Pilih Laman

Dari Pentas Yusril: Mari Membersihkan Diri di Kamar Mandi Kita

Minggu, 2 Oktober 2016 | teraSeni~

Sirine berbunyi dari megaphone yang dipegang seorang laki-laki yang mondar mandir di area pementasan. Laki-laki tersebut bertanya pada penonton “Apakah sudah posting hari ini?” dan diakhiri dengan kalimat “Saya permisi dulu, mau ke kamar mandi”. Musik cadas kemudian menggema yang diikuti oleh seorang pemain yang hanya memakai handuk. Dia berdialog tentang kebersihan dan kesehatan. Sambil menggosok gigi, dia terus berdialog, sehingga terkesan hanya bunyi kumur-kumur saja.

  Teater Kamar Mandi Kita - teraSeni
Adegan Pembuka dalam
Pertunjukan Teater Kamar Mandi Kita,
sutradara Yusril
(Foto: Deni Cidaik)

Dari sini peristiwa demi peristiwa berhamburan di arena pentas. Itulah awal mula pementasan teater yang berjudul “Kamar Mandi Kita” karya/sutradara Yusril yang berdurasi sekitar satu jam lebih lima menit. Pementasan ini dilaksanakan di halaman depan kafe DW ISI Padangpanjang pada tanggal 21 September 2016 mulai pukul 20.30 WIB, dan di Taman Budaya Sumatera Padang, tanggal 23 September 2016 malam dalam rangka Padang Art Festival 2016.

Banyak hal yang ingin diutarakan oleh Yusril dalam karyanya ini. Bermula dengan keinginan untuk membersihkan diri secara fisik, bahwa manusia perlu mandi dan gosok gigi. Fisik bersih belum tentu menandakan mental bersih. Kata “cuci tangan” tidak lagi membersihkan tangan secara fisik, namun menjadi metafora bagi orang-orang yang lari dari tanggung jawab. “Dari pada tanggung basah, lebih baik mandi sekalian” (kalimat ini tidak ada dalam pementasan ini) merupakan tujuan bahwa jangan tanggung-tanggung dalam melakukan suatu.

Teks verbal memang sedikit dalam pementasan ini, namun pengertiannya bisa lebih luas. Bahasa mempunyai kemungkinan tak terbatas, yang menjadi substratum bagi teks-teks aktual. Kata-kata dapat pula dianggap sebagai suatu sarana yang membuat seluruh evaluasi historis bahasa dan aneka praktik penandaan. Seluruh kemungkinan yang dimiliki oleh bahasa di masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang. Teks bahasa tersebut kemudian tertimbun dan tenggelam di dalam tubuh aktor. Tubuh aktor adalah teks aktual yang bersumber dari kata-kata. Tubuh aktor meliputi seluruh fenomena dan ciri-ciri yang dimiliki oleh struktur bahasa, kaidah-kaidah genre, bentuk melismatik yang terkode, idiolek sutradara, dan gaya interpretasi. Singkatnya, segala sesuatu di dalam tubuh aktor yang berfungsi untuk komunikasi, representasi, dan ekspresi; segala sesuatu yang dapat diperbincangkan, yang membentuk jejalin nilai-nilai budaya, yang secara langsung berhubungan dengan alibi-alibi ideologis di suatu zaman.

Teater Kamar Mandi Kita - teraSeni
Salah seorang pemain  
Kamar Mandi Kita, Sutradara: Yusril
mengeksplorasi ember plastik
(Foto: Denny Cidaik)

Yusril, dengan ciri khasnya mencoba membongkar perilaku manusia dengan idiom-idiom yang bermakna tak terbatas. Semua properti adalah berbahan plastik yang menandakan bahwa dunia sekarang sudah dipenuhi kepura-puraan. Tidak ada lagi yang asli, semuanya hanya imitasi. Semua yang imitasi tersebut saling berhubungan yang diungkapkan melalui gerakan  tubuh/anggota tubuh atau melalui permainan anggota tubuh seperti gerakan tangan, kepala, ekspresi wajah dan sebagainya. Ember, kloset, dan alat komunikasi bisa menyatu dengan gerakan tubuh/anggota tubuh serta ekspresi wajah. Di dalamnya terkandung makna power dan solidarity yang mengimplikasikan kedekatan dan ketidakdekatan hubungan properti dengan tubuh aktor.

Kode (ruang) merupakan medium utama untuk menunjukkan ideologi. Untuk ini, arena pantas (outdoor) dengan segala properti menjadi ilustrasi yang dapat diamati secara leluasa. Hal ini bisa dilihat pada aktor yang menggunakan kloset sebagai properti. Penempatan kloset, minuman, makanan, alat komunikasi dan sebagainya menggambarkan makna yang bernuansa ideologis  power dan solidarity  dalam kaitannya dengan kebohongan-kebohongan yang dimiliki media publik. Orang yang duduk mencangkung di kloset memiliki otoritas sikap yang berlawanan dengan aktor—aktor lainnya. Masing-masingnya memiliki power dan solidarity yang sama atau berbeda yang tidak lagi perlu diungkapkan dengan kata-kata.

Karya ini juga mengungkap kehidupan suatu kelompok sosial yang memerlukan penanda kelompok. Kebutuhan akan air dan mandi merupakan kebutuhan kelompok masyarakat. Semua pemain (terutama perempuan) memakai pakaian mandi (handuk). Penanda tersebut akan menunjukkan identitas, kepaduan dan yang membedakan dari kelompok lain. Sistem tanda yang menjadi penanda itu membawa makna sosial yang begitu penting. Makna yang dikomunikasikan melalui sistem tanda itu  mengandung ideologi kelompok yang bersangkutan. Kebutuhan akan air dan kebutuhan akan kebersihan menjadi fenomena tertentu. Fenomena seperti itu lebih dikenal dengan istilah gaya (style).

Teater Kamar Mandi Kita - teraSeni
Salah satu adegan
dalam Kamar Mandi Kita, Sutradara: Yusril
(Foto: Denny Cidaik)

Kecenderungan Yusri memakai gerak koreografi pada saat-saat tertentu terasa kurang menggigit. Gerak tersebut terlalu indah untuk mengungkap makna pemberontakan terhadap kondisi sosial bangsa ini. Perbedaan status sosial dalam masyarakat dapat ditandai dari berbagai tataran bahasa verbal dan nonverbal sang aktor. Namun, perbedaan  yang cukup menonjol terletak pada sistem bunyi yang pada hakekatnya melahirkan aksen. Sebagai contoh, pada nada dering hp., menunjukkan perbedaan realitas antara masyarakat kelas atas dengan masyaraat kelas bawah. Masyarakat kelas atas nada dering tersebut menjadi indah, namun pada masyarakat kelas bawah menjadi mengganggu. Setiap kelompok yang berbeda dalam masyarakat memiliki gaya tersendiri. Apakah suatu kelompok berstatus tinggi, terbuka, tertutup, berstatus rendah, semuanya dapat diamati dari sistem tanda yang dimilikinya.

Pementasan teater “Kamar Mandi Kita” karya/sutradar Yusril ini juga bisa dilihat sebagai alat kontrol dapat diamati pada berbagai tindak komunikasi baik melalui media atau bentuk komunikasi lainnya. Seperti suara berita dari speaker pemusik yang saling berhimpitan atau bisa juga sebuah head-line surat kabar yang dibacakan, menjadi modal dalam bentuk pengontrolan yang berwujud kontradiksi, kritik, pendeskreditan, sindiran dan sebagainya. Pengontrolan dapat berasal dari tubuh aktor atau dari penonton. Kemudian, bila pengalaman personal berkonflik dengan kebenaran yang valid secara sosial, akibatnya mungkin tidak saja penggunaan pikiran secara paksa, tetapi sistem akan berantakan.

Teater Kamar Mandi Kita, Sutradara Yusril- teraSeni
Adegan toilet
dalam Kamar Mandi Kita, Sutradara: Yusril
(Foto: Denny Cidaik)

Pada akhirnya Yusril menggunakan bahasa tubuh dan ditambah dengan bahasa verbal yang ditransformasikan untuk melahirkan interpretasi yang beragam. Secara sederhana, Yusril membat peritiwa yang tidak luput dari proses transformasi mulai dari awal sampai ke teks yang sudah jadi (pementasan). Materi draft tidak muncul begitu saja. Materinya bisa bersumberkan dari teks lain, dicatat melalui footnote, rujukan dan lain sebagainya. Dengan demikian, teks yang sudah jadi itu sebenarnya sudah melalui transformasi yang bersifat material. Melalui transformasi, kita menerka, mengkonstruksi, sehingga muncul suatu produk baru. Proses transformasi yang bersifat materi ini juga terjadi pada tanda  dalam sebuah teks pementasan atau pesan dalam sebuah kode dalam tubuh aktor. Setiap tindak pembacaan kode selalu melibatkan proses transformasi.

Pada akhir pementasan ini Yusril seperti berharap bahwa manusia memerlukan air untuk membersihkan diri, minum, dan juga kebutuhan lainnya. Manusia tidak bisa bersikap individual saja namun juga sosial. Kemudian muncul lagi laki-laki yang gosok gigi dengan kalimat “bersih itu sehat, sehat itu bersih”.

(Dimuat Harian Padang Ekspres, Edisi Minggu, 25 September 2016)

Sasikirana Dance Camp 2016: Bukan Sekadar Wadah Kreativitas

Kamis, 29 September 2016 | teraSeni~


Beberapa waktu lalu, terhitung tanggal 1 sampai 9 Agustus 2016 telah diadakan sebuah program kegiatan bertajuk Sasikirana Dance Plus di Nuart Sculture Park, sebuah artspace milik Nyoman Nuarta yang terletak di Bandung. Kegiatan itu melanjutkan suksesnya kegiatan pementasan dan workshop serupa tepat satu tahun yang lalu, yang digagas oleh Keni Soeriaatmadja.

Melalui kegiatan yang mendapatkan dana hibah dari Djarum Foundation ini, dapat dilihat geliat komunitas seni pertunjukan di Indonesia pada hari ini.  Maksudnya, kegiatan itu dapat mewakili untuk melihat bagaimana para seniman seni pertunjukan membentuk karyanya dengan berbasis pada gagasan dan wacana tentang kehidupan sosial di sekitarnya. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertahankan, mengembangkan, serta menghidupkan kembali spirit penciptaan seni, yang tampaknya mulai hilang di kancah seni pertunjukan Indonesia, khususnya di kancah seni tari kontemporer.

Arco Renz dan Eko Supriyanto-teraSeni
Mentor dan kurator SKDC 2016
Arco Renz (Belgia) dan Eko
Supriyanto (Indonesia) sedang memberikan arahan(Foto: kakangandy)

Persoalan utama yang dihadapi oleh dunia kesenian saat ini adalah berkurangnya daya kritis dan kurangnya apresiasi para seniman muda terhadap perkembangan seni tari dunia, terutama dalam ranah tari kontemporer.  Di lain sisi, hal itu ditambah pula oleh minimnya kemauan para seniman muda untuk mencoba keluar dari zona nyamannya masing-masing.

Padahal, sangat berguna untuk mencoba berbagai hal baru dalam berkesenian dan dalam pencarian ilmu pengetahuan. Memang, perjalanan untuk sampai pada komitmen untuk terus aktif bergerak bukan perkara yang mudah. Hal itu membutuhkan proses yang panjang, suatu perjalanan dari satu titik ke titik lainnya. Sebab perjalanan itu menyangkut bukan hanya masalah kapan hasilnya akan muncul, tetapi bagaimana menghargai setiap titik dari perjalanan itu hingga akhirnya sampai ke titik yang dituju atau dicita-citakan.

Saat ini sebenarnya sudah banyak wadah untuk berkreativitas, tetapi para seniman muda belum memanfaatkannya secara optimal. Kebanyakan malah tidak tahu, dan hanya beberapa saja yang berusaha mencari tahu tentang keberadaan wadah-wadah tersebut. Itupun hanya sedikit seniman muda yang kemudian mampu memanfaatkan wadah-wadah itu dengan baik untuk memunculkan kreativitasnya sendiri. Entah karena mereka belum mampu keluar dari zona nyamannya, atau karena tidak mau tahu, atau karena berfikir bahwa hal itu akan merugikan mereka secara finansial.

Hal yang wajib diperhatikan ialah bahwa seniman-seniman yang sekarang ini terkenal rata-rata pernah melewati fase-fase yang sulit, bahkan ada yang pernah terpuruk, sebelum akhirnya menikmati kesuksesan seperti pada saat sekarang. Apalagi, berbicara mengenai gagasan karya seni haruslah disertai dengan tindak lanjut berupa perwujudan dari gagasan yang ingin dilaksanakan itu. Tentu saja itu juga bukan perkara yang mudah, tapi kenyataannya setiap seniman tetap harus melaluinya.

Sasikirana Dance Camp Plus (SKDC) yang lahir dari inisiatif Bengkel Tari Ayu Bulan (BTAB) terdiri dari KoreoLAB dan Dance Camp. SKDC menjadi wadah penampilan serta pembelajaran seni pertunjukan di Indonesia, yang memfasilitasi berbagai kegiatan laboratoris secara berkala bagi seni pertunjukan Indonesia. Karena itu wajar bila SKDC menjadi salah satu sasaran para seniman muda, yang ingin berjuang mengembangkan kreativitasnya. Mereka terutama mengharapkan sarana untuk berkreativitas serta berproses karya seni.

SKDC melakukan penyeleksian secara tertutup oleh para mentor dan kurator. Penyeleksian dilakukan untuk mendapatkan nama orang-orang yang kemudian dipilih untuk difasilitasi dalam berkreativitas. Namun bukan berarti bahwa mereka yang tidak lulus tidak lebih baik. Hanya saja mereka yang terpilih dianggap bisa memberikan kontribusi tertentu dan cocok untuk kegiatan ini.

Karenanya, para mentor serta kurator juga ditantang untuk membuktikan kepada mereka yang tidak terpilih bahwa ada kelebihan atau bahkan keunikan tersendiri yang dimiliki oleh para peserta yang lulus seleksi. Pemahaman tentang hal seperti ini harus dimiliki para seniman muda yang terlibat dalam SKDC, untuk juga digunakan dalam berdiskusi dan bertindak guna mewujudkan impian mereka di seni pertunjukan khususnya tari kontemporer.

Terdiri dari 25 Peserta Dance Camp, 6 Peserta KoreoLAB, 3 Mentor, serta 1 Kurator, perhelatan kegiatan ini telah turut memberikan warna tersendiri bagi dunia tari kontemporer. Kegiatan ini bukan hanya berskala Nasional tetapi bahkan Internasional, karena tidak hanya berbicara tentang dunia seni pertunjukan Indonesia, tetapi berbicara juga tentang negeri tetangga. Dalam kata lain, SKDC memberikan kontribusi yang sangat signifikan untuk membentuk jaringan kerjasama antar daerah bahkan antar negara, dengan menghubungkan seniman antar pulau di Indonesia dan bahkan Luar Negeri.

Secara tidak langsung, SKDC seperti ingin menyatakan bahwa seniman Indonesia mampu mengemban misi untuk mengembangkan seni pertunjukan tari kontemporer di Indonesia. Bahkan, SKDC seperti menyatakan bahwa seniman Indonesia dapat turut berkontribusi dalam kancah tari dunia.

Keluarga Sasikirana Dance Plus 2016-teraSeni
Keluarga Sasikirana Dance Plus 2016
berfoto bersama di Nuart Sculpture Park, Bandung
(Foto: kakangandy)

Para peserta seniman muda nasional yang kemudian terpilih dalam SKDC 2016 adalah Dewi Safrila Darmayanti (Pekanbaru), Ferry Cahyo Nugroho (Magetan), Andhika Annisa (Bali), Heidy Dwiyanti (Bekasi), Herdi Muhammad (Bandung), Sherli Novalinda (Padangpanjang), Syifa Nur Muslim (Bandung), Eka Wahyuni (Berau), Tutu Wisti Sabila (Klaten), Razan Mohammad (Jakarta), M. Dinu (Malang), Junaida (Medan), Satriya (Bekasi), Laila Putri (Serang), Fernandito (Maluku Utara), Greatsia Yunga (Maluku Utara), Veyndi Dangsa (Maluku Utara), Patricia (Malang), Josh (Jakarta), R. Angga (Bandung),  dan Rosalia (Yogyakarta), serta ditambah peserta Internasional yaitu Lim Pei Ern (Malaysia), Dinie Dasuki (Singapura), Sompong Leartvimolkasame (Thailand), dan Ari Rudenko (Amerika Serikat).

Enam  Peserta KoreoLAB yang terpilih adalah Muhammad Asri Bin Razali (Singapura), Yudi Tangker (Tanjung Pinang), Dekgeh (Bali), Tyoba Armey (Bandung), Siska Aprisia (Padangpanjang), dan Ridwan Aco (Makasar).  Adapun para mentor dan kurator dalam SKDC 2016 yaitu Hartati (Indonesia), Faturrahman Bin Said (Singapura), dan Arco Renz (Belgia), sementara yang bertindak sebagai kurator/observer adalah Eko Supriyanto (Indonesia).

Melalui dialog antara enam peserta KoreoLAB dengan Dance Camp untuk pemecahan masalah konsep/gagasan karya, muncul ke permukaan kesadaran bahwa sebuah berbagai masalah dalam proses penciptaan karya seni haruslah dipecahkan secara bersama dan harus melalui bekerjasama satu sama lain. Hal itu karena disini bukan hanya berbicara tentang karya para peserta KoreoLAB tapi SKDC mengungkapkan bahwa karya seni adalah punya kita bersama, bahkan punya masyarakat.

Untuk itu sikap terbuka harus dimiliki setiap peserta, yang juga harus dimiliki dalam proses berkarya secara umum. Kenapa demikian? Karena untuk pemecahan setiap persoalan diperlukan diskusi dan sumbang saran dari peserta lain. Umunya, pada saat berdiskusi itulah maka akan didapatkan pencerahan untuk memecahkan masalah, bahkan seringkali hal baru muncul untuk saling mengingatkan.

Sasikirana Dance Camp 2016-teraSeni
Suasana Diskusi dalam SKDC 2016
(Sumber Foto: kakangandy

Arco Renz menyampaikan suatu pandangan yang menarik. Menurutnya  seni tari di Indonesia terbentuk dalam lintasan kebudayaan plural dan saling berkaitan satu sama lain. Tantangan para seniman tari Indonesia adalah menciptakan karya dalam konsisi multi-polar ini, dan pada saat yang sama mesti mampu bersimpangan dalam dimensi ruang dan waktu yang dinamis. Mereka harus mensinergikan gaya tradisional dengan gaya pergerakan terkini, masa lampau dengan sekarang, lokal dengan global.

Program SKDC bersama mentor sertak secara umum memberikan pemahaman tentang pentingnya pemecahan gagasan untuk kemudian mentransfernya ke tubuh, sehingga tubuh dapat berfikir dan terbuka menerima keseluruhan gagasan tersebut. Melalui SKDC, diharapkan para seniman muda yang sudah cukup waktu berkecimpung di bidang seni pertunjukan mampu memberikan atau menyokong para seniman muda lainnya dalam proses berkarya. SKDC diharapkan dapat terus menjadi ruang diskusi yang terbuka, dan bukannya menjadi bentuk tekanan tertentu.

Harapannya, karya-karya pertunjukan yang diinisiasi melalui kegiatan ini dapat dikembangkan lebih lanjut oleh para peserta koreoLAB, yang dipandang potensial di daerahnya masing-masing, sambil terus mendapatkan pendampingan berkelanjutan dari para mentor dan kurator. Dengan mempersiapkan langkah-langkah strategis, SKDC bercita-cita untuk dapat membantu produksi dari karya-karya yang diinisiasi tersebut, sehingga bisa ditampilkan di panggung yang lebih luas cakupannya. Meski ke depan perjalanan yang harus dihadapi akan lebih luas cakupannya, setidaknya kegiatan ini telah memberikan harapan kepada generasi seniman muda yang produktif untuk menyumbangkan suaranya, daya kreatifitasnya bagi keberagaman budaya dunia.

Tari Meniti Jejak Tubuh karya Sherli Novalinda: Ketika Tubuh Bernarasi

Rabu, 28 September 2016 | teraSeni~


Dalam bentuk siluet, terlihat sesosok tubuh laki-laki  berjalan pelan menuju sudut kanan panggung. Bias lampu dari arah sudut, memperlihatkan tubuh laki-laki tadi yang tampak berotot dan ramping. Beberapa saat ia melakukan gerakan pemanasan sambil melepas jaket dan baju kaos yang semula dikenakan, menyisakan tubuh setengah telanjang memakai celana panjang hitam berpotongan longgar. laki-laki itu kemudian berjalan ke arah tengah panggung dan berhenti persis di tengah sebuah formasi lingkaran tiga lapis. Sorot lampu berwarna kemerahan dari atas panggung memperlihatkan lingkaran dengan tiga gradasi warna yang berbeda: merah, hitam, dan kuning berpadu dengan tubuh tunggal penari yang menjadi fokus perhatian.

Di tengah lingkaran, laki-laki tadi bertansformasi menjadi sosok yang feminim dengan liukan tangan dan tubuh yang bergerak lembut dan pelan, namun di saat lain tubuh itu berubah maskulin, bergerak dengan tajam dan menusuk. Suasana ritual  mulai terasa ketika laki-laki itu menggeliat di tengah lingkaran simbolik. Ia larut dalam gerakan meditatif yang terasa khusuk namun tiba-tiba berubah keras. Tubuh  tunggal itu seperti membelah menjadi dua karakter berbeda yang saling bertukar peran. Sambil terus mengayun ritmis diiringi suara-suara yang terdengar menyayat, tubuh itu menebar aura magis dengan cara yang tidak biasa.

Penggalan di atas diambil dari pertunjukan tari Meniti Jejak Tubuh, karya Sherli Novalinda yang ditampilkan pada gelaran World Dance Day (WDD) ke-10 (28-29/4/2016) lalu, di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang mengangkat tema, “Menyemai Rasa, Semesta Raga.” Perhelatan tari terbesar di Indonesia yang digelar setiap tahun tersebut, menjadi ajang tampilnya ratusan koreografer dengan karya-karya yang sangat variatif. Meniti Jejak Tubuh karya Sherli yang juga seorang dosen di ISI Padangpanjang, meninggalkan imaji yang kuat mengenai tubuh penari tunggal (Kurniadi Ilham) dan kesederhanaan artistik panggung yang ikonik. Meniti Jejak Tubuh digarap secara minimalis tanpa menggunakan banyak unsur dekoratif.  Pilihan yang berhasil menciptakan tontonan yang berpusat pada tubuh.

Tari Meniti Jejak Tubuh-teraSeni
Salah Satu Adegan dalam
Tari berjudul Meniti Jejak Tubuh,
karya Sherli Novalinda 

Ritus Tubuh
Seperti tahapan ritual, koreografi Meniti Jejak Tubuh terdiri dari tiga bagian: awal, tengah, dan akhir. Bagian awal dimulai saat penari membawa tubuh sehari-harinya ke atas panggung; masuknya penari ke dalam lingkaran simbolik, menandai transformasi tubuh menjadi tubuh ritual; dan pertunjukan ditutup dengan kembalinya penari ke tubuh sehari-hari. Lingkaran simbolik merupakan batas ambang yang memisahkan penari dari tubuh keseharian, ia masuk ke tahap ritual yang mengubah tubuhnya menjadi tubuh yang lain, tubuh pertunjukan (performing body) yang bertutur mengenai sejarah ketubuhannya.  

Sebagaimana diungkap oleh koreografer, Meniti Jejak Tubuh bicara tentang bagaimana mengejawantahkan spirit memori tubuh dan gerak tradisi ke tubuh kontemporer. Sebuah refleksi dari perjalanan koreografer dalam Meniti Jejak Tubuh-nya yang ditansformasikan kepada tubuh yang lain dengan latar budaya dan jender yang juga berbeda. Sebuah eksperimentasi yang menarik sekaligus  menantang. Menarik karena narasi tersebut menceritakan pengalaman koreografer yang mewarisi tradisi tari dan budaya masyarakat Kerinci tetapi kemudian hidup di tengah masyarakat Minangkabau.

Pengalaman bolak-balik di antara budaya Kerinci dan Minangkabau, bagaimanapun telah membentuk sejarah ketubuhan yang tidak lurus tetapi dinamis dan melingkar. Sebuah perpaduan yang dengan apik disimbolkan lewat formasi lingkaran sebagai penanda yang terdiri dari warna-warna adat dari kedua tradisi. Simbol yang kemudian menuntun tubuh penari bergerak bolak-balik di antara keduanya, antara tubuh melayu Kerinci yang mengayun dan tubuh Minang yang atraktif dengan pencak silatnya. Pilihan terhadap Kurniadi Ilham sebagai penari menjadi eksperimentasi yang menarik. Ilham adalah penari handal yang berasal dari Minangkabau namun memiliki kepekaan menarikan tradisi di luar tradisi pencak silat yang ia warisi.

Di lain pihak, eksperimentasi yang dilakukan koreografer dengan meminjam tubuh orang lain dengan latar belakang tradisi dan gender yang berbeda, tentu bukan perkara yang mudah. Baik koreografer maupun penari, dihadapkan kepada tantangan yang berbeda. Koreografer mestilah piawai dalam mentranformasikan memori tubuhnya ke tubuh penari yang berasal dari tradisi yang berbeda dan jender yang juga berbeda. Dalam konteks ini, penari dituntut memiliki kecerdasan dan kepekaan dalam menyerap tradisi yang berbeda dari apa yang ia alami. Dalam hal ini, eksperimen tersebut terbilang berhasil karena Ilham sebagai performer dapat menuturkan sejarah tersebut dengan baik dan mengesankan. Ia mampu bertransformasi dan menciptakan sebuah tubuh baru, tubuh in-between.

Tari berjudul Meniti Jejak Tubuh-teraSeni
Salah Satu Adegan dalam 
Tari berjudul Meniti Jejak Tubuh, 
 karya Sherli Novalinda 

Narasi 
Ada pergeseran dalam wacana tari kotemporer yang berkembang saat ini. Di awal perkembangannya, tubuh lebih difungsikan sebagai media untuk menceritakan narasi di luar dari pengalaman tubuh itu sendiri. Tari dimaknai sebagai sebuah teks dramatik, yang menjadikan tubuh sebagai media untuk menuturkan sebuah cerita. Tubuh seolah tidak memiliki kisahnya sendiri. Pendekatan fenomenologi kemudian menawarkan sebuah sudut pandang yang berbeda dalam memandang tubuh. Tubuh dipandang sebagai sebagai sesuatu yang hidup (living body), yang tidak saja mengalami tetapi juga mampu mengingat sejarahnya sendiri. Oleh sebab itu tubuh juga dapat bernarasi. Dalam konteks inilah, karya tari Meniti Jejak Tubuh memiliki arti penting dalam penghargaan terhadap tubuh dan kesejarahannya. Namun sebagai sebuah garapan kontemporer, Meniti Jejak Tubuh oleh Sherli Novalinda menawarkan banyak kemungkinan  interpretasi yang menarik untuk diperdebatkan.

Eksistensi, Kreatifitas, dan Masalah Pantomime Di Sumatra Barat

Selasa, 27 September 2016 | teraSeni~

Bicara pantomime kita bicara gerak, ekspresi, cerita dan pesan. Secara umum pantomime itu termasuk bidang seni teater, dimana seni pantomime juga bisa dihadirkan ke atas panggung layaknya sebuah pertunjukan teater yang utuh, dengan menggunakan lighting, sound system dengan menghadirkan penonton di ruang pertunjukan. Tapi pantomime itu sendiri lebih dominan menggunakan ‘bahasa’ melalui tubuh dan ekspresi untuk menyampaikan pesan melalui cerita atau peristiwa yang ditampilkan.

Penyampaian pesan melalui cerita atau peristiwa dalam pantomime, ditandai dengan tanpa mengeluarkan kata-kata verbal. Meski demikian, pertunjukan pantomime biasanya dibantu dengan ilustrasi musik. Menurut sejarahnya, seni pantomime ini sudah mulai ada sejak zaman Romawi kuno, yakni sebagai bagian dari acara ritual keagamaan. Pantomime semakin berkembang pada abad ke 16 terutama di Italia, yang ketika itu mencoba menawarkan pertunjukan yang berupa komedi, yang dikenal dengan nama commedia del’arte. (Yudiaryani, 2009)

pantomime di sumatera barat-teraSeni
Salah satu penampilan Buluketekmime,
 sebuah  grup pantomime di Sumatera Barat

Di Indonesia, perkembangan seni pantomime pertama kali dimulai ketika kesenian ini mulai dibawakan oleh seniman-seniman lokal, terutama para seniman tari dan teater. Ada beberapa tarian yang dikatakan mirip dengan pantomime, sementara terdapat pula para aktor teater yang menjadikan pantomime sebagai bentuk latihan keaktoran. Nama-nama yang hari ini akrab kita dengar sebagai para pelopor pantomime di Indonesia adalah Sena Utoyo dan Didi Petet dengan kelompoknya Sena Didi Mime, serta Jemek Supardi di Jogjakarta. Pada era selanjutnya, muncul pula nama Septian Dwi Cahyo di Jakarta dan Dede Dablo di Bandung.

Pada perkembangannya, di masa kini ada banyak seniman muda pantomime lainnya yang lahir dengan latar belakang berbeda, baik yang belajar pantomime secara akademik maupun yang otodidak. Mereka inilah yang semakin mengembangkan pantomime di Indonesia, dan pada akhirnya menumbuhkan banyak komunitas-komunitas pantomime dengan aliran-aliran yang bervariasi yang semakin berkembang luas. Di Jogjakarta, misalnya, kini ada Andi SW dengan Bengkel Mime, sementara di Bandung, ada Wanggi Hoediyatno. Berkat mereka, kini pantomime semakin dikenal luas dalam kancah seni pertunjukan.

Perkembangan Pantomime di Sumatra Barat
Di Sumatera Barat, pantomime sekarang ini juga mulai muncul ke permukaan. Apalagi dengan diadakan FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional), dimana pantomime menjadi salah satu cabang seni yang diperlombakan. Program FLS2N ini membuka ruang bagi penggelut pantomime di Sumatera Barat untuk dapat memperlihatkan eksistensinya dalam dunia seni pantomime. Bahkan tidak sedikit yang bercita-cita untuk dapat membangun dunia seni pantomime Sumatra Barat yang dapat hadir dan bicara di kancah nasional sebagai penampil pantomime terbaik.

Hal ini sangat mungkin dicapai dan dapat dimulai dari daerah masing-masing (kota dan kabupaten), karena  Sumatra Barat sendiri telah banyak melahirkan seniman-seniman yang tidak kalah saing dari seniman daerah lainnya. Sumatra Barat memiliki potensi yang cukup besar dalam mengembangkan seni pantomime, terutama dengan adanya kampus seni ISI Padangpanjang. Komunitas-komunitas pantomime pun kemudian telah banyak lahir dari kampus ISI Padangpanjang ini.

Hal itu dimulai sejak tahun 2008 dengan berdirinya komunitas pertama pantomime bernama Batahimime, dipimpin oleh M. Hibban Hasibuan dan Angga Pranata. Dua orang inilah yang masih aktif dalam bekarya pantomime sampai sekarang. Mereka kemudian menumbuhkan generasi-generasi penerus dengan hadirnya kelompok Buluketekmime pada tahun 2012 dengan penggerak Frisdo Ekardo dan Alhamda Agista Daulay.  Selajutnya pada tahun 2013, merekapun juga menghadirkan generasi baru dan bersama-sama membangun kelompok baru dengan nama Bem Colegas, yang para anggotanya hingga sekarang masih aktif dalam berpantomime di antaranya Ahmad Ridwan Fajri, Ridho Putra, serta Radhen  Afrizal Gilang Anarki.

Kehadiran berbagai komunitas pantomime ini selanjutnya menumbuhkan generasi selanjutnya dengan cara saling berbagi. Pada tahun 2014, hadirlah sebuah komunitas dengan nama Boel Mime dengan anggota aktif Fajar Eka Putra dan Hamdany, dan yang terakhir hadir pula komunitas muda pada tahun 2015 dengan mengangkat bendera baru atas nama Spaydermime yang dimotori oleh ketuanya Sharul Nizam bersama sekitar 15 orang anggota. Pada tahun selanjutnya, sudah mulai pula timbul kesadaran untuk mengembangkan kesenian pantomime ini ke luar kampus dengan hadirnya beberapa komunitas di luar kampus. Akhir-akhir ini hadir komunitas yang mencoba konsisten di bidang pantomime dengan nama Antarkita Mime, yang diketuai oleh Bidin, seorang pemuda asal dari kota Bukittinggi, dengan dibantu dengan beberapa anggotanya. Komunitas ini mencoba mengembangkan pantomime di kotanya sendiri..

Kreatifitas Pantomime di Sekolah dan Masalahnya 
Sejauh yang dapat diamati dari proses berpantomime selama ini, kesenian yang satu ini tampaknya dapat memiliki manfaat bagi pendidikan. Manfaat belajar pantomime atau seni ekspresi ini bagi anak-anak, terutama kalangan sekolah dasar, antara lain ialah: (1) mengajarkan keterampilan; (2) mengajarkan percaya diri; (3) meningkatkan daya tanggap anak; (4) membangun imajinasi-imajinasi cerdas; (5)  menghargai waktu, karena pantomime mengajarkan untuk mengingat setiap adegan-adegan yang telah ditetapkan dalam cerita; dan (6) membangun karakter setiap anak yang mempelajarinya.

Dengan manfaat serupa itu, seni pantomime membantu seorang anak berfikiran positif dengan menciptakan karakter, serta memiliki mental kuat dan keterampilan dalam kesehariannya. Tidak hanya itu saja, manfaat pantomime yang terbesar adalah karena kesenian ini mendidik seorang anak menjadi ekspresif, komunikatif dan aktif di setiap lingkungan yang mereka hadapi. Singkat kata, pantomime memberikan kepada anak-anak yang mempelajarinya rasa percaya diri yang tinggi untuk bersosialisasi antar sesama manusia.

Dalam rangka perlombaan FLS2N  yang diadakan di Sumatra Barat saya mengamati ada beberapa sekolah di daerah Sumatra Barat yang berlomba-lomba mencari tenaga pengajar pantomime untuk membina pelajar di sekolah-sekolah mereka. Tujuannya ialah untuk menjadi yang terbaik di berbagai bidang seni yang diperlombakan dalam FLS2N, khususnya di bidang seni pantomime. Namun dikarenakan cabang perlombaan ini baru diadakan lebih kurang 4 tahun belakangan, tenaga pengajarnya masih kurang di berbagai daerah. Hal ini memaksa guru-guru sekolah tersebut untuk mencari tenaga dari luar daerah, seperti menghubungi institusi seni, yang dipandang lebih memahami seni itu sendiri.

Perlombaan seni pantomime dalam FLS2N ini dilaksanakan dengan waktu yang sangat singkat. Oleh sebab itu sekolah-sekolah dibuat bekerja keras untuk mendapatkan tenaga pengajar di awal bulan Maret setiap tahunnya. Dikarenakan waktu persiapan yang sangat singkat ditambah jadwal perlombaan yang padat, setiap tenaga pengajar yang saya temui umumnya kebanyakan adalah mahasiswa. Meski begitu ada juga di antara para pelatih itu yang merupakan rekan-rekan  dari komunitas lain. Baik pelatih yang mahasiswa maupun dari komunitas, umumnya melemparkan keluhan masing-masing, terutama karena merasa beberapa sekolah masih kurang mengimbangi atau bahkan kurang menghargai jasa mereka.

Keluhan umum yang diajukan ialah soal anggaran yang mereka sepakati dengan sekolah, yang terkadang tidak sesuai dengan pengorbanan yang mereka sumbangkan untuk membina setiap sekolah-sekolah tersebut. Mulai dari biaya transportasi, konsumsi, faslitas hingga pelayanan masih tidak sepenuhnya bisa mereka dapatkan dengan baik. Dalam hal tersebut sekolah-sekolah tampaknya cenderung menginginkan harga yang murah namun dengan hasil karya yang sangat bagus. Dari hal tersebut saya memandang telah terjadi ketidak seimbangan pandangan antara sekolah dan pihak pengajar seni pantomime ini.

Tentunya ini adalah hal yang tidak bagus. Atas dasar itu, di sini saya ingin mengkritisi: apakah di antara sekolah-sekolah tersebut tidak mempertimbangkan latar belakang dari para pengajar atau pelatih yang umumnya adalah mahasiswa itu? Untuk bisa mengajar di sekolah-sekolah, ada banyak hal yang mungkin mereka korbankan, dari mulai pikiran, tenaga, waktu, kuliah, dan bahkan mungkin banyak hal penting mereka tinggalkan untuk memenuhi tanggung jawab mereka sebagai pengajar atau pelatih.

Tapi begitulah, nyatanya masih sedikit sekali sekolah yang memperhatikan hal tersebut. Padahal, berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam mengajar seni pantomime, ketika kenyamanan tidak didapati, kita sebagai pengajar pun akan menjadi kesulitan untuk menghadirkan imajinasi-imajinasi yang hendak kita ciptakan dalam bentuk karya. Belum lagi kenyataan miris yang dirasakan perihal mental guru-guru, yang kurang memberikan contoh dalam pendidikan, terutama dalam hal mengapresiasi karya seni.

Dalam pengamatan saya, kerap kali penghargaan terhadap nilai kesenian diabaikan, terutama dalam hal hak cipta karya. Umumnya sekolah-sekolah lebih senang mengambil atau mencomot saja karya-karya orang lain, yakni dengan mempelajari dari situs youtube tanpa mengubah sedikitpun konsep yang dibuat oleh yang punya karya. Dalam pandangan saya, mengambil referensi dimanapun itu sah saja, namun harus dengan etika tertentu. Misalnya, dengan tidak mengambil sepenuhnnya konsep karya orang lain itu. Pengambilan inspirasi semacam itu relatif masih bisa diterima, tetapi bukan dengan mengambil sepenuhnnya konsep karya orang lain.

Tantangan dan Harapan Pantomime  Di Sumatera Barat
Berdasarkan perkembangan pantomime di Sumatera Barat hari ini, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dan menjadi tanggung jawab bersama di antara penggiat pantomime di Sumatra Barat. Tantangan tersebut di antaranya: pertama, kita harus memperbanyak apresiasi, karena kita masih kurang apresiasi. Dengan kurangnya apresiasi sejauh ini, terdapat beberapa efek, di antaranya ialah tidak berkembangnya warna-warna baru dalam karya-karya pantomime yang ada saat ini, yang sebenarnya dapat sangat bermanfaat untuk mengembangkan seni pantomime itu sendiri ke depannya.

Tantangan kedua, ialah masih kurangnya dukungan pemerintah, yang barangkali timbul karena masih kurangnya apresiasi pemerintah terhadap kesenian pantomime ini. Padahal, dengan hadirnya pemerintah dalam pengembangan seni pantomime di Sumatera Barat, mungkin akan sangat membantu dalam mencari berbagai kemungkinan pengembangan dan memungsian pantomime. Dengan adanya FLS2N selama ini, pemerintah sebenarnya telah dapat mempersiapkan antisipasi dengan cara memberi dan membuka ruang kreatifitas seni pantomime di setiap sekolah-sekolah.

randaimime sebuah eksperimentasi pantomime-teraSeni
Randaimime oleh Buluketekmime, 
 sebuah  usaha eksperimental 
menggabungkan pantomime dan randai 

Dengan begitu, karya pantomime tidak hanya menjadi kesenian yang hanya hadir dalam rangka sebuah iven perlombaan saja, melainkan dapat menjadi seni yang bisa berguna terus-menerus. Dengan cara itu, pantomime dapat turut membangun karakter anak-anak sekolah di Sumatera Barat, yaitu dengan cara membuka ruang ekpresi dan imajinasi yang luas. Hal ini dapat berguna dalam upaya pembentukan karakter anak didik yang cerdas sejak usia dini, yaitu dengan memperkenalkan hal-hal positif kepada mereka dalam bentuk karya seni. Mengingat hal itu, dalam pengamatan saya, sekarang dunia pantomime Sumatera Barat akan dapat menjadi lebih baik untuk ke depannya jika peran serta pemerintah dapat ditingkatkan, misalnya dengan ikut serta mempelopori worsksop dan diskusi pantomime di berbagai sekolah yang ada di daerah-daerah.

Harapan dari saya selaku pegiat pantomime, dengan berkaca pada perkembangan pantomime di Sumatra Barat hari ini,  tidak ada ruginya jika kita lestarikan kesenian ini. Sebab, dengan belajar pantomime, kita dapat menghadirkan karakter anak-anak sekolah yang cerdas. Karena bagaimanapun, kita di Sumatera Barat memiliki aset besar dengan hadirnya ISI (Institut Seni Indonesia) Padangpanjang dan beberapa komunitas yang mencoba intens dengan bidang seni yang satu ini. Kita juga bisa berbagi ilmu dengan mendatangkan orang-orang yang memang berkompeten dalam bidang pantomime ini ke Sumatra Barat. Dan harapan terakhir dengan hadirnya pantomime ini di Sumatra Barat, kita akan dapat melahirkan karya-karya seni terbaik, serta dapat melahirkan komunitas-komunitas baru di setiap daerah di Sumatra Barat, yang dapat menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi pelajar dan remaja.

Godot in Mime yang Segar, Sesegar Spongebob

Sabtu, 24 September 2016 | teraSeni~

Dalam teori postmodernisme, retroaksi adalah salah satu jalan untuk mengungkapkan sudut pandang yang berlawanan dengan kehendak modernisme. Dalam konteks seni pertunjukan saat ini, retroaksi bahkan telah menjadi alternatif untuk mengungkapkan sisi lemah dari ‘kemajuan’ yang dijanjikan modernisme. Wajar, bila kini retroaksi kerap menjadi pilihan para seniman dalam menyampaikan gagasannya. Retroaksi kemudian malah menjadi titik balik yang vital untuk mengkaji ulang sejauh mana gagasan pertunjukan kontemporer dapat memuaskan selera estetis dan menyampaikan muatan tematis-nya dengan baik.

Pantomime adalah salah satu produk masa lalu yang kini kembali dipilih oleh para seniman teater. Retroaksi melalui pantomime, sudah banyak dilaksanakan oleh generasi seniman mutakhir. Di jogja misalnya, telah muncul kelompok Bengkel Mime yang dimotori Andy CS. Kelompok ini tidak sekedar membawa bahan mentah dari masa lalu pantomime, tetapi memodifikasinya sehingga tidak mudah di sambung-kaitkan dengan pantomime era Charlie Chaplin.

Godot in Mime-teraSeni
Salah Satu Adegan Godot in Mime,
Pantomimer M Hibban Hasibuan,
Sutradara: Dede Pramayoza

Di Sumatera Barat, memang tidak begitu banyak seniman atau kelompok teater yang fokus terhadap pantomime. Namun, bukan berarti tidak ada langkah signifikan yang dilakukan oleh seniman yang ‘sedikit’ itu. M Hibban Hasibuan misalnya. Dalam garapan terbarunya yang digelar pada 12 Februari 2014 di gedung pertunjukan Hoeridjah Adam, mahasiswa ISI Padangpanjang ini berani bermain-main dengan naskah absurd Waiting For Godot, yang kini berubah judul menjadi Godot in Mime. Narasi besar Godot yang telah jamak dibahas dalam berbagai sudut pandang, ketika itu seakan segar kembali untuk dibicarakan.

Hibban Hasibuan sebagai pemain pantomime dengan jam terbang yang sudah cukup tinggi, dalam garapan ini dikawal oleh penyutradaraan Dede Pramayoza. Meski Dede Pramayoza lebih senang menyebut dirinya sebagai konsultan karya ketimbang sutradara, karena menurutnya ia lebih banyak memberi ruang kepada M Hiban Hasibuan untuk menciptakan sendiri pola ungkapnya melalui idiom pantomime dalam karya ini.

Pertunjukan malam itu dimulai dengan kehadiran tokoh Gogo (Estragon) di atas panggung. Lelaki ini mulai bergerak ketika cahaya kuning telah menimpanya. Hal pertama yang diperagakan Gogo adalah kesibukannya untuk membuka sepatu. Proses ini berjalan cukup lama tanpa keberhasilan. Alih-alih membuka sepatunya, Gogo malah merasa sakit pada kakinya. Persitiwa berlanjut dengan kehadiran tokoh Didi (Vladimir) yang dimainkan oleh M Hiban Hasibuan. Ia muncul membawa batu di tangannya. Begitu beratnya beban itu sehingga ia harus berjalan terbungkuk-bungkuk.

Sesuai tebakan saya semula, kendala berat dan sakit yang seharusnya menimbulkan keprihatinan, malah menimbulkan kelucuan ketika dimainkan oleh kedua tokoh. Seperti runutan di dalam naskah, kehadiran tokoh-tokoh seperti Lucky dan Pozo serta seorang lelaki mini juga terjadi. Pozo yang digotong menggunakan gerobak oleh anak buahnya Lucky sempat ditebak sebagai Godot oleh Gogo dan Didi. Tapi Pozo membuat mereka kecewa karena nyatanya, ia memang bukan Godot yang ditunggu itu. Gogo dan Didi, juga menebak pria mini penuh keriangan yang hadir setelah Pozo dan Lucky pergi sebagai Godot. Lagi-lagi tebakan ini salah.

Repetisi kehadiran ketiga tokoh terjadi manakala Gogo dan Didi telah beranjak tua. Ketuaan itu ditunjukkan oleh sikap gesture dan jambang yang telah tumbuh di dagu mereka. Bahkan di usia lanjut ini, Vladimir dan Estragon masih menunggu Godot. Tetapi mereka juga melakukan kesalahan yang sama dengan menyangka bahwa Pozo dan lelaki mini yang juga kembali hadir sebagai Godot. Di penghujung pertunjukan, lelaki Mini muncul dengan membawa sebuah kertas besar. Ketika ia menolak disebut Godot, lelaki mini itu menyerahkan kertasnya kepada Didi dan Gogo. Setelah dibuka, tulisan pada kertas itu ternyata “Maaf, Tuan Godot tidak bisa Datang Hari ini”.

Selayaknya pantomime, hampir tak ada kata yang muncul selama pertunjukan dimainkan. Jikapun suara aktor digunakan, hanya untuk menyampaikan rasa sakit atau kecewa berupa tawa, rengekan tanpa kata atau desisan. Sementara, satu-satunya yang terucap sebagai tanda hanyalah nama-nama tokoh.

Ada beberapa kesimpulan menarik bagi saya usai menonton pertunjukan ini. Yang pertama adalah soal tubuh dan alternatif ungkapnya. M Hibban Hasibuan dan rekan-rekannya ternyata tidak menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa berkonvensi untuk menggantikan kata-kata pada teks lakon. Berbagai gerak untuk mengekspresikan kalimat, berhasil menyampaikan pesan sebagaimana yang seharusnya.

Namun, memang tetap ada beberapa pengungkapan yang membingungkan ketika dikorelasikan dengan teks lakon karangan Samuel Beckett ini. Namun setidaknya, dapat dikatakan bahwa bahasa verbal baik itu lisan maupun isyarat konvensional, telah dibuktikan sebagai bukan satu-satunya pilihan di atas panggung teater. Memang dari segi motivasi gerak terlihat betul bahwa M Hibban Hasibuan masih mempertahankan unsur karikatural sebagai salah satu kekayaan pesona pantomime. Gerak-gerak tampak lebih banyak didominasi oleh motivasi ini.

Godot in Mime- teraSeni
Adegan dalam Godot in Mime,
Pantomimer M Hibban Hasibuan,
Sutradara: Dede Pramayoza

Tetapi, pada beberapa bagian juga terlihat bahwa tekanan naskah cukup memaksa M Hibban Hasibuan dan rekan-rekannya untuk memberontak dari pakem pantomime. Misalnya pada bagian ketika Lucky menangis, atau Vladimir dan Estragon kecewa. Pada bagian-bagian seperti ini, karikaturalisasi gerak dan (terutama) mimik tidak lagi menghadirkan kelucuan. Saya merasakan adanya unsur kepedihan yang lebih dalam daripada ekspresi berkata-kata yang kerap ditampilkan teater modern saat satu tokoh menangis atau kecewa.

Kesimpulan kedua adalah soal kehadiran eksperimentasi yang unik. Memang selama ini belum banyak pertunjukan pantomime yang diciptakan berdasarkan sebuah teks naskah lakon. Selama ini, pantomime kerap dipertunjukkan dalam format reportoar singkat yang notabene merupakan peniruan atas peristiwa keseharian. Artinya, kali ini ada upaya yang berbeda; untuk menggunakan Pantomime sebagai alternatif bahan tekstual. Melihat kepada pilihan naskah, saya awalnya sempat pesimis bahwa pementasan ini akan diminati penonton. Rasa pesimis ini muncul lantaran pantomime dalam perspektif saya masih juga sebuah pertunjukan yang menjual cerita.

Naskah absurd seperti yang diungkap Martin Eslin dalam bukunya The Theatre of The Absurd (1976), telah menolak pengemukaan unsur cerita seperti ini. Begitu juga halnya dengan Waiting For Godot. Dalam uraian Bakdi Soemanto pada bukunya yang memperbandingkan persepsi Amerika dan Indonesia terhadap Waiting For Godot, Bakdi menangkap benang merah bahwa dalam persepsi seniman Amerika dan seniman Indonesia, Waiting For Godot mempesona lantaran nilai-nilai yang diusungnya, bukan ceritanya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ‘cerita’ dalam naskah ini tidak begitu menarik.

Satu-satunya suspense yang tampak pada naskah Waiting For Godot hanyalah ketika munculnya Pozo dengan kereta atau gerobak yang ditarik manusia (Lucky). Tentu saja, empati penonton terhadap Lucky yang merepresentasi kedahsyatan efek penindasan terhadap manusia, dapat membuat mereka tergugah. Selebihnya, tidak ada suspen visual lagi.

Untuk naskah seperti ini, ekspresi pelakon dalam mengungkapkan kata-kata biasanya menjadi jurus untuk membuat penonton tetap menikmati pertunjukan. Pilihan naskah seperti ini, jelas merupakan pilihan eksperimental bagi sebuah garapan pantomime.

Saat menonton pertunjukan ini, perlahan saya dapat menyimpulkan betapa eksperimentasi ini berhasil mempertahankan atensi penonton. Mereka (para penonton) terus menunggu; apa lagi yang akan dilakukan M Hibban Hasibuan dan rekan-rekannya untuk mengalirkan peristiwa. Akhirnya, seperti juga Vladimir dan Estragon, para penonton pun kecewa karena ternyata Godot yang ditunggu-tunggu itu tidak pernah datang.

Kesimpulan ketiga adalah tarikan historikal yang mempertemukan semangat pantomime dan semangat absurditas. Dalam bukunya yang dipetik pada bagian sebelum ini, Martin Eslin juga mengemukakan bahwa sejak awal, teater absurd membangun konsep estetiknya dari pandangan anti–sasta, unsur mimus (peniruan; sebuah unsur terpenting dalam pantomime) dan unsur komedi perancis. Semua pandangan dan unsur-unsur itu tak berbeda dengan motivasi kelahiran Pantomime.

Charles Aubert dalam bukunya The art of Pantomime (1970) mendefinisikan pantomime adalah seni pertunjukan yang diungkapkan melalui ciri-ciri dasarnya, yakni ketika seseorang melakukan gerak isyarat atau secara umum bahasa bisu. Pantomime yang sudah berkembang sejak jaman keemasan pertunjukan Yunani dan Mesir klasik menunjukkan kedekatan unsur-unsurnya dengan absurditas berkaitan dengan penolakan kata-kata ini. Bukankah, sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Samuel Becket sendiri juga merupakan bentuk penolakan terhadap kata-kata? Bahkan, Beckett juga banyak melahirkan naskah tanpa kata-kata lisan seperti “Laku Tanpa Kata”.

Kesimpulan terakhir adalah penyegaran Godot yang sempat saya singgung di bagian awal tulisan ini. Memang selama bertahun-tahun sejak awal ‘dibawa’ ke Indonesia pada era 1970-an oleh Rendra, Waiting For Godot cukup diminati para teaterawan. Banyak yang telah memproduksinya, bahkan telah pula menghuni daftar naskah wajib dalam festival-festival teater.

Godot adalah tokoh yang tak pernah muncul tapi menjadi pemantik narasi besar pada naskah ini. Sebagian orang beranggapan bahwa Godot itu abrevasi dari ‘Got is Tot’, bahasa Jerman yang bermakna Tuhan telah mati. Dalam pengantarnya pada Menunggu Godot yang merupakan terjemahan dari Waiting For Godot, Bakdi mengatakan bahwa naskah ini terinspirasi dari sepatu bot. Bahkan diterangkan bahwa menurut Beckett, Godot dalam bahasa perancis mengacu pada sepatu itu. Sayangnya, sebagian besar pakar kebahasaan menentang keterangan Beckett ini; bahwa dalam bahasa perancis tidak ada leksikon yang mengarahkan relasi Godot pada Sepatu Bot.

Saya tidak bermaksud mengurai kembali pendapat para ahli yang mencoba menelisik apa atau siapa itu Godot. Tapi yang jelas, Godot telah memancing timbulnya peristiwa-peristiwa dalam penantian yang bersikait dengan harapan, masa depan, keputus asaan, persahabtan dan hal-hal maunsiawi lainnya. Dan berkat pertunjukan malam itu, pembicaraan tentang Godot terasa menarik lagi untuk diapungkan, setidaknya bagi mereka yang telah mengenal naskah ini sebelumnya.

Secara sederhana (dan setengah nakal) saya sempat membayangkan bahwa tokoh-tokoh pada film kartun Sponge bob Square Pants bisa saja terinspirasi dari tokoh-tokoh pada Waiting for Godot. Melihat pada sifat dan lakunya, Didi adalah Sponge bob, Gogo adalah Patrick, Pozo adalah Tuan Crab, Lucky adalah Squit wart dan lelaki mini adalah Sandy. Memang tak terbayangkan, tokoh mana dalam film kartun itu yang merepresentasi Godot. Tapi yang jelas, Sponge Bob seperti juga Godot in Mime membuat hal-hal manusiawi tadi menarik lagi untuk dibahas.

Di samping kesimpulan-kesimpulan diatas, jika ditilik dari pandangan kepenontonan tentu Godot in Mime masih memiliki persoalan. Beberapa keluhan yang saya tangkap dari perbincangan dengan sejumlah penonton antara lain; terlalu banyaknya adegan repetitif, durasi yang terlalu panjang, serta musik yang gagap. Hal ini sangatlah penting untuk dipertimbangkan oleh M Hibban Hasibuan dan Dede Pramayoza, sekiranya karya ini kembali ditampilkan lain waktu. Apalagi, dalam karya bernilai retroaksi seperti ini, pembacaan terhadap selera penonton hari ini sangatlah penting.