Pilih Laman
Mengubah Warung Ketupat menjadi Panggung Bakat: Transformasi Teater Sambilan Ruang Menuju Lembaga Seni Berkelanjutan Melalui PISN

Mengubah Warung Ketupat menjadi Panggung Bakat: Transformasi Teater Sambilan Ruang Menuju Lembaga Seni Berkelanjutan Melalui PISN

Di tengah riuh festival seni nasional dan gegap gempita pertunjukan modern, ada sebuah cerita kesenian yang lahir dan tumbuh dari ruang yang sederhana: sebuah lapau (warung tradisional) di Nagari Lubuak Batingkok, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Di sinilah Grup Teater Sambilan Ruang — yang juga menyebut diri sebagai Kelompok Sandiwara Sambilan Ruang — berproses. Mereka bukanlah seniman akademisi yang bergelar, melainkan pedagang, petani, ibu rumah tangga, dan pemuda lokal yang memiliki semangat bersama untuk melestarikan cerita dan nilai-nilai Minangkabau melalui teater.

Namun, di balik semangat itu, tersimpan sejumlah tantangan klasik yang menghambat perkembangan mereka: keterbatasan akses pelatihan, isolasi jaringan, ketiadaan status hukum, serta minimnya peralatan teknis pendukung pertunjukan. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang digagas Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, kelompok ini tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan komprehensif menuju kemandirian sebagai lembaga seni berbadan hukum.

Akar Masalah: Antara Semangat dan Keterbatasan

Didirikan pada 11 November 2011 oleh sejumlah mahasiswa seni teater, Teater Sambilan Ruang sejak 2014 telah bertransformasi menjadi grup teater organik yang melibatkan warga lokal dalam setiap produksinya. Karya-karya mereka — seperti Cadlak Patah (2016), Bayang Kaki Limo (2022), dan Renteng Langsai (2024) — kerap mengangkat tema-tema aktual masyarakat Minangkabau dengan bahasa lokal yang kental.

Meski telah tampil di berbagai festival seperti Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Barat dan Djakarta International Theatre Platform, mereka masih bergulat dengan tiga masalah utama. Pertama, kelompok ini belum memiliki sistem pelatihan dan metode artistik yang khas, sehingga identitas kelompok kurang terdefinisi dengan baik. Kedua, Teater Sambilan Ruang belum memiliki badan hukum, yang menutup akses terhadap bantuan pemerintah, hibah, dan program pendanaan lainnya. Dan Ketiga, sebagai akibatnya, grup ini belum mampu menghasilkan sistem produksi mandiri yang melibatkan penjualan tiket atau donasi, sehingga masih sangat bergantung pada undangan festival. Selain itu, fasilitas yang mereka miliki sangat sederhana: lapau sebagai ruang latihan, sound system portabel, dan properti seadanya. Akses terhadap lighting, set panggung, dan peralatan teknis lainnya hampir tidak ada.

Intervensi Program: Pelatihan yang Mengakar, Pendampingan yang Menyeluruh

Program PISN 2025 hadir dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Project-Based Training, yang memastikan bahwa seluruh proses dilakukan secara kolaboratif dengan anggota grup. Tim yang diketuai Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.A., bersama Fresti Yuliza dan Naufal Hibatullah, tidak sekadar memberikan pelatihan teknis, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan.

Inovasi Artistik: Dramaturgi Realisme Minangkabau dan Skenografi Ideogram

Dua konsep ini menjadi jantung program pelatihan artistik. Pertama, Dramaturgi Realisme Minangkabau menggabungkan pendekatan realisme Barat dengan estetika dan konteks sosial Minangkabau. Naskah yang dihasilkan menggunakan bahasa sehari-hari, mengangkat konflik tradisi-modernitas, dan menampilkan karakter yang dekat dengan realita masyarakat setempat. Kedua, Skenografi Ideogram mengutamakan simbol-simbol visual esensial yang dibuat dari bahan lokal, daur ulang, dan proyeksi digital, menciptakan panggung yang minimalis namun penuh makna. “Kami tidak ingin mereka kehilangan akar budaya, justru itulah kekuatan utama yang harus dikemas dengan pendekatan kontemporer,” ujar Dede Pramayoza, yang juga berperan sebagai dramaturg dan pelatih akting.

Selain pelatihan akting, olah tubuh, vokal, dan analisis karakter, anggota grup juga dilatih dalam manajemen produksi teater. Mereka diajarkan menyusun proposal, anggaran produksi (RAB), timeline, strategi pemasaran sederhana, hingga sistem dokumentasi dan pelaporan keuangan. Tim PISN juga mendampingi proses penyusunan AD/ART, pengurusan Akta Notaris, hingga pengajuan SK Kemenkumham. Legalitas ini diharapkan membuka pintu akses pendanaan, hibah, dan kolaborasi yang lebih luas. Sebagai bagian dari program, diserahkan peralatan panggung senilai Rp 23,2 juta, termasuk: Lampu Par LED, Lampu Fresnel, Mixer Lighting, proyektor, layar, dan Mic Wireless. Peralatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas pertunjukan, tetapi juga menjadi aset berharga untuk produksi mandiri ke depannya.

Hasil yang Terlihat: Dari Naskah hingga Panggung Uji Coba

Dalam kurun waktu enam bulan, program ini telah mencatat sejumlah capaian signifikan. Capaian utama adalah sebuah naskah lakon baru berjudul Bayang Kaki Limo dengan pendekatan dramaturgi realisme Minangkabau. Berbarengan dengan itu, juga telah terjadi peningkatan kapasitas artistik para anggota, yang ditunjukkan dengan peningkatan kemampuan dan teknik akting, pemahaman atas konsep skenografi, dan kemampuan analisis karakter. Berangkat dari hasil itu, maka sebuah pementasan uji coba kemudian dilaksanakan di SD Nagari Lubuak Batingkok dengan jumlah penonton sekitar 100 orang.

Hal ini menjadi pijakan awal menuju produksi mandiri berbayar. Simultan dengan itu, juga berlangsung proses legalitas, ditandai dengan dirumuskan dan diajukannnya draft AD/ART Grup untuk diterbitkan sebagaai Akta Notaris dan SK Kemenkumham, yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi. Hal yang tak kalah pentingnya adalah pembuatan Portofolio Dokumentasi, dimana saat ini proses editing video dan foto dokumentasi sedang berjalan untuk keperluan promosi dan arsip. Secara finansial, realisasi anggaran telah mencapai 65% dari total dana yang disetujui, dengan sebagian besar dialokasikan untuk pelatihan, pendampingan, dan pengadaan aset teknologi.

Tantangan di Tengah Jalan dan Solusi Kreatif

Kendati demikian, tidak semua proses berjalan mulus. Tim dan anggota grup menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan waktu adalah masalah utama. Pasalnya, sebagian besar anggota bekerja di siang hari, sehingga latihan harus dialihkan ke malam hari dan akhir pekan. Selain itu, anggaran yang terbatas mengharuskan desain skenografi akhirnya disederhanakan dengan memanfaatkan bahan lokal dan daur ulang, serta mengoptimalkan proyeksi digital. Di sisi lain, proses hukum juga memakan waktu. Pengurusan badan hukum membutuhkan waktu lama. Solusinya, tim mempercepat koordinasi dengan notaris dan pihak Kemenkumham. “Kami belajar bahwa seni tidak hanya soal konsep, tetapi juga tentang mengelola keterbatasan dengan kreativitas,” tutur Fresti Yuliza, yang bertanggung jawab pada pendampingan manajerial.

Rencana Ke Depan: Menuju Kemandirian dan Jejaring yang Lebih Luas

Program PISN ini tidak berhenti pada pelatihan dan pendampingan. Rencana tindak lanjut telah disusun, termasuk: Penyelesaian Dokumen Badan Hukum: Targetnya adalah terbitnya Akta Notaris dan SK Kemenkumham dalam waktu dekat. Selain itu Pementasan Publik Skala Lebih Besar: Menyelenggarakan pertunjukan dengan target 150 penonton berbayar atau donasi. Tentunya hal itu perlu pula didukung dengan Publikasi dan Dokumentasi Final: Mengunggah portofolio ke media sosial dan mengirimkan karya ke festival seni.

Secara lebih jauh, melalui pelaksanaan PISN ini, diharapkan Kelompok Teater Sambilan Ruang memiliki kemempuan untuk menjalin Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata, agar mereka berkenan memasukkan kegiatan Teater Sambilan Ruang ke dalam kalender wisata daerah. Tentunya, hal yang tak kalah pentingnya adalah Pelatihan Lanjutan, Khususnya di bidang digital marketing dan manajemen keuangan, untuk mendukung kemandirian finansial grup.

Refleksi: Lebih dari Sekadar Pelatihan, Ini Adalah Pemberdayaan

Program PISN 2025 untuk Teater Sambilan Ruang bukan sekadar proyek pelatihan sesaat. Ini adalah proses pemberdayaan yang menyentuh aspek artistik, manajerial, legalitas, dan teknologi. Yang paling penting, program ini dilaksanakan dengan prinsip partisipatif — anggota grup tidak hanya sebagai penerima, tetapi sebagai subjek yang terlibat aktif dalam setiap tahapan. Mereka kini tidak hanya lebih percaya diri di panggung, tetapi juga memiliki alat, pengetahuan, dan jalan menuju legitimasi hukum yang akan membuka banyak pintu baru. Di tangan mereka, teater bukan lagi sekadar hiburan, tetapi medium pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan wahana ekspresi yang berkelanjutan. “Kami sekarang punya bekal untuk tidak hanya pentas, tapi juga mengelola diri sebagai lembaga seni yang mandiri dan diakui,” kata Fitri Noveri, sutradara Teater Sambilan Ruang, penuh harap.

Penutup: Seni yang Tumbuh dari Akar, Berkembang dengan Ilmu

Kisah Teater Sambilan Ruang adalah bukti bahwa seni tradisi dan kontemporer dapat bersinergi, bahwa keterbatasan tidak harus menjadi penghalang, dan bahwa pendampingan yang tepat dapat mengubah kelompok seni komunitas menjadi lembaga yang profesional dan berdaya tahan. Mereka mengajarkan kita bahwa inovasi tidak harus meninggalkan tradisi, dan bahwa legalitas bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah langkah strategis menuju kemandirian. Dari warung tradisional di Lubuak Batingkok, kini mereka siap melangkah ke panggung yang lebih luas — dengan identitas yang kuat, legalitas yang jelas, dan semangat yang tak lagi terbendung.

Artikel ini disarikan dari Laporan Kemajuan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 oleh Institut Seni Indonesia Padangpanjang, yang dilaksanakan atas dukungan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Selirih Dua Kota; Tur Pertunjukan Teater “Malin Kundang Lirih” — Jakarta & Bojonegoro, Desember 2025

Selirih Dua Kota; Tur Pertunjukan Teater “Malin Kundang Lirih” — Jakarta & Bojonegoro, Desember 2025

Komunitas ActorIdea Padangpanjang kembali akan menapaki satu perjalanan penting di jalur kesenian mereka. Sebuah perjalanan yang mereka bangun dari perjumpaan, serta kerja-kerja kolektif. Kali ini, lakon “Malin Kundang Lirih” akan mereka bawa melintas dibeberapa kota di Indoensia dalam rangkaian tur bertajuk “Selirih Dua Kota”. ActorIdea merupakan komunitas seni yang tumbuh dari inisiatif Wanda Rahmad Putra, Fajar Eka Putra, dan Akbar Munazif, yang sejak 2021 membangun ruang berkesenian di Padangpanjang. Komunitas ini tidak hanya memproduksi pertunjukan, tetapi juga menempatkan diri sebagai ruang belajar kolektif tentang seni akting dan teater. Di dalamnya, praktik panggung senantiasa disandingkan dengan produksi wacana, pembuatan konten, serta aktivitas literasi, menjadikan ActorIdea sebagai ekosistem kecil tempat eksperimen artistik dan pengetahuan saling berkelindan.

Pertunjukan dibeberapa kota ini bagi Actoridea tentu tidak hanya sebuah penjelajahan yang bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi juga upaya merawat ingatan tentang cerita rakyat dalam lanskap budaya hari ini, kontemporer. Perjalanan pertama rencananya akan dilabuhkan di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada 10 Desember 2025, dalam program Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST). Sebuah ruang temu yang digarap bersama oleh Lab Teater Ciputat (LTC) dan MTN Seni Budaya. Lalu, beberapa hari kemudian, rombongan ini akan bergerak ke kota kedua, tepatnya di Gedung Hall Suyitno, Universitas Bojonegoro, 14 Desember 2025. Bersama Yayasan Teman Penggerak Indonesia (YTPI), Teater Geniwara, dan Kolektif Ataraksa.

Sebelumnya, “Malin Kundang Lirih” telah lebih dulu menguji “kelirihannya” dan mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dimana “mitos” ini tumbuh. Di Gedung Teater Arena Mursal Esten ISI Padangpanjang, dalam program Lab Indonesiana, Dapur LTC 2024. Sebagaimana Sumatera Barat, tentu tidak ada yang tidak jadi bahan untuk didialogkan. Karya ini pun kemudian mendorong percakapan-percakapan baru. Karya ini menjadi semacam pembacaan ulang atas mitos, dengan bahasa yang lain. Dengan tubuh teater kontemporer. Pementasan berikutnya di Padang, pada 6 November 2025, dalam momen Pergelaran Seni Peringatan Sumpah Pemuda & Hari Pahlawan di Taman Budaya Sumatera Barat.

Sesungguhnya, bagi ActorIdea, tur keluar dari landscape budaya “Malin Kundang” ini bukan sekadar perjalanan pertunjukan, tetapi upaya memperluas percakapan lintas budaya. Mengenai maskulinitas, pengalaman perantauan, hingga kerentanan identitas. Tema-tema yang tentu terus bergerak seiring pengalaman-pengalaman penonton yang berbeda, ruang yang berubah, serta konteks sosial yang senantiasa membuka diri bagi tafsir baru. “Malin Kundang Lirih” sebetulnya adalah sebuah naskah monolog karya Pandu Birowo. Staf pengajar di jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Melalui naskah ini, Malin ditempatkan bukan lagi sekadar figur dalam dongeng moral. Ia adalah sosok manusia yang dibentuk oleh arus budaya rantau. Sebuah tradisi yang menjadi semacam jalan hidup sekaligus medan uji bagi anak laki-laki Minang. Dalam tafsir ini, panggung dibayangkan sebagai ruang intim bagi Malin untuk bisa diperdengarkan. Bukan kutukan sebagaimana yang selalu dilekatkan padanya, melainkan lapisan-lapisan pergulatan dirinya. Keraguan yang mengendap, rasa salah yang tak selesai, ambisi yang menggerakkan, serta kegelisahan yang menandai perjalanan seorang pemuda yang tengah merumuskan dirinya sebagai subjek sosial.

Sebagai bagian dramatik, jejak tradisi Minangkabau, khususnya Randai dan Tupai Janjang akan senantiasa menemani Malin dalam pertunjukan ini. Legaran, silek, tari, dendang, dan kostum kemudian menjadi bagian yang tidak kalah penting. Tetapi, unsur-unsur itu tidak dihadirkan sebagai masa lalu yang hanya sebagai tempelan-tempelan semata. Tetapi sebagai teknik tubuh dan pengetahuan kultural yang hidup. Ia kemudian diramu dalam estetika teater modern. Dengan begitu, pertunjukan ini seakan hendak menciptakan jembatan yang akan mempertemukan antara yang tradisional dan kontemporer. Menariknya, sebagaimana sebuah monolog, tokoh Malin tidak dibiarkan sepi sendiri dalam igauannya. Ia ditemani dan dikelilingi oleh pemain legaran, tukang kaba, dan seorang pendendang yang memerankan tokoh lainnya, ibunya. Kehadiran mereka tidak hanya berfungsi sebagai penanda perpindahan suasana, akan tetapi pembawa suasana dramatik, dan penjaga ritme yang mengatur napas cerita.

Bagian kelirihan Malin sengaja ditempatkan pada akhir pementasan sebagai momen pecahnya ketegangan. Setelah penonton mengikuti alur cerita melalui kekuatan tutur sejak awal, adegan penutup yang pelan, rapuh, dan menundukkan diri itu menghasilkan kontras emosional yang tajam. Kelirihan tersebut tidak hanya menguatkan tema, tetapi juga menempatkan kisah Malin dalam cakupan yang lebih luas, melampaui batas etnis Minangkabau. Sebagai pergulatan manusia yang berhadapan dengan ekspektasi, asal-usul, dan beban identitas.

Menelusuri konteks sosial Malin di perantauan

Jakarta dan Bojonegoro, sebagai dua titik penting dalam perjalanan tur ini, ditempatkan bukan sekadar lokasi pementasan, tetapi untuk menelusuri ruang sosial yang barangkali ikut membentuk Malin. Selain itu, tentu juga untuk membuka percakapan baru tentang rantau sebagai pengalaman lintas budaya. Jakarta, dengan ritme metropolis yang padat dan hiruk-pikuk mobilitas ekonominya, memperlihatkan wajah perantauan yang keras, kompetitif, tekanan-tekanan sosial yang tidak terlihat tetapi menghimpit, serta tempat bergulirnya negosiasi identitas yang harus terus diperbarui di tengah kota yang nyaris tak memberi jeda.

Berbeda dengan Bojonegoro, yang memberikan lanskap sosial yang lain. Di kota dengan dinamika desa-kota, kehidupan kampus, serta komunitas muda yang aktif. Dimana gagasan merantau sering dipahami sebagai proyeksi harapan generasi, yakninya sebuah dorongan untuk “pergi demi masa depan” yang sudah tentu membawa serta beban ekspektasi keluarga dan masyarakat. Lingkungan ini memunculkan refleksi tentang bagaimana impian dan tekanan saling berkelindan dalam jalan hidup anak-anak muda.

Dalam dua ruang yang kontras inilah, figur Malin ingin ditemukan kembali, dan sekaligus dieja ulang. Lagi-lagi, tentu saja bukan hanya sebagai tokoh legenda, tetapi sebagai perwakilan manusia yang tumbuh dalam pusaran tuntutan kesuksesan sekaligus rapuh oleh ketidakpastian hidup. Menjadi simbol manusia yang dibentuk oleh tuntutan kesuksesan, sekaligus korban dari ketidakpastian yang lahir dari hidup itu sendiri.

Pendeknya, melalui tur “Selirih Dua Kota,” ActorIdea mengajak publik, komunitas seni, para akademisi, dan masyarakat luas untuk menyelam kembali ke dalam mitos Malin Kundang. Tetapi tentu bukan sebagai cerita yang beku, tetapi sebagai pengetahuan budaya yang terus berubah bentuk sesuai konteks zaman. Karya ini tidak mengajukan satu kebenaran atau kesimpulan akhir. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi penonton untuk merasakan, menafsirkan, dan mempertanyakan ulang relasi mereka dengan tanah asal, perjalanan hidup, dan masa depan dalam budaya rantau yang terus tumbuh, bergerak, dan menuntut negosiasi diri di setiap langkahnya.

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Indonesia Performance Camp (IPC) berawal pada 2019 melalui Padangpanjang Butoh Camp, sebuah kolaborasi antara Indonesia Performance Syndicate (IPS) dan Shinonome Butoh Tokyo, Jepang, yang mempertemukan teknik Butoh dengan Total Body Performance Method (TBPM) berbasis Tapuak Galemboang dan Silek Minangkabau. IPC sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, namun hadir kembali sebagai laboratorium ketubuhan yang membuka ruang riset dan pertukaran artistik lintas generasi dan lintas disiplin. 

Pada IPC 2024, Indonesia Performance Syndicate bersama Komunitas Seni Nan Tumpah, Nusantara Art, dan Fabriek Bloc menghadirkan Mutsumi, Neiro, dan Wendy HS sebagai pemateri, dengan 20 peserta terpilih pada 10–13 September 2024 di Ruang Artistik Fabriek Bloc. Pembiayaannya dikumpulkan secara gotong royong oleh lembaga penyelenggara.

Memasuki 2025, IPC kembali menegaskan posisinya sebagai ruang yang mendorong performer menemukan bahasa tubuhnya sendiri—bahasa yang berakar pada lokalitas sekaligus terbuka pada eksperimen dan percakapan global. Dengan kolaborasi berbagai komunitas serta kehadiran mentor internasional, IPC berharap melahirkan generasi performer yang reflektif, peka, dan berani merumuskan ulang masa depan seni pertunjukan Indonesia. 

IPC 2025: 

Setelah sukses menyelenggarakan Indonesia Performance Camp (IPC) 2024 dengan menghadirkan seniman Butoh Mutsumi-Neiro dari Jepang–Yugoslavia, IPC 2025 akan kembali digelar pada 9–11 November 2025 di Fabriek Padang dan Pustaka Steva, Sumatera Barat.

Tahun ini, IPC mengangkat tema “Praktik Dramaturgi Postdramatic dalam Pertunjukan Kontemporer”, sebuah kerangka kerja yang mengajak performer menelusuri tubuh sebagai arsip hidup—ruang pertemuan antara memori personal, tradisi, pengalaman sosial, dan gagasan artistik.

Dengan tema tersebut, IPC 2025 difokuskan untuk memperkuat kemampuan teknis, membuka ruang riset tubuh, dan mendorong eksplorasi artistik yang berpijak pada konteks budaya Sumatera Barat sekaligus relevan dengan percakapan global. Seluruh rangkaian kegiatan dikemas dalam bentuk workshop, pertunjukan apresiasi, dan diskusi.

Penyelenggaraan IPC tahun ini dilakukan secara kolektif oleh Indonesia Performance Syndicate (IPS), Kalabuku, Komunitas Seni Nan Tumpah, Nusantara Art, Komunitas Seni Hitam Putih, Pustaka Steva, Teraseni, dan Fabriek Padang. 

Wendy HS, pimpinan IPS, menjelaskan bahwa IPC berupaya menghadirkan ruang bagi performer untuk membaca ulang tubuh mereka—apa yang ia simpan, warisi, dan pertahankan— serta bagaimana tubuh dapat berbicara melampaui bentuk pertunjukan yang naratif dan konvensional. Tema ini dipilih untuk menjembatani metode ketubuhan tradisi dengan praktik postdramatic yang lebih cair, eksperimental, dan berbasis pengalaman langsung. “IPC berupaya menghadirkan ruang belajar yang menumbuhkan cara kerja seni yang reflektif, terstruktur, dan bertanggung jawab pada konteks budaya masing-masing performer,” ujarnya. (7/11). Wendy menambahkan bahwa IPC 2025 memiliki tiga fokus utama: memperdalam kapasitas teknis performer, membuka ruang kolaborasi lintas disiplin, dan memperkuat regenerasi seni pertunjukan di Sumatera Barat.

Workshop Dramaturgi Postdramatic

Workshop Dramaturgi Postdramatic ini dirancang sebagai ruang temu lintas-komunitas yang membuka dialog setara antarpraktik seni. Peserta berasal dari berbagai latar—teater, tari, musik, hingga seni visual—yang akan belajar bersama, berbagi metode, dan membangun jejaring baru.  Melalui enam sesi workshop, mereka diajak mengolah tubuh sebagai pusat penciptaan; tidak hanya memproduksi bentuk, tetapi memahami proses: bagaimana tubuh merekam keseharian, bereaksi terhadap ruang, menyimpan ketegangan sosial, dan bagaimana seluruh pengalaman itu dirangkai menjadi struktur pertunjukan kontemporer.

Workshop ini akan dipandu oleh Kai Tuchmann, dramaturg dan sutradara dengan pengalaman luas di Eropa dan Asia, serta Ibed S. Yuga dari Kalanari Theatre Movement, Yogyakarta. Kai Tuchmann adalah sutradara, dramaturg, dan akademisi lulusan Akademi Drama Ernst Busch Berlin, dikenal melalui praktik teater dokumenter dan kecenderungannya menantang batas-batas dokumentasi. Secara tematis, karya-karyanya mengkaji kehidupan pasca–Revolusi Kebudayaan Tiongkok, dampak pembangunan perkotaan terhadap pekerja migran, dan penerapan teknologi digital. 

Saat ini ia menjadi dramaturg untuk karya koreografi Lian Guodong A Poem to the Unknown, serta mengembangkan proyek Dear Dead Doctor bersama Kiran Kumar dan Matthias Härtig di Academy for Theatre and Digitality, Dortmund—sebuah karya yang memadukan koreografi dengan hologram digital. 

Antara 2013–2018, Kai berkolaborasi dengan kelompok teater independen Tiongkok seperti Living Dance Studio, Caochangdi Workstation, dan Grass Stage, dengan karya yang diundang ke Zürcher Theaterspektakel, Kunstfest Weimar, Festival d’Automne à Paris, dan Asia Society New York. Ia juga aktif mengajar di Universitas Beijing, University of California Santa Cruz, dan Jawaharlal Nehru University, serta pernah menjadi Fulbright Scholar di City University of New York, tempat ia menyelesaikan buku Situating Visibility – Dramaturgies of The Real in Dialogue

Sementara itu, Ibed S. Yuga adalah sutradara, penulis lakon, dan pendiri Kalanari Theatre Movement Yogyakarta yang aktif sejak 2012, dengan pengalaman panjang dalam penyutradaraan dan penulisan teater sejak awal 2000-an. Ia memulai perjalanannya melalui komunitas Seni Teku yang ia dirikan dan pimpin hingga 2011, menghasilkan sejumlah lakon yang kemudian diterbitkan dalam berbagai buku seperti Kintir, Di Luar 5 Orang Aktor, 10 Lakon Teater Indonesia, New Indonesian Plays, hingga States of Crisis

Karya-karyanya pernah dianugerahi Penghargaan Umar Kayam dan dipresentasikan di berbagai negara termasuk Irlandia, Jepang, Singapura, Malaysia, Inggris, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jerman. Selain sebagai sutradara dan peneliti teater, Ibed dikenal melalui tulisan-tulisannya tentang budaya Bali dalam buku Bali Tanpa Bali, serta aktif sebagai editor di Kalabuku. 

Secara keseluruhan, workshop ini tidak diarahkan untuk menghasilkan karya siap pentas, melainkan membuka kembali hubungan peserta dengan tubuhnya. Setiap sesi menjadi proses membaca pola lama, menemukan kemungkinan lahirnya pola baru, serta melatih kepekaan tubuh terhadap ruang, suara, cahaya, dan keberadaan tubuh lain. 

Pendekatan gabungan antara Kai dan Ibed menciptakan lanskap latihan yang intens sekaligus reflektif, memungkinkan peserta mengembangkan bahasa tubuh yang lebih jujur dan kontekstual.

“Lewat workshop ini, peserta diharapkan tidak hanya mengembangkan keterampilan tubuh, tetapi juga kemampuan bekerja kolektif, terbiasa dengan proses kreatif yang berbasis riset, serta memiliki sensitivitas terhadap ruang sosial dan budaya di sekitarnya,” jelas Wendy.

Pertunjukan Apresiasi

Pada 9 dan 10 November, bertempat di ruang Exhibition Fabriek Padang, IPC akan menghadirkan pertunjukan apresiasi. Nantinya akan ada pertunjukan dari Indonesia Performance Syndicate dan Teater Hitam Putih yang menjadi ruang demonstrasi metode dan gagasan, sekaligus kesempatan untuk membaca bagaimana tubuh, ruang, dan dramaturgi bekerja di tangan para praktisi dengan pendekatan berbeda. 

Minggu, 9 November 2025 pukul 20.00 WIB, akan tampil Soliloque Perburuan oleh sutradara Wendy HS, produksi Indonesia Performance Syndicate. Karya ini membaca ulang naskah legendaris Wisran Hadi melalui pendekatan tubuh dan pengalaman batin aktor. Pertunjukan menelusuri kegelisahan manusia Minangkabau yang berhadapan dengan pergeseran nilai antara tradisi dan realitas modern, ketika tubuh tunggal aktor menjadi ruang pergulatan ide, keyakinan, dan pertanyaan eksistensial tentang pendidikan di negeri ini.

Sementara itu, pada Senin, 10 November 2025 di jam yang sama, akan dipentaskan Pintu, disutradarai oleh Yusril Katil dan ditulis oleh T. Wijaya, Nasrul Aswar, dan Yusril Katil, produksi Komunitas Hitam Putih Padangpanjang. 

Karya Pintu mengajak penonton merenungkan kehidupan pascapandemi, ketika teknologi digital mengubah cara kita memahami batas ruang. Teknologi memang mendekatkan, tetapi sekaligus menciptakan jarak baru yang membuat manusia semakin terasing. Dalam konteks ini, pintu tidak lagi sekadar batas fisik, tetapi menjadi ambang virtual antara koneksi dan kesendirian—simbol dunia yang perlahan menjauh dari kenyataan.

Diskusi

Selain program workshop dan pertunjukan, IPC juga menghadirkan forum diskusi yang melibatkan pemateri, akademisi, dan penggiat seni untuk membahas arah perkembangan pertunjukan kontemporer serta tantangan ekosistem seni di Indonesia, khususnya Sumatera Barat. 

Forum ini menjadi ruang penting untuk memperluas wawasan peserta bahwa kerja tubuh tidak pernah terpisah dari kerja budaya dan kerja pengetahuan. Dengan mempertemukan perspektif akademik, pengalaman lapangan, dan praktik artistik, diskusi ini membuka percakapan yang lebih menyeluruh mengenai posisi seni pertunjukan hari ini. 

Forum akan menghadirkan narasumber Kai Tuchmann, Ibed Surgana Yuga, Wendy HS, Tatang R. Machan, dan Mahatma Muhammad, dengan Thendra BP sebagai moderator. Diskusi akan diselenggarakan pada Senin, 11 November 2025 pukul 20.00 WIB di Pustaka Steva, Jalan Pagang Raya No. 37, Surau Gadang, Nanggalo, Padang, Sumatera Barat.

Alek Mandeh 2024: Menggantang Ambang, Matrilineal Minangkabau di Persimpangan Waktu

Alek Mandeh 2024: Menggantang Ambang, Matrilineal Minangkabau di Persimpangan Waktu

Berangkat dari keresahan bersama atas pertanyaan-pertanyaan reflektif atas kehidupan keminangkabauan kita hari ini. Pertama, misalnya, bagaimana kita melihat lalu memaknai kehidupan kita hari ini dalam kerangka Minangkabau? Dari tataran konsep, hingga kemudian penerapannya dalam kehidupan di kampung-kampung, nagari-nagari di Minangkabau. Atau yang kedua, adakah kita masih berpijak pada konsep-konsep tersebut? Atau jangan-jangan kita telah serba mengambang kian kemari. Tergenang-genang namun tak mengalir.

Atas dasar itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung dengan dukungan dari Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM) dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat kembali akan menggelar Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal tahun 2024. Festival budaya ini akan digelar selama tiga hari, dari tanggal 3 sampai dengan 5 Desember 2024, bertempat di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung di Jorong Padang Ranah, Kanagarian Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung.

Tak tanggung-tanggung, tema pelaksanaan Alek Mandeh tahun 2024 ini adalah “Menggantang Ambang: Matrilineal Minangkabau di Persimpangan Waktu.” Tema ini mencoba membidik, sebuah upaya bersama untuk berhitung terhadap kemungkinan kemungkinan untuk mempertahankan dan sebaliknya mengembangkan nilai-nilai budaya matrilineal Minangkabau di Sumatera Barat. Nilai-nilai budaya yang sebetulnya tidak saja perlu dihidupi namun juga pada saat yang sama menjadi nilai-nilai yang menjamin keberlangsungan hidup masyarakatnya.

Dari konsep berpikir di atas, maka, kegiatan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 akan diturunkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan. Pertama sekali akan dibuka dengan pertunjukan budaya Arak Iriang Bakaua Adat yang melibatkan kurang lebih 200 orang, terdiri atas Bundo Kanduang dan Naniak Mamak dari Nagari  Sijunjuang. Kemudian, selain pertunjukan budaya juga akan ada kegiatan pentas atau pertunjukan seni, pameran rupa dan petrunjukan interaktif, pentas musik Pop Minang, pemutaran film bertajuk layar matrilineal dan klinik kritik pertunjukan dan budaya.

Pentas seni dalam Alek Mandeh 2024 akan menampilkan tiga nomor karya dengan fokus pada potret ‘ambang’ Matrilineal Minangkabau. Nomor pertama adalah karya tari bertajuk Rantak Nagari Parampuan dengan koreografer Susas Rita Loravianti. Selanjutnya satu nomor pertunjukan Teater Berbahasa Minang karya sutradara Fitri Noveri berjudul Renteng Langsai. Adapun yang ketiga, satu nomor seni rupa pertunjukan hasil kolaborasi tiga orang perempuan seniman muda yakninya Maharani Mancanagara, Haiza Putti, dan Siska Aprisia, berjudul Rundiang Si Kalingkiang. Adapun pentas musik Pop Minang tahun ini akan menampilkan Adiem MF dan Ratu Sikumbang. Selain itu, juga akan ada pertunjukan dari sekolah-sekolah di Kabupaten Sijunjung.

Dokumentasi Pertunjukan Alek Mandeh tahun 2023

Dokumentasi pertunjukan Alek Mandeh 2023

Kegiatan klinik kritik pertunjukan dan budaya akan diisi oleh Dr. Sal Murgiyanto, Dr. Feriyal Aslam dan Thendra BP. Kegiatan klinik kritik ini akan diikuti oleh 12 orang penulis dari berbagai daerah di Sumatera Barat, yang juga akan diisi dengan pertunjukan spesial Baombai dari komunitas seni Gantiang Tak Putuih, Sijunjung. Kegiatan ini diharapkan dapat memancing lahirnya berbagai esai kebudayaan atau kritik pertunjukan yang menjadikan wacana matrilineal Minangkabau sebagai topiknya.

Bupati terpilih Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa pelaksanaan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 merupakan bukti dari komitmen Pemkab Sijunjung atas pelestarian kebudayaan Sijunjung, dan merupakan bagian dari upaya menumbuh kembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya di Sijunjung. Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Puji  Basuki menyatakan bahwa kegiatan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 sebagai salah satu kegiatan unggulan Dinas, tahun ini akan berfokus pada upaya mendorong terjadinya transformasi pengetahuan dan keterampilan, agar di masa depan kegiatan serupa ini memiliki semakin banyak sumber daya manusia dari anak Nagari Sijunjung sendiri.

Sementara itu Direktur PMM, Ahmad Mahendra mengharapkan bahwa Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 ke depan tetap dapat terselenggara dengan skema pendukungan yang terus mengalami perkembangan. Artinya, penyelenggaraan Alek Mandeh pada tahun-tahun mendatang diharapkan selain mendapatkan dukungan selain dari pemerintahan Nagari dan pemerintahan Kabupaten dengan leading sector Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Selain Kementerian Kebudayaan, yang telah mendukung selama tiga tahun berturut-turut, ke depan Alek Mandeh  juga dapat didukung oleh stakeholder lainnya, agar event ini dapat menjadi event reguler yang dimiliki secara bersama, dan memiliki peran signifikan di dalam pemajuan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung.

Pernyataan Direktur PMM tersebut dikuatkan oleh Kepala BPK III Sumatera Barat, Undri. Menurutnya, pelaksanaan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal adalah bentuk pelestarian berkelanjutan, setelah sistem matrilineal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2013, dan perkampungan adat Nagari Sijunjung tetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya peringkat nasional tahun 2017. Di samping itu, Alek Mandeh juga adalah serta  salah-satu usaha untuk menciptakan ruang bersama bagi pelaku, pengamat dan masyarakat luas untuk melihat akar tradisi matrilineal sebagai sumber dari berbagai atraksi seni dan budaya Minangkabau.

Mewakili Panitia Pelaksana yang terdiri dari berbagai komunitas, Kurator Alek Mandeh, Dede Pramayoza menyampaikan harapannya agar Alek Mendeh dapat semakin memberi dampak terhadap peningkatan kesejahteraan, agar dapat memunculkan kebanggaan dan keyakinan masyarakat dalam melestarikan kebudayaannya. Dengan kata lain, budaya matrilineal Minangkabau yang dicerminkan secara representatif oleh perkampungan adat Nagari Sijunjung, yang juga tercermin melalui upacara adat bakaua adat serta tradisi batoboh kongsi, diharapkan dapat menjadi modal penting bagi pembangunan kebudayaan yang bisa berdampak baik sebagai bentuk peranti ketahanan budaya dan sekaligus sumber ekonomi budaya.

Kebebasan Berkesenian Terjamin, Pertanda Negara Sehat Refleksi dari Indonesia dan Afghanistan

Kebebasan Berkesenian Terjamin, Pertanda Negara Sehat Refleksi dari Indonesia dan Afghanistan

Kamis, 11 November 2021 teraSeni.id~
Kebebasan berkesenian yang terjamin merupakan indikator negara dengan ruang publik yang sehat, termasuk Indonesia. Sebab, ruang publik yang baik memungkinkan pegiat seni bebas mengekspresikan kritiknya, bahkan jika itu ditujukan pada negara. 

Tangkapan layar diskusi
dok: Koalisi Seni Indonesia

“Kebebasan berkesenian penting untuk dijaga, karena seni yang kritis kita perlukan. Sebab, seni punya peran penting untuk mengintervensi dan memberikan narasi tandingan. Untuk mencapai kebebasan berkesenian, perlu ada kebijakan yang menjaminnya,” ujar Dara Hanafi, pekerja lepas kreatif dan Anggota Koalisi Seni dalam diskusi daring Rabu malam, 10 November 2021. 
Bertajuk Ruang Usik-usik Berebut Dinding: Kebebasan Berkesenian di Dinding Indonesia dan Afghanistan, diskusi ini diadakan Koalisi Seni bersama Amnesty International Indonesia. Hadir sebagai pembicara ialah Anggraeni Widhiasih, Pemimpin Redaksi Visual Jalanan dan perupa dari Indonesia, serta Omaid Hafiza Sharifi, artivis dan Presiden ArtLords dari Afghanistan. Dara Hanafi, pekerja lepas kreatif dan Anggota Koalisi Seni, menjadi moderatornya. 
Menurut Anggraeni, seni adalah medium tepat untuk membicarakan problem sosial di masyarakat. Praktik kritik lewat seni, termasuk seni jalanan, bukan hal asing di Indonesia. “Sebelum kemerdekaan, banyak pejuang Indonesia menyuarakan kebebasan, keadilan, dan hak asasi manusia. Di Surabaya menjelang pertempuran yang sekarang diperingati jadi Hari Pahlawan, banyak grafiti dengan pesan serupa,” ucapnya. 
Anggraeni memaparkan di ruang publik ada banyak pemilik kepentingan bertarung, mulai dari warga, pemerintah, korporasi, hingga seniman. Tegangan vertikal dengan aparat negara dan horizontal dengan warga senantiasa terjadi. Saat aparat represif, mural bisa dihapus dan memicu perdebatan, seperti yang terjadi pada kasus Jokowi 404 lalu. Sebaliknya, tak jarang warga yang tadinya enggan temboknya dihias dengan mural, setelah ada program residensi seniman justru protes jika dindingnya tak kebagian.
Untuk memastikan kebebasan berkesenian terpenuhi, perlu ada kebijakan yang menjaminnya. Riset Koalisi Seni pada 2020 menemukan Indonesia sudah meratifikasi banyak instrumen hak asasi manusia (HAM) internasional, tapi juga membiarkan peraturan yang memberi peluang pembatasan HAM secara sewenangwenang. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, termasuk melalui karya seni, adalah HAM yang dijamin oleh hukum internasional dan konstitusi Indonesia. Sehingga, pemerintah harus berperan aktif melindunginya. 
Sementara, di Afghanistan, dinamika kebebasan berkesenian berubah drastis bersama perkembangan politiknya. “Saat Taliban pertama berkuasa, tidak ada tempat bagi seni. Kemudian ada peraturan yang menjamin kebebasan berkesenian, sehingga kami bisa berkesenian lagi meski tetap ada intimidasi dan ancaman karena mural ArtLords menyuarakan pesan antikorupsi dan toleransi. Taliban kembali dan mereka tidak percaya akan keberagaman maupun seni. Mural kami dihapus dan diganti propaganda, semua wajah perempuan juga dihapus di jalanan,” tutur Omaid yang mendirikan kolektif seniman ArtLords pada 2014. 
Kini, banyak seniman di Afghanistan terpaksa melarikan diri atau bersembunyi demi menyelamatkan nyawanya. Seniman yang masih berada di Afghanistan meninggalkan profesinya dan menghancurkan karyanya agar tak diringkus Taliban. 
Omaid mengatakan ArtLords kini fokus pada upaya evakuasi agar seniman bisa keluar dari Afghanistan. Tak kurang dari 54 seniman telah mereka selamatkan agar bisa memiliki pilihan untuk melanjutkan seninya. ArtLords juga berencana mengadakan terapi seni bagi para pengungsi Afghanistan, serta membuat ulang muralnya di beragam lokasi. “Kami akan senang sekali kalau ada seniman Indonesia mau menggambar ulang mural ArtLords,” ujarnya. 
Bagaimanapun, Omaid tak kehilangan harapan. Ia berharap satu saat nanti, jaminan kebebasan berkesenian akan kembali tegak di negara asalnya. “Kalau hukum yang menjamin kebebasan itu ada lagi, kami bisa melanjutkan kerja seni di Afghanistan.” (Siaran pers)
Mementaskan Teater Garasi: Mempercakapkan Program Antar Ragam dan Peer Gynts

Mementaskan Teater Garasi: Mempercakapkan Program Antar Ragam dan Peer Gynts

Jumat, 15 Oktober 2021 teraSeni.id~
Siang hari sekitar pukul 12.00, 28 September 2021, sehari sebelum pementasan Teater Garasi. Masuk Whatshapp (WA) dari mba Lusia Neti Cayahani. Memberi undangan apa bila ada waktu dapat datang ikut menonton “pertunjukan” Garasi di Studio. Sebuah persiapan pertunjukan untuk festival yang di selenggarakan sebuah institusi kebudayaan Belanda.
Malam Rabu, 29 September 2021 pukul 20.00 WIB, sudah hadir di studio Garasi. Sesuai undangan, rasanya lama juga tidak meyaksikan pertunjukan secara langsung. Sehingga memantik penasaran pementasan seperti apa yang akan disajikan malam ini. Ruang studio teater Garasi telah dihadiri oleh beberapa orang. Ada layar putih menggantung, lampu menyala terang, mic, sound system. Ada orang-orang yang telah datang lebih awal menduduki kursi tertentu, sementara yang baru datang diminta mengisi beberapa kursi yang telah disediakan pada bagian sudut tertentu. 
Pertunjukan dimulai dengan ucapan selamat datang bagi penonton yang telah datang mengandiri undangan, sedikit pengantar mengenai pertunjukan, serta beberapa pemberitahuan dan aturan dalam menikmati peristiwa pertunjukan ini. Disusul musik dari Yennu Ariendra masuk mengiringi Gunawan Maryanto dan Ari Dwianto yang menaiki meja panjang beroda sehingga dapat bergerak, yang di dorong oleh Ega (salah satu kru Pangung).
Gunawan Maryanto dan Ari Dwianto berkostum warna-warni ala penari angguk yang penuh warna retro, duduk dengan dua buah kursi plastik di atas meja. Seolah-olah seperti menaiki sebuah bus; keduanya berperan sebagai seorang supir dan kernet, dengan logat betawian. “Ayooo Tonnngg berangkat….” teriak supir. “Iye.. Bang, tancap..terus..kiri-kiri, awas depan Bang..” sahut kernet. 
Foto: Dokumentasi Teater Garasi
Tampak dua orang sedang memasuki panggung
Foto: Dokumentasi Teater Garasi

Adegan awal ini memberi pintu masuk pengantar memasuki tangga dramatik dalam peristiwa teater. Teater di dalam dan di luar peristiwa keseharian dibenturkan; tanpa batas panggung, tanpa jarak tertentu penonton. Tidak ada sinopsis. Namun, Yudi Ahamad Tajudin memberi pembuka layaknya sebuah pengantar pertemuan peristiwa pertunjukan dengan penonton. Tidak lupa pemberitahuan pada penonton, seperti peristiwa akan direkam oleh beberapa kamera dan akan berada di sekeliling penonton, tidak diperkenankan mengambil gambar dengan HP, tidak merokok, serta tetap mengupayakan prokes berjalan selama pertunjukan. 
Pertunjukan kemudian seolah masuk dalam sebuah frame atau potongan adegan berkesinabungan yang secara kronologi melalui berbagai katakunci, pertanyaan, dan catatan. Bingkai pertunjukan terhubung dari kata kunci awal ke kata kunci berikutnya dramaturgi narasi selanjutnya dijahit. Kata demi kata disusun, adegan demi adegan diatur sedimikan rupa; presentasi laporan, catatan, refleksi, dan berbagai pertanyaan personal para aktor, sutradara sekaligus pemusik, lighting desaigner, pendamping lapangan program telah dilakukan oleh Teater Garasi, yakni Antar Ragam dan proses penciptaan karya Peer Gynts. 
Peristiwa pertunjukan semacam obrolan santai. Semacam mendekatkan pembacaan catatan harian pengalaman lapangan setiap aktor dalam berbagai perpektif persoalan yang ditemui. Lalu bertransformasi menjadi presentasi. Pertunjukan menjelma data yang berhamburan melalui kata, musik, tubuh, video dan peristiwa yang saling bersahutan dan tumpang tindih. Penonton diberi ruang intim menonton proses kerja kreatif para personil yang terlibat dan bergulat dengan perasaan-perasaanya (ketakutan, kecemasan, keraguan, dan pertanyaan) dalam setiap pelaksanaan program dan penciptaan karya teater Garasi secara lebih dekat. Dalam pertunjukan muncul pertanyaan-pertayaaan dan aplikasi dari dinamika kerja dan fungsi teater hari ini dalam kehidupan dan pengetahuan masyarakat.
lelaku di atas panggung
Foto: Dokumentasi Teater Garasi
Bagaimana menemukan posisi teater dan manusia yang bekerja di dalamnya melalui relasi ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan di tingkat lokal, nasional dan global. Bagaimana membaca ulang dan menafsir seluruh peristiwa secara ulang alik dengan mempertimbangkan aspek keberadilan, tanggung jawab moral dan etika, yang selalu disadari tidak pernah berangkat dari titik yang sama dalam memandang suatu persoalan. Posisi kerja intelektual dan ego artistik yang selalu bergesekan serta terhubung dengan berbagai persoalan menganai pemerataan akses, baik ekonomi, pengetahuan, sumberdaya manusia, teknologi, media dan moda transaksi yang tidak merata. 
‘Mementaskan Garasi’ tak ubahnya menikmati pentas pada umumnya. Kemudian muncul refleksi lain pada diri yang menonton. Kita dapat melirik keseharian relasi orang di kampung. Kata ‘pentas’ dalam bahasa Jawa, secara akrab muncul misalnya jika ada seeorang akan mengadakan pertunjukan. Biasanya kemudian pertanyaan yang dilafalkan adalah ‘mentas ning endi?’(petas di mana?). Bila meminjam istilah homograf dalam ilmu bahasa, mentas juga dapat dilafalkan berbeda yakni m[ə]ntas (berarti keluar dari air). Pemaparan m[ə]ntas sebagai keluar dari air, memberi gambaran arahan kerja berproses atau perjalanan dari dalam air kemudian keluar air. Dari sebelumnya basah kemudian dapat menjadi kering. 
Pertunjukan malam tersebut tampaknya berusaha ‘mem[ə]ntakan’ Teater Garasi. Sebuah proses yang telah dikerjakan sekian lama dalam berbagai program kerjanya. Kemudian mencoba dibaca dan ditafsirkan ulang dalam peristiwa bersama. Hal lain yang tak kalah urgent adalah mempercakapkan simpanan-simpanan autokritrik dari masing-masing proses kerja yang telah dilalui Teater Garasi, yaitu melalui catatan pengalaman, data, dan fakta lapangan, proses visual, tranformasi musik, dan konteks pertunjukan saat ini menjadi semacam performance lecture
lelaku aktor di atas panggung
Foto: Dokumentasi Teater Garasi

Dalam peristiwa tersebut pun, percakapan tidak hanya mengenai bagaimana pendukung telah membantu proses kerja Garasi (secara materi atau infrastruktur), tetapi juga penonton dilibatkan menjadi bagian penting dalam presentasi karya dan programnya. Selain itu, percakapan yang terjadi adalah proses kerja antar anggota di dalamnya. 
Mencoba menonton ulang Garasi dan manusianya, berarti turut berproses kreatif langsung dari pergulatan dapur prosesnya. Sedekat mungkin mencoba lebih memahami dan mendialogkan bersama proses kerjanya selama ini dalam kerangka proses ‘tranformasi’ posisi relasi teater,dengan pengetahuan kehidupan dan penghidupan saat ini. 
Pertanyaan selanjutnya kemudian muncul apakah pertunjukan ini benar-benar dalam rangka mem[ə]ntaskan Teater Garasi sebagaima yang terasa mencoba memasuki ruang autokritik dari dalam dan memrpercakapkan keluar? Atau dalam rangka mengambil jeda, keluar kemudian untuk masuk kembali ke dalam setelah memahami kedalaman segala persoalanya? 
Pementasan yang digelar secara langsung dan terbatas dengan penonton yang menjaga jarak sesuai protokol kesehatan, seaakan menjadi udara segar. Pertemuan terasa intim di antara berbagai pertunjukan hari ini yang banyak termediakan melalui berbagai aplikasi zoom, youtube, tik-tok dan lain-lain, yang tidak semua hal dalam peristiwa pertunjukan dapat termediakan secara utuh. 
Sedayu, 10 Oktober 2021