Pilih Laman

The Power of Art Festival: Menonton Keberagaman Pengalaman akan Tubuh

Dihelat di akhir bulan Oktober, sebuah rangkaian festival bertema The Power of Art menggelar salah satu pertunjukan bertajuk Divergent of Embodiment (29/10/2016). Bertolak dari kesadaran atas keberagaman akan pengalaman tubuh—baik secara personal ataupun komunal—yang tertaut perihal kultural, sosial, dan kontekstual lainnya, menjadi wacana dalam membingkai dua nomor teater dan satu nomor tari. Alhasil berbicara tentang tubuh tidak hanya merujuk pada tubuh anatomis, namun tubuh yang dikonsepsikan oleh pelbagai kontekstual turut terjalin.

Diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-25 Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Universitas Gadjah Mada, ini berkeinginan untuk menerapkan wacana ‘daya seni’ yang berkaitan dengan pelbagai faktor di luar seni. Alih-alih hanya berupa wacana yang diproduksi dari meja seminar ataupun konferensi, PSPSR turut mengandalkan praktik seni sebagai medium dalam menyampaikan gagasan tersebut. Dihelat di Gedung Lengkung, Sekolah Pascasarjana, UGM, PSPSR mempercayakan hal ini pada dua teatrawan, yakni Tony Broer dan Wendy HS–dengan Teater Tambologi Padangpanjang–, serta satu koreografer yang sedang di puncak popularitas, Eko ‘pece’ Supriyanto. Tanpa bersusah mengikuti tajuk yang dibuat, tiga seniman ini telah memberikan keberagaman tubuh dengan sendirinya, dan bersinergis mengokohkan Divergent of Embodiment.

Teater Tambologi dalam Festival The Power of Art 2016-teraSeni
Wendy HS, Emri Rky Mulia, dan Leva Kuldi Balti
dari Teater Tambologi Padangpanjang
dalam karya Jilatang is Installed

Satu Tubuh Beragam Pertunjukan
Dibuka dengan pertunjukan Tony Broer, pergelaran telah terasa berbeda, karena Tony sudah memulai pertunjukan sejak penonton berdatangan. Tony Broer adalah seorang pekerja teater, yang terinspirasi Butoh—sebuah kesenian di Jepang—, yang akhir-akhir ini mengandalkan tubuhnya sebagai medium seninya. Dalam karya yang berjudul Tu(m)buh, Tony benar-benar memaksimalkan atas kemampuan apa yang dipunya untuk menghantarkan sebuah perasaan melalui tubuh sebagai mediumnya.

Dihelat di salah satu halaman di Sekolah Pascasarajana, UGM, pertunjukan memang tidak di-setting layaknya pertunjukan dengan panggung ala proscenium. Lebih-lebih, tanpa MC (master of ceremony) yang lazimnya mempersilahkan penonton—sekaligus mengkonstruksi pertunjukan telah dimulai dan berakhir—, pertunjukan berjalan begitu saja tanpa adanya arahan. Dalam pertunjukan tersebut, Tony telah memulai merubah paradigma akan pertunjukan biasanya.

Dengan mempersilahkan penonton duduk, lalu ikut men-setting lampu, bahkan bermain dengan properti yang telah menjadi artistik, membuat penonton mulai bertanya-tanya apakah pertunjukan telah dimulai. Beberapa menit setelahnya, Tony mulai memasuki ruangan dan melepaskan pakaian yang ia kenakan. Ia kembali ke luar layaknya telah bersiap. Tony mulai meminta handphone salah satu penonton dan mengajak selfie beberapa penonton lainnya.

Di sisi yang lain seorang pemain biola menatapnya dari kejauhan. Mulai memainkan repertoar, Tony mulai menari-nari layaknya seorang balerina. Ia melangkah ke sebuah sisi yang tersedia sebuah tong. Di tengah area pertunjukan Tony, telah terduduk enam penonton yang dipilih secara acak sebelumnya—alih-alih penonton dipersilahkan dengan baik, para penonton yang terduduk di depan telah ditutupi mata dan diikat pada bagian tangan. Pemain biola tadi mulai melangkah mendekati penonton tersebut, tetapi seketika permainannya ‘rusak’, layaknya seorang amatiran yang bahkan tidak dapat menggesek senar dan menciptakan nada.

Tony Broer dalam Festival The Power of Art 2016-teraSeni
Tony Broer,
dalam pergelaran berjudul Tu(m)buh 

Sementara itu, Tony mulai memasuki tong merah tersebut dan menggeindingkannya di antara tangga-tangga. Tong tersebut berputar kencang ke arah penonton hingga kembali ke tengah arena pertunjukan. Lalu ia bangkitkan tong tersebut, dua orang penonton mulai mendatangi dengan sepasang tongkat besi. Tony yang berada di dalam tong tersebut dipukuli dengan keras, bahkan hingga tongkat tersebut bengkok.

Setelahnya ia mendekati penonton yang tertutup matanya, dan sebuah layar mulai tersiar sebuah visual akan perang. Tony yang menggunakan masker mulai mendekati dengan sebilah tongkat. Berinteraksi di antara kerumunan visual video dan penonton, Tony mulai menggeliat seakan merepresentasikan dari visual perang. Pemain Biola tadi lantas berjalan menuju sisi yang lain. Berdiri di sebuah bangku, ia mulai memainkan nada-nada minor dan lirih, setelahnya Tony mulai mendekati. Terdapat tiga lembar seng kotor dan berkarat. Lantas ia mendekat, berguling, dan melakukan interaksi dengan seng tersebut. Di sinilah klimaks dari pertunjukan Tony.

Namun alih-alih pertunjukan usai, Tony mengajak penonton untuk naik ke lantai lima di gedung Lengkung. Menadah sebuah seng di atas kepalanya, Tony memimpin barisan penonton untuk naik ke lantai paling atas di gedung tersebut. Berjalan menaiki tangga hingga di lantai empat gedung, tiga orang menunggunya. Tiga orang tersebut lantas mengucap mantra di hadapan Tony. Tony mulai kelimpungan dan berjalan tanpa arah. Penonton yang mengikuti di belakangnya lantas dibuat bingung sekaligus terkesan perasaan magis.

Setelahnya Tony dan tiga orang yang adalah penampil dari Teater Tambologi Padangpanjang, sama-sama memasuki ruangan. Tiga orang tersebut masih berucap mantra, sedangkan Tony masih berputar-putar tanpa henti. Sementara itu Penonton mulai memasuki ruangan, Tony mulai menepi dan keluar dari area pertunjukan. Tiga orang tadi yang adalah Wendy HS, Emri, dan Leva Balti dari Teater Tambologi Padangpanjang.

Setelah mengucap mantra dan mempersilahkan penonton untuk duduk di setiap tempat yang telah disiapkan, Wendy mulai mengucap dengan lantang Jilatang is Installed. Seketika mereka terhenti. Setelahnya ia mulai menepuk bagian bawah kain yang mereka kenakan, metode yang mirip dengan kesenian Tepuk Galembong dalam kesenian Randai. Bertumpu pada akustik ruang, Wendy, Emri, dan Leva seakan bersinergi dengan gerak dan musik ritmis yang diciptakan oleh mereka secara sederhana.

Usut punya usut, hal yang menarik adalah terma Jilatang erat hubungannya dengan tanaman Jelatang yang menyebabkan gatal. Alhasil gerak yang dibuat khayalnya Tepuk Galembong tadi adalah bentuk kausalitas akan respon gatal, yang turut menciptakan daya estetik geraknya sendiri. Selain gerak, Wendy turut mengandalkan praktik bermonolog, suara lantang dan garang Wendy HS seakan bersinergis dengan segala interaksi menjadi pertunjukan yang utuh dan menarik. Berlatarbelakang Minangkabau, pertunjukan Wendy memberikan impresi kultural yang kuat.

Tra.Jec.To.Ry, Eko Supriyanto dalam Festival The Power of Art 2016-teraSeni
Para pneri dalam Tra.Jec.To.Ry
karya Eko Supriyanto

Sedangkan pertunjukan yang dipilih untuk menutup rangkaian keseluruhan Dies Natalis 25 tahun ini adalah repertoar Tra.Jec.To.Ry karya Eko Supriyanto. Bernafaskan pencak silat, Eko secara cermat menarik esensi dari silat dengan impresi maskulin dan gerak repetitif. Dalam karyanya, Eko tidak lagi mempertunjukan gerak ansih pencak dan silat selama pertunjukan. Eko justru memformulasikan gerak-gerak baru yang tidak kalah kuat, walau hanya dengan berputar, ataupun bergerak secara serentak antar satu pemain dengan pemain lainnya. Kendati ciri khas silat sudah samar-samar terlihat, namun dalam karya ini Eko telah memberikan sebuah gambaran tubuh reflektif dalam menyikapi kebudayaan. Sebuah cara pandang Eko dalam menyikapi budaya dan mengintisarikannya menjadi sebuah sajian tari baru dalam bingkai kontemporer.

Satu Tubuh Beragam Tinubuh
Dari ketiga pertunjukan tersebut, kita dapat melihat bahwa tubuh memiliki pengalaman yang ‘menubuh’ (selanjutnya akan disebut tinubuh)—baik disadari ataupun sebaliknya. Pengalaman tersebut lantas tidak tunggal, melainkan beragam, seperti halnya, kultural, sosial, dan pelbagai kontekstual lainnya. Alih-alih merujuk pada satu tinubuh, ketiga pertunjukan seakan memberikan sebuah gambaran yang jelas akan perbedaan tinubuh. Sebut saja, Tony Broer yang lebih mengandalkan pengalaman tubuh personal dalam merespon pelbagai interaksi, dan ia bahkan ingin memberikan pengalaman tersebut melalui tubuh; atau Wendy HS yang lebih merujuk pada pengalaman kultural dan ekologis di Minangkabau; sedangkan Eko Pece lebih memperlihatkan pada pengalaman personalnya akan silat yang ia pelajari sedari dulu. Pengalaman tersebut membentuk tinubuh bagi personal ataupun komunal.

Bertolak dari keberagaman tinubuh ini, secara lebih lanjut kita dapat melihat bahwa tubuh yang melakukan praktik seni dapat memberikan sebuah tawaran baru pada pelbagai kontekstual di luar seni itu sendiri. Di mana melalui seni—khususnya tubuh—dapat memberikan sebuah pengalaman baru dalam menyikapi pelbagai kehidupan. Merujuk ketiga pertunjukan, kendati tidak semua karya bukan kali petama dihelat, namun karya-karya terpilih seakan dapat memberikan pesan yang ingin disampaikan bahwa seni dapat menunjukan keberagaman tubuh manusia yang tidak dapat dilihat oleh pelbagai sudut pandang lainnya. Dan di sinilah seni mempunyai daya untuk memberikan kesadaran akan kehidupan, baik atas masa lalu, masa kini, ataupun masa mendatang.

   

Medan Contemporary Art Festival (MCAF) #3: Karya Bersama Teater Sumatera yang Belum Usai

Kamis, 3 November 2016 | teraSeni~

Awal bulan Oktober lalu (1-8/10/2016) telah berkumpul di kota Medan beberapa orang pelaku seni pertunjukan yang mewakili daerah–daerah di Pulau Sumatera. Mereka berkumpul untuk membicarakan rencana membuat karya bersama dalam event bernama Medan Contemporary Art Festival (MCAF) #3. Mereka yang hadir di antaranya adalah Hasan (Palembang), Husin (Pekanbaru), Rasyidin Wig Maru (Aceh), Siska Aprisia (Padangpanjang), Agus Susilo (Deli Serdang), Lukman Hakim (Medan), dan Masvil Tomi (Jambi). Namun dikarenakan beberapa hal, Tomi akhirnya berhalangan hadir.

Medan Contemporary Art Festival (MCAF) #3-teraSeni
Diskusi Pasca Pertunjukan Batas,
dalam Medan Contemporary Art Festival
(MCAF) #3

MCAF #3 kali ini, yang mengusung tema “Rekonstruksi Esok dalam Tubuh Sumatera” memfokuskan kegiatannya di Taman Budaya Sumatera Utara (Medan). MCAF #3 merupakan kegiatan berkelanjutan yang dikerjakan secara swadaya, oleh gabungan dari beberapa kelompok kesenian di kota Medan. “Kami panitia, hanya mampu memfasilitasi tempat kegiatan, konsumsi, dan akomodasi lokal. Sedangkan biaya transportasi (PP) peserta dari daerah ke lokasi kegiatan, ditanggung oleh masing-masing peserta,” ujar Ojax Manalu, Direktur MCAF #3.
 
Kegiatan MCAF #3 ini sangat berbeda dengan MCAF sebelumnya. Jika MCAF sebelumnya berorientasi pada pegelaran karya tunggal, MCAF kali ini lebih digariskan pada penciptaan karya bersama. Untuk itu panitia telah mempersiapkan jadwal kegiatan yang berisikan diskusi, proses penciptaan karya, dan capaian akhir berupa presentasi karya bersama (pementasan).

Kegiatan hari pertama dilaksanakan pada hari minggu (2/10), bergeser dari jadwal yang ditetapkan panitia. Hal itu terjadi karena beberapa peserta perwakilan daerah terlambat sampai di kota Medan. Tepat pada pukul 09:00 WIB, kegiatan diawali dengan penjelasan kegiatan oleh Ojax Manalu selaku direktur MCAF. Beliau menjelaskan tentang semangat kebersamaan dan gotong royong kawan-kawan pegiat seni, termasuk kawan-kawan perwakilan daerah yang ada di dalamnya, yang kemudian menjadi modal terselenggaranya kegiatan MCAF ini. Selanjutnya beliau berharap silurahmi dalam proses karya bersama ini, dapat terus terjaga dengan baik.

Setelah itu sesuai dengan jadwal, masing-masing peserta mulai sharing soal kondisi faktual perkembangan teater dan seni pertunjukan di daerah masing-masing.  Setiap peserta mengutarakan hasil pembacaan serta pemetaan terhadap kondisi sosial, lingkungan, ekonomi, politik, dan kesenian yang ada di daerah masing-masing. Ada kekuatan serta kelemahan tersendiri yang terdapat di derah, yang kemudian melahirkan ide dan gagasan untuk penciptaan karya bersama.

Dari hasil pembacaan serta pemetaan di daerah pulau Sumatera. Agus Susilo selaku moderator diskusi dapat mengambil kesimpulan, bahwasanya sesuai dengan tema “Rekontruksi Esok dalam Tubuh Sumatera,” menurutnya  “Tubuh kita sudah banyak mengalami benturan-benturan,  seperti tubuh yang terkontaminasi oleh soal sosial, politik budaya, media, filsafat, lingkungan, sejarah kultural (bahasa, religi, dan tradisi-pen)”.

Lalu masing-masing peserta mengambil teks-teks material sebagai perwakilan dari berbagai persoalan. Hasan membawa teks closet, sebagai penanda ruang yang telah menembus dinding-dinding ruang privasi, melampuai ruang-ruang publik, sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Ruang-ruang itu menuritnya dikonsumsi sedemikian rupa melalui smartphone, gadjet, notebook, dan laptop dengan berbagai macam aplikasi yang ditawarkan. Dari ruang closet, tubuh-tubuh personal bisa saja masuk ke ruang pustaka, gelery, pasar, jalan raya, pantai, gunung, dan banyak ruang-ruang lainnya. Tubuh bahkan melintasi kota, provinsi, pulau, benua, segala sudut dunia, bahkan luar angkasa.

Saya, Siska Aprisia mencoba menawarkan teks ayunan bayi. Lewat teks ini,  saya ingin menyampaikan tentang bagaimana proses tubuh manusia ketika mendapatkan kenyamanan menjelang terlelap dalam tidur.  Teks ayunan ini juga yang kemudian membuat tubuh, menurut saa, terlalu berlama-lama nyaman dalam kelelapannya. Akibatnya, tubuh menjadi malas untuk bangkit, bergerak, dan bahkan berempati pada lingkungan dan sesama.

Sedangkan Lukman mengambil teks cat, untuk mencoba menggambarkan keberagaman penduduk kota Medan dengan berbagai budaya , suku, dan agama. Husin, lalu ingin mengangkat teks masker, sebagai ungkapan tubuh yang sudah tidak lagi mendapatkan udara yang baik. Teks masker ini muncul, disebabkan oleh persoalan lingkungan yang sudah semakin rusak. Terlebih lagi di tempat asalnya Husin, di mana selalu terjadi pembakaran hutan yang kemudian berganti dengan kebun-kebun sawit.

Dari empat teks material yang ditawarkan itu: closet, ayunan, cat, dan masker, dengan segala kemajemukan tafsirnya, forum diskusi kenudian menyepakati judul karya Batas. Pemberian judul Batas ini, mencoba untuk menginterpretasikan dinding-dinding imajiner, perihal sekat dan tanpa sekat. Menurut kami, segala ruang kini sudah demikian mudah tampak dengan jelas, semua pandangan telah dapat menembus dinding-dinding pembatas. Akibatnya, jauh tampak dekat dan dekat tampak jauh.

Pada dua hari kemudian (3 dan 4/10/2016), diskusi terus berjalan untuk memantapkan proses latihan, pengaplikasikan ide dan gagasan, penyusunan metode penciptaan, dan perancangan capaian akhir yang ingin dihasilkan. Dari proses latihan yang dijalankan, penciptaan karya bersama Batas ini ternyata harus mengalami perubahan dan bongkar pasang pada teks, plot/alur, penokohan, dan bahkan pilihan tempat pertunjukan. Tempat pertunjukan yang awalnya disepakati di dalam gedung pertunjukan, kemudian berubah menjadi di luar gedung. Kami menggunakan tempat penonton sebagai stage. Di sisi lain, kami kemudian menyepakati bahwa karya bersama ini diciptakan tanpa sutradara. Setiap peserta harus memberikan masukan dan saran terhadap peserta yang lainnya dalam mengolah tubuh dan teks.

Medan Contemporary Art Festival (MCAF) #3-teraSeni
.Hasan, Husin, Rasyidin Wig Maru,
Siska Aprisia , Agus Susilo, dan Lukman Hakim,
dalam karya berjudul Batas,
Medan Contemporary Art Festival (MCAF) #3

  
Perubahan kemudian terjadi pada berbagai teks.  Ayunan yang saya tawarkan, misalnya, kemudian dimaknai sebagai tempat tidur. Wujud ayunan bahkan kemudian berganti dengan terpal putih berukuran tiga kali delapan meter. Sementara itu secara plot/alur, kami menempatkan bahwa saya adalah satu-satunya penampil perempuan. Karena itu saya lalu ditempatkan untuk muncul pada adegan awal. Saya disepakati akan mengerakkan tubuh-tubuh Sumatera melalui basis tarian yang ada di setiap daerah di Sumatera. Saya mewujudkannya dengan bergerak secara tak beraturan, dari gerak tortor yang tiba-tiba dapat menjadi semacam gerak zapin, kemudian beralih menjadi ulu ambek. Intinya, seluruh gerak tarian tradisi Sumatera bercampur menjadi satu dalam gerakan saya.
 
Sementara itu, lima orang laki-laki yang telah on stage di awal, dengan berbagai macam posisi tertidur bergerak setelah terdengar bunyi detak jantung. Tubuh-tubuh itu bergerak mengikuti bunyi detak jantung, namun tiba-tiba tak beraturan, menjadi tubuh-tubuh yang sakit, terkontaminasi, bahkan telah terdistorsi. Kemudian kelima tubuh laki-laki itu bergerak menuju barisan penonton yang lebih tinggi. Di perjalanan tubuh-tubuh itu menjadi labil, paradoks, timpang, meskipun tubuh-tubuh itu tetap bergerak secara ril. Tidak lama berselang, tubuh-tubuh itu kemudian mengeksplor closet dengan berbagai macam gerak, berbagai aktifitas yang bisa dilakukan di closet. Sesuai kenyataannya kini, di closet tubuh-tubuh itu dengan bebas mengakses internet, chatting, video call, foto selfie, bermain game, dan nonton. Di closet pula, tubuh-tubuh itu minum, makan, berhubungan sex dan lain sebagainya.

Setelah melakukan banyak aktifitas, tiba-tiba seorang laki-laki mengenakan kepala anjing, kemudian menggonggong yang diikuti laki-laki lain yang bergerak menyerupai anjing. Laki-laki yang mengenakan kepala anjing tetap bergerak seperti manusia biasanya. Setelah itu, saya, tokoh perempuan disekap, ditutupi matanya oleh para anjing. Keempat para anjing mengangkat closed menuju terpal, lalu menurunkannya tepat di tengah terpal. Kemudian mempersilahkan laki-laki yang mengenakan kepala anjing duduk, bagaikan sang raja yang dikawal oleh para anjing. Di sanalah adegan diakhiri.

Dari hasil proses karya bersama, panitia kemudian mengundang pengamat untuk membaca proses atau bentuk yang telah dihasilkan. Hari keempat proses karya bersama ini mendapat pembacaan dari Forman (Teater Q). Beliau menyarankan agar perlunya transisi untuk menjadi utuh, dan konsen pada tubuh. Kemudian pengamat kedua, Ayub (aktor senior), mengkritisi bahwa dinamika tubuh masih belum terlihat. Di hari kelima, panitia mendatangkan satu orang pengamat lagi, sekaligus pengamat terakhir pada pada proses karya bersama ini. Yondik (sutradara teater) mengatakan bahwa di awal adegan, karya ini sangat menarik. Namun terputus, karena tidak ada korelasi dan tubuh-tubuh personal sepertinya hanya mengejar bentuk. Dari pembacaan oleh pengamat, menjadi bahan evaluasi dan perbaikan oleh peserta.

Kemudian sampailah pada gelar karya bersama yang dipresentasikan pada hari sabtu (8/10), sore pukul 15.00 wib dan malam hari 20.00 wib. Sore hari gelar karya diapresiasi oleh pelajar, sedangkan pada malam harinya diapresiasi oleh kalangan umum, mahasiswa, seniman, dan budayawan. Pada malam harinya, presentasi karya bersama ini berbeda dengan penampilan di sore hari. Pada malam hari, tokoh laki-laki disirami cat dengan berbagai macam warna, sedangkan disore harinya tokoh laki-laki telah mencat tubuhnya sebelum on stage di atas terpal.

Dari presentasi karya bersama yang diberi judul Batas, pada event MCAF #3 dengan tema Rekonstruksi Esok dalam Tubuh Sumatera ini, saya mengambil beberapa pembelajaran dan kesimpulan, terutama dari hasil diskusi dan komentar dari para apresiator. Pelajaran itu diantaranya ialah bahwasanya  proses karya bersama ini masih merupakan bentuk kecil atau sebagai embrio dari proses karya bersama para penggiat teater Sumatera. Disadari, bahwa kekuatan aktor-aktor yang berasal dari berbagai daerahnya masing-masingnya belum terlihat secara maksimal dalam karya ini. Meskipun begitu, proses karya bersama ini setidaknya telah dapat berjalan lancar dan membangun solidaritas yang baik dan menyenangkan. Kami sadari pula secara bersama, bahwasanya karya bersama ini belumlah usai.

Duel Karya Tari Tonggak Raso dan tra.jec.to.ry : Merajut Identitas Timur

Kamis, 13 Oktober 2016 | teraSeni~

Cuaca kurang bersahabat sedari sore, sampai malam di hari Jum’at 12 Agustus 2016. Hujan deras, ditambah tiupan angin terasa mengkerutkan setiap tulang persendian di kota dingin Padangpanjang. Namun,  masyarakat seni pertunjukan Sumatera Barat, khususnya ISI Padangpanjang dihangatkan oleh dua nomor pertunjukan tari kontemporer yang berjudul Tonggak Raso karya koreografer Ali Sukri (Sukri Dance Theatre-Padangpanjang, Sumatera Barat) dan tra.jec.to.ry karya koreografer Eko Supriyanto (EkosDance Company-Solo, Jawa Tengah).

Tari tra.jec.to.ry karya koreografer Eko Supriyanto - teraSeni
Tari tra.jec.to.ry
karya koreografer Eko Supriyanto
(Ekos Dance Company-Solo, Jawa Tengah).
(Foto: Denny Cidaik, 2016)

Dua nomor karya ini ditampilkan di Gedung Hoerijah Adam ISI Padangpanjang. Pertunjukan ini sendiri terselenggara melalui kerjasama dengan lembaga penyelenggara pertunjukan antara lain ISI Padangpanjang-Sumatera Barat, Taman Budaya Jawa Tengah-Surakarta, Universitas Muria Kudus-Jawa Tengah, dan NuArt Sculpture, Bandung-Jawa Barat. Juga, didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Bakti Budaya Djarum Foundation.
   

Terdapat tiga hal menarik dari kegiatan pertunjukan yang dilakukan Ali Sukri dan Eko Supriyanto ini, yaitu: (1) gagasan yang bertolak pada kekuatan silat tradisional yang terdapat di Minangkabau dan Jawa; (2) kekuatan di dalam melakukan ekplorasi, elaborasi terhadap motivasi gerak tubuh, ruang dan properti; dan (3) kualitas karya yang mampu membaca strategi terhadap kebutuhan pasar tari kontemporer Internasional. Kebutuhan ini, mengutamakan kekuatan visual-artisitik melalui pengolahan spektakel yang memukau, estetis, bahkan eksotis.

Secara teknis, Ali Sukri dan Eko Supriyanto sebagai koreografer sangat peka di dalam mentransformasikan gagasan tubuh-nya kepada masing-masing penari. Sehingga, semua penari yang terlibat di dalam karya  Tonggak Raso dan tra.jec.to.ry secara teknis, memiliki penguasaan atas tubuhnya sendiri. Sebagai penonton, saya melihat ada kekuatan yang sama, dilakukan oleh para penari Tonggak Raso dan tra.jec.to.ry. Kesamaan tersebut terlihat melalui fleksibelitas tubuh, ketajaman gerak, motivasi gerak, kekuatan pada kuda-kuda kaki, termasuk pada aspek akrobatik yang menarik perhatian penonton.

Penguasaan ruang, menjadi pondasi dasar koreografi di dalam karya Tonggak Raso dan tra.jec.to.ry. Sehingga, karya ini melahirkan bentuk dan gaya yang berbeda. Karya tra.jec.to.ry dominan memanfaatkan floor plan horizontal, tetapi karya Tonggak Raso justru mengeksplorasi ruang secara vertikal dan horizontal. Pola rampak terlihat dominan di dalam karya Tonggak Raso dan tra.jec.to.ry. Hampir secara keseluruhan, dua karya ini menggunakan motivasi gerak yang rampak, rapih, teratur sehingga minim sekali pola gerak personal, maupun gerak improvisasi.

Karya tra.jec.to.ry terlihat menggunakan properti yang minimalis yaitu kain. Sementara, karya Tonggak Raso terlihat dominan memanfaatkan enam buah properti berupa cermin yang dikonstruksi dalam berbagai komposisi, mencipta berbagai kolase peristiwa di atas panggung. Secara konseptual, karya tari Tonggak Raso dan tra.jec.to.ry tidak hanya sekedar mengekspose, bahkan mengkomparasikan primordialisme gerak silat dari masing-masing kebudayaan (Minang dan Jawa).

Namun, terdapat hal yang paling signifikan di dalamnya, yaitu membendung
derasnya laju kebudayaan kita (Timur), secara sadar–atau tidak, telah
bertransformasi kepada gaya hidup (life style) manusia urban yang cenderung individual, konsumeristik dan hedonistik. Situasi serupa itu, tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan saja,
tetapi generasi muda di pedesaaan mayoritas sudah ‘berlagak’ layaknya
seperti orang-orang kota. Era Milenium yang niscaya atas
industrialisasi, liberalisasi, teknologi-informasi yang bersumber pada
kebudayaan luar (Barat-Eropa), telah merubah pola pikir, prilaku
generasi muda saat ini. Barangkali, inilah mengapa di dalam karya tari
Tonggak Raso mengedepankan penting-nya sebuah tiang penyangga, sehingga
kebudayaan timur-nusantara tidak terjebak pada manipulasi kebudayaan
Barat atau Eropa. Bukan berarti menolak, tetapi harus ada filter di
dalamnya.

Tari Tonggak Raso karya koreografer Ali Sukri - teraSeni
Tari Tonggak Raso 
karya koreografer Ali Sukri
(Sukri Dance Theatre-Padangpanjang, Sumatera Barat)
(Foto: Denny Cidaik, 2016) 

Begitu juga, karya tari tra.jec.to.ry memberikan pemahaman tentang lintasan atau arah yang ingin dituju manusia di dalam mencapai sasaran kehidupan. Teknik muncul penari, di awal pertunjukan yang melakukan teknik rolling ke depan mengitari area panggung sebagai penanda terhadap lintasan atau arah kehidupan yang repetitif, tidak jelas, bahkan absurd, belum mencapai sasaran yang diinginkan. Barangkali, begitu yang ingin disampaikan Eko Supriyanto (Eko Pece) di dalam karya tra.jec.to.ry-nya.

Barangkali, ini hanyalah tafsir atas amatan saya terhadap dua karya tari Tonggak Raso dan tra.jec.to.ry ini. Karena kebenaran sebuah karya seni, sejatinya adalah milik masyarakat penonton-nya. Dua karya ini, memiliki benang merah yang sama dalam merespons persoalan realitas-sosial. Begitu banyak persoalan yang ‘blunder’ dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini. Maka, dibutuhkan perisai kebudayaan untuk menjaga kedaulatan, integritas, yang mampu ‘membalut’ tubuh kebudayaan kita, mampu ‘bercermin’ mencermati eksistensi kebudayaan kita, dan mampu mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik kebudayaan kita, atau apa sebenarnya? Agar kita tidak menjadi republik ‘blunder’.

Sesi pertunjukan di Padangpanjang, memang telah usai. Namun, perisai kebudayaan ini terus berlanjut di Taman Budaya Jawa Tengah-Surakarta (tanggal 06 September 2016), Universitas Muria Kudus-Jawa Tengah (tanggal 08 September 2016), dan NuArt Sculpture Park, Bandung-Jawa Barat (tanggal 10 September 2016). Semoga, dalam pertunjukan selanjutnya-masih menjaga, apa yang seharusnya kita jaga!

Pernah Dimuat di Harian Padang Ekspres Edisi Minggu 21 Agustus 2016

Pameran Fotografi Pertunjukan Imaginari: Melukis Tari dengan Cahaya

Rabu, 11 Oktober 2016 | teraSeni~

“Dance is in the air, it’s just in the air…” 

Ujaran Annie Leobovitz, seorang fotografer legendaris Amerika di atas menjelaskan betapa sulitnya mengabadikan momen pertunjukan tari ke dalam karya fotografi.  Tari adalah pertunjukan yang bersifat sesaat (ephemeral). Sekali dipergelarkan, tidak dapat lagi dihentikan, kemudian menghilang dalam sekejap tanpa bisa diulang kembali. Barangkali karena itulah pencatatan mengenai tari sangat sedikit, berbanding terbalik dengan banyaknya karya yang dipergelarkan.

Fotografi Pertunjukan Imaginari - teraSeni
Suasana Pameran Imajinari
di Pendhapa Art Space, Yogyakarta

Namun di Pendhapa Art Space, 24-30 September 2016 lalu berlangsung sebuah pameran fotografi pertunjukan, yang mencoba mengabadikan tari ke dalam karya fotografi, dengan tema yang cukup menarik, Imajinari. Sekilas mirip dengan kata imaginary dalam bahasa Inggris. Imajinari sendiri adalah permainan dua kata yang memiliki kemiripan bunyi (homophonic), imaji dan nari, yang dapat diartikan gambar atau foto yang menampilkan visual kegiatan menari.

Pameran menampilkan sejumlah karya pilihan dari tiga fotografer Yogjakarta: Erick Ardianto Wibowo, Erwin Octavianto, dan Nanang Setiawan. Menurut kurator pameran yang juga dosen fotografi di Institut Seni Indonesia Surakarta, mas Setyo Bagus Wakito, ketiga fotografer dipertemukan karena memiliki kecintaan yang sama pada dunia fotografi dan seni pertunjukan. Dari karya-karya foto mereka, kita dapat melihat perjuangan fotografer dalam mengabadikan pertunjukan demi pertunjukan, mengakali pencahayaan dan menjadikannya sebuah keuntungan atau kekuatan yang memiliki nilai estetis.

Tentang Fotografi Pertunjukan
 Tanpa bermaksud mendefinisikan apa itu fotografi pertunjukan, ada baiknya berbagi sedikit informasi dari sesi diskusi (27/09/16) sebagai bagian dari pameran Imajinari yang menghadirkan ketiga fotografer plus kurator yang malam itu bertindak sebagai moderator. Fotografi atau photography berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu photos (cahaya) dan grafo (melukis), yang kemudian diartikan sebagai seni melukis dengan menggunakan media cahaya. Fotografi pertunjukan merupakan genre baru dalam dunia fotografi, yang jelas berbeda dari fotografi pada umumnya karena pertunjukan sebenarnya tidak dirancang untuk pemotretan, tetapi sebagai tontonan (spectacle).

Salah Satu tangkapan Kamera
Atas Pertunjukan Tari

Pada awalnya fotografi hanya dipakai untuk kebutuhan dokumentasi atau peliputan untuk kebutuhan pemberitaan. Namun dalam perkembangannya, fotografi pertunjukan muncul sebagai sebuah passion baru yang hanya dimiliki oleh segelintir fotografer yang tidak saja memiliki kecintaan terhadap seni fotografi tetapi juga memiliki apresiasi yang bagus terhadap pertunjukan. Karena itu seorang fotografer pertunjukan tidak saja dituntut memiliki kemampuan teknis yang mumpuni, tetapi juga memiliki kepekaan, kesabaran, dan jam terbang yang tinggi dalam mengamati pertunjukan. Jejak rekam itulah yang tergambar dalam gelaran karya-karya ketiga fotografer yang mampu menghadirkan sisi lain dari pertunjukan tari yang memiliki daya pikat tersendiri.

Melukis Tari Dengan Cahaya
Pameran imajinari membawa kita melihat tari dengan cara yang berbeda. Ketiga fotografer mencoba melukis pertunjukan tari yang moving dengan menggunakan media cahaya ke dalam frame fotografi yang bersifat statis. Erwin Octavianto, fotografer yang juga dijuluki ‘sang maestro’ karena karya-karyanya yang menjadi referensi banyak koreografer, berusaha menangkap dinamisasi gerak tari ke dalam karya foto yang terasa hidup dengan menggunakan teknik slow action dan freeze (stop action). Eksperimen itu menghasilkan karya-karya foto yang seperti memiliki nyawa. Dalam salah satu karyanya, I wanna fly away…so high, tubuh-tubuh penari terlihat seperti berkejaran dalam kelebat bayangan, menciptakan imaji tubuh yang dinamis. Kita seperti dapat merasakan energi yang mengalir dari kelebatan tubuh-tubuh penari. Erwin juga mengkontraskan antara tubuh statis dan tubuh yang seakan bergerak sehingga ia berhasil menghadirkan esensi tari sebagai the art of moving.

Sedangkan Erick Ardianto, fotografer muda yang dikenal konsisten memotret seni tradisi, mengabadikan aspek lain dari pertunjukan tari, yakni detail riasan dan kostum penari tradisi sebagai elemen dekoratif pertunjukan yang langsung menarik perhatian. Dalam karya-karyanya, Erwin seperti ingin mengajak penikmat pameran untuk mengapresiasi betapa anggunnya penari klasik dengan kostum berwarna keemasan berpadu dengan rangkaian aksesoris berkilauan dan detail riasan yang menambah kesan keindahan dan kemewahan; atau harmonisasi warna dan desain kostum yang dipakai oleh penari tradisi.  Erick juga berhasil menangkap momen-momen dramatik yang membuat penari-penari dalam karya fotonya seperti tengah bercerita tentang tarian yang dipertunjukkan.

Nanang Setiawan, sebaliknya memiliki ketertarikan khusus terhadap formasi-formasi unik pola lantai dan desain gerak, serta ekspresi simbolik dalam pertunjukan tari. Formasi tersebut terlihat dari garis-garis tubuh penari yang membentuk desain-desain tertentu baik vertikal ataupun horizontal yang memiliki makna simbolik. Kita dapat merasakan kesakralan sebuah prosesi ritual dari kejelian Nanang menangkap momen arak-arakan yang memperlihatkan tubuh-tubuh penari yang berjejeran lengkap dengan atribut upacara yang menyertai, atau formasi unik tubuh penari dengan gerak kaki dan tangan yang rampak membentuk pola simbolik  tertentu.

Komentar Akhir
Pameran Imajinari menghadirkan tontonan baru dengan daya pukau yang tak kalah menarik dari pertunjukan tari yang sesungguhnya. Ketiga fotografer dengan perspektif yang berbeda, berhasil memindahkan tari dari realitas panggung ke dalam karya fotografi, tanpa kehilangan ruh dari pertunjukan tari itu sendiri. Karya-karya mereka berhasil mengabadikan  serangkaian momen berharga dari pertunjukan tari yang luput dari pengamatan. Sebagai sebuah tren baru, pameran yang mengangkat tema yang cukup langka ini  pantas diapresiasi. Masuknya fotografi ke dalam ranah seni pertunjukan merupakan perkembangan yang menggembirakan dalam perspektif keilmuan yang makin interdisiplin. Fotografi pertunjukan memperkaya apresiasi  terhadap seni pertunjukan, khususnya dalam mengisi kelangkaan pencatatan tari yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh kalangan kritikus tari. Medium foto menjadi alternatif baru yang menjanjikan.

Meski demikian, pameran Imajinari, menyisakan banyak hal yang perlu dijelajahi lebih jauh lagi oleh kalangan fotografer pertunjukan. Fotografi pertunjukan dalam Imajinari masih terfokus pada pandangan klasik mengenai pertunjukan sebagai  yang tergelar di front stage yang memang dikemas artistik, mulai dari pencahayaan dan tata panggung yang mendukung.  Realitas di belakang panggung (back stage) sebetulnya juga bagian dari pertunjukan yang menarik diabadikan namun tidak mendapat perhatian sama sekali.

Sementara itu, pertunjukan tari sendiri kini mulai ditarik dari panggung pertunjukan ke ruang-ruang publik yang  site specific, seperti pertunjukan tari di tengah pasar, bangunan candi, museum, atau jalanan dengan realitas pertunjukan yang lebih kompleks lagi. Belum lagi pertunjukan ritual adat dan berbagai jenis permainan rakyat dalam bentuk tarian, teater, dan musik sebagai pertunjukan yang kurang mendapat apresiasi yang layak sebagaimana pertunjukan yang ditampilkan di gedung-gedung pertunjukan. Bahkan Pertunjukan seperti dikutip dari Richard Schechner memiliki spektrum yang sangat luas meliputi banyak hal dari seremonial, ritual, teater, permainan, olah raga, serta daily performance, yang tidak lagi memandang pertunjukan sebagai teks yang tergelar tetapi pertunjukan sebagai sebuah peristiwa yang melibatkan interaksi timbal balik diantara performer dan  penonton yang partisipatif. Dengan demikian eksplorasi terhadap fotografi pertunjukan tentu akan jauh lebih menarik.

Yogyakarta, 28 September 2016

     

Mahabharata Koike: Perang Kurusetra dalam ‘Tarian Kematian’ yang Memukau

Selasa, 4 Oktober 2016 | teraSeni~

Pertikaian antara Kurawa dan Pandawa, memang menjadi epos menarik yang tidak habis ditafsirkan. Malam itu (24/9) di Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta, alih-alih menceritakan ulang cerita panjang kehidupan kerajaan Hastinapura, sang sutradara menempatkan fragmen perang sebagai sajian pertunjukan yang digelar di Indonesia. Kendati cerita yang diangkat tidak asing untuk para penonton—baik mengetahui dari cerita pewayangan ataupun TV series India setahun silam—, sebagai gantinya pertunjukan malam itu dikemas berbeda, baik dari segi artistik, estetik, ataupun tafsir cerita. Akhirnya, sebuah sajian pertunjukan hasil kolaborasi antar negara dan budaya telah berhasil memberikan pengalaman visual baru yang tidak hanya memanjakan mata namun turut tersemat pesan reflektif untuk para penonton.

mahabharata-Hiroshi Koike-teraSeni
Adegan Bisma terbunuh dalam
perang Kurusetra oleh Panah Arjuna,
dalam Mahabharata Part 3: Kurusetra War,
karya Hiroshi Koike
(Foto:www.facebook.com/koikemahabharatapart3)

Memukau memang kata yang tepat untuk mewakili impresi penonton setelah menyaksikan pertunjukan bertajuk Mahabharata Part 3: Kurusetra War, karya Hiroshi Koike dengan Hiroshi Koike Bridge Project (HKBP)-nya. Setelah dipentaskan di Kamboja (2013), India (2014), Jepang (2015), dan akan dihelat di Thailand (2017), Malaysia (2018), India (2019), dan keliling dunia (2020), proyek kolaborasi ini memang terbukti menjadi ruang penciptaan karya dengan basis antar budaya. Alih-alih Koike membawa adegan terstruktur untuk pertunjukan sehingga hanya dimainkan di kota tujuan, Koike justru merangkai kultur setempat untuk menjadi bagian di dalam setiap karyanya.

Di Indonesia, proyek ini bekerjasama dengan Teater Garasi dan Yayasan Kelola, dengan menampilkan sembilan seniman lintas negara, a.l: Indonesia (Gunawan Maryanto, Riyo Pernando, Sandhidea Narpati, Suryo Pranomo dan Wangi Indriya), Filipina (Carlon Matobato), Malaysia (LEE Swee Keong), dan Jepang (Koyano Tetsuro dan Shirai Sachijo). Dari perbedaan tersebut, alih-alih satu budaya mendominasi budaya lainnya, kolaborasi antar budaya ini justru terjalin dengan akrab nan harmonis. Dialog antar bahasa—bahasa Inggris, Melayu, Jepang, Filipina, Indonesia, bahkan turut dibagi lagi menjadi bahasa Sunda, serta bahasa Jawa dengan beragam dialeknya—yang diawal sempat mengganggu justru perlahan menjadi daya pesona dan membuat pertunjukan semakin variatif. Bahasa asing pun turut diterjemahkan dan dipancarkan pada dua sisi dinding yang berbeda, sehingga membuat pertunjukan berjalan khusyuk.

mahabharata-Hiroshi Koike-teraSeni
Adegan Pertempuran di Medan Perang Kurusetra
dalam Mahabharata Part 3: Kurusetra War
karya Hiroshi Koike
(Foto:www.facebook.com/koikemahabharatapart3)

Tidak hanya melakukan percakapan, keberagaman bahasa ini justru dieksplorasi pada bentuk yang lebih luas, yakni: dengan nyanyian, baik yang sifatnya kolektif dan bersamaan, hingga yang personal dan bergantian: nge-rap, serta eksplorasi kultural: nyinden. Hasilnya, pertunjukan semakin beragam dan terasa dekat dengan kultur penonton Indonesia. Terkait kultur Jawa, pertunjukan malam itu turut menautkan kebiasaan penonton akan adegan goro-goro dalam pewayangan lazimnya. Alhasil ketika adegan perang berlangsung, Gunawan Maryanto melakukan perbincangan jenaka dengan para penonton khayalnya adegan goro-goro. Selain berfungsi sebagai penanda akan adanya perang yang lebih besar, kemunculan Gunawan membuat alur cerita yang melulu soal perang menjadi tidak membosankan.

Tidak hanya menampilkan adegan perang semata, Koike turut mempertunjukkan beberapa dialog yang dirasa penting, seperti: ketika Drupadi dipermalukan oleh Kurawa; pernikahan Abimanyu dan Utari; negosiasi Arjuna, Duryudana, dan Krisna; hingga pertemuan Dewi Kunti dan Karna sebelum perang. Disusun dengan alur maju mundur, pertunjukan tidak terasa menjemukan, terlebih dengan beragam artistik unik yang sederhana, namun terlihat elegan. Pemilihan warna dan simbol akan artistik pun semakin memanjakan mata ketika bermandikan cahaya. Seperti ketika adegan flashback, di mana penggunaan dua kain panjang yang membujur dan berombak, layaknya tanda akan imajinasi sangat tepat mewakili. Tidak hanya itu, penggunaan topeng dalam beberapa karakter membuat sembilan penampil berlipat ganda di panggung pertunjukan.

mahabharata-Hiroshi Koike-teraSeni
Strategi Visual dalam kesatuan artistik Mahabharata Part 3: Kurusetra War
karya Hiroshi Koike
(Foto:www.facebook.com/koikemahabharatapart3)

Selain pada artistik dan alur, perhatian turut tertuju pada gerak para pemain. Gerak kolektif yang seragam, dengan gerak yang tidak biasa, seperti ketika berperang, mereka memeragakan gerak menaiki kuda secara seragam dan serentak. Belum lagi ketika Kurawa dan Pandawa berperang, di mana kedua pasukan saling-silang melakukan gerakan bersiap menyerang satu sama lain secara serempak. Dalam adegan perkelahian pun banyak gerak yang terdistorsi layaknya adu fisik, seperti adegan berkelahi satu lawan satu antara Arjuna dan pasukan Duryudana; dan gerak perang yang distilisasi dengan kosagerak tari, seperti ketika Arjuna beradu-panah dengan Bisma. Terkait gerak tari, Koike memang mengkonotasikan perang sebagai tari kematian, sehingga rasanya tepat jika gerak tari berkelindan banyak di pertunjukan tersebut. Pada sisi suara, selain terdapat produksi suara dari para penampil, turut banyak diciptakan alunan bunyi yang dramatis menunjukan pelbagai adegan penting, seperti ketika Arjuna meniup sangkala (terompet kerang), hingga seruling bambu Jepang menandakan di tiap bagian flashback. Komposisi suara yang tercipta berjalan selaras selama pertunjukan berlangsung.

Bertolak dari karya yang bersumber dari epos Mahabharata, pergelaran malam itu tidak hanya mempertunjukan praktik teater semata, namun turut berkelindan pelbagai aspek seni lainnya, seperti: tari, musik, seni rupa, juga sastra. Walau tanpa celah, harapannya, semoga pertunjukan seni lintas disiplin yang memukau secara visual dan suara tidak hanya melenakan semata, namun pesan dari cerita dapat tetap tersampaikan. Di mana perang bukan soal menang atau kalah, namun tentang korban manusia yang berjatuhan. Hal yang masih sangat lumrah terjadi, tidak hanya di Indonesia namun di pelbagai bagian dunia lainnya. Alhasil agaknya tepat gambaran Koike di awal dan akhir pertunjukan, bahwa jangan-jangan manusia tidak lebih beradab dari sekumpulan primata yang ribut hanya karena berebut pangan.[]