Pilih Laman
Pertemuan Komunitas Seni Anak Muda Sumatra Barat (Catatan Lokakarya: Kota dan Seni Anak Muda)

Pertemuan Komunitas Seni Anak Muda Sumatra Barat (Catatan Lokakarya: Kota dan Seni Anak Muda)

Minggu, 2 Desember 2018 | teraSeni.com~

Di pertengahan Oktober 2018 lalu, saya diajak bertemu oleh Roni “Keron” Putra di Padang. Ia mengundang Metasinema dan Shelter Utara untuk datang ke Payakumbuh dalam agenda pertemuan komunitas seni anak muda di Sumatra Barat. Setelah bertemu beberapa saat itu, Keron langsung pergi ke Solok, untuk mengundang komunitas-komunitas seni di sana. Ternyata selama tiga hari itu ia bersama rekannya berkeliling Sumbar untuk mengundang komunitas-komunitas seni di provinsi ini. Sebelum ia beranjak dari Padang, saya tanyakan “komunitas seni seperti apa yang Abang undang?”yang terlihat aktif, baik itu di nyata atau di maya, jawab Keron. 

24 November 2018, pukul 20.00 malam, di Basecamp Legusa Fest, Nagari Tanjung Haro, Kabupaten Lima Puluh Kota, agenda itu dihadiri oleh sebelas komunitas berbasis seni dari berbagai daerah di Sumbar. Diselenggarakan oleh Payakumbuh Youth Artee Committee (PYAC), pertemuan itu dijuduli Lokakarya Seni dan Anak Muda: Mengisi Ruang Kosong Kota. Keron sebagai moderator memberi pengantar dan latar belakang agenda tersebut. Pertemuan ini muncul merespon semaraknya media sosial yang berisi kegiatan komunitas-komunitas berbasis seni di Sumbar, munculnya ruang dan media alternatif yang dikelola oleh anak muda, bahkan yang mengisi media cetak di Sumbar kebanyakan anak muda. Bahkan, kegiatan-kegiatan tersebut telah ikut turut menyumbang sesuatu untuk citra dan branding kota. Lantas kenapa kita tidak saling bersinergi dan berkolaborasi untuk memajukan kesenian di Sumbar? 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Anak-anak muda pegiat seni Sumatera Barat saling membicarakan apa yang telah dan akan mereka kerjakan
Sepuluh komunitas itu adalah: PYAC berbasis di Payakumbuh, Legusa, di tempat agenda itu berlangsung, Sibiran, Metasinema, dan Shelter Utara berbasis di Padang, Ladang Rupa dari Bukittinggi, Sarueh di Koto Tuo Ampe Angkek, Agam, Takasiboe dari Solok Selatan, Gubuak Kopi di Solok, Sapakek di Padang Panjang, dan 9 Pucuak Fest di Sungai Talang, Lima Puluh Kota. 
Keron meminta para komunitas dengan perwakilannya untuk mengenalkan diri dan apa kegiatan-kegiatannya, dan bagaimana pembacaan serta respon atas kondisi bidang yang digeluti. Pada bagian selanjutnya, pembahasan berlanjut pada kemungkinan kolaborasi antar komunitas. Kebetulan saya diminta untuk jadi pencatat pembicaraan, saya coba rangkum poin-poin itu seperti berikut. 
Komunitas dan Sikap Terhadap Kondisi Sekitar 
Keron melanjutkan dengan penjelasannya mengenai PYAC. Di Payakumbuh, banyak anak muda dengan segala macam kreativitasnya, mereka coba untuk berkumpul dan membuat sebuah ruang jejaring bernama PYAC. Diniatkan untuk merealisasikan ide-ide yang ada pada diri anak muda itu, sehingga tercipta sebuah momen untuk dinikmati oleh warga, bisa untuk saling mendukung dan menginspirasi. Salah satu kegiatannya adalah Ngopini, sebuah diskusi yang dilaksanakan setiap bulan di sebuah kafe atau ruang terbuka untuk mebicarakan fenomena anak muda yang merespon kondisi sekitarnya, baik itu di kesenian, kebudayaan, industri kreatif, sejarah, dll. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Setiap komunitas mempresentasikan program
Vhky Putra dari Sibiran melajutkan pergiliran mikrofon. Dari sebuah industri kreatif, memproduksi buah tangan (merchandise) dari kayu-kayu, kemudian berkembang menjadi ruang kegiatan musik dan teater. Kebiasaan mereka semenjak jadi mahasiswa yang dekat dengan kegiatan itu, ditambah keengganan untuk bekerja dibawah orang lain, akhirnya membentuk sebuah komunitas Sibiran.Ia melanjutkan dengan pengamatannya atas kondisi komunitas seni di Padang.Ia merasa ada yang tidak sehat, komunitas serta kegiatannya itu terfragmen, dan jarang yang melebur antara lain. Akhirnya muncul nabi-nabi (baca:penggiat) di antara mereka, bersabda untuk lingkungan mereka pula. 
Namun, Shelter Utara, seperti yang dipaparkan salah satu penggiatnya Randi Reimena, hadir dan berusaha untuk meleburkan kondisi itu. Sebagai perpustakaan terbuka dan ruang yang bisa dipakai untuk diskusi, pertunjukan, pemutaran, dengan beragam kegiatan disana, mulai dari sastra, musik, film, fotografi, sejarah, dan filsafat. SU agaknya telah berhasil mempertemukan orang-orang dari berbagai kalangan serta memicu berlangsungnya interaksi lintas disiplin. 
Saya menceritakan mengenai posisi Metasinema, yang notabene adalah Unit Kegiatan Mahasiswa, di Universitas Andalas. Satu-satunya komunitas kampus yang hadir di pertemuan ini. Metasinema mencoba menjadi ruang untuk mempelajari film, baik itu sekedar hiburan atau tak sekedar hiburan, karena siapa saja dan dimana saja bisa menonton bahkan memproduksi film hari ini. Atas itu perlu rasanya mengambil kesempatan untuk menjadikan film sebagai medium edukasi. Dengan semangat itu lahirlah program apresiasi seperti Layar Terkembang dan Andalas Film Festival. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Setiap komunitas juga saling bertanya dan berjawab
Lain pula kondisi di kota Bukittinggi dan Padang Panjang. Ladang Rupa lahir karena merespon keengganan kota Bukittinggi atas kegiatan kesenian, terutama seni rupa, jelas Ogy Wisnu, salah seorang penggiat di Ladang Rupa. Sedangkan di Padang Panjang yang telah berdiri kampus seni, mayoritas warga di luar kampus berpandangan negatif atas kesenian, papar Maulana Ahlan, seorang penggiat di Sapakek. Untuk itu mereka mencoba hadir di tengah-tengah masyarakat, dan memperkenalkan seni dengan sehat. 
Sedangkan di Solok, ada Gubuak Kopi yang konsisten dan produktif belakangan ini. Mereka berusaha untuk membaca kebudayaan sekitar, mulai dari sejarahnya hingga perkembangannya hari ini, yang kemudian direproduksi dan didistribusikan dengan seni media. Beberapa programnya adalah Lapuak-Lapuak Dikajangi, Daur Subur, dan Sinema Pojok. 
Jika itu adalah gambaran komunitas dan aktivitasnya di kota, beberapa komunitas fokus di wilayah rural, seperti Legusa dan 9 Pucuak Fest. Andes Satolari menjelaskan ada kondisi yang memprihatinkan di kampungnya.Anak-anak muda kebanyakan mempunyai kegiatan yang negatif, seperti ma lem (menghisap lem), ia contohkan. Atas itu, ia dan kawan-kawan mencoba mengaktifkan kembali kesenian yang pernah ada di jorong-jorong, mengajak anak-anak muda untuk menyentuh kesenian mereka, dan dirayakan di nagari tempat kesenian itu tumbuh.Perayaan itu kemudian disebut Legusa Fest. 
Tidak jauh dari Nagari Tanjung Haro, ada kawan-kawan di Sungai Talang yang memicu potensi-potensi yang ada di nagari mereka untuk digiatkan. Mulai dari bidang pertanian, kerajinan, kuliner, adat, kesenian dipantik dan dirayakan nantinya di 9 Pucuak Fest. Serupa pula dengan apa yang digalakkan oleh komunitas Sarueh di Agam, mereka berusaha untuk mengajak anak muda untuk berkegiatan dan berkesenian, sambung Muhammad Lutfi, salah satu penggiatnya. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Foto bersama seusai lokakarya
Dan tidak semua daerah pula mempunyai ruang-ruang kreatif untuk menstimulus anak muda di sekitarnya. Mardani Syah salah satu anggota Takasiboe menggambarkan kondisi Solok Selatan yang absen ruang-ruang baik tersebut. Tak lain karena kurangnya manusia-manusia yang mau bersitungkin untuk menghadirkan ruang tersebut. Ia kemudian mengajak komunitas-komunitas yang ada dalam pertemuan itu untuk berkolaborasi dengan Takasiboe untuk mencipta ruang dan memicu kegiatan-kegiatan seni di Solok Selatan. 
Ada semangat baik yang terlihat dari gagasan dan kegiatan masing-masing komunitas itu. Baik itu berupa gerakan literasi, seni untuk masyarakat, distribusi pengetahuan yang mudah diakses, dll. Jika komunitas-komunitas ini saling berkolaborasi, apa kemungkinan yang akan terjadi? Kegiatan apa yang bisa muncul dari jejaring ini? Pertanyaan-pertanyaan itu disepakati akan dibahas pada pertemuan selanjutnya di bulan Desember nanti, di markas Gubuak Kopi, Solok. 
Musim Paceklik Ngayogjazz

Musim Paceklik Ngayogjazz

Rabu, 28 November 2018  | teraSeni.com~
Keramaian adalah hal yang lumrah untuk Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul Yogyakarta. Pasalnya di desa tersebut terdapat sebuah petilasan bernama Selo Gilang, tempat di mana lokasi Tumurun Wahyuning Mataram yang diturunkan oleh Panembahan Senopati. Berbeda dengan keramaian pada hari-hari biasanya, pada hari Sabtu (17/11/2018) kerumunan manusia berpuluh-puluh kali lipat memadati desa untuk menikmati sajian musik jazz. 
Adalah Ngayogjazz sebuah festival musik jazz yang diselenggarakan setiap tahun dengan tempat penyelenggaraan yang selalu berpindah. Festival yang tahun ini mengusung tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara” ini memang lazim ‘mengincar’ desa sebagai ruang alternatif penyelenggaraan musik jazz yang kerap kaku di sekat beton gedung pertunjukan. 
ngayogjazz: Teraseni.Com
Panggung Ngayogjazz dari depan, tampak pemain sedang mempersiapkan penampilan
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Di desa Gilangharjo, pelataran hingga lapangan olahraga disulap menjadi enam panggung yang tersebar di area desa. Alih-alih hanya panggung dan rumah masyarakat yang memberikan ambience yang berbeda, Ngayogjazz tahun 2018 ini turut menggandeng Prihatmoko Moki dengan muralnya di tembok-tembok desa dan Annisa P Cinderakasih dengan instalasi bambunya. 
Pada pergelaran Ngayogjazz tahun ini, turut berpartisipasi beberapa musisi jazz tanah air dan mancanegara, semisal: Syaharani dan Queenfireworks, Tophati Bertiga, Yuri Mahatma Quartet, Idang Rasidi and His Next Generataion feat Tompi dan Margie Segers, Brayat Endah Laras, Purwanto dan Kua Etnika, Kika Sprangers, Ozma Quintet, Rodrigo Parejo, dan lain sebagainya. Sejumlah musisi jazz tersebut lantas menjadi agen dalam menghubungkan dan memberikan penonton dengan pengalaman berbeda dalam menyaksikan jazz. 
Tawaran ini lah yang lantas membuat festival Ngayogjazz ditunggu oleh para musisi dan penonton Indonesia—terlebih para penonton baru. Namun untuk mereka yang rajin hadir, rasanya Ngayogjazz semakin terasa biasa-biasa saja. Secara lebih lanjut, sebagai sebuah festival tahunan yang diacu oleh festival jazz lainnya, rasanya Ngayogjazz minim gagasan dan kejutan baru di tahun kedua belas penyelenggaraan. Padahal di belakang pergelaran tersebut, terpampang nama-nama beken pelaku kreatif di Yogyakarta. Mungkin, serupa dengan tidak turunnya hujan di perhelatan Ngayogjazz tahun ini, mereka agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’. 
Pisau Bermata Dua 
Sebuah keniscayaan jika Ngayogjazz ditunggu-tunggu oleh penonton. Pasalnya mereka telah membuktikan dirinya sebagai festival jazz dengan konsistensi dan gagasan yang kuat. Idenya begitu mewah dalam semesta musik Jazz yakni penyelenggaraan di ruang yang tidak pernah terpikirkan oleh kalangan lainnya, desa. 
Ngayogjazz: Teraseni.Com
Panggung Ngayogjazz dari sisi kanan, telihat penonton begitu sesak
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Alih-alih hanya berserah pada ‘keeksotikan’ desa sebagai ruang festival, Ngayogjazz mengajak serta masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam hal penyelenggaraan. Hal ini tentu berkesan positif bagi mereka yang melihatnya dari luar. Terlebih penonton dapat melihat peran aktif masyarakat dalam beberapa hal, seperti: parkir, pusat jajanan, penunjuk arah, dan lain sebagainya. Namun apakah masyarakat setempat—juga dapat dirujuk pada lokasi-lokasi sebelumnya—diberikan peran lebih dalam penyelenggaraannya? 
Terlebih dalam buku program tertulis“Festival jazz yang berkolaborasi dengan pesta rakyat.” Dalam hal ini, terma kolaborasi seyogianya tidak berat sebelah. Di mana masyarakat setempat tidak mempunyai porsi dan posisi yang ‘tinggi’ dalam penyelenggaraan ataupun kepanitiaan. Singkat kata, menjadikan masyarakat setempat sebagai objek semata perlu dihindari. 
Pasalnya, jika alasan tidak seimbangnya peran dan porsi penyelenggaraan adalah modal intelektual yang berbeda, bukankah kerja partisipasi semacam ini seyogianya diarahkan pada edukasi untuk masyarakat. Alhasil masyarakat dapat memetik pembelajaran dan dapat mengembangkannya sesuai orientasi mereka masing-masing. Secara lebih lanjut, sebuah festival mempunyai nilai lebih untuk keberlangsungan masyarakat, tidak hanya sebagai ‘peminjaman’ ruang semata. 
Tidak hanya itu, turut tersemat kalimat “mengajak kearifan lokal dan menggunakan jazz sebagai penghubungnya.” Jika langsung dirujuk pada desa Gilangharjo, seberapa jauh Ngayogjazz menjadi penghubung nilai kearifan lokal—baik lokasi ataupun narasi—untuk masyarakat? Pasalnya kesadaran narasi atas kearifan lokal yang dimaksud justru tidak terlalu tampak. Paling banter adalah mengetahui lokasi petilasan, tanpa adanya keingintahuan dan partisipasi lebih, semisal: masuk ke petilasan, atau kearifan apa yang terkandung di dalamnya. 
Kendati demikian, Ngayogjazz tahun ini tetap perlu diberikan pujian atas upaya mengakomodasi masyarakat sebagai penampil festival secara lebih, baik dengan karnaval keliling desa hingga panggung khusus untuk warga. Dalam hal ini, Ngayogjazz telah berani menampilkan masyarakat sebagai bagian dari pergelaran tahunan tersebut. Namun kiranya menyematkan pertunjukan masyarakat setempat dalam panggung yang bercampur dengan musisi jazz agaknya perlu dicoba, guna menghindari pemisahan masyarakat dari panggung ‘utama.’ 
Ngayogjazz: Terseni.com
Panggung Lurah, pangung lain, khusus untuk warga dalam rangkaian Ngayogjazz
Foto: Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Pasalnya dapat dipahami bahwa enam panggung yang digelar pada waktu yang bersamaan telah memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk memilih. Namun menampilkan kesenian masyarakat di panggung tersendiri telah meminimalisir mobilitas penonton ke panggung tersebut. Oleh karena itu, jikalau kesenian masyarakat bercampur dengan panggung pertunjukan jazz lainnya, kiranya kesempatan mereka mendapat perhatian akan lebih besar. 
Menunggu Tawaran Baru
Hujan mempunyai makna tersendiri untuk Ngayogjazz. Beberapa pergelaran Ngayogjazz sebelumnya kerap dirundung hujan. Tanah, becek, jas hujan, payung, dan alunan jazz seakan menyatu dengan alam. Namun tahun ini hujan seakan enggan turun di tanah di mana pergelaran Ngayogjazz dihelat, pasalnya gagasan dan terobosan baru tak kunjung tiba. 
Penyakit dari kreativitas adalah perasaan mapan yang kerap menenggelamkan ide-ide baru. Hal ini tentu tidak menjadi masalah jika sebuah festival menjadi rutinitas belaka, tetapi hal ini berlaku sebaliknya jika festival diperuntukkan untuk menciptakan pengalaman dan peristiwa. Dalam hal ini, Ngayogjazz agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’, hingga hanya isu jazz di pedesaan terus digaungkan, tanpa adanya eksplorasi yang sebenarnya punya kesempatan untuk terus berkembang. 
Ngayogjazz: Teraseni.com
Penampilan kelompok seni masyarakat
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Dalam hal ini, Ngayogjazz perlu kiranya memberikan tawaran-tawaran baru yang tentu berkenaan dengan masyarakat, semisal: residensi untuk musisi jazz yang ditujukan untuk menciptakan karya yang terinspirasi dari desa setempat; kerja kolaborasi dari masyarakat dan musisi jazz terpilih. Di mana karya akhir dari kerja kolaborasi dipentaskan di panggung Ngayogjazz; pengelolaan program keberlanjutan dari lokasi yang pernah digunakan oleh Ngayogjazz, yang kiranya bisa digunakan sebagai pra-event Ngayogjazz; atau pembuatan statue sebagai tanda pernahnya dihelat Ngayogjazz di lokasi tertentu; dan lain sebagainya. 
Itu semua tentu pilihan dari Ngayogjazz sebagai pihak penyelenggara. Namun menurut hemat saya, dua belas tahun bukan usia yang singkat sebagai sebuah festival di Indonesia. Pasalnya, namanya telah menjadi canon dan para inisiatornya telah menjadi patron untuk penyelenggara festival lainnya.Oleh karena itu, sangat disayangkan jika Ngayogjazz tidak menciptakan terobosan baru atau—bahkan—ketinggalan dari festival berbasis masyarakat ‘kemarin sore’ lainnya.[]
Hubungan Pecah Semudah Pecah Belah

Hubungan Pecah Semudah Pecah Belah

Selasa, 23 Oktober 2018 | teraSeni.com~
Seorang penari berdiri tegap di atas 35 tumpukan piring dengan tangan terbentang. Ibu jarinya menengadah sebuah piring kecil dengan lilin yang menyala. Ia diam, tak bergerak dengan durasi yang cukup panjang, 48 menit.Ia tersenyum hingga menyematkan wajah geram tanpa alasan secara berulang. Sedangkan di sisi yang lain, seorang penari perempuan melemparkan piring ke seorang laki-laki secara berbalas. Sesekali sang perempuan tidak benar-benar melemparkan piring tersebut, namun tangan mengepal yang ia dapat. Tidak hanya itu, beberapa piring juga tidak berhasil diterima mengakibatkan pecahan piring yang berserak. Alih-alih diam, mereka berdua saling bertatap tajam dan terus melanjutkannya, seolah-olah ada namun tidak ada.  
Karya tari Li Tu Tu: teraseni.com
Seorang penari meletakkan piring dengan lilin menyala di ibu jarinya
Dokumentasi karya tari karya tari Li Tu Tu
Fotografer: Hoshi
Ayu Permata Dance Company menggelar pertunjukan bertajuk Li Tu Tu, singkatan dari Lingkaran Tunggu Tubang. Karya koreografi Ayu Permata Sari ini merupakan hasil penelitiannya terhadap tari Kuadai, salah satu tari tradisi di Lampung yang lumrah dimainkan oleh perempuan. Lantas Ayu mengeksplorasi penelusurannya menjadi sebuah karya koreografi kontemporer yang melibatkan oleh tiga orang penari, yakni: Nur Rachma Dinda, Ghalib Muhammad, dan dirinya.Karya yang digelar pada tanggal 11 hingga 15 Oktober 2018 di ArtspaceHelutrans, Jogja National Museum, Yogyakarta, ini turut mengadakan sesi diskusi setelah pertunjukan berlangsung. Ruang dialog ini menjadi kesempatan Ayu dan tim untuk menyampaikan gagasan, serta menyerap impresi terburai atas penonton yang lazimnya surut seiring mereka keluar dari tempat pertunjukan. 
Dari sesi percakapan, Ayu secara jelas meletakkan fondasi dasar kekaryaannya, yakni tari Kuadai. Namun tidak hanya mengotak-atik tari tersebut secara tekstual, Ayu turut mengurai persoalan lain, yakni soal Tunggu Tubang. Sebuah sebutan untuk anak perempuan pertama yang diberi kepercayaan untuk mengelola ekonomi keluarga. Hal dominasi ini yang lantas Ayu berikan perhatian lebih di dalam karyanya. Dengan bingkai kontemporer, Ayu justru dapat lebih leluasa menyisipkan gerak, mengatur alur, hingga menebalkan makna yang berdasar pada keseimbangan, kepercayaan, dan komunikasi.

Karya tari Li Tu Tu: teraseni.com
Tampak dua penari saling mengepalkan tinju
Dokumentasi karya tari Li Tu Tu
Fotografer: Hoshi

Tentang Konflik yang Memuncak

Di awal pertunjukan, Ayu, Dinda, dan Ghalib menyambut para penonton yang datang. Dengan ramah ia bertegur sapa hingga menyatakan bahwa mereka akan bersiap-siap. Secara bersama-sama, mereka mulai menata piring di tengah arena dengan penonton yang mengelilinginya. Sejumlah 35 piring tertumpuk, lantas Dinda mulai menaikinya dengan berhati-hati. Sebelum mulai, Ayu menanyakan pertanyaan kepadanya, “Aman?”, dan Dinda pun membalasnya dengan senyum, tanda pertunjukan dimulai. Dari awal pertunjukan ini, kiranya Ayu dan tim sudah meletakkan pertunjukannya bukan sebagai satu karya sulapan, melainkan kerja riskan yang membutuhkan persiapan. 
Dinda berdiri mematung dengan posisi tangan terlentang. Kedua ibu jarinya menengadah menahan sebuah piring dengan lilin yang menyala di atas. Ia hanya berdiam laiknya sebuah patung. Namun yang menarik, Dinda tidak hanya diam melainkan ia menyematkan ekspresi wajah yang berganti, gradual. Di sini, Dinda justru mempunyai kekuatan yang paling kuat dalam pertunjukan. Secara lebih lanjut, Dinda tidak hanya menunjukkan keseimbangan namun memberikan imajinasi lebih, laiknya simbol, bahkan menjelma menjadi totem. 
Di sisi yang lain, Ayu dan Ghalib saling melempar piring satu sama lain. Namun Ayu tidak mewujudkan saling melempar piring secara langsung, melainkan dibuat gradual. Di mana diawali dengan seolah-olah saling melempar untuk membuat kuda-kuda, lalu saling melempar piring namun dengan tempo yang lambat; mereka bergerak memutari Dinda; menyisipi dengan gerak berputar di tempat; saling menjatuhkan piring; hingga mereka seolah-olah melempar piring setelah piring-piring tersebut pecah. Gradasi tersebut tidak hanya pada tahap eksplorasi gerak, melainkan pada gekstur dan raut wajah. Di mana pada tahap awal, Ayu justru tidak menatap mata Ghalib, tetapi setelah piring pecah, Ayu menatap tajam mata Ghalib, begitu pun sebaliknya. 

Karya tari Li Tu Tu: teraseni.com
Para penari saling lempar dan tangkap piring
Dokumentasi karya tari Li Tu Tu
Forografer: Hoshi
Dalam hal ini, Ayu seakan mengajak penonton pada dimensi konflik secara sabar dan perlahan. Ia tidak terburu-buru dalam menempatkan gerak. Hal ini kiranya penting di mana para penari lazimnya kerap berburai gerak namun nir makna. Dan dalam karya ini, Ayu dapat menempatkan gerak demi gerak dengan hati-hati. Hanya saja yang perlu Ayu lihat lebih lanjut adalah eksplorasi gerak dengan layer yang bertingkat. Pasalnya di tengah bagian, eksplorasi gerak yang Ayu sematkan justru terlalu tipis untuk terbedakan dari fase sebelumnya. Sebagaimana Ayu menegaskan bahwa terdapat sembilan bagian tegas yang sebenarnya menjadi ruang “bermain-main” maka kiranya perlu dipertimbangkan lebih lanjut. 
Namun catatan gerak ini justru berlaku sebaliknya pada sisipan raut wajah dan kontak mata yang—baik sengaja ataupun sebaliknya—Ayu ciptakan. Di awal Ayu sama sekali tidak menatap Ghalib, namun ketika piring pecah secara perlahan, Ayu mulai berani menatap mata Ghalib, mulai dari biasa saja hingga tampak geram. Hal ini kiranya cukup sesuai dalam mengisi tahapan yang sifatnya memuncak. Hal ini kiranya menyiratkan dominasi patriarkal, terlebih hanya Ghalib yang dapat mengepalkan tangan ketika Ayu tidak benar-benar memberikan piring-piring tersebut. 
Selain itu, agaknya karya ini merupakan presentasi akumulasi pembelajaran yang Ayu dapat. Di bagian tengah pertunjukan Ayu turut menyisipkan interaksi dengan penonton. Di mana Ayu dan Ghalib menyebar dan melakukan saling melempar piring dengan penonton. Hal ini kiranya memberikan satu pengalaman langsung dalam menangkap peristiwa dalam pertunjukan. Pengalaman tersadar—merujuk pada fenomenologi—penonton dalam melakukan interaksi akan membantu penonton dalam terkoneksi pada pertunjukan.

Karya tari Li Tu Tu: teraseni.com
kedua penari saling menatap dengan ekspresi tidak senang
Dokumentasi karya tari Li Tu Tu
Forografer: Hoshi
Setelah interaksi penonton, pertunjukan kembali berlanjut, dengan prosesi saling melempar piring satu sama lain, walau piring-piring tersebut sudah tidak ada. Bagian ini, Ayu mengajak kita memikirkan bahwa kata kunci yang ia sematkan keseimbangan, kepercayaan, dan komunikasi, justru menjadi pisau bermata dua. Di mana dampak dari hal tersebut adalah dominasi yang mengakibatkan konflik runcing antar dominan dan subordinan. Hal ini kiranya tidak hanya terjadi pada konteks tari Kuadai, namun dapat diluaskan kepada pelbagai hal yang dialami kini. Mungkin tengah terjadi pada anda? 
Karya Yang Selalu Berbeda
Impresi di atas adalah tangkapan saya pada hari ketiga pertunjukan Li Tu Tu, yang berjalan dengan mengalir, yakni porsi piring pecah hingga akhir pertunjukan. Hal ini jelas berbeda dengan apa yang Ayu ungkapkan ketika semua piring telah pecah ketika di tengah pertunjukan, di beberapa hari sebelumnya. Ketidak-terkiraan ini kiranya yang menjadi menarik, pasalnya Ayu pun tidak dapat memastikan kapan porsi piring pecah. Dalam hal ini, strategi Ayu dalam menyikapi ketersediaan piring membuatnya harus memutuskan tindakan dengan cepat. Alhasil, karya Ayu tidak selalu menghasilkan karya jadi dengan tingkat sublimasi yang tunggal, namun beragam di tiap harinya. Keriskanan ini dapat memberikan kesempatan keberhasilan ataupun sebaliknya, gagal, terbuka lebar.

Karya tari Li Tu Tu: teraseni.com
Penari tampak sedang mengajak penonton menjadi bagian pertunjukan
Dokumentasi karya tari Li Tu Tu
Fotografer: Hoshi

Kendati demikian, ada satu benang merah yang kiranya ia pegang, yakni Ayu tetap menerapkan sembilan bagian yang menjadi ruang pijak karyanya. Hal yang menarik selanjutnya, bagaimana Ayu ‘bermain-main’ dengan bagian-bagian tersebut ketika piring telah habis. Dalam hal ini, kita patut mempertanyakan seberapa lentur Ayu memosisikan relasi di tiap bagiannya. Pasalnya Ayu menyebutkan bahwa relasi tersebut bertingkat, lantas apa yang dikorbankan dari bagian-bagian tersebut ketika dihapus? 

Bertolak dari itu semua, karya Li Tu Tuperlu diapresiasi baik. Pasalnya,Ayu bekerja dengan bijak, seperti: mulai dari menyoal gagasan dari tari Kuadai; mewujudkannya pada koreografi, di mana Ayu mengembangkan dari dua motif, yakni: yang pertama adalah tangan merentang dan silang piring; hingga memberikan ruang pemaknaan yang terbuka. Karyayang dikerjakan selama setahun lamanya ini kiranya cukup matangdan baik di antara karya Ayu lainnya. Selamat Ayu![]

Parade Teater Yogyakarta Linimasa: Perjumpaan Antara Lampau Dan Masa Depan

Parade Teater Yogyakarta Linimasa: Perjumpaan Antara Lampau Dan Masa Depan

Rabu, 26 September 2018 | teraSeni.com~
Parade Teater Yogayakarta (PTY) 2018 baru saja usai. Sebuah Platform tontonan anyar bagi kelompok dan publik teater Jogja yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 4-5 Sepetember 2018, di Concert Hall TBY. Publik dan kelompok teater Jogja mungkin lebih akrab dengan Festival Teater Jogja (FTJ) dimana ditahun-tahun sebelumnya kegiatan teater selalu bergulir dalam platform tersebut dan melibatkan pula berbagai kelompok dengan format dan cara yang berbeda. Namun ditahun ini FTJ nampaknya tidak terdengar lagi. Justru yang terdengar adalah Festival Teater Antar Kabupaten dan Kota yang dilaksanakan di Stage Jurusan Institut Seni Indonesia di bulan Juni 2018 lalu, dengan harapan tumbuhnya kreasi seniman dalam penggalian ekpresi dan potensi kedaerahan. 
PTY hadir menawarkan sebuah platform baru berbentuk parade (baca: perayaan) teater dengan mengusung tema mengenai rujukan sejarah , fenomena dan dinamika perkembangan pertunjukan teater hari ini ternyata telah multi disiplin. PTY menawarkan istilah postdramatic dengan mengandaikan teater adalah “teks terbuka”, maka tidak mengungkung dirinya pada dominasi tekstual tertentu. Teks terbuka dimaknai sebagai perayaan bertemunya antar disiplin, juga bisa tanpa sejarah tertentu (sumber Booklet). PTY mencoba menawarkan warna baru bagi panggung-panggung teater konvensional TBY, harapannya menjadi icon untuk mewadahi perkembangan ragam gagasan pemanggungan kelompok partisipan melalui penyelenggaraan Parade Teater Yogyakarta pada 4-5 September 2018 (Kalanari Theatre Movement, Teater Jubah Macan, Dewan Teater Jogja, Mantradisi). 
Parade Teater Jogjakarta: Teraseni.Com
Seorang perempuan serupa aktor berada di tengah-tengah penonton
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakarta
Kalanari Theatre Movement dan Ruang Singgah Sebagai Teks 
Di hari selalasa 4 Sepetember 2018 Kalanari menawarkan pertunjukan dengan judul (Un) Fitting : Sebuah Percobaan Menyandang Sejarah Teater yang Mendekam dalam Gudang dan Lemari. Tajuk yang dibuat dalam (UN) Fitting amat provokatif dan cukup untuk kita mengernyitkan dahi sejenak. Nampak tajuk yang dibuat menyandingkan sejarah teater dengan gudang, dan lemari, sebagai operasi bahasa sekilas mengingatkan pada puisi-puisi yang sering ditulis Afrizal Malna. Afrizal memang salah satu sastrawan yang juga banyak berkecipung di seni pertunjukan sebagai penulis naskah di teater SAE dan pengamat teater sejak 1980-an, jadi mungkin operasi bahasanya yang banyak mengekplorasi dialog benda-benda akrab pula bagi orang-orang teater . 
Pertunjukan ini cukup menarik sebab nampaknya Kalanari sebagaimana pertunjukan sebelumnya mempertimbangkan tawaran segar dengan menggunakan ruang sebagai bagian dari teks pertunjukan. Penonton PTY diarahkan oleh panitia menuju pintu masuk samping, kemudian duduk di tempat duduk konvensional Concert Hall, sebelum akhirnya ada pengumuman bahwa penonton diberi pula keleluasan ruang menonton diatas panggung. Dengan dibagi-bagi kedalam bebeberapa kotak-kota berbataskan tali rafia. Penonton dipersilahkan duduk lesehan atau di atas level di atas panggung concert hall. Adapula beberapa penonton lain yang tetap duduk di kursi duduk penonton kenvensional. Tampaknya sejak awal Kalanari telah menyadari ruang singgah panggung Concert Hall TBY menjadi bagian pula dari merepresentasikan “teks” pertunjukan. Panggung atau ruang mereka susun menjadi bagian dari teks dalam keseluruan dramaturgi pertunjukan. 
Parade Teater Jogjakarta: Teraseni.Com
Para penonton menyaksikan pertunjukan di atas panggung
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakarta
Peristiwa teater yang berlangsung menggambarkan pergeseran sejarah dan perkembangan teater dan penyikapannya terhadap politik ruang serta penonton saat ini. Sebuah pergeseran ruang dalam teater yang memberikan bagian pada penonton untuk memilih peranan dan keterlibatannya sendiri dalam pertunjukan tersebut. “Penonton” menjadi bagian di dalam dan di luar peristiwa, sebab penonton yang sejajar dengan pemain diatas panggung, ditonton pula oleh penonton dari kursi duduk penonton panggung konvensional, yang seolah tidak terlibat dalam pertunjukan. Padahal keseluruhan ruang adalah teks, sehingga keseluruhan yang terjadi dalam concert hall begitu pula dengan manusianya adalah bagian keseluruhan teks mengenai wacana sejarah teater yang ingin di tawarkan Kalamari. 
Ruang singgah panggung sebagai bagian teks pertunjukan membawa keseluruhan narasi dan konsekwensi pembacaan atas teks lain, bagaimana kemudian kostum, ruang, aktor, penonton, benda-benda, serta peristiwa yang terjadi adalah bagian dari teks teater yang sedang diberlangsungkan secara bersama. Concert Hall sebagai bangunan panggung bersejarah yang menyimpan jejak kolonial, memiliki nilai-nilai historis terhadap perkembangan seni pertunjukan dan konvensi-konvensi seni pertunjukan sebagaiman dulu hingga kini diberlakukan. Concert Hall TBY tak ubahnya sebagai lemari atau gudang yang pernah menampung sekian ratus pertunjukan silih berganti digelar ruang tersebut. Lemari atau gudang pertunjukan bernama Concert hall yang bersisi sejarah teater dulu dan kini berkelindan dengan aktor, penonton, artistik, kostum, setting, musik, sebagi teks-teks hidup yang terus bergerak (UN) Fitting. 
Dramaturgi permainan teks dan pertunjukan (UN) Fitting berkelindan melalui aktor yang bermain, memainkan, membebaskan diri atas politik teks tubuh dari berbagai peran, tototonan, dan interaksi budaya yang pernah mereka lewati. Aktor tampaknya dituntut untuk menyesuaikan terhadap apa yang tidak sesuai atau sebaliknya, terhadap teks atas dirinya, kostum, properti, musik, ruang, lampu, penonton, untuk menyusun teks peristiwa lain, menyusun alur dan cerita dalam pemanggungan. Sebuah pertunjukan teater yang disusun dari barang-barang, peristiwa, tema, aktor, alur cerita, sutradara dalam dilaog mengenai keusangan dalang ruang lingkup teater, dipertontonkan, dan ditonjolkan pada publik sebagai bagian dari sejarah teater yang turut terlibat baik langsung maupun tidak. 
Parade Teater Jogjakarta: Teraseni.Com
Seorang aktor berakting begitu dekat dengan penonton
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakarta
Sekilas dalam pertujukan cara-cara dan model perlakukan atas keseluruhan yang belaku di atas panggung pertunjukan Klanari nampak muncul sebagaimana teks anonimus yang berjajar secara bersamaan kita dapat melihat jejak SAE, Garasi, Gandrik, Bengkel Mime, Papermoon, Kalanari, bercampur baur dalam sekian reportoarnya. Didalam teks – teks sejarah teater yang berkelindan tersebut terdapat tokoh anak perempuan yang menginginkan dan meminta baju baru pada ibunya, ia mencarinya dan tak kunjung ketemu, hingga tersesat dan diculik oleh makluk aneh. Pada akhirnya anak perempuan tersebut kemudian telah berubah menjadi makluk lain berkepala aquarium dan dipenuhi dengan berbagai teks. 
Teater Jubah Macan, Generasi Milenal dan Drama Jeng Menul
Dari beberapa kelompok atau komunitas teater terdapat pula teater SMA yaitu Jubah Macan, satu-satunya kelompok teater pelajar yang di undang dalam parade ini. Meski berbeda dengan pertunjukan Kalanari Theatre Movement yang secara pertunjukan lebih tampak site-spesific dan menghindari aktor untuk berakting diatas panggung. Teater pelajar ini justru sangat percaya diri memainkan lakon “Jeng Menul” karya Putut Buchori sebagaimana drama lakon pemanggungan teater realis secara umum. Pertunjukan sungguh berkebalikan dengan teater kekinian, meski secara “teks” tubuh dan wajah dipanggung anak-anak pelajar SMA tampak lebih kontemporer. 
Aktor-aktor yang terlibatpun cukup banyak dengan usia relatif amat muda. Para pemain teater yang tumbuh dari generasi milenial ini adalah generasi yang lahir dari rentan waktu 1980 – awal 2000-an sebagai akhir. Generasi ini sebenaranya sebagaimana mampu menjadi postdramatic atau “teks terbuka”, melihat rentan usia nilai tawar mereka terhadap sejarah teater. Sebuah teks perlintasan antara yang tengah berlalu dan berlangsung. Sebagai potensi generasi ini sebenarnya sedang menawar untuk terlahir tanpa sejarah tertentu. Meski secara bentuk mereka seperti tidak mau tampil kalah bertenaga dan eksis beradu akting dari kelompok pertunjukan sebelumnya. 
Parade Teater Jogjakarta: Teraseni.Com
Para aktor yang tampak sangat muda
Foto: Dok. Taman Budaya Yogyakartaa
Para kru panggung yan terlibat membantu menata setting, pemain musik, penonton yang hadir, tampak khas sekali sebagai ruang tenaga dan kreativitas inter-aksi anak muda. Mengenal inter disiplin dalam proses keberlangsungan dan inter-aksi di dalam pergaulan teater SMA. Anak-anak SMA Jubah Macan ini dengan sangat antusias mencoba membaca teater dalam cara dan gayanya, menawar naskah, setting, adegan dan karakter tokoh yang dimainkan dengan caranya sediri. 
Teater sebagai potensi keberklangsungan interdisiplin dan inter-aksi ekpresi, bagi para siswa yang terlibat tampak tak lebih seperti kegiatan ekstra lain seperti sepak bola, pramuka, musik, tari, robotik, dsb, adalah sarana ekpresi dan berorganisasi sebagaiman upacara seremonial. Teater dan akting memang seperti bagian dari permainan untuk saling mengenali lawan jenis dan berinteksi lintas kerja dengan beragam karakter orang dan sebagai cara diri untuk bersikap dan menemukan ekpresi serta ciri sebagai individu di dalam kelompok. 
Melihat potensi pertunjukan Kalanari Theatre Movement dan Teater Jubah Macan dalam Parade Teater Yogyakarta seperti membaca posisi dan potensi tawar teater atas masa lampau dan masa depan diberlangsunkan secara menaraik di atas panggung bersama publiknya. Jika teater adalah potensi dan posisi tawar bagi publik penontonya, merefleksi apa yang telah terjadi lalu muncul pertanyaan sejauh mana linimasa perjumpaan potensi dan posisi tawar antara yang lampau dan masa depan teater saat ini sedang diberlangsungkan? Sebagai sebuah dialog wacana perlintasan gagasan sejarah teater dan dinamika perkembanganya ini menarik untuk terus digulirkan. 
Sedayu, 15 September 2018

Puno Letter To The Sky Surat ke Langit

Puno Letter To The Sky Surat ke Langit

Sabtu, 11 Agustus 2018 | teraSeni.com~
PUNO LETTER TO THE SKY adalah sebuah pertunjukan teater boneka yang disajikan oleh Papermoon Pupet Theatre Rabu, 4 Juli 2018, pukul 19.30 di Institut Francais Indonesia (IFI), Jl. Sagan no. 3 Terban, Gondokusuman Yogyakarta. Sebelumnya pertunjukan Puno ini telah melanglang buana ke beberapa tempat dan festival antara lain di Jakarta, Thailand, Singapura, Filipina, sebelum akhirnya pulang dan dipertontonkan untuk publik Yogyakarta. Dalam beberapa hari saja tersiar kabar tiket pertunjukan Papermoon selama tiga hari 5-8 Juli 2018 dengan cepat sudah sold out oleh penonton. Beruntung sehari sebelum pementasan, saat Gladi Bersih Papermoon berbaik hati mengundang dan membuka kesempatan bagi para teman dan perwakilan kelompok seni untuk hadir menjadi saksi. Sehingga saya berkesempatan menonton secara langsung. 
Terlihat para penonton banyak menghadiri momen gladi bersih pada malam itu, hingga nyaris memenuhi halaman area IFI, para undangan mengkonfirmasi kehadiranya untuk terlibat dalam pertunjukan ke meja penerima tamu. Dari sana kemudian diberi sebuah booklet yang dibukus dalam sebuah amplop, berwarna oranye dengan perangko dan cap pos bergambar Tala digendong oleh ayahnya, amat sangat manis sekali. Pukul 19.30 pertunjukan akan mulai, penonton berbondong antri masuk. Penonton yang datangpun sangat bervariasi secara usia mulai dari anak muda, orang tua, dan anak-anak laki-laki dan perempuan. Ruang IFI yang telah lama hadir bagi publik seni di Jogja, meski kecil sangat khas sekali dan kuat kehadirannya, sebab ruang tersebut banyak menyimpan memori dan nuansa romantisme. Nuansa Romantisme amat kuat sekali, akan berbagai peristiwa pertunjukan yang pernah tampil ataupun menjadi penonton dalam ruangan tersebut. 

Terlihat beberapa orang sedang memainkan boneka
Foto: Papermoon Pupet Theatre

Keakraban ruang khas IFI adalah keterbukaan dan kedekatan antara si penyaji peristiwa dan penonton. Karena ruanganya terbatas, kita dapat melihat dan bercakap dengan para penonton lain jika saling mengenal, atau bisa mengamati reaksi raut wajah penonton dengan jelas terhadap peristiwa yang terjadi, bisa pula melihat dengan jelas dapur kerja artistik seniman, sebab IFI adalah salah satu dari banyak lain ruang pertunjukan alternatif dan ekplorasi bagi seniman. Banyak bermunculnya ruang alternatif di Jogja karena terbatas dan mahalnya tempat pertunjukan konvensinal dan profesional standar internasional. Justru hal tersebut yang menjadi menarik dan khas di Jogja sebab banyak tumbuh ruang-ruang alternatif bagi seniman dan kesenian. Yang sejak Bengkel Teater, Padepokan Bagong Kussudiardja, Wayang Ukur Sigit Sukasman, hingga kini dikatakan belum ada lahir kelompok seni ‘profesional’ meski seniman-seniman tersebut dan banyak seniman saat ini sudah memiliki ruang dan bekerja amat profesional dengan berbagai relasi dan jaringan yang tidak remeh pula. 
Lepaskan dialog dan lamunan mengenai kelompok dan ruang bagi kelompok ‘profesional’ bagi seniman dan kelompok seni di Jogja. Sebab malam ini adalah pertunjukan Puno. Tumbuhnya banyak komunitas, kerja kreatif, keakraban dan dialog seni khas Jogja, lebih penting dari pada dialog ‘profesonalitas’ berbagai elemen dan ukuran seni pertunjukan standar inetrnasional, meski hal-hal tesebut juga penting jika ingin meletakan gagasan seni Jogja/Indonesia dalam kerangka gagasan dan isu wacana seni di dunia yang luas dan besar. Salah-salah suara dan wacana tersebut hanya akan menjadi buih dilaut yang maha luas. Dari ruang penonton dan ruang pertunjukan yang kecil di IFI dapat langsung tampak banyak kapal-kapal bergantungan diatas langit-langit dan pertunjukan dimulai dengan pengatar oleh Ria, selaku produser, konseptor, direktur artistik dan penulis naskah.
Papermoon Pupet Theatre: Teraseni.com
Kapal-kapal bergelantungan di laggit-langit panggung
Foto: Papermoon Pupet Theatre
Pertunjukan berjalan kurang lebih satu jam, cerita berjalan mengalir, menceritakan kisah seorang gadis bernama Tala, yang menyusun petualangan-petualangan dan ingatan bersama ayahnya. Objek-objek boneka yang dimainkan sangat rapi dan detail sekali, dapat nampak bagaimana perkembangan dan cara aktor-aktor boneka memainkan dan berinteraksi satu dengan yang lain dengan bonekanya. Cerita Puno ini sangat personal dan emosional sebab bangunan yang disusun pada kerangka narasinya adalah pengalaman rasa personal kehilangan sosok yang kita cintai. Kehilangan menjadi sebuah relasi kunci dan kepercayaan terhadap sesuatu yang dulunya ada dan telah tiada. Oleh karena perasaan lebih sensistif dari pada sebelumnya. Sebab yang bekerja adalah perasaan akan kenangan dan kenyataan. 
Peramainan Boneka menjadi lebih pelan, penuh dengan intensitas dan imajinasi, bayangan warna-warna lembut bercampur dengan elemen-elemen keras, tipis, dan kecil keluar dalam berbagai elemen boneka dan propertinya. Permainan komunikasi dan relasi antar pemain boneka dalam memainkan objek mendapat tantangan untuk lebih peka dan berhati-hati serta berkonsentrasi penuh untuk menyadari berbagai kehadiran, situasi berbagai objek; boneka, properti, cahaya, musik, penonton, ruang, adalah kesatuan dari kepercayaan sekaligus kerapuhan akan kehadiran kenangan. Oleh karenanya dialog intens terhadap objek-objek tersebut akan hidup jika sentuhan dan komunikasi dari kesemuanya terjalin baik. Sebab kepercayaan akan kenangan akan indah dan sangat bersifat personal serta ‘spiritual’. 
Papermoon Pupet Theatre: Teraseni.com
Beberapa orang berbaju hitam yang menghidupkan boneka di atas panggung
Foto: Papermoon Pupet Theatre
Anton Fanjri bermain sangat konsetrasi sekali dengan perasaan dan penghayatanya akan relasi antar objek sangat memukau. Beni Sanjaya, Pambo Priyo Jati, Rangga Apria Dinnur pun tak kalah baik secara teknik, namun ketika keempatnya bermain bersama terkadang ada patahan dan perasaan komunikasi antar pemain yang kurang imbang. Puno telah dimainkan berkali-kali tentu saja untuk mendapatkan rasa dan tidak sekedar permainan teknis dibutuhkan kesadaran dan kehadiran yang berulang-ulang dan dialog perasaan dalam setiap moment peristiwa langsung dengan penonton, dan hal tersebut pastilah melelahkan. Musik yang selalu berdengung terus menerus ditelinga juga amat tidak nyaman, cahaya yang asal terang dan hadir dalam situasi yang tidak tepatpun amat menganggu panggilan terhadap kenangan-kenangan untuk muncul dan hidup bernyawa dalam benak. Sebab persaaan ‘spriritual’ akan kenangan sangatlah subtil. 
Banyak narasi dongeng cerita-cerita rakyat kita penuh dengan hal subtil itu. Oleh karenanya mudah melekat dan tersimpan dalam ingatan menjelma berbagai kenangan dan imajinasi terhadapnya. Bahkan sampai ada istilah dongeng dalam operasi bahasa jawa Jarwo Dhosok diartikan dengan dipaido keneng (mampu mengakomodasi bumbu-bumbu imajinasi) tanpa kehilangan hal-hal subtil dan unsur-unsur magisnya/spiritualnya. Ada baiknya mungkin Cerita Puno dapat pula menengok ulang estetika dari akar-akar cerita dongeng-dongeng rakyat dinusantara untuk menampung hal-hal yang bersifat magis dan ‘spriritual’. 
Tampak ekspresi boneka yang begitu hidup
Foto: Papermoon Pupet Theatre
Tim Artistik dan Produksi:
Maria Tri Sulistyani selaku produser, konseptor, direktur artistik dan penulis naskah, Pupet Engineer Anton Fajri, Pupet Designer dan Music Director: Iwan Efendi, Music Composer Yennu Ariendra. Artistik tim : Anton Fajri, Beni Sanjaya, Pambo Priyojati, Rangga Dwi Apriadinnur, dan Rusli Hidayat, Costume : Retno Intiani dan Sherry Harper Mc-Comb, Grapic Disigner : Gamaliel . Budiharga. Producer Manager : Rismilliana Wijayanti, Tecnical Direktor : Gading Narendra Paksi, Crew : Egi Kuspriyanto dan Rusli Hidayat, Merchandes : Studio Batu, Artworks for Mechandise : Ruth Marbun dan Vitarlenology.