Bungo Rampai adalah sebuah film fiksi pendek bergenre reflektif-historis, produksi perdana Payakumbuh Youth Arte Committee (PYAC). Film independen ini digarap selama lebih dari satu minggu pada Juni 2025. Terinspirasi dari peristiwa sejarah, film ini disutradarai oleh Eko Doni Putra, sineas muda asal Payakumbuh sekaligus alumnus Jurusan TV dan Film, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Padangpanjang.
Karya sutradara yang juga penggerak Relarugi Foundation ini mengisahkan tentang Fatimah, seorang janda tua berusia 80-an yang hidup sendiri di rumah sederhana di pinggiran Kota Payakumbuh. Hidupnya tak pernah lepas dari kesunyian dan bayang-bayang masa lalu, sejak ditinggal suami tercinta yang gugur dalam pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada penghujung tahun 50an lalu.
Sejak awal hingga akhir, film berdurasi 15 menit 29 detik ini bergerak dalam kesunyian. Pergeseran kamera yang pelan dan sudut pengambilan yang dinamis menegaskan atmosfer sepi. Adegan pembuka memperlihatkan Ibu Fatimah atau Ama dalam sebutan masyarakat Minang (diperankan oleh Deswita) terbangun oleh suara petir. Hujan deras di luar rumah membuat angin menusuk tubuhnya yang renta. Ia berjalan pelan menutup jendela, sebuah tindakan sederhana yang sarat simbol tentang upaya menjaga diri di tengah keterasingan hidup.

Di rumah kayu sederhana itu, Fatimah merawat luka masa lalu sekaligus kesetiaan pada suami yang telah tiada. Ia terus berserah diri kepada Ilahi, menuturkan doa-doa yang tak pernah berhenti mengiringi langkahnya. Doa yang ia titipkan di jalanan kota, di pasar, di gudang rempah, di Jembatan Ratapan Ibu, hingga di aliran Sungai Agam tempat ia menaburkan bunga rampai.
Kesetiaan Fatimah tercermin dalam ritual berulang yang menjadi inti film ini. Setiap pagi ia membeli bunga di pasar, memindahkannya dari bungkus daun pisang ke kain putih, lalu mengikatnya rapi sebelum menaburkan bunga rampai itu ke Sungai Batang Agam. Ritual ini bukan sekadar pengulangan, melainkan cara Fatimah menyemah luka, mengikhlaskan tragedi pembakaran rumah gadang keluarganya, serta kematian suaminya di tengah penumpasan PRRI. Ia merawat ingatan dengan doa-doa, agar Kota Payakumbuh tetap diberkahi dan adil.
Menariknya, Edo, sang sutradara, tidak menghadirkan alur dramatik yang konvensional. Ia konsisten dengan kesunyian, repetisi, dan ritme lambat sebagai gaya puitis-reflektifnya. Ibarat bunga rampai—kumpulan bunga dengan aroma masing-masing—film ini menjadi mozaik ingatan yang disebar bersama doa, terus-menerus, tanpa henti.
Dalam kesendirian, Fatimah sesungguhnya tidak benar-benar sendiri. Ia masih memiliki anak laki-lakinya, Amir (Andes), seorang pria pendiam berusia 40-an yang membujang dan bekerja sebagai penjaga parkir. Namun kehadiran Amir justru menegaskan jarak emosional, kontras dengan ikatan spiritual Fatimah pada masa lalu.

Film Bungo Rampai tidak hanya berkisah tentang personal Fatimah, tetapi juga mengangkat sejarah kelam PRRI sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Dengan riset sejarah yang digarap bersama sejarawan Randi Reimena dan Roni Keron, PYAC menegaskan bahwa Payakumbuh bukan hanya kota budaya, melainkan juga ruang yang menyimpan banyak situs sejarah. Melalui film ini, sejarah lisan tentang PRRI kembali dihidupkan, menjadi sumber penciptaan seni yang menyentuh.
Keyakinan ini pula yang membawa PYAC mendistribusikan Bungo Rampai, kurang dari satu bulan film ini dilibatkan dalam ajang festival film yang diselenggarakan Malayapura Films, komunitas film berbasis di Tanah Datar, Sumatera Barat, pada 1–6 Juli 2025. Festival yang didukung Kemenbud melalui Dana Indonesiana-LPDP itu menjadi saksi lahirnya apresiasi, ketika Bungo Rampai berhasil meraih peringkat pertama.
Bungo Rampai adalah sebuah karya yang melampaui batas film pendek. Ia hadir sebagai ritual sinematik untuk merawat ingatan, menaburkan doa, dan mengajarkan kesetiaan pada sejarah yang pernah dilukai. Lewat sosok Fatimah, film ini mengajak kita merenungi arti penyintas, kesepian, dan keberanian untuk merawat luka agar tetap hidup dalam doa. Dengan bahasa visual yang sederhana namun puitis, Bungo Rampai menjadi sumbangan penting bagi ekosistem film indie sekaligus penanda bahwa sejarah, betapapun kelam, dapat dirawat melalui seni. Inilah Bunga Rampai, kisah ingatan kolektif warga atas luka masa lalu dan doa-doa yang akan terus disebarkan dalam bara api yang menolak padam.

