Pilih Laman

Pertunjukan Fabriek Fikr 2; Mesin Pabrik Mati yang Kini Kembali ‘Menari’

Senin, 5 Desember 2016 | teraSeni~

Paska menurunnya hasil produksi dan ketersediaan lahan tebu, tepatnya pada puncak krisis moneter 1997-1998, pabrik gula Colomadu, Karanganyar berhenti beroperasi. Bangunan tua, gagah, nan besar tersebut mangkrak ditinggalkan pemodal dan pekerja begitu saja. Kini pabrik gula yang dibuat sejak tahun 1861 tersebut hanya menjadi bangunan tidak berpenghuni, yang kian ditinggalkan. Namun nasib naas tersebut seakan berubah seketika dengan kedatangan seorang seniman tari senior, Sardono W. Kusumo, yang hadir untuk ‘menghidupkan kembali’ pabrik gula tersebut dengan cara yang berbeda.

Sejak setahun silam, Sardono menggunakan kembali pabrik gula Colomadu, alih-alih difungsikan kembali seperti sedia kala, pabrik gula tersebut justru disulap menjadi arena pertunjukan. Hal ini cukup menarik, terlebih pemanfaatan ruang dan menggunakannya sebagai arena pertunjukan memang tidak lazim bagi seni pertunjukan Indonesia ‘modern’ yang kerap menggunakan panggung dan proscenium. Sebuah upaya melawan konvensi pertunjukan yang kerap mengukung ide dan imajinasi akan tempat pertunjukan. Selain itu, tidak hanya menempatkan pabrik gula Colomadu sebagai ruang pertunjukan semata, Sadrdono dkk turut merespon pelbagai mesin yang teronggok dan menjadikannya sebagai bagian dari pertunjukan.

Pertunjukan Fabriek Fikr 2, Sardono W Kusumo-teraSeni
Mesin-mesin yang tak lagi terpakai,
menjadi Ruang Pertunjukan
dalam Fabriek Fikr 2,
Karya Sardono W Kusumo

Sekiranya hal itulah yang dapat penonton rasakan ketika datang menyaksikan pertunjukan Fabriek Fikr. Serupa dengan tahun lalu, pertunjukan tersebut hanya ditampilkan di dua hari saja, dan lazimnya dihelat pada pertengahan bulan November—tahun ini dihelat pada 19 dan 20 November 2016. Untuk pertunjukan kali kedua ini, Fabriek Fikr mengusung Expanded Performance sebagai tajuk utama yang membingkai keseluruhan pertunjukan. Sebagaimana expanded adalah meluaskan, pertunjukan ini mengajak para penonton untuk membuka cakrawala imajinasi sebebas-bebasnya ketika menyaksikan pertunjukan.

Ketika Mesin Pabrik ‘Menari’
Sore menjelang petang (20/11), para penonton diarahkan berjalan memasuki pabrik gula Colomadu yang sudah tidak lagi digunakan. Diarahkan untuk berjalan ke area dalam pabrik, penonton memang dibiarkan melihat pelbagai mesin yang teronggok dan tidak lagi difungsikan. Sesampainya di area dalam, terdapat sebuah demo memasak dari teman-teman Papua yang interaktif. Dalam sesi di awal ini, mereka ingin memperlihatkan tingkat adaptasi dalam menyiasati pahitnya kehidupan di kota lain. Tidak dikondisikan khayalnya para chef yang berkontestasi di televisi dengan segala peralatan dan busana lengkap, para teman-teman Papua memasak dengan cara mereka sendiri. Diberikan tajuk Papua Kuliner, aktivitas yang mereka lakukan dirasa cukup unik, terlebih prosesi memasak hingga memakannya tidak akrab dalam sebuah perhelatan berbingkai seni pertunjukan.

Setelahnya perhatian penonton diarahkan pada panggung di antara mesin-mesin mangkrak. Beberapa penari perempuan dengan tatapan ‘kosong’ mulai memasuki dengan perlahan. Tidak menari dengan ragam dan koreografi yang serentak, para penari merespon segala sesuatunya secara personal. Alih-alih pertunjukan menampilkan sajian tari lazimnya, sebuah painting performance disajikan di atas panggung setelah para penonton dibuat cukup ‘kenyang’ dengan hindangan dari aktivitas masak-memasak sebelumnya.

Pertunjukan Fabriek Fikr 2, Sardono W Kusumo-teraSeni
Para performer di antara mesin-mesin tua,
dalam Fabriek Fikr 2,
Karya Sardono W Kusumo

Painting Performance sebagaimana sebuah peristiwa seni yang membaurkan disiplin seni tari dan seni rupa memang kerap menjadi aktivitas kekaryaan Sardono dalam beberapa pertunjukan terakhirnya. Lantas mereka merespon kanvas yang telah tersedia dengan beragam gerak yang tidak terkira. Meraih cat dan menggoreskannya ke kanvas tanpa ancang-ancang tidak seperti yang dilakukan para pelukis terkemuka. Bahkan mereka berguling, merangkak, dan menggeliat, yang bukan sebuah kebiasaan dari para pelukis dalam membuat karya.

Namun hal ini lah yang kian menarik, di mana perpaduan antar bidang terjadi, namun hal yang ditakutkan lazimnya adalah tenggelamnya tubuh dengan pelbagai wacana dan properti (artistik), dalam pertunjukan ini tubuh tari tetap menjadi media utama dalam perkelindanan dari pelbagai bidang tersebut. Berbeda di dua hari pertunjukan, pada hari pertama Sardono turut tampil dalam sesi painting performance. Sebagaimana Sardono telah menekuni pertunjukan dengan gaya tersebut beberapa waktu lampau, maka ekspresi dan gekstur Sardono terasa sangat menjiwai, sederhana, dan tidak berlebihan. Sedangkan pada hari kedua, Sardono justru memilih untuk menyaksikan Painting Performance dari bangku penonton.

Tidak lama berselang, seorang laki-laki berjanggut—yang adalah Tony Broer—memecah perhatian di atas panggung dengan berdiri menatap di antara aktivitas painting performance. Setelahnya ia turun panggung dan memanggul seng berjalan memalang di antara penonton bersama lima laki-laki dengan wajah terperban. Memecah perhatian, seakan mengajak penonton untuk memalingkan perhatian ke arah mereka. Lalu mereka terhenti pada sebuah pelataran memanjang dengan beberapa kemah dan pakaian terjemur di antara bilah-bilah tiang pabrik. Pada Fabriek Fikir kali kedua ini Tony memang cukup mengagetkan dengan keinginannya mendirikan sebuah tenda yang akan ia tinggali semalam sebelum pertunjukan dihelat.

Tentu pilihan Tony untuk berkemah di pabrik gula yang tidak berpenghuni adalah ide yang ‘gila’, namun di sinilah yang menarik dari Tony Broer, di mana ia berupaya mengenali dan mencari sari atas tempat secara lebih mendalam. Alhasil pilihan berkemah untuk merasakan pengalaman yang ‘lebih’ bersama bangunan mangkrak tersebut lebih terjalin. Proses keterjalinan itu lantas Tony wujudkan ketika sesi pertunjukannya. Ia banyak melakukan aktivitas untuk menciptakan suara-suara dengan seng; menatap tajam ke arah penonton; bermain dengan keseimbangan dari beberapa penampil berperban. Setelah beberapa menit berselang, seorang perempuan berbusana merah terang membelah penonton. Ia berjalan perlahan menatap tajam ke arah Tony dan penonton, dengan minim interaksi namun tersimpan ragam interpretasi.

Lantas para penonton teralihkan kembali, tersebar pada beberapa titik, yakni pada ruang panjang yang tersiar pertunjukan dan proses Sardono atas kekaryaan puluhan tahun silam. Dengan tajuk Expanded Cinema, Sardono sekaligus mempelihatkan fase retrospektif yang telah dilakukan setahun sebelumnya. Sedangkan di sisi ruang yang lain para penari papua turut melakukan tarian dan merespon pelbagai benda di sekitarnya.

Setelahnya penonton diajak kembali berjalan ke ruang depan, di sebuah ruang dengan roda-roda mesin yang cukup besar. Di perjalanan menuju ruang tersebut, para penonton kembali dialihkan kepada praktik Pantomime dari pantomim senior, Jemek Supardi. Kerap disebut sebagai Bapak Pantomim Indonesia, Jemek telah menarik perhatian dengan praktik-praktik pantomimnya yang tidak menghibur, namun turut merespon ruang pabrik.

Di ruang depan, seorang perempuan berhijab panjang dan bercadar dengan bentuk mata kearab-araban berdiri di depan sebuah pemutar musik layaknya disc jockey di club-club malam. Mulai memutar lagu-lagu electronic dance music, dengan alunan musik bertempo tetap dan cepat. Para penampil yang terdiri dari sesi Papua Kuliner, Tony Broer dkk, hingga Pantomime, turut serta dalam sesi tersebut. Yang menarik dalam sesi ini, di belakang arena pertunjukan turut tersiar sebuah proyektor yang menampilkan pelbagai film Charlie Chaplin versi hitam putih. Alih-alih hanya merespon bunyi, para penampil turut merespon ruang pabrik. Alhasil pelbagai gerak seperti bergoyang menikmati lagu secara personal, merayap dan memanjat pelbagai ruas roda, berjalan di antara mesin, berlari ke pelbagai sisi, tidaklah asing dilakukan dalam sesi ini.

Kendati terlihat layaknya improvisasi dalam merespon ruang, namun yang menarik dari sesi ini adalah eksplorasi para penampil. Di sini justru kita dapat melihat sejauh mana mereka dapat bersinergis dengan mesin yang telah mati, dan menghidupkannya kembali dengan cara yang berbeda. Bagi mereka yang dapat memberikan impresi bahwa mesin kembali hidup, maka penampil tersebut dapat dibilang baik. Dan beberapa penampil telah melakukan itu. Kendati tidak semua dapat mewujudkannya.

Pertunjukan Fabriek Fikr 2, Sardono W Kusumo-teraSeni
Salah satu adegan dalam
Pertunjukan Fabriek Fikr 2,
Karya Sardono W Kusumo

Setelahnya para penonton diarahkan untuk keluar dari gedung pabrik. Telah disediakan bangku bersaf dan berjejer dengan kuantitas yang cukup banyak, para penonton diarahkan menatap ke arah panggung. Beberapa menit berselang penonton dimanjakan dengan Video Mapping yang ditembakan ke bangunan bagian depan gedung. Video Mapping yang kini tengah naik daun tersebut telah memberikan sebuah tontonan yang memanjakan mata. Beragam grafis ditembakan ke dinding bangunan, turut bercerita menceritakan aktivitas pabrik, hingga beragam cerita terkait seni dan budaya.

Tidak hanya menunggalkan video, pada akhir sesi yang adalah akhir pertunjukan, para penampil turut berkolaborasi dengan merespon ruang visual dinding di sebuah panggung yang telah disiapkan. Bagi mereka yang duduk di bagian depan kursi maka akan tahu seluk beluk korelasi antara video mapping dengan gerak para penampil, tetapi hal tersebut tidak terlalu tertangkap dari bagian belakang bangku penonton. Alhasil penonton tidak mengetahui detil apa yang penampil lakukan di panggung selain upaya bahwa mereka tengah mencoba untuk mengisi ruang. 

Interpretasi Ruang dan Ragam Gerak Tubuh
Menyulap sebuah pabrik gula menjadi sebuah arena pertunjukan memang bukan soal mudah, banyak hal-hal yang patut dibayar. Seperti konsepsi pabrik dengan mesin dan aktivitasnya, di mana pabrik kerap ‘memenjarakan’ kebebasan manusia menjadi sebuah mesin kerja. Alhasil kerap kali alienasi—kerap digunakan Karl Marx dalam analisa kapitalismenya—marak terjadi, di mana sebuah perasaan keterasingan akan nilai kebendaan yang diciptakan, dan keterasingan atas dirinya sendiri. Hal tersebut memang terbukti benar, di mana para pekerja terkukung akan jadwal yang padat, tegas, dan dilakukan setiap hari. Akhirnya kebebasan dari individu yang berada di dalamnya semakin pudar dan menghilang perlahan.

Bertolak dari hal tersebut, Sardono membayar dan mereinterpretasi konsepsi akan pabrik menjadi ‘pabrik’ yang berbeda. Dan hal tersebut ia bayar dengan ‘jalan’ seni. Di mana pabrik yang identik dengan cara kerja yang robotik dan sistemik, menjadi humanis yang menunggalkan kebebasan. Hal ini dapat dilihat dengan pelbagai gerak improvisasi dan ragam gerak yang berbeda dari satu penampil ke penampil lainnya. Lantas gerakan-gerakan tersebut tidak hanya dinikmati sebagai mengisi ruang pertunjukan semata, namun turut terjadi dialog antara mesin dan tubuh, yang secara lebih lanjut menautkan dialog akan keteraturan dan kebebasan.

Pertunjukan Fabriek Fikr 2, Sardono W Kusumo-teraSeni
Adegan lain dalam
Pertunjukan Fabriek Fikr 2,
Karya Sardono W Kusumo

Dan dari apa yang Sardono lakukan dengan pertunjukan Fabriek Fikrnya, sebuah tawaran atas site spesific akan pertunjukan telah dilakukan. Senada dengan apa yang diungkap oleh Nick Kaye—seorang scholar performance studies yang mengkaji persoalan tersebut belakangan ini—, di  mana site spesific menekankan adanya ‘pembaruan’ akan konsepsi tempat yang lama, dengan menemukan persepsi baru di tempat tersebut ketika pertunjukan dihelat. Dalam hal ini Kaye turut menekankan bahwa perihal site spesific diperlukan pemikiran kritis dalam melihat lanskap tempat (place) dan ketertautannya dengan ruang (space) yang tidak terbatas. Persis dengan apa yang dilakukan Sardono dalam upaya Fabriek Fikrnya.

Lalu, mengingat Sardono adalah seorang seniman tari yang ‘beyond’ dari tari, alhasil tidak dapat dipungkiri bahwa yang dipertunjukan pada Fabriek Fikr bukan melulu soal tari, tetapi seni yang lintas disiplin, lebih luas. Sebagai contoh: Painting Performance, Pantomime, Papua Kuliner, dsbnya. Terbetik dari hal tersebut, kendati Sardono melakukan praktik lintas disiplin, namun ada satu benang merah tersemat yang dapat diyakini, yakni kesadaran tubuh dalam beragam jenis pertunjukan telah ia kurasi. Dan dalam pelbagai pertunjukan lintas disiplinnya, Sardono memang tidak lagi menampilkan gerak tari yang ansih khayalnya bedhaya atau tari tradisi lainnya, tetapi Sardono memperlihatkan bahwa tubuh tetap menjadi sumber dan esensi utama dari tiap nomor yang dipertunjukan di kedua hari perhelatan.

Namun tidak ada gading yang tidak retak, selain di pertunjukan ini menawarkan satu kebaruan akan cara pandang pertunjukan dan korelasinya pada tempat tertentu. Agaknya ada beberapa catatan terkait pertunjukan tertaut. Di mana penggunaan ruang pabrik yang telah mangkrak memang sangat mencuri perhatian, tetapi yang ditakutkan adalah tidak terbayarnya dengan nomor-nomor pertunjukan yang sama menawannya dengan ide penggunaan pabrik tersebut. Dalam hal ini, bukan berarti beberapa nomor karya yang digarap tidak cukup kuat, namun ekspektasi dari penggunaan ruang baru terkadang ‘menuntut’ karya tertampil tidak hanya layak untuk dipresentasikan, tetapi juga memberi pesona yang serupa. Dan semoga hal ini dapat terbayar Fabriek Fikr 3, mungkin dengan sebuah nomor tari ‘baru’ dari Sardono sebagai ‘partai’ pamungkas pertunjukan di tahun depan?[]

The Assembly of Animals; Pertunjukan tanpa Materi Manusia

Kamis, 1 Desember 2016 | teraSeni~

Bunyi bising dari mesin memenuhi ruangan gedung pertunjukan. Panggung ditutupi oleh beberapa tirai merah, dua lampu sorot berwarna merah yang kedudukannya berada di sisi kanan dan kiri penonton, cahayanya vertikal menembak tirai merah yang menutupi panggung. Mata jadi perih menyilaukan, penonton tampak gelisah, apakah ini awal dari “teror” yang suasananya memang ingin dicapai pertunjukan.

The Assembly of Animals-teraSeni
The Assembly of Animals-Tim Spooner
dari Inggris saat berpentas
di Ladang Tari Nan Jombang, Padang
(Foto: Andre Pratama)

Untuk sementara saya menyimpulkan itu memang suasana awal yang ingin dicapai pertunjukan ini, mengingat pertunjukan yang berjudul The Assembly of Animals karya Tim Spooner, seorang visual artist muda dari Inggris, yang mengadakan pertunjukan di 4 kota di Indonesia: Padang, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta dari tanggal 22 November – 4 Desember 2016 ini memang membatasi jumlah penontonnya pada setiap pertunjukannya. Pada pertunjukan yang diadakan di Padang, di Ladang Tari Nan Jombang, pada 22 dan 23 November 2016, ruang pertunjukan Manti Menuik yang berkapasitas 200 penonton ini, pada pertunjukan kali ini hanya dibatasi sekitar 70 penonton saja atau sepertiga dari kapasitas penonton gedung pertunjukan ini.

Tirai merah paling depan perlahan tersibak. Tampak seseorang berdiri di belakang sebuah meja seukuran 100 x 50 cm. Di atas meja itu tampak penuh dengan perangkat dan sebuah boneka binatang yang barangkali itu adalah boneka domba. Kabel-kabel bersileweran di atas panggung, menghubungkan meja satu ke meja lainnya. Ada 9 meja di atas panggung dan kesembilan meja itu punya tirai penutup masing-masing yang juga berwarna merah.

The Assembly of Animals-teraSeni
Para Performer
The Assembly of Animals-Tim Spooner
memainkan materi-materinya
(Foto: Andre Pratama)

Laki-laki di belakang meja itu kemudian memainkan bonekanya—bukan dengan cara menyentuhnya, namun dengan sebuah alat. Boneka di atas meja itu bergerak maju. Lalu laki-laki itu kemudian pindah ke meja lain yang tirainya telah tersingkap. Juga, memainkan bonekanya di sana, membedahnya, dan lainnya. Begitu seterusnya, dari meja satu ke meja yang lainnya. Ada boneka yang jatuh begitu saja dari atas meja dan laki-laki itu membiarkannya saja, ada boneka yang sengaja dihadapkan di depan kipas angin sehingga boneka itu terlempar oleh anginnya, dan laki-laki itu tetap membiarkan saja—malah ia pindah ke meja lain. Ada plastik yang tertiup angin sehingga membentuk sebuah rupa binatang.

Setelah semua tirai merah di atas panggung tersibak, baru dapat dipahami bahwa panggung ini adalah sebuah laboratorium ilmu eksak (laboratorium fisika). Bukanlah sebuah panggung yang dibagi ke dalam beberapa panggung kecil dengan beberapa meja. Kabel-kabel elektronik, tekanan-tekanan udara, kumparan dinamo, kutup-kutup maknet, memenuhi meja-meja tersebut dan saling terhubung. Bunyi dinamo yang berputar atau bunyi tekanan angin yang berhembus sengaja tidak diredam, malah menjadi bagian tersendiri untuk mengisi musik dan membangun suasana pertunjukan.

The Assembly of Animals-teraSeni
Salah satu adegan
The Assembly of Animals-Tim Spooner

(Foto: Andre Pratama)

Tiga orang yang ada di atas panggung—termasuk laki-laki yang menggerakkan boneka—tidak lebih dari sekedar operator. Laki-laki yang menjadi operator menggerakkan boneka itu adalah Tim Spooner, yang menjadi sutradara dari pertunjukan ini. Sutradara ini dibantu oleh dua orang lagi. Seorang perempuan yang tampaknya bertugas sebagai operator mekanik dan seorang laki-laki lain yang duduk di meja paling belakang sebagai operator material.

Dengan begitu, pertunjukan The Assembly of Animals ini benar-benar menjadi pertunjukan non manusia. No human material atau tanpa materi manusia, sebagaimana konsep dari pertunjukan ini benar-benar berjalan. Narasi pertunjukan memang diserahkan penuh pada mesin. Begitu juga dengan pergerakan boneka-boneka binatang yang ada di atas ‘panggung’nya, juga diserahkan kepada mesin, semisal boneka binatang yang bergerak maju namun kemudian tiba-tiba bergerak mundur atau malah berbalik arah. Pergerakan tersebut, seperti diakui Tim Spooner sendiri, benar-benar pergerakan yang tidak terduga, yang murni hasil dari getaran yang bersumber dari dinamo yang dipasangnya pada meja tersebut. Jadi, operator benar-benar hanya bertugas untuk menghidupkan dan mematikan mesin, juga bertugas untuk meletakkan boneka binatang itu pada titik demo yang akan dilakukannya.

Inilah kemudian, apa yang membedakannya dengan teater boneka pada umumnya ataupun wayang seperti yang ada di Indonesia. Teater boneka ataupun wayang masih melibatkan manusia sebagai pengendali, atau lazim disebut dengan dalang. Dalang mengendalikan langsung boneka atau wayangnya, sehingga narasi panggung tetap berada pada dalangnya. Tugas yang jauh berbeda dengan operator pada pertunjukan ini, manusia benar-benar hanya sebatas petugas yang menghidupkan dan mematikan mesin. Dengan artian, manusia yang ada di atas pentas (3 orang operator tersebut) benar-benar tidak dihitung sebagai bagian dari pertunjukan.

The Assembly of Animals-teraSeni
Para Performer
The Assembly of Animals-Tim Spooner
di hadapan berbagai materi
yang mereka mainkan
(Foto: Andre Pratama)

Itulah tujuan Tim Spooner selaku sutradara pertunjukan. Ia benar-benar ingin menemukan dan mencari hakikat dari material itu sesungguhnya dan mengembalikannya ke asalnya (transendental), seperti yang diterangkannya. Pertanyaannya, sudahkah pada pertunjukan itu, Tim Spooner yang sebagai operator itu sudah mampu melepaskan diri sebagai manusia dan benar-benar hanya sebagai operator dari mesin yang sedang menjalankan narasi pertunjukannya?

Sehabis pertunjukan, penonton dipersilakan untuk naik ke atas panggung untuk melihat lebih jelas dan detail tentang materi-materi yang baru saja didemokan itu. Tim Spooner beserta timnya dengan gembira bersedia mendampingi para penonton untuk melihat materinya dan meladeni begitu banyak pertanyaan tentang materi pertunjukannya tersebut. Seperti yang sudah diduga, begitu banyak penonton yang terkaget dan tidak menyangka setelah mendengar penjelasan dari Tim Spooner langsung. Semisal, bahwa boneka-boneka itu digerakkan oleh getaran pada meja bukan ia yang menggerakkan. Atau ia tidak melakukan pertunjukan, ia hanya sebagai operator, dan upaya yang ia lakukan tadi seperti mengeluarkan isi perut binatang adalah upaya atau kerja operator, ia hanya membantu penonton untuk dapat menangkap setiap momen pada pertunjukan ini lebih detail. Penonton-penonton yang bertanya itu pun kemudian mengangguk dengan mulut sedikit menganga. Takjub. Atau cengang.

Tiga kali pertunjukan, ditambah satu kali workshop dari Tim Spooner langsung pada tanggal 22 dan 23 November 2016 ini di Padang adalah dua hari yang berbeda dalam dunia pertunjukan di Sumatera Barat pada tahun 2016 ini.

Tomorrow As Purposed; Tragedi Macbeth dalam Ritual Panggung Melati Suryodarmo

Kamis, 17 November 2016 | teraSeni~

Berpakaian merah menyala, seorang perempuan terlihat berdiri mematung di tengah panggung sambil memegang sebentuk hati di depan tubuhnya. Sesaat kemudian, terdengar riuh bunyi tetabuhan yang dipukul keras dengan tempo cepat. Perempuan tadi perlahan menaiki undakan memanjang di atas panggung. Pada saat bersamaan, terlihat lima tubuh berbalut baju hitam-hitam berjalan sangat pelan dari arah kiri panggung. Tubuh-tubuh itu seakan tidak menapak, bergerak dengan sangat ringan dan pelan. Kelima sosok itu terlihat berkomunikasi dengan perempuan tadi melalui narasi yang dinyanyikan. Setelah itu, suasana kembali senyap. Perempuan tadi lenyap di balik panggung dan lima sosok tadi bergerak ke arah downstage dan berdiri di sepanjang bibir panggung.

Perlahan kelimanya menarik ujung kain bawahan yang mereka kenakan, menariknya ke arah depan hingga menyelimuti tubuh masing-masing, menciptakan sosok-sosok asing menyerupai penyihir. Dalam balutan kain serba hitam, kelimanya perlahan menarik celana panjang tipis yang dikenakan, dan tanpa diduga dari celana itu berjatuhan paku-paku kecil yang menghasilkan bunyi-bunyi-bunyi logam berjatuhan yang terdengar magis.

Tomorrow As Purposed Melati Suryodarmo-teraSeni
Salah Satu Adegan
dari Tomorrow As Purposed
karya Melati Suryodarmo
(Foto: Erwin Octavio)

Adegan tersebut mengawali pertunjukan Tomorrow As Purposed, yang membuka gelaran Indonesian Dance Festival di Teater Jakarta-Taman Ismail Marzuki pada 1 November 2016 silam. Judul Tomorrow as Purposed sendiri diambil dari kata-kata seorang penyihir dalam lakon Macbeth karya Shakespeare, yang meramal Macbeth kelak akan menjadi seorang raja. Ramalan dari para penyihir inilah yang mengawali terjadinya tragedi perebutan kekuasaan yang berujung pada kehancuran.

Diadaptasi dari naskah drama karya William Shakespeare yang berjudul Macbeth,  Melati Suryodarmo seorang performance artist asal kota Solo, membawa penonton ke dalam sebuah pertunjukan bernuansa ritual yang menegangkan. Babak demi babak mengalir mendebarkan. Tubuh-tubuh dihadirkan secara misterius dan dialog-dialog panjang diubah menjadi nyanyian yang memilukan. Kisah  dibagi ke dalam empat babak yang mencekamkan; ada penyesalan, pengkhianatan, dan gambaran tentang masa depan yang suram. Situasi dimana batas antara realitas dan spiritualitas menjadi sulit untuk dibedakan. Kisah tragedi abad pertengahan tersebut diangkat kembali oleh Melati Suryodarmo ke dalam bentuk pertunjukan yang menggabungkan unsur teatrikal, tari dan musik.  Masih dengan kisah yang sama, namun dengan sudut pandang dan tafsiran yang berbeda. Dalam versi Shakespeare, Macbeth adalah tokoh tragedi yang mengundang rasa simpati, namun di tangan Melati, tragedi itu didramatisir kembali ke dalam pertunjukan bernuansa mistis.

Tomorrow As Purposed Melati Suryodarmo-teraSeni
Melati Suryodarmo
turut tampil dalam karyanya
Tomorrow As Purposed

(Foto: Erwin Octavio)

Tomorrow As Purposed tidak lagi menghadirkan kisah Macbeth melalui dialog-dialog panjang yang bagi sebagian orang terasa membosankan. Penonton sebaliknya, disuguhi pertunjukan yang mengubah dialog ke dalam tarian dan nyanyian yang teatrikal. Para pemain berperan sebagai aktor yang mengartikulasikan kata-kata sama bagusnya dengan menembang dan menari. Kelompok paduan suara yang biasanya tampil sebagai backing vocal yang hanya berdiri di sisi panggung, ikut menjadi bagian dari pertunjukan. Belasan penyanyi dihadirkan sebagai tubuh-tubuh asing berbalut kain tipis berwarna gelap. Tubuh-tubuh itu bergerak bebas di tengah panggung, menyanyikan musik klasik bernuansa Gregorian dari abad pertengahan yang menghanyutkan, tetapi di saat lain tubuh-tubuh tadi berubah menjadi bagian dari narasi yang disampaikan.

Kisah Macbeth adalah naskah drama tragedi yang ditulis oleh Shakespeare berabad-abad silam yang mengangkat kembali realitas kehidupan masyarakat abad pertengahan yang kelam, dimana praktik sihir dan ritual bukanlah hal yang asing pada masa itu. Tommorrow as Purposed berhasil mengangkat kembali kisah kelam abad pertengahan itu ke dalam pertunjukan kontemporer, sehingga terasa sangat aktual dengan kondisi Indonesia hari ini. Kisah tentang penyihir dan konspirasi jahat akan kekuasaan menemukan relevansinya dengan situasi dimana banyak orang, bahkan kalangan terpelajar, lebih percaya pada kekuatan-kekuatan gaib untuk memperoleh kesuksesan dan materi daripada akal sehat.

Macbeth yang dikisahkan oleh Shakespeare beralih wahana menjadi pertunjukannya Melati Suryodarmo. Dengan mengandeng  Naoki Iwata aka Skank asal Jepang dan Paduan suara Voca Erudita dari Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tampil begitu memukau, Melati Suryodarmo memberi tafsir baru terhadap kisah Macbeth ke dalam ritual panggung yang menyihir. Melati juga memberikan kejutan-kejutan kecil berupa kepingan-kepingan adegan yang tidak terkait dengan narasi Macbeth. Kejutan yang mengusik kesadaran penonton seperti cerita tentang perempuan dan highheelsnya, atau pun dialog yang mengutip pernyataan Hatta yang terdengar menentramkan, “Aku ingin membangun dunia, dimana semua orang merasa bahagia di dalamnya.”

Tomorrow As Purposed Melati Suryodarmo-teraSeni
Adegan menarik dari  
Tomorrow As Purposed
karya Melati Suryodarmo
(Foto: Erwin Octavio)

Sebagai seorang seniman yang dibesarkan dalam kultur Jawa yang sinkretik, Melati Suryodarmo sendiri memiliki kedekatan terhadap hal-hal yang berbaru ritual. Setelah pertunjukan, seorang teman memberi kabar yang mengejutkan bahwa hati sapi yang dihadirkan ke  atas panggung adalah hati sapi mentah. Sebuah hal yang tidak lazim dalam panggung pertunjukan kontemporer di Indonesia. Aksi panggung Melati mengingatkan pada sejumlah seniman eksperimentalis seperti Tatsumi Hijikata dan Katherine Dunham yang melakukan ritual-ritual magis  dan praktik sihir (vodoo) yang mengejutkan di atas panggung. Walaupun tidak se-ekstrem itu, Melati berhasil membawa idiom-idiom ritual dengan rasa lokal seperti paku-paku yang berserakan dan narasi tentang ayam yang mengingatkan pada kisah Roro Jongrang yang gagal dipinang oleh Prabu Bondowoso, gara-gara ayam berkokok mendahului pagi. Dengan menghadirkan kembali  ungkapan yang pernah dilontarkan oleh Soekarno, Tomorrow As Purposed seperti mengembalikan kembali kesadaran akan akal sehat,  “Ya, bukan karena kokok ayam matahari terbit, tetapi karena matahari terbitlah, ayam berkokok.”

Pernah dimuat di Harian Padang Ekspres, Edisi Minggu, 13 November 2016

Tari Balabala: Unjuk Gigi Perempuan Timur Indonesia

Selasa, 15 November 2016 | teraSeni~

Seusai pertunjukan para penari menitihkan air mata, bukti atas peluh keringat mereka atas duabelas bulan masa persiapan karya terbaru Eko Supriyanto, Balabala. Pilihan Eko untuk mengajak lima perempuan asal Jailolo, Maluku Utara, di dalam karyanya telah berbuah manis. Tidak hanya tampil, Eko telah menyihir kemampuan menari mereka dengan sangat cakap dan cermat. Balabala mempesona penonton di World Premiere pada sabtu (5/11) dan minggu (6/11) di Blackbox, Komunitas Salihara.

Dipertunjukan sebagai penutup SIP Fest 2016, Salihara International Performing-Arts Festival, karya Eko Supriyanto ini telah memberikan sajian pertunjukan yang berbeda. Alih-alih hanya berada pada bayang-bayang repertoar sebelumnya, Cry Jailolo, repertoar Balabala telah memberikan impresi yang tidak kalah kuat. Kendati beberapa gerak hampir serupa, namun Eko telah membuat komposisi tari yang berbeda, mulai dari seleksi penari, pilihan akan variasi ragam gerak, hingga alur pertunjukan.

Dalam karya ini Eko kembali berkolaborasi dengan dua sosok lain di balik keberhasilan Cry Jailolo, yakni: Arco Renz, dalam meniptakan dramaturgi dari pertunjukan; dan Iskandar K. Loedin sebagai scenographer dan penataan cahaya. Tidak hanya itu, kini Eko turut berkerjasama dengan Erika Dian dalam penataan busana; serta Nyak Ina Raseuki atau kerap dikenal Ubiet, melalui komposisi musik yang telah membuat kesan magis di awal pertunjukan, kesan energik di tengah pertunjukan, dan kesan otentik di akhir pertunjukan. Alhasil para penari yang terdiri dari: Yimna Meylia Meylan Runggamusi, Siti Sadia Akil Djalil, Yezyuruni Forinti, Mega Istiqama Arman Dano Saleh, dan Dian Novita Lifu berhasil menyampaikan kesan dan pesan akan perempuan Jailolo selama 60 menit durasi pertunjukan.

Tari Bala-Bala Karya Eko Supriyanto-teraSeni
Salah Satu Adegan dari
Tari Bala-Bala
Karya Eko Supriyanto
(Foto: Witjak Widji Chaya)

Memburu Mata Mencekam Rasa
Teram temaram cahaya hijau menyinari, seorang perempuan melangkah perlahan memasuki panggung pertunjukan. Berdiri di panggung bagian belakang menatap tajam ke arah penonton. Bersamaan dengan itu, empat orang penari lainnya masuk perlahan dari arah yang berlainan. Berdiri tegak memandang, sayup-sayup suara mulai terdengar. Suara senandung bernada rendah mulai terdengar disambung dengan nada tinggi lainnya. Perlahan seorang penari melangkah ke tengah panggung. Memandang penonton dengan tatapan tajam, ia mulai bergerak dengan sederhana. Hal itu turut dilakukan secara bergantian dengan penari lainnya. Dengan suara layaknya teknik acapela yang lebih tinggi dan ramai, gerak penari yang lebih pelan seakan memberikan impresi yang kokoh.

Tari Bala-Bala Karya Eko Supriyanto-teraSeni
 Adegan lain dari Tari Bala-Bala
Karya Eko Supriyanto
(Foto: Witjak Widji Chaya)

Setelahnya suara acapela tadi pun berganti menjadi bunyi EDM (electornic dance music) yang lebih berderap, tetapi monothon. Diperkuat dengan nuansa cahaya yang berubah menjadi lebih terang, yakni kuning, satu per satu para penari mulai bergerak lebih cepat. Pada bagian ini para penari sudah mulai memperlihatkan pola dan ragam gerak yang lebih panjang. Para penari melakukan ragam gerak secara bersamaan melangkah ke kiri dan ke kanan. Yang menarik, mereka juga membentuk formasi saling silang pola lantai yang membuat visual pertunjukan semakin beragam. Tidak hanya itu, para penari juga membentuk formasi gerak antara satu dengan lainnya secara berlainan. Lima ragam gerak yang berbeda dalam satu panggung tersebut lantas membuat visual pertunjukan semakin menawan.

Cahaya yang menaungi sekujur tubuh penari pun berganti menjadi merah, tanda akan nuansa pertunjukan yang berubah. Mereka kembali menatap tajam ke arah penonton, bersamaan dengan itu semua penari mengepalkan tangan kirinya. Tangan terkepal itu lantas begetar layaknya emosi yang tak tertahankan. Para penari tersebut menatap kelimpungan tangan mereka masing-masing. Tidak hanya menatap dan mengepal, secara bergantian para penari turut melakukan ragam-ragam gerak tadi. Hingga mereka bergerak dengan ragam dan tarian yang sama.

Tari Bala-Bala Karya Eko Supriyanto-teraSeni
Salah Satu Adegan dari
Tari Bala-Bala
Karya Eko Supriyanto
(Foto: Witjak Widji Chaya)

Tiga per empat pertunjukan berlangsung, maka akan terbayang bagaimana Eko mengemas bagian akhir pertunjukan. Terlebih pada bagian awal dan tengah sudah memiliki impresi yang sangat kuat. Lantas untuk menyelesaikan pertunjukan, Eko yang berkolaborasi dengan penata cahaya—Iskandar K. Loedin—mengganti nuansa pertunjukan dengan lampu panggung berwarna putih yang justru menunjukan secara jelas para penari. mengganti nuansa pertunjukan dengan lampu panggung berwarna putih yang menunjukan secara jelas para penari. Ditutup tanpa alunan musik, secara lantang dan bergantian mereka justru berbicara menggunakan bahasa lokal mereka, Jailolo. Dibarengi sesekali dengan ragam gerak, para penari seakan semakin jelas terlihat, tidak hanya secara visual dari anatomis dan gerak kepenarian, namun suara percakapan yang terdengar lantang telah menunjukan mereka berada ‘di antara’ kita. Bersamaan dengan itu, samar-samar lampu memudar, tanda pertunjukan telah usai.

Dari dan Untuk Indonesia Timur
Paska kesuksesan repertoar Cry Jailolo dengan world tour-nya, salah satu ketakutan terbesar akan kekaryaan Eko adalah berhentinya kreativitas dalam menciptakan karya selanjutnya. Terlebih repertoar Balabala juga bersumber dari kehidupan masyarakat Jailolo, sehingga tingkat kesulitan untuk membuat karya yang berbeda dirasa cukup sulit dilakukan. Namun ketakutan tersebut seakan telah dijawab secara langsung oleh Eko setelah menyaksikan repertoar Balabala.

Dari pertunjukan tersebut, Eko memang telah terang-terangan menyatakan bahwa inspirasi gerak akan karyanya turut berasal dari tarian Soya-soya dan Cakalele, tari masyarakat Jailolo. Namun kepiawaian Eko dalam mencipta koreografer telah membuat tarian rakyat tersebut telah berubah dari akarnya, namun tetap representatif. Dengan gerakan lambat nan berirama, tarian yang lazimnya dimainkan oleh laki-laki tersebut justru terkesan kokoh dan menyentuh ketika dimainkan oleh perempuan. Terlebih terbalut pesan akan posisi perempuan yang kerap tidak diperhatikan khususnya di daerah terpencil bagian timur Indonesia.

Tari Bala-Bala Karya Eko Supriyanto-teraSeni
Tampak Atas Pola Lantai
dari Tari Bala-Bala
Karya Eko Supriyanto
(Foto: Witjak Widji Chaya)

Selain pada pesan, repertoar Balabala juga membawa kesan yang dramatis dari para penari. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih terlihat wajah dan gerak yang gugup dari penari, terlebih pertunjukan itu adalah kali pertama mereka tampil. Namun tingkat adaptasi mereka  atas panggung cukup cepat. Kegugupan gerak di awal pertunjukan seakan terbayar lunas dengan kepercayaan diri para penari Balabala di tengah dan akhir pertunjukan. Dan di sinilah kita dapat melihat kepiawaian Eko dalam mencermati kesenian setempat, dan tidak memaksa kelima penari untuk menarikan tari tradisi Jawa atau Bali. Eko justru berhasil mengembangkan dari apa yang masyarakat setempat miliki. Alhasil gerak demi gerak—terlebih adanya percakapan antar penari di akhir pertunjukan—terasa sangat otentik.

Dari karya ini, agaknya kalimat think locally act globally telah terimplementasikan tegas. Di mana bertolak dari pikiran dan laku setempat, menjadi sebuah aksi yang diakui masyarakat internasional. Dan rasanya langkah seperti inilah yang dirasa jitu dalam menunjukan wajah tari kontemporer Indonesia di kelas dunia.

Bertanya Sebagai Pernyataan Saya, Kamu Dan Kita; Catatan Dari Lokakarya Teater Oleh She-She Pop

Kamis, 10 November 2016 | teraSeni~

“The workshop evolves around the question ‘Who are we, when we say I on stage?’ dealing with the question of identity. In various exercises and improvisations, the participants will define the stage as a playing field with rules and tasks, which avoid everyday communication and instead set free unexpected perspectives.”
(Teks Pengantar Lokakarya Teater, oleh She She Pop, 2 Oktober 2016, di Studio Tari, Salihara, Jakarta)

Siapakah kita, ketika kita mengatakan ‘saya’ di atas panggung?, adalah semacam ulikan pertanyaan yang terlilit bersama konsep dan praktik teater dari kolektif pertunjukan She-She Pop, Jerman. Berdasar pertanyaan tersebut jugalah, saya seperti memikirkan kembali, ke-saya-an saya dalam menempatkan diri ketika berada di atas panggung, karena ‘saya’ yang selama ini berpraktik di atas panggung adalah ‘saya-nya peran’, bukan ‘saya-nya saya’. Maka pertanyan selanjutnya adalah, apakah ada ‘sayanya saya’, yang bukan ‘saya-peran’ di dalam teater.

Lokakarya Teater Oleh She-She Pop-teraSeni
Salah Satu Adegan
dalam Pertunjukan Karya
Kelompok She She Pop, Jerman

Pertanyaan ini kembali pada batas-klasik yang ada di dalam sejarah teater, yaitu representasi dan presentasi. Apakah ‘saya’ pada lokakarya ini, menyuruk pada ‘saya’ yang ‘saya-peran’ secara representatif (meniru-ulang orang/peran di luar saya), ataukah pada medan saya yang ‘saya-nya saya’ secara presentatif (menampilkan diri sendiri, tidak menghadirkan siapapun, hanya dirinya).

Kelompok She-She Pop, jika merujuk pada apa yang disebutkan oleh Hans Thies Lehmann (sejarawan teater dan dramaturg) dari jerman, dalam bukunya Postdramatic Theatre yang menyebutkan bahwa di Eropa pasca-1960, (dalam sub-bab: ‘Post-1960’s institutional context, memory, history’), banyak bermunculan sutradara dan kelompok/kolektif teater baru, yang mulai melakukan perubahan moda kerja, dengan beberapa ide-kunci praktik, yaitu: dari kerja theatre studies menjadi kerja performance studies (melibat-lesapkan kenyataan performatif di keseharian/luar panggung sebagai juga bagian pemikiran penciptaan), dari dramatisasi menjadi penciptaan event/peristiwa (bukan lagi menciptakan kejutan teatrikal, tetapi menjadikan panggung sebagai arena-pertanyaan atas konteks), dari memerankan peran menjadi penghadiran diri sendiri, dari keaktoran menjadi performatifitas (semesta teater berubah menjadi semesta pertunjukan; dimana para seniman yang menggunakan tubuh sebagai bagian kerja-nya; aktor, penari, dan performance artist adalah juga bagian dari dinamika perubahan teater pada seni performatifitas).

Lokakarya Teater Oleh She-She Pop-teraSeni
Salah Satu Adegan
dalam Pertunjukan Karya
Kelompok She She Pop, Jerman

Kelompok She-She Pop-pun, yang secara akademis sebagian besar pendirinya (mahasiswa/alumnus) berasal dari Institut für Angewandte Theaterwissenschaft (Applied or Practiced Theatre Studies) di University of Giessen (sekolah yang juga ikut didirikan oleh Hans Thies Lehmman, bersama Andrzej Tadeusz Wirth, ilmuwan dan kritikus teater dari Polandia), dari sekolah tersebut, tumbuh beberapa kelompok yang juga bekerja dengan moda perubahan, dari ‘play-based-pratice’ menjadi ‘research-based-pratice’, diantaranya adalah ; Rimini Protokoll, René Pollesch, dan Showcase Beat Le Mot. Kelompok Rimini Protokoll (Berlin) sendiri pernah berpentas di Indonesia, alih-alih dikenal sebagai group-teater yang memiliki satu sutradara di dalamnya, justru mereka lebih nyaman menamai diri mereka sebagai trio sutradara (Helgard Haug, Stefan Kaegi dan Daniel Wetzel).

Pertunjukan-pertunjukan mereka sendiri lebih seperti ‘well-made concept theatre’, yang sudah diuji-coba dalam laboratorium pertunjukan. 100 % Yogyakarta sendiri, adalah konsep pertunjukan yang sudah terlebih dahulu diukur reaksi konseptual-nya dalam pentas, melalui ; 100 % Berlin, 100 % Vienna, 100 % Zurich, 100 % London, 100 % Tokyo hingga 100 % Melbourne. Sebuah teater-ide yang mengkurasi 100 orang warga di satu daerah/kota tertentu yang dipilih, dengan kerangka kerja yang membiarkan mereka tetap dalam pemikiran mereka seharihari, dan tidak berpretensi melatihkan teknik keaktoran teater pada tubuh mereka, apalagi mengasingkan gestus-gerak tubuh yang keseharian. 100 orang tersebut akan diundang untuk membahasakan, dalam perspektif mereka, tentang kota yang mereka tinggali, dengan pakaian mereka sehari-hari, cara tubuh yang biasa saja, dan juga takaran-dramatik yang bergerak dari pertanyaan-pertanyaan tentang kota yang mereka huni. Ideologi dramaturgi dari kelompok ini adalah menjadikan teater sebagai sarana untuk memungkinkan cara yang tidak biasa dalam memandang realitas.

Lokakarya Teater Oleh She-She Pop-teraSeni
Salah Satu Adegan
dalam Pertunjukan Karya
Kelompok She She Pop, Jerman

Dramaturgi dalam kolektif sutradara Rimini Protokoll menjadi relevan, jika dikaitkan dengan peristiwa ‘Congress of the Society for Theatre Studies’ yang di adakan di Kota Frankfurt dan Giessen, dari tanggal 3 hingga 6 November 2016, yang menyepakati sebuah adagium teater, setelah berlarut-lama melakukan diskusi, debat dan serangkaian rapat-pleno, bahwa teater harus menjadi disiplin kritik, atau menjadikan teater sebagai kritik itu sendiri, makalah inti tersebut sendiri, diberi judul ‘Theatre As Critique’. Bukan kebetulan jika simposium ini, diorganisir oleh mahasiswa/siswi, dosen dan professor dari Applied or Practiced Theatre Studies di University of Giessen, yang memproduksi banyak kelompok teater yang memperlakukan teater sebagai media-kritik, baik kepada konteks yang ada di sekitarnya, maupun kepada medium-teater itu sendiri, untuk selalu dipertanyakan dan dipertimbangkan ulang, apa pentingnya dihadirkan pada hari ini.

She-She Pop mewarisi tradisi teater sebagai kritik, yang kebetulan juga sebagian alumninya berasal dari Applied or Practiced Theatre Studies di University of Giessen, yang meyakini bahwa teater harus selalu beririsan dengan fakta dan kenyataan. Apabila Rimini Protokoll, (dalam konsep 100 % kota-nya) sudah meninggalkan pencanggihan teknik keaktoran, dengan menggunakan 100 warga dalam sebuah kota, sebagai tubuh-pentas yang faktual, dan organik, maka She-She Pop adalah kelompok yang berada dalam lini-estetika teater, yang menggunakan teknik-performativitas tubuh, dan juga kecenderungan ketinampilan ciri skenografis yang kuat.

Pertanyaannya adalah, dimanakah tradisi teater sebagai kritik dalam proses-kerja teater She She Pop, yang misalnya dikait-kaji dengan visi dramaturgi dari Rimini Protokoll, yang memposisikan teater sebagai sarana untuk memungkinkan cara yang tidak biasa dalam memandang realitas.
Kebetulan saya diundang sebagai salah satu peserta workshop, di kegiatan SIP-FEST (Salihara International Performing Arts Festival), dengan She-She Pop sebagai salah satu penampil, dengan sudi membagi-buka-kan ‘dapur-metode-teater’-nya, kepada publik umum. Dalam satu hari workshop yang padat tersebut ( 11:00 – 15:00 W.I.B ), Sebastian Bark dan Berit Stumpf dari She-She Pop bersama-sama dengan peserta mencoba memahami penguraian tahap demi tahap, cara kerja teater She-She Pop.

Lokakarya Teater Oleh She-She Pop-teraSeni
Salah Satu Adegan
dalam Pertunjukan Karya
Kelompok She She Pop, Jerman

Jika Rimini Protokoll lebih dikenal denga trio-sutradara, maka She-She Pop adalah unit-kolektif aktor/performer, yang tidak memiliki sutradara, karena mereka semua adalah penggagas ide atau bisa dikatakan ‘sutradara’, dengan mereka juga sebagai yang melaku-eksekusi-kan gagasan. Tradisi yang terjadi di kelompok ini, seperti yang dikatakan oleh Sebastian Bark, adalah berada di dalam dan berada di luar, artinya dalam beberapa kali latihan, diantara mereka sendiri, akan ada yang keluar dari lingkaran-latihan, berada di luar dan menjadi semacam dramaturg, yang berjarak dan mengamati apa yang selama ini terus tumbuh. Tapi, apa sajakah sebenarnya yang terjadi dalam lingkaran-latihan tersebut, sehingga melahirkan sirkulasi-kerja teater yang tidak membutuhkan satu-orang sutradara permanen, untuk mengkomposisi dinamika pertumbuhan bentuk.

Melalui workshop yang berlangsung pada tanggal 02 Oktober 2016, dari pukul 11:00 sampai 15:00 WIB, di Studio Tari Salihara, Jakarta, kita akan mulai bisa memahami sistem-kerja dari She-She Pop, dan faham mengapa kelompok ini tidak memiliki ‘sutradara’ dalam pengertian teater modern. Saya membagi uraian workshop ini ke dalam tahap kerja-tubuh, yang lebih kepada warming-up play dan tahap kerja-penciptaan, yang juga lebih berbentuk warming-up method, tetapi permainan ini bisa langsung mendorong pelaku dan yang mengamati jalannya permainan, terpancing untuk mengkodefikasi salah-satu bagian latihan, untuk dibawa dan didiskusikan lebih intensif, sebagai cikal-bakal ide pentas selanjutnya. Pada penguraian berikut ini, saya akan memberi istilah tersendiri, untuk masing-masing bagian workshop-nya, jadi ini merupakan tafsir pribadi saya sendiri atas bagian per bagian dari workshop-nya.

The Distance Of Persistance
Pertama-tama para peserta workshop diajak untuk berkumpul dalam satu lingkaran kecil, lalu setiap orang memilih dua orang peserta, yang akan dia jadikan ukuran, untuk selalu berada di antara keduanya, tetapi sang pemilih tidak diperkenankan menyebut kepada para peserta lain, siapakah dua orang yang dipilihnya, hanya dirinya saja yang tahu. Selanjutnya, para peserta dipersilahkan untuk mulai bergerak, dan sang pemilih akan selalu memposisikan dirinya untuk berada di tengah dua orang yang dipilihnya, dengan ukuran jarak posisi, dirinya selalu berada di antara orang pertama dan orang kedua yang dipilih.

Latihan ini akan berhenti hingga semua orang merasa sudah berada di tengah dua orang yang dipilihnya, tetapi ini membutuhkan waktu lama, karena sang pemilih juga adalah yang dipilih oleh sang pemilih lainnya, jadi ketika satu orang sedang bergerak mengikuti dua orang yang dipilihnya, dua orang yang dipilihnya-pun sedang bergerak mengikuti orang lain yang dipilihnya. Namun, meskipun akan terus bergerak dan mencari posisi, akan ada satu momen yang memberhentikan pergerakan si pemilih dan yang dipilih, ini adalah momen persistensi yang akurat, dimana semua posisi jarak sudah seimbang dan saling mengunci ruang-nya masing-masing.

Copy body
Pada bagian ini para peserta dipersilahkan untuk kembali membentuk lingkaran kecil, setiap orang dipersilahkan meng-copy gerakan sepersis-persisnya atas gerak tubuh yang muncul, dari orang yang kita pilih (sistem pemilihannya, yaitu ; dua orang yang di samping kita). Tahap awal dari pemilihan, copy-meng-copy tubuh ini masih benar-benar bersifat fotografis, sepersis-persisnya, dan dengan aturan ruang, yang masih berada di dalam lingkaran kecil, belum keluar dari pola. Tahap kedua, dengan masih berada di dalam lingkaran kecil, tetapi kini masing-masing peng-copy tubuh, bisa menstilasi dan membesarkan gerak-tubuh peserta yang dia copy.

Perhatikan di tahap ini, gelombang perubahan atas stilasi-tubuh masing-masing peserta, bergerak dengan terus bermetamorfosis, dari satu pembesaran tubuh ke pembesaran tubuh yang lain, mengalir dari satu bentuk ke bentuk tubuh yang lain, karena setiap tubuh yang sedang mengcopy dan menstilasi gerak tubuh orang lain, dirinya/tubuhnya-pun sedang dicopy oleh tubuh yang lain, dan orang lain yang sedang meng-copy tersebut-pun, sedang dicopy dan distilasi juga gerakannya oleh orang lain.

Pola gelombang ini berarak-beriringan, membesar-mengecil, mengembang-mengempis, begitu seterusnya, menciptakan arus gerak yang asing, ganjil namun presisif dan penuh intensional. Gerak selanjutnya adalah keluar dari lingkaran permainan; dipicu oleh satu orang yang mulai bergerak dan keluar dari lingkaran, kini sistem kinetiknya menyebar dan keluar dari lingkaran, namun tetap dengan aturan gerak yang sama seperti pada tahap di dalam lingkaran. Proses copy dan stilasi tubuh ini akan berhenti sampai semua berhenti, artinya si orang pertama-penggerak yang tak terlihat, yang memulai gerakan copy-mengcopy ini harus berhenti lebih dahulu, namun masalahnya adalah kita tidak tahu siapakah orang-pertama tersebut, dan permainan ini akan berhenti ketika si penggerak pertama ditemukan, selama belum ditemukan, maka copy-stilasi tubuh-pun akan terus bergerak dan berkembang dengan sendirinya.

‘Teater-Pengakuan’/’confession theatre’
Kali ini workshop dalam sesi ‘phyisical/body play’ dicukupkan sekian. Workshop-pun berpindah pada permainan yang lebih membukakan kepada kita kerja-metodis teater dari She-She Pop. Saya sendiri menyebut tahap permainan ini dengan nama teater-pengakuan/’confession theatre’. Cara kerja-nya sendiri pertama-tama adalah dengan membagi lantai-latihan menjadi tiga garis, yaitu garis belakang, tengah dan depan. Garis pertama (paling belakang) adalah garis netral/tidak setuju, garis kedua (di tengah) adalah garis setuju, garis ketiga (paling depan) adalah garis pertanyaan. Seluruh peserta pada awalnya akan berada di garis-belakang, picu permainan akan bekerja, ketika salah satu dari peserta maju menuju garis paling depan (garis pertanyaan), dan ketika berada di garis ini, peserta tersebut harus mengajukan satu pertanyaan kepada peserta lain (yang ada di belakang).

Beberapa contoh pertanyaan, misalnya: beberapa dari kita bosan dengan pasangan sendiri, beberapa dari kita tidak percaya dengan institusi pernikahan?: beberapa dari kita membenci presiden di negaranya?; beberapa dari kita membenci pengalaman masa kecil-nya?; beberapa dari kita menyukai pasangan sahabat-nya sendiri? Beberapa pertanyaan tersebut, adalah yang juga terungkapkan pada saat saya mengikuti workshop. Aturan bertanya-nya sendiri tidak dibatasi oleh batasan tematik pertanyaan, dia bisa leluasa menyerang pada tema yang sangat pribadi, tersembunyi, atau bahkan bisa sangat publik, politik dan radikal sekaligus.

Aturan yang berlaku hanyalah ketika akan bertanya, wajib mengawali dengan kalimat ‘beberapa dari kita’, untuk menyatakan bahwa sang penanya-pun selain bertanya kepada orang lain, juga pertanyaan tersebut tertuju pada dirinya. Para peserta lain menjawabnya dengan cara maju menuju garis-setuju, jika menyetujuinya, dan jika tidak setuju, maka bertahan di garis awal (di belakang), permainan akan berlanjut dengan hilir-mudik ke depan dan ke belakang, antara yang maju mengajukan pertanyaan dan yang setuju dan yang tidak setuju. Tahap ini adalah tahap pertama ‘confession theatre’ yang berupa warming-up, dan belum diimbuhi dengan teknik-pentas atau show-thing.

Tahap selanjutnya adalah ‘confession-theatre’ yang diimbuh-bumbui oleh intervensi musik dan gerak. Kali ini ada seorang penentu-dramatik yang bertugas untuk memberi musik pada momen-permainan yang dianggapnya krusial dan cocok untuk diintervensi oleh musik. Aturannya sendiri adalah ketika ada seseorang yang mengajukan pertanyaan, seperti misalnya: beberapa dari kita tidak rela ditinggalkan oleh ibunya? Lalu ada dua orang yang maju dan sepakat dengan pertanyaan si penanya, berkumpul dan berjejer di garis-setuju, di titik inilah penentu-dramatik memutar musik yang sendu dan gelap (aturan musik-nya berbanding sama dengan kualitas emosi dari isi pertanyaan), dan dua orang yang sepakat atas ketidak relaan ditinggal mati oleh ibunya masing-masing, haruslah bergerak bersama.

Catatan gerak di momen ini adalah bahwa kedua-duanya/orang yang berada di garis sepakat tersebut, geraknya harus benar-benar serupa dan presisif, latihan di sesi copy-body sebelumnya akan lebih membantu, dan catatan gerak lainnya adalah bahwa ketika musik mulai memasuki momen bergerak, yang berada di momen tersebut haruslah benar-benar merasakan pertumbuhan tahap demi tahap pertumbuhan arsitektur gerak. keduanya tidak langsung membentuk desain visual kinetik, tetapi dari tanpa bentuk, lalu perlahan-bergerak, dan mulai beriring-rupa dengan dinamika ketuk maupun tempo musik.