Pilih Laman
Djangat Indonesia: dari Sumatera, sastra, elektronika, dan Rap berdialektika di panggung Ibu Kota

Djangat Indonesia: dari Sumatera, sastra, elektronika, dan Rap berdialektika di panggung Ibu Kota

Setelah mendapat sambutan hangat di panggung International Culture RRT Tanjung Pinang pada 28 November 2025, Djangat Indonesia membawa tajuk “Negeri Para Penyair” ke jantung ibu kota. Kali ini, mereka tak datang sendiri. Grup asal Pekanbaru itu menggandeng rapper Medan yang kini berkarier di skena Jakarta, Basboi, dalam sebuah pertunjukan kolaboratif di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, 11 Februari lalu.

Di bawah payung Collaboration Live Show on MTN Wave 2026 yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Djangat Indonesia—yang digawangi Anggara Satria (komposer, sequencer, vokal), Leva (vokal performatif), dan Yoenat (vokal performatif)—menyuguhkan lanskap bunyi yang tak lazim: elektronik kontemporer berkelindan dengan sastra Melayu Riau. Sebuah identitas yang sejak berdiri pada 2011 konsisten mereka rawat.

Kolaborasi malam itu menjelma menjadi pertemuan lintas genre, lintas generasi, dan lintas geografi. Selain Basboi, panggung juga diramaikan Kunto Aji, Giring Picia, serta Parasirama dengan nuansa gamelan Banyuwangi yang kental. Namun pada nomor “Negeri Para Penyair”, sorotan mengerucut pada dialog musikal antara Djangat Indonesia dan Basboi—dua energi yang berangkat dari akar Sumatra, namun tumbuh dalam lanskap budaya berbeda.

Syair-syair satir dalam “Negeri Para Penyair” dilantunkan dengan artikulasi puitik, lalu dijawab dengan rap yang tajam dan membumi. Tekstur elektronik bertemu denting dawai Kecapi Bugis dan Gendang Makasar menciptakan ruang bunyi yang simultan: tradisi dan urbanitas saling mengisi, bukan saling meniadakan. Di titik inilah pertunjukan menjadi lebih dari sekadar kolaborasi; ia berubah menjadi pernyataan kultural.

Djangat ketika penampilan
Foto: Fariz

Narasi moral yang dibangun melalui pendekatan subkultur rap terasa relevan dan kontekstual. Identitas lokal tak ditampilkan sebagai ornamen, melainkan sebagai fondasi. Pop tak hadir sebagai arus dominan yang menenggelamkan, melainkan sebagai ruang dialog. Pertemuan ini menghadirkan spektrum musikal yang kuat sekaligus reflektif—membawa gema Sumatra ke panggung nasional dengan percaya diri.

Tepuk tangan panjang dari para menteri, undangan Istana Negara, produser, hingga media musik menjadi penanda bahwa eksperimen ini menemukan resonansinya. “Negeri Para Penyair” pun menutup rangkaian kolaborasi MTN Wave dengan intensitas yang sulit diabaikan.

Sejak pertama kali diperkenalkan, tajuk ini memang cepat menjadi perbincangan. Media sosial, forum komunitas, hingga ruang-ruang diskusi kreatif dipenuhi respons. Sejumlah produser menilai pendekatan produksinya berani dan segar—memadukan tekstur bunyi dengan identitas lirik yang kokoh. Sementara para seniman senior melihatnya sebagai fase kematangan baru dalam skena musik Indonesia: ketika eksplorasi tak lagi sekadar estetika, tetapi juga sikap artistik.

Di tengah arus musik yang kerap seragam, Djangat Indonesia dan Basboi menghadirkan satu kemungkinan lain—bahwa puisi masih bisa bergema keras, bahkan di jantung ibu kota.

Ritme Nira dan Ingatan Warga: Ekologi dalam Perayaan Desa

Ritme Nira dan Ingatan Warga: Ekologi dalam Perayaan Desa

Di Kampung Gula Aren Babakan Sabrang, Desa Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, tetesan nira tidak hanya menandai proses produksi gula, tetapi juga menyimpan ingatan ekologis warga. Melalui Festival Aren Musang: Menari Nira yang digelar pada 22–23 November 2025, warga merayakan relasi panjang antara manusia, pohon aren, dan musang—relasi yang lahir dari praktik hidup sehari-hari, diwariskan lintas generasi, dan kini dihadirkan kembali lewat seni, ritual, serta kerja kolektif berbasis kebudayaan desa. Festival ini didukung Kementerian Kebudayaan dan LPDP melalui program Pemberdayaan Desa Budaya. Meski menjadi festival warga pertama yang diorganisir Kolektif Boetan Cibalioeng, ia sejak awal tidak diniatkan sebagai hiburan tahunan semata. Festival ini dirancang sebagai ruang hidup—tempat relasi manusia dan alam dihadirkan kembali melalui kebudayaan.

Sebagai fasilitator yang datang dari Pekanbaru, Riau, dan untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Banten, keterlibatan saya didorong oleh kesadaran untuk menempatkan warga sebagai subjek. Peran fasilitator tidak lebih dari penghubung: memfasilitasi, mengedukasi, memotivasi, sekaligus belajar bersama warga tentang cara mereka merawat kebudayaan dan lingkungan sebagai ruang hidup yang berkelanjutan.

Desa Cibaliung menyimpan potensi ekologis yang kuat. Bentang alamnya relatif terjaga, dengan hutan rakyat yang ditanami sengon, mahoni, dan jati. Dari Pekanbaru, perjalanan menuju desa ini saya tempuh melalui jalur udara dan darat, singgah di Serang sebelum akhirnya menuju Cibaliung bersama Rizal Mahfud—direktur festival, inisiator kegiatan, sekaligus pendamping kebudayaan desa. Selama proses persiapan hingga pelaksanaan, festival ini tumbuh dari kerja kolektif warga.

Di sinilah posisi saya berada di antara dua dunia: satu kaki menjejak peran dokumenter, kaki lainnya menyatu dengan dinamika warga yang riuh, spontan, dan penuh kebijaksanaan. Festival ini dihidupkan oleh berbagai lapisan masyarakat—tokoh adat, alim ulama, perangkat desa, pemuda, petani, penyadap aren, ibu-ibu pembuat gula, hingga anak-anak. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi pelaku utama. Tulisan ini berangkat dari satu gagasan sederhana: ekologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkelindan dengan kebudayaan. Tidak ada kebudayaan tanpa alam yang menopangnya, dan sebaliknya, pengetahuan ekologis kerap tersembunyi dalam praktik budaya yang diwariskan lintas generasi. Festival Aren Musang: Menari Nira menghadirkan kembali pengetahuan dan teknologi tradisional yang kerap terpinggirkan oleh narasi modernitas.

Seorang petani aren melakukan sesuatu ikhtiar dalam rangka menjaga ekologi aren
Foto diambil dari instagram desabudaya_cibaliung

Aren sebagai Warisan Kultural

Bagi warga Cibaliung, alam bukan entitas terpisah. Pohon aren tidak semata sumber ekonomi, melainkan “induk kehidupan”—penyedia pangan, air, pekerjaan, sekaligus bagian dari ritual budaya. Tema festival, “Tuntung Pucuk, Tuntung Akar, Telaga Ngembeng”, menegaskan relasi ini. Aren tumbuh subur bukan hanya karena perawatan manusia, tetapi juga berkat peran musang sebagai penyebar biji. Seorang penyadap aren bernama Husen merangkum filosofi itu dengan kalimat sederhana: “Lamun kamu ngarawat kawung, kawung bakal ngarawat kamu.” Pengetahuan ini tidak tertulis di buku, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari—mengajarkan cara mengambil dari alam tanpa memutus siklusnya.

Pengetahuan tersebut hadir dalam festival melalui seni: lodong bambu dijadikan instrumen perkusi, aktivitas memasak nira diterjemahkan menjadi koreografi, cerita rakyat dituturkan lewat wayang daun aren, dan seni instalasi memvisualisasikan siklus hidup aren. Karya tari, musik, teater, hingga residensi seniman berpadu dengan penampilan qosidah, calung renteng, ceramah Sunda kisoh, dan musik kolektif warga. Rangkaian kegiatan—dari Ruwat Rawat Musang, jelajah budaya, penanaman pohon kawao, pameran kuliner, pemutaran film dokumenter, hingga permainan tradisional—membentuk satu ekosistem perayaan yang utuh.

Tubuh, Gerak, dan Ekologi

Proses penyadapan nira memperlihatkan pengetahuan tubuh yang lahir dari pengalaman panjang. Gerak memanjat, mengikat, memukul serabut, hingga menunggu tetesan nira, semuanya mengikuti ritme alam. Penyadap tidak memaksa pohon, tetapi membaca waktu, cuaca, dan kondisi batang. Bahkan, komunikasi dilakukan melalui syair sebagai bentuk penghormatan. Dalam festival, proses ini dipresentasikan sebagai pertunjukan. Geraknya lambat, repetitif, dan berirama—menyerupai koreografi. Bagi anak-anak dan remaja, tubuh menjadi medium belajar ekologi yang paling dekat dan mudah dipahami.

Musang dan Relasi Antarspesies

Musang kerap dianggap hama. Namun dalam ekosistem, ia justru berperan penting sebagai penyebar biji aren. Festival menghadirkan musang sebagai tokoh naratif—cerdik, nakal, sekaligus penolong. Tawa warga saat menonton wayang daun aren menyimpan kesadaran bahwa musang bukan “pencuri”, melainkan bagian dari kehidupan bersama.

Salah satu pertunjukan dalam festival
Foto: dokumentasi panitia

Ruang Belajar dan Tantangan Zaman

Festival menciptakan ruang belajar ekologis yang hidup: anak-anak bermain egrang di bawah pohon aren, pemuda mencoba simulasi penyadapan, warga berdiskusi tentang harga gula dan musim produksi. Persiapan festival dilakukan secara gotong royong dengan memanfaatkan material lokal—bambu, daun aren, ijuk, hingga buah aren—sebagai elemen artistik. Di tengah perayaan itu, tantangan tetap mengintai: penebangan aren, menurunnya regenerasi penyadap, tekanan kapitalisasi lahan, dan kecenderungan menjadikan kebudayaan sekadar komoditas wisata. Festival ini mencoba meresponsnya melalui narasi dan praktik, meski kesadaran ekologis membutuhkan komitmen jangka panjang. Festival Aren Musang: Menari Nira pada akhirnya bukan sekadar perayaan. Ia adalah ruang refleksi. Kesadaran ekologis hadir dalam praktik kecil: merawat pohon, menghargai musang, menjaga tradisi, dan berbagi pengetahuan. Dalam ritme nira yang menetes perlahan, tersimpan ritme kehidupan warga—sebuah warisan yang terus hidup, bukan sekadar kenangan.

Siasat hitam: sedia payung hitam sebelum sejarah berulang kelam

Siasat hitam: sedia payung hitam sebelum sejarah berulang kelam

Musik sintetis mengalun dengan cemas. Gambar dengan teknik handheld shot menyusul di layar penuh waswas. Gambar yang gemetar itu memvisualkan jalan di sudut-sudut kota yang lengang, gang-gang sunyi yang terasa tegang. Ambien suara-suara riuh, beat bas dengan ritma berpacu, pun semakin memunculkan perasaan gaduh. Saya merasakan suasana yang begitu hening, namun terasa begitu nyaring. Senyap, namun bergemuruh.

Gambar kemudian beralih. Sebuah kamar yang acak-acakan dengan pencahayaan yang temaram. Di ruang yang minim cahaya itu, di dindingnya tampak terpampang karya grafis cukil. Di meja yang sekaligus menjadi rak buku, di atasnya terdapat beberapa buah buku. Di samping rak tersebut, seorang laki-laki tidur dengan nyaman, penuh dengan igauan, dan dapat dipastikan bahwa ia mengalami mimpi yang begitu buruk. Ia merintih: “Sakit, sakit, sakit…,” sambil melindungi wajah dan tubuhnya. Kata itu diucapkannya berulang-ulang.

Dengan sentuhan efek glitch , wajah laki-laki itu tiba-tiba berubah-ubah. Muncul wajah-wajah para pejuang hak asasi manusia yang mati dengan cara yang begitu menggenaskan. Wajah Munir, Wiji Thukul, Salim Kancil, dan juga Marsinah berkelindan dalam kesakitan. Wajah-wajah “kesakitan” itu, nyawa mereka disingkirkan untuk membungkam suara lantang mereka.

Laki-laki itu lantas terbangun. Rasa sakit yang tidak tertahankan dari alam tidur membuatnya seketika terjaga. Ia langsung duduk. Napasnya terengah-engah. Tersadar ia telah terbangun, ia kemudian menyeka keringatnya. Lalu ia berdiri agak sempoyongan.

Alih-alih merasa lega, terjaga pun ternyata tidak membuatnya tenteram. Di alam nyata terdengar pula suara orang-orang menggedor pintu. Mereka seraya berteriak-teriak. Kadang terdengar pula suara dinding yang dihantam sepatu lars. Jangankan suara hantamanya, mendengar derapnya di lantai saja, dinding kamar itu pun ikut gemetar. Tetapi rupanya, tidak ada seorang pun yang ada di depan pintu. Dari mana asal suara-suara itu? Alam tidur dan nyata tampak tak berbeda baginya. Suara-suara itu seolah sudah berkuasa di kepala laki-laki itu. Suara yang terus mengejar dan berusaha menangkapnya. Suara yang begitu intimidatif sekaligus represif. Apakah suara-suara itu pula yang membungkam wajah-wajah yang melekat pada wajahnya sebelum terbangun tadi?

Tampak seorang laki-laki sedang merintih kesakitan

Agaknya benar. Pada adegan berikutnya, dari balik tirai jendela kamar, ia menyaksikan empat orang berbicara dengan suara yang begitu pelan: tiga laki-laki, satu perempuan. Empat orang itu sepertinya sedang membulatkan tekad. Bagi mereka, tidak ada kata-kata lain yang bisa diucapkan selain kata “lawan”. Lalu mereka melawan.

Terdengar suara tembakan. Mereka kemudian berlarian. Lari dan tidak pernah kembali lagi. Tembakan lain yang lebih keras kembali menyusul, kemudian layar menghitam tulisan Siasat Hitam muncul.

Bukannya menjadi akhir cerita, layar hitam dengan tulisan Siasat Hitam justru menjadi awal cerita yang lain. Adegan selanjutnya, di sebuah warung tongkrongan dengan gitar kecil yang nyaring, empat orang pemuda menyanyikan sebuah banyolan yang tak kalah nyaringnya. Bagaimana mungkin penculikan, penyiksaan, dan penganiayaan, bahkan pembunuhan, menjadi biasa?

Melalui lagu tersebut mereka menceritakan tentang seorang penyair yang diculik hanya karena larik-larik puisinya mengganggu penguasa. Atau seorang aktivis lingkungan, hanya karena ia ingin lahan-lahan dan areal persawahan di lingkungan sekitarnya tidak rusak, juga ia dianiaya, dikeroyok, diarak, dan diseret ke balai desanya. Ada juga seorang buruh perempuan yang hanya ingin memperjuangkan hak-haknya berupa upah yang wajar sebagai buruh, juga dibunuh dengan begitu keji. Serta juga seorang aktivis yang ingin memperjuangkan demokrasi, memperjuangkan kasus-kasus yang menimpa banyak manusia. Perjuangan itu agaknya menggugat kekuasaan-kuasa tertentu. Lalu kemudian dia dibunuh dengan cara diracun.

Itulah sedikit gambaran dari film yang berjudul Siasat Hitam , produksi perdana kolektif Cinepelan , di Pekanbaru, Riau. Film pendek berdurasi 6 menit 21 detik itu merupakan semacam bentuk visualisasi dari puisi seniman sekaligus aktivis di Pekanbaru, Riau, Husin alias Ucin. Selain menulis puisinya, Husin juga menyutradarai film tersebut. Film yang memang dibayangkan untuk merespons sekaligus sumbangan untuk gerakan September Hitam di Indonesia. Pada bulan ini, terjadi peristiwa kematian-kematian yang tidak wajar. Kematian-kematian yang tidak hanya menghilangkan nyawa manusia, melainkan juga membunuh keadilan.

Wiji Thukul
Gambar diambil di google

Sebagaimana sebuah film, kekuatan utamanya adalah gambar dan suara. Maka bisa dilihat bagaimana film ini benar-benar bersiasat melalui gambar dan suara. Dengan efek glitch , teknik handheld shot , begitu jelas sutradara ingin menghadirkan visual yang penuh dengan gangguan. Gambar gemetar mengingatkan kita pada gejala-gejala psikologis tertentu: jiwa yang tidak stabil, traumatis, dan terintimidasi. Dengan wajah-wajah yang berubah-ubah, misalnya, penonton tentu hendak dibawa pada pengalaman yang dirasakan oleh wajah-wajah tersebut. Seolah-olah ingin mengatakan: meskipun penderitaan berpindah-pindah, namun yang merasakan sakit tetaplah sama, yaitu manusia.

Begitu juga dengan bunyi-bunyi yang diproduksi: musik sintetis serta suara-suara intimidatif, serupa teriakan, gedoran pintu, derap sepatu lars. Jelas sekali, sutradara ingin menghidupkan atmosfer teror yang begitu melekat dan nyata ada di sekitar kita.

Siasat Hitam untuk September yang Hitam

Pada dekade 80-an, James F. Sundah, seorang pencipta lagu ternama Indonesia, tak sabar memainkan lagu baru saja digubahnya di hadapan penyanyi Vina Panduwinata. Tak hanya Vina, komposer Addie MS pun begitu tertarik untuk segera memproduksinya. Lagu itu berjudul September Ceria .

Konon, dalam proses penciptaan lagu ini, James F. Sundah membayangkan suasana di negara-negara empat musim. Di mana pada bulan itu, musim berganti. Pada musim itu, bagi banyak orang—mungkin juga bagi James—bisa merasakan suasana yang begitu syahdu dengan pemandangan daun-daun yang berwarna kuning dan dominasi aroma basah. Bisa dibayangkan pula, orang-orang merayakan hari dengan berpayung ceria. Pendeknya, bulan ini ingin ditandai sebagai bulan yang begitu romantis. sama dengan bulan yang romantis, tentu bulan ini patut diabadikan. Tapi itu tidak berlaku di Indonesia.

Munir
Gambar diambil di google

Di Indonesia, orang-orang yang percaya pada nilai-nilai kemanusiaan, oleh mereka, bulan September akan dihiasi dengan suasana gelap. Pakaian serba hitam, dan lengkap dengan atribut-atribut yang juga memberikan tanda berkabung yang begitu dalam. September adalah bulan yang begitu kelam, dan menghitam di Indonesia. Begitu banyak tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan ini.

Sejauh yang bisa kita ikuti, mulai dari peristiwa ’65, Tanjung Priok, Semanggi, perampasan hak manusia di Rempang, dan seterusnya. Hingga pembunuhan aktivis-aktivis kemanusiaan: Munir, Salim Kancil, pendeta Yeremia. Yang membuatnya menjadi lebih kelam tidak hanya menginjak-injak keadilan dan nilai kemanusiaan. Keadilan dan kemanusiaan, kita tahu, menjadi dasar negara ini didirikan. Dasar itu pulalah yang kiranya dihancurkan. Dan bisa dibayangkan, bagaimana mungkin kita bisa berdiri di atas dasar yang sudah hancur lebur itu?

Bahkan bulan September menjadi lebih legam, karena negara tak kunjung menampakkan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkuat dasar itu. Tak ada upaya konkret untuk mengungkap siapa dalang, mengapa, dan bagaimana mereka menghilangkannya.

Dengan ketidakmampuan itu, negara tentu telah gagal menyembuhkan luka sejarah. Luka yang tidak sembuh tentu dengan mudah kembali menganga. Barangkali ia akan terus berulang, dengan korban-korban baru, penganiayaan-penganiayaan baru, penculikan-penculikan baru, pembungkaman-pembungkaman baru. Tentu itu bisa saja terjadi pada diri kita, teman-teman kita, orang-orang terdekat kita.

Upaya-upaya yang sungguh-sungguh itu tentu tidak akan menghidupkan kembali jasad-jasad yang tidak berdaya itu. Akan tetapi, setidaknya bisa menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Dan selama nilai-nilai kemanusiaan itu tidak bisa dihidupkan, tentu tidak akan pernah ada bulan September, Oktober, November, bahkan Desember yang ceria. Indonesia selamanya akan gelap.

Salim Kancil
Gambar diambil di google