Pilih Laman
Festival Takbir: Meleburnya Dimensi Sakral-Profan dalam Seni

Festival Takbir: Meleburnya Dimensi Sakral-Profan dalam Seni

Sabtu, 23 Mei 2020 | teraSeni.com~

Malam Takbiran Idul Fitri tahun ini nampaknya akan terasa kering akibat keterbatasan ruang gerak dampak dari pandemi Covid-19. Mungkin tidak akan nampak kemeriahan perayaan malam seperti tahun-tahun silam. Takbiran pada dasarnya adalah bentuk praktik keberagamaan umat Islam, sebagai penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan. Takbiran dilakukan dengan cara melafalkan kalimat Takbir secara berulang-ulang. Aktivitas perayaan malam takbir atau biasa disebut Takbiran khususnya di Indonesia pada umumnya diisi dengan beragam ekspresi kegiatan. Ada yangkumpul-kumpul singgah di mushola atau masjid, berjalan keliling kampung, konvoi di jalan raya, ataupun lomba takbir keliling.

Kegiatan ini sudah menjadi tradisi dan rutinitas masyarakat di berbagai wilayah Indonesia lintas agama. Bagi pemeluk Islam, Festival ini menjadi bagian dari praktik keberagamaan, dan bagi non muslim bisa menjadi wahana rekreatif serta edukatif. Tidak terkecuali di Yogyakarta, agenda Festival Takbir menjadi salah satu momen yang selalu dinantikan oleh masyarakat. Kurun waktu tiga tahun terakhir ini, saya menyempatkan untuk menyaksikan pergelaran Festival Takbir Keliling dalam rangka memperingati hari raya Idul Fitri yang diselenggarakan oleh PHBI (Panita Hari Besar Islam) kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta. Kegiatan tingkat provinsi ini memperebutkan trophy Walikota Yogyakarta dan digelar di halaman Museum Perjuangan dengan melibatkan ratusan partisipan. Peserta lomba mayoritas berasal dari masyarakat kecamatan Mergangsan dan sekitarnya yang mewakili Masjid di lingkungan tempat tinggal mereka (Pawestri, 2019).

festival takbir : teraseni.id
Para peserta festival takbir dengan atribut berupa lafaz Allah dan Muhammad
Foto: instagram phbimergangsan

Festival Takbir di kecamatan Mergangsan memiliki tema yang berubah-ubah tiap tahunnya. Salah satu tema yang pernah diangkat diantaranya “Kejayaan Islam di Nusantara” dan Isyahdu Bi Anna Muslimun (Tunjukkanlah bahwa kami orang-orang Muslim). Tema yang telah ditentukan menjadi acuan para peserta dalam menyajikan bentuk garapannya. Teknis penyajian karyanya dimulai dengan display di garis start dengan durasi tiga menit, kemudian berjalan menyusuri rute yang telah ditentukan. Aspek penilaian ditinjau dari aspek ketepatan lafal Takbir, kreativitas maskot, lampion, musik, tarian, kostum, dan baris. Kriteria tersebut dinilai oleh masing-masing juri yang berkompeten dibidangnya.

Pengalaman saya menghadiri pergelaran Festival Takbir tersebut menyisakan bayang-bayang yang acapkali menggelisahkan, baik dari aspek artistik hingga kontekstual. Tiap-tiap peserta memang menyajikan corak dan ekspresi garapan yang berbeda-beda, tetapi tetap terasa sama, bukan karena lafal Takbirannya, tetapi karena bentuk penyajian yang bernuansa“drum band”, terutama terlihat jelas dari alat musik, gerakkan, dan kostum yang dikenakan. Ada juga beberapa kelompok yang bereksplorasi dengan gamelan Jawa, angklung malioboro, wayang kulit, dan hadrah dalam penyajiannya.

Kegelisahan yang saya rasakan dan pertanyakan muncul ketika menyaksikan konten tekstual (takbir, musik, tari, maskot, lampion, festival, dan hadirin) dengan simbol-simbol agama yang dihadirkan terutama kalimat Takbir. Seluruh aspek teks dan konteks tersebut dipergelarkan dalam satu ruang dan waktu, sebagai bagian dari peringatan hari besar agama Islam. Di sini saya menyimpulkan bahwa terdapat persinggungan antara seni sebagai teks dengan agama sebagai konteks. Maka dalam tulisan singkat ini, saya berupaya untuk membaca seperti apa pola kerja relasi antara seni dan agama melalui studi kasus Festival Takbir di Yogyakarta.

festival takbir : teraseni.id
Arak-arakan salah satu peserta festival takbir
Foto: instagram permata_tamtama

Festival dan Ritual 

Istilah festival itu sendiri memiliki beragam pengertian dan senantiasa dikembangkan oleh para ahli. Salah satunya oleh Alessandro Falassi yang menjelaskan festival berdasarkan etimologi dan epistemologi. Festival diserap dari Bahasa Latin, festum (kegembiraan) dan feriae (penghormatan kepada dewa). Feria dalam Bahasa Itali dan Spanyol menitikberatkan pada kegiatan keagamaan, lalu dalam Bahasa Inggris (old English) berkembang menjadi fair (pekan raya) yang mengarah pada kegiatan komersial. Falassi memaknai festival sebagai kegiatan upacara bersifat periodik dan temporal. Festival berhubungan dengan ritual yang menghadirkan partisipan dalam satu komunitas masyarakat yang diikat oleh ras, bahasa, etnik, agama, dan sejarah (Murgiyanto, 2017).

Festival Takbir melibatkan berbagai macam elemen, yaitu pihak penyelenggara event, peserta, dan penonton. Kegiatan ini seyogyanya adalah bagian dari agenda praktik keagamaan. Festival Takbir adalah bentuk lain dari cara mengekspresikan kalimat takbir. Takbiran menjadi salah satu elemen dalam rangkaian tradisi praktik keberagamaan umat Islam khususnya di Yogyakarta serta beberapa wilayah di Indonesia pada umumnya.

Festival Takbir menjadi media bagi masyarakat untuk bersosialisasi dalam satu ruang dan waktu yang bersifat temporal. Peristiwa festival tersebut menjadikan aspek ritual dan hiburan saling berkelindan. Kegiatan Festival Takbiran Keliling mencerminkan ragam bentuk festival yang ditawarkan oleh Falassi yaitu sebagai a) Rites of competition, berarti kontestan bersaing dan menghasilkan pemenang dan ada yang kalah. b) Rites of purification atau ritus pemurnian atau pembersihan diri. c) Rites of Conspicuous Display, dapat diinterpretasikan sebagai media menampilkan ekspresi dalam bentuk pawai atau karnaval (Murgiyanto, 2017).

festival takbir : teraseni.id
salah satu bentuk artistik yang dikonstruksi di area festival
Foto: instagram phbimergangsan

Yang Sakral dan Profan 

Terdapat stigma yang membangun konstruksi di sebagian besar masyarakat kita, bahwa seni dan agama ibarat air dan minyak. Melalui tulisan ini, saya berupaya meninjau kembali secara singkat relasi antara seni dan agama dengan menggunakan pendekatan multidisiplin. Hal pertama yang saya soroti yaitu tentang konsep sakral dan profan dalam perspektif sosiologi agama.

Definisi sakral dan profan merujuk pada penjelasan Marcia Eliade dan Emile Durkheim. Eliade menjelaskan bahwa sesuatu yang sakral dan profan ditentukan oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang sakral selalu menghadirkan dan memanifestasikan keillahian, sedangkan yang profan tidak menghadirkan apa-apa (Eliade, 1959). Ruang dan waktu profan sama seperti waktu-waktu biasa tidak terdapat perbedaan. Berbeda dengan Eliade, Durkheim menjelaskan bahwa yang sakral bersifat komunal atau berkelompok, menghadirkan sesuatu yang supranatural dan memanifestasikannya dalam bentuk simbol-simbol. Sesuatu yang profan lebih bersifat individu atau natural, tidak menjalin relasi dengan yang transenden atau lebih bersifat imanen. Komunal lebih superior, dihormati, serta memiliki hirarki, sedangkan profan adalah bentuk keseharian dan bersifat biasa saja (Kamirudin, 2011).

Dalam dunia seni, istilah sakral dan profan acapkali disematkan dan digunakan untuk membaca sifat dari bentuk karya seni. Secara umum, pembacaan tersebut dilandasi oleh peran seni dalam ritus atau praktik keagamaan atau kepercayaan lokal sebagai wujud simbol. Contoh yang paling umum misalnya gamelan sekaten, gamelan selonding, lagu rokhani, patung dewa-dewi, kaligrafi, dan sebagainya. Tidak terkecuali dengan Festival Takbir di Yogyakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Bercermin pada logika konsep sakral-profan menurut Durkheim dan Eliade, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam kegiatan Festival Takbiran dapat dipisahkan mana yang sakral dan profan. Hal yang bersifat sakral terletak pada lantunan kalimat Takbir yang dikumandangkan secara terus-menerus. Kalimat Takbir adalah manifestasi dari simbol agama Islam yang menyiratkan keillahian. Festival Takbir juga dapat diinterpretasikan sebagai ruang sakral, prinsipnya sama yaitu masyarakat berkumpul (bersosialisasi) yang menghadirkan transenden atau keillahian .Hal yang dianggap profan menunjuk pada wujud dan bentuk seni yang digunakan sebagai media perwujudannya. Seni itu sendiri dianggap sebagai sesuatu yang profan, karena secara fundamental diciptakan oleh manusia dan bersifat imanen.

Meleburnya Sakral dan Profan dalam Seni 

Pembacaan mengenai relasi seni dan agama dalam tulisan ini tidak sebatas mengupas bentuk serta ornamentasi artistik dalam simbol-simbol agama saja. S. Brent Plate dalam buku Walter Benjamin, Religion, and Aesthetics menawarkan konsep membaca ulang agama melalui seni. Konsep tersebut saya gunakan untuk mewacanakan relasi seni dengan agama. Konsep yang ditawarkan oleh Plate tersebut dipengaruhi pemikiran Walter Benjamin. Salah satu analisisnya, Plate menjelaskan bahwa penciptaan mitos dan simbol agama merupakan bentuk praktik kreativitas, yang mengandung upaya being artistic (tindakan artistik) dan being aesthetic (tindakan estetis) (Plate,2011).

Plate juga menegaskan bahwa seni, atau mungkin lebih tepatnya “aktivitas artistik,” berfungsi di dunia religius dan budaya karena bersifat inventif, dengan demikian mengubah sifat tradisi dari mana ia tumbuh”. “Praktik keagamaan adalah praktik inventif yang menciptakan artefak dan cerita baru dari masa lalu, untuk kelangsungan hidup mereka sendiri, tradisi keagamaan harus melibatkan perspektif yang mempertahankan pendekatan yang fleksibel, dapat menjelaskan dimensi kreatif mitos, ritual, dan simbol, dalam kompleksitas kekacauan hidup mereka. Invetif berarti memiliki kemampuan untuk mereka cipta atau merekayasa yang sebelumnya belum ada (Nurvijayanto, 2019,144).

festival takbir: teraseni.id
iringan peserta festival sambil mengumandangkan takbir
Foto: instagram phbimergangsan

Kalimat Takbir berbunyi: Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa illa haillallahuwaallaahuakbar, Allahu Akbar walillaahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah. Kalimat Takbir merupakan bentuk kalimat pujian untuk mengagungkan nama Tuhan dari agama Islam yaitu Allah SWT. Kalimat Takbir adalah salah satu manifestasi simbol agama Islam. Kalimat tersebut senantiasa membutuhkan wujud untuk dapat diserap oleh panca indera manusia. Maka, dibuatlah nada-nada yang mengandung unsur artistik dan citarasa (estetis) supaya lebih impresif diterima oleh panca indera manusia.

Sugiarto dalam tulisannya memaparkan pandangan Heidegger yang menyebut seni pada dasarnya adalah poiesis, dalam arti menampilkan, membuat tampak dan berwujud. Kekuatan seni adalah melukiskan kedalaman pengalaman yang sebenarnya tidak tampak dan tidak terlukiskan, memperkatakan hal yang tak terumuskan, membunyikan hal yang tak tersuarakan, ataupun menarikan inti pengalaman batin yang tak terungkapkan (Nurvijayanto, 2019, 145). 

Festival Takbir menjadi aktivitas ruang dan waktu bagi para peserta untuk memperlakukan kalimat Takbir secara kreatif. Berbagai upaya dilakukan oleh para peserta untuk menyajikan wujud kreativitas terbaik mereka. Konten seni yang dihadirkan dalam festival Takbir di Kecamatan Mergangsan Yogyakarta meliputi musik, tari, dan rupa. Jenis-jenis seni tersebut dirajut menjadi satu kesatuan karya seni pertunjukan.

Kelompok partisipan festival mengimplementasikan ide/gagasan yang merujuk pada tema yang telah ditentukan oleh panitia sebelumnya. Mereka melakukukan proses kerja kreatif, menggunakan beragam metode penciptaan sesuai dengan daya kreativitas masing-masing. Melalui studi kasus tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sakral dan profan tidak selamanya menjadi sebuah dikotomi, yang memisahkan makna-makna yang sebenarnya bisa jadi bersifat tunggal.

Kreativitas para peserta Festival Takbir di Yogyakrta dalam merajut berbagai bentuk seni menjadi karya pertunjukan telah mempertebal dan mengaktifkan spirit/energi dari kalimat Takbir itu sendiri. Impresi dari spirit tersebut dapat dirasakan oleh para hadirin yang berada dalam peristiwa tersebut, baik itu dari sisi peserta maupun penonton. Logika tersebut menarik benang merah bahwa seni dan agama memiliki relasi yang saling berkelindan. Meleburnya sakral dan profan dalam seni mampu menjadi media praktik spiritualitas bagi pelaku. Spiritualitas yang mampu menjalin relasi secara vertikal dan horizontal, antara manusia dengan transenden/Illahi, sesama manusia serta manusia dengan kosmos (semesta).

The Town Thereafter: Menguliti Tradisi Jepang dari Kebiasaan Sehari-hari

The Town Thereafter: Menguliti Tradisi Jepang dari Kebiasaan Sehari-hari

Minggu, 5 April 2020 | teraSeni.com~

“Fujimi Bashi…”, seorang perempuan berpakaian kasual memulai pembicaraan dengan menyebutkan nama sebuah jembatan yang cukup tenar di Jepang. Pun ia menyambungnya dengan menjelaskan arah sebuah daerah kepada seorang perempuan lainnya. Hal yang menarik, Ia merapal arahannya yang sama berulang kali. Tidak lama berselang, lawan bicaranya ikut merapal arahan tersebut tetapi terlambat per sekian detik. Hasilnya, rapalan dari dua orang tersebut saling berkejaran tetapi tidak terganggu satu sama lain. Alih-alih mengganggu, rapalan tersebut justru membentuk komposisi bunyi yang unik. Di saat yang bersamaan, terlihat cerobong asap hingga jam yang terus berputar.

Tidak dapat dipungkiri, kelompok seni muda selalu mempunyai cara yang unik dalam membuat karya. Kelompok teater muda asal Tokyo, Nuthmique adalah salah satunya. Di dalam karya yang bertajuk “The Town Thereafter”, Nuthmique menyoal kebiasaan (salah satunya rapalan berulang) dengan waktu yang terus berjalan (baca: kontinyuitas). Masashi Nukata—selaku sutradara dan penulis naskah—mempunyai cara yang unik dalam membalut gagasannya. Berlatar belakang musik, Nukata menggunakan metodologi musik minimalis modern untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari.

pemain, aktor dan aktris berdialog di salah satu sudut panggung
Foto diambil dari https://natalie.mu/stage/gallery/news/366359/1328603

Karya yang berlatar apartemen ini diperankan oleh empat orang muda, antara lain: Kazuki Kushio, Kana Sakato, Tsumugi Harada, dan Shiho Fukasawa. Berdurasi 80 menit, karya ini dipentaskan di ST Spot, Yokohama, Jepang. Karya yang dipentaskan delapan kali dalam lima hari jadwal tayang, jumat (7/2) hingga selasa (11/2) ini juga menjadi bagian dari gelaran TPAM Yokohama 2020, sebagai salah satu pertunjukan di TPAM Fringe. TPAM Fringe merupakan pertunjukan-pertunjukan yang berlangsung di saat yang bersamaan dengan TPAM, pada 9 hingga 16 Februari 2020. Alih-alih berkontestasi satu sama lain, TPAM justru mengajak seniman-seniman tersebut untuk mendaftarkan diri dan menjadi bagian dari gelaran mereka.

Lebih lanjut, TPAM Fringe menjadi ruang seniman Jepang dan sekitarnya untuk mendapatkan penonton serta jaringan yang lebih luas, yakni Internasional. Kendati mereka tidak menjadi deretan penampil di pertunjukan utama (TPAM Direction), melainkan hanya menjadi penampil di TPAM Fringe (pinggir), tetapi saya justru merasakan bahwa penampil mereka tidak kalah menarik dari para penampil utama di gelaran TPAM. Pasalnya Saya justru menyaksikan keberagaman cara ungkap dan kompleksitas gagasan ketika menyaksikan beberapa pertunjukan di TPAM Fringe. Satu di antaranya adalah “The Town Thereafter” karya Nuthmique, di mana mereka menguliti sesuatu yang mendalam dari hal kecil dan di sekeliling.

 

Dari Arah Mempertanyakan Marwah

Setelah melakukan registrasi, penonton masuk satu per satu pada sebuah lorong menuju panggung. Hal yang unik, terdapat instalasi susunan pintu tanpa daun pintu pada lorong tersebut. Semakin ke dalam tinggi pintu semakin rendah, sehingga penonton yang melewatinya harus menunduk untuk dapat masuk ke arena penonton. Sementara penonton berbelok untuk mengisi bangku penonton, susunan pintu itu juga tersusun hingga ke panggung. Sontak hal ini membuat saya berpikir, apakah pertunjukan sudah dimulai sejak memasuki lorong tersebut? Pikiran ini sontak terlintas, terlebih kelompok teater yang didirikan empat tahun silam ini dikenal selalu berangkat dari pertanyaan “apa itu pertunjukan?” dan kepercayaan untuk memperluas batas-batas seni pertunjukan. Atas dasar itulah instalasi ini tentu mempunyai maksud lain ketimbang hanya menjadi properti semata.

Setelah semua penonton memadati panggung pertunjukan, dua orang perempuan berpakaian kasual memasuki panggung dan saling bertegur sapa. Menjawab lawan bicaranya, salah seorang di antaranya mengatakan sebuah jembatan yang cukup dikenal masyarakat Jepang, “Fujimi Bashi”. Kemudian ia kembali menerangkan arah untuk pergi menuju jembatan tersebut. Oleh karena kecepatan ucap, arahan tersebut menjelma menjadi rapalan yang diucap berulang kali. Merespons arahan tersebut, lawan bicaranya turut merapal arahan tersebut dengan diucapkan terlambat per sekian detik. Tidak hanya mereka, seorang laki-laki yang memasuki panggung juga mengikuti rapalan tersebut. Pada awalnya saya merasa sangat terganggu, tetapi setelah rapalan ketiga, saya merasa bahwa rapalan tersebut tidak hanya membentuk susunan bunyi yang unik, tetapi juga dimaksudkan sebagai medium dalam menyingkap sesuatu.

dua orang aktris tampak sedang ingin berdialog
Foto diambil dari https://natalie.mu/stage/gallery/news/366359/1328603

Di adegan lainnya, seorang laki-laki mengajak seorang perempuannya berbicara. Laki-laki tersebut menanyakan kabar, pernikahan, dan beberapa pertanyaan seputar hidupnya, sedangkan perempuan tersebut menjawabnya dengan seadanya. Pada awalnya percakapan tersebut terdengar biasa-biasa saja. Namun percakapan tersebut kembali diulang-ulang. Alih-alih menyerupai rapalan laiknya adegan sebelumnya, percakapan yang dilakukan berulang-ulang tersebut diikuti dengan gradasi atas gestur tubuh, dari tegak ke respons tubuh yang sebaliknya, seperti:menggeliat, menjuntaikan tangan, menggerakkan kakinya, hingga mengayunkan badan. Raut wajahnya pun berubah dari wajah tegang ke wajah yang lebih santai. Bahkan gelak tawa pun menyertai perbincangan tersebut.

Lucunya, terlihat beberapa tanda spesifik, seperti: cerobong asap, hingga jam—yang terletak di sisi kanan panggung dari penonton—yang tampak bersamaan ketika adegan pernyataan arah atau pertanyaan kabar direpetisi. Tadinya saya mengira bahwa hal tersebut hanyalah properti yang nir-relasi dengan pertunjukan, ternyata tanda tersebut adalah benang merah dari pertunjukan, yakni waktu yang terus berjalan. Namun tanda tersebut tidak terlalu mencolok, sehingga tidak semua penonton menangkap tanda tersebut dengan utuh. Selain itu, percakapan atau gerak yang terus direpetisi tersebut terasa terlalu panjang dan minim variasi, dampaknya beberapa penonton di sekitar saya pulas tertidur. Untung saja pertunjukan ini dipentaskan dalam ruang yang tidak terlalu besar sehingga tercipta suasana intim, saya tidak membayangkan jika pertunjukan dipentaskan dalam ruang pertunjukan yang besar. Repot urusannya!

Sebenarnya saya tidak punya persoalan dengan metode musik modern minimalis yang digunakan Nukata—saya juga percaya bahwa musik minimalis mempunyai kaidah harmoni yang berbeda— tetapi sebagaimana Nukata menampilkan teater maka dramaturgi dari pertunjukan juga perlu ditautkan. Pasalnya adegan pertunjukan terasa disusun bergantian semata, tidak diberikan perhatian lebih pada antar dan inter adegan.

Tentu saya cukup menyayangkan, terlebih saya merasa bahwa gagasan kelompok Nuthmique dalam mengkritisi tradisi dari kebiasaan sehari-hari ini menarik. Ilustrasi hingga beberapa adegan telah memberikan sudut pandang yang berbeda akan wajah tradisi Jepang. Mulai dengan ilustrasi pintu yang memaksa kita harus menunduk; adegan rapalan repetitif akan arah FujimiBashi yang membuat kesan berulang; hingga adegan menanyakan kabar dengan diikuti sikap tegak hingga menggeliat yang merepresentasikan kebosanan.

Namun kita tidak dapat buru-buru mengatakan bahwa mereka mengkritisi tradisi dan ingin meninggalkannya. Saya justru melihat bahwa mereka mengkritisi tradisi atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat tanpa pemahaman yang utuh. Terlepas dari catatan atas pertunjukan mereka, apresiasi patut diberikan kepada kelompok teater muda ini. Bagi saya “The Town Thereafter” adalah suara millenial Jepang dalam menyikapi tradisi unggah-ungguh yang dilakukan berulang tanpa arah ataupun marwah.[]

Menarikan Eksploitasi Pendidikan

Menarikan Eksploitasi Pendidikan

Minggu, 15 Desember 2019 | teraSeni.com~

Seorang penari yang agak besar tubuhnya dari dua penari lain mengatur tubuh-tubuh kecil dua penari itu sesukanya. Ia mengatur posisi jari tangan mereka untuk saling menusuk hidung masing-masing, sedangkan dua tangan lainnya sedang berpose peace layaknya sedang berfoto ria. Kemudian diarahkan oleh si pengatur itu untuk saling menjatuhkan dengan didorong, diberdirikan kembali, ditampar, jatuh lagi, dan seterusnya.

Adegan itu merupakan satu fragmen dalam tari yang disuguhkan oleh Hujan Hijau Dance-Lab untuk merepresentasikan kondisi pendidikan formal di Indonesia saat ini lewat pertunjukan seni.

Pertunjukan tari itu berjudul Human?. Pada 21 November 2019, saya bersama kawan menonton tari itu di Gedung Mursal Esten, Universitas Negeri Padang, dalam rangkaian acara Pekan Seni Nan Tumpah 2019. Sambil menunggu acara mulai, kami membaca dan mendiskusikan “konsep pertunjukan” Human? yang tertulis dalam katalog kegiatan ini.

teraseni.com
Salah satu adegan pada pertunjukan Human
Foto: Sumbarsatu.com

Poin pada “konsep pertunjukan”nya ialah, bahwa untuk pertunjukan ini telah diadakan riset sepanjang tiga tahun terkait pendidikan di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka mendapati pendidikan telah dikomodifikasi atau sederhananya penguasaan atau eksploitasi pendidikan oleh pihak tertentu. Atas masalah itu, Hujan Hijau Dance-Lab mengajukan sebuah solusi yakni pendidikan yang berperikemanusiaan agar nantinya bisa menghilangkan korupsi, kekerasan seksual, kerusakan alam, dan sebagainya.

Memang agak kurang tepat relasi tesis dan antitesis dari “konsep pertunjukan” Human? ini, yang seolah tidak menjawab persoalan pengisapan oleh suatu kelompok dominan, melainkan menerima dengan syarat-syarat tertentu. Akan tetapi, sepanjang pertunjukan pun hanya memperlihatkan “proses eksploitasi” dalam pendidikan tadi, bukan persoalan solusi. Untuk itu kita jadikan saja poin pemerasan dalam pendidikan itu dalam “konsep” Human sebagai problem yang ingin diurainya lewat tari.

Kurikulum yang Tersembunyi 

Dalam masyarakat yang dihegemoni oleh sekelompok penguasa, segala unsur kehidupan turut diperhitungkan guna mendukung kelanggengan kekuasaannya, termasuk ranah pendidikan. Alvin Toffler dalam bukunya Gelombang Ketiga (terjemahan Sri Koesdiyantinah, 1980) menjelaskan fungsi pendidikan pada masyarakat industri yang dikuasai oleh suatu kelompok dominan, baik itu kapitalis maupun komunis.

Bagi Toffler, pada gelombang kedua yang identik dengan perindustrian, pendidikan dimekanisasi. Pendidikan dalam masyarakat industri bertugas menghasilkan tenaga kerja baru untuk kerja di pabrik-pabrik. Yakni, pekerja “. . . yang patuh dan mudah diatur, sejenis mesin yang diperlukan . . .” (hlm. 50) mendukung efektifitas produksi di pabrik. Untuk itu, diperlukan sebuah “kurikulum yang tersembunyi” dalam pendidikan, yaitu, ketepatan waktu, kepatuhan, dan melakukan kerja yang berulang terus-menerus (hlm. 49).

teraseni.com
Penari tampak mengeksplorasi kursi sebagai simbol pendidikan
Foto: Instagram hujanhijaudancecelab

Tiga kurikulum tersembunyi itu coba diurai oleh pertunjukan Human?. Pertama, terkait ketepatan waktu, Human? memainkannya lewat musik pengiring. Pada separuh awal pertunjukan, bunyi-bunyian di pabrik sering dihadirkan, seperti sirine panjang sebagai tanda untuk istirahat, pulang, atau pergantian pekerja. Selain itu ada pula bunyi-bunyi mesin yang konsisten menemani para pekerja (baca: pelajar, penari). Bunyi ini terkadang seirama dengan salah satu gerakan penari, yang mengejewantahkan kondisi pekerja di pabrik yang mesti melakukan pekerjaan sama secara berulang, layaknya mesin dengan bunyi konsistennya. Pada posisi ini, fungsi bunyi tidak hanya merepresentasikan ketepatan waktu, pula kurikulum melakukan kerja berulang-ulang.

Selain itu, posisi bunyi dalam pertunjukan Human? pula melihatkan periodesasi jaman. Ada dua model bunyi yang berbeda pada paruh awal dan paruh akhir pertunjukan ini, yaitu bunyi analog yang diwakili oleh suara-suara di pabrik dan bunyi digital. Apabila pada masyarakat industri awal identik dengan bunyi-bunyi analog, pada masyarakat industri selanjutnya yang serba digital dilekatkan dengan bunyi-bunyi digital.

Pada beberapa adegan tampak suara-suara digital ini memicu para penari untuk melakukan gerakannya. Secara sederhana dapat disandingkan dengan kondisi; ketika sebuah pesan masuk ditandai dengan sebuah bunyi oleh telepon pintar kita, kita akan cepat mengambil dan memeriksa telepon itu. Sehingga, Human? ingin mengatakan bahwa, meskipun pada masyarakat industri digital, gerakan-gerakan kita masih dipimpin oleh bunyi-bunyian atas nama ketepatan waktu.

Untuk kurikulum selanjutnya, yakni kepatuhan, salah satunya tampak pada bagian adegan yang saya narasikan di awal tulisan. Pada adegan ini tampak tidak ada resistensi atau penolakan dari penari lain, penari penguasa itu “memerintah” penari lain dan diterima dengan patuh oleh mereka. Meskipun yang diperintahkan adalah hal-hal yang menyakitkan. Itu tidak hanya merepresentasikan dunia pekerjaan yang tidak manusiawi, pula dalam pendidikan.

Dari sini, barangkali relevan tawaran Human? dalam “konsep pertunjukan”nya, yaitu pendidikan yang humanis. Tentu saja ranah pendidikan saat ini harus mempertimbangkan setiap pelajarnya secara subjektif, yakni tergantung kondisi dan kebutuhan setiap pelajar. Kesamarataan yang tidak pandang bulu tidak relevan lagi dengan kenyataan keragaman karakter dan fisiologis manusia. Itu jika pendidikan adalah ruang yang melatih manusia menjadi berpengetahuan dan manusiawi, jika tidak, kita mesti sepakat dengan Human? bahwa pendidikan hanya menghasilkan calon pekerja yang siap dieksploitasi industri.

Gerobak Kopi: Ruang Perjumpaan Musikal Anak Muda Kota Payakumbuh

Gerobak Kopi: Ruang Perjumpaan Musikal Anak Muda Kota Payakumbuh

Minggu, 26 Mei 2019 | teraSeni.com~

Pada Rabu, 2 Mei 2019, Gerobak Kopi, sebuah kedai kopi yang berada di jalan Soekarno Hatta no 108, Koto Nan Empat, kota Payakumbuh kembali ramai oleh anak-anak muda. Oleh orang kedai, beberapa meja segera dipindahletak ke atas trotoar tepat di depan kedai, lalu beberapa anak muda segera duduk sambil mengeluarkan piranti pintar masing-masing. Agaknya, sebagian pengunjung tampak gelisah, serupa ada yang akan ditunggu dengan segera.

Benar saja, malam itu di Gerobak Kopi membuat semacam keramaian meskipun tanpa izin keramaian. Beberapa orang tampak sibuk berlalu lalang, mengangkat barang-barang serupa speaker, mengobel-ngobel kabel, mengecek-ngecek suara. Tak berapa lama di sudut kiri sebelum pintu masuk kedai, seperangkat soundsystem minimalis sudah siap tegak terpasang dengan beberapa buah gitar akustik yang siap untuk dipetik. Rupanya, seisi kedai malam itu tidak hanya hadir untuk menyeduh kopi, mungkin sebagiannya juga ingin larut dalam bunyi.

Doityoursong:Teraseni.Com
MC menyapa pengunjung di Gerobak Kopi
Foto: Dokumentasi Pantia

Setelah tampak siap, seketika itu, petugas MC menyapa hadirin, mengucap terimakasih telah menyengaja datang ke Gerobak Kopi dalam rangka peluncuran program terbaru. Selamat datang di DoItYoursong, program terbaru Gerobak Kopi, program yang diinsafkan untuk masyarakat musik terutama di kota Payakumbuh. DoItYoursong, sebagaimana dari penamaannya merupakan sebuah terminologi yang diambil dari semangat kemandirian yang kerap dipakai oleh teman-teman PUNK, yaitu DIY. Akan tetapi, rekan-rekan di Gerobak Kopi menambahkan semacam penekanan “song” yang memberikan konteks kegiatan ini, yaitu musik.

Jelas saja, dalam hal ini, DoItYoursong dimaknai sebagai sebuah ajakan untuk mereka yang diam-diam tak berhenti membuat karya musik, namun tidak ada ruang untuk memperdengarkan kepada para pendengar yang lebih luas.DoItYoursong tidak hanya memperdengarkan karya musik, pun juga mengajak membicarakan karya-karya yang mereka ciptakan serta bagaimana mereka berproses.

“Lagu-Lagu yang Tak Laku”, kiranya begitulah tema yang diwacanakan malam itu, dengan menghadirkan dua kelompok musik. Diantaranya, Selatan Payakumbuh dari Lima Puluh Kota, dan Sibirana dari kota Padang. 

Doityoursong:Teraseni.Com
Selatan Payakumbuh membawakan beberapa reportoar
Foto: Dokumentasi Panitia

Selatan Payakumbuh, merupakan sebah kelompok musik yang tumbuh di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, sebuah nagari yang berada persis di arah selatan kota Payakumbuh. Mereka memulai proses pertama kali dengan bunyi-bunyi puisi, kerap mengeksplorasi bunyi-bunyi yang ada dalam puisi, kemudian menyanyikannya dalam baris-baaris lagu. Petikan-petikan idiom Minangkabau dipadupadankan dengan vst-vst, plugin, serta efek-efek ambien diolah menjadi puisi tersendiri.

Sedangkan Sibirana, sebuah kelompok yang mengawali kreativitas mereka dengan industri kreatif Sibirankajoe, yaitu sebuah usaha yang mengubah kayu-kayu sisa menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual. Kemudian, mereka mencoba mengembangkan diri dengan membuat program-program kesenian, seperti fotografi, videografi, teater, serta musik. Maka, Sibirana lahir dari program musik.

Reportoar Sibirana x Selatan Payakumbuh
Sibirana mengawali dengan sebuah lagu yang berjudul Bunga Kopi, lagu yang dikatakan oleh penyanyinya diambil dari puisi Pinto Anugrah, seorang penyair juga sekaligus sastrawan Sumatera Barat. Lagu yang dibuat dengan sukat ganjil ini terdengar saling berkejaran dan menjangkau satu sama lain. Terdengar progresi chord bas dibuat terus berjalan, sementara ritme gitar seakan menahannya dalam satu akord saja. Lalu, bait-bait puisi dinyanyikan, seakan memagut kabut yang berloncatan dalam bercangkir-cangkir kopi.

Doityoursong:Tesaeni.Com
Sibirana membawakan beberapa reportoar
Foto: Dokumentasi Panitia
Sementara itu, Penjual Bendera, lagu kedua Sibirana, yang digubah dari puisi penyair Iyut Fitra dengan judul yang sama. Dinyanyikan dengan ketukan birama 6/8, terasa agak berdendang, mengajak kaki ikut menghentak pada aksen-aksen ketukan kuatnya. Terdengar pula nada-nada pentatonik serupa Sape Kalimantan yang seolah membawa pendengar menjelajahi barisan pulau, lembah dan gunung serta sunyi dusun-dusun yang tenggelam sebelum malam.

Lain pula Selatan Payakumbuh, membuka pertunjukannya dengan sebuah lagu yang berjudul Beri Aku Malam. Lagu yang digubah juga dari puisi penyair Iyut Fitra. Tiga orang personilnya menyanyikan refrain di bagian awal dengan tiga suara pula, terdengar seperti organ di sepertiga malam yang memecah kesunyian. Setelahnya, terdengar petikan gitar dengan effect delay, nada-nadanya seolah melayang-layang mengisi ruang yang entah menuju kemana. Bagian demi bagian lagu dinyanyikan. Tak terasa, di penghujung lagu, tiga personilnya kembali menyanyikan berulang-ulang bagian refrain tiga suara, “beri aku malam, beri aku malam, beri aku malam, seliang kelam menuju Tuhan.”

Lagu kedua, Kusir Bendi, dibuka dengan petikan gitar 1 dengan nada-nada pentatonis Minangkabau, tak lupa dengan effect delay, suasana yang dibangunnya seperti sedang berada di pedalaman Minangkabau. Seakan-akan melalui nada-nada tersebut, pendengar sedang diberikan sebuah konteks. Setelahnya, terdengar bunyi gitar fade in, makin lama makin mengeras, petikan bunyinya serupa kaki kuda sedang berlari. Lalu disusul dengan pola yang sama pada bas. Sebagaimana Iyut Fitra dalam puisinya Kusir Bendi tersebut, tampaknya Selatan Payakumbuh, melalui bunyinya, mereka juga sedang hendak memvisualkan sunyinya kehidupan Kusir Bendi hari ini di tengah gegasnya teknologi transportasi, serta bagaimana ketertinggalan mereka dipesatnya teknologi informasi.

Membangun dari tepi: sebuah tawaran untuk beriya-iya
Selain pertunjukan beberapa reportoar Selatan Payakumbuh dan Sibirana, sesi diskusi juga berjalan tak kalah menarik. Diantaranya, bagaimana menyoal publikasi band-band atau kelompok-kelompok musik yang bergerak secara indiependen, supaya lagu-lagu mereka tak lagi menjadi konsumsi pribadi. Bagaimana menciptakan ruang-ruang alternatif, agar bisa membangun atmosfer musik itu sendiri. Bagaimana kemudian berbagi pengalaman proses kreatif menciptakan musik, yang barangkali bagi sebagian kelompok mempunyai cara yang berbeda-beda.

Pada intinya, diskusi pada malam itu mengerucut pada soal membangun ekosistim musik yang berkesninambungan. Ini pula yang kemudian dicoba di dorong oleh Gerobak Kopi melalui Doityoursong. Bagaimana kemudian dari kota kecil Payakumbuh ini bisa tercipta semacam kantung-kantung kreatif untuk Sumbar, skena-skena musik yang akan memperkaya ragam musik nasional. Sebuah cita-cita yang tentu membutuhkan proses panjang, semangat, kerja keras, serta konsistensi dari para pegiat itu sendiri. Atau barangkali optimistik ini hanya euforia yang utopik? Rasa-rasanya tidak.

Doityoursong:Teraseni.Com
Sesi diskusi setelah pertunjukan
Foto: Dokumentasi Panitia

Kenapa tidak, anak muda kota Payakumbuh punya sejarah tersendiri tentang tumbuh kembangnya musik di kota mendayu ini. Berbicara musik popular salah satunya, barangkali mereka masih mengingat betul, satu dekade yang lalu, Blitz Band, sebuah band yang mengasah kemampuan dari panggung lomba satu ke panggung lomba yang lain. Kemampuan itu yang kemudian dituangkan ke dalam semangat yang begitu besar untuk sebuah cita-cita. Maka, mulailah membuat lagu, beberapa tahun berikutnya mereka menjelma band yang dirasa pantas untuk membuka konser-konser akbar. Akibatnya, hampir setiap tongkrongan anak seusia sekolah menengah di kota Payakumbuh kala itu, lagu Blitz Band ada diputaran pertama dalam playlist mereka.

Dalam masa yang sama, juga muncul Rubberclock, band rocknroll Payakumbuh yang secara diam-diam menjadi semacam trendsetter bagi anak-anak rebel penggila suara-suara crunch yang nakal. Lagu-lagu hits dari sebuah album mini yang Rubberclock hasilkan, tentu membuat penonton tak berhenti berputar-putar di gigs-gigs Sumbar. Tidak hanya itu, Rubberclock juga dengan mudahnya melewati audisi LA Lights Indiefest 2008 lalu.

Tak hanya di Payakumbuh, di kota Padangpanjang Serambi Mekah, Cheerie Plus, Ziva Band juga turut mencuri perhatian masyarakat musik Sumbar kala itu. Selain memang mereka punya materi musik yang kuat serta garapan-garapan yang cukup berbeda dari banyak band di Sumbar.

Namun, pada tahun-tahun itu, Jakarta lebih menggoda bagi band-band Sumbar ini. Mereka terkesan mengekor pada paradigma lama, bahwa Jakarta adalah segalanya bagi musik popular Indonesia, bahwa “pengakuan” seolah-olah hanya ada di Jakarta. Oleh karenanya, satu persatu mereka hijrah ke kota impian tersebut. Kiranya, tak semudah membuat musik itu sendiri, irama Jakarta kiranya teramat kompleks untuk kemudian bisa di aransemen, terutama bagi band-band daerah. Tak terkecuali bagi band-band dari Sumbar ini.

Doityoursong:Teraseni.Com
Foto bersama pegiat musik kota Payakumbuh
Foto: Dokumentasi Panitia

Lalu, kita bisa menebak hasil akhirnya. Tak banyak dari band-band tersebut yang bertahan di kota maha citra itu. Satu persatu mulai meninggalkan ritmanya, pindah ke kota lain dengan mencari kemungkinan lain. Atau, pulang kembali menata diri seraya belajar dari pengalaman dengan memunculkan sebuah kesadaran baru. Bahwa, untuk sebuah “industri” musik, semestinya juga harus serta merta membangun atmosfirnya. Agar mata rantai musik itu sendiri berjalan, dan dengan sendirinya setiap kepentingan stakeholder ikut mencebur di dalamnya.

Barangkali, hari ini, tak ada salahnya kita untuk mengintip sedikit di etalase keriuhan musik Bali yang mau tak mau harus diapresiasi. Bagaimana Bali, dengan kota-kotanya tersebar, mereka adalah sebuah pulau yang jumlah penduduknya pun serupa Sumbar, lebih kurang seupil jika dibandingkan dengan Jakarta. Namun, dalam hal kreativitas bermusik mereka punya semacam manuver yang jika tidak tepat digunakan istilah gigantisme, atau heroisme, tetapi kenyataannya mereka merayakan semangat desentralisasi musikal yang siap melawan untuk bergantung pada Jakarta.

Keriuhan yang dimulai dari industri musik lokal, katakanlah pop Bali atau pop berbahasa Bali, kemudian bergeser keindustri yang lebih luas berbagai macam genre musik. Ambien-ambien musik Bali pun tak lagi hanya didengar oleh telinga-telinga lokal, melainkan sudah melampaui nasional dengan menembak langsung jalur Balkan Eropa, dan Amerika. Jelas saja, hingar bingar musik Bali ini tentu sudah melewati proses yang panjang, semangat yang sama, kerja keras, serta konsistensi dari para pegiat-pegiat musik itu sendiri.

Sudah barang tentu, skena-skena musik yang lahir dibanyak tempat, dengan beragam genre dan attitude masing-masing adalah semacam modal kultural yang dimiliki Bali. Namun, modal kultural saja tentu tidak cukup, modal sosial juga tak kalah penting. Bagaimana kemudian mereka menciptakan ruang-ruang organologis, tempat beresonansinya beragam kelompok genre musik. Di setiap sudut, ada saja panggung untuk menggelar karya-karya sebagai wujud ekspresi musikal. Di cafe-cafe, bar-bar, tak lagi ruang konsumtif belaka, melainkan menjelma sebagai panggung-panggung alternatif untuk band-and atau kelompok-kelompok musik yang ingin mempresentasikan estetikanya. Pada bulan-bulan tertentu terdengar pula festival-festival yang mendorong semaraknya skena musik masing-masing.

Agaknya, budaya ini pun akhirnya tumbuh sebagai pemenuhan kebutuhan hasrat musikal setiap orang, musik telah menjadi semacam muara dari suara-suara beragam kepentingan. Baik yang praktis, maupun yang politis, baik yang ideologis, maupun yang ekonomis. Maka, musik tak lagi sekedar bunyi yang dilantunkan, melainkan sebuah alat untuk mempertemukan ragam kehidupan.

Payakumbuh, kota yang mendayu biru ini, sekiranya tak kurang dengan kultur musik. Mulai dari tradisi, pop daerah, hingga kontemporer terus bergeliat. Hanya saja soal intensitas, konsistensi, menjaga semangat, serta kemauan untuk beriya-iya, bagaimana kemudian setiap pegiatnya bersepakat membangun sebuah ekosistim musik yang saling bertaut satu sama lain, tidak hanya sesama musisi, juga penikmat, pencatat, pemoto, dan siapa saja yang tergerak untuk majunya musik itu sendiri. Percayalah, meskipun dimulai dari gerobak, yang kita butuhkan hanyalah terus mengayuh, mendorong, serta memacu, menyambung kembali mata rantai yang mungkin terputus beberapa tahun belakang. Bahwa kemudian, tidak ada yang tidak bisa, kecuali tidak mau.

Tengok Bustaman IV; Bustaman Untuk Dunia Mengulas Figur Kai Bustam Lewat Galeri Kampung

Tengok Bustaman IV; Bustaman Untuk Dunia Mengulas Figur Kai Bustam Lewat Galeri Kampung

Rabu, 8 mei 2019 | teraSeni.com~

Semarang—Aroma khas kambing menyeruak memenuhi udara. Dari ujung gang, sampai jalan- jalan sempit, memperlihatkan aktifitas warga kampung bustaman—atau dikenal juga kampung penjagal kambing—yang guyup. Sebagian dari mereka, adalah pedagang sekaligus pembeli. Tetangga sekaligus keluarga. Sebuah jalinan yang jarang ditemui di kampung- kampung tengah kota, terutama di tengah arus modernisasi saat ini. 
Tengok Bustaman IV merupakan kelanjutan dari agenda dua tahunan Tengok Bustaman I sampai III sejak tahun 2013. Ada banyak karya seni peninggalan yang masih terjaga, dan atau dimodifikasi oleh warga kampung di sana- sini. Mural di dinding- dinding kampung, Wayang Gaga yang tergantung, hingga komik strip yang mampu mengundang penasaran hingga gelak tawa pengunjung. 
Secara lugas, Tengok Bustaman IV merupakan hasil dari kerja keras kolektif komunitas Hysteria dan warga kampung. Dengan menjunjung frasa Bustaman Untuk Dunia, mereka mencoba menerjemahkan ulang kontribusi figur Kai Bustam beserta keturunannya yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi hidup dan kehidupan Kampung Bustaman, bahkan Kota Semarang. Dalam hal ini, direspon dengan pendayagunaan kembali bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dalam wujud galeri seni. 
Kampung Bustaman: Teraseni.Com
Arak-arakan bustaman, saat keliling kampung
Foto: Dokumentasi Penyelenggara
Menjelang senja, anak- anak sudah merias diri dengan berbagai macam pakaian adat lengkap dengan segala tetek bengeknya untuk mengikuti ritual pengarakan Bustaman. Yakni, ritual arak- arakan pengantin sunat keliling kampung. Sebenarnya, pembukaan galeri oleh Ayah Hari—figur kampung yang dituakan—akan dilakukan pada tanggal 21 April 2019 malam, sepaket dengan street perfomers art yang melibatkan dengan beberapa seniman dan urbanis. Tetapi, mengawalinya dengan arak- arakan di sore hari sebagai rambu- rambu pengingat acara, barangkali bisa menambah daya tarik pengunjung lebih dini. 
“Karena momentumnya pas. Yaitu bertepatan dengan peringatan hari kartini, akan lebih baik jika kita juga merayakannya sekaligus menghibur adik- adik yang baru saja disunat,” ungkap Ayah Hari dengan wajah berseri- seri, saat ditemui ditengah- tengah ritual arak- arakan pada Minggu (21/04) kemarin. 
Ketika salah seorang warga kampung membakar petasan, maka prosesi arak-arakan pun dimulai. Mereka melakukan pawai keliling kampung, dengan menyenandungkan sholawat nabi yang diiringi oleh grup rebana dan terbangan. 
Tengok Bustaman IV kemudian menjadi respons isu-isu kampung kota dalam bentuk artistik dengan menggandeng banyak seniman dan para urbanis. Sebagai usahanya, seniman- seniman yang terlibat akan mengangkat dan memberdayakan bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sebagai ruang publik yang sudah lama ditinggalkan dan diabaikan. Pemberdayaan dan pemanfaatan ini berupa pembuatan galeri seni yang artistik dan estetik sekaligus interaktif bagi partisipasi publik serta ikonik sebagai sebuah ruang yang dapat mengakomodasi ekpresi publik. 
Kampung Bustaman: Teraseni.Com
Rumah Pemotongan Hewan yang sudah tak terpakai yang disulap menjadi galeri seni bustaman, tampak
 dari depan
Foto: Dokumnetasi Penyelenggara
Agenda ini melibatkan sekurang- kurangnya sepuluh seniman (baik grup maupun individu), band, serta muralis warga dengan didukung pula street perfomer artis yang merespon selasar jalan depan RPH sebagai sebuah panggung ekspresi. Seniman yang terlibat diantaranya; Deny Denso, Hasrul (jakarta), Kolase Semauku, Five Miles Stereo. Arsita Iswardhani (Teater Garasi- Yogyakarta), Pop Corn (Surabaya), Resto Samkru, Gracia Tobing (Bandung), Propagandasmu (Magelang), Rizka Ainur R, Gump n Hell, Tesla Manaf (Bandung), Sore Tenggelam, Ok Karaouke, serta Tridhatu. Mereka telah mempersiapkan diri selama satu minggu dibawah arahan Iqbal Al Ghofani selaku kurator, dan Syaifudin Iqbal selaku ketua panitia. 
“Sebagian seniman yang merespon memang belum mengenal secara dalam historis dan latar belakang kampung Bustaman dengan keterkaitannya pada Kai Bustaman. Sehingga sebagian mereka memang perlu datang dan berinteraksi secara langsung, melakukan riset, hingga meski membaca sejarah untuk akhirnya membuat sebuah karya seni yang bernilai artistik, informatif yang dapat mengakomodasi ekpresi publik,” ungkap Adyn Hysteria, selaku direktur Komunitas Kolektif Hysteria yang dalam hal ini sebagai pihak ketiga dalam penyelanggaraan festival. 
Kampung Bustaman: teraseni.Com
Seorang anak tengah memperhatikan komik strip, salah satu karya dalam galeri Bustaman
Foto: Dokumentasi Penyelenggara
Bustaman Untuk Dunia dijadikan sebagai tema besar bukan terjerembab segala sebab. Hal ini pertama kali dinyatakan oleh Ayah Hari jauh sebelum ini sebagai sebuah ulasan kampung yang serba terbatas namun berusaha memberikan kontribusi untuk dunia. “Kampung Bustaman itu kampungnya kecil. Rumah-rumahnya berdempetan. Banyak gang-gang kecil. Tapi kami ini istimewa. Dan justru dengan segala keterbatasan itulah kami berusaha untuk tetap menjaga budaya, menjaga hal- hal yang diwariskan dari leluhur kami. Yakni Kai Bustam,” Terang Ayah Hari. Pandangannya jauh, seakan menyimpan sesuatu pada kampung yang ia banggakan. 
Bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang direspon sebagai Galeri Seni sekaligus partisipasi publik menjadi ikonik dan pembeda dalam Tengok Bustaman kali ini. “Pada awalnya, gedung ini memang digunakan sebagai pemotongan hewan secara komunal, sebelum akhirnya warga memilih untuk melakukan pemotongan kambing di rumah pribadi. Pada Awal tahun 2016- 2017 itu memang sudah tidak berfungsi, dan atas kesepakatan warga, lahan ini dijadikan lahan parkiran. Kemudian atas usul mas Adin dan kesepakatan warga lagi, akhirnya bekas RPH ini dijadikan galeri Bustaman,” tutur Ifkar Izani, salah satu aktivis pemuda kampung Bustaman. Ia mengaku senang dengan gagasan ini.

Selain sebagai refleksi diri siapa itu Kai Bustman, agenda ini juga bisa menjadi kabanggaan dan alasan untuk tetap kumpul antar remaja. 

Kampung Bustaman: Teraseni.Com
Beberapa karya seni yang dipamerkan di galeri bustama
Foto: Dokumentasi Penyelenggara
Adin Hysteria, mengundang para seniman lokal semarang dan luar kota untuk merespon dalam bentuk karya seni sebagai ruang publik. Sehingga muncul nama-nama seperti; Deny Denso (Semarang), Hasrul (jakarta), Kolase Semauku (semarang), Five Miles Stereo (Semarang), serta Pop Corn (Shalihah Ramadhanita-Surabaya). Mereka menampilkan garapan dengan gayanya masing- masing. Memadukan sejarah Kampung Bustaman, partisipasi aktif Kai Bustam, serta perspektif tiap seniman. Menggabungkan keterampilan konvensional dan teknologi modern menjadikan karya yang dipajang kian variatif. 
Karya mereka mempresentasikan keagungan dibalik sosok Kai Bustam. Dengan membawa dan mempertanyakan kembali, banyak nilai yang melekat pada objek yang bisa menjadi titik temu warga bustaman dengan leluhurnya. Siapa itu Kai Bustam? Apa Jasanya? bagaimana sikap yang kita ambil sebagai penerusnya? tidak hanya menjadi “sakral”, tetapi kepentingan melekat pada penikmat dan pada akhirnya pada penciptanya. Mereka banyak menemukan fakta- fakta menarik dari figur Kai Bustam. 
“Banyak hal yang menginspirasi kami untuk belajar sebagai seniman dan aktivis kebudayaan,” tungkasnya. Galeri Bustaman, kemudian rencananya akan terus dibuka sebagai ruang publik dalam kurun waktu yang belum bisa ditentukan.