Pilih Laman

Pantomim Pada Mulanya; Sepintas Riwayat

Rabu, 27 Juli 2016 | teraSeni ~

Marcel Marceau, seorang aktor pantomim - teraSeni
Marcel Marceau, seorang aktor pantomim
asal Prancis, yang merupakan salah seorang
pantomimer paling terkenal abad 20
(Sumber: https://www.tz.de)

Belakangan ini, pantomim semakin digemari anak muda dan anak-anak sekolah di negeri ini. Apalagi, karena kini semakin banyak saja kompetisi pantomim untuk berbagai kelompok usia, baik yang diselenggarakan oleh dinas dan kementrian pendidikan, maupun swasta. Namun bagaimanakah pantomim bisa menjadi bentuk tontonan populer seperti sekarang ini? Apakah yang demikian menarik hati dari bentuk tontonan yang mencampurkan antara kisah, tari, lelucon dan musik ini?

Kisah pantomim semula adalah kisah tentang petarungan antara yang baik melawan yang jahat, di mana terdapat harapan kemenangan bagi yang benar, setelah berbagai kesulitan dan bahaya yang dilaluinya. Kisah-kisah ini berakar dalam cerita Yunani kuno, yang kemudian berlanjut ke gedung-gedung pertunjukan Romawi, hingga akhirnya berkembang di Italia, Perancis, dan akhirnya di Inggris.

Cikal bakal pantomim konon sudah ada di Yunani Kuno sejak tahun 600 SM, di mana terdapat aktor yang menampilkan adegan konyol atau komikal dengan hanya menggunakan gerak tubuh saja. Di masa Romawi Klasik terdapat pula pertunjukan yang hanya disampaikan melalui tari dan lagu. Bentuk awal pantomim ini dinamakan phlyake, yakni pertunjukan peran jenaka yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari. Para pemeran dalam pertunjukan ini umumnya mengenakan kostum yang ganjil dan menarik perhatian serta mengenakan topeng.

Singkat cerita, pantomim adalah bentuk pertama sekaligus ajaib dari seni teater. Pantomim seperti yang kita kenal sekarang pertama kali berkembang di Inggris. Namun dasar bentuknya bermula dari sebuah tradisi teater yang mengandalkan improvisasi yang berkembang di Italia, bernama Commedia dell’Arte. Commedia dell’Arte adalah bentuk pementasan yang digelar di jalan-jalan dan di pasar-pasar. Secara bentuk, Commedia adalah bentuk seni yang sederhana, serbaguna, dan populer, di mana para aktor mengenakan topeng yang membuat penonton dengan mudah bisa segera mengenali karakter yang dimainkan, yang memungkinkan aktor untuk membuat lelucon tanpa takut malu.

Perjalanan dari satu tempat ke tempat lain mengantarkan Commedia ke seluruh Eropa, sehingga dramawan seperti Shakespeare (Inggris) dan Moliere (Prancis) kemudian tertarik pada karakter dan tradisi Commedia. Peran kunci yang selalu ada dalam Commedia biasanya adalah: (1) orang tua (vecchi)  pemuda (inamorati), dan pelayan (zanni).

Orang tua (vecchi)  biasanya digambarkan sebagai seorang dokter yang menjual obat palsu, sarjana yang pengecut, seorang tua yang sia-sia mengejar wanita yang lebih muda, atau seorang Kapten yang sombong dengan catatan perang palsu. Sementara itu, pemuda biasanya adalah kekasih seorang gadis yang oleh orang tuanya dipaksa menikah dengan seorang pria tua kaya. Dalam banyak cerita commedia, biasanya pelayan bisa lebih pintar dan mampu memperdaya tuan mereka. Pesannya sederhana, bahwa orang kecil belum tentu juga lebih bodoh dari orang-orang besar.

Dari Commedia, pantomim lalu berkembang di Inggris. Seorang pria bernama John Rich,  memainkan peran kunci dalam munculnya pantomim. John Rich adalah seorang penari, pemain akrobat dan sekaligus seniman mime. Di sekitar tahun 1720-an ia mengelola sebuah gedung teater di Lincoln Inn Fields. Di sanalah ia menciptakan sejenis  hiburan baru dengan menampilkan petualangan Harlequin dan Columbine, para tokoh pelayan dalam Commedia.

Tokoh Harlequin ini ternyata menyenangkan luar biasa bagi penonton. Pertunjukan John Rich berkembang menjadi tontonan spektakuler tapi juga mengundang kontroversi besar. Kritik pedas dialamatkan kepada John Rich, karena dianggap mengembangkan hiburan asing dan mengancam nama besar Shakespeare dan teater serius. Namun John Rich mendapatkan dukungan David Garrick, seorang manager teater pada masa itu, yang menyadari potensi komersial dari bentuk tontonan yang baru muncul ini. David Garrick-lah yang kemudian menciptakan  konvensi pantomin yang  bertahan sampai hari ini.

Memasuki akhir abad ke-18, muncullah badut modern melalui kreativitas Joseph Grimaldi, yang dianggap menjadi penemu berbagai lelucon pantomim paling terkenal, misalnya adegan tergelincir, lari ketakutan, dan lain-lain.  Joseph Grimaldi menjadi badut modern karena menggambarkan tokoh-tokoh dari kehidupan perkotaan. Ia mengubah tradisi badut dengan mengenakan kostum baru, menggantikan badut yang biasanya tampil bodoh, dengan karakter berwajah putih dan pipi merah, bercelana longgar, dengan tubuh dan wajah yang elastis dan ekspresif. Kesan wajah pantomimer masakini, sebenarnya berasal dari gaya Joseph Grimaldi ini.

Joseph Grimaldi kemudian menjadi salah satu karakter paling terkenal di London pada masanya. Penonton sangat senang dengan kenakalannya dan mereka menontonnya tanpa henti justru karena ia menciptakan di atas panggung fantasi tentang sebuah dunia yang berbeda: sebuah dunia tanpa kelaparan, dunia balas dendam komik terhadap penguasa yang sangat menindas.  Joseph Grimaldi menjadi salah satu satiris besar pada zamannya, seorang badut yang tidak saja menghibur tapi juga mampu memberikan komentar cerdas dan menggelikan terhadap perkembangan fashion, teknologi, transportasi, bahkan politik .

Pada akhir abad ke-19, wajah pantomim berubah. Seorang tokoh bernama Dan Leno menampilkan karakter baru, yang jauh dari gambaran badut sebelumnya. Ia menampilkan tokoh bintang tak terduga, yakni seorang ibu yang letih, lesu, sedikit bergosip, dan berjuang untuk mengatasi dunia yang mulai tidak ramah. Pantomim berubah arah ke sekitar kisah keluarga yang yang aneh. Dan Leno adalah pemain musik terkenal yang menciptakan karakter yang dinamakan “Dames” ini, yakni wanita kelas pekerja yang cerewet.

Tokoh “Dames” sebenarnya telah lama ada dalam tradisi pantomim, tapi mereka biasanya dipandang  hanya sebagai karakter konyol. Hal inilah yang diubah oleh Dan Reno menjadi karakter-karakter utama. Pada tahun 1880-an, Leno mulai memainkan peran seperti Ratu atau Janda. Perlahan-lahan, ia mulai menciptakan “Dame” yaitu seorang ibu yang menghadapi masalah kemiskinan, pengangguran dan ditinggalkan.

Dan Leno, pria kecil kurus, dengan wajah sayu dan suara serak, dan dikatakan memiliki ‘mata paling menyedihkan di dunia’ memunculkan persoalan absurditas hidup dalam pantomim. Dan Leno mulai memberi kesadaran  tentang berpadunya antara simpati dan tawa dalam pantomim. Ia memunculkan karakter perempuan yang hidup di dunia yang kacau balau dan penuh bencana. Dan Leno dengan tokoh-tokoh “Dame”-nya, bermain pantomim dengan irama yang menggugah, kadang berbicara obrolan ngawur seperti layaknya orang berbicara sehari-hari, tetapi pada saat yang sama, ia memberi pantomim plot dan tema-tema yang lebih dekat dengan budaya hidup sehari-hari, terutama dengan kenyataan hidup kelas pekerja.

Nah, bagaimanakah pantomim hari ini jika dibandingkan dengan tradisi pantomim yang dibangun John Rich, Joseph Grimaldi, dan Dan Reno itu?

Krisis Sinden: Politik Gender dan Ingatan Budaya dalam Seni Pertunjukan

Senin, 25 Juli 2016 | teraSeni ~

Tulisan berikut adalah review atas tulisan berjudul “Krisis Sinden”: Gender, Politik dan Memori Seni Pertunjukan, dari Andrew N. Weintraub, yang memiliki judul asli “The “Crisis of the Sinden”: Gender, Politics, and Memory in the Performing Arts of West Java,1959-1964,” yang dimuat dalam: Indonesia, No. 77 (Apr., 2004), pp. 57-78, dipublikasikan oleh : Southeast Asia Program Publications at Cornell University.

Andrew Weintraub membuka artikelnya dengan mengutip sebuah laporan dari tahun 1966, atau di awal Orde Baru, yang menggambarkan secara hiperbola bagaimana sinden di sekitar tahun 1950-an dapat demikian ‘menyihir’ masyarakat. Sinden adalah penyanyi perempuan tradisional, yang pada awalnya tergabung dalam tradisi seni pertunjukan Wayang Golek di Jawa Barat, yang kemudian berdiri sendiri sebagai sebuah profesi. Menurut Weintraub, laporan itu menarik karena memotret posisi sinden sebagai: (1) pusat perhatian massa penonton; dan (2) sekaligus sebagai sumber kekacauan social, kejahatan bahkan pembunuhan.

Kompetisi Bertajuk Sinden Idol - teraSeni
Sebuah Kompetisi Bertajuk Sinden Idol
(Sumber Foto:www.berita.suaramerdeka.com)

Masa-masa tahun 1950an akhir, oleh K.S. Kostaman, seorang penulis sekaligus pemerhati (aficionado) Wayang dinamakan masa “krisis sinden.” Di masa-masa ini, poplularitas sinden bahkan dapat melampaui dalang, orang yang seharusnya menjadi tokoh sentral dalam sebuah rombongan wayang. Menariknya, masa-masa yang ditunjuk sebenarnya sejajar dengan masa-masa “Demokrasi Terpimpin” Presiden Soekarno, yakni antara tahun 1959-1965, yang umumnya dalam sejarah Indonesia digambarkan dengan ciri: (1) menguatnya Negara; (2) kesulitan ekonomi; dan (3) menguatnya faksionalisasi politik.

Kemunculan “krisis sinden” ini dimulai ketika para sinden memupuk popularitas dengan dua cara, yakni: selain dengan menyanyikan lagu-lagu baru yang popular, juga dengan menggoyangkan tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang di masa itu dianggap ‘provokatif secara seksual.’ Kontroversi tentang sinden berlanjut, ditandai dengan sebuah simposium yang didukung pemerintah dan dikawal oleh tentara dan polisi pada tahun 1964. Simposium itu berusaha mendorong sebuah ‘kode etik’ bagi para sinden untuk mencegah mereka dari tarian, lagu yang interaktif, dan semua praktik yang bisa membuat pertunjukan mereka menjadi menggairahkan dan menyemangati penonton.

Berdasarkan fenomena itu, Andrew Weintraub dalam artikelnya berusaha menelusuri lebih jauh perihal: (1) bagaimana cara para sinden memperoleh keistimewaan dalam pertunjukan yang didominasi laki-laki; (2) mengapa Negara menjadi ikut campur dalam seni pertunjukan lokal?; dan (3) apakah landasan material dan kultural yang membuat krisis sinden menjadi berhubungan dengan krisis nasional pada waktu itu?

Weintraub berargumentasi bahwa tahun-tahun yang juga kerap disebut “jaman sinden” ini adalah masa di mana perubahan nomor music, gaya, estetika dan teknologi telah mengubah peran sinden dalam seni pertunjukan. Lebih jauh, ‘krisis sinden’ yang melibatkan kuasa Negara pada dasarnya adalah perjuangan untuk memperoleh otoritas kultural dari beberapa ideologi yang saling bersaing.

Sinden dalam Perspektif Sejarah
Penyanyi perempuan pertama yang tampil dalam tradisi wayang golek diperkirakan adalah Nyi Arwat, di akhir abad XIX, yang dibawa oleh dalang Bradjanata. Pada masa ini, seturut Kathy Foley, penyanyi perempuan yang disebut sebagai ronggeng sepenuhnya dikooptasi oleh dalang dan terkadang juga berprofesi sampingan sebagai wanita penghibur. Dengan cara itu, para dalang mendapatkan keuntungan secara ekonomi dan membangun model hubungan antara sinden-dalang. Pernikahan, dipakai sebagai cara mempertahankan kooptasi dan membentuk pola hubungan dalang/suami bersama sinden/istri-nya.

Memasuki tahun 1930-an, banyak sinden mulai terdengar di radio dan memperoleh popularitas yang lebih luas. Beberapa lagu mulai identik dengan sinden tertentu. Pada tahun 1942, nama sinden bahkan mulai terdengar dalam iklan, bersama nama dalang. Sinden lantas mulai muncul sebagai ‘bintang’ dan mematahkan dua pandangan umum, yakni: (1) yang berkaitan dengan kodrat wanita yang lemah, pasif dan menerima; serta (2) yang berkaitan dengan citra negatif sebagai ronggeng.

Selama tahun 1940an, terutama melalui kiprah seorang sinden bernama Arnesah, citra modern sinden mulai muncul, ditandai dengan munculnya nomor dan komposisi baru. Sinden bahkan mulai dipromosikan sebagai seorang ‘pembaharu’ yang memajukan kebudayaan Indonesia. Nama ronggeng lalu berubah menjadi ‘juru sinden.’. Pendekatan lain yang digunakan untuk memperbaiki citra sinden, terutama pada permulaan tahun 1950an ialah dengan menggunakan nama mereka sendiri sebagai nama panggung, meninggalkan kebiasaan lama, tahun 1930an, yang biasanya menggunakan nama samaran.

Pengaruh amplifikasi elektronik turut berperan dalam perubahan citra ini. Penonton pun kemudian mulai melakukan pembedaan atas sinden, yang sekaligus mewakili selera kelas sosial. Mereka misalnya membedakan antara Upit Samarinah yang suaranya untuk kelas atas, dengan Titim Fatimah yang cenderung untuk kelas menengah ke bawah. Pola hubungan antara sinden dan penonton pun berubah. Mereka tidak lagi berinteraksi dengan sinden dengan cara memasukkan uang di antara payudara para sinden seperti di masa lalu, melainkan kini dengan menulis surat pribadi.

Perubahan pola ini membuat sinden menjadi semakin penting posisinya bahkan mengancam kedudukan dalang dalam pertunjukan. Para sinden bahkan memperoleh penghasilan yang lebih tinggi. Para penonton kemudian mulai lebih mengenal dan mengundang sebuah grup wayang golek karena sinden-nya ketimbang karena dalang. Posisi sebagai pembaharu dan pencipta lagu, membuat para sinden menjadi saluran bagi penonton untuk mencari keterlibatan dan perubahan dalam seni pertunjukan.

Demokrasi Terpimpin
Menyadari bahwa Negara yang masih muda memiliki kesulitan tertentu dalam menyatukan visi, ditambah dengan banyaknya partai politik dalam system demokrasi liberal, membuat Soekarno harus menguatkan kepemimpinannnya. Melalui dekrit presiden 1959, ia mengusulkan untuk kembali ke UUD 1945 dan mengajukan MANIPOL USDEK (Manifesto Politik/ Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia) dan NASAKOM (Nasional Agama Komunis) sebagai proyek nasional. Dengan mempersatukan empat kekuatan partai politik di Indonesia (PNI, Masyumi, NU, dan PKI), Soekarno bermaksud menandingi kekuatan angkatan bersenjata secara politik.

Namun dalam praktiknya kemudian Posisi Demokrasi Terpimpin-Soekarno lebih dekat dengan PKI, yang dalam beberapa hal ia pandang lebih mendukung cita-citanya, yakni revolusi Indonesia. Tapi pilihan politik ini kemudian membuktikan kegagalan Soekarno menjalankan system ’Negara modern,’ yang kemudian berakibat tingginya inflasi, kehancuran infrastruktur, dan menurunnya hasil pertanian. Pembunuhan enam jendral pada tanggal 1 Oktober 1965, kemudian memberi kesempatan kepada tentara untuk mengambil alih kekuasaan melalui Soharto, yang memerintah hingga tahun 1998.

Konferensi Wayang Golek 1964
Situasi selama tahun 1960-an di Indonesia membuat “krisis sinden” menjadi bagian dari krisis politik nasional. Secara regional, “krisis sinden” mendorong pemerintah daerah untuk kemudian mengintervensi persoalan kesenian. Pada tahun 1961 berdirilah Yayasan Pedalangan Jawa Barat yang bertujuan untuk menjembatani kembali antara dalang dan sinden. Organisasi ini lantas melaksanakan sebuah simposiun di tahun 1964 yang disponsori oleh Kantor Gubernur Jawa Barat, Pos Militer, Kepolisian Jawa Barat, dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Simposium itu kemudian melahirkan buku Buku Pangeling-ngeling Seminar Padalangan (BPSP), yang pada dasarnya berisikan “tata tertib kebudayaan Indonesia.”

Hal yang paling disoroti adalah seni pertunjukan yang dianggap tidak sesuai atau tidak memiliki integritas, terutama para sinden yang bergoyang di hadapan penonton dan dapat membuat penonton menjadi ‘gila’. Simposium bahkan berfokus pada pengaturan gender dalam pertunjukan, yang intinya ingin membuat aturan bagi para sinden. Simposium kemudian menghasilkan ‘aturan’ yang terdiri dari: (1) sinden dan dalang harus duduk di sejajar sebagi musisi; (2) lagu berulang (sindir-sampir) akan dipersingkat; dan (3) semua lirik yang dipandang bersifat cabul akan diubah menjadi lirik yang bicara tentang pembangunan) dan identitas nasional Indonesia.

Forum kemudian juga menyepakati Sila Kahormatan Seniman-Seniwati yang dibuat atas: (a) mandat Koordinator Pertahanan dan Keamanan- Kepala Staf Angkatan bersejata, Jendral A. H. Nasution, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prijono; (b) saran pemerintah dan komandan militer daerah; serta (c) para dalang paling kesohor, di antaranya Elan Surawisastra, R. U. Partasuwanda, R. Gunawan Djajakusumah, Engkin Sukatmamuda, A. Sunarya, dan Somasondjaja Sukatmaputra. Sila Kahormatan Seniman-Seniwati ini, antara lain memuat:

… [kepada seniman]
3. Dalam principenja seniman/seniwati pedalangan sedjadjar harkat dan deradjatnja. Oleh karena itu pemanggungan harus diichtiarkan tempatnja jang sedjadjar pula.
4. Harus ada disiplin jang tertulis jang merupakan code ethiek (sila kehormatan) seniman/seniwati pedalangan. Oleh karena itu ditetapkan sila kehormatan terlampir.
5. Harus ada kesponanan dalam pemanggungan.
… [kepada pemerintah]
2. Melarang segala tjara pemanggungan jang dapat menimbulkan keonaran kesenian (merobah pertundjukkan wayang golek djadi djoged atau tjara2 pertundjukkan jang melanggar susila).
3. Inspeksi Kebudajaan, Front Nasional dan badan2 Pemerintah lainnja jang ada hubungannja supaja memberi bimbingan jang njata kepada seniman/seniwati Pedalangan.
… [kepada masarakat]
2. Masarakat diminta agar ikut mengawasi dan melindungi seni pedalangan dengan djalan mentjegah adanja pertundjukkan wajang golek jang dirobah mendjadi perdjogedan dan tjara2 pertundjukkan jang melanggar susila.
3. Masarakat jang mengadakan pertundjukkan wajang golek diminta agar memenuhi perdjandjian2 jang telah disetudjuinja sebelum pemanggungan antara jang meminta pemanggungan dan jang memberi pertundjukkan.

Berdasarkan semua hal itu, Andrew Weintraub memandang bahwa resolusi itu solah menganjurkan kesejajaran antara artis pria dan artis wanita, namun pada dasarnya bertujuan untuk membatasi ruang gerak para sinden dan mencegah mereka melampaui para dalang. Di sisi lain, melalui wacana ini, sinden diseret ke dalam pertarungan ideology, yakni dengan memanfaatkan kemampuan mereka dalam menarik massa. Sebagian sinden kemudian direkrut oleh PKI dan tampil dalam beberapa acara LEKRA. Sementara sebagian lainnya, dilindungi pemerintah daerah dan TNI.

Sinden dan Ingatan Budaya
Representasi Pemerintahan Orde Baru dan Pasca Orde Baru di Indonesia tentang sinden, melalui publikasi resmi pemerintah maupun media massa, kemudian menggambarkan bagaimana media membangkitkan ingatan budaya perihal masa-masa “krisis sinden.” Berbagai tulisan menggambarkan wayang golek dari masa yang dinamakan juga sebagai “jaman sinden” ini sebagai sesuatu yang liar, tidak terkendali, di mana kejahatan bahkan pembunuhan dapat timbul.  Praktik sinden dikonstruksikan sebagai sebagai pertunjukan yang berbahaya bahkan berlawanan dengan ideologi Negara.

Wacana “krisis sinden” bahkan kemudian digunakan oleh Orde Baru sebagai bagian dari kampanye anti komunis. Masa-masa “jaman sinden” digunakan untuk menggambarkan kekacauan social selama pemerintahan Demokrasi Terpimpin-presiden Soekarno. Lebih jauh, digambarkan bahwa kebangkitan sinden di masa lalu adalah pertanda dari kekacauan 1965. Bahkan, diyakini: jika sinden kembali menguat, maka kekacauan, korupsi, dan melemahnya Negara akan kembali muncul.

Kritik Seni; Pandangan Mudji Sutrisno

Minggu, 24 Juli 2016 | teraSeni ~

Lukisan kontroversial Maqbool Fida Husain - teraSeni
Lukisan kontroversial Maqbool Fida Husain
(yang sering disebut juga Picasso-nya India),
yang menunjukkan wanita telanjang yang
disebut sebagai Dewi Lakshmi, menginjak
kepala Ganesha. Saat lukisan tersebut dipamerkan,
ia mendapatkan 8 tuntutan hukum.

Tulisan berikut ditulis oleh Mudji Sutrisno SJ, seorang Pengajar di Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta.  Tulisan ini pernah di posting di Milis “Ngobrolin Teater” pada tanggal 26 April 2005. Berbeda dengan tulisan dari Benny Yohannes, dan Max Arifin yang khusus membicarakan teater, tulisan berikut membicarakan kritik seni secara umum. Semoga bermanfaat.

Pembahasan mengenai estetika dalam karya seni, baik itu sastra, lukisan, maupun seni pertunjukan (tari, teater, dan lain-lain), sampai hari ini secara mencolok berada dalam dua arus. Arus pertama adalah resensi seni yang mau mencoba memberi apresiasi dari dalam serta dari kode yang dipunyai oleh karya itu sendiri. Pendekatan dari dalam atau intrinsik adalah pendekatan yang mencoba memahami rasa, panas, dan dingin yang mau diungkapkan oleh seniman atau sastrawan lewat karyanya. Para kritikus seni mencoba memberi apresiasi dalam karya sastra misalnya lewat tema, penokohan tunggal atau ganda, alur kisah, tegangan yang merupakan kode-kode intrinsik karya sastra kalau mau dipahami dari dalam karya itu sendiri.

Arus kedua adalah pendekatan dari luar ke karya seni melalui disiplin ilmu atau kacamata kode ilmu itu untuk membedah karya tersebut. Pendekatan ini disebut ekstrinsik karena, misalnya, mau membedah posisi karya sastra dari bingkai hubungan kemasyarakatan di dalam sosiologi sastra. Segi menguntungkan dari pendekatan baik intrinsik maupun ekstrinsik adalah disadarinya pendekatan subyektif dalam kritik ekstrinsik, sementara pendekatan intrinsik memberi obyektivitas untuk penilaian karya itu.

Namun persoalan dalam kritik seni kita berkembang lebih rumit dari sekadar kritik subyektif ataupun kritik obyektif. Beberapa kekurangan bingkai dan pisau kritik lewat kerajinan membaca dan mengerti sejarah kritik estetika itu sendiri manakala tiap pemikir maupun arus estetika mulai dari realisme-naturalisme, abstrak, simbolisme, surealisme, sampai yang hanya mau merayakan kebebasan masing-masing seniman mengungkap keindahan dan kebenaran menurut bacaannya sendiri dalam postmodernisme, telah menyebabkan dua ekstrem yang terjadi dalam kritik seni kita-atau jatuh dalam pembantaian kritikan yang amat sangat subyektif dari kritikus-atau jatuh pada anarkisme yang membolehkan apa saja yang gila, abnormal, aneh sebagai estetika.

Kegawatan menelusuri soal kritik seni adalah kegawatan yang saling menghantam antara penentuan pokok-pokok kriteria tradisi besar yang dengan otoritas modernisme menegaskan proyek estetika sebagai proses yang harus lewat pengendapan rasional, publik mampu menangkap keberlakuan umum rasa estetika dalam rumusan titik-titik estetika yang oleh kaum idealis seperti Hegel dan Kant dirumuskan sebagai tragis, asri, sublim, lucu, dan tanpa pamrih. Semua ukuran ini bertolak dari pengandaian bahwa estetika harus bisa dipahami dan diukur dengan rasionalitas budi, sementara rasionalisasi model ini menghabiskan seluruh pathos, rasa, emosi yang dianggap lebih rendah tempatnya daripada refleksi budi.

Siapa penentu sebuah lukisan atau karya seni masuk dalam ukuran di atas? Siapa pula yang menentukan galeri dan tempat pameran yang sah untuk karya-karya seni tersebut kalau bukan otoritas dan penguasa pemilik tafsiran estetika itu sendiri? Apalagi setelah kesadaran proses mengetahui dan seni merupakan epistem serta estetika yang ditentukan untuk menguasai oleh Michel Foucault?

Bukankah setiap pengenalan mengenai realitas dan pengungkapannya kembali dalam ekspresi seni merupakan keragaman cara membaca setiap seniman yang dalam paradigmanya (Thomas Kuhn: tiap orang dalam mengetahui lebih ditentukan oleh sudut pandangnya sendiri dalam paradigma yang tidak pernah sama dengan orang lain dan bukan oleh konseptualisasi serta diskursus teoretis epistemologi yang kita kenal), amat ditentukan oleh tradisi lisan pengetahuan lokal, peresapan, dan penghayatan watak entitas suku dan kebijaksanaan lokal yang dihidupi dan dihayati menjadi apa yang oleh Pierre Bourdieau dinamai habitus. Terlebih Sandra Harding meneliti bahwa world view (pandangan dunia) telah melucuti seluruh emosi dan rasa perempuan hingga pandangan dunia bias jender.

Dari sini semakin disadari bahwa resensi seni pertama-tama harus kembali pada tempat seni itu diproses, yaitu dalam ritus untuk melahirkan, merawat, dan membuahi kehidupan, dan festival atau perayaan kehidupan dari oasis dan ruang pemuliaan gairah hidup dan motivasi hidup.

Dalam tradisi festival dan ritus seni dikenal apa yang oleh F Nietzche disebut dionisian, yaitu estetika dengan gelora dan gelegak kehendak untuk hidup yang dalam tradisi Yunani kuno menyumberi baik ritus puja kehidupan maupun festival kerakyatan dengan ekstasis dan ekspresi luapan spontannya. Seni dionisian ini menurutnya telah dikerdilkan dan direduksi oleh peradaban rasionalitas sejak Socrates ke barat modern dalam seni apollonian yang refleksif rasional, formal, konseptual, dan kering gairah pathos.

Dengan demikian, usaha mengembalikan kritik seni ke habitat aslinya adalah dengan menaruhnya kembali ke naluri purba yang melahirkan, mencintai, dan membuahi kehidupan. Karena itu, di bawah ini bisa direnungi bagaimana kekayaan keragaman tradisi estetika Nusantara yang bersumber pada penghayatan, penghidupan, perayaan yang mahakaya dan lisan sebelum dikonstruksi dan disempitkan dalam bahasa tulis, apalagi bahasa konsep.

Pertama, pendekatan live in untuk menangkap roh hidup inspirasi seni; konteks perayaan dan festivalnya yang bersumber dari adat, religiusitas, keyakinan dan estetika kesuburan dalam tradisi petani; religiusitas dalam tradisi pesisir serta inti pemuliaan nomaden merantau sebagai guru; akan membuat kritik seni dan apresiasinya menjadi tidak membantai posisi seni dalam kehidupan.

Kedua, kritikus semogalah rajin membaca setiap perumusan sejarah estetika tidak hanya sebagai keragaman para filsuf, tradisi tulis, merumuskan apa yang sedang dihayati sebagai indah, benar, dan baik. Konsekuensinya, konstruksi bahasa rumus adalah teks yang mencoba mengisahkan secara kode bahasa apa yang pasti lebih kaya kalau itu dihayati sendiri dalam live in kultural. Pembacaan sejarah ini penting untuk menaruh ragam cermin ketika kritikus sendiri sedang membuat resensinya yang merupaka satu cermin baru lagi yang mencoba dialog dengan cermin-cermin yang lain. Konsekuensinya berikutnya, pemahaman mengenai munculnya media seni instalasi karena keterbatasan ruang kanvas lukis atau halaman buku untuk membahasakan kepingan kehidupan yang mau digarap seniman membutuhkan sungguh pembelajaran tidak hanya simbolisme seni, tetapi arus-arus anti-estetika modernitas dalam estetika postmodernitas.

Ketiga, dalam budaya mutakhir di mana produksi komoditas bersanding dengan produksi simbolik makna dan penggairahan provokatif lewat iklan yang merangsang basic instinct untuk mengonsumsi terus-menerus dan menuruti selera yang diciptakan oleh penguasa pasar, pemahaman dan penulisan kritik seni mesti bisa melihat sisi the sacred dalam komoditas konsumtif sekaligus yang simbolik dari citraan-citraan dunia hiburan agar erosi nilai pembendaan diketahui kapan mulainya. Sejak uang sebagai nilai tukar mengganti kreativitas, inspirasi, jerih keringat dan pergulatan seniman ketika berproses kreatif. Akibatnya rupiah dan dolar mereduksi karya seni menjadi melulu komoditas. Mampukah kritik seni keluar dari makian dan menuding kapitalisme sebagai biang tanpa mencoba menanggapi secara cerdas, kultural, dan alternatif yang memaksa penguasa pasar menghargai sumber berkesenian sebagai perayaan hidup dalam festival? (Mudji Sutrisno SJ)

Sijobang: Kesenian Tradisi yang Akan Hilang

Selasa, 19 Juli 2016 | teraSeni ~

Asrul Dt. Kodo, Pelaku Sijobang - teraSeni
Asrul Dt. Kodo, Pelaku Sijobang
(Sumber Foto: www.print.kompas.com)

Mestinya, jika anda berasal dari Kab 50 Kota dan atau Kota Payakumbuh tentunya anda mengetahui atau paling tidak pernah mendengar tentang Sijobang, atau Basijontiak. Sebuah kesenian musikal yang mendendangkan kaba Anggun Nan Tungga.

Nama Sijobang ternyata diambil dari tokoh yang ada dalam kaba tersebut yaitu Anggun Nan Tungga Magek Jobang, sehingga masyarakat menamakan kesenian ini dengan nama Sijobang. Biasanya kesenian ini diiringi dengan alat musik Kecapi dan ada juga diiringi dengan kotak korek api yang dijentik-jentikkan ke lantai, oleh karena itu Sijobang kerap juga disebut Basijontiak.

Sijobang adalah sebuah kesenian yang sangat unik dan luar biasa. Bagaimana mungkin cerita Anggun Nan Tungga yang berlatar lokasi pesisir (Tiku, Pariaman) bisa diceritakan dan didendangkan oleh masyarakat darek (daratan), semua detail kehidupan pesisir pantai dan laut yang digambarkan melalui kaba tersebut sangat dikuasai oleh penuturnya melalui Sijobang. Dan jika Sijobang ini memang benar milik masyarakat daratan (Kab. 50 Kota dan atau Kota Payakumbuh) lantas kenapa mereka tidak memilih cerita dengan latar lokasi darek saja?

 Disinilah menurut saya letak luar biasanya kesenian ini. Dan keluar-biasaan tersebut meminta dan membuka kemungkinan bagi suatu pengkajian yang lebih lanjut. Tetapi jika anda tidak tahu dengan hal yang sangat luar biasa ini, maka saya yakin dan percaya bahwa anda hanyalah orang-orang yang biasa. Sepertinya saya sangat beruntung sekali bisa kenal dan saling berbagi cerita langsung dengan pelakunya, dan saya sangat terkesan dengan pelakunya. Lalu bagaimana dengan kita?

Sore itu menjelang magrib hujan mulai mereda. Saat itu juga saya bergegas ke rumah seorang kawan, dan mengatakan padanya bahwa kami akan memenuhi janji untuk berkunjung sekedar ngobrol ringan dengan seorang seniman, pelaku seni tradisi.

Bapak Asrul, begitu namanya dari kecil, dan Datuak Kodo begitu gelarnya setelah besar. Dialah orang yang paling bersemangat, jika siapa saja datang mampir ke rumahnya, apalagi anak muda, untuk berbicara tentang Sijobang. Saya pikir anda harus percaya, kalau tidak silahkan datang sendiri ke rumah kediaman istrinya di Simpang Sugiran, 50 Kota.

Dari pusat kota Payakumbuh anda bisa melewati jalan Tan Malaka lalu anda akan bertemu simpang berbentuk huruf “Y” setelah jembatan Lampasi, lalu anda belok kiri menuju Kec. Guguak. Banyak jalur alternatif yang bisa anda lewati, bisa melewati Piobang, jika anda masuk disimpang tiga Kuranji kemudian anda tinggal lurus dan belok kiri di pertigaan yang ada gardu listrik, kemudian anda tinggal menanyakan di lepau-lepau kopi Jorong Boncah Simpang Sugiran dimana rumah Datuak Kodo tukang Sijobang, setiba di rumahnya saya yakin jika dia sedang tidak berburu maka anda akan disambut ramah oleh gonggongan anjing piaraannya.

Datuak Kodo adalah satu-satunya yang tersisa, yang masih memainkan dan mempertunjukkan kesenian Sijobang: sebuah kesenian yang sudah menjadi ikon Kab. 50 Kota dan atau Kota Payakumbuh, sebuah kesenian musikal yang selalu menjadi buah bibir bagi seniman-seniman, tidak hanya di Sumatera Barat tetapi juga di luar Sumatera Barat.
 “Saudara ayah saya (Pak Etek) dulu tukang Sijobang, tetapi saya belajar bersama murid beliau yang bernama Munin di Kuranji,” begitu kenang datuak Kodo yang gemar berkisah ini.

Dia masih ingat betul bagaimana dulu jika betul-betul ingin berguru harus menyanggupi persyaratan-persyaratannya di antaranya: kain putiah sakabuang (kain putih segulung), pitih sapiak (uang secukupnya), boreh sagantang (beras satu gantang), pisau tajam, ayam biriang, lado (cabe), garam, bawang. Beras itu biasanya untuk sebuah kekekalan ilmu karena beras adalah makanan pokok dan sumber kehidupan, sedangkan kain putih merupakan sebuah ketulusan, kesucian untuk berguru, pisau itu supaya apa yang dipelajari menjadi tajam, begitu juga cabe supaya pedas, dan garam supaya apa yang dipelajari menjadi asin dan berguna bagi orang lain. Sedangkan ayam itu tidak boleh dibantai tetapi dipelihara supaya apa yang dipelajari itu bisa berkokok seperti ayam.

Saya membayangkan bagaimana Datuak Kodo muda sedang bersemangat-semangatnya mengayuh sepedanya menempuh perjalanan 6-7 Km dari Sungai Tolang kampungnya menuju Kuranji kediaman gurunya. Dan tentunya sang guru tua juga akan bangga dan berharap bahwa ada generasi muda yang akan mengambil alih sebuah kearifan, dan berumur panjang.

Selama 2 tahun belajar, Asrul, sangat sering sekali dikatakan tenggen (gila), bahkan juga ada orang yang bertanya kepada orang tuanya tentang kebiasaan barunya yang suka bicara sendiri, bernyanyi-nyanyi sendiri, menggumam-gumam sendiri, dimanapun, dan sedang apapun, padahal dia sedang menghapal cerita Sijobang. Tak ayal, masyarakat mencemooh dengan menyematkan predikat “tenggen” pada dirinya.

“Ketika bertemu di warung saya sering disuruh-suruh menyanyikan Sijobang seolah-olah saya ini benar-benar orang yang “kurang” saja, begitulah konsekuensi sebuah kesenian ini”, katanya seolah mencemooh juga. Tentunya dia juga tau bahwa orang-orang kita itu bisanya hanya mencemooh saja, sedang mereka tidak berbuat apa-apa, apalagi bila kita bicara tentang pengabdian.

Setelah beberapa tahun dibawa-bawa gurunya untuk pentas keliling kampung, bukan untuk pertunjukan hanya melihat-lihat, barulah dia berani turun ke gelanggang untuk pertunjukan sendiri. Meskipun takut-takut, hari demi hari, dia mulai menjamah gelanggang yang lebih luas, sampai keluar 50 Kota. Acara apa saja, sebutlah misalnya nikahan, turun mandi, perhelatan peresmian, hingga melepas orang naik haji, jika ada yang meminta Sijobang, maka dia akan penuhi permintaan itu. Bahkan pernah dia tidak berhenti pertunjukan selama satu bulan sebab begitu penuhnya permintaan hingga dia tidak bisa pulang.

Adalah pembuktian yang akan merubah paradigma masyarakat tentangnya, semua cemooh terhadapnya terhenti ketika dia bisa membuktikan bahwa Sijobang bukanlah permainan untuk orang yang “kurang”, kiranya hasil Sijobang ini sangat membantunya dalam hal ekonomi. Datuak Kodo bisa menjemput kembali tanah dan sawah yang tergadai untuk anak dan istrinya. Tentunya itu yang membuat masyarakat ternganga, bahwa Datuak Kodo telah menjelma menjadi seorang yang digemari, populis. Bahkan puncaknya ketika seorang profesor dari Inggris yaitu Nigel Philips menemuinya untuk rekaman Sijobang ini. Tentunya dia tidak akan membayangkan bahwa kesenian dari warung-ke warung, dari kampung ke kampung ini nantinya akan diperdengarkan ke orang-orang di luar negeri, sungguh di luar dugaannya.

Setelah itu semua, Datuak Kodo tidak lagi sekadar tukang Sijobang yang mendendangkan cerita kaba klasik Anggung Nan Tongga, malainkan seorang tokoh yang dicari untuk sebuah keilmuan, Etnomusikologi contohnya. Bagaimana Sijobang dipelajari dan diteliti di lembaga pendidikan seni ASKI/STSI/ISI Padangpanjang, adalah salah satunya. Dan tentunya, Datuak Kodo lah Empu untuk kesenian ini.

Bila masyarakat seni, di luar Kab. 50 Kota, mengenal Kab. 50 kota dan Kota Payakumbuh pada umumnya dengan Sijobang. Lalu bagaimana di Kab. 50 Kota atau Payakumbuh itu sendiri? Saya tidak tahu bagaimana masyarakat, serta lembaga pemerintahannya memandang Sijobang. Karena ketika saya menyinggung soal bagaimana peran serta pemerintahan dan dinas terkait Sijobang ini, beliau menjawab:

 “Sudahlah, tak usah kita bicara pemerintah atau dinas, karena kita semua sudah tahu sendirilah bagaimananya”, katanya sambil tertawa menyengir, sementara saya dan kawan saya tak bisa menglak untuk ikut pula terbahak.

Sabuah lai lah dek mamak, jo pantun andai sabonta sodaran untuang dagang sansai
kok lai kabuliah ambo baporak, racik nan sodang tangah hari, timbakau baampai pulo
Kok lai kabuliah dagang bakondak, basuruik sonjo lah kau hari, dunia ndak namuah jo rang siko
Lapeh nan dari pasa sompan, ondak manjalang bukik apik, parentah lareh tujuah koto
Ooo buruang sampaian posan, baju baguntiang tak bajaik, talotak apo ka gunonyo

Begitu sebuah dendang menghimbau malam, hujan sudah habis, tak ada lagi yang menetes namun senja masih terasa lembab dan mulai mengelam di kediaman istri Datuak Kodo. “Kini sudah 65 umur saya, setelah ini tidak ada lagi yang akan Basijobang”, katanya lirih sambil membakar rokok dan menyeruput teh ramuan istrinya. Agaknya, ucapan Pak Datuak ada benarnya, bahwa seiring waktu Sijobang juga akan ikut menua dan keriput, dan ikut terkubur bersama Datuak Kodo, lalu lenyap dan hilang.

Menelisik Konsep Kebahagiaan Umar Kayam

Selasa, 19 Juli 2016 | teraSeni ~

Lukisan To Laugh Again  Karya Bob Salo - teraSeni
Lukisan Berjudul To Laugh Again
Karya Seniman Amerika Bernama Bob Salo
(Lukisan Komputer dan Miks Media, 2009)

Almarhum Umar Kayyam menceritakan kehidupan keseharian dengan tutur yang menarik. “Mangan ora mangan ngumpul” adalah kumpulan cerita pendek yang ditulisnya terus menerus dan diterbitkan di Kedaulatan Rakyat (KR) Yogyakarta secara berkala. Kritik-kritik sosialnya teramu sedemikian rupa sehingga memudahkan orang memahami pada semua lapisan masyarakat.

Tujuan tulisan ini supaya memperoleh cara kerja dan mengetahui metode pemikiran Umar Kayyam. Untuk memperolehnya mesti ditinjau secara sistematis dan terbuka, karena banyaknya bentuk penulisan cerpen yang membuat pembaca tidak mengerti dan paham. Juga diduga metode penulisan Umar Kayyam ini yang melahirkan ide drama–drama situasi yang sering ditayangkan Trans-TV, seperti Bajaj Bajuri dan Suami-suami Takut Istri.

Persoalannya, apakah metode Umar Kayyam dan drama-drama situasi tersebut telah mewakili gaya kehidupan orang Indonesia sebenarnya? Ataukah penulisnya betul telah mewakili jiwa kebangsaan yang me-Indonesia?

Kebangsaan menurut Ernest Renan dalam tesisnya yang juga pernah dikutip Presiden Soekarno, bahwa kebangsaan merupakan endapan sejarah kesamaan nasib sekelompok orang dari visi masa depan yang mereka bentangkan bersama (Geger Riyanto, Kompas, 21 Januari 2007).

Sebagai rakyat, Umar Kayyam adalah manusia Indonesia yang sangat merasakan pengaruh kekuasaan dan pengaruh itu melibatkan kekecewaan rakyat kecil, sehingga mereka merespon dengan gaya mereka sendiri. Salah satu gaya itu ialah dengan parody, guyonan menyangkut hal keseharian. Rakyat Indonesia telah mengalami suka duka kehidupan yang panjang –dan hal serupa telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Ketika ekonomi dan hutang Negara membengkak, BBM naik dan fluktuasi keuangan mengkhawatirkan, orang Indonesia masih mampu menikmati tiwul dan nasi aking sambil berseloroh dan mereka bahkan telah menciptakan keindahan dengan cara mereka sendiri. Sementara keindahan itu sangat kontras dengan usaha untuk mencari hidup seperti tertuang Robert Mason, pelukis Inggris yang karyanya menceritakan kehidupan buruh dan kemiskinan telah mendorong mereka untuk bertaruh dengan nyawa. Seperti di lukisan yang berjudul, “Jakarta Grand Indonesia Series 03”, menampakkan seorang  buruh merayap ke gedung dengan dindingnya yang tinggi –sosok yang rapuh dan kecil ditelan rangkaian besi, baja dan beton yang kuat besar dan angkuh (Ilham Khoiri, Kompas Minggu, 4, 2007).

Sebagai rakyat, Umar Kayyam adalah manusia Indonesia yang sangat merasakan pengaruh kekuasaan dan pengaruh itu melibatkan kekecewaan rakyat kecil, sehingga meeka merespon dengan gaya mereka sendiri. Salah satu gaya itu ialah dengan parodi, guyonan menyangkut hal keseharian. Rakyat Indonesia telah mengalami suka duka kehiadupan yang panjang, dan hal serupa telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Ketika ekonomi dan hutang  negara membengkak, BBM naik dan fluktuasi keuangan mengkhawatirkan, orang Indonesia masih mamp menikmati tiwul dan nasi aking sambil berseloroh dan bahkan mereka telah menciptakan keindahan dengan cara mereka sendiri. Sementara keindahan itu sangat kontras dengan usaha untuk mencari hidup seperti tertuang Robert Mason : pelukis Inggris yang karyanya menceritakan kehidupan buruh dan kemiskinan telah mendorong mereka untuk bertaruh dengan nyawa. Seperti dilukisan yang berjudul,”Jakarta Grand Indonesia Series 03”, menampakkan seorang buruh merayap ke gedung dengan dindingnya yang tinggi, sosok yang rapuh dan kecil ditelan rangkaian besi, baja dan beton yang kuat besar, dan angkuh, (Ilham Khoiri, kompas Minggu, 4, 2007)

Dalam Mangan Ora Mangan Ngumpul, Umar Kayyam tidak menampilkan kecemasan hidup, justru kebahagiaan di ruang keluarga priyayi yang sederhana. Karena sebagaimana dikatakan oleh seorang filosof muslim, Al Farabi, bahwa kebahagiaan sejati bukan merupakan pra-syarat kebahagiaan abadi, tetapi juga pra-syarat kelangsungan hidup yang nyata setelah kematian, (Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, 1987, h.79). Dalam kartun Benny and Mice yang mengisi tiap minggu di kompas, adalah keunikan orang Indonesia asli. Bukan berarti orang Indonesia adalah tipe lakon-lakon dalam kartun, tapi melalui kartunlah semua persoalan hidup lebih tenang untuk disikapi. Seperti contoh, Benny yang berteman akrab dengan Mice, pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka mengamati semua orang yang lewat dan kemudian meniru pakaian-pakaian yang mereka pakai. Suatu kali Benny menjadi penjaga wc umum dan mengatakan bahwa itlah pekerjaan yang didambakannya.

Konsep Umar Kayyam bisa menjadikan kebahagiaan sebagai antisipasi untuk ketenangan jiwa dan memanipulasi keruwetan hidup menjadi sebuah parody. Kalau diandaikan, Umar Kayyam adalah seorang penulis nakal tapi membuat segan para pembaca tulisannya. Ia adalah sosok sponge-bob, egois dan seenaknya. Sebagai orang Indonesia ia memang egois dan seenaknya dan merupakan sisi sosial masyarakat agraris dan bersifat positif. Seorang buruh tani mencoba mengakali perkataannya untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk dengan mengatakan, “Di zaman dulu orang ke sawah tidak juga memakai pupuk buatan pabrik, selama ayam, kerbau dan kambing masih mau berak, kita akan terus juga ke sawah.”

——————–

Begitu Umar Kayyam meninggal dunia, ia justru membuat kematian sebagai tujuan hidup yang dicita-citakan. Rohnya hadir di tengan keramaian malioboro, bundaran UGM  dan antara jalan Solo – Prambanan.

Ia adalah layar teater dengan panggung realist, tanpa coretan background yang makna tidak dimengerti. Itulah tampilan kota seperti Yogyakarta, fenomena tatanan budaya yang mulai memudar. Kota itu telah kehilangan guru atau sesepuh budaya dan murid-muridnya tidak lebih dari mereka yang sengsara dalam kebahagiaan : tukang parkir, buruh kasar, gelandangan dan beberapa orang pelacur di pasar kembang. Mereka mungkin tidak pernah membaca tulisan Kayyam, tapi mereka adalah tokoh-tokoh dari tulisan tersebut. Sebagian justru menolak kehidupan materialisme secara terbuka karena seperti pementasan teater koma dengan  judul “kunjungan cinta”, Riantiarno sekilas merefleksikan kepada penonton bahwa kemiskinan yang getir bisa membuat moralitas goyah, godaan uang bakal menyeret orang menjadi lebih pragmatis, dan banyak orang yang lebih memilih gaya hidup mewah meski dibangun dari utang. (Kompas, 14 Januari 2007). Padahal kru di teater koma itu sendiri hidup dan mencari uang dengan berkesenian?

Umar Kayyam belum berhasil menuai buah pikirannya walaupun benih pikirannya itu masih diragukan, terutama oleh generasi sekarang. Generasi sekarang adalah masyarakat konsumtif, materialisme Barat yang  nyaris tidak memiliki pertahanan budaya jitu. Oleh karena itu pengaruh Umar Kayyam justru tidak dikenal sedikitpun dan hal itu juga yang digukan oleh kebanyakan sastrawan lainnya, mereka mengkhawatirkan akan datangnya masa dimana masyarakat terbentuk oleh satu warna.

Dan warna itu terbuat dari cat yang buruk, dipakai oleh seniman yang selalu mencela ibu bapaknya sendiri……