lainnya. Tarian tari Galombang kreasi atau tari Pasambahan telah dibuat lebih sederhana dari tari galombang yang asli. Durasinya pun cenderung lebih pendek. Galombang kreasi kini berkembang pesat, bagaikan menjamur di musim hujan, meliputi persebaran dan frekuensi pementasan, fungsi dan bentuk penyajiannya. Hampir semua wilayah perkotaan di Sumatera Barat kini mengenal tari Galombang kreasi ini.

Masyarakat di setiap wilayah bahkan seolah-olah berlomba-lomba menampilkannya. Hampir tidak ada resepsi besar yang berlalu tanpa kehadiran Galombang kreasi. Fungsinya pun turut berkembang beriringan dengan aspek-aspek yang lain. Kehadirannya selalu digunakan untuk penyambutan tamu, terutama dalam kemeriahan resepsi pernikahan. Tidak hanya untuk menyambut tamu dan memeriahkan resepsi pernikahan, tari ini juga disajikan untuk kepentingan pariwisata, menandai peresmian suatu bangunan, atau sebagai penanda pembukaan instansi tertentu. Bagi acara tertentu di kalangan pejabat pemerintah tari galombang selalu digunakan untuk menyambut camat hingga Presiden,

Berbeda dengan tari Galombang, koreografi tari Pasambahan sudah tertata secara profesional, sehingga dapat memberikan sajian estetis kepada tamu dan merupakan kebanggaan pula bagi yang punya acara jika dapat menjemput tari galombang untuk disajikan kepada tamunya. Semakin bervariasi koreografi tari galombang yang ditarikan dalam sebuah pesta, semakin tinggi pula kebanggaan atau “gengsi” seseorang atau semakin tinggi nilai penghormatan kepada tetamu. Ada pula yang berpendapat, kedua tari ini dapat dibedakan. Tari Galombang disajikan di luar ruangan, sedang tari Pasambahan untuk dalam ruangan. Wallahualam.

Menonton Pentas Teater Menunggu Godot Dengan Kacamata Estetika Kant

Sabtu, 30 Juli 2016 | teraSeni ~


Salah satu produksi Waiting For Godot - teraSeni
Salah satu produksi Waiting For Godot
(Menunggu Godot) Naskah Lakon
karya Samuel Beckett
(Sumber Foto:www.meanderite.com)

Dilihat dari sejarahnya, seni pertunjukan sudah hidup selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Banyak jenis seni pertunjukan yang telah diselenggarakan, dipatenkan, dikembangkan dan menjadi suatu konvensi. Seni pertunjukan, dalam kancah kebudayaan dan kesenian, secara praksis tentunya memiliki banyak fungsi dan makna. Demikian pula, di baliknya terdapat pesan yang ingin disampaikan oleh sang pengkarya.

Banyak bentuk kesenian selain seni pertunjukan, seperti seni rupa, desain komunikasi visual, film, dan lain-lain. Ada pula hal dipandang bukan seni namun mengandung unsur seni. Namun di dalam setiap karya seni terkandung nilai-nilai yang inheren, yang lazimnya dinamakan nilai estetika.

Kali ini kita akan melihat seni dan nilai estetika dalam suatu seni pertunjukan, lebih khususnya dalam seni teater. Secara ajeg, seni pertunjukan banyak membahas kehidupan, seperti agama, sosial, budaya, dan lainnya. Hal ini tentunya tergantung pada budaya dan semangat zaman yang sedang beringsut berkembang. Isu dan wacana menjadi senjata pamungkas sebagai pengaruh paling penting, khususnya dalam seni pertunjukan, meski hal ini juga terjadi pada seni-seni lainnya.

Seni pertunjukan tidak jarang ditujukan untuk mengajukan suatu argumentasi, yakni dari sang pengkarya, apakah itu sutradara, komposer, koreografer, atau perupa. Hal itu bahkan terlihat begitu kuat dalam kancah kajian kesenian, apakah itu menyangkut aspek filosofis, teologis, budaya, apalagi estetika.

Estetika yang akan kita lihat dalam seni pertunjukan kali ini adalah estetika dalam kaca mata Imannuel Kant, seorang tokoh filosof besar pada abad ke-18-19 (1724-1804). Kant bahkan menjadi salah satu pemikir yang paling berpengaruh bahkan hingga di era modern. Pengaruh pemikirannya terhadap kritik atas akal budi dan rasio murni, khususnya kritiknya atas estetika, menggoda saya untuk mencoba meimplementasikannya ke dalam pembacaan atas pertunjukan seni teater.

Immanuel Kant - teraSeni
Immanuel Kant (1724-1804),
Seorang Filsuf berkebangsaan Jerman
(Sumber Foto:www.philosophers.co.uk)

Ada empat hal yang harus kita perhatikan dalam memandang estetika menurut Kant, yaitu: (1) bersifat universal; (2) tanpa pamrih; (3) tujuan tanpa tujuan; dan (4) keharusan (mutlak). Dari keempat butir pandangan estetika Imannuel Kant itu, saya mencoba membaca seni pertunjukan teater dengan lebih luas dan seksama, guna membantu merumuskan bagaimana pandangan kita terhadap seni teater, dalam kaitannya dengan unsur-unsur estetika.

Seni teater sejak awalnya memang bergerak bersama dan tak dapat dilepaskan dari suatu pandangan yang terkait dengan kepercayaan, keyakinan dan kebudayaan tertentu. Hingga pada akhirnya, dunia dan zaman yang terus bergerak mengubah banyak hal, bahkan permukaan ilmu pengetahuan. Seni teater, terus bergelut dengan dunia sastra, sosial, budaya, filsafat, teologis, dan berbagai hal lain di sekitarnya.

Sikap multidisipliner ilmu ini menyuguhkan nilai atau butir utama pandangan manusia terhadap seni teater, yaitu terutama pada sifatnya yang menguniversal. Sifat yang menguniversal inilah yang menambah nuansa dan citarasa yang lebih estetik ketika dipertunjukan. Salah satu contoh, ialah apa yang dapat dilihat pada pertunjukan seni teater, yang berangkat dari naskah lakon Menunggu Godot (Waiting For Godot).

Naskah yang ditulis oleh Samuel Beckett, yang berkebangsaan Irlandia ini, menawarkan suatu posisi, situasi dan kondisi manusia pada masa-masa pra dan pasca Perang Dunia pertama dan kedua, atau yang lebih dikenal dengan PD I dan PD II. Naskah Menunggu Godot kemudian mampu menyedot seluruh perhatian dunia. Ilustrasi utama naskah Menunggu Godot ini ialah tentang tokoh Vladimir dan Estragon menunggu Tuan Godot, yang tak kunjung datang. Anehnya, mereka sendiri tidak mengetahui, siapakah sebenarnya Tuan Godot, apa tujuannya, apa maunya.

Meski begitu, mereka berdua tetap bertahan menunggu Godot, dan senantiasa selalu menunggu. Selama menunggu, mereka berdua terus bermain, mempermainkan dan menipu diri mereka seolah-olah hidup dengan penantian yang panjang itu sangat berarti, meski yang pada akhir dan awal kisah, mereka mengucapkan dialog yang sama: “Tidak ada yang berguna’ (Nothing To Be Done)

 Hal yang terjadi pada Vladimir dan Estragon seperti gambaran manusia pada umumnya, yang setelah kian lama hidup dalam penantian, dengan perang, konflik sedemikian rupa, dan seperti tengah menanti dan menunggu. Entah apa yang manusia tunggu, apakah ‘Tuhan’, atau ‘Kematian’?

Pemikiran yang serupa Vladimir dan Estragon pun pasti akan terpikirkan dan terpintas oleh setiap manusia, dengan bertanya: apakah tujuanku hidup, siapakah diriku, dan siapakah Tuhan yang sesungguhnya, atau apakah aku hanya menunggu kematian? Pertanyaan itu semua berkemungkinan pernah terlontar dan terpikirkan oleh setiap manusia, meski ada beberapa yang mencoba menegasikannya dan ada pula yang mencoba mengkajinya lebih dalam, entah itu melalui filsafat eksistensi, atau teologi.

Gambaran yang disebut oleh Kant sebagai ‘bersifat menguniversal,’ dari gambaran naskah lakon Menunggu Godot, melalui perwakilan tokoh Vladimir dan Estragon, dengan demikian, memiliki artian dan makna yang sangat berarti bagi setiap manusia dalam dunia ini. Tentunya untuk dapat kita renungkan dengan saksama, baik itu yang bersifat eksistensi kedirian, eksistensi dunia dan tuhan, atau pandangan filosofis kita masing-masing.

Pengalaman empirik yang secara tidak frontal ditujukan kepada seluruh manusia, ditransformasi ke dalam naskah lakon Menunggu Godot oleh Samuel Beckett. Tentunya, hal itu dapat menggangu benak dan pikiran kita, bahkan dapat mengubah banyak hal, ketika kita membaca atau menonton pertunjukan teater dengan naskah lakon Menunggu Godot karya Samuel Beckett ini. Di sinilah letak nilai estetika dari pertunjukan seni teater, khususnya berdasarkan pemikiran Imannuel Kant menurut pengamatan dan perenungan saya.

Selanjutnya, berdasarkan butir kedua estetika dari Kant, kita dapat mencoba melihat nilai estetika yang tanpa pamrih. Kembali kepada contoh pertunjukan teater (drama) Menunggu Godot karya Samuel Beckett. Kita ambil secara acak saja, entah siapa yang menyutradarai, atau memerankan, atau yang membuat tafsir dan kertas kerja dramaturgialnya.

Secara eksplisit, lakon Menunggu Godot, berbicara perihal absurditas yang sama, yakni sisi absurd dari kehidupan manusia. Ketika pertunjukan ini berlangsung, tentunya tidak sedikit penonton yang mengapresiasi atas pertunjukan Menunggu Godot. Secara general, mereka semua (audience), ingin mendapat nilai apresiasi baru dengan menonton pertunjukan.

Inilah yang menurut saya dimaksud dengan kriteria ‘tanpa pamrih’ dalam estetika Kant ini, yakni nilai inheren dalam karya seni pertunjukan, yang harus tidak dan tanpa tujuan sama sekali, kecuali memberi ruang penyadaran terhadap penonton, atau pemurnian diri (katarsis). Penyelenggaraan dari pertunjukan Menunggu Godot, merupakan sebuah tujuan yang murni tanpa adanya embel-embel kepamrihan.

Pementasan teater harus  memiliki kemurnian, tanpa terkait dengan eksploitasi kepada manusia atau masyarakat. Karena ketika suatu karya seni diciptakan, katakanlah seni pertunjukan, maka suatu karya itu tidak memiliki nilai estetika dalam karyanya, yang ada hanya sebatas guna, yakni guna ekonomi, guna eksistensi, guna makna paradoks.

Saya percaya, bahwa ketika Samuel Beckett membuat naskah Menunggu Godot, yang dikerjakannya lebih kurang selama dua tahun ini, ia melihat berbagai peristiwa tragis di sekitarnya, yang bahkan karena terlalu tragisnya, kemudian  malah muncul suatu ironi dan komik (komedi) dalam Menunggu Godot. Hal ini tentu saja sesuai dengan argumennya mengenai peristiwa yang ia tuangkan ke dalam naskah Menunggu Godot, yaitu, ‘lelucon adalah sumber penderitaan,’ (bukannya malah kebahagiaan) sebagaimana juga disinggung oleh Bakdi Soemanto dalam bukunya Menunggu Godot: Sebagai Studi Banding, Di Amerika Dan Indonesia.

Kiranya cukup jelas, bahwa sebagai sebuah lakon maupun pertunjukan teater, Menunggu Godot merupakan suatu karya seni yang memiliki nilai estetika sebagaimana yang diformulasikan dan dirumuskan oleh Kant, yakni estetika yang tanpa pamrih. Tentunya, kita boleh meyakini, bahwa masih banyak kesenian di luar sana, selain Menunggu Godot, yang sesuai dan sepadan dengan apa yang dipikirkan oleh Imannuel Kant sebagai kriteria ‘tanpa pamrih’ ini.

Butir ketiga dari pembahasan estetika Kant dia formulasikan sebagai ‘tujuan tanpa tujuan.’ Kesenian, sering diibaratkan dengan beribadah, di mana nilai murni untuk mencipta, berkarya, itu bukan merupakan suatu tujuan yang krusial untuk badani atau dunia saja, tetapi lebih dari pandangan keduniaan (imanen). Sama halnya dengan Kant ketika merumuskan pandangannya terhadap estetika dalam karya seni sebagai beribadah.

Setiap manusia memiliki suatu kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan, agama, atau jiwanya. Atas dasar itu, setiap umat manusia dengan akal budi murninya akan beribadah kepada yang kuasa, tanpa mengharapkan sesuatu hal. Hal inilah ditransformasikan oleh Kant ke dalam pandangannya terhadap estetika.

Kunci ini pulalah kiranya yang akan membawa kita untuk memandang bagaimana pertunjukan seni teater, misalnya kembali ke contoh pertunjukan Menunggu Godot. Misalkan, kita ambil ketika saya menyaksikan, pertunjukan seni teater dengan naskah lakon Menunggu Godot, anggap saja yang disutradarai oleh Afrizal Harun (salah satu dosen ISI Padangpanjang), yang menyutradarai pemeran Rico Melta Pratama dan kawan-kawan, dalam rangka tugas akhir minat pemeranan (Rico Melta Pratama).

Ketika pertunjukan ini berlangsung, saya duduk di bangku penonton, gedung Teater Arena Mursal Esten, ISI Padangpanjang. Saya akan menatap fokus ke depan, memerhatikan bagaimana pertunjukan berlangsung, mulai mengamati dari bentuk penggarapan, tematik, artistik yang dibangun, hingga ke permainan para aktor di atas panggung.

Ketika saya menyaksikan dengan seksama, dari skenario yang telah dibangun secara artifisial, saya mendapati suatu titik sentuh dengan kisah pertunjukan, titik yang begitu dalam bagi saya sendiri. Nilai murni, yang ditawarkan ke dalam pertunjukan dengan naskah lakon Menunggu Godot, memang seperti sudah ada keindahaan atau estetika yang inheren dalam dirinya (objek tunggal) dan seperti tidak memerlukan suatu elemen lain untuk menambah kualitas pertunjukan guna mencapai nilai estetis.

Estetika yang sudah terdapat dalam objek (inheren) ini, maksudnya, ialah adanya suatu kualitas dari penampakan dan realitas panngung ketika dilihat oleh pandangan manusia (audiens). Karena itulah, bisa dikatakan bahwa pertunjukan seni teater, yang salah satu studi kasusnya adalah naskah lakon Menunggu Godot, memanglah seni yang murni tanpa suatu penimbangan, apakah ini dapat dikatakan seni atau hanya sejenis kegiatan artifisial manusia, atau hanya sebatas buah tangan manusia.

Nilai Kemurnian (tanpa pamrih), yang tujuan tanpa tujuan dan sifatnya meng-univesal telah terbukti adanya bagaimana pertunjukan seni teater adalah merupakan suatu seni yang ideal bagi Kant, sementara itu, ada satu point dan nilai lagi yang harus diuji dalam pertunjukan seni teater dan sekali lagi, study kasusnya melalui pertunjukan dan naskah lakon Menunggu Godot, karya Samuel Beckett. Point terakhir adalah keharusan atau mutlak dan dengan mencoba melihat seni teater ideal bagi Kant dalam pandangannya dan rumusannya tentang estetika.

  Saya memandang ini dengan keharusan, bahwa terhadap objek yang saya yakini ada suatu nilai estetis di dalamnya. Saya akan mencoba mencari alegori lain selain pertunjukan dan saya mencoba menkoherensikannya dengan pertunjukan seni teater. Ketika saya melihat suatu pemandangan, entah itu gunung, danau, perubahan iklim, benda seni, atau segala isi alam kosmik ini, saya tidak perlu memerhatikan secara panjang dan jlimet, untuk menyatakan bahwa di situ ada nilai estetisnya. Melainkan, saya mengharuskan sublim antara jiwa saya dengan apa yang saya pandang, amati, lihat, apapun itu bentuknya.

Keharusan benda (objek) yang sudah ada pada dirinya, suatu penampakan yang realitasnya ada atau tidak ada dalam benak pemikiran saya, yang mampu membuat saya sublim. Dengan kata lain, penyatuan (transformasi emosi) antara jiwa diri saya dan objek fenomena atau nomena, itulah yang disebut keharusan (mutlak) estetis dalam objek.

Dari gambaran atau alegori di atas, kita bisa pula mencoba menariknya ke dalam pertunjukan seni teater. Sama halnya dengan deskripsi singkat mengenai objek yang memiliki nilai estetis yang terdapat di dalamnya, pertunjukan seni teater, misalnya yangberangkat dari naskah lakon Menunggu Godot juga demikian.

Pada saat saya menyaksikan pertunjukan Menunggu Godot, saya langsung merasa sublim dan juga terkatarsiskan oleh berbagai nilai estetis yang ada pada naskah itu. Nilai-nilai terdapat pada berbagai aspek, mulai dari konflik yang ditawarkan, nilai moral, problematisasi yang dibawa dari setiap tokoh, maupun basis makna kontekstualnya terhadap perang dunia.

Dengan demikian, melalui cara menonton Menunggu Godot dengan kacamata Estetika Immanuel Kant ini, saya cenderung memandang seni teater, adalah suatu seni yang ideal dan layak untuk disaksikan oleh manusia (audiens). Spekulasi ini, juga merupakan pembuktian yang berdasarkan perumusan dan formulasi yang telah menjadi pemikiran Kant, sebagai seorang filosof, dan pengkritik akal budi dan rasio, bahwa untuk memandang estetika kita harus berdasarkan akal budi dan rasio, baik itu antara subjek dengan objek, atau manusia dengan benda yang diamati, dalam realitas dan tampakan.