Pilih Laman

Membaca Garis Penyesalan dalam Tiga Puisi Chairil Anwar

Senin, 8 Agustus 2016 | teraSeni ~

Ungkapan Chairil Anwar dalam bait pertama puisinya Lagu Siul, yang berbunyi “Adakah kematian menjadi arti atas ketidak berdayaan?” merupakan pertanyaan yang mencerca kepedihan tentang kematian.
Bertahan dalam kepasrahan bukan berarti menolak kenyataan.  Seperti
“Ajal di cerlang caya matamu,” adalah harapan terputus oleh kenyataan
yang bernama takdir. Seperti laron yang mengharap terang, setelah
tenggelam dalam gelap akhirnya terbakar dan mati oleh harapan sendiri.
Di baris terakhir pada bait pertama Chairil seakan tidak peduli, sebuah
keterpaksaan yang sederhana, “Ku kayak tidak tahu saja,” dan ternyata ia
tidak mampu bersikap tidak peduli.

Ada tema
bertendensi romantis pada bait kedua, tentang keremajaan yang terbuai
dan terbakar oleh dendam terhadap kekasih. “Kau kawin, beranak dan
berbahagia,” jelas bukan simbol terhadap perilaku yang menyimpang dari
diri si penulis. Seperti pernah dikatakan teman dekat Chairil Anwar,
Asrul Sani bahwa kebanyakan tema puisi-puisi Chairil bertemakan in-door – bermuara dari kegelisahan pribadi dan rumah tangga.

Lukisan Chairil Anwar, karya Gusti Solihin - teraSeni
Lukisan cat minyak di atas kanvas berjudul
Chairil Anwar, berdimensi 95x75cm,
 karya Gusti Solihin
(Sumber Foto: www.arsip.galeri-nasional.or.id)

Layaknya manusia ditinggal kekasih, Chairil tidak menemukan jalan keluar karena tidak satu pun tempat mau menerima. Maka ia menganggap dirinya sebagai Ahasveros yang dikutukan Eros. Pengembalian kepada mitologi yang diyakini adalah akibat kepercayaan yang semu dan usaha untuk mempersonifikasikan dirinya – dalam hal ini Chairil kembali berada di jurang yang mencemaskan.

“Jadi baik kita padami Unggunan api ini,” adalah perlawanan terhadap muara kegelisahan, penyebab dari akhir perjalanan yaitu mati. Chairil mencoba memintasi kegamangan dan keraguan karena ia tidak mau menyesal  dengan mengatakan “Aku terpanggang tinggal rangka”.

Lazimnya puisi-puisi Chairil yang lahir dalam suasana perang, maka setiap penyelesaian seolah-olah tidak lagi mengenal kata selain mati. Kebanyakan manusia ketika ditimpa derita justru menginginkan lebih agar penderitaan itu semakin menjadi. Kemiskinan adalah hal biasa, seperti dikatakan Chairil Anwar dalam puisi Sebuah Kamar bahwa “sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia,” untuk dilihat dan diratapi. Ia justru tidak menemukan kepedulian selain tatapan , “bulan yang menyinar ke dalam,”. Tidak ada yang mau peduli meski Chairil meneriakkan tentang penghuni yang “bernyawa,” dan tentang dirinya yang berontak.

Apa yang dimaksud dengan ,”tersalib di batu,” dimana seorang terpaku tanpa daya dan sementara itu  bulan hanya bisa bersinar?  Sedikit terselip kesan akan harapan kepada orang lain yang tersalib meski dalam  ketidak berdayaan yang sama? Ada ruang ke-Tuhanan dari kata , ‘salib’ yang terpaku bisu dan tidak  mampu menolong. Dalam hal ini apakah Chairil sedang mencoba untuk menggugat Tuhan itu sendiri yang membiarkan kemiskinan di depan mata? Penderitaan yang sama juga menimpa sosok “ibuku tertidur dalam tersedu,” adalah naluri wanita yang rentan dan lemah. Lain halnya dengan si bapak yang  “terbaring jemu,”, oleh harapan yang terkikis, kandas dan membosankan.

Apakah hal sama juga terjadi di luar sana, di luar rumah yang dikatakan sebagai “keramaian penjara sepi selalu,”. Ia sendiri dengan ke empat saudaranya sesak dalam sempitnya kamar, “3×4 m,” sebuah ukuran di luar kelayakan.

Jelas terlihat in-door-nya puisi Chairil kali ini setelah menceritakan ratapan keluarganya sendiri dalam ketidak berdayaan. Bahkan ia menantang dengan mengatakan, “Aku minta adik lagi pada ibu dan bapakku,”. Chairil kembali memotong garis penyesalan menjadi kesengsaraan berikutnya. Selain itu sedikit bimbang tentang eksistensi ibu dan bapaknya, “karena mereka berada di luar hitungan,”. Chairil seolah menafikan keberadaan ke dua orang tua itu dengan menonjolkan harapan hidup bagi kelima anak-anaknya

Dalam puisinya berjudul Malam, Chairil kembali masuk ke dalam rasa takut yang menyesakkan. “Mulai kelam,”  saat kekacauan menjelma dalam warna temaram, dingin dan diam. Chairil tidak sendiri di tengah kebutaan yang buntu dan satu pertanyaan “Thermopylae?”  pertanyaan adalah persamaan tentang suatu pertempuran yang terjadi di Yunani tempo dulu. Akankah kejadian itu hadir dalam saat bersamaan ketika malam semakin menenggelamkan semangat? Chairil kembali kepada mati, memintas sebelum terjadi. Sama halnya dengan penggal garis penyesalan dalam puisi-puisi sebelumnya. Gambaran suasana perang sangat nyata dan mungkin ia menyaksikan korban-korban berjatuhan dan kebinasan yang musnah.

Memperalat Seni untuk Pencitraan Politik di Berbagai Media

Sabtu, 6 Agustus 2016 | teraSeni ~

Televisi dengan kekuatan teknologi yang dimilikinya dianggap oleh banyak kalangan sebagai penanda kehidupan modern. Betapa tidak, masyarakat  masakini seperti tidak dapat dipisahkan dari televisi. Keduanya bahkan ibarat simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan di antara kedua belah pihak. Televisi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, yang berfungsi selain sebagai penyebar informasi dan hiburan, juga sebagai alat propaganda yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dengan membuatnya percaya dan yakin terhadap pesan yang ada dibalik tayangan televisi itu.

propaganda di televisi melalui seni - teraSeni
Ilustrasi tentang propaganda di televisi
(sumber:www.wakingtimes.com)

Kekuatan utama televisi adalah gambar, dan apapun gambar yang ditayangkannya bisa berdampak pada perilaku orang yang melihatnya. Menyadari kekuatan inilah banyak politisi memanfaatkan media televise sebagai sarana propaganda bagi kepentingan politiknya. Berbagai macam cara perekayasaan gambar dilakukan demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Manipulasi gambar tayangan televisi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mempengaruhi pemirsa, agar percaya dan yakin dengan pencitraan dari tayangan tersebut.

Padahal, semua gambar tayangan televisi bukanlah gambar yang sebenarnya, melainkan sudah mengalami penyuntingan atau pengeditan sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Sayangnya,  hanya sedikit dari pemirsa yang tahu dan memikirkan hal itu. Hal inilah yang tak terbayangkan oleh kita, bahwa dibalik tayangan yang spektakuler itu, terselip maksud ‘busuk’ yang berusaha mempengaruhi perasaan dan kesadaran kita. Diperlukan suatu kekuatan dan kejernihan berpikir dalam mencerna segala tayangan, agar tidak terjerumus dengan sarana propaganda melalui tayangan televisi.

Hal yang menarik dewasa ini ialah ketika kegiatan seni dimanfaatkan oleh para politikus untuk mendapatkan simpati dari masyarakat, sebagai senjata untuk memenangkan pemilu. Padahal, di luar itu mereka tidak peduli pada kegiatan seni. Salah satu contohnya ialah apa yang dilakukan oleh presiden kita saat, Jokowi, ketika ia memanfaatkan media televisi dan seni pada pemilu dua tahun lalu.  Ya, Jokowi adalah contoh paling jelas, dari bagaimana seni dan televisi digunakan untuk mendapatkan simpati. Dengan memanfaatkan jasa band terkenal seperti Slank, yang terkenal dengan lagu-lagunya yang berisikan pesan perjuangan membela Indonesia, Jokowi berhasil menarik simpati masyarakat, terutama anak muda. Setidaknya, hal ini telah membuat para Slankers memilih Jokowi.

Pencitraan yang didapatkan oleh para politikus dari media televisi ini sungguh hebat. Semua yang tergambar pada setiap frame menjelaskan kebaikan, kedermawanan, kehebatan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari para politikus. Jarang sekali ada tayangan yang memperlihatkan sisi buruk dari mereka. Tidak saja media televisi yang dimanfaatkan, beberapa media cetak yang siap terbit setiap harinya juga dipenuhi ‘koar-koar’ janji para politikus untuk membangun pencitraannya. Masyarakat diajak menilai sesuatu berdasarkan pencitraan yang tidak nyata ini. Mendadak, seni lalu diagung-agungkan, misalnya dengan mengangkat kembali kesenian tradisi sebagai visi misi dalam kampanye. Berbagai macam pertunjukan seni diadakan di desa-desa yang didanai oleh para politikus dengan embel-embel baliho yang terpajang di sepanjang jalan.

Apakah seni masih pantas dianggap sebagai suatu keindahan ketika ia hanya dimanfaatkan sebagai sarana pencitraan? Pada umumnya, seni diartikan sebagai wahana keindahan, perbuatan manusia yang timbul dari perasaan, sehingga menggerakan jiwa dan perasaan manusia lain. Seni adalah suatu kreativitas yang diciptakan oleh manusia yang berasal dari ide, gagasan, perasaan, suara hati, gejolak jiwa, yang diwujudkan atau di ekspresikan. Dari pengertian seni ini seharusnya seni benar-benar dijadikan sebagai wahana kebudayaan untuk menciptakan keindahan dan hiburan, bukan untuk mendapatkan pencitraan demi mendapatkan jabatan.

Banyak juga orang yang demi mengejar ambisi tertentu, lantas mengemas dirinya terlalu berlebihan. Mereka berupaya mengekspos diri dengan berbagai cara. Dengan adanya sosial media, orang kini bahkan bisa bebas menciptakan citra diri untuk mencapai tujuan tertentu. Orang seperti ini ‘berbahaya’, karena akan tumbuh menjadi ‘narsis’ yang bisa menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya.

Seni dalam pencitraan adalah seni yang tidak berbicara apa adanya. Mendengarkan atau menonton kegiatan seni dalam iklan atau pidato kampanye diwarnai ambiguitas atau ketidakpastian. Ini disebabkan oleh pencitraan yang terlalu berlebihan. Lebih dari 63 persen caleg, menurut KPU Pusat, tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Itu artinya, ada tindak improvisasi ‘kotor’ dalam penggunaan seni sebagai sarana pencitraan, padahal improvisasi adalah bayi yang dilahirkan oleh dunia kesenian. Pada situasi politis demikian, kita dihantui kecemasan, karena seni akan semakin berkurang maknanya, terlebih jika di dalamnya terdapat pencitraan yang berlebihan.

Tetapi kenapa seni justru dilarang untuk jadi ajang kreatifitas dan medium kritik? Pertanyaan ini saya ajukan karena ketidakseimbangan antara seniman dengan politikus? Jika seseorang pejabat dapat melakukan pencitraan dengan seni, lalu kenapa seniman tidak diperbolehkan untuk menyampaikan kritik melalui seni? Kita ingat bahwa musisi semacam Iwan Fals  dan Sawung Jabo pernah dicekal masuk layar televisi, karena syair-syair lagunya yang dianggap membahayakan stabilitas pemerintahan (rezim Soeharto).

Demikian juga sastrawan WS Rendra yang pernah dilarang masuk televisi terutama untuk pembacaan puisi, karena karya-karyanya dianggap membahayakan kedudukan pemerintahan di mata masyarakat. Aktifitas Rendra pada masa itu seringkali mendapat kontrol ketat dari Departemen Penerangan, Kepolisian, bahkan Kodim. Ketika WS Rendra bergabung dengan group musik Swami, Rendra dan kelompok inipun dilarang tampil di televisi.

Jika siapa saja bebasmelakukan kegiatan seni, bebas mengekspresikan apa saja untuk dirinya dan penonton, kenapa banyak seniman yang dicekal? Seniman juga melakukan pencitraan dengan karyanya. Mereka ingin proses kreatif dari usahanya membangun kesadaran masyarakat dan mampu menjelaskan permasalahan negara saat ini, seperti lagu yang dibawakan Iwan Fals dan puisi WS Rendra.

Apa sebenarnya seni itu ketika dijadikan sebagai sekadar bagian dari pencitraan? Sungguh jelas bahwa pada abad 20 ini seni sangat dibutuhkan oleh semua kalangan. Para politikus memanfaatkan seni untuk pencitraan dan berbagai stasiun televisi memanfaatkan seni sebagai sumber uang. Seni dikembangkan sedemikian meriah sehingga seringkali melupakan hakikatnya sebagai wahana pengalman keindahan. Seni dimanfaatkan dengan menghadirkannya berbagai hiburan yang dipertontonkan tanpa keindahan.

Dr Nigel dalam filmnya yang berjudul “More Human Than Human” menunjukkan bagaimana pencitraan berhubungan erat dengan gambar, simbol, dan seni. Ia menjelaskan bahwa jawaban dari pertanyaan ini terdapat ribuan tahun yang lalu, ketika nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu mewariskan seni di dalam bentuk visual. Bagaimana seniman pertama memperjuangkan peradaban terbesar. Ia menjelaskan hasil surveinya bagaimana manusia membentuk seni dan seni membuat kita menjadi manusia. Lalu bagaimana seni membentuk dunia?

Tidak ada yang mendominasi hidup manusia begitu besar. Namun bentuk tubuh manusia menjadi obsesi beberapa seniman besar dunia. Faktanya, citra bentuk tubuh manusia tidak satupun mirip dengan bentuk manusia pada nyatanya. Mereka jarang mencipta tubuh yang realistis. Jika diperhatikan, kelima seri film Dr Nigel menjelaskan secara rinci awal mula seni sebagai pencitraan, dan bagimana perkembangan seni yang ternyata telah dimafaatkan oleh banyak orang dari dahulu hingga sekarang.

Filsafat seni bersangkutan dengan masalah-masalah konseptual yang muncul dari pengertian kita tentang seni. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seperti pertanyaan yang diajukan oleh Dr. Nigel dalam film-filmnya merupakan bagian dari pertanyaan dasar dalam estetika atau filsafat seni, yaitu: Bagaimana awal mulanya seni? Bagaimana seni di definisikan? Apa yang membuat karya seni indah, menarik dan jelek? Bagaimana seseorang menanggapi karya seni? Apakah ungkapan artistik merupakan bentuk ungkapan yang unik? Apakah seni menyingkap kebenaran tentang segala sesuatu? Mengapa manusia menciptakan karya-karya seni?

Pada umumnya seni adalah segala melalui unsur-unsur tertentu, yang bersifat indah untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sifatnya tak terbatas. Seni dapat mengharukan, seni dapat menyatukan seluruh kalangan maupun komunitas, seni juga dapat menciptakan keakraban dapat menciptakan hal-hal lain yang tidak dapat kita bayangkan. Seni adalah kegiatan yang menghasilkan karya indah. Tujuan seseorang berkesenian di antaranya untuk kepuasan pribadi, tuntutan keadaan, tujuan praktis untuk mencari uang, dan ada pula demi kepentingan kesejahteraan umat manusia.

Intinya, seni pada dasarnya adalah kegiatan untuk menghibur. Tapi jika seni terus dimanfaatkan sebagai sarana pencitraan yang berlebihan untuk mendapatkan simpati dari banyak orang, sei akan berkurang maknyanya.Seorang menciptakan karya seni dengan tujuan meningkatkan kualitas kehidupan zamannya sehingga memilki arti penting bagi generasi berikutnya, tapi seni untuk pencitraan diciptakan untuk menghipnotis pikiran masyarakat untuk melihat seseorang secara berlebihan. Demikian pula pandangan masyarakat yang ‘meminggirkan’ seni dalam proses pendidikan maupun kehidupan sehari-hari seharusnya telah ditinggalkan. Sebab, tujuan manusia menciptakan karya seni adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan zamannya, dan bukan merusaknya.

Tari Pasambahan: Tari Minangkabau Dalam Budaya Populer

Selasa, 2 Agustus 2016 | teraSeni ~

Penampilan tari Pasambahan Masakini - teraSeni
Salah satu penampilan tari Pasambahan
dalam acara Masakini
(Sumber: www.tradisikita.my.id)

Tujuh orang laki-laki berpakaian tradisional daerah Minangkabau secara rampak memperagakan gerakan-gerakan mancak (pencak), semacam variasi gerak silek (silat) yang diakhiri dengan sambah (sembah) hormat kepada para tamu. Setelah mereka tujuh orang perempuan, berpakaian adat lengkap menggunakan suntiang (sunting) dan memegang carano (cerana), sementara enam lainnya mengenakan tikuluak tanduak (kain berbentuk tanduk), menarikan gerak-gerak yang kebanyakan berakhir dengan gerak sambah dengan kedua tangan dirapatkan di depan dada.

Diiringi suara bansi (alat tiup tradisional), perempuan yang mengenakan suntiang ditemani dua orang yang mengenakan tikuluak tanduak dan salah seorang laki-laki yang tadi mempergakan mancak kemudian berjalan pelan dan anggun ke arah para tamu. Sesampai di hadapan para tamu, mereka berempat membungkukkan badan, sang laki-laki membukakan tutup carano dan mempersilahkan beberapa orang tamu untuk mengambil sirih dan pinang. Sementara itu, terdengar suara seperti deklamasi dalam bahasa Minangkabau dari pengeras suara mengiringi mereka.

Adegan di atas bukanlah upacara adat atau alek (helat) pengangkatan pangulu (pemuka adat) di Minangkabau, melainkan adalah pemandangan dalam sebuah pembukaan acara bertajuk Malam Pagelaran Kesenian Minangkabau, Dies Natalis ke-36, Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB, yang digelar di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, Jumat 22 April 2011. Tari yang dalam tayangannya di situs youtube diberi judul “Tari Galombang Pasambahan (Dies Natalis 36) UKM-ITB” itu mengawali acara yang mengusung tema “Minangkabau for Indonesia,” yang menurut rilis panitianya dihadiri sekitar 900 orang penonton yang membeli tiket.

Pemberian judul ‘Tari Galombang Pasambahan’ tersebut di atas menarik karena menggabungkan dua nama tarian yang biasanya digunakan terpisah dalam khasanah seni tari Minangkabau, yakni Tari Galombang atau Tari Pasambahan. Semakin menarik, karena tarian itu tidak ditampilkan dalam suasana perhelatan adat-istiadat masyarakat Minangkabau, melainkan dalam suatu acara yang cenderung bernuansa kehidupan modern yakni sebuah Dies Natalis organisasi. Menarik pula untuk mencermati bahwa penampilan tari Galombang atau tari Pasambahan tersebut berlangsung di rantau, atau jauh dari kampung halaman, oleh sebuah organisasi mahasiswa asal Minangkabau. Sementara, ada pernyataan tentang tari Galombang, yang mengatakan bahwa tarian ini lazimnya hanya ditampilkan sebagai bagian upacara adat di Minangkabau, terutama untuk pengangkatan pangulu.

Budaya Populer dan Tari Pasambahan
Seperti berbagai wilayah di Indonesia, masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat juga terlibat secara aktif dalam gegap gempita budaya pop. Kata ‘pop’ menurut Raymond William secara diskursif berasal dari kata ‘populer,’ yang mempunyai makna: disukai banyak orang dan memang diciptakan untuk menyenangkan banyak orang. Adapun menurut Dominic Strinati, budaya populer dihasilkan secara massal dengan bantuan teknologi industri, dan dipasarkan secara professional bagi publik konsumen dengan tujuan untuk mendatangkan profit.

Menurut Dominic Strinati, budaya populer atau budaya massa berkembang, terutama sejak dasawarsa 1920-an dan 1930-an, yang ditandai dengan munculnya sinema dan radio, produksi massal dan konsumsi kebudayaan yang terjadi karena adanya kemajuan media dan teknologi. Budaya pop menghilangkan batasan antara budaya tinggi dengan budaya rendah dan kerap kali dihubungkan dengan ciri-ciri kehidupan postmodernisme.

Memang ada pengaruh kecil dari hal-hal lain, namun identitas didominasi oleh pengaruh dari budaya populer. Budaya populer, menurut Heryanto, perlu dipahami sebagai pelbagai ’’…suara, gambar, dan pesan yang diproduksi secara massal dan komersial’’ dan juga ’’…berbagai bentuk praktik komunikasi lain yang bukan hasil industrialisasi, relatif independen, dan beredar dengan memanfaatkan berbagai forum dan peristiwa seperti acara keramaian publik, parade, dan festival’’ (hlm 22).

Karena itu, bisa dikatakan bahwa identitas Minangkabau populer tersebut juga terbentuk melalui film dan sinetron. Sebagai media komunikasi yang menggunakan audiovisual, pencitraaan tentang Minangkabau masakini dibangun. Namun yang paling kuat pengaruhnya adalah perkembangan internet, terutama melalui media social semacam Twitter, Facebook, dan instagram, yang berperan sebagai pasar citra dan teks.

Seperti halnya masyarakat di beragai daerah di Indonesia, mayoritas penduduk Sumatera Barat juga tergiur dan berperan aktif di dalam budaya populer. Hal itu misalnya tampak dalam berkembangnya industri rekaman lagu pop Minang sejak tahun 1980-an, juga melalui perkembangan Talempong kreasi atau talempong goyang dewasa ini.

Konsumsi budaya pop juga terjadi melalui campur tangan ‘organ tunggal’ yang sempat mewabah di Sumatera Barat. Tentu saja peranan televisi juga tidak kecil dalam menciptakan selera populer ini. Melalui berbagai acara, sejak zamannya TVRI, ‘tari kreasi’ Minangkabau ditampilkan dan diterima sebagai identitas tari secara bersama oleh masyarakat Minangkabau. Melalui penampilan di televisi pula, masyarakat Minangkabau yang berada di rantau terhubung dengan kampung halamannya.

Perkembangan itu diikuti pula oleh berkembangnya jenis tarian yang dinamakan sebagai ‘tari kreasi’ juga sejak dasawarsa 1980-an. Apa yang dinamakan sebagai ‘tari kreasi’ ini umumnya adalah jenis tarian yang dikembangkan dari berbagai tema-tema sehari-hari dengan memanfaatkan ragam gerak dari tari-tari tradisional. Sepintas, hal ini seperti melanjutkan cita-cita pengembangan tari Minangkabau modern yang diperjuangkan Huriah Adam dan Gusmiati Suid. Hal inilah yang dapat dilihat sebagai konteks dari perubahan tari Galombang menjadi tari Pasambahan.

Penampilan Tari Galombang Pasambahan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-36, Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB di atas karena itu dapat dilihat sebagai salah satu ciri dari berkembangnya budaya popular.  Pada mulanya tari Pasambahan merupakan kesenian tari yang dinamakan tari Galombang, yang berasal dari Minangkabau. Tari Galombang dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan rasa hormat kepada tamu. Setelah Tari Galombang, acara biasanya dilanjutkan dengan suguhan Daun Sirih dalam Carano kepada Sang tamu.

Jika ditelusuri, maka Tari Pasambahan semula diciptakan oleh Syofyani pada tahun 1962, yang ditampilkan untuk penyambutan Raja Belgia (Belanda) di Bukittinggi. Sebagaimana halnya di daerah lain, untuk menyambut para tamu yang datang ke daerah tersebut, disambut dengan suatu upacara adat yang dibuka dengan tarian penyambutan tamu. Itulah kiranya tari Pasambahan  semula berkembang sebagai tarian untuk kegiatan penyambutan tamu.

Tari Pasambahan, yang kini terkadang juga disebut tari Galombang kreasi, menjadi salah satu tarian tradisional yang sangat populer di Sumatera Barat, khususnya di kota-kota. Tari ini sering ditampilkan pada acara-acara seremonial pembukaan acara resmi pemerintah dan acara resmi lainnya. Tarian tari Galombang kreasi atau tari Pasambahan telah dibuat lebih sederhana dari tari galombang yang asli. Durasinya pun cenderung lebih pendek. Galombang kreasi kini berkembang pesat, bagaikan menjamur di musim hujan, meliputi persebaran dan frekuensi pementasan, fungsi dan bentuk penyajiannya. Hampir semua wilayah perkotaan di Sumatera Barat kini mengenal tari Galombang kreasi ini.

Masyarakat di setiap wilayah bahkan seolah-olah berlomba-lomba menampilkannya. Hampir tidak ada resepsi besar yang berlalu tanpa kehadiran Galombang kreasi. Fungsinya pun turut berkembang beriringan dengan aspek-aspek yang lain. Kehadirannya selalu digunakan untuk penyambutan tamu, terutama dalam kemeriahan resepsi pernikahan. Tidak hanya untuk menyambut tamu dan memeriahkan resepsi pernikahan, tari ini juga disajikan untuk kepentingan pariwisata, menandai peresmian suatu bangunan, atau sebagai penanda pembukaan instansi tertentu. Bagi acara tertentu di kalangan pejabat pemerintah tari galombang selalu digunakan untuk menyambut camat hingga Presiden,

Berbeda dengan tari Galombang, koreografi tari Pasambahan sudah tertata secara profesional, sehingga dapat memberikan sajian estetis kepada tamu dan merupakan kebanggaan pula bagi yang punya acara jika dapat menjemput tari galombang untuk disajikan kepada tamunya. Semakin bervariasi koreografi tari galombang yang ditarikan dalam sebuah pesta, semakin tinggi pula kebanggaan atau “gengsi” seseorang atau semakin tinggi nilai penghormatan kepada tetamu. Ada pula yang berpendapat, kedua tari ini dapat dibedakan. Tari Galombang disajikan di luar ruangan, sedang tari Pasambahan untuk dalam ruangan. Wallahualam.

Menonton Pentas Teater Menunggu Godot Dengan Kacamata Estetika Kant

Sabtu, 30 Juli 2016 | teraSeni ~


Salah satu produksi Waiting For Godot - teraSeni
Salah satu produksi Waiting For Godot
(Menunggu Godot) Naskah Lakon
karya Samuel Beckett
(Sumber Foto:www.meanderite.com)

Dilihat dari sejarahnya, seni pertunjukan sudah hidup selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Banyak jenis seni pertunjukan yang telah diselenggarakan, dipatenkan, dikembangkan dan menjadi suatu konvensi. Seni pertunjukan, dalam kancah kebudayaan dan kesenian, secara praksis tentunya memiliki banyak fungsi dan makna. Demikian pula, di baliknya terdapat pesan yang ingin disampaikan oleh sang pengkarya.

Banyak bentuk kesenian selain seni pertunjukan, seperti seni rupa, desain komunikasi visual, film, dan lain-lain. Ada pula hal dipandang bukan seni namun mengandung unsur seni. Namun di dalam setiap karya seni terkandung nilai-nilai yang inheren, yang lazimnya dinamakan nilai estetika.

Kali ini kita akan melihat seni dan nilai estetika dalam suatu seni pertunjukan, lebih khususnya dalam seni teater. Secara ajeg, seni pertunjukan banyak membahas kehidupan, seperti agama, sosial, budaya, dan lainnya. Hal ini tentunya tergantung pada budaya dan semangat zaman yang sedang beringsut berkembang. Isu dan wacana menjadi senjata pamungkas sebagai pengaruh paling penting, khususnya dalam seni pertunjukan, meski hal ini juga terjadi pada seni-seni lainnya.

Seni pertunjukan tidak jarang ditujukan untuk mengajukan suatu argumentasi, yakni dari sang pengkarya, apakah itu sutradara, komposer, koreografer, atau perupa. Hal itu bahkan terlihat begitu kuat dalam kancah kajian kesenian, apakah itu menyangkut aspek filosofis, teologis, budaya, apalagi estetika.

Estetika yang akan kita lihat dalam seni pertunjukan kali ini adalah estetika dalam kaca mata Imannuel Kant, seorang tokoh filosof besar pada abad ke-18-19 (1724-1804). Kant bahkan menjadi salah satu pemikir yang paling berpengaruh bahkan hingga di era modern. Pengaruh pemikirannya terhadap kritik atas akal budi dan rasio murni, khususnya kritiknya atas estetika, menggoda saya untuk mencoba meimplementasikannya ke dalam pembacaan atas pertunjukan seni teater.

Immanuel Kant - teraSeni
Immanuel Kant (1724-1804),
Seorang Filsuf berkebangsaan Jerman
(Sumber Foto:www.philosophers.co.uk)

Ada empat hal yang harus kita perhatikan dalam memandang estetika menurut Kant, yaitu: (1) bersifat universal; (2) tanpa pamrih; (3) tujuan tanpa tujuan; dan (4) keharusan (mutlak). Dari keempat butir pandangan estetika Imannuel Kant itu, saya mencoba membaca seni pertunjukan teater dengan lebih luas dan seksama, guna membantu merumuskan bagaimana pandangan kita terhadap seni teater, dalam kaitannya dengan unsur-unsur estetika.

Seni teater sejak awalnya memang bergerak bersama dan tak dapat dilepaskan dari suatu pandangan yang terkait dengan kepercayaan, keyakinan dan kebudayaan tertentu. Hingga pada akhirnya, dunia dan zaman yang terus bergerak mengubah banyak hal, bahkan permukaan ilmu pengetahuan. Seni teater, terus bergelut dengan dunia sastra, sosial, budaya, filsafat, teologis, dan berbagai hal lain di sekitarnya.

Sikap multidisipliner ilmu ini menyuguhkan nilai atau butir utama pandangan manusia terhadap seni teater, yaitu terutama pada sifatnya yang menguniversal. Sifat yang menguniversal inilah yang menambah nuansa dan citarasa yang lebih estetik ketika dipertunjukan. Salah satu contoh, ialah apa yang dapat dilihat pada pertunjukan seni teater, yang berangkat dari naskah lakon Menunggu Godot (Waiting For Godot).

Naskah yang ditulis oleh Samuel Beckett, yang berkebangsaan Irlandia ini, menawarkan suatu posisi, situasi dan kondisi manusia pada masa-masa pra dan pasca Perang Dunia pertama dan kedua, atau yang lebih dikenal dengan PD I dan PD II. Naskah Menunggu Godot kemudian mampu menyedot seluruh perhatian dunia. Ilustrasi utama naskah Menunggu Godot ini ialah tentang tokoh Vladimir dan Estragon menunggu Tuan Godot, yang tak kunjung datang. Anehnya, mereka sendiri tidak mengetahui, siapakah sebenarnya Tuan Godot, apa tujuannya, apa maunya.

Meski begitu, mereka berdua tetap bertahan menunggu Godot, dan senantiasa selalu menunggu. Selama menunggu, mereka berdua terus bermain, mempermainkan dan menipu diri mereka seolah-olah hidup dengan penantian yang panjang itu sangat berarti, meski yang pada akhir dan awal kisah, mereka mengucapkan dialog yang sama: “Tidak ada yang berguna’ (Nothing To Be Done)

 Hal yang terjadi pada Vladimir dan Estragon seperti gambaran manusia pada umumnya, yang setelah kian lama hidup dalam penantian, dengan perang, konflik sedemikian rupa, dan seperti tengah menanti dan menunggu. Entah apa yang manusia tunggu, apakah ‘Tuhan’, atau ‘Kematian’?

Pemikiran yang serupa Vladimir dan Estragon pun pasti akan terpikirkan dan terpintas oleh setiap manusia, dengan bertanya: apakah tujuanku hidup, siapakah diriku, dan siapakah Tuhan yang sesungguhnya, atau apakah aku hanya menunggu kematian? Pertanyaan itu semua berkemungkinan pernah terlontar dan terpikirkan oleh setiap manusia, meski ada beberapa yang mencoba menegasikannya dan ada pula yang mencoba mengkajinya lebih dalam, entah itu melalui filsafat eksistensi, atau teologi.

Gambaran yang disebut oleh Kant sebagai ‘bersifat menguniversal,’ dari gambaran naskah lakon Menunggu Godot, melalui perwakilan tokoh Vladimir dan Estragon, dengan demikian, memiliki artian dan makna yang sangat berarti bagi setiap manusia dalam dunia ini. Tentunya untuk dapat kita renungkan dengan saksama, baik itu yang bersifat eksistensi kedirian, eksistensi dunia dan tuhan, atau pandangan filosofis kita masing-masing.

Pengalaman empirik yang secara tidak frontal ditujukan kepada seluruh manusia, ditransformasi ke dalam naskah lakon Menunggu Godot oleh Samuel Beckett. Tentunya, hal itu dapat menggangu benak dan pikiran kita, bahkan dapat mengubah banyak hal, ketika kita membaca atau menonton pertunjukan teater dengan naskah lakon Menunggu Godot karya Samuel Beckett ini. Di sinilah letak nilai estetika dari pertunjukan seni teater, khususnya berdasarkan pemikiran Imannuel Kant menurut pengamatan dan perenungan saya.

Selanjutnya, berdasarkan butir kedua estetika dari Kant, kita dapat mencoba melihat nilai estetika yang tanpa pamrih. Kembali kepada contoh pertunjukan teater (drama) Menunggu Godot karya Samuel Beckett. Kita ambil secara acak saja, entah siapa yang menyutradarai, atau memerankan, atau yang membuat tafsir dan kertas kerja dramaturgialnya.

Secara eksplisit, lakon Menunggu Godot, berbicara perihal absurditas yang sama, yakni sisi absurd dari kehidupan manusia. Ketika pertunjukan ini berlangsung, tentunya tidak sedikit penonton yang mengapresiasi atas pertunjukan Menunggu Godot. Secara general, mereka semua (audience), ingin mendapat nilai apresiasi baru dengan menonton pertunjukan.

Inilah yang menurut saya dimaksud dengan kriteria ‘tanpa pamrih’ dalam estetika Kant ini, yakni nilai inheren dalam karya seni pertunjukan, yang harus tidak dan tanpa tujuan sama sekali, kecuali memberi ruang penyadaran terhadap penonton, atau pemurnian diri (katarsis). Penyelenggaraan dari pertunjukan Menunggu Godot, merupakan sebuah tujuan yang murni tanpa adanya embel-embel kepamrihan.

Pementasan teater harus  memiliki kemurnian, tanpa terkait dengan eksploitasi kepada manusia atau masyarakat. Karena ketika suatu karya seni diciptakan, katakanlah seni pertunjukan, maka suatu karya itu tidak memiliki nilai estetika dalam karyanya, yang ada hanya sebatas guna, yakni guna ekonomi, guna eksistensi, guna makna paradoks.

Saya percaya, bahwa ketika Samuel Beckett membuat naskah Menunggu Godot, yang dikerjakannya lebih kurang selama dua tahun ini, ia melihat berbagai peristiwa tragis di sekitarnya, yang bahkan karena terlalu tragisnya, kemudian  malah muncul suatu ironi dan komik (komedi) dalam Menunggu Godot. Hal ini tentu saja sesuai dengan argumennya mengenai peristiwa yang ia tuangkan ke dalam naskah Menunggu Godot, yaitu, ‘lelucon adalah sumber penderitaan,’ (bukannya malah kebahagiaan) sebagaimana juga disinggung oleh Bakdi Soemanto dalam bukunya Menunggu Godot: Sebagai Studi Banding, Di Amerika Dan Indonesia.

Kiranya cukup jelas, bahwa sebagai sebuah lakon maupun pertunjukan teater, Menunggu Godot merupakan suatu karya seni yang memiliki nilai estetika sebagaimana yang diformulasikan dan dirumuskan oleh Kant, yakni estetika yang tanpa pamrih. Tentunya, kita boleh meyakini, bahwa masih banyak kesenian di luar sana, selain Menunggu Godot, yang sesuai dan sepadan dengan apa yang dipikirkan oleh Imannuel Kant sebagai kriteria ‘tanpa pamrih’ ini.

Butir ketiga dari pembahasan estetika Kant dia formulasikan sebagai ‘tujuan tanpa tujuan.’ Kesenian, sering diibaratkan dengan beribadah, di mana nilai murni untuk mencipta, berkarya, itu bukan merupakan suatu tujuan yang krusial untuk badani atau dunia saja, tetapi lebih dari pandangan keduniaan (imanen). Sama halnya dengan Kant ketika merumuskan pandangannya terhadap estetika dalam karya seni sebagai beribadah.

Setiap manusia memiliki suatu kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan, agama, atau jiwanya. Atas dasar itu, setiap umat manusia dengan akal budi murninya akan beribadah kepada yang kuasa, tanpa mengharapkan sesuatu hal. Hal inilah ditransformasikan oleh Kant ke dalam pandangannya terhadap estetika.

Kunci ini pulalah kiranya yang akan membawa kita untuk memandang bagaimana pertunjukan seni teater, misalnya kembali ke contoh pertunjukan Menunggu Godot. Misalkan, kita ambil ketika saya menyaksikan, pertunjukan seni teater dengan naskah lakon Menunggu Godot, anggap saja yang disutradarai oleh Afrizal Harun (salah satu dosen ISI Padangpanjang), yang menyutradarai pemeran Rico Melta Pratama dan kawan-kawan, dalam rangka tugas akhir minat pemeranan (Rico Melta Pratama).

Ketika pertunjukan ini berlangsung, saya duduk di bangku penonton, gedung Teater Arena Mursal Esten, ISI Padangpanjang. Saya akan menatap fokus ke depan, memerhatikan bagaimana pertunjukan berlangsung, mulai mengamati dari bentuk penggarapan, tematik, artistik yang dibangun, hingga ke permainan para aktor di atas panggung.

Ketika saya menyaksikan dengan seksama, dari skenario yang telah dibangun secara artifisial, saya mendapati suatu titik sentuh dengan kisah pertunjukan, titik yang begitu dalam bagi saya sendiri. Nilai murni, yang ditawarkan ke dalam pertunjukan dengan naskah lakon Menunggu Godot, memang seperti sudah ada keindahaan atau estetika yang inheren dalam dirinya (objek tunggal) dan seperti tidak memerlukan suatu elemen lain untuk menambah kualitas pertunjukan guna mencapai nilai estetis.

Estetika yang sudah terdapat dalam objek (inheren) ini, maksudnya, ialah adanya suatu kualitas dari penampakan dan realitas panngung ketika dilihat oleh pandangan manusia (audiens). Karena itulah, bisa dikatakan bahwa pertunjukan seni teater, yang salah satu studi kasusnya adalah naskah lakon Menunggu Godot, memanglah seni yang murni tanpa suatu penimbangan, apakah ini dapat dikatakan seni atau hanya sejenis kegiatan artifisial manusia, atau hanya sebatas buah tangan manusia.

Nilai Kemurnian (tanpa pamrih), yang tujuan tanpa tujuan dan sifatnya meng-univesal telah terbukti adanya bagaimana pertunjukan seni teater adalah merupakan suatu seni yang ideal bagi Kant, sementara itu, ada satu point dan nilai lagi yang harus diuji dalam pertunjukan seni teater dan sekali lagi, study kasusnya melalui pertunjukan dan naskah lakon Menunggu Godot, karya Samuel Beckett. Point terakhir adalah keharusan atau mutlak dan dengan mencoba melihat seni teater ideal bagi Kant dalam pandangannya dan rumusannya tentang estetika.

  Saya memandang ini dengan keharusan, bahwa terhadap objek yang saya yakini ada suatu nilai estetis di dalamnya. Saya akan mencoba mencari alegori lain selain pertunjukan dan saya mencoba menkoherensikannya dengan pertunjukan seni teater. Ketika saya melihat suatu pemandangan, entah itu gunung, danau, perubahan iklim, benda seni, atau segala isi alam kosmik ini, saya tidak perlu memerhatikan secara panjang dan jlimet, untuk menyatakan bahwa di situ ada nilai estetisnya. Melainkan, saya mengharuskan sublim antara jiwa saya dengan apa yang saya pandang, amati, lihat, apapun itu bentuknya.

Keharusan benda (objek) yang sudah ada pada dirinya, suatu penampakan yang realitasnya ada atau tidak ada dalam benak pemikiran saya, yang mampu membuat saya sublim. Dengan kata lain, penyatuan (transformasi emosi) antara jiwa diri saya dan objek fenomena atau nomena, itulah yang disebut keharusan (mutlak) estetis dalam objek.

Dari gambaran atau alegori di atas, kita bisa pula mencoba menariknya ke dalam pertunjukan seni teater. Sama halnya dengan deskripsi singkat mengenai objek yang memiliki nilai estetis yang terdapat di dalamnya, pertunjukan seni teater, misalnya yangberangkat dari naskah lakon Menunggu Godot juga demikian.

Pada saat saya menyaksikan pertunjukan Menunggu Godot, saya langsung merasa sublim dan juga terkatarsiskan oleh berbagai nilai estetis yang ada pada naskah itu. Nilai-nilai terdapat pada berbagai aspek, mulai dari konflik yang ditawarkan, nilai moral, problematisasi yang dibawa dari setiap tokoh, maupun basis makna kontekstualnya terhadap perang dunia.

Dengan demikian, melalui cara menonton Menunggu Godot dengan kacamata Estetika Immanuel Kant ini, saya cenderung memandang seni teater, adalah suatu seni yang ideal dan layak untuk disaksikan oleh manusia (audiens). Spekulasi ini, juga merupakan pembuktian yang berdasarkan perumusan dan formulasi yang telah menjadi pemikiran Kant, sebagai seorang filosof, dan pengkritik akal budi dan rasio, bahwa untuk memandang estetika kita harus berdasarkan akal budi dan rasio, baik itu antara subjek dengan objek, atau manusia dengan benda yang diamati, dalam realitas dan tampakan.

Teater Anak Apa Sih Perlunya? Ini Lima Alasan di Antaranya

Rabu, 27 Juli 2016 | teraSeni ~


Pertunjukan Teater Kekwa! Alami Mimpimu - teraSeni
Pertunjukan Teater “Kekwa! Alami
Mimpimu,”
Produksi Piamare Creative Company, Yogyakarta
Dipentaskan 27-29 Desember 2015
(sumber foto: www.nationalgeographic.co.id)

Banyak orang di negara maju senang bekerja dengan anak-anak, dan hal itu mendorong mereka untuk, salah satunya, menerjuni bidang seni teater anak sebagai pekerjaan. Banyak di antaranya yang berpendapat bahwa kegiatan berlatih dan bermain teater bersama anak justru mengajarkan mereka begitu banyak hal, yang tidak mereka peroleh dalam pergaulan mereka dengan orang dewasa.

Cathlyn Melvin, seorang sarjana Seni Teater di Amerika Serikat, mengakui bahwa dari semua kegiatan yang diikutinya sepanjang hidup, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, sekolah menengah, hingga lulus kuliah, ia memperoleh banyak pelajaran yang kemudian menjadi bahan untuk membangun jati diri dan dunianya. Tapi ketika ia menatap kembali seluruh kesibukan itu, ia menyadari bahwa dari semua yang ia ikuti, seni teaterlah yang paling memberinya pelajaran penting tentang siapa dirinya, dan sosok seperti apa yang ia inginkan untuk dicapai.

Tapi mengapa anak-anak sebaiknya berlatih dan bermain seni teater? Cathlyn Melvin, yang meraih gelar sarjana (BA) dalam bidang Seni Teater dari University of Wisconsin, AS, dan kini mengajar teater untuk siswa-siswa sekolah menengah atas kemudian mengatakan bahwa setidaknya ada lima alasan, mengapa anak-anak sebaiknya belajar teater, yakni:

Pertama, Teater memberi kesempatan untuk “berjalan dengan sepatu orang lain”
Selama bermain dan berlatih teater, anak-anak seperti berjalan berpuluh-puluh kilometer dengan sepatu orang lain. Artinya, ketika seorang anak berusaha membaca dan memahami karakter yang akan ia perankan, ia akan didorong untuk memikirkan tentang orang atau karakter itu. Mengapa orang itu berfikir dan bertindak demikian, atau membuat pilihan-pilihan tertentu? Apa yang berusaha dia dapatkan dari orang lain yang dia ajak bicara? Bagaimana cara ia bicara? Dengan sikap tubuh seperti apa dia bicara?

Intinya, sang anak belajar memahami orang lain, yakni tokoh yang diperankannya, serta tokoh-tokoh lain yang berinteraksi dengan tokoh yang diperankannya itu. Selain belajar tentang komunikasi, pelatihan teater serupa itu mengajarkan pula tentang empati. Sementara, banyak di antara kita sudah cukup maklum bahwa kemampuan komunikasi serta empati adalah salah dua keterampilan kepribadian utama yang diperlukan untuk menjadi pemimpin, di mana pun kelak sang anak bekerja, apakah menjadi pimpinan sebuah perusahaan, atau sebuah kantor pemerintahan, bahkan di keluarganya sendiri.

Empati dan komunikasi yang diajarkan melalui pelatihan teater bahkan juga akan berperan penting manakala di kemudian hari sang anak menjadi dokter atau guru, atau penyuluh pertanian. Melalui empati dan cara berkomunikasi yang baiklah, ia bisa mengerti penderitaan pasiennya, persoalan yang dimiliki muridnya, serta masalah-masalah yang dihadapi oleh para petani yang dibinanya.

Banyak yang mengatakan bahwa persoalan dunia hari ini adalah mengeringnya rasa empati dalam masyarakat. Orang tidak terbiasa lagi untuk meletakkan dirinya pada posisi orang lain, untuk dapat memahami keadaan dan kesusahan orang lain. Pelatihan seni teater akan mengajarkan anak-anak untuk saling mengerti satu sama lain di dalam grup latihan. Tapi seni teater mengajak anak-anak tanpa memaksa untuk berempati. Teater bersifat mencetuskan, mendorong, dan menginspirasi. Praktek latihan berkomunikasi dan berempati serupa ini tentunya akan menjadi dasar yang kuat bagi berkembangnya rasa persaudaraan dan kemanusiaan mereka.

Kedua, Teater tidak mendiktekan apa yang harus dirasakan
Seni teater berdasar dari dan berorientasi pada pengalaman pribadi. Memainkan peran, merancang set untuk berpentas, melihat latihan orang lain, memahami cara kerja suatu pementasan, akan memberi anak-anak perspektif, suatu sudut pandang bagi diri mereka sendiri. Namun apa yang dilihat oleh anak yang satu dari suatu peristiwa pentas, belum tentu sama dengan anak yang lain. Demikian pula perasaan dan dorongan yang diperoleh dari pementasan, tidak selalu sama.

Namun justru di untuk itulah seni teater dimaksudkan untuk anak-anak, yakni membuka ruang untuk semua peserta latihan untuk mengeksplorasi emosi dan pandangan mereka sendiri. Melibatkan anak-anak dalam seni teater membuat mereka belajar untuk bebas berpikir, bebas untuk merasa, dan bebas untuk menjelajahi siapa diri mereka sendiri, serta bebas untuk membayangkan ingin menjadi seperti apa mereka kelak.

Ketiga, Seni teater adalah media yang sangat bagus untuk memahami sastra dan sejarah
Ketika seorang anak belajar dalam suatu kelas seni teater, ia akan berkenalan dengan sebuah cerita, dengan sebuah naskah drama. Dari situ ia akan memperoleh pengetahuan awal tentang sastra. Ia juga akan belajar tentang bagaimana sebuah drama disusun, dalam bentuk alur cerita, pertikaian, penokohan, latar kejadian serta pesan cerita.

Tidak mustahil, perkenalan dengan naskah drama itu akan membawanya mengenali berbagai jenis karya sastra yang lain, misalnya puisi, prosa, cerpen atau novel. Dia juga akan mengetahui apa yang membedakan sebuah naskah drama dengan jenis karya sastra yang lain. Mereka juga akan berkenalan dengan nama-nama penulis karya sastra.

Drama yang paling digemari anak-anak adalah yang bernuansa petualangan dan kisah-kisah perjuangan. Mereka bisa belajar tentang sejarah dari naskah-naskah serupa itu. Tapi bukan untuk menghapal tanggal dan tahun kejadian, melainkan memahami situasi dalam kisah sejarah. Ini kelebihan teater sebagai seni peristiwa, di masa sejarah bukan sekadar dibaca, tetapi bisa dialami. Singkatnya, seni teater adalah media dan cara yang sangat bagus untuk memperkenalkan anak-anak dengan tema-tema sastra dan sejarah.

Keempat, teater adalah obat penawar bagi jiwa, pikiran, dan perasaan
Sederhananya, teater adalah terapi. Sebuah penelitian yang mengungkapkan “10 Strategi Penyembuhan Stress pada Anak-Anak” menyebutkan enam di antara cara yang jitu untuk mengurangi stress pada anak adalah: (1) bernyanyi; (2) bermain; (3) berimajinasi; (4) berekspresi; (5) bekerja dalam tim; dan (6) membayangkan masa depan. Dan hebatnya, teater memberi ruang sekaligus memberi pemicu bagi keenam strategi itu.

Kelima, Teater memberikan ruang bagi ketidaksempurnaan
Melalui pelatihan teater, anak-anak mendapat kesempatan untuk menjadi hal-hal yang mustahil, menjadi sebesar raksasa, sekeras batu, atau sekonyol badut. Teater mengajarkan ruang yang tak terhingga dan tak terduga. Teater adalah dunia bercerita, bermain dan bersenang-senang. Melalui pelatihan teater, anak-anak didorong untuk mencoba hal-hal baru. Mereka diajarkan untuk tidak takut mencoba, tanpa takut salah. Mereka akan dibuat memahami bahwa dalam hidup mencoba dan gagal itu bernilai satu, mencoba dan berhasil itu nilainya dua, sementara tidak mencoba nilainya nol.

Teater mengajarkan anak-anak bahwa tidak ada jawaban yang benar dalam seni, yang berarti mereka dapat menjelajahi, menghubungkan ide-ide baru, dan belajar dari apa yang mereka rasakan. Semuanya dapat dicoba sementara keberhasilan dan kegagalan dalam percobaan itu tidak memiliki konsekuensi negatif. Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk melihat dunia kemungkinan yang tidak mereka peroleh dalam matematika atau sejarah.

Joe Breault, seorang Kepala Sekolah di sebuah sekolah di California, AS, mengatakan bahwa program seni teater membuat anak-anak menjadi lebih baik di pelajaran yang lain. Ya, teater membantu anak-anak menjadi seorang yang bersikap baik, berkarakter kuat, pemikir yang logis dan kritis, serta peka pada sesama dan lingkungannya.

Singkat cerita, melalui teater warga dunia yang lebih baik dapat dipersiapkan, dan bukankah itu tujuan utama pendidikan? Bukan mustahil, melalui teater anak, manusia bisa mengubah wajah dunia di masa depan. Karena melalui seni teater, anak-anak diajarkan untuk lebih berani, lebih kreatif dan lebih bertanggung jawab. Singkatnya, pelatihan seni teater akan meletakkan dasar yang kuat untuk berlatih berpikir kritis sekaligus berempati bagi anak-anak.

Lalu pertanyaannya, apakah sebaiknya anak-anak di Indonesia juga belajar sambil bermain melalui seni teater?