Pilih Laman

Pasar Keroncong Kotagede Sebagai Representasi Kearifan Lokal

Kamis, 28 Desember 2017 | teraSeni.com~

Pasar Keroncong Kotagede merupakan sebuah festival musik keroncong yang diadakan di Kotagede Yogyakarta. Festival musik tahunan yang digelar untuk ketiga kalinya ini kembali digelar pada sabtu 9 Desember 2017. Acara ini diadakan di sekitaran Pasar Kotagede, terdapat tiga panggung yakni Panggung Loring yang terletak di utara Pasar Kotagede, Panggung Sopingen yang terletak di depan Pendopo Sopingen, dan Panggung Kajengan yang terletak di utara Masjid Perak. Pengunjung dimanjakan dengan berbagai sajian keroncong yang dibawakan oleh 14 orkes keroncong.

Filosofi Pasar dan Keroncong
Pasar bagi masyarakat Yogyakarta bukanlah hanya sekedar tempat untuk kegiatan jual beli semata, namun lebih dari pada itu pasar juga merupakan tempat menjalin tali silahturami satu sama lain. Proses tawar menawar yang terjadi di pasar tradisional mengandung nilai-nilai budaya karena melalui peristiwa tersebut masyarakat akan saling berkomunikasi dan mengenal satu sama lain. Pasar merupakan ruang publik di mana masyarakat dari berbagai kalangan dapat bertemu dan berinteraksi.

Di era mileneal ini hal tersebut hampir pudar terutama pada masyarakat urban. Semakin banyaknya pasar-pasar modern (mal) bahkan toko online menjadi alasannya. Berbeda dengan pasar tradisional, pada pasar modern (mal) hampir tidak terjadi nilai-nilai interaksi sosial layaknya yang terjadi pada pasar tradisional.

Pasar Keroncong Kotagede 2017 - www.teraSeni.com
Ya Pasar, Ya Keroncong
(Sumber: Facebook Pasar Keroncong Kotagede)

Musik keroncong dapat diasumsikan sebagai perilaku sosial karena pada prinsipnya seniman musik keroncong berkarya untuk orang lain bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dalam sebuah peristiwa berkesenian khususnya seni musik akan selalu terjadi interaksi antara penampil dengan audiens maupun audiens dengan sesama audiens. Kita semua tentu telah merasakan efek dari era digital di mana akses internet yang serba mudah menjadikan kurangnya komunikasi satu sama lain.

Sebagai contoh, perilaku sosial masyarakat masa lalu dan masa kini telah mengalami banyak perubahan. Pada masa lalu warga banyak berkomunikasi dengan warga lainnya karena akses internet belum semudah saat ini sehingga untuk mencari informasi mereka akan banyak bertanya kepada warga sekitar. Berbeda dengan era digital saat ini yang segalanya serba gadget sehingga intensitas komunikasi antar warga menurun.

Penyatuan dua konsep pasar dan keroncong merupakan ide yang sangat baik. Publik seakan diingatkan mengenai sebuah kegembiraan yang akan dialami melalui peristiwa komunikasi antar sesama. Dalam acara tersebut semua merasakan kegembiraan yang sama, tidak ada eksklusifitas untuk kelompok audiens tertentu, tidak terdapat kursi-kursi VIP. Seluruh lapisan masyarakat dapat mengambil bagian dalam pesta “hajatan” yang diadakan oleh rakyat untuk rakyat ini.

Keroncong dan Semangat Guyub 
Yogyakarta merupakan kota yang terkenal dengan keramahan, sopan santun atau unggah-ungguh, serta kebersamaannya atau sering disebut dengan istilah guyub. Hendaknya nilai-nilai tersebut tidak hilang tergerus perkembangan zaman yang serba digital ini. Media sosial kini telah menghilangkan nilai-nilai sopan santun maupun nilai-nilai kebersamaan karena tanpa interaksi yang nyata seorang individu memiliki kebebasan berekspresi yang kurang dapat terkendali.

Keroncong sebagai warisan budaya merupakan sarana guyub untuk saling berinteraksi dan mewujudkan empati sosial secara nyata. Melalui guyubnya interaksi sosial akan dapat membangun persatuan, seperti tagline yang diusung oleh Pasar Keroncong Kotagede 2017 yakni “Gotong Keroncong Bebarengan.” Ditilik dari segi kalimatnya, tagline tersebut merupakan plesetan dari: gotong royong bebarengan. Gotong royong kini telah memudar di kalangan masyarakat, melalui tagline tersebut akan menumbuhkan kembali semangat gotong royong.

Pasar Keroncong Kotagede 2017 - www.teraSeni.com
Tidak Terdapat Sekat-Sekat
Eksklusifitas Antar Penonton
(Sumber: Facebook Pasar Keroncong Kotagede)

Keroncong sebagai musik warisan budaya dan semangat guyub masyarakat Yogyakarta merupakan suatu bentuk kearifan lokal yang telah dikemas secara apik dalam Pasar Keroncong Kotagede. Hal yang cukup menarik adalah karena sebagian besar penampil maupun pengunjung merupakan masyarakat generasi muda.

Fenomena ini tentunya merupakan suatu hal yang sangat baik karena masyarakat generasi muda adalah sasaran efektif untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal. Selain itu, di tangan para generasi muda lah musik keroncong akan terus dapat terjaga eksistensinya hingga masa mendatang. Semoga Pasar Keroncong Kotagede dapat senantiasa ada setiap tahunnya sebagai representasi kearifan lokal masyarakat Yogyakarta.

Sunyi Jemek Supardi dalam pementasan Ngilogithok

Sabtu, 16 Desember 2017 | teraSeni.com~

Tubuh Sebagai Simbol

Moertri Purnomo meyakini bahwa bahasa gerak bukan sekedar merangsang artis untuk-berkomunikasi tanpa bicara, tetapi seseorang harus mampu menelorkan ide denga simbol, lambang, sinyal, aktivitas, bisnis, gestur, dan ekspresi yang pas, dilakukan dengan menggunakan teknik dan dasar laku tertentu yang mengakibatkan orang lain bisa menangkap arti ataupun makna sesuatu yang akan disampaikan dengan jelas meskipun beberapa saat harus berpikir (Kedaulatan Rayat, April 1985). Ukapan dari salah satu sesepuh pantomimer Jogja diatas dapat menjadi jembatan masuk untuk memahami tubuh Jemek Supardi lebih jauh dalam karyanya Ngilogithok.

Pantomime Ngilogithok Jemek Supardi - teraSeni.com
Jemek Supardi menyalakan lilin
dalam karyanya Ngilogithok,
Kamis 7 Desember 2017, di Pendopo Art Space
(Foto: Ajie Wartono)

Kita tahu Jemek telah lama menjadi figur, tokoh, mitos dunia pantomime Indonesia yang telah malang melintang dalam dunia pertunjukan. Ia telah menelurkan banyak karya hampir sepanjang hidupnya baik pementasan di panggung ; jalanan, ruang publik, tempat pembuangan sampah, sungai, kuburan, kereta, di atas folklift, dan di dalam tong penuh berisi lem panas, dan  banyak lagi. Sosoknya bagi dunia seni pertunjukan meninggalkan banyak cerita misteri, lucu, aneh, menjengkelkan, unik, nakal, liar,  penuh dengan kejutan,  Jemek tiba-tiba bisa muncul dimana dan kapan saja dengan berbagai tema, gaya, improvisasi, kolaborasi, serta penyikapan ruang yang spotanitas. Tak mengherankan jika keistimewaan aksi-aksi  spontanitas dan ide orisinalitas manggungnya, seperti salah satu karyanya berjudul Badut-Badut Republik atau Badut-Badut Politik’ yang bermain di atas ‘Folklift’ berjalan, yang suatu ketika menurut Garin Nugroho mampu memecah kebuntuan konsep ‘Panggung Bergerak’ yang kala itu sedang diperdebatkan oleh seniman seperti Sardono W Kusumo dan Putu Wijaya.

Sekelumit cerita tubuh-tubuh tak terduga Jemek di masa lalu yang selalu tampil di depan untuk dan atas nama pantomim. Ternyata ada yang berubah dalam karya-karyanya saat ini. Seperti Kamis 7 Desember 2017, di Pendopo Art Space, pukul 19.30 WIB Jemek bersama Aktor pantomim Broto Wijayanto dan Asita mementaskan  karyanya Ngilogithok.  Tubuh Jemek rasanya lebih sangat senti mentil. Narasi yang tersurat dari  tubuh yang tergambarkan secara ‘simbolis’ seperti sedang-bergerak menuju jauh ke dalam hal subtil pada dirinya. Tubuh dan gerak pantomim Jemek yang atraktif menjadi semacam ‘hanyut dalam kesunyian’ tidak banyak aktivitas, bisnis, gestur, hanya sinyal-sinyal kecil yang muncul dari ekspresi wajah, tatapan nanar dan kosong, gerak tangan yang hampa dan lintasan-lintasan keluar masuk panggung.

 Melihat tubuh mimer Jemek tanpa sejarah sama juga kehilangan konteks narasi utuh atas ide dan gagasannya tampil malam itu. Setidaknya seperti apa yang ditulis dalam buku ‘Wajah Pantomim Indonesia’ ide-ide karya Jemek Supardi biasa selalu berangkat dari pengalaman dan kegelisahan dalam kehidupan keseharian yang sangat ‘Orisinal’  sekaligus personal yang sedang dialaminya. Tampaknya secara simbolis ada yang sedang berubah dari narasi tubuh Jemek, nampaknya perubahan tersebut telah dimulai sejak tahun lalu. Lewat karyanya ‘Napas’  1 September 2016  di Taman Budaya tahun lalu, ia melakukan pentas  ‘ruwatan’ menyambut kelahiran cucu pertamanya dan menyatakan akan meninggalkan masa lalunya. Tampaknya dulu aksi-aksi pentas pantomim Jemek lebih banyak mengkritik hal-hal di luar diri. Namun semakin ke sini tampaknya ia semakin melakukan kritik terhadap diri (ke dalam).

Bangunan Peristiwa
“Kita memiliki mata, namun mata kita tidak bisa melihat wajah kita secara jelas tanpa cermin” (penggalan awal sinopsis Jemek Supardi)

Jemek naik panggung, ia lalu duduk di kursi pojok belakang, mengenakan pakaian putih tanpa make up. Kemudian perlahan  mulai berdandan mengolesi wajahnya dengan bedak Body Painting berlatar belakang bundaran putih menggantung seperti bakpau. Sementara sisi lain sekitar dirinya  penuh tertata seratusan kaca pengilon kecil dengan lilin-lilin. Musik mengalun, berdampingan dengan suara-suara mesin kamera para pemburu gambar panggung dan Gun Smoke. Selesai berdandan Jemek berdiri  kemudian  jalan berlalu keluar panggung, menghilang.

Pantomime Ngilogithok Jemek Supardi - teraSeni.com
Asita dan Broto Wijayanto, dua pantomimer muda
beraksi dalam Ngiloghitok
(Foto: Ficky Sanjaya)

Pantomimer lain, Asita dan Broto Wijayanto sedari awal berjongkok  berada di depan bawah panggung  ketika jemek sedang berdandan. Setelah Jemek keluar, Asita bergerak layaknya orang yang tengah sibuk bekerja di kantor. Sedang Broto menjadi orang Jawa yang suka ‘leyeh-leyeh’. Keduanya tampak ingin menampakkan sosok manusia keseharian dalam wujudnya yang ‘realis’ dari penegasan karakter kostum keseharian yang mereka kenakan (baju hem, celana kain, dasi dan baju surjan, celana komprang serta sarung). Meski gerak-gerik tubuh ciri khas pantomim mereka tidak dapat dikata realis (karikatural, mimik ekpresif, dan penuh gerak-gerak stilir dan patah) tubuh Asita yang atletis dan lentur,  tampak ‘datar’. Padahal, dengan kecakapan dan kemampuan  tubuh yang dimiliki tersebut,  sepertinya gerak-gerak melebihi “tiruan” mampu dijangkau.

Sementara Broto tampil ekpresif dan detail,  kefasihan tubuhnya memusatkan tenaga pada gerak-gerak visual pantomimik dan improvisasi sungguh bening dan meyakinkan. Kecenderungan-kecenderungan dalam caranya bermain itulah yang selanjutnya menjadi tipikal bagi siapa saja yang sering melihatnya tampil. Lagi, gerak-gerik kedua pantomimer ini diiringi musik ilustratif yang terkadang artifisial (musik dan gerak berkesinambungan berkecenderungan menjelas-jelaskan suasana yang sudah jernih).

Kedua aktor tersebut banyak bergerak mendominasi pertunjukan. Menyusun narasi gerak cerita ‘keseharian mereka’ secara bergantian. Mereka kemudian merajut cerita pertemuan, keluar rumah dan berjumpa  disebuah kota dengan bis yang entah. Menuruni dan menaiki tangga, menyusuri cuaca dan bergantian memasuki pintu demi pintu imajiner. Kedua pantomimer meganti kostumnya serba putih, sebelum membokar satu pintu terakhir untuk masuk menuju Jemek yang sedari tadi telah masuk dan nencoba menyalakan lilin yang ada diatas panggung.

Pertunjukan menjadi sentimentil  sebab Jemek tampaknya tidak banyak bergerak berpantomim. Secara gestur ia lebih banyak diam bersembunyi dibalik sinyal dan simbol, melalui gerak-gerik kecil ekpresi wajah dan pose, juga secara biasa mulai menghidupan lilin-lilin  satu-persatu di depan puluhan kaca pengilon kecil. Asita dan Broto turut membantu menyalakan. Jemek memainkan cahaya dari pantulan ligthing yang mengenai dua kaca yang dipegannya bergantian. Suasana gerak-gerik pemain di atas panggung dengan komposisi cahaya lilin yang menyala silih berganti, sungguh puitis seperti sajak liris dari irama lagu ‘Hujan Bulan Juni’ Sapardi Joko Damono.

Pantomime Ngilogithok Jemek Supardi - teraSeni.com
Asita sibuk bekerja di kantor, sedang Broto
suka ‘leyeh-leyeh’ dalam Ngiloghitok
(Foto: Ficky Sanjaya)

Ketika lilin menyala seluruhya, Jemek membawa beberapa kaca dan dibagikan kepada penonton. Ketika kaca sampai ketangan para penonton, suara lirih ajakan ngilo menggema dari dalam sound. Kaca masih terus dibagikan dibantu Asita dan Broto, Lampu penoton kemudian menyala, penonton saling melihat, ada yang spotan langsung berkaca, ada hanya berdiam. Namun ajakan ngilo terus menggema hingga akhir pertunjukan.

Puncaknya sebuah kain putih disingkap, muncul kaca pengilon berukuran besar dimana Jemek awal sebelumnya duduk berdandan. Para pemain bermain sebentar dengan bayangan dari anggota tubuhnya yang mucul dikaca, sebelum akhirnya berpose diam, cahaya benderang menerang seluruh aktor dan kemudian redup dengan cepat.

Rangkaian pertunjukan yang kurang-lebih 60 menit tersebut didukung oleh Sanggar Seni Kinanti dan Pendopo Art Space,  melibatkan stuktur produksi lengkap meliputi sutradara : M. Shodiq Sudarti, penata bunyi : Guntur Nur Pusputo, Artistik: Warto Ibrahim, duo Teguh dan Tholi, Erfianto Wardana, Sound Uta, Gendon, dan Blass Grup, Kostum : Dian Santyas, dan dibantu oleh bebera crew panggung.

Sedayu 7 Desember 2017

Sosak; Karya Tari Tentang Bertahan dari Sesak Pertarungan Budaya

Jumat, 15 Desember 2017 | teraSeni.com~

Juli 2017 lalu di ISI Surakarta saya menyaksikan beberapa pertunjukan Tugas Akhir mahasiswa penciptaan tari ISI Surakarta. Ada satu karya yang menarik bagi saya, yaitu karya dengan judul Sosak dengan koreografer Riyo Fernando (dengan pembimbing: Eko Supriyanto). Sekilas melihat karya tersebut nampak seperti orang-orang yang melawan rasa sesak yang diakibatkan oleh asap. Banalnya lagi ketika saya mengetahui bahwa Riyo (koreografer) berasal dari Riau, saya semakin yakin karyanya terinspirasi oleh kebakaran hutan di Riau yang pernah memakan korban jiwa. Mungkin saja asap menjadi sumber inspirasi, namun saya melihat pertarungan dalam melawan asap; rasa sesak merupakan metafora yang ingin terus saya telusuri lebih dalam, karena saya meyakini bahwa dalam penciptaan karya tari, bentuk-bentuk tubuh terlatih dan penggunaan properti tidak hanya memunculkan impresi bagi yang melihatnya. Penciptaan karya tari seharusnya juga dapat memberikan pengalaman reflektif secara akurat, meski akurat dalam seni belum tenbisa kita bedah secara positivistik.

Karya Tari Sosak (Juli, 2017)
Koreografer: Riyo Fernando

Sosak, dalam pandangan saya merupakan karya yang berbicara tentang manusia-manusia yang berupaya bertahan dari asap-asap budaya asing yang terus menerus berusaha membuat manusia di Indonesia kehilangan oksigen (yang dalam karya Sosak dianalogikan sebagai budaya-budaya lokal). Asap-asap yang kini dikendalikan oleh kapitalis dalam arena pertarungan budaya membuat manusia-manusia menjadi terkontaminasi kemurnian budayanya. Maka untuk melindungi kemurnian budaya lokal tersebut, manusia-manusia itu sendirilah yang harus terjun ke dalam arena pertarungan budaya.

Representasi tubuh Sesak
 yang terjajah asap budaya asing
dalam arena pertarungan budaya

Pertunjukan ini dimulai dengan repetisi tubuh yang membungkuk dan suara sesak yang kian mengeras. Suara sesak bila direlasikan dengan gagasan Riyo di atas tadi merupakan representasi dari manusia-manusia yang mulai kehilangan oksigen. Kemudian di pertengahan terdapat sekumpulan manusia yang mulai bergegas melawan kesesakan karena asap (melalui repetisi-repetisi gerak yang dikembangkan dari salah satu gerak Melayu). Di bagian akhir pertunjukan, para penari membuka pakaian mereka yang telah kuyub dengan keringat, dengan pakaian basah itulah mereka melakukan gerak melawan asap-asap.

Repetisi tubuh yang membungkuk dan suara sesak yang kian mengeras
Secara dasar, pertunjukan ini memang seperti gerakan melawan asap yang telah mencemari udara yang dihirup oleh manusia. Namun seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa karya seni merupakan refleksi dari kehidupan yang mampu memberikan kesadaran kritis kepada siapa saja yang melihatnya. Begitu pula dengan karya Sosak ini, sederhana tetapi memiliki kedalaman tentang kehidupan.

Bila kita relasikan pilihan kreatif yang ditampilkan oleh Riyo pada awal pertunjukan, menampakkan tubuh sekumpulan orang-orang yang membungkuk. Tubuh yang membungkuk dapat direlasikan dengan kata sakit (Danesi, 2012), sehingga awal pertunjukan yang menampilkan tubuh membungkuk dan suara sesak dapar merepresentasikan rasa sakit manusia yang tidak lagi mendapatkan kesegaran-kesegaran yang dihadirkan melalui budaya lokal. Budaya-budaya lokal justru sering dielaborasi atau dikolaborasikan dengan budaya-budaya Barat yang penggunaannya sendiri sangat dipaksakan dan tidak berdasarkan kebutuhan dalam mengangkat budaya lokal. Hal ini menyebabkan banyaknya masyarakat Indonesia secara tidak langsung teracuni oleh budaya Barat.

Representasi tubuh yang berusaha
bertahan dari asap budaya asing

Kumpulan penari dan repetisi gerak tari Melayu
Pada bagian pertengahan karya ini terdapat sekumpulan penari yang melakukan repetisi tari Melayu. Repetisi-repetisi terhadap gerak tari Melayu merupakan penanda yang menampakkan adanya kegiatan dalam mempertahankan budaya lokal dalam kesesakan perang budaya yang terjadi di Indonesia.  Repetisi ini tidak hanya sekedar repetisi yang kita saksikan dalam pertunjukan tari Melayu pada umumnya. Repetisi ini sendiri merupakan penguatan terhadap budaya lokal, dimana penguatan-penguatan tersebut didukung dengan hadirnya lompatan-lompatan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Pina Bausch tentang repetisi gerak, “semakin sering suatu gerak diulang, maka akan membawa penari pada perbedaan hasil yang akan menentukan kualitas gerak” (Climenhaga, 2009) Budaya lokal juga serupa seperti repetisi, semakin sering ia dilakukan akan memberikan kualitas hasil yang memiliki nilai. Nilai inilah yang akan memperkuat manusia dalam menghadapi peperangan Budaya.

Representasi Tubuh Penguatan Budaya Lokal

Peperangan Budaya
Sekumpulan penari membuka pakaian mereka yang telah kuyub dengan keringat. Mereka mengibas-ngibaskan pakaian mereka  sembari menutupi mulut mencoba untuk mengurangi polusi asap yang ada di sekitarnya agar banyak udara bersih yang dapat dihirup kembali oleh manusia. Gerak mengibas-ngibaskan pakaian bila direlasikan dengan dengan konteks pertahanan budaya lokal merupakan kegiatan dimana orang-orang secara sadar melakukan pertarungan budaya dengan identitas mereka dalam budaya lokal. Hal serupa dikatakan oleh Van Peursen (Strategi Kebudayaan:1988) “kesadaran ini merupakan suatu kepekaan yang mendorong manusia agar dapat secara kritis menilai kebudayaan yang sedang berlangsung.”

Tubuh yang merepresentasikan
perlawanan pada arena
pertarungan budaya

Properti yang digunakan para penari merupakan pakaian mereka yang telah kuyub. Pakaian dapat direlasikan sebagai identitas budaya. Maka gerak di saat para penari mengibas-ngibaskan pakaian mereka merupakan momentum dimana mereka berusaha mengurangi asap-asap budaya asing yang semakin melumpuhkan budaya lokal di arena pertarungan budaya. Karena kelumpuhan dari budaya lokal akan berpengaruh pada nafas kearifan lokal yang ada di berbagai daerah negara Indonesia. Kemusnahan dari kearifan lokal sama dengan kemusnahan identitas sebuah daerah. Semakin banyak identitas daerah yang hilang, semakin samar pula identitas sebuah negara di hadapan negara lain.

Tubuh yang kehilangan suara
Dalam hubungan kausalitas, perlawanan akan terjadi bila ada salah satu pihak mengalami ketertindasan. Seperti itulah ekspresi tubuh yang ingin saya lihat dalam karya Sosak ini, akan tetapi beberapa tubuh tidak saya dapati memiliki bekas atau sejarah tentang pengalaman rasa sesak. Tubuh-tubuh tersebut, bagi saya terlihat sangat kuat dari awal pertunjukan hingga akhir. Saya menyebutnya tubuh-tubuh atraktif dengan sebuah teknik. Tentu saja pertunjukan dengan teknik yang terlatih akan memunculkan sebuah impresi, akan tetapi impresi saja tidak cukup. Pertunjukan tari seharusnya tidak hanya bekerja pada wilayah pukauan mata, akan tetapi mampu menggugah batin audiens melalui ekspresi. Sehingga secara tidak langsung mampu membawa audiens ke dalam wilayah kontemplasi. Namun demikian bukan berarti ekspresi itu tidak ada dalam pertunjukan Sosak. Tentu saya menangkap beberapa pesan yang coba dihadirkan melalui pertunjukan tersebut.

Sebagai penonton tentu saya memiliki harapan untuk melihat sebuah pesan yang dapat disampaikan kepada penonton dengan gugahan-gugahan ekspresi tubuh. Dalam hal ini (pendapat saya bisa saja salah) saya kurang melihat beberapa tubuh tersebut mengalami rasa sesak yang secara langsung menyerang dirinya—baik sesak karena asap secara harfiah atau sesak yang hadir karena budaya-budaya asing yang semakin membuat hidupnya tidak nyaman. Sehingga pemilik tubuh merasa sesak dengan budaya asing yang kian hari kian menjajah pikiran, batin dan tubuhnya.

Terlepas dari kekurangan (kritik) dalam pandangan saya yang sangat subjektif, tentu saya menangkap sebuah maksud yang akan saya tuliskan dalam penutupan tulisan ini. Bagi banyak orang, mungkin merasa kecewa pada akhir pertunjukan ketika melihat tubuh-tubuh yang bertarung di arena pertarungan budaya tersebut yang ditutup dengan suara-suara sesak dan kelelahan. Katakanlah lampu padam adalah simbol kekalahan, akan tetapi kekalahan tidak harus dimaknai sebagai rasa putus asa. Kekalahan atau kematian seharusnya mampu memberikan sebuah spirit untuk tetap memperjuangkan sesuatu. Maka untuk menegaskan makna perjuangan saya mengutip kalimat Emha Ainun Nadjib (64) tentang perjuangan, “Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang.”

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dari koleksi foto Eko Crozher dan @aulianurrajut.

Lewat Satu Dekade Ngayogjazz

Kamis, 14 Desember 2017 | teraSeni.com~

Tahun 2017 merupakan tahun kesebelas atas penyelenggaraan event jazz tahunan Yogyakarta, Ngayogjazz. Pergelaran yang telah lewat satu dekade perhelatannya ini perlu diancungi jempol. Pasalnya, tidak mudah menjaga konsistensi dan merawat semangat dalam menggelarnya. Hasilnya pun cukup dapat dirasakan, impresi positif dari penampil dan penonton bertubi-tubi muncul. Sebagaimana sebuah pergelaran, Ngayogjazz pantas ditunggu oleh penampil dan penonton, baik tingkat lokal, nasional, ataupun internasional.

Berbeda dengan penyelenggaraan festival musik jazz lain yang lazimnya diselenggarakan di gedung pertunjukan yang bonafit, Ngayogjazz dihelat di lapangan terbuka dengan kontur pedesaan. Alih-alih menetap, lokasi penyelenggaraan Ngayogjazz bersifat nomaden, selalu berubah dari satu desa ke desa lainnya. Pada tahun ini, Ngayogjazz diselenggarakan di Ds. Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman.

Ngayogjazz 2017 - www.teraSeni.com
Panggung Merdeka Ngayogjazz 2017 dibuka
oleh penampilan musisi-musisi Omah Sogan,
kontingen dari Pekalongan Jazz Society
(Foto: www.facebook.com/ngayogjazz/)

Dihelat pada hari sabtu (18/11), Ngayogjazz 2017 menyediakan enam panggung yang tersebar di dusun tersebut. Pelbagai nama musisi Jazz, seperti: Begawan-Begawan Jazz Feffrey Tahalele and Friends, Bintang Indrianto – Gambang Suling Feat Bianglala Voices, Remi Panossian Trio, Nonaria ft. Bonita, dsbnya, ikut serta. Selain itu, pergelaran jazz ini turut mengundang beberapa nama musisi lintas genre, seperti: Endah N Rhesa, Gugun Blues Shelter, Tashoora, Rully Shabara, Mantradisi, dsbnya. Yang tidak kalah menarik, Ngayogjazz tidak pernah absen mengundang komunitas jazz daerah, seperti: Pekalongan Jazz Society, JES UDU Purwokerto, Jazz Ngisor Ringin Semarang, Komunitas Jazz Ponorogo Jazztilan, Komunitas Jazz Trenggalek, Komunitas Jazz Jogja, Fusion Jazz Community Surabaya, Komunitas Jazz Magelang, dsbnya. Susunan penampil yang kiranya utuh sebagai sebuah pertunjukan, baik secara kualitas, ataupun popularitas.

Dalam merekatkan relasi musisi dan penonton, Ngayogjazz mengangkat tema “Wani Ngejazz Luhur Wekasane”. Tema tersebut meminjam dari sebuah pepatah Jawa “Wani Ngalah Luhur Wekasane”, yang artinya “siapa yang berani mengalah akan mendapatkan kemuliaan.” Pepatah yang kiranya reflektif dan tepat dengan keadaan masyarakat Indonesia yang belakangan ini kerap beradu mulut, yang jauh dari akal sehat.

Tren Positif Ngayogjazz
Diawali dengan siang berawan, penonton perlahan berdatangan. Beberapa di antaranya memilih untuk datang tengah hari karena alasan tidak akan bertahan hingga larut. Maka dengan strategi datang awal diharapkan dapat melihat penampil terakhir pada sesi check sound. Beruntungnya, Ngayogjazz dikenal sebagai pergelaran yang cukup tegas dalam waktu, sehingga momok keterlambatan pertunjukan jauh panggang dari api. Pun jika terjadi ‘ngaret’ tidak akan memakan waktu lama, bahkan hujan sekalipun.

Hal ini tentu terkait dengan pengelolaan sumber daya, mulai dari infrastuktur seperti penataan pergelaran secara utuh, hingga suprastruktur, seperti sekertariat, stage manager,pranata suara, volunteer, juga para penjaja makanan yang dilibatkan—baik dari warga setempat atau penjual yang berpindah. Dalam hal ini, Ngayogjazz telah membuat ‘pakem’ positif dari mekansime pengelolaan sumber daya. Jika ingin sesumbar, bahkan aturan-aturan panggung dari teoritikus manajemen panggung, Stephen Langley pun bisa dikondisikan.

Ngayogjazz 2017 - www.teraSeni.com
Mrs. Holdingsky duta dari Jazztilan Ponorogo,
tampil dinamis dan menghangatkan
Panggung Ngayogjazz 2017
(Foto: www.facebook.com/ngayogjazz/)

Dari tren positif dalam pengelolaan sumber daya, khususnya manusia, namun ada hal yang perlu dicatat dalam pergelaran Ngayogjazz 2017. Di mana kerap terdengar keluhan penonton seperti, “suara di panggung Markas dan Gejog Lesung bocor”, “kok sound system di panggung Merdeka paling bagus ya?”, dan sebagainya. Jika hal ini memang dirancang untuk mengarahkan penonton ke panggung Merdeka sebagai panggung utama, maka itu sah-sah saja. Namun jika ide panggung utama dan sebagainya tidak dirancang, tentu hal ini perlu dipikirkan. Terlebih pembagian susunan penampil di tiap panggung telah terbagi secara baik. Sederhananya, penampil yang mempunyai popularitas disebar sedemikian rupa.

Bicara penampil, hal yang paling spesial dari Ngayogjazz adalah pemeliharaan jejaring antar musisi Jazz di pelbagai daerah, seperti: Solo, Pekalongan, Purwokerto, Semarang, Ponorogo, Trenggalek, Jogja, Surabaya, Magelang, dsbnya. Pemeliharaan jejaring musisi Jazz daerah yang dibina oleh Ngayogjazz adalah nilai lebih dari pergelaran ini. Pasalnya, kita dapat mengetahui lebih lanjut terkait perkembangan musik Jazz tidak hanya di kota besar, tetapi juga di kota-kota kecil yang sebelumnya tidak terdengar. Kendati penampilan komunitas tersebut lazimnya digelar di awal dan tengah acara—entah karena alasan estetik atau popularitas—, pelbagai penampil justru mendapatkan hal langka, yakni pengalaman dan ruang.

Selain pengalaman personal bagi komunitas, Ngayogjazz disiapkan menjadi sebuah ruang yang tidak hanya mengakomodasi musik Jazz, melainkan memberikan pengalaman berbeda dalam menikmati Jazz. Pengalaman ini berasal dari ‘pesona’—atau ‘eksotika’ yang dimunculkan—dusun penyelenggara, mulai dari lanskap alam, rumah pedesaan, persawahan, jajanan kampung, termasuk warganya. Tentu warga kota besar akan gumun dibuatnya, dan ini akan menambah minat penonton di kemudian hari. Namun bagi mereka yang tinggal dengan kontur masyarakat ala kadarnya, hal ini tentu biasa saja. Hal yang justru membuat penonton yang telah terbiasa dengan lanskap geografis seperti itu adalah keriuhan penonton dan musik Jazz yang dipertunjukan.

Hal yang tidak kalah menarik dari Ngayogjazz adalah tersedianya booth yang terkait dengan musik. Mulai dari organologi Barat, perlengkapan sound, koleksi piringan hitam, kaset, hingga hal yang kerap dilupakan, buku musik. Ekosistem yang cukup utuh untuk sebagai sebuah pergelaran. Atas segala catatan di atas, perlu rasanya penyelenggara festival—khususnya yang mendapuk dirinya EO—seni budaya meneladaninya.

Apakah Masyarakat Benar ‘Tergarap’?
Salah satu pertanyaan yang kerap terlontar dari pergelaran Ngayogjazz adalah “Seberapa jauh masyarakat setempat terlibat pada pergelaran tersebut?” Hal ini cukup penting, pasalnya pergelaran bergengsi ini selalu berganti-ganti tempat perhelatan. Dampak langsung dari bergantinya tempat adalah pertemuan dengan masyarakat yang baru. Yang menjadi persoalan, bagaimana kedalaman keterlibatan tercipta ketika masa pelaksanaan hanya sekali saja?

Pada Ngayogjazz 2017, keterlibatan masyarakat yang paling eksplisit terdapat pada akses lahan dan pengelolaan parkir. Hal ini memang sangat jitu, pasalnya hanya masyarakat lah yang mengetahui secara strategis seluk beluk akses jalan di daerah tersebut. Alih-alih warga hanya terlibat di kasawan parkir, warga terlihat turut sibuk memantau keberlangsungan pergelaran, baik mengatur arus penonton di dalam dusun, ataupun menjajakan makanan.

Ngayogjazz 2017 - www.teraSeni.com
Sajian musik Gugun Blues Shelter
yang penuh energi menghipnotis penonton
di perhelatan Ngayogjazz 2017
(Foto: www.facebook.com/ngayogjazz/)

Namun, tidak dipungkiri bahwa warga setempat tidak memiliki peran khusus pada ranah estetika (baca: musik). Keikutsertaan warga lebih pada pelaksana pengelolaan saja. Dalam hal ini, alangkah elok jika turut mempertimbangkan keterlibatan tokoh budaya setempat untuk bersinergi. Semisal Ds. Kledokan yang telah akrab dengan aktivitas pelestarian budaya dan kesenian—seperti kelompok kesenian tradisional gejog lesung dan prajurit Bregada—dieksplorasi secara lebih. Semisal praktik kolaborasi atau penempatan pentas kesenian setempat yang lebih strategis—semisal di agenda malam—pada jadwal pergelaran.

Pasalnya, kiranya tidak ada satu dampak besar dari masyarakat terlibat—dalam hal ini dusun-dusun penyelenggara sebelumnya—yang berpartisipasi lebih pada jagad Jazz Yogyakarta. Di satu sisi penyelenggaraan yang tersebar akan menimbulkan rangsangan bagi setiap insan yang mendengar. Namun kiranya perlu dilihat lebih lanjut, rangsangan terhadap warga lebih pada rangsangan pengelolaan pergelaran atau musikal.

Bertolak dari itu semua, kita tetap perlu mengagumi dan mengapresiasi penuh kerja satu dekade lebih Ngayogjazz dalam melibatkan warga. Ngayogjazz menjadi satu anomali tersendiri bagi pertunjukan jazz ‘mewah’. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa Ngayogjazz telah menjadi role model bagi pergelaran dan festival jazz baru lainnya. Namun kiranya keterlibatan peran dan minat pada jazz dari warga perlu diupayakan lebih. Pasalnya, jangan sampai mereka yang terinspirasi dari Ngayogjazz dalam melibatkan warga justru hanya sebatas praktik penggunaan tempat karena alasan site spesific semata, persis kolonial yang datang ke lokasi jajahan, atau oknum yang berdalih kerja untuk rakyat namun hanya ‘mencaplok’ tanah warga.[]

Identity Project-Forum Aktor Yogyakarta; Pertanyaan Tentang Kesadaran

Sabtu, 11 November 2017 | teraSeni.com~

Seorang perempuan bergerak dengan salah satu lagu Radiohead: Lotus Flower. Kadang ia bergaya seperti seorang model, kadang ia juga bergerak  seperti  seorang penari. Makin lama perempuan tersebut menjadi begitu ekspresif hingga tibalah seorang lelaki berjalan menuju kamera dan mengambil gambar si perempuan dengan lampu flash yang menyala. Perempuan tersebut mendadak menjadi kaku, pemalu dan kikuk. Perlu waktu beberapa detik agar ia dapat menjadi netral. Si laki-laki dengan santai membuka pertunjukan mereka dengan perkenalan dan sedikit introduksi tentang realitas.

Identitas
Yudha (Sutradara dan penulis naskah) dan Puput, seperti itulah mereka memperkenalkan diri mereka. Mereka memulai percakapan tentang realitas dan media sosial. Percakapan itu mengarah kepada individu tertentu. Semula percakapan mereka terdengar seperti  “nyinyir”. Nyinyir itu tidak hanya didapati pada ranah obrolan kedua aktor.  Pada tampilan proyektor yang ditembakkan ke arah tembok—berupa obrolan grup line yang di-capture melalui handphone—juga terdapat sebuah kenyinyiran meskipun tidak terlihat nyata seperti yang digadang-gadangkan kedua aktor tersebut dalam obrolannya.. Namun seiring percakapan itu terus berlanjut, terdapat pertanyaan-pertanyaan berkualitas tentang identitas manusia-manusia penghuni dunia maya di hadapan realitas.

Identity Project-Forum Aktor Yogyakarta-teraSeni.com
Puput dan Yudha
mendiskusikan percakapan grup line,
Salah Satu Adegan dalam Identity Project
Forum Aktor Yogyakarta
(Foto: Agathon Hutama)

Percakapan itu terus berlanjut ke arah identitas diri. Kedua aktor tersebut terus beradu argumen tentang identitas diri si subjek yang kian bias karena media sosial. Selain itu, pertunjukan ini juga melibatkan penonton secara langsung untuk ikut berpartisipasi dalam asumsi-asumsi yang sedang mereka bangun. Mana kah identitas kita sesungguhnya?  Identitas yang kita bangun di dunia maya atau identitas yang ada dalam realitas sosial?

Pertanyaan-pertanyaan itu seperti ditujukan kepada penonton, dan secara tidak langsung mengajak penonton menyelam ke dalam pengalaman reflektif yang dihadirkan oleh pelaku seni (baik aktor atau sutradara). Melalui momentum ini saya teringat ujaran Jacob Sumardjo dalam bukunya Filsafat Seni (2000) bahwa, “karya seni yang baik tentu saja harus mampu memberi pengalaman reflektif kepada siapa saja yang melihatnya, sehingga daya gugah yang dihasilkan dapat mengantarkan penonton pada perubahan”

Banyak orang berlomba-lomba mencitrakan dirinya dalam sebuah postingan di media sosial, sebagai contoh instagram.  Setiap postingan seakan-akan menjadi puzle bagi pemilik akun instagram untuk membangun identitas mereka, meskipun identitas itu sendiri adalah citraan yang dibuat dengan tujuan masing-masing dari pemilik akun.  Kira-kira itulah point yang ingin disampaikan dalam pertunjukan Identity Project, produksi Forum Aktor Yogyakarta, yang berpentas di tiga kampus di Yogyakarta pada pertengahan Oktober 2017 lalu. Identity Project ingin membawa penonton pada fase kesadaran diri di hadapan media sosial.

Identity Project-Forum Aktor Yogyakarta-teraSeni.com
Yudha menjelaskan perihal tubuh
yang didewasakan kamera
Adegan lainnya dalam Identity Project
Forum Aktor Yogyakarta
(Foto: Agathon Hutama)

Tentang Kesadaran
Pertunjukan Identity Project produksi Forum Aktor Yogyakarta tidak hanya mengajak penonton pada titik kesadaran identitas dalam kepungan media sosial dimana seseorang bisa mengatakan sebuah kalimat atau berada dalam sebuah peristiwa yang berbeda antara realitas dan media sosial. Di tengah-tengah pertunjukan kedua aktor  tersebut menyuguhkan fenomena tentang tubuh-tubuh yang didewasakan oleh kamera. Tubuh yang dewasa karena kamera merupakan tubuh yang secara sadar dapat mendeteksi bahwa si pemilik tubuh sedang dalam pengawasan kamera.

Kesadaran tersebut tidak hanya muncul  secara tiba-tiba seperti yang dibahas dalam psikoanalisis (contoh: ketika seseorang sedang berfoto selfi sehingga ia mengatur posisi tubuh, wajah bahkan senyum agar mendapatkan hasil yang baik. Kesadaran ini sendiri justru lebih mengacu pada bagaimana sikap tubuh seseorang di hadapan kamera, secara spontan tubuh itu sendiri akan berubah menjadi sangat teratur dan tertata di hadapan kamera.

Dalam petunjukan ini, yang dimaksud dengan tubuh bukanlah badan (secara biologis) yang bersifat fisik dan terbatas ruang geraknya.  Akan tetapi, tubuh yang dimaksud di sini merupakan tubuh secara keseluruhan yang melekat pada diri manusia, mulai dari mental, jiwa, pikiran, rasa, prilaku, bahasa, penampilan, simbol dan aktifitas sosial lainnya. Tubuh secara keseluruhan ini mendadak menjadi dewasa bila dihadapkan dengan kamera, karena dalam kehidupan sosial saat ini kamera telah menjadi mata kedua bagi masyarakat sosial itu sendiri.

Kamera dapat berelasi secara langsung dengan media sosial karena masyarakat masa kini bisa dengan mudah memposting hasil gambar ke media sosial. Hal ini tidak hanya terjadi pada orang-orang dewasa. Seperti virus, pendewasaan tubuh karena kamera ini juga menyerang anak-anak. Dengan sangat mudah mereka meniru hal-hal yang dilakukan orang-orang dewasa. Seperti yang terjadi pada Puput, tubuhnya mendadak menjadi dewasa (teratur dan selalu ingin nampak baik).

Pada akhirnya melalui pertunjukan Identity Project dapat disimpulkan bahwa manusia yang telah dikepung oleh media sosial harus memiliki kesadaran dan sangat paham resiko-resiko apa saja yang akan di hadapinya. Identity Project merupakan pertunjukan yang tidak hanya mempertanyakan tentang realitas, akan tetapi bagaimana realitas itu sendiri. Terlepas dari semua asumsi dan fakta  yang coba dihadirkan dalam pertunjukan Identity Project, pertunjukan ini berhasil  mengantarkan kita pada kesadaran diri. Kesadaran yang akan membentuk tentang identitas kita di media sosial.