Setelah mendapat sambutan hangat di panggung International Culture RRT Tanjung Pinang pada 28 November 2025, Djangat Indonesia membawa tajuk “Negeri Para Penyair” ke jantung ibu kota. Kali ini, mereka tak datang sendiri. Grup asal Pekanbaru itu menggandeng rapper Medan yang kini berkarier di skena Jakarta, Basboi, dalam sebuah pertunjukan kolaboratif di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, 11 Februari lalu.
Di bawah payung Collaboration Live Show on MTN Wave 2026yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Djangat Indonesia—yang digawangi Anggara Satria (komposer, sequencer, vokal), Leva (vokal performatif), dan Yoenat (vokal performatif)—menyuguhkan lanskap bunyi yang tak lazim: elektronik kontemporer berkelindan dengan sastra Melayu Riau. Sebuah identitas yang sejak berdiri pada 2011 konsisten mereka rawat.
Kolaborasi malam itu menjelma menjadi pertemuan lintas genre, lintas generasi, dan lintas geografi. Selain Basboi, panggung juga diramaikan Kunto Aji, Giring Picia, serta Parasirama dengan nuansa gamelan Banyuwangi yang kental. Namun pada nomor “Negeri Para Penyair”, sorotan mengerucut pada dialog musikal antara Djangat Indonesia dan Basboi—dua energi yang berangkat dari akar Sumatra, namun tumbuh dalam lanskap budaya berbeda.
Syair-syair satir dalam “Negeri Para Penyair” dilantunkan dengan artikulasi puitik, lalu dijawab dengan rap yang tajam dan membumi. Tekstur elektronik bertemu denting dawai Kecapi Bugis dan Gendang Makasar menciptakan ruang bunyi yang simultan: tradisi dan urbanitas saling mengisi, bukan saling meniadakan. Di titik inilah pertunjukan menjadi lebih dari sekadar kolaborasi; ia berubah menjadi pernyataan kultural.
Djangat ketika penampilan Foto: Fariz
Narasi moral yang dibangun melalui pendekatan subkultur rap terasa relevan dan kontekstual. Identitas lokal tak ditampilkan sebagai ornamen, melainkan sebagai fondasi. Pop tak hadir sebagai arus dominan yang menenggelamkan, melainkan sebagai ruang dialog. Pertemuan ini menghadirkan spektrum musikal yang kuat sekaligus reflektif—membawa gema Sumatra ke panggung nasional dengan percaya diri.
Tepuk tangan panjang dari para menteri, undangan Istana Negara, produser, hingga media musik menjadi penanda bahwa eksperimen ini menemukan resonansinya. “Negeri Para Penyair” pun menutup rangkaian kolaborasi MTN Wave dengan intensitas yang sulit diabaikan.
Sejak pertama kali diperkenalkan, tajuk ini memang cepat menjadi perbincangan. Media sosial, forum komunitas, hingga ruang-ruang diskusi kreatif dipenuhi respons. Sejumlah produser menilai pendekatan produksinya berani dan segar—memadukan tekstur bunyi dengan identitas lirik yang kokoh. Sementara para seniman senior melihatnya sebagai fase kematangan baru dalam skena musik Indonesia: ketika eksplorasi tak lagi sekadar estetika, tetapi juga sikap artistik.
Di tengah arus musik yang kerap seragam, Djangat Indonesia dan Basboi menghadirkan satu kemungkinan lain—bahwa puisi masih bisa bergema keras, bahkan di jantung ibu kota.
Musik sintetis mengalun dengan cemas. Gambar dengan teknik handheld shot menyusul di layar penuh waswas. Gambar yang gemetar itu memvisualkan jalan di sudut-sudut kota yang lengang, gang-gang sunyi yang terasa tegang. Ambien suara-suara riuh, beat bas dengan ritma berpacu, pun semakin memunculkan perasaan gaduh. Saya merasakan suasana yang begitu hening, namun terasa begitu nyaring. Senyap, namun bergemuruh.
Gambar kemudian beralih. Sebuah kamar yang acak-acakan dengan pencahayaan yang temaram. Di ruang yang minim cahaya itu, di dindingnya tampak terpampang karya grafis cukil. Di meja yang sekaligus menjadi rak buku, di atasnya terdapat beberapa buah buku. Di samping rak tersebut, seorang laki-laki tidur dengan nyaman, penuh dengan igauan, dan dapat dipastikan bahwa ia mengalami mimpi yang begitu buruk. Ia merintih: “Sakit, sakit, sakit…,” sambil melindungi wajah dan tubuhnya. Kata itu diucapkannya berulang-ulang.
Dengan sentuhan efek glitch , wajah laki-laki itu tiba-tiba berubah-ubah. Muncul wajah-wajah para pejuang hak asasi manusia yang mati dengan cara yang begitu menggenaskan. Wajah Munir, Wiji Thukul, Salim Kancil, dan juga Marsinah berkelindan dalam kesakitan. Wajah-wajah “kesakitan” itu, nyawa mereka disingkirkan untuk membungkam suara lantang mereka.
Laki-laki itu lantas terbangun. Rasa sakit yang tidak tertahankan dari alam tidur membuatnya seketika terjaga. Ia langsung duduk. Napasnya terengah-engah. Tersadar ia telah terbangun, ia kemudian menyeka keringatnya. Lalu ia berdiri agak sempoyongan.
Alih-alih merasa lega, terjaga pun ternyata tidak membuatnya tenteram. Di alam nyata terdengar pula suara orang-orang menggedor pintu. Mereka seraya berteriak-teriak. Kadang terdengar pula suara dinding yang dihantam sepatu lars. Jangankan suara hantamanya, mendengar derapnya di lantai saja, dinding kamar itu pun ikut gemetar. Tetapi rupanya, tidak ada seorang pun yang ada di depan pintu. Dari mana asal suara-suara itu? Alam tidur dan nyata tampak tak berbeda baginya. Suara-suara itu seolah sudah berkuasa di kepala laki-laki itu. Suara yang terus mengejar dan berusaha menangkapnya. Suara yang begitu intimidatif sekaligus represif. Apakah suara-suara itu pula yang membungkam wajah-wajah yang melekat pada wajahnya sebelum terbangun tadi?
Tampak seorang laki-laki sedang merintih kesakitan
Agaknya benar. Pada adegan berikutnya, dari balik tirai jendela kamar, ia menyaksikan empat orang berbicara dengan suara yang begitu pelan: tiga laki-laki, satu perempuan. Empat orang itu sepertinya sedang membulatkan tekad. Bagi mereka, tidak ada kata-kata lain yang bisa diucapkan selain kata “lawan”. Lalu mereka melawan.
Terdengar suara tembakan. Mereka kemudian berlarian. Lari dan tidak pernah kembali lagi. Tembakan lain yang lebih keras kembali menyusul, kemudian layar menghitam tulisan Siasat Hitam muncul.
Bukannya menjadi akhir cerita, layar hitam dengan tulisan Siasat Hitam justru menjadi awal cerita yang lain. Adegan selanjutnya, di sebuah warung tongkrongan dengan gitar kecil yang nyaring, empat orang pemuda menyanyikan sebuah banyolan yang tak kalah nyaringnya. Bagaimana mungkin penculikan, penyiksaan, dan penganiayaan, bahkan pembunuhan, menjadi biasa?
Melalui lagu tersebut mereka menceritakan tentang seorang penyair yang diculik hanya karena larik-larik puisinya mengganggu penguasa. Atau seorang aktivis lingkungan, hanya karena ia ingin lahan-lahan dan areal persawahan di lingkungan sekitarnya tidak rusak, juga ia dianiaya, dikeroyok, diarak, dan diseret ke balai desanya. Ada juga seorang buruh perempuan yang hanya ingin memperjuangkan hak-haknya berupa upah yang wajar sebagai buruh, juga dibunuh dengan begitu keji. Serta juga seorang aktivis yang ingin memperjuangkan demokrasi, memperjuangkan kasus-kasus yang menimpa banyak manusia. Perjuangan itu agaknya menggugat kekuasaan-kuasa tertentu. Lalu kemudian dia dibunuh dengan cara diracun.
Itulah sedikit gambaran dari film yang berjudul Siasat Hitam , produksi perdana kolektif Cinepelan , di Pekanbaru, Riau. Film pendek berdurasi 6 menit 21 detik itu merupakan semacam bentuk visualisasi dari puisi seniman sekaligus aktivis di Pekanbaru, Riau, Husin alias Ucin. Selain menulis puisinya, Husin juga menyutradarai film tersebut. Film yang memang dibayangkan untuk merespons sekaligus sumbangan untuk gerakan September Hitam di Indonesia. Pada bulan ini, terjadi peristiwa kematian-kematian yang tidak wajar. Kematian-kematian yang tidak hanya menghilangkan nyawa manusia, melainkan juga membunuh keadilan.
Wiji Thukul Gambar diambil di google
Sebagaimana sebuah film, kekuatan utamanya adalah gambar dan suara. Maka bisa dilihat bagaimana film ini benar-benar bersiasat melalui gambar dan suara. Dengan efek glitch , teknik handheld shot , begitu jelas sutradara ingin menghadirkan visual yang penuh dengan gangguan. Gambar gemetar mengingatkan kita pada gejala-gejala psikologis tertentu: jiwa yang tidak stabil, traumatis, dan terintimidasi. Dengan wajah-wajah yang berubah-ubah, misalnya, penonton tentu hendak dibawa pada pengalaman yang dirasakan oleh wajah-wajah tersebut. Seolah-olah ingin mengatakan: meskipun penderitaan berpindah-pindah, namun yang merasakan sakit tetaplah sama, yaitu manusia.
Begitu juga dengan bunyi-bunyi yang diproduksi: musik sintetis serta suara-suara intimidatif, serupa teriakan, gedoran pintu, derap sepatu lars. Jelas sekali, sutradara ingin menghidupkan atmosfer teror yang begitu melekat dan nyata ada di sekitar kita.
Siasat Hitam untuk September yang Hitam
Pada dekade 80-an, James F. Sundah, seorang pencipta lagu ternama Indonesia, tak sabar memainkan lagu baru saja digubahnya di hadapan penyanyi Vina Panduwinata. Tak hanya Vina, komposer Addie MS pun begitu tertarik untuk segera memproduksinya. Lagu itu berjudul September Ceria .
Konon, dalam proses penciptaan lagu ini, James F. Sundah membayangkan suasana di negara-negara empat musim. Di mana pada bulan itu, musim berganti. Pada musim itu, bagi banyak orang—mungkin juga bagi James—bisa merasakan suasana yang begitu syahdu dengan pemandangan daun-daun yang berwarna kuning dan dominasi aroma basah. Bisa dibayangkan pula, orang-orang merayakan hari dengan berpayung ceria. Pendeknya, bulan ini ingin ditandai sebagai bulan yang begitu romantis. sama dengan bulan yang romantis, tentu bulan ini patut diabadikan. Tapi itu tidak berlaku di Indonesia.
Munir Gambar diambil di google
Di Indonesia, orang-orang yang percaya pada nilai-nilai kemanusiaan, oleh mereka, bulan September akan dihiasi dengan suasana gelap. Pakaian serba hitam, dan lengkap dengan atribut-atribut yang juga memberikan tanda berkabung yang begitu dalam. September adalah bulan yang begitu kelam, dan menghitam di Indonesia. Begitu banyak tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan ini.
Sejauh yang bisa kita ikuti, mulai dari peristiwa ’65, Tanjung Priok, Semanggi, perampasan hak manusia di Rempang, dan seterusnya. Hingga pembunuhan aktivis-aktivis kemanusiaan: Munir, Salim Kancil, pendeta Yeremia. Yang membuatnya menjadi lebih kelam tidak hanya menginjak-injak keadilan dan nilai kemanusiaan. Keadilan dan kemanusiaan, kita tahu, menjadi dasar negara ini didirikan. Dasar itu pulalah yang kiranya dihancurkan. Dan bisa dibayangkan, bagaimana mungkin kita bisa berdiri di atas dasar yang sudah hancur lebur itu?
Bahkan bulan September menjadi lebih legam, karena negara tak kunjung menampakkan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkuat dasar itu. Tak ada upaya konkret untuk mengungkap siapa dalang, mengapa, dan bagaimana mereka menghilangkannya.
Dengan ketidakmampuan itu, negara tentu telah gagal menyembuhkan luka sejarah. Luka yang tidak sembuh tentu dengan mudah kembali menganga. Barangkali ia akan terus berulang, dengan korban-korban baru, penganiayaan-penganiayaan baru, penculikan-penculikan baru, pembungkaman-pembungkaman baru. Tentu itu bisa saja terjadi pada diri kita, teman-teman kita, orang-orang terdekat kita.
Upaya-upaya yang sungguh-sungguh itu tentu tidak akan menghidupkan kembali jasad-jasad yang tidak berdaya itu. Akan tetapi, setidaknya bisa menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Dan selama nilai-nilai kemanusiaan itu tidak bisa dihidupkan, tentu tidak akan pernah ada bulan September, Oktober, November, bahkan Desember yang ceria. Indonesia selamanya akan gelap.
Bungo Rampai adalah sebuah film fiksi pendek bergenre reflektif-historis, produksi perdana Payakumbuh Youth Arte Committee (PYAC). Film independen ini digarap selama lebih dari satu minggu pada Juni 2025. Terinspirasi dari peristiwa sejarah, film ini disutradarai oleh Eko Doni Putra, sineas muda asal Payakumbuh sekaligus alumnus Jurusan TV dan Film, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Padangpanjang.
Karya sutradara yang juga penggerak Relarugi Foundation ini mengisahkan tentang Fatimah, seorang janda tua berusia 80-an yang hidup sendiri di rumah sederhana di pinggiran Kota Payakumbuh. Hidupnya tak pernah lepas dari kesunyian dan bayang-bayang masa lalu, sejak ditinggal suami tercinta yang gugur dalam pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada penghujung tahun 50an lalu.
Sejak awal hingga akhir, film berdurasi 15 menit 29 detik ini bergerak dalam kesunyian. Pergeseran kamera yang pelan dan sudut pengambilan yang dinamis menegaskan atmosfer sepi. Adegan pembuka memperlihatkan Ibu Fatimah atau Ama dalam sebutan masyarakat Minang (diperankan oleh Deswita) terbangun oleh suara petir. Hujan deras di luar rumah membuat angin menusuk tubuhnya yang renta. Ia berjalan pelan menutup jendela, sebuah tindakan sederhana yang sarat simbol tentang upaya menjaga diri di tengah keterasingan hidup.
Di rumah kayu sederhana itu, Fatimah merawat luka masa lalu sekaligus kesetiaan pada suami yang telah tiada. Ia terus berserah diri kepada Ilahi, menuturkan doa-doa yang tak pernah berhenti mengiringi langkahnya. Doa yang ia titipkan di jalanan kota, di pasar, di gudang rempah, di Jembatan Ratapan Ibu, hingga di aliran Sungai Agam tempat ia menaburkan bunga rampai.
Kesetiaan Fatimah tercermin dalam ritual berulang yang menjadi inti film ini. Setiap pagi ia membeli bunga di pasar, memindahkannya dari bungkus daun pisang ke kain putih, lalu mengikatnya rapi sebelum menaburkan bunga rampai itu ke Sungai Batang Agam. Ritual ini bukan sekadar pengulangan, melainkan cara Fatimah menyemah luka, mengikhlaskan tragedi pembakaran rumah gadang keluarganya, serta kematian suaminya di tengah penumpasan PRRI. Ia merawat ingatan dengan doa-doa, agar Kota Payakumbuh tetap diberkahi dan adil.
Menariknya, Edo, sang sutradara, tidak menghadirkan alur dramatik yang konvensional. Ia konsisten dengan kesunyian, repetisi, dan ritme lambat sebagai gaya puitis-reflektifnya. Ibarat bunga rampai—kumpulan bunga dengan aroma masing-masing—film ini menjadi mozaik ingatan yang disebar bersama doa, terus-menerus, tanpa henti.
Dalam kesendirian, Fatimah sesungguhnya tidak benar-benar sendiri. Ia masih memiliki anak laki-lakinya, Amir (Andes), seorang pria pendiam berusia 40-an yang membujang dan bekerja sebagai penjaga parkir. Namun kehadiran Amir justru menegaskan jarak emosional, kontras dengan ikatan spiritual Fatimah pada masa lalu.
Film Bungo Rampai tidak hanya berkisah tentang personal Fatimah, tetapi juga mengangkat sejarah kelam PRRI sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Dengan riset sejarah yang digarap bersama sejarawan Randi Reimena dan Roni Keron, PYAC menegaskan bahwa Payakumbuh bukan hanya kota budaya, melainkan juga ruang yang menyimpan banyak situs sejarah. Melalui film ini, sejarah lisan tentang PRRI kembali dihidupkan, menjadi sumber penciptaan seni yang menyentuh.
Keyakinan ini pula yang membawa PYAC mendistribusikan Bungo Rampai, kurang dari satu bulan film ini dilibatkan dalam ajang festival film yang diselenggarakan Malayapura Films, komunitas film berbasis di Tanah Datar, Sumatera Barat, pada 1–6 Juli 2025. Festival yang didukung Kemenbud melalui Dana Indonesiana-LPDP itu menjadi saksi lahirnya apresiasi, ketika Bungo Rampai berhasil meraih peringkat pertama.
Bungo Rampai adalah sebuah karya yang melampaui batas film pendek. Ia hadir sebagai ritual sinematik untuk merawat ingatan, menaburkan doa, dan mengajarkan kesetiaan pada sejarah yang pernah dilukai. Lewat sosok Fatimah, film ini mengajak kita merenungi arti penyintas, kesepian, dan keberanian untuk merawat luka agar tetap hidup dalam doa. Dengan bahasa visual yang sederhana namun puitis, Bungo Rampai menjadi sumbangan penting bagi ekosistem film indie sekaligus penanda bahwa sejarah, betapapun kelam, dapat dirawat melalui seni. Inilah Bunga Rampai, kisah ingatan kolektif warga atas luka masa lalu dan doa-doa yang akan terus disebarkan dalam bara api yang menolak padam.
Rabu malam, 9 Juli 2025, sekitar pukul 7.00, Saya bersama seorang kawan, Andes Satolari, berkendara dari arah tenggara Lima Puluh Kota, nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang di Kecamatan Luak, menuju nagari Lubuak Batingkok di Kecamatan Harau, arah utara Lima Puluh Kota.
Saya datang ke Lubuak Batingkok untuk melihat proses latihan kelompok Teater Sambilan Ruang. Sebuah kelompok teater yang digerakkan oleh kawan saya, Fitri Noveri (tapi ia lebih senang dengan istilah sandiwara). Selain untuk mencatat hal-hal yang menarik, saya juga sekalian membantu Andes untuk menambah-nambahi ambient musik yang nanti akan disusunnya. Latihan ini adalah persiapan untuk sebuah pementasan terbarunya. Bayang Kaki Limo, cerita ketiga dari empat cerita yang sudah dikarang Feri. Cerita ini, beberapa tahun lalu dipentaskan di Taman Budaya, Padang. Pada Agustus ini akan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam gelaran Djakarta International Theater Flatform 2025.
Feri lebih senang dengan istilah sandiwara sebetulnya karena alasan historis. Sebab yang menyejarah. Seusia sekolah dasar, ia kerap diajak menjadi pemeran sandiwara di kampungnya, Lubuak Batingkok. Ia memerankan seorang anak yang hidup bersama ibunya. Saban hari bekerja sebagai tukang semir sepatu di pasar. Di keramaian pasar, ia menyemir sepatu seorang laki-laki gagah yang ternyata itu adalah ayahnya. Meskipun cerita yang begitu klise, namun Ia mengenang masa-masa itu sebagai puncaknya kreativitas pemuda dan pemudi di nagarinya yang tersuruk itu. Ia mengingat, setiap setahun sekali, pasti ada pementasan sandiwara. Yang kemudian dijadikan arena pementasan adalah ruang di sekolah dasar.
Feri menceritakan tentang bangunan kelas sekolah dasar masa lalu itu dirancang selalu memanjang. Setiap kelas akan dipisahkan oleh dinding yang terbuat dari susunan papan yang cukup tebal yang diberi nomor. Susunan itu menjadi pemisah antara ruang kelas satu dengan yang lainnya. Dan di ruang paling ujung biasanya menjadi ruang khusus. Ruang ini memang dijadikan untuk pementasan-pementasan dan penampilan bakat siswa ketika penghujung tahun ajaran telah usai. Maka, papan-papan pembatas tadi akan diturunkan. Dengan begitu, ruang memanjang itu akan beralih fungsi sebagai “gedung pertunjukan”. Ruang itulah yang kerap dipinjam oleh pemuda pemudi untuk menggelar pementasan-pementasan sandiwara dan juga paket pertunjukan lainnya. Feri masih mengingat dengan jelas meskipun itu sudah empat dekade yang lalu.
Bahkan lebih jauh sebelum itu, sandiwara bukanlah kerja-kerja kreatif yang asing bagi masyarakat nagari Lubuak Batingkok. Di tahun 50an hingga 80an proses kreatif sandiwara telah berlangsung di Lubuak Batingkok. Sejauh yang bisa ditelusuri, ada beberapa lakon sandiwara yang memang dikarang oleh orang Lubuak Batingkok, dan diperankan langsung oleh anak-anak nagari pemuda dan pemudi Lubuak Batingkok. Salah satunya, Yusfia Helmi. Lakon yang dikarangnya, Titian Kehidupan (1981), Siti Baheram (1985).
***
Jam 8 lebih sedikit Saya sampai di sebuah warung kopi. Warung itu milik Feri. Di warung itu, pada pagi hari, ia dan istrinya berjualan sarapan pagi. Jika malam tempat menyandarkan resah orang-orang kalah ditemani segelas kopi. Setelah memarkirkan motor, beberapa orang yang memang sudah Saya kenali ada di sana. Saya lantas bersalaman. Ada Dayat, Yudha, Datuak Manso, dan Uda Febri Nova. Mereka adalah pemeran dalam cerita yang nantinya akan digarap. Cerita itu berjudul bayang kaki limo. Cerita yang dikarang sendiri oleh Feri.
Setelah meminta kopi, sembari menunggu para pemeran lainnya, Saya berkesempatan mengajak beberapa orang untuk bercerita. Tapi pembicaraan kami bukanlah soal peran masing-masing. Melainkan hal yang lain. Sambil memukul-mukulkan gulungan kertas yang ada di tangannya ke meja, Dayat bercerita tentang ladang timunnya yang gersang. Kemarau yang panjang ini membuat timunnya tidak kunjung manggarik –tak tumbuh sebagaimana mestinya. Tidak dapat di akalnya lagi. Pertaniannya memang sangat bergantung pada musim. Sebagaimana timun, ia pun sudah menyerahkan panennya pada iklim yang berubah-ubah itu.
Sebelas dua belas dengan Dayat, Datuak Manso juga menceritakan parasaiannya. Sambil menyeruput kopi, ia menertawakan tanaman jagungnya. “Panas berdengkang tahun ini membuat jagung saya berubah jadi popcorn semenjak dari batangnya,” celetuknya. Dayat ikut tertawa mendengar lelucon Datuak Manso.
“Ada rumah atau gedung yang mau di pasang gypsum di tempat Uda?” Yudha mendahului pertanyaan saya. Anak muda gondrong ini memang sedang senang-senangnya bermain dengan bubuk putih bahan gyspsum itu. Sudah lebih dari 5 tahun ia bekerja di bengkel gypsum. Baginya lebih artistik bekerja sebagai tukang pasang gypsum dari pada pada jadi pramusaji di hotel. Meskipun hotelnya ada di dekat rumahnya.
Di bangku sebelah luar, Uda Febri Nova tak mengambil pusing hari-harinya. Ia menikmati benar jadi “bujangan”. Dengan begitu ia sangat leluasa tanpa beban mencubit kartu koa atau domino ketika tidak ada jadwal latihan, tidur larut malam, dan bangun larut siang.
Sementara itu, di sudut dekat pintu dapur warung, sambil terus membaca-baca dialog, Nanik terus saja meracit buncis, memotong-motong pakis, dan juga ada cempedak. Sebelum subuh, sayur-sayur itu sudah harus dimasak jadi gulai. Kalau kesiangan, bagaimana nanti langganan sarapan paginya. Sandiwara tentu perlu untuk jiwanya, sedangkan jualan sarapan pagi begitu penting bagi raganya. Nanik tidak lain adalah istri dari Fitri Noveri. Nanik adalah pemeran yang perannya begitu sentral dalam kehidupan Feri. Baik perannya di balik etalase dan rak sarapan pagi, maupun perannya dalam empat karya dari naskah-naskah yang sudah dikarangnya itu. Beberapa aktor lainnya sudah tampak berdatangan. Latihan segera akan dimulai. Saya tidak sempat bercerita dengan aktor lainnya.
***
Tanpa menunggu aba-aba dari Feri selaku tukang karang cerita ataw sutradara, Dayat, Yudha, dan Uda Febri mulai mengeluarkan beberapa box buah dari dalam warung. Tampaknya itu sudah menjadi tugas mereka. Box itu disusun di halaman warung. Halaman warung pada malam itu telah berubah menjadi pentas. Pada box tersebut, ditegakkan sebuah payung. Di atas box, digelar tampah bambu. Di dalam tampah-tampah itu diisi daun-daunan. Sebuah peristiwa akan mereka hidupkan, kehidupan para pedagang kelas bawah di sebuah pasar.
Uda Febri Nova, Uda Wan, Nanik, Gita, Yudha, Dayat, Anggun, dan Palito mondar mandir di area masing-masing. Sementara di sebelah kiri, Andes begitu serius memindah-mindahkan tangannya di neck gitar. Datuak Manso mengulang-ngulang ritma yang sama di membran gendang ketipungnya. Dan Uni Yeni tampak cukup kewalahan mencobakan pengetahuan barunya dalam bernyanyi, solfegio. Dari suara rendah, langsung meloncat dari satu interval ke interval lain di atas ataupun di bawah. Dan juga yang menarik, bagaimana mereka mencipta harmoni dengan suara. Saya sesekali juga terpancing untuk ikut menyanyikannya.
Beberapa kali diskusi, Feri begitu sering mengulang-ulang kata sandiwara. Namun, ia tidak memberi penjelasan yang rinci tentang sandiwara yang ia maksud. Dan bagaimana keterhubungannya dengan cerita bayang kaki limo yang akan ia pentaskan itu. Jika kemudian kita bersepakat dengan Dede Pramayoza dalam bukunya dramaturgi sandiwara, bahwa sandiwara diartikan sebagai sebuah seni dramatik yang berkembang pesat di nagari-nagari Sumatera Barat pada dekade 60an, yang secara bentuk membedakan dirinya dengan begitu tajam dengan randai (dramatik tradisi). Lebih jauh dapat dilihat ketajamannya, bahwa sandiwara secara pementasan menggunakan pendekatan apa yang dibayangkan dalam teater dalam konteks Eropa. Dimana, ada jarak yang tegas dan jelas antara penonton dan apa yang sedang ditontonnya. Sedangkan randai (dramatik tradisi) berada di seberangnya. Apa yang sedang dipentaskan berada begitu dekat dengan penonton, dan adakalanya penonton juga menjadi bagian dari apa yang ditontonnya. Serta kerap sekali keterbatasan-keterbatasan secara teknis pementasan dalam randai (dramatik tradisi) bisa diselesaikan secara imajiner kepada penonton. Dan ini tidak terjadi pada sandiwara ataupun teater tadi.
Namun, jika ditonton dari apa yang sedang dikembangkan oleh Feri, terlihat tidak bercorak dua-duanya, dan terkadang juga sangat bercorak dua-duanya. Bahwa, apa yang sedang digarap Feri tidak berjarak bahkan sangat dekat dengan para penontonnya. Sangat khas randai (dramatik tradisi). Namun, sebalik pada itu, jika mengacu pada apa yang dijelaskan Dede, bahwa sandiwara dalam pementasannya sangat khas Eropa. Dimana ada pentas, ada batas yang jelas dengan penonton, serta ada ruang khusus untuk pemain keluar masuk dalam peran. Serta yang paling penting juga dalam sandiwara ada istilah babakan, dan istilah selingan. Hal itu, tidak terasa ada dalam apa yang sedang diproduksi Feri melalui karya-karyanya.
Namun terlepas dari istilah tersebut, apakah teater atau sandiwara, secara dramaturgi ada banyak hal yang mungkin bisa dilihat sekaligus dicatat. Misalnya tentang teks lakon yang dikarang Feri. Bayang kaki limo ini misalnya. Teks yang dihadirkan menggunakan bahasa Minang. Teks tersebut dipotret dari kisah, dari fenomena sosial yang ada di Lubuak Batingkok. Sebagaimana digambarkan dalam tokoh ibu dalam cerita. Ibu dengan kehidupannya sebagai pedagang di pasar tradisional. Pedagang kecil dengan mimpi besar. Kehidupan yang tidak jauh dari lilitan hutang, membicarakan kejelekan orang lain, melihat dan menyimpulkan sesuatu dari apa yang tampak semata, kerap bergeming dengan segala kepura-puraan, sinisme adalah kecemburuan yang membatu, paradoks dunia pendidikan, dan lain sebagainya.
Cerita itu disampaikan oleh tokoh atau pemeran yang juga warga Lubuak Batingkok. Para pemeran ini seakan sedang menceritakan diri mereka sendiri. Adakalanya dialog-dialog yang dimuculkan untuk mencemooh. Maka ketika itu tentu saja para pemeran ini sedang mencemooh diri mereka sendiri. Kadang cemooh itu juga diikuti dengan gelak tawa sungguhan.
Menemukan para pemeran diantara warga masyarakat menjadi tantangan sendiri bagi Feri. Pada satu ketika Feri membuat surat kepada warga. Surat yang sebetulnya bermaksud mengundang. Namanya undangan, tentu di dalam termaktub maksud dan tujuannya. Bahwa ia akan membuat gelaran drama. Drama yang bercerita tentang kisah-kisah yang dekat dengan masyarakat Lubuak Batingkok. Untuk itu, yang bersedia untuk ikut ambil bagian bisa datang berkumpul di satu tempat. Dari 30 surat undangan yang disebar, separohnya datang. Dari yang separoh itu menandakan kesediaan untuk ikut bergabung. Orang-orang inilah kemudian yang dikelola oleh Feri menjadi pemeran dan tim produksi aatas karya-karyanya.
Tantangan pertama selesai, mentransfer teks ke laku dan suara kepada pemeran menjadi tantangan lebih berat lagi. Mendedahkan teori-teori pemeranan menjadi hal yang lebih rumit lagi. Tetapi, tentu Feri memulai dengan memperkenalkan cerita. Kemudian mendorong pemeran untuk memberi nada dan penekanan-penekanan suara pada dialog yang dibaca. Tidak mempan juga, Feri membuatkan pengandaian-pengandaian yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan memotret tokoh-tokoh tertentu dalam realitas Lubuak Batingkok kepada pemeran. Jika belum sampai juga, pada satu titik, Feri menyuntikkan bentuk laku, dan nada suara atas dialog yang akan dibacakan kepada para pemeran. Maka, menghapal laku, gerak, dan nada dialog menjadi pilihan oleh para pemeran bayang kaki limo ini.
Namun, yang lumayan melekat oleh para pemeran dan dijadikan sebagai “kunci” adalah bagaimana kemudian bisa mendengarkan dengan seksama dialog dari lawan main. Mendengarkan dengan seksama berarti memberi ruang pada emosi. Dengan begitu ekspresi tertentu bisa muncul dengan sendirinya. “Teori” ini kemudian begitu melekat dan selalu dipraktekan oleh para pemeran.
***
Feri begitu yakin, bahwa kesenian, apapun itu, baik seni rupa, seni pertunjukan, atau yang lainnya, mestinya tumbuh di dalam masyarakat. Biar kemudian, antara keduanya, kesenian dan masyarakat saling berpantul satu sama lain. Karena itu, ia mendirikan sebuah kelompok teater atau sandiwara di tengah-tengah masyarakat. Di nagari Lubuak Batingkok, kampung halamannya sendiri.