oleh teraseni | Feb 27, 2017 | Uncategorized
Senin, 27 Februari 2017 | teraSeni.com~
Tahun 2016 telah berlalu, sebenarnya banyak sekali yang terjadi dan dapat dicatat pada tahun kemarin, semisal: reshuffle kabinet yang cukup mengagetkan; kematian Mirna karena sidang kopi sianida yang tak kunjung selesai; prahara bom di jalan Sarinah Jakarta yang mengancam pertahanan dan keamanan; ataupun kasus Dimas Kanjeng dengan penggandaan yang di luar akal sehat. Namun tidak hanya mencatat berbagai kejadian yang mempengaruhi konstelasi politik ataupun sosial yang terjadi, tahun 2016 turut mencatat pelbagai perkembangan musik di Indonesia, seperti: Jerinx, drummer band Superman is Dead yang meluncurkan JRX TV; Eross Chandra yang merilis album solo yang berisikan musik instrumental berjudul Forbidden Knowledge; band death metal Deadsquad dengan rilisan baru berjudul Tyranation, hingga single lagu dari penyanyi anyaran, Awkarin dan Young Lex yang menyita ‘perhatian’. Sederhananya, semua musisi berkontestasi dalam merajut benang-benang eksistensi mereka dengan caranya masing-masing.
Maka itu, sudah barang tentu akan sulit dipastikan jika dilakukan pendataan atas berapa jumlah musisi atau berapa jumlah pertunjukan di setiap tahunnya. Terlebih pentas musik tidak hanya diciptakan untuk lingkup masyarakat luas, melainkan juga dapat diciptakan untuk lingkup kecil, seperti komunitas atau individu sekalipun. Tidak hanya itu, pengelompokan segala pergelaran musik seyogianya tidak hanya mendata pertunjukan megah ala orkestra, tetapi turut mencatat pentas sederhana ala band indie, dan panggung minimalis dangdut ‘khitanan’. Terbetik dari hal tersebut, ada beberapa elemen dari musik yang menentukan dapat kita tangkap, seperti adanya beragam interpretasi musikal yang menghasilkan banyak genre; pelbagai produk dan jenis kualitas musik; hingga performativitas dari musisi tertaut; serta perihal lainnya. Setidaknya hal tersebutlah yang membuat musik mempunyai kompleksitas yang berlapis.
Sebagai sebuah ilustrasi adalah perilaku konsumen yang protes jika sekelompok musisi mempunyai kualitas baik di dalam cakram padat tetapi berkebalikan ketika dipertunjukan secara langsung. Ini mengejawantahkan bahwa musik tidak hanya didengarkan melaui pemutar musik manual, semacam mp3 player, ipod, cd portable, walkman, dan sebagainya; serta pemutar musik online, semacam Spotify, Joox Music, Sound Cloud, Mixcloud, NCS Music, Deezer, Apple Music, Amazon Music, Google Play Music, Pandora, dan lainnya, melainkan pendengar hingga penggemar ingin mengalami pengalaman menyaksikan pertunjukan musisi idola secara langsung. Membuktikan bahwa apa yang disukainya adalah nyata, baik secara wujud—tubuh dan pencitraan musisi—, ataupun nirwujud—kualitas suara dan performativitas. Berawal dari hal tersebutlah maka saya merasa sulit ketika menentukan 10 musik terbaik atas permintaan redaktur teraseni.com. Alih-alih hanya sebagai apologi, dalam hal ini saya justru menawarkan sebuah cara pandang untuk melihat pergelaran musik dari peristiwa yang terbangun ketika musik tersebut dipertunjukkan.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa peristiwa begitu penting untuk pertunjukan musik? Karena jika dipertunjukan pun sebuah pergelaran musik sudah menjadi peristiwa? Peristiwa semacam apa lantas yang ingin diwujudkan? Merujuk St. Sunardi (selanjutnya akan dipanggil Pak Nardi), “tanpa menjadi peristiwa, seni bisa menjadi rutinitas yang membosankan.” Pak Nardi pun menyadari, maka ia menautkan peristiwa yang dimaksud dengan gagasan Lacan tentang seni sebagai sublimasi. Lanjut Pak Nardi:
“…karena dalam perkembangan subyek, peristiwa sublimasi adalah peristiwa penting sekaligus krusial.. Sublimasi bisa disebut peristiwa terpenting dalam perkembangan subyek karena dalam sublimasi orang menciptakan penanda-penanda baru dari ketiadaan (ex nihilo)—penanda-penanda yang tidak sekadar diderivasi dari penanda utama yang sudah ada (atau metafora paternal).. Seni menjadi peristiwa justru karena seni bisa melahirkan penanda baru ketika orang berhadapan dengan kemustahilan dalam mencapai infinite jouissance.”
Sederhananya, Pak Nardi menautkan bahwa peristiwa seni dapat melahirkan penanda baru, yang tentu berasal dengan tekstual karya. Melanjutkan pernyataannya, Pak Nardi menyatakan bahwa:
[Dalam telaah Lacan] lewat seni orang bisa melakukan sublimasi, dengan kembali pada seni itu sendiri kita bisa mencapai jouissance dan bukan hanya diputar-putar dalam infernal circuit of demand yang justru membuat orang frustrasi. Kembali kepada karya seni itu sendiri berarti bersentuhan dengan seni sampai kita trance dan bukan hanya sok mencari makna.
Jadi jika anda datang ke sebuah pergelaran, dan seolah-olah anda hanya diminta mencari makna tanpa adanya estetika yang terkandung di dalam karya, maka anda sah saja meninggalkan tempat pertunjukan. Estetika lah yang membedakan seni dengan pengetahuan dan agama. Secara lebih lanjut, peristiwa seni bagi Pak Nardi harus memberikan “penanda baru” di benak individu, hasil dari perpaduan karya yang estetis dan bermakna. Pernyataan senada yang ditekankan oleh scholar tari, Sal Murgiyanto dalam sebuah perbincangan bahwa, sebuah pertunjukan dapat dikatakan pertunjukan seni jika tidak hanya menyimpan makna tetapi mempunyai daya estetis. Yang Bruner dan Turner bahasakan sebagai heightened experience—sebuah pengalaman yang tersangatkan atau terebihkan.
Hal ini yang kerap luput oleh para penampil pertunjukan secara umum, dan musik secara khusus; di mana memberikan sebuah peristiwa yang teralami, baik pemusik, dan juga untuk penonton. Bertolak dari hal inilah, saya akan menautkan 10 pergelaran yang telah memberikan peristiwa ‘lebih’ kepada penontonnya. Sepuluh peristiwa tersebut pun dilakukan tanpa parameter tegas akan teknis, seperti jenis ruang pertunjukan yang terbuka atau tertutup, hingga kota di mana pertunjukan dipergelarkan, dan sebagainya, melainkan sejauh mana pergelaran tersebut menjadi sebuah ‘peristiwa’. Sedangkan sumber pencarian menggunakan dua cara, yakni menggunakan data primer—yakni empiris saya—, serta data sekunder—dari review atau youtube.com. Kendati subjektif, namun 10 peristiwa musik akan disandingkan dengan argumen pemilihan, sehingga anda bisa pahami atas pilihan peristiwa musik terbaik tahun 2016 lalu. Selamat mengalami.
Di bawah ini terdapat 10 peristiwa menarik dari pergelaran musik dengan jenis urutan dari angka besar ke kecil. Urutan tersebut menunjukan kualitas peristiwa yang bertingkat, di mana semakin baik peristiwa mengisi di nomor kecil.
10. Djakarta Warehouse Project – Pesta Musik Elektronik
Akhir tahun 2016, dunia permusikan elektronik di Jakarta dibuat heboh. Pasalnya sejumlah 26 musisi Internasional memeriahkan acara Djakarta Warehouse Project. Dihelat di penghujung tahun, 9 dan 10 Desember 2016, acara ini menampilkan beragam gaya yang dipunya oleh banyak musisi elektronik, di antaranya: Zedd, Alan Walker, Carl Cox, Dj Snake, dan masih banyak lainnya. Dihelat di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, konon acara tersebut menjadi acara ‘pesta’ musik elektronik terbesar di Asia Tenggara.
Mungkin anda akan cukup kaget mengapa musik elektronik semacam ini justru membuka peristiwa musik yang menarik untuk dibahas. Dalam hal ini, salah satu alasan mengapa jenis musik ini masuk dalam kategori ‘memberikan pengalaman’ adalah karena kecenderungan masyarakat urban atas musik elektronik memang lebih lekat ketimbang musik tradisional atau musik pop lainnya. Salah satu hal yang paling mudah dilihat adalah telah merambahnya genre musik ini pada ajang pencarian bakat—sebagai produk populer televisi. The Remix, yang disiarkan Net.Tv telah beberapa kali menghelat ajang tersebut dengan mengedepankan kualitas musik elektronik para generasi ke depan.
 |
Suasana Pergelaran
Djakarta Warehouse Project –
Pesta Musik Elektronik 2016
(Sumber Foto: www.tabloidbintang.com) |
Dalam pertunjukannya di Kemayoran, penonton hanya disajikan seorang DJ atau pelaku musik elektronik yang berdiri di tengah panggung, dengan format pertunjukan ala konser, para penonton berdiri memenuhi ruang terbuka yang sangat luas. Herannya penonton berbondong-bondong mendatangi dan memenuhi acara tersebut. Tidak hanya datang dan menyaksikan, mereka mengalami pertunjukan secara langsung. Tidak memandang posisi Dj berada, melainkan asyik bergerak mengikuti suara, kerap dengan mata terpejam. Ketika Zedd memainkan musik elektroniknya, para penonton bergerak tidak serupa, namun seirama, mereka menikmati musiknya. Peluh keringat berhamburan, namun mereka bukan melakukan olahraga, melainkan berekspresi melalui karya seni.
Selain itu, pergelaran tersebut menjadi peristiwa karena mereka tidak memainkannya di ruang tertutup dengan orang yang terbatas, melainkan di ruang terbuka dengan sebarapa pun jumlahnya. Sebuah penanda yang berbeda dari kebanyakan kegiatan serupa pada masyarakat urban. Pengalaman kolektif ini tentu menjadi peristiwa untuk masyarakat urban, entah dengan maksud melepaskan penat ataupun menjadi kebiasaan baru, namun mereka menyadari musik elektronik dapat menghantarkan mereka pada satu titik tertentu.
9. The Legends Superheroes – Trust Orchestra
Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST) Orchestra adalah orkestra muda-mudi nonprofit asal Indonesia. Dengan basis musik Barat, orkestra ini menginterpretasikan beragam musik dengan nuansa orkestra. Setelah sukses dengan showcase dan unjuk giginya di Indonesia Orchestra and Ensemble Festival. Sebuah festival pertama yang menghadirkan orkestra ternama di Taman Ismail Marzuki, 3 September silam. Trust kembali menghelat konser bertajuk The Legends Superheroes sebulan setelahnya. Sejumlah empat belas lagu dipersiapkan, dua di antaranya adalah lagu Indonesia.
 |
Salah Satu Penampilan
dalam The Legends Superheroes
– Trust Orchestra
(Sumber Foto: www.merdeka.com) |
Trust Orchestra telah memberikan pengalaman musikal yang mendalam bagi orang dewasa untuk kembali ke masa lalu-nya, juga memberikan pengalaman musik klasik dengan lagu yang acap anak-anak dengar. Tentu hal ini telah menjadi peristiwa, di mana musik tidak hanya menjadi media dengar, namun penanda baru dalam kehidupan, bisa diposisikan sebagai seleberasi atau sebaliknya refleksi untuk para penonton. Tidak hanya itu, atas dasar pengalaman yang sebelumnya dipunya oleh orang dewasa yang menonton, maka musik tersebut tetap memberikan makna dengan kemasan dan estetik yang berbeda.
8. Pangkur – Gelar Konser Karawitan
Di Yogyakarta, acara gamelan diselenggarakan rutin, mulai dari level kampus, hingga level internasional sekalipun. Di tahun 2016 turut tercatat beberapa acara gamelan yang tidak kalah menarik, di antaranya adalah Yogya Gamelan Festival, hingga acara pentas akhir mahasiswa ISI, IKJ, hingga ISBI. Semua kegiatan yang mempertunjukan gamelan memang sangat menarik, pasalnya hanya dengan mendengarkan musik kita dapat membayangkan kebudayaan yang adiluhung.
Namun salah satu alasan mengapa Pangkur yang saya catat sebagai peristiwa menarik adalah terfokusnya pada tema yang diangkat, yakni pangkur. Salah satu elemen dari musikalitas gamelan. Alih-alih hanya merekonstruksi pangkur sebagaimana mesti dan aslinya, dalam acara tersebut justru mempercayakan tiga ‘komposer’ muda untuk menginterpretasikan pangkur itu sendiri. Dan terbukti, tiga interpretasi berbeda yang dimiliki masing-masing ‘komposer’ membuat keberagaman karya dengan kreativitas yang juga berbeda. Dalam hal ini peristiwa yang diwujudkan memang bukan menakar wajah baru ‘komposer’ gamelan, melainkan sejauh mana kreativitas yang beragam gaya dapat dibangun untuk menyikapi tradisi dengan tafsir kekinian. Dari tiga kreativitas yang berbeda, rasanya penonton diberikan suguhan peristiwa yang bermacam-macam untuk kembali mengenali pangkur, dan menjiwainya sebagai laku masyarakat.
7. Celebration Concert – Nusantara Symphony Orchestra
Acara tersebut dihelat pada November setahun silam bertempat di Ciputra Artpreneur. Dipimpin oleh Hikotaro Yazaki, permainan orkestra dari Nusantara Symphony Orchestra berlangsung dengan sangat baik. Beberapa penyanyi seperti Aning Katamsi, Harland Hutabarat dapat bersinergi dengan paduan suara Cordana dan Nusantara Choir. Salah satu karya yang menawan para pendengar adalah karya Mozart, K.299. Dan seperti biasa beberapa lagu berisikan medley dari lagu-lagu Natal.
Kendati momen tertaut turut merujuk pada hari besar agama tertentu, namun maksud dari perayaan akan agama tertentu turut dihindari. Terlebih tema utama adalah Celebration Concert. Salah satu alasan mengapa konser tersebut memberikan sebuah pengalaman yang mengandung peristiwa adalah kejelasan material musik, tertaut pada tingkah laku masyarakat, serta konsep penggarapan musik tersebut. Makna hari raya natal di malam itu seakan berderu cepat di konser tersebut. Tidak hanya itu, makna akhir tahun turut terasa manis mereka pertunjukan. Buktinya adalah penonton pulang dengan sumeringah dan senang. Mereka seakan tercerahkan dengan alunan musik yang diberikan. Tentu dengan terciptanya nuansa tertentu yang justru terbangun karena satu hal, yakni musik.
6. Kawara Musik No Genteng Ongaku – Gardika Gigih, Welly Hendratmoko, Makoto Nomura, dkk
Sebuah karya eksplorasi musikal atas hasil kerja kolaborasi digelar dengan tajuk Kawaru Musik no Genteng Ongaku di Tembu Rumah budaya. Alih-alih hanya mempergelarkan sebuah presentasi musik hasil kolaborasi, material dari musik pun cukup menarik, yakni genteng. Ya dengan genteng lintas negara, alunan musik mulai diciptakan. Welly dengan basis musik Jawa dan Gigih dengan basis musik Barat-nya berkerjasama membuat harmonisasi dengan para musisi Jepang. Proses lintas budaya ini cukup menarik untuk disaksikan, di mana kita dapat melihat saling silang musikal yang bernegosiasi di tengah alunan. Genteng yang disusun bernada pun membuat alunan semakin otentik. Pertunjukan musik eksplorasi yang menarik.
Kendati pertunjukan Kawaru Musik No Genteng Ongaku tidak secara terang-terangan menghasilkan nomor musik yang tegas, karena sifatnya adalah eksplorasi, namun penonton yang datang disajikan sebuah peristiwa mendengar lintas budaya, dan peristiwa mendengar alunan harmonisasi yang berbeda. Alhasil pertunjukan ini tidak semata-mata mencari perbedaan dan nyeleneh, melainkan terkonsep dengan baik, mulai dari material, alasan kontekstual, hingga alunan musikal.
5. Retetet Ndona-Ndona – Jay Afrisando
Di tahun 2016, Jay Afrisando menorehkan cukup banyak karya, salah satu karya pertunjukannya adalah Mode[a]rn. Mode[a]rn cukup menyita perhatian, namun saya lebih menyukai karya dan pertunjukannya yang dihelat di awal tahun 2016, Retetet Ndona-Ndona. Kendati dua karya tersebut renta dengan nuansa eksperimental, serta penciptaan mode suara baru, terlebih Jay adalah musisi Jazz yang acap dengan improvisasi, namun karya Retetet Ndona-Ndona [bagi saya], lebih tegas pada ungkapan musikal yang ingin diperdengarkan.
Bermuara dari suara bleyeran motor, maka Jay bersama tim membuat sebuah pertunjukan yang di luar kebiasaan. Yakni menggunakan teknologi dan memerlukan partisipasi penonton di dalamnya. Penonton diajak menggunakan sebuah aplikasi di ponsel pintarnya yang dapat menyuarakan empat macam suara bleyeran. Alhasil ia menyulam suara-suara bleyeran motor layaknya orkestra menjadi sebuah alunan yang dapat diperdengarkan.
Ide Jay sederhana yakni mengartikulasikan bleyeran motor yang kerap mengganggu dan menunjukannya bahwa suara mengganggu tersebut juga bernada. Tidak hanya itu, penonton diajak berpartisipasi aktif dalam pertunjukan. Selain itu Jay turut mempertunjukan alunan bersama tim-nya dan memainkan beberapa alat musik, seperti: piano, bass, drum, vokal, sebagaimana pola yang tercipta dari bleyeran motor. Hasilnya pun cukup menarik, di mana pola tersebut ditautkan dengan improvisasi dalam musik Jazz. Dalam pertunjukan tersebut, kita dapat menangkap makna yang tersirat dengan sisipan nada estetis yang berbeda di tiap alunannya.
4. Konser Menyanyikan Puisi – Ari Reda
Ari Reda bukan layaknya sebuah band yang menyanyikan barisan lagu pop atau genre yang tersohor lainnya. Hanya terdiri dari dua orang, mereka mensinergiskan alunan gitar dengan vokal. Lagu yang dinyanyikan pun cukup menarik disimak, tidak dengan lirik cinta yang menghamba, melainkan mereka menyanyikan puisi. Lantas apa yang menarik dari menyanyikan puisi? Ari Reda dengan memusikalisasikan puisi justru dapat secara artikulatif membangun nuansa dari puisi semakin mendalam.
Puisi yang kerap kita tahu hanya dibacakan agar semakin kuat dan tegas pada pesan yang ingin disampaikan, justru mereka lagukan dengan sederhana namun berkarakter. Konser Pelucuran Album Menyanyikan Puisi yang turut diwarnai dengan grup Tetangga Pak Gesang, gitaris Jubing Kristianto, dan sastrawan Sapardi Djoko Damono, seakan meninggalkan pesan mendalam. Lirih menjadi sangat lirih, bahagai menjadi teramat bahagia. Sungguh menyajikan sebuah peristiwa bunyi dan menjadikan puisi semakin menawan.
3. Konser Musik Elektronik – FKY
Sebagaimana FKY—Festival Kesenian Yogyakarta—mempertunjukan pelbagai jenis kesenian dalam waktu satu bulan, pada tahun 2016 acara tersebut mempertunjukan konser musik yang tidak biasa. Adalah Konser Musik Elektronik, sebuah konser yang mempertemukan beberapa musisi elektronik yang eksperimental dan menggabungkannya pada sebuah pertunjukan. Alih-alih hanya memainkan secara bergiliran, pertunjukan digarap layaknya orkestra, dengan dirijen yang mengatur segala sesuatunya di depan para musisi.
 |
Poster Pertunjukan Konser Musik Elektronik FKY (Sumber Foto: www.infofky.com) |
Mengapa pertunjukan ini menjadi sangat menarik, alasannya sederhana, yakni gelaran FKY yang lazimnya mempertunjukan musik tradisi dan pop, justru memberikan sebuah pertunjukan yang ‘nyeleneh’. Terlebih ketika acara berlangsung, kita dapat melihat wajah ibu-ibu atau siapapun yang baru mendengar musik tersebut, melintas dengan heran. Hal lainnya yang menarik adalah, konser ini tetap mempunyai pola bunyi yang dipegang, sehingga musik yang mereka gabungkan tidak serta-merta spontanitas, namun telah dikonsep dengan cukup baik. Alhasil pertunjukan Konser Musik Elektronik tersebut telah memberikan sebuah peristiwa bagi para penontonnya, baik yang menyukai, ataupun sebaliknya, di mana mengembalikan musik pada bunyi. Selanjutnya bunyi-bunyi tadi diatur sebagai sebuah alunan yang ‘menyenangkan’.
2. Konser Tentang Rasa – Frau
Konser Tentang Rasa merupakan konser tunggal dari musisi Indonesia asal Yogyakarta, Frau yang dihelat di Jakarta pada awal tahun 2016. Delapan hingga lima tahun belakangan ini Frau memang mencuri perhatian dengan lagu-lagu ciptaannya. Berbeda dengan para penyanyi perempuan lainnya, Frau menciptakan karya dan menyanyikannya dengan sebuah piano. Pada konser Tentang Rasa di Gedung Kesenian Jakarta yang dihelat Januari 2016, tidak hanya mempertunjukan alunan musik yang indah dengan artistik yang memukai, Frau turut memperhatikan unsur lain di dalam konser, yakni aroma. Di sepanjang konser, pelbagai macam aroma diciptakan pada beberapa lagu tertentu. Sebuah konsep konser yang sangat jarang dilakukan. Namun dengan ide aroma bukan berarti mengesampingkan karya musik yang dimainkan. Tanpa cela, Frau dapat bermain gemilang.
Maka nikmat musik mana yang dapat didustakan, dari konser Tentang Rasa, Frau tidak hanya mengajak penonton menjajaki perisitwa auditif dengan beragam alunan musikal, melainkan mengajak penonton memahami lagu dengan kepekaan indera penciumannya, hidung. Sungguh menjadi peristiwa yang sangat menarik untuk bingkai konser di tahun 2016.
1. Konser Dunia Milik Kita – Dialita
Di urutan pertama peristiwa terbaik adalah konser dari paduan suara wanita, bernama Dialita. Dialita adalah paduan suara yang telah dibungkam 51 tahun lamanya oleh kekuasaan. Mereka dipenjarakan tanpa tuduhan hukum yang jelas. Alhasil dengan nyanyian mereka mengekspresikan perasaan mereka, namun apa daya lagu mereka tidak boleh dipertunjukan di sembarang tempat. Mereka menyebutnya sebagai lagu bisu. Lantas pada hari Kesaktian Pancasila, di bawah pohon beringin yang ditanamkan oleh Soekarno di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, mereka kembali bernyanyi. Tidak hanya itu mereka turut membuat album atas nama mereka sendiri. Berkerjasama dengan para musisi muda, mulai dari Danto Sisir Tanah, Frau, hingga Cholil Efek Rumah Kaca, lagu mereka digarap kembali dengan musikalitas yang lebih familiar dengan para kaum muda.
 |
Penampilan Ibu-Ibu dalam Konser Dunia Milik Kita- Dialita (Sumber Foto: www.kedaikebun.com) |
Di panggung tersebut, ibu-ibu berjumlah 17 orang bernyanyi dengan semangat dan suka cita, ditonton sekitar 200 orang, momen konser tersebut berlangsung sangat emosional. Kerap banyak percakapan dari penonton yang merinding mendengar lagu ketika konser berlangsung. Pun dengan para ibu-ibu paduan suara yang kendati telah berumur menyanyikan lagu demi lagunya dengan semangat membara, layaknya tak ada hari esok. Sungguh menjadi sebuah peristiwa pertunjukan terbaik di tahun 2016.
***
Maka bertolak dari sepuluh pergelaran teresebut, kita dapat melihat saling silang konstektual yang tertaut kuat dengan tekstual lagu. Terlebih peristiwa musik di atas tidak hanya menyimpan konseptual musik semata, namun turut menyimpan representasi perilaku serta terpresentasikan pada nada dan bunyi dari pergelarannya masing-masing. Dan dari kesepuluh peristiwa tersebut turut mempunyai muatan yang tidak hanya sekedar menjadi tontonan sambil lalu, pun juga tidak hanya sekedar ‘nyeleneh’ untuk tampil beda, melainkan memberikan gugusan makna dan pengetahuan baru, serta tidak menafikan bahwa tersimpan estetika yang kuat pada alunan di dalam pertunjukannya. Alhasil dari pergelaran musik sebagai sebuah peristiwa, penonton dan penampil bisa sama-sama mendapatkan sebuah pengalaman yang utuh dan menyeluruh. Mari mengalami![]
Referensi:
Sunardi, St. 2015. “Seni Sebagai Peristiwa (Evakuasi Subyek)”, dalam Jurnal Kalam edisi 27 tahun 2015.
Simatupang, Lono. 2013. Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.
http://www.teraseni.com/2016/12/pertanyaan-tubuh-catatan-workshop-idf.html
oleh teraseni | Jan 29, 2017 | Uncategorized
Minggu, 29 Januari 2017 | teraSeni~
Sumatra Barat tidak hanya Padang dan Padang bukanlah representasi tepat untuk Sumatra Barat. Tetapi, persoalan-persoalan kebudayaan di
Sumatra Barat senantiasa diurus oleh “Padang”. Padang dalam hal ini tak
hanya sebagai kota, tetapi juga sebagai “paradigma” kebudayaan.
Sebagai
ibukota provinsi, Padang adalah tempat di mana infrastruktur formal
kebudayaan (seperti Dinas Kebudayaan Sumatra Barat, Taman Budaya Sumatra
Barat, Galeri Lukisan), serta kampus-kampus (Unand, UNP, IAIN Imam
Bonjol, ST-KIP) dan media (Padang Ekspres, Haluan, Singgalang) berada.
Sedangkan Padang sebagai paradigma kebudayaan, sebagai salah satu
konsekuensi dari sentralisasi infrastruktur tersebut, adalah suatu
komposisi pemikiran, konflik, serta pengalaman-pengalaman
berkesenian-berkebudayaan yang secara “spesifik” terjadi di Padang.
Dalam dua “pengertian” ini, Padang terlanjur angkuh untuk menjadi
“representasi” Sumatra Barat.
Daerah-daerah lain
padahal mempunyai “gejala” dan “kebutuhan” tersendiri. Kondisi alam,
komposisi etnik, distribusi wacana, tingkat perekonomian serta
pendidikan, yang berbeda antar satu wilayah dengan wilayah lain, tak
bisa diwakili dengan “pengalaman” di Padang saja. Daerah-daerah lain
memang secara sporadis “menciptakan” kebudayaan sendiri, tetapi tetap
saja dalam wacana kebudayaan berskala Sumatra Barat, terutama yang
berhubungan dengan “tanggung jawab” pemerintah, daerah-daerah tersebut
jarang sekali dipertimbangkan sebagai “partisipan aktif.” Mereka justru
seringkali menjadi “pelaksana pasif” dari apapun yang ditetapkan oleh
“Padang”. Sentralisasi meski melalui sistem “perwakilan” seperti ini,
sudah terlalu lama terjadi di Padang.
Tak hanya itu.
Ada yang tak kalah krusial. Sentralisasi pun terjadi dalam arena
komunitas-komunitas etnis. Minangkabau adalah etnis mayoritas di Sumatra
Barat. Tetapi, wacana kebudayaan di Sumatra Barat pun, dari waktu ke
waktu, cenderung dibicarakan dalam konteks kebudayaan Minangkabau.
Bahkan dalam tahun-tahun belakangan, gagasan kelompok tertentu untuk
diubahnya Sumatra Barat menjadi DIM (Daerah Istimewa Minangkabau) tampak
tak mempertimbangkan keberadaan etnis-etnis lain tersebut. Untung saja
gagasan DIM tersebut bisa dilawan. Tapi, tetap saja, komunitas etnis
lain bisa dikatakan tak diberi tempat “aktif” dalam pembangunan wacana
kebudayaan Sumatra Barat.
Namun begitu, “kerjasama”
lintas etnis di Sumatra Barat bukan berarti tidak ada sama sekali. Meski
secara umum kelompok-kelompok etnis selain Minangkabau melakukan
aktivitas kebudayaan dengan cara sendiri-sendiri, namun, bagaimanapun
juga, tetap ada bentuk-bentuk praktik kultural yang dengan sadar
dilakukan, meski dengan ruang lingkup kecil, tetapi setidaknya masih ada
usaha untuk menciptakan semacam “kebudayaan bersama.” Hanya saja,
sekali lagi, dalam “grand design” kebudayaan Sumatra Barat, wacana
lintas-etnis bisa dikatakan absen.
Meskipun begitu,
“Padang” dan “Minangkabau” tersebut bukanlah “Padang “dan “Minangkabau”
dalam pengertian menyeluruh. Dalam skala Padang itu sendiri, ada begitu
banyak bentuk praktik-praktik kebudayaan. Begitu juga dalam kebudayaan
“Minangkabau” itu sendiri pun ada banyak bentuk-bentuk sub-kultur yang
ada. Tetapi, di tangan beberapa orang, sepetak dari “Padang” yang
sungguh luas dan sesudut dari “Minangkabau” yang bervarian itu, secara
tidak seimbang, direpresentasikan sebagai kebudayaan “Sumatra Barat.”
Dengan kata lain, Sumatra Barat tak hanya direduksi dalam kategori
“Padang” dan “Minangkabau” saja, tetapi “Padang” dan “Minangkabau”
itupun direduksi oleh segelintir pihak belaka.
Segelintir
yang “memegang tampuk” kebudayaan Sumatra Barat tersebut itupun tak
jauh-jauh benar dari sebahagian kalangan akademisi, seniman, dan
budayawan. Artinya, tidak seluruh akademisi, seniman, ataupun budayawan
yang bergiat dalam arena kebudayaan di Sumatra Barat yang secara
partisipatif ikut “memikirkan” jalan kebudayaan ke depan. Otoritas
tersebut, para “pemegang tampuk” kebudayaan itu, memang bersifat tidak
tetap, tersebab selalu ada konflik kepentingan untuk masuk ke dalamnya.
Namun, yang jelas, meski diselipi berbagai praktik “perebutan”, tetap
saja hanya segelintir seniman-budayawan yang berhasil merebut “kuasa”
saja yang diberi peran aktif untuk “membangun” Sumatra Barat melalui
jalur kebudayaan.
Selalu adanya otoritas tertentu,
bahkan di balik layar, untuk menentukan siapa yang pantas ikut dan siapa
yang tidak tentu saja tak sekedar berkaitan dengan persoalan-persoalan
“moral”, seperti nafsu dasar, ambisi kekuasaan, persoalan “proyek”,
dsb., tetapi juga karena adanya “sistim” yang terus memberikan
kesempatan, bahkan melegitimasi, perilaku-perilaku “sentralistik”
seperti itu. “Sistim” itu menggejala dalam kerja-kerja lembaga
pemerintah di bidang kebydayaan selama ini. “Sistim” tersebut sudah
menjadi “lahan” bagi para seniman, budayawan, dan akademisi untuk
“menggelar tikar” tapi disorak-soraikan sebagai “kerja-kerja kebudayaan
kita”. “Sistim” tersebut ada selama ini dan akan terus ada karena “kerja
budaya” tidak mempunyai dimensi “emansipasi”. Padahal, yang dibutuhkan
sekarang, adalah “kerja budaya” untuk “perubahan sosial” dan hanya
dengan begitulah praktik “partisipasi aktif” menjadi logis untuk
dicarikan bentuk kongkritnya. “Kerja budaya” yang kehilangan dimensi
“perubahan sosial” salah satunya akan memproduksi
kesombongan-kesombongan sekaligus sentimen pribadi, kelompok, etnis, dan
sejenisnya.
 |
“Dimana Bumi Diinjak,
Di situ Langit Dijunjung,”
Lukisan Karya Yulfa Japank H.S.,
(140 x 135 cm, Acrylic, Crayon,
Pencil di atas Kanvas, 2015) |
Kondisi paling mutakhir dapat kita lihat pada 19 Januari 2017 lalu. Di Galeri Lukisan Taman Budaya Sumatra Barat, lebih kurang 100 “tokoh” yang terdiri dari seniman, budayawan, dan akademisi berkumpul dengan Dinas Kebudayaan Sumatra Barat yang baru diresmikan Gubernur Irwan Prayitno pada 27 Desember 2016 lalu. Acara yang diberi nama “Duduak Baropok Tagak Bapusu” tersebut diselenggarakan sebagai usaha Dinas Kebudayaan untuk “menampung” gagasan-gagasan seniman, budayawan, serta akademisi Sumatra Barat sebelum menyusun Rencana Strategis Dinas Kebudayaan Sumatra Barat ke depan.
Salah seorang “budayawan” yang ikut dalam agenda tersebut adalah Darman Moenir. Melalui akun Facebook miliknya (20 Januari 2017) dan tulisannya di Padang Ekspres, Apa Itu ABS-SBK? (23 Januri 2017) Darman Moenir secara harfiah menyebut lebih kurang 100 orang yang hadir dalam agenda tersebut sebagai seniman-budayawan “papan atas.” 100 orang itu dianggap sebagai pihak yang paling representatif dalam memikirkan kebudayaan Sumatra Barat. Artinya, sampai di sini, sudah tercium modus-modus “sentralistik” dalam kerja-kerja kebudayaan di Sumatra Barat ke depan.
Tentu, tak ada maksud untuk mengatakan bahwa 100 seniman-budayawan yang hadir dalam agenda tersebut sebagai pelaku-pelaku yang serupa dengan Darman Moenir. Bahkan ada—meski sedikit—di antaranya yang bekerja diam-diam selama ini di luar program-program pemerintah. Namun, seniman-budayawan yang diproklamirkan Darman Moenir sebagai “papan atas” itu bisa-bisa ikut terseret ke dalam logika yang dipakai dirinya. Jelas, bukan suatu kebetulan bahwa Darman Moenir dengan tepat menyebut agenda pertemuan itu sebagai acara “papan atas” karena memang ada tendensi “papan atas” atau “sentralistik” di dalamnya.
Artikulasi “papan atas” tersebut dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk melihat ancaman-ancaman sentralisasi dalam kerja-kerja kebudayaan ke depan. Pertama, bentuk sentralisasi yang terjadi, 100 orang yang hadir dalam acara tersebut secara umumnya “orang Padang”. Dalam pengertian, mereka lebih cenderung “berproses” di kota Padang daripada di daerah lain di Sumatra Barat. Namun, mereka terlanjur harus menjalankan tanggung jawab untuk memikirkan “Sumatra Barat” secara luas. Maka, tentu saja, bias-bias konflik, pemikiran, serta warisan cara berkesenian-berkebudayaan di kota Padang akan mengisi pikiran-pikiran yang mereka ajukan kepada Dinas Kebudayaan Sumatra Barat. Padang dengan segala “kelebihan” dan “kekurangan” di dalamnya, apakah bisa menjadi suatu bangunan basis untuk membangun “kesadaran kolektif” masyarakat Sumatra Barat di daerah-daerah lain? Bahkan dengan menggunakan “dikotomi” klise seperti darek/pasisia sekalipun, Padang tak akan pernah bisa menjadi metode dalam mengidentifikasi “kebutuhan” daerah lain di Sumatra Barat.
Kedua, tak hanya itu, sentralisasi pun rentan muncul dalam hal “semangat zaman” yang melatarbelakangi 100 tokoh tersebut. Secara umum, pegiat seni-budaya itu adalah generasi pasca-Navis dan pasca-Wisran. Dengan kata lain, mereka adalah orang-orang membangun pemikiran, pengalaman berkesenian, dan keterlibatan konflik dalam iklim seni-budaya pada rentang dekade 1960-an sampai 1990-an. Dengan pengalaman tumbuh di “semangat zaman” generasi tersebutlah “Rencana Strategis” kebudayaan di Sumatra Barat digantungkan. Apakah generasi-generasi tersebut memahami gejala-gejala kultural, konflik-konflik, serta kecendrungan paradigma kebudayaan generasi 2000-an? Apakah generasi 2000an belum bisa menjadi “partisipan” penting di dunia kebudayaan saat sekarang? “Masalah-masalah spesifik” generasi lebih akhir, 2000-an, tetap tak bisa diwakili oleh generasi manapun, meskipun oleh generasi paling dekat dengannya, apalagi oleh generasi-generasi sebelum itu. Dengan kata lain, bias-bias “semangat zaman” generasi terdahulu jelas-jelas sangat berpotensi dalam mereduksi masalah-masalah kebudayaan kontemporer. Apalagi, dalam lika-liku kebudayaan di Sumatra Barat selama ini, para generasi terdahulu cenderung berpikiran seakan-akan “waktu terhenti di zaman mereka”. Bahkan, generasi yang banyak mengidap penyakit akut “post power syndrome”, terutama generasi 60an – 80an, adalah generasi tidak cukup “rendah hati” untuk mau memahami dengan baik gejala-gejala kebudayaan kontemporer termasuk modus-modus baru dalam penciptaan karya seni.
Dalam kerja kebudayaan ke depan, kita tak ingin lagi dilanda kasus-kasus yang dibuat oleh “budayawan Orde Baru” seperti sebelumnya, untuk menyebutkan beberapa contoh, seperti kasus ketidakjelasan Dewan Kesenian Sumatra Barat (DSKB) di masa Harris Efendi Thahar, atau kasus arogansi nama besar “tak ada novel berkualitas dalam 30 tahun terakhir” ala Darman Moenir, atau kasus anti-intelektual berupa pencekalan karya perupa Alberto di acara Sumatra Biennale I, atau kasus “bagi-bagi kue” di Padang Arts Festival II lalu, atau kasus penggunaan uang rakyat tanpa pertanggungjawaban dalam agenda Anugrah Literasi Minangkabau (ALM) dan Penerbitan 20 Buku untuk Penulis, dan seterusnya.
Selanjutnya, ketiga, pola Minangkabau-sentris turut mewarnai agenda tersebut. Tak dapat dipungkiri tokoh “papan atas” yang dilabeli oleh Darman Moenir itu merupakan bagian dari kelompok etnis Minangkabau, meskipun dengan “varian” yang berbeda-beda. Atau kalaupun ada beberapa tokoh di dalamnya yang selama ini kerja-kerja kebudayaannya tak terpusat pada “masalah-masalah” kebudayaan Minangkabau saja, mereka hanya bagian kecil dari 100 tokoh tersebut. Dengan kata lain, komposisi utama dari tokoh-tokoh tersebut adalah orang-orang yang memandang kebudayaan di Sumatra Barat sebagai kebudayaan Minangkabau. Bagaimana dengan keberadaan komunitas etnis Mentawai, Tionghoa, India, Jawa, Sunda, misalnya? Bagaimana mungkin kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, atau masalah-masalah yang biasa dihadapi komunitas etnis Minangkabau bisa menjadi tolak-ukur dalam merencanakan kerja-kerja kebudayaan Sumatra Barat ke depan?
Dalam kenyataannya, program-program kebudayaan yang diselenggarakan di fasilitas kebudayaan Sumatra Barat nyaris tak pernah dimanfaatkan oleh kelompok etnis di luar kebudayan Minangkabau, meski tak seluruh varian kebudayaan Minangkabau pun yang mendapat tempat. Pada dasarnya, kelompok etnis-etnis lain cenderung menjalankan kebudayaannya, termasuk perayaan-perayaan kultur mereka sendiri, dalam teritorial tertentu saja, meskipun konflik-konflik antar etnis jarang sekali terdengar di wilayah Sumatra Barat dan kehidupan sosial lintas etnis “relatif aman”.
Apakah kondisi di atas adalah kasus spesifik di Sumatra Barat? Tentu saja tidak sepenuhnya. Sebab kondisi tersebut tak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas di Indonesia. Cara pandang pendahulu kita, seperti pada dekade awal abad 20 lalu, yang mengatakan kebudayaan Indonesia sebagai “puncak-puncak kebudayaan daerah” adalah salah satu embrionya. Cara pandang tersebutlah yang dipakai pada era 1970-an oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, sebagai legitimasi untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat sekaligus etalase kebudayaan-kebudayaan daerah di Indonesia, atau dalam bahasa Ali Sadikin sendiri, “daerah adalah sumur yang harus kita gali dan hasil-hasil terbaik dari daerah kita bawa ke Jakarta.” Atau contoh paling lumrah: TMII (Taman Mini Indonesia Indah) sebagai miniatur paling “vulgar” dari cara pandang tersebut. Ini adalah gejala “papan atas” yang paling kentara dari abad sebelumnya dengan Jakarta sebagai contoh kasus.
Kebudayaan daerah dalam satu provinsi diambil perwakilannya yang “papan atas” untuk menjadi representasi di TMII. Ketika provinsi hanya dibagi menjadi 27 provinsi, sebagai contoh, maka itu seakan-akan menjadi perhitungan ada 27 model kebudayaan di Indonesia. Permasalahannya kemudian adalah ketika sebuah provinsi tak satupun yang terdiri dari satu varian etnik saja, sehingga terjadi ketidakadilan representasi disebabkan banyaknya sub-sub dari kebudayaan itu sendiri. (Seperti di Sumatra Barat misalnya yang diwakili oleh bentuk Rumah Gadang tipe Bagonjong. Padahal, ada banyak tipe rumah gadang di Minangkabau, tetapi mengapa yang bagonjong dan bukan yang tipe tungkuih nasi atau kajangpadati yang dipilih? Persoalan serupa pun juga terjadi di provinsi lain).
Dengan kata lain, kehadiran kebudayaan-kebudayaan daerah hanya sebagai “pelaksana pasif” dari ambisi untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat kebudayaan di Indonesia. Dan itu pula memang yang menjadi salah satu alasan yang kemudian mendorong terjadinya “perlawanan” terhadap “Jakarta,” termasuk dalam ranah kebudayaan. Tapi “perlawanan” tersebut cenderung “berkaki kecil”. Bahkan, ironisnya, seberapapun “orang daerah” mengkritik Jakartasentris, tapi pada kenyataannya, praktik-praktik yang dilakukan Jakarta pun turut dilakukan oleh “orang daerah” itu sendiri dalam skala kecil terhadap masyarakatnya sendiri.
Dalam hal ini, apa yang terjadi di Sumatra Barat, melalui agenda Dinas Kebudayaan tersebut, hanyalah variasi lain dari metode kerja kebudayaan yang sudah bertahun-tahun dilakukan di Jakarta. Dan, melalui kebanggaan “papan atas” itu, Darman Moenir semakin menegaskan kondisi itu. Tentu lebih kurang 99 orang lagi tak semuanya yang sepakat dengan cara berpikir Darman Moenir. Masalah utama memang tak berasal dari tokoh-tokoh tersebut. Bagaimanapun juga, komposisi tokoh tersebut hanyalah hasil undangan Dinas Kebudayaan. Artinya, kritik pentingnya sekarang justru kepada Dinas Kebudayaan sebagai tuan rumah.
Dinas Kebudayaan Sumatra Barat memang sudah berusaha mengajak seniman, budayawan, dan akademisi untuk mengambil bagian dari penyusunan rencana kerja kebudayaan kita ke depan. Bahkan usaha Taufik Efendi sebagai Kepala Dinas patut diapresiasi, karena bagaimanapun juga, di tengah berbagai konflik kepentingan antar seniman, budayawan, dan akademisi di Sumatra Barat hari ini, mengumpulkan lebih kurang 100 orang adalah kerja yang tidak mudah. Namun begitu, usaha tersebut tetap harus harus dikritik karena kentalnya tendensi “sentralisitik” di dalam agenda itu sendiri sebagaimana yang dibahas sebelum ini.
Oleh sebab itu, Dinas Kebudayaan mesti merombak cara kerja yang dipakai pada agenda pertama lalu. “Sistim” yang menggurita dalam lembaga pemerintah harus segera dibersihkan, tak hanya dari segi aturan-aturan formal tetapi juga cara pandang Kepala Dinas situ sendiri. Sumatra Barat tidak bisa lagi terus-terusan “diwakilkan” sebagai “Padang” dan “Minangkabau” saja. Begitu juga “Padang” dan “Minangkabau” itu sendiri, tak bisa dilihat hanya melalui kecendrungan pemikiran-pengalaman generasi 60-90 yang justru didominasi oleh generasi 70-80 saja. Kalau Dinas Kebudayaan masih bersikeras memakai model-model “papan atas” tersebut, maka kerja-kerja kebudayaan di Sumatra Barat, kalaupun ada semacam “dialektika” hanya akan diisi oleh gaya-gaya konflik generasi terdahulu, yang seringkali tampak kekanak-kanakan bila konflik itu terjadi pada “rekan seangkatan”, dan berbau premanisme bila konflik terjadi pada persoalan “paruiak bareh seniman proyek”, serta kental aroma “feodal”.bila konflik itu itu sudah terjadi pada “lintas-generasi”.
 |
“Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu,”
Lukisan Karya Yulfa Japank H.S.,
(50 x 50 cm, Acrylic, Crayon,
Pencil di atas Kanvas, 2015) |
Sekarang ini, sebagai akibat dari modus “papan atas” yang menjadi alas-pijak kerja-kerja kebudayaan di Sumatra Barat selama bertahun-tahun ini, kita melihat banyak munculnya “komunitas” seni yang pada sisi tertentu dapat dibaca sebagai reaksi terhadap dikuasainya “pusat-pusat” kebudayaan oleh pihak tertentu, meski di sisi lain “komunitas” tersebut tidak sepenuhnya “terpisah” dari tanggung jawab pemerintah. Tentu sebenarnya merebaknya komunitas seni bisa menjadi pertanda baik bagi geliat berkesenian dan kerja budaya di Sumatra Barat, tetapi sayangnya sebagian besar “komunitas” tersebut tidak sepenuhnya menjalankan fungsi kesenian ataupun kebudayaan, apalagi fungsi “politik kebudayaan”, karena dengan suatu dan lain cara, kehadiran “komunitas” tersebut cenderung terjebak oleh logika “identitas” daripada logika “kerja-sama” dalam suatu visi kebudayaan yang dibangun dengan kesadaran kolektif, apalagi “emansipatif”. Artinya, kehadiran suatu “komunitas” seni seringkali didasarkan pada “sentimen murahan” terhadap suatu komunitas sehingga ketika “komunitas” tumbuh semakin banyak, yang terjadi bukannya semakin semaraknya arena kebudayaan dengan keberbagaian tawaran-tawaran percobaan kerja budaya, tetapi malah semakin menggejalanya komunitas-komunitas tersebut menjadi lebih tertutup, bahkan cenderung menjadi “tempurung”. Dengan kata lain, berkesenian sudah dikerdilkan menjadi persoalan “galeh surang-surang” sehingga dimensi “perubahan sosial” semakin tenggelam. Maka, tak heran, bila salah satu fenomena yang terjadi darinya adalah kritik atas kondisi itu akan cenderung dianggap naïf, sebuah “pembunuhan karakter” bahkan dianggap mengganggu “pariuak bareh”.
Agenda “Duduak Baropok Tagak Bapusu” lalu pun tentu tak akan terlepas dari bias-bias konflik antar pegiat seni-budaya di kota Padang. Karena sedari awal agenda tersebut sudah menunjukkan karakteristik “papan atas”, maka tak dapat dihindari bahwa agenda itu pun dapat memunculkan usaha-usaha membuat “agenda” serupa oleh pegiat seni-budaya yang merasa tidak menjadi bagian dari rencana Dinas Kebudayaan ke depan.
Tentu tak salah bila keterbatasan suatu lembaga diperbaiki oleh lembaga lain. Bahkan semakin ramainya eksperimen-eksperimen yang dilakukan pegiat budaya, baik secara formal atau tidak, untuk melakukan kerja-kerja budaya malah semakin baik bagi dinamika perubahan sosial dalam kerangka yang lebih luas. Bagaimanapun juga, untuk saat itu, pola hubungan tarik-menarik antara lembaga formal, informal, dan non-formal, masih diperlukan.
Namun masalahnya, dalam konteks di Sumatra Barat, “episodenya” belum sampai benar pada tahap itu, sebab ada masalah-masalah “spesifik” yang harus diperbaiki terlebih dahulu. Bahkan, gagasan “kerja budaya” sebagai “perubahan sosial” masih perlu diatur strategi untuk merealisasikannya. Kita masih saja membersihkan kerja-kerja budaya dari perilaku-perilaku “asal bikin tandingan” yang justru kebanyakan tidak menawarkan gagasan baru, bahkan jauh lebih buruk.
Tentu saja tak semua orang mesti mempunyai gagasan kebudayaan yang persis sama. Perbedaan cara pandang justru yang akan terus menggerakkan arena kebudayaan kita. Hanya saja, logika yang sering terjadi dalam konflik-konflik di kota Padang tersebut, yang kemudian hanya menghasilkan “asal bikin tandingan” di mana-mana itu, adalah logika-logika “pembagian kue” yang dibungkus retorika seni-budaya, di mana persoalan “berteman” atau “bermusuhan” adalah persoalan dapat atau tidaknya pembagian jatah, tapi diartikulasikan dengan “ketidaksesuaian” selera estetik. Paling tidak, dari mulai generasi Darman Moenir, sering terjebak pada logika “pembagian kue” ini, meskipun gejala serupa sudah tampak pula pada generasi hari ini.
Dengan kata lain, berkaitan dengan agenda Dinas Kebudayaan lalu, pola “sentralisitik” atau “papan atas” yang dipakai itu cenderung hanya mereproduksi konflik-konflik lama yang kekanak-kanakan itu, dan tentu saja masih jauh dari usaha yang memicu kerja-kerja produktif, apalagi “perubahan sosial”.
Namun begitu, kondisi-kondisi tersebut hanyalah sebahagian kecil dari persoalan yang lebih kompleks dalam arena kebudayaan saat ini. Tapi, setidaknya, kondisi tersebut dapat menjadi contoh paling mutakhir dari akibat modus “papan atas”, “perwakilan”, atau apapun namanya, dalam kerja-kerja kebudayaan antara seniman-budayawan-akademisi dan pemerintah. Dengan kata lain, selagi masih begitu awal, Dinas Kebudayaan tak ada salahnya untuk merancang metode baru dalam menyusun, membuat, dan menjalankan agenda kebudayaan di Sumatra Barat. Dinas Kebudayaan harus berada pada jalan “kerja budaya” sebagai “perubahan sosial” dengan partisipasi aktif setiap elemen kebudayaan itu sendiri, dan tak cukup hanya dengan “kerja budaya” untuk “kepentingan budaya” dengan pola “sentralistik” dan “perwakilan” seperti itu saja. Kalau tidak begitu, seminimalnya, Dinas Kebudayaan Sumatra Barat akan bernasib sama atau mungkin lebih buruk, dari lembaga-lembaga seperti Pusda Sumatra Barat atau Balai Bahasa Sumatra Barat, yang pada level tertentu, serta waktu tertentu, “dikendalikan” oleh oknum seniman-budayawan yang menjadikan program-program masyarakat sebagai “sawah-ladang” dan “panggung” pribadi/sekelompok orang tanpa pertanggungjawaban sama sekali, baik secara moral ataupun intelektual, lalu terjadi lagi konflik kepentingan, begitu seterusnya, dan orang-orangnya saja yang bertukar, generasinya saja yang berubah, tapi “mental asal dapat proyek” masih sama.
oleh teraseni | Jan 20, 2017 | Uncategorized
Jumat, 20 Januari 2017 | teraSeni.com~
In the last decade of the twentieth century in particular, all continents not only witnessed a surge in the number of annual festivals, but also a diversification in the types of festival that became a mainstay of cultural calendars, as well as diversification in local and global festival audiences. As an increasingly popular means through which citizens consume and experience culture, festivals have also become an economically attractive way of packaging and selling cultural performance and generating tourism.
(Picard & Robinson, via. Bennet, 2006: 1)
Meningkatnya kompleksitas kehidupan di masa kini membuat masyarakat semakin terkurung dalam kegiatan rutin, yang bagi kebanyakan orang tentunya menjenuhkan dan membosankan. Tentunya cara mengatasi kejenuhan yang dialami setiap orang berbeda-beda. Salah satu dari sekian banyak cara untuk menghilangkan kejenuhan dari rutinitas yang sama itu adalah dengan mengunjungi festival-festival yang ada di berbagai tempat. Kini, festival bukan lagi hanya peristiwa mengapresiasi suatu bentuk pertunjukan seni tertentu, namun juga merupakan tempat untuk mengaktualisasikan diri, yang dilakukan secara individu maupun secara kolektif.
Saat ini berbagai kota di seluruh Indonesia memiliki agenda festival yang terjadwal setiap tahunnya. Masyarakat dengan mudah dapat mengakses info tentang festival itu melalui berbagai macam media cetak dan elektronik. Banyaknya festival yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia merupakan suatu kemajuan yang positif, karena melalui festival-festival itu, masyarakat dapat mengalami dan merasakan langsung dampak yang diberikan dari festival, baik itu dampak terhadap bidang ekonomi, maupun sosial dan politik.
 |
Suasana Pengunjung di Pasar Keroncong Kotagede 2016 |
Jenis festival pun semakin beragam, menawarkan pelbagai hal kepada pengunjung, mulai dari materi pertunjukan hingga kemasan artistik yang disajikan. Ros Derrett (2009) bahkan mengatakan bahwa festival memiliki peranan penting dalam kehidupan kebudayaan dari masyarakat masakini, karena festival muncul dari budaya lokal masyarakat tertentu yang mengizinkan masyarakat dan pengunjung untuk saling berinteraksi melalui apa yang mereka ciptakan dalam festival.
Dari berbagai macam fasilitas atau layanan yang diberikan oleh penyelenggara festival untuk memberikan sajian menarik bagi para pengunjung salah satunya adalah dengan membuatkan tampilan dekoratif yang menarik di beberapa tempat sehingga bisa digunakan sebagai tempat untuk berfoto oleh pengunjung. Hal ini tentunya menjadi bagian dari strategi penyelenggara festival untuk membuat pengunjung lebih tertarik datang ke festival dan menghabiskan waktu bersama keluarga ataupun teman. Sehingga, pengunjung menjadikan festival bukan hanya untuk menonton suatu pertunjukan seni tapi kemudian festival juga dijadikan sebagai tempat bermain dan menjadi bagian dari aktifitas yang memang diperlukan untuk sekedar mengalihkan perhatian dari rutinitas yang menjenuhkan.
Pengunjung Festival dan Aktifitasnya
Memasuki penghujung tahun 2016 pada tanggal 3 Desember, sebuah festival yang berjudul Pasar Keroncong Kotagede digelar di Kotagede, Yogyakarta. Selain menampilkan grup orkes keroncong dari berbagai kota di pulau jawa, pada tahun kedua ini Pasar Keroncong Kotagede juga menampilkan beberapa penyanyi kondang lintas genre, seperti genre music jazz dan balada. Festival ini menggunakan tiga panggung utama yang didirikan pada tempat yang berbeda, untuk menyaksikan pertunjukan dari satu penampil ke penampil lainnya, pengunjung harus rela berjalan kaki.
 |
Salah satu penampilan di Pasar Keroncong Kotagede 2016 |
Pasar Keroncong Kotagede kali kedua ini dimulai dari selepas sore hingga sebelum larut malam. Konsep yang ditawarkan Pasar Keroncong Kotagede kali ini berbeda dari tahun sebelumnya sehingga memiliki daya Tarik tersendiri bagi masyarakat diluar Kotagede untuk datang dan menikmati festival ini, bahkan pengujung terus berdatangan sampai festival ini berakhir.
Salah satu yang menjadi daya tarik dari festival ini adalah banyaknya tempat atau ruang yang disiapkan oleh pihak penyelenggara festival untuk pengunjung bisa berfoto mengabadikan peristiwa. Dekorasi-dekorasi menarik yang dihadirkan membuat pengunjung tidak ingin kehilangan momentum peristiwa dari Pasar Keroncong Kotagede. Bagi sebahagian pengunjung, terutama generasi muda, merupakan suatu kesempatan untuk bisa berfoto selfie ditempat yang telah disediakan. Tidak sedikit dari pengunjung yang datang pada saat itu untuk melakukan selfie, baik secara perseorangan, berpasangan dan juga bersama kelompok rombongan. Aktifitas selfie ini sangat mudah dilakukan, umumnya menggunakan kamera telepon selular yang saat ini bisa dikatakan hampir semua orang memilikinya.
 |
Salah satu dekorasi yang menarik perhatian Pengunjung di Pasar Keroncong Kotagede 2016 |
Bagi kebanyakan orang, berfoto memang merupakan aktifitas yang menyenangkan, apalagi jika dilakukan bersama orang-orang terdekat seperti pasangan ataupun teman. Keceriaan yang ditimbulkan dari aktifitas berfoto ini sesaat bisa menghilang kejenuhan rutinitas yang dilalui pada hari-hari biasa. Tentu semakin menarik apabila aktifitas berfoto ini dilakukan ditempat-tempat menarik seperti pada saat festival yang mana agenda penyelenggaraan festival biasanya digelar tahunan. Setiap tahun, walaupun pada tempat yang sama digelarnya festival, tentu konsep artistik dekorasi pun akan tidak sama.
Berfoto, dalam hal ini adalah akititas selfie, memang menjadi aktifitas budaya populer dari masyarakat global di abad 21 ini. Storey (2006) mendefenisikan “Budaya Pop” sebagai sesuatu yang “diabaikan” saat kita telah memutuskan sebuah budaya lain yang dapat kita sebut sebagai “budaya luhur. Aktifitas selfie ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan anak muda saja bahkan beberapa tahun lalu pejabat negara pun pernah melakukan aktifitas ini dan hasil fotonya pun tersebar luas melalui media massa. Marcy J. Dinius (2015) mengatakan dalam artikelnya bahwa sejarah mencatat aktifitas selfie – aktifitas memfoto atau memotret diri sendiri – sudah dilakukan jauh sebelum ditemukannya ponsel selular. Orang yang melalukan hal ini pertama kali adalah Robert Cornelius, ia mencoba eksperimen selfie ini pada tahun 1839.
Di era teknologi yang semakin modern seperti saat sekarang ini, aktifitas selfie jauh lebih mudah untuk dilakukan, cukup dengan memiliki sebuah ponsel selular (smartphone) aktifitas selfie bisa dilalukan dimana saja. Selfie saat ini seperti budaya populer baru yang mengglobal. Hal ini terjadi karena sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, melalui teknologi para pemilik perusahaan-perusahan besar dunia dengan mudah dapat menciptakan budaya baru yang “seragam”. Para pemilik modal melalui pasar yang dibentuknya sangat mudah tentunya menyebarkan budaya yang diinginkannya, dalam konteks ini teori difusi (persebaran) masih sangat relevan untuk melihat fenomena selfie sebagai bentuk budaya populer baru yang mengglobal. Di era serba digital ini, alat telekomonunikasi dan media massa yang kemudian sangat berperan dalam menyebarkan dan membentuk budaya-budaya baru.
Konsep lain yang diberikan oleh penyelenggara Pasar Keroncong Kotagede adalah dengan mengadakan lomba foto bagi pengunjung, hadiah yang diberikan pun cukup membuat pengujung tertarik untuk ikut berpartisipasi dalam lomba foto ini. Penyelenggara tidak membuat persyaratan yang cukup sulit, hanya dengan memasukan foto-foto tersebut kedalam jaringan sosial media seperti Instagram, kemudian penyelenggara menentukan pemenangnya. Secara teknis lomba foto ini cukup mudah untuk diikuti, sehingga memotivasi pengunjung untuk berfoto sebanyak mungkin dengan harapan bisa mendapatkan hadiah, tentu aktifitas memotret tersebut selain untuk mengikuti lomba foto yang diadakan, aktifitas tersebut juga dilakukan untuk mengabadikan moment selama berada di festival tersebut.
Perilaku Pengunjung Festival
Usaha yang dilakukan oleh pihak penyelenggara Pasar Keroncong Kotagede 2016 untuk memberikan yang terbaik bagi pengunjung festival tampaknya sangat maksimal. Grup orkes keroncong yang didatangkan dari berbagai kota, plus penyanyi-penyanyi kondang dari berbagai lintas genre. Hal itu masih ditambah pula dengan menyediakan beberapa tempat di kawasan pasar Kotagede yang sengaja disetting dengan sangat dekoratif, merchandise menarik yang dijual dengan harga terjangkau, kemudian ditambah dengan adanya lomba foto yang peserta lombanya bisa diikuti oleh siapa saja bagi mereka yang datang ke festival.
Namun yang menjadi perhatian menarik dari semua itu ialah kenyataan bahwa tidak semua pengunjung datang ke festival untuk menonton pertunjukan musik yang ditampilkan. Banyak dari pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dan mengabadikan pertunjukan dengan cara memotret grup orkes keroncong yang tampil, terlebih dengan adanya lomba foto yang diadakan oleh pihak penyelenggara festival.
 |
Dekorasi yang paling diminati sebagai tempat berfotoi oleh pengunjung di Pasar Keroncong Kotagede 2016 |
Tentu saja, menghadiri dan menikmati festival dengan cara mengabadikan moment dengan berfoto-foto merupakan salah satu cara melepaskan rasa jenuh dari rutinitas sehari-hari. Tapi kemudian muncul pertanyaan apakah pengunjung yang datang hanya untuk menikmati suasana festival dengan cara berfoto bahkan kalau boleh dikatakan datang hanya untuk mengikuti lomba foto yang diadakan tanpa harus menonton dan mengapresiasi seluruh pertunjukan yang ada dapat dikatakan apresian festival?
Jika hal ini benar terjadi, artinya pengunjung hanya tertarik terhadap bentuk lain dari apa yang ditawarkan oleh festival tersebut seperti lomba foto, dan menonton pertunjukan tidak menjadi alasan utama untuk menghadiri festival itu. Terlebih lagi bahwa jenis musik keroncong selalu diasumsikan jenis musik yang digemari generasi tua saja, walaupun pada kenyataannya asumsi ini bisa dikatakan tidak benar setelah melihat apa yang ditampilkan pada perhelatan Pasar Keroncong Kotagede lalu.
 |
Salah satu bentuk dekorasi yang digunakan sebagai Photobooth di Pasar Keroncong Kotagede 2016 |
Berdasarkan fenomena yang terjadi pada festival Pasar Keroncong Kotagede, apa yang dikatakan oleh Jo Mackellar cukup bisa menjelaskan tentang perilaku pengunjung Pasar Keroncong Kotagede, dalam hal ini Jo Mackellar (2014) menggunakan kata partisipan sebagai kata ganti pengunjung, dia mengatakan bahwa partisipan serius (pengunjung) datang ke suatu event khusus yang menarik untuk mencari tantangan baru dalam berbagai aktifitas dan perlombaan.
Merunut pada apa yang dikatakan oleh Mackellar diatas, tentu sebahagian dari pengunjung – walaupun tidak bisa dikatakan semuanya – festival Pasar Keroncong Kotagede tergolong sebagai pengunjung yang berperilaku serius yang datang untuk mencari kesenangan dan tantangan baru dalam berbagai aktifitas dan perlombaan. Jika dikatakan aktifitas ini merupakan bagian dari salah satu cara untuk melepaskan kejenuhan dari rutinitas harian, tentu hal ini juga merupakan solusi yang bisa lakukan pada saat itu.
Tak bisa dipungkiri, memang banyak orang datang mengunjungi festival dengan berbagai alasan dan motivasi yang berbeda-beda. Festival sebagai salah satu aktitas kebudayaan, didalam agendanya juga membentuk “budaya sendiri”, yang bisa diproduksi dengan berbagai cara. Lomba foto yang diadakan oleh Pasar Keroncong Kotagede juga membantu membentuk budaya selfie semakin populer ditengah masyarakat kita saat ini, walaupun sebenarnya budaya memotret diri sendiri (selfie) ini di Indonesia pun juga sudah telah lama ada, paling tidak beberapa tahun belakangan ini.
Lalu aktifitas selfie ini menimbulkan pertanyaan lain, mengapa orang senang berfoto di festival? Udo Merkel (2015) menjelaskan bahwa setiap festival dan event menciptakan dan menawarkan nilai-nilai khusus, yang membantu setiap individu-individu dan masyarakat atau komunitas untuk membuat pengertian tentang siapa mereka. Wacana yang diajukan Merkel itu kiranya cukup menjelaskan bahwa saat ini festival merupakan sebagai penanda kekinian, dan bagi pengunjung berfoto adalah upaya mengindentifikasi diri sebagai orang masa kini.
Setiap penyelenggara festival memang memiliki strategi yang berbeda untuk bisa mendatangkan pengunjung pada festival yang diselenggarakannya. Mengadakan lomba foto pun merupakan salah satu cara untuk mengundang pengunjung datang langsung ke lokasi festival. Dalam konteks ini, mengadakan lomba foto dalam disaat festival sedang berlangsung tentu tidak ada salahnya, pengunjung pun bisa memilih aktifitas apa yang ingin mereka lakukan saat berada dilokasi festival.
Tapi kemudian, jika pengunjung lebih tertarik untuk mengikuti aktifitas lain dari pada hadir untuk menonton sajian pertunjukan yang ada, bagi penyelenggara festival hal ini mungkin perlu dipertimbangkan lagi, karena akan menjadi tidak maksimal jika pengunjung datang hanya untuk mengikuti aktiftas lain sementara agenda inti dari festival seperti menyaksikan penampilan dari berbagai grup musik yang didatangkan kurang menarik perhatian, pertunjukan bukan lagi sebagai agenda utama dari sebuah festival musik.
Festival dan Budaya Selfie
Menurut Sejarah, festival telah menjadi bagian bentuk terpenting dari partisipasi sosial dan kebudayaan. Seperti dikatakan Andy Bennett (2014) festival menyampaikan dan membagikan nilai-nilai, ideologi, mitologi dan pada cara pandang yang baru bagi komunitas lokal tertentu. Pasar Keroncong Kotagede sebagai sebuah festival musik juga memiliki peranan dalam membangun dan membentuk kebudayaan. Didukung oleh teknologi yang modern, persebaran bentuk budaya baru akan sangat cepat tersebar, terutama dengan menggunakan perangkat telekomunikasi dan media massa.
Aktifitas memotret diri sendiri atau yang saat ini sudah lazim disebut dengan istilah selfie, merupakan suatu bentuk budaya populer baru yang mengglobal, karena isitilah selfie ini sangat populer bahkan pada tahun 2013 Oxford Dictionaries (kamus Bahasa Inggris) memasukan kata selfie kedalam susunannya berdasarkan pertimbangan sebagai kata yang sering digunakan untuk memotret diri sendiri.
Bisa dikatakan saat ini disetiap agenda festival-festival yang diselenggarakan, aktifitas selfie ini tidak pernah lupa untuk dilakukan, baik dilakukan secara perorangan, berpasangan, maupun berkelompok. Penyelenggara festival bahkan juga terkadang selalu menyiapkan tempat khusus di mana para pangunjungnya bisa berselfie untuk mengabadikan peristiwa. Aktifitas selfie saat ini seperti menjadi bagian yang tak terpisahkan pada saat festival. Ditengah kesibukan dan tuntutan hidup yang semakin padat dan banyak, mengujungi festival untuk melepaskan kejenuhan dari rutinitas harian tentu bisa juga dijadikan salah satu alternatif pilihan.
oleh teraseni | Jan 16, 2017 | Uncategorized
Senin, 16 Januari 2017 | teraSeni.com~
“Teater dengan segala kemampuannya, selalu menjadi tempat untuk bertindak dan bersikap bagiku. Ia mampu mengadakan tantangan bagi dirinya sendiri dan bagi penonton dengan memporak-porandakan visi, perasaan dan pendapat stereotipe yang telah mapan…lebih menggetarkan karena teater “tercitra” di dalam organisme pernafasan orang, dalam tubuh dan detak jantungnya.”
“Aktor melakukan penyerahan diri secara total. Ini adalah teknik trance, suatu teknik integrasi antara psikis dengan kekuatan tubuh aktor yang muncul dari pengenalan yang paling intim terhadap diri dan nalurinya yang memancar dari apa yang disebut trans lumination.” (Jerzy Grotowski, sutradara teater)
“Teater Melarat identik dengan konsep poor theatre-nya Grotowski. Yang penting dalam teater adalah aktor, bukan yang lain-lain.” (Tengsoe Tjahyono, aktor, sastrawan)
“Kekuatan aktor yang ditunjang modal dasar aktor yang ampuh inilah yang kemudian berkembang menjadi konsep ‘berangkat dari yang ada’” (Darmanto Radjab, aktor)
“Bagiku, tari itu ya tubuh, tubuh yang berbicara.” (Eko Supriyanto, koreografer, penari)
“A good dancer is a good dancer whatever style.”
“I was always working very hard, and I only wanted to be a dancer. My wish was only to dance. I found only that dancing was the way I expressed myself. And I found with music and with movement there was something that was me.” (Pina Bausch, koreografer, penari)
Pernyataan para tokoh, kreator dan seniman tersebut di atas menguatkan pandangan perihal tubuh sebagai sentral dalam penciptaan karya seni pertunjukan. Dalam katalog Festival Teater Jakarta (FTJ) 2016 disebutkan bahwa dalam kerja teater tubuh aktor adalah modal kerja utama pemanggungan. Namun demikian, telaah tentang tubuh dari berbagai perspektif belum banyak dilakukan.
Diskusi yang bertajuk Estetika dalam Tantangan Masa Kini adalah ruang yang dihadirkan guna mewadahi perbincangan atas tubuh dalam Seni Pertunjukan. Diadakan pada 6 Desember 2016 di lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), diskusi ini merupakan rangkaian perhelatan FTJ (21 November – 9 Desember 2016). Dua pembicara yang dihadirkan, A. Setyo Wibowo dan Heri Lentho, saya anggap mewakili pandangan tubuh dari latar belakang filsafat “timur dan barat”.
 |
A. Setyo Wibowo dan Heri Lentho
tampil sebagai pembicara Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/) |
Heri Lentho dalam pemaparannya mengingatkan saya akan kepekaan tubuh “timur” terutama dalam keterhubungannya dengan alam, yang beberapa kali saya tangkap pula dari pengalaman ketubuhan koreografer-penari, Sardono W. Kusumo. Dalam perjalanannya menyusuri Sungai Mahakam Kaltim, tiba-tiba pemandu sekaligus pengemudi perahu yang ditumpangi Sardono dan tim, menghentikan perahu dan meminta seluruh penumpang mengosongkan perahu, karena perahu akan dibalik. Hal itu harus dilakukan karena di hadapan mereka adalah arus berbahaya yang tidak mungkin dilalui.
Setelah itu dilakukan dan menunggu beberapa waktu di tepi sungai, datang sekelompok warga suku Dayak. Mereka masuk ke sungai membentuk formasi, melakukan gerakan-gerakan dan mengeluarkan suara-suara, menyerupai ritual tertentu. Kemudian satu-satu mereka menyelam dan muncul ke permukaan sungai dengan membawa barang-barang milik rombongan (termasuk elektronik), yang tercebur ke air ketika perahu dibalik. Semua barang terselamatkan.
Kali lain, Sardono menceritakan pengalamannya di pedalaman hutan Papua bersama suku Asmat. Ketika itu ia memiliki kesempatan menginap bersama mereka di tengah belantara hutan, dalam perjalanan ke suatu tempat. Di tengah malam, tiba-tiba salah seorang dari mereka terbangun dan mengeluarkan suara, mirip lolongan serigala. Setelah itu ia tertidur lagi. Suara itu rupanya merupakan respon terhadap suara lain di luar sana.
 |
Para Partisipan Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/) |
Heri Lento menuturkan pengalamannya berjumpa pak Marsudi, seorang penganut Hindu-Jawa. Beliau menari di upacara-upacara Hindu, dan dengan tariannya itu ia mampu menghubungkan tubuhnya dengan alam, sehingga turun hujan. Dari pengalaman itu Heri mempelajari bagaimana manusia menghidupkan inderanya.
Salah satu sumbernya adalah pengetahuan Hindu. Dalam pengetahuan Hindu termuat konsep tentang terbentuknya Bhuana Agung terutama pada Roh Agung menciptakan unsur halus berupa panca driyani (lima indera) pembangkit getaran dan menghasilkan lima benih unsur yang sangat halus tanpa bentuk, yaitu benih suara, benih warna, benih rasa, benih bau, dan benih sentuhan/peraba. Pada Bhuana Alit dalam tubuh manusia berwujud panca indera yaitu telinga, kulit, mata, lidah, hidung. Selain itu Heri juga merujuk Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, yang pada epilognya menyebutkan bahwa semua agama dan kepercayaan baik yang purba maupun yang terbaru, media bertemu tuhan adalah melalui musik.
Dari kedua rujukan tersebut Heri menemukan kunci yang selanjutnya ia kembangkan dalam proses kreatifnya, yaitu getaran. Selain getaran dalam bentuk bunyi yang bersumber dari tubuh maupun alat/benda, Heri melakukan pengolahan energi dan kekuatan tubuh. Baginya, akhir sebuah pertunjukan adalah potret yang merangkum nilai pertunjukan tersebut. Karenanya, energi getaran di sini harus benar-benar terasa sangat kuat. Lampu panggung yang meredup jusru harus mengesankan sebagai lampu kilat kamera yang memoret (inti) pertunjukan itu. Layaknya doa, energi pertunjukan harus terbawa pulang oleh penonton, tersimpan di dada dan terus melayang dalam imajinasi masing-masing.
 |
Para Partisipan Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/) |
Menurut Heri di sinilah teater/seni pertunjukan berfungsi memanusiakan manusia, yaitu teater yang menyalakan kembali fungsi ke-indera-an manusia seutuhnya. “Apa yang dimaksud seni mempunyai fungsi memanusiakan manusia?”, “Apakah manusia yang akan menonton seni pertunjukan nanti, sudah bukan manusia lagi?”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah perpanjangan dari pengamatan Heri bahwa tubuh manusia sekarang telah menjadi bagian kata kerja peralatan teknologi: alat transportsi modern (sepeda motor, mobil, pesawat, kereta api), komputer, telepon seluler, peralatan rumah tangga modern (kompor listrik, seterika, pemanas air, pendingin ruangan, oven, dll). Semua peralatan tersebut telah menjadi bagian rutinitas tubuh dari waktu ke waktu.
Menurutnya tubuh rutin manusia memerlukan relaksasi, raga dan jiwa, untuk penyegaran kembali keberadaan kemanusiaannya. Dalam posisi penyegaran inilah peran Seni Pertunjukan menjadi penting: Bagaimana teater dapat berperan sebagai ruang meditasi ketubuhan penonton.
Ia melihat, pada masyarakat yang maju, seperti Jepang, mereka melihat teater begitu penting. Bagi mereka menonton teater seperti menyegarkan tubuh yang mengalami kejenuhan dan kepenatan. Bahkan di sana sudah terlihat potret sosial masyarakat tampak di kehidupan teaternya. Teater Sehat = Masyarakat Sehat, Teater Sakit = Masyarakat juga sakit. Nah, pertanyaannya yang menggelitik adalah apakah potret kejiwaan masyarakat kita berbanding lurus dengan potret perteateran di negeri ini ?
Dualisme dan Monisme
A Setyo Wibowo menyampaikan bahwa dalam filsafat Barat terdapat dua pandangan perihal hubungan tubuh-jiwa. Yang pertama adalah pandangan “dualisme” yang berpendapat bahwa raga dan jiwa terpisah dan bertentangan. Jiwa adalah substansi berpikir, sadar diri, bebas, tidak material dan tidak memiliki keluasan, sebuah “aku”. Raga didefinisikan sebagai materi keluasan, substansi tanpa kualitas psikis, tanpa finalitas.
Cara berpikir modern menghabisi pola pikir magis animis (yang percaya bahwa materi punya daya psikis) dan menolak teori simpati kosmis (bahwa hidup tiap unsur di alam saling berinteraksi). Pandangan modern dualis ini yang kemungkinan membuat kita nyaman makan binatang-binatang tertentu, menebang pohon, mencari batu bara-tembaga-besi-emas, tanpa rasa bersalah karena kita menganggap semuanya hanya raga, materi keluasan tanpa kesadaran dan tanpa rasa.
Dualisme keras ini ditemukan dalam doktrin aliran Orphico—pythagorisme yang menganggap tubuh sebagai penjara dan kuburan bagi jiwa. Tanpa memusingkan bagaimana interaksi keduanya, sejauh raga dianggap amplop atau baju, maka jiwa memiliki hidupnya sendiri, reinkarnasi berkali-kali, bergonta-ganti baju (raga manuia, raga binatang). Raga adalah tempat ujian, tempat pemurnian, sarana bagi jiwa untuk kembali ke yang illahi.
Kedua adalah pandangan “monisme”. Ini adalah pandangan yang tidak peduli kekekalan jiwa, dan menganggap bahwa material adalah satu-satunya realitas. Di jaman kuno, monisme keras diungkapkan oleh Demokritos (segalanya adalah atom) dan Stoicisme (semua adalah tubuh). Baik jiwa maupun raga berasal dari satu prinsip, dari atom (demokritos) atau dari api (stoicisme).
Materialisme modern berpikir mirip: segala gejala psikis atau spiritual diterangkan lewat mekanisme material. Pikiran, emosi, dijelaskan lewat mekanisme molekul-molekul belaka. Wanita lebih mudah menangis dari pria, karena mereka makhluk perasa, tetapi karena hormon prolactyn yang lebih banyak di tubuh mereka daripada lelaki. Kata jiwa adalah sesuatu yang datang menempel pada apa yang landasan pokoknya proses fisis tubuh, aksi-reaksi kelenjar dan syaraf.
Versi lain dari aliran ini adalah teori korporalitas yang mengetengahkan bahwa “corps” (raga) adalah keseluruhan diri manusia, adalah subyektivitas manusia itu sendiri. Ada monisme lain yang tidak material, yang menekankan prinsip kesatuan jiwa-raga. Teori besar Aristoteles tentang Hylemorphisme (kesatuan jiwa dan raga), tanpa mengatakan apakah jiwa atau raga yang lebih utama, merupakan monisme formal.
Platon
Di tengah-tengah teori besar Dualisme dan Monisme, ada pendapat lain. Platon tidak membicarakan jiwa-raga sebagai dua hal yang beroposisi secara sejajar. Ia juga menerima dualitas jiwa-raga tanpa jatuh dalam dualisme orphico-phytagorisme.
Platon menjelaskan bahwa tubuh manusia adalah bagian dari tubuh alam semesta. Materi dasar alam semesta adalah “khora”. Ia misterius, gelap, tak bisa dipikirkan. “Ruang primordial” ini berisi empat macam bentuk padat yang sangat kecil, tidak kelihatan. Tiap bentuk padat bisa ditengarai sebagai unsur-unsur tradisional api (tetrahedron), udara (octahedron), air (icosahedron), tanah (kubus). Bentuk-bentuk padat itu bisa dipecah menjadi dua segitiga, yaitu segitiga sama sisi dan segitiga sama kaki. Proses pemecahan dan penggabungan dua segitiga inilah yang memungkinkan setiap elemen bercampur satu dengan lainnya untuk memunculkan tubuh alam semesta dan tubuh manusia.
Tubuh (soma) manusia adalah tanda (sema) sejauh jiwa adalah yang diprioritaskan Platon. Tubuh menjadi pertanda bagi jiwa yang menghuninya. Sejauh soma hanyalah sema, tubuh bersifat netral. Tubuh hanyalah memberikan indikasi tentang jiwa yang menghuninya. Yang jelas bagi Platon, prioritas ada pada jiwa, karena jiwalah yang menggerakkan raga.
Dalam versi modernnya, orang berbicara tentang kebertubuhan (Leib, daging, hidup, tubuh yang dihayati) yang dipandang lebih aktif daripada sekedar tubuh sebagai benda. Lewat raganya manusia mengalami dan mengekspresikan sesuatu yang lebih lagi.
Di satu sisi bahwa tubuh bisa menjadi obyek karena bisa “dipakai” sebagai alat. Di sisi lain, tubuh-obyek atau tubuh-alat ini juga dipakai untuk mengatakan sesuatu yang ia hayati dari dalam dirinya sendiri. Tubuh kita bisa menjadi obyek (alat) bagi diri kita yang mengungkapkan diri dengan tubuh itu juga (artinya sekaligus subyek). Lewat tubuh kita mengalami diri sebagai le touchant touchee (yang menyentuh adalah sekaligus yang disentuh).
Raga adalah sema / pertanda, persis karena raga selalu merujuk pada sesuatu yang lain dari dirinya. ‘Yang lain’ itulah yang banyak ditemukan oleh para kreator. Tubuh yang menyerap, mengalami, memproses, mengekspresikan, menerima lagi, demikian seterusnya.
oleh teraseni | Des 31, 2016 | Uncategorized
Sabtu, 31 Desember 2016 | teraSeni~
Teater ESKA pada tanggal 04 Januari 2017 ini akan melaksanakan Pentas Produksi XXXIII di Concer Hall, Taman Budaya Yogyakarta. Pentas yang akan dimulai pada pukul 19.30 WIB ini merupakan pungkasan dari pentas keliling tiga kota sebelumnya, yakni Purwokerto, Bandung, dan Bogor. Berturut-turut dari tanggal 12, 14, dsn 16 Desember 2016. Di Purwokerto pentas ini dilaksanakan di GSC IAIN Purwokerto, Bandung di Rumentang Siang, dan Bogor di Auditorium Toyib Hadiwijaya Fakultas Ekologi dan Manusia kampus IPB Dramaga.
 |
Salah Satu Adegan dalam Khuldi,
Pementasan Teater ESKA, Sutradara Zuhdi Sang |
Teater ESKA, yang telah berdiri sejak 1980an, melalui karya ini mengangkat isu sosial pasca reformasi dalam pentas berjudul KHULDI. Disutradarai oleh Zuhdi Sang, KHULDI merupakan teks yang diciptakan bersama oleh tim kreatif Teater ESKA, dengan penulis naskah Zuhdi Sang dan Ghoz TE, dua anggota aktif Teater ESKA. Ahmad Kurniawan, lurah Teater ESKA saat ini mengatakan, KHULDI menandai bahwa Teater ESKA terus produktif dan yang terpenting tetap berpegang pada satu prinsip bahwa spirit karya Teater ESKA tidak lepas dengan kajian keislaman. “Kami kelompok kesenian yang berbasis kajian keislaman seperti filsafat Islam, sejarah, dan sebagainya. dan kami juga terbuka pada alternatif kajian lain seperti kritik ideologi dan kajian budaya,” tutur Kurniawan.
Sementara terkait segmentasi penonton, Ramadan MZ, pimpinan produksi, menyatakan bahwa harapannya KHULDI ditonton semua kalangan, seperti masyarakat umum, pelajar maupun mahasiswa, akademisi atau pemerhati sosial dan sebagainya. Sebab isu yang dibawa pentas ini sangat relevan mengingat hari ini marak terjadi konflik horizontal di tubuh masyarakat. Baik konflik beda keyakinan atau agama, beda paham politik atau suku, maupun konflik disebabkan kepentingan ekonomi dan perbedaan klub sepak bola yang didukung. Karena itu KHULDI menjadi penting, sebagai tontonan KHULDI juga tajam membaca fakta sosial. “Kita semakin terpecah-pecah justru ketika kebebasan berpendapat yang tak ternilai harganya itu hadir di tengah masyarakat kita. Padahal tidak seperti ketika Orde Baru yang sedikit sekali ruang kebebasan,” kata Ramadhan MZ, sekaligus menjelaskan latar belakang pementasan KHULDI.
 |
Salah Satu Adegan dalam Khuldi,
Pementasan Teater ESKA, Sutradara Zuhdi Sang |
Faktanya, masyarakat terpecah-pecah karena partikularitas kelompok dan partikularitas nilai yang dianutnya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberagama partikular adalah syarat terbentuknya masyarakat, tetapi jika salah memahami keberagaman, keterpecahan tak lagi terelakkan. Itulah yang terjadi. Mengutip pemaparan sutradara, Zuhdi Sang, maka seperti suatu bangunan yang runtuh, kita kembali tergeletak di antara ‘ketiadaan’ sosial dan pertanyaan besar tentang apa itu masyarakat, bagaikan bongkahan batu yang berserak dan bergerak demi menentukan nasib sendiri.
KHULDI, merupakan metafora Teater ESKA atas kegagalan pemaknaan, pemujaan berlebihan kepada objek, dan keruntuhan sosial. Sebagaimana kisah Adam dan Hawa, demi adanya dunia maka buah terlarang itu harus ada. Dengan kata lain, di satu sisi keberagaman sebagai “khuldi-khuldi” adalah hal yang niscaya atau bahkan syarat bagi terbentuknya masyarakat. Namun di sisi lain ia adalah sumber petaka jika kita gagal dalam menyingkap makna atau nilainya. Berdasarkan hal itu, maka pementasan KHULDI pada dasarnya adalah sebuah refleksi atas perjalanan nasib sosial kita hari ini.
oleh teraseni | Des 24, 2016 | Uncategorized
Kamis, 24 Desember 2016 | teraSeni~
Merayakan Tahun Baru di Yogyakarta, tidak hanya bisa dirayakan di obyek-obyek wisata saja, namun juga dapat mengunjungi ruang-ruang alternatif lainnya, misalnya berkunjung ke toko buku Jual Buku Sastra (JBS). Jual Buku Sastra adalah toko buku yang menjual buku sastra, khususnya buku sastra indie, maupun buku sastra yang sudah tidak tersedia di toko buku, serta buku sosial-budaya. Selain menjual buku secara online di jualbukusastra.com, JBS juga punya toko offliner yang biasa disebut ‘KedaiJbS’, yang sekaligus menjadi ruang pertemuan para penulis, pecinta buku dan menjadi ruang diskusi mengenai fenomena serta kelahiran buku baru.
 |
| Tahun Baru di JBS Season 4 |
Setiap akhir tahun JBS mengadakan pameran buku tahunan bertajuk ‘TahunBarudiJBS,’ yang pada akhir tahun ini diselenggarakan dari tanggal Kamis 29 Desember 2016 hingga Senin, 2 Januari 2017, pukul 10.00-20.30 WIB di Kedai JBS, Jalan Wijilan, Gang Semangat no 150, Alun-alun Utara, Yogyakarta (Belakang Gudeg Yu Djum, Kompek Gudeg Wijilan). Penyelenggaraan ‘TahunBarudiJBS’ tahun ini merupakan yang keempat kalinya. Pameran tersebut menghadirkan diskon buku hingga 70%, sehingga dapat dipastikan seluruh buku yang pada hari biasa dijual dengan harga reguler, dijual dengan harga diskon. Harga mulai dari Rp.10.000,00.
 |
Diskusi bersama Gunawan Maryanto
dan Joko Pinurbo
di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha) |
Ada puluhan penerbit yang terlibat dalam pameran ‘TahunBarudiJBS’ kali ini, baik penerbit umum maupun penerbit indie. Sebagian besar buku yang ditawarkan adalah buku sastra. Tapi tidak saja berisikan pameran buku, pada sore hari hadirin ‘TahunBarudiJBS’ dapat menikmati hiburan berupa musik dan pertunjukkan sastra serta diskusi karya sastra. Rangkaian acara tersebut masih dilengkapi dengan beberapa acara lain, berupa workshop menulis esai dan puisi, diskusi mengenai sastra terjemahan dan peta penerbit di Jogja, serta launching beragam buku sastra.
 |
Para peserta dalam keseruan diskusiTahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha) |
Pada penyelenggaraan yang ke empat ini ‘TahunBarudiJBS’ mengundang puluhan penulis yang terlibat dalam berbagai rangkaian acara, mulai dari worshop, diskusi, launching buku, moderator, dan pembacaan karya. Workshop kepenulisan esai akan berlangsung bersama Muhidin M Dahlan, sedang workshop menulis puisi akan diisi oleh Hasta Indriyana. Launching buku sastra, yang terdiri dari puisi, cerpen, novel, jurnal puisi, karya terjemahan akan menghadirkan belasan penulis, di antaranya: Abu Wafa, Andy S Wahyudi, Aik Vela, An Ismanto, Astrajingga Asmasubrata, Berto Tukan, Dian Savitri, Hasta Indriyana, Hendrawan S. Thayf, Latief S. Nugraha, Mira MM Astra, Moh Syarir Hidayatulah, Muhammad Ali Fakih, Nunung Deni Puspitasari, Nurul Hanafi, Risda Nur Widia, S. Arimba, dan Zulkifli Songyanan.
 |
Bernard Batubara Membaca Puisi
di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha) |
Sementara itu diskusi mengenai dinamika penerbit Jogja akan diisi oleh Adhe, dan Eka Pocer serta Buldanun Khairi di mana ketiganya adalah pelaku dunia perbukuan di Yogjakarta yang pernah bergerak di industri penerbitan mayor maupun indie. Sementara untuk diskusi seputar pengalaman menterjemahkan karya akan hadir Tia Setiadi serta Chris Woodrich. Untuk menyemarakkan diskusi dan launching buku para moderator yang teribat terdiri dari sastrawan muda yang tinggal di Jogja. Mereka di antaranya adalah: Asef Saiful Anwar, Dahlia Rasyad, Fairuzuk Mumtaz, Irwan Bajang, Prima Suilistya Wardhani, Rozi Kembara dan Sedopati Sukandar. Sementara untuk MC di beberapa sesi akan dipandu oleh Ofix Okemix.
 |
Suasana Pameran
di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha) |
Rangkaian acara workshop diadakan jam 13.00 WIB pada 30 Desember 2016 dan 2 Januari 2017. Launching buku diadakan setiap jam 16.30 WIB, sementara untuk sesi diskusi akan berlangsung pada jam 18.20 WIB. Pameran buku sendiri diadakan setiap hari mulai jam 10.00-20.30 WIB, yang akan diikuti oleh puluhan penerbit indie dan penerbit reguler lainnya yang juga menerbitkan karya sastra. Ada pun acara lainnya adalah seni pertunjukan, baik saat pembukaan maupun penutupan acara ataupun di sela-sela acara yang lain. Para pengisi acara di antaranya adalah: Alif Rahmadani, Andy SW, Gunawan Maryanto, Iqbal H. Saputra, Kedung Dharma Romansha, Kelompok Hidup, Maharani Khan Jade, Misbah, Raedu Basha, Reddy Suzayzt, Retno Iswandari, Sasmita Serta Yulionooo Singsoot.
 |
Diskusi buku puisi Yopi Setia
Umbara dan Nisa Rengganis bersama
Dea Anugrah di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha)
|
Jangan lupa, selama acara berlangsung akan ada banyak ‘kadobuku’ untuk pengunjung. Seluruh rangkaian acara nantinya akan disiarkan secara live oleh radiobuku.com dan bisa diikuti d twitter/IG @jualbukusastra dan FB jual buku sastra. Di ketiga media online tersebut juga menyediakan ‘kadobuku’ untuk foto yang dishare selama event berlangsung. Dan apabila ada peserta di luar Yogyakarta yang berminat untuk membeli buku-buku yang terdapat di pameran, buku dapat dibeli melalui website www.jualbukusastra.com. Penjualan online akan diadakan selama pameran berlangsung. Informasi dan kerjasama bisa menghubungi 0818-0271-7528, atau (0274) 2872022.
Nah, kurang seru bagaimana lagi?