Pilih Laman

Festival Sebagai Ruang Aktualisasi Diri: Menonton Penonton Pasar Keroncong Kotagede 2016

Jumat, 20 Januari 2017 | teraSeni.com~

In the last decade of the twentieth century in particular, all continents not only witnessed a surge in the number of annual festivals, but also a diversification in the types of festival that became a mainstay of cultural calendars, as well as diversification in local and global festival audiences. As an increasingly popular means through which citizens consume and experience culture, festivals have also become an economically attractive way of packaging and selling cultural performance and generating tourism.

(Picard & Robinson, via. Bennet, 2006: 1)

Meningkatnya kompleksitas kehidupan di masa kini membuat masyarakat semakin terkurung dalam kegiatan rutin, yang bagi kebanyakan orang tentunya menjenuhkan dan membosankan. Tentunya cara mengatasi kejenuhan yang dialami setiap orang berbeda-beda. Salah satu dari sekian banyak cara untuk menghilangkan kejenuhan dari rutinitas yang sama itu adalah dengan mengunjungi festival-festival yang ada di berbagai tempat. Kini, festival bukan lagi hanya peristiwa mengapresiasi suatu bentuk pertunjukan seni tertentu, namun juga merupakan tempat untuk mengaktualisasikan diri, yang dilakukan secara individu maupun secara kolektif.

Saat ini berbagai kota di seluruh Indonesia memiliki agenda festival yang terjadwal setiap tahunnya. Masyarakat dengan mudah dapat mengakses info tentang festival itu melalui berbagai macam media cetak dan elektronik. Banyaknya festival yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia merupakan suatu kemajuan yang positif, karena melalui festival-festival itu, masyarakat dapat mengalami dan merasakan langsung dampak yang diberikan dari festival, baik itu dampak terhadap bidang ekonomi, maupun sosial dan politik.

Suasana Pengunjung
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Jenis festival pun semakin beragam, menawarkan pelbagai hal kepada pengunjung, mulai dari materi pertunjukan hingga kemasan artistik yang disajikan. Ros Derrett (2009) bahkan mengatakan bahwa festival memiliki peranan penting dalam kehidupan kebudayaan dari masyarakat masakini, karena festival muncul dari budaya lokal masyarakat tertentu yang mengizinkan masyarakat dan pengunjung untuk saling berinteraksi melalui apa yang mereka ciptakan dalam festival.
Dari berbagai macam fasilitas atau layanan yang diberikan oleh penyelenggara festival untuk memberikan sajian menarik bagi para pengunjung salah satunya adalah dengan membuatkan tampilan dekoratif yang menarik di beberapa tempat sehingga bisa digunakan sebagai tempat untuk berfoto oleh pengunjung. Hal ini tentunya menjadi bagian dari strategi penyelenggara festival untuk membuat pengunjung lebih tertarik datang ke festival dan menghabiskan waktu bersama keluarga ataupun teman. Sehingga, pengunjung menjadikan festival bukan hanya untuk menonton suatu pertunjukan seni tapi kemudian festival juga dijadikan sebagai tempat bermain dan menjadi bagian dari aktifitas yang memang diperlukan untuk sekedar mengalihkan perhatian dari rutinitas yang menjenuhkan.

Pengunjung Festival dan Aktifitasnya
Memasuki penghujung tahun 2016 pada tanggal 3 Desember, sebuah festival yang berjudul Pasar Keroncong Kotagede digelar di Kotagede, Yogyakarta. Selain  menampilkan grup orkes keroncong dari berbagai kota di pulau jawa, pada tahun kedua ini Pasar Keroncong Kotagede juga menampilkan beberapa penyanyi kondang lintas genre, seperti genre music jazz dan balada. Festival ini menggunakan tiga panggung utama yang didirikan pada tempat yang berbeda, untuk menyaksikan pertunjukan dari satu penampil ke penampil lainnya, pengunjung harus rela berjalan kaki.

Salah satu penampilan
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Pasar Keroncong Kotagede kali kedua ini dimulai dari selepas sore hingga sebelum larut malam. Konsep yang ditawarkan Pasar Keroncong Kotagede kali ini berbeda dari tahun sebelumnya sehingga memiliki daya Tarik tersendiri bagi masyarakat diluar Kotagede untuk datang dan menikmati festival ini, bahkan pengujung terus berdatangan sampai festival ini berakhir.
        
Salah satu yang menjadi daya tarik dari festival ini adalah banyaknya tempat atau ruang yang disiapkan oleh pihak penyelenggara festival untuk pengunjung bisa berfoto mengabadikan peristiwa. Dekorasi-dekorasi menarik yang dihadirkan membuat pengunjung tidak ingin kehilangan momentum peristiwa dari Pasar Keroncong Kotagede. Bagi sebahagian pengunjung, terutama generasi muda, merupakan suatu kesempatan untuk bisa berfoto selfie ditempat yang telah disediakan. Tidak sedikit dari pengunjung yang datang pada saat itu untuk melakukan selfie, baik secara perseorangan, berpasangan dan juga bersama kelompok rombongan. Aktifitas selfie ini sangat mudah dilakukan, umumnya menggunakan kamera telepon selular yang saat ini bisa dikatakan hampir semua orang memilikinya.

Salah satu dekorasi
yang menarik perhatian Pengunjung 
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Bagi kebanyakan orang, berfoto memang merupakan aktifitas yang menyenangkan, apalagi jika dilakukan bersama orang-orang terdekat seperti pasangan ataupun teman. Keceriaan yang ditimbulkan dari aktifitas berfoto ini sesaat bisa menghilang kejenuhan rutinitas yang dilalui pada hari-hari biasa. Tentu semakin menarik apabila aktifitas berfoto ini dilakukan ditempat-tempat menarik seperti pada saat festival yang mana agenda penyelenggaraan festival biasanya digelar tahunan. Setiap tahun, walaupun pada tempat yang sama digelarnya festival, tentu konsep artistik dekorasi pun akan tidak sama.

Berfoto, dalam hal ini adalah akititas selfie, memang menjadi aktifitas budaya populer dari masyarakat global di abad 21 ini. Storey (2006) mendefenisikan “Budaya Pop” sebagai sesuatu yang “diabaikan” saat kita telah memutuskan sebuah budaya lain yang dapat kita sebut sebagai “budaya luhur. Aktifitas selfie ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan anak muda saja bahkan beberapa tahun lalu pejabat negara pun pernah melakukan aktifitas ini dan hasil fotonya pun tersebar luas melalui media massa. Marcy J. Dinius (2015) mengatakan dalam artikelnya bahwa sejarah mencatat aktifitas selfie – aktifitas memfoto atau memotret diri sendiri – sudah dilakukan jauh sebelum ditemukannya ponsel selular. Orang yang melalukan hal ini pertama kali adalah Robert Cornelius, ia mencoba eksperimen selfie ini pada tahun 1839.

Di era teknologi yang semakin modern seperti saat sekarang ini, aktifitas selfie jauh lebih mudah untuk dilakukan, cukup dengan memiliki sebuah ponsel selular (smartphone) aktifitas selfie bisa dilalukan dimana saja. Selfie saat ini seperti budaya populer baru yang mengglobal. Hal ini terjadi karena sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, melalui teknologi para pemilik perusahaan-perusahan besar dunia dengan mudah dapat menciptakan budaya baru yang “seragam”. Para pemilik modal melalui pasar yang dibentuknya sangat mudah tentunya menyebarkan budaya yang diinginkannya, dalam konteks ini teori difusi (persebaran) masih sangat relevan untuk melihat fenomena selfie sebagai bentuk budaya populer baru yang mengglobal. Di era serba digital ini, alat telekomonunikasi dan media massa yang kemudian sangat berperan dalam menyebarkan dan membentuk budaya-budaya baru.
 
Konsep lain yang diberikan oleh penyelenggara Pasar Keroncong Kotagede adalah dengan mengadakan lomba foto bagi pengunjung, hadiah yang diberikan pun cukup membuat pengujung tertarik untuk ikut berpartisipasi dalam lomba foto ini. Penyelenggara tidak membuat persyaratan yang cukup sulit, hanya dengan memasukan foto-foto tersebut kedalam jaringan sosial media seperti Instagram, kemudian penyelenggara menentukan pemenangnya. Secara teknis lomba foto ini cukup mudah untuk diikuti, sehingga memotivasi pengunjung untuk berfoto sebanyak mungkin dengan harapan bisa mendapatkan hadiah, tentu aktifitas memotret tersebut selain untuk mengikuti lomba foto yang diadakan, aktifitas tersebut juga dilakukan untuk mengabadikan moment selama berada di festival tersebut.

Perilaku Pengunjung Festival
Usaha yang dilakukan oleh pihak penyelenggara Pasar Keroncong Kotagede 2016 untuk memberikan yang terbaik bagi pengunjung festival tampaknya sangat maksimal. Grup orkes keroncong yang didatangkan dari berbagai kota, plus penyanyi-penyanyi kondang dari berbagai lintas genre. Hal itu masih ditambah pula dengan menyediakan beberapa tempat di kawasan pasar Kotagede yang sengaja disetting dengan sangat dekoratif, merchandise menarik yang dijual dengan harga terjangkau, kemudian ditambah dengan adanya lomba foto yang peserta lombanya bisa diikuti oleh siapa saja bagi mereka yang datang ke festival.

Namun yang menjadi perhatian menarik dari semua itu ialah kenyataan bahwa tidak semua pengunjung datang ke festival untuk menonton pertunjukan musik yang ditampilkan. Banyak dari pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dan mengabadikan pertunjukan dengan cara memotret grup orkes keroncong yang tampil, terlebih dengan adanya lomba foto yang diadakan oleh pihak penyelenggara festival.

Dekorasi yang paling diminati
sebagai tempat berfotoi oleh pengunjung 
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Tentu saja, menghadiri dan menikmati festival dengan cara mengabadikan moment dengan berfoto-foto merupakan salah satu cara melepaskan rasa jenuh dari rutinitas sehari-hari. Tapi kemudian muncul pertanyaan apakah pengunjung yang datang hanya untuk menikmati suasana festival dengan cara berfoto bahkan kalau boleh dikatakan datang hanya untuk mengikuti lomba foto yang diadakan tanpa harus menonton dan mengapresiasi seluruh pertunjukan yang ada dapat dikatakan apresian festival?

Jika hal ini benar terjadi, artinya pengunjung hanya tertarik terhadap bentuk lain dari apa yang ditawarkan oleh festival tersebut seperti lomba foto, dan menonton pertunjukan tidak menjadi alasan utama untuk menghadiri festival itu. Terlebih lagi bahwa jenis musik keroncong selalu diasumsikan jenis musik yang digemari generasi tua saja, walaupun pada kenyataannya asumsi ini bisa dikatakan tidak benar setelah melihat apa yang ditampilkan pada perhelatan Pasar Keroncong Kotagede lalu.

Salah satu bentuk dekorasi
yang digunakan sebagai Photobooth
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Berdasarkan fenomena yang terjadi pada festival Pasar Keroncong Kotagede, apa yang dikatakan oleh Jo Mackellar cukup bisa menjelaskan tentang perilaku pengunjung Pasar Keroncong Kotagede, dalam hal ini Jo Mackellar (2014) menggunakan kata partisipan sebagai kata ganti pengunjung, dia mengatakan bahwa partisipan serius (pengunjung) datang ke suatu event khusus yang menarik untuk mencari tantangan baru dalam berbagai aktifitas dan perlombaan.

Merunut pada apa yang dikatakan oleh Mackellar diatas, tentu sebahagian dari pengunjung – walaupun tidak bisa dikatakan semuanya – festival Pasar Keroncong Kotagede tergolong sebagai pengunjung yang berperilaku serius yang datang untuk mencari kesenangan dan tantangan baru dalam berbagai aktifitas dan perlombaan. Jika dikatakan aktifitas ini merupakan bagian dari salah satu cara untuk melepaskan kejenuhan dari rutinitas harian, tentu hal ini juga merupakan solusi yang bisa lakukan pada saat itu.

Tak bisa dipungkiri, memang banyak orang datang mengunjungi festival dengan berbagai alasan dan motivasi yang berbeda-beda. Festival sebagai salah satu aktitas kebudayaan, didalam agendanya juga membentuk “budaya sendiri”, yang bisa diproduksi dengan berbagai cara. Lomba foto yang diadakan oleh Pasar Keroncong Kotagede juga membantu membentuk budaya selfie semakin populer ditengah masyarakat kita saat ini, walaupun sebenarnya budaya memotret diri sendiri (selfie) ini di Indonesia pun juga sudah telah lama ada, paling tidak beberapa tahun belakangan ini.

Lalu aktifitas selfie ini menimbulkan pertanyaan lain, mengapa orang senang berfoto di festival? Udo Merkel (2015) menjelaskan bahwa setiap festival dan event menciptakan dan menawarkan nilai-nilai khusus, yang membantu setiap individu-individu dan masyarakat atau komunitas untuk membuat pengertian tentang siapa mereka. Wacana yang diajukan Merkel itu kiranya cukup menjelaskan bahwa saat ini festival merupakan sebagai penanda kekinian, dan bagi pengunjung berfoto adalah upaya mengindentifikasi diri sebagai orang masa kini.

Setiap penyelenggara festival memang memiliki strategi yang berbeda untuk bisa mendatangkan pengunjung pada festival yang diselenggarakannya. Mengadakan lomba foto pun merupakan salah satu cara untuk mengundang pengunjung datang langsung ke lokasi festival. Dalam konteks ini, mengadakan lomba foto dalam disaat festival sedang berlangsung tentu tidak ada salahnya, pengunjung pun bisa memilih aktifitas apa yang ingin mereka lakukan saat berada dilokasi festival.

Tapi kemudian, jika pengunjung lebih tertarik untuk mengikuti aktifitas lain dari pada hadir untuk menonton sajian pertunjukan yang ada, bagi penyelenggara festival hal ini mungkin perlu dipertimbangkan lagi, karena akan menjadi tidak maksimal jika pengunjung datang hanya untuk mengikuti aktiftas lain sementara agenda inti dari festival seperti menyaksikan penampilan dari berbagai grup musik yang didatangkan kurang menarik perhatian, pertunjukan bukan lagi sebagai agenda utama dari sebuah festival musik.

Festival dan Budaya Selfie
Menurut Sejarah, festival telah menjadi bagian bentuk terpenting dari partisipasi sosial dan kebudayaan. Seperti dikatakan Andy Bennett (2014) festival menyampaikan dan membagikan nilai-nilai, ideologi, mitologi dan pada cara pandang yang baru bagi komunitas lokal tertentu. Pasar Keroncong Kotagede sebagai sebuah festival musik juga memiliki peranan dalam membangun dan membentuk kebudayaan. Didukung oleh teknologi yang modern, persebaran bentuk budaya baru akan sangat cepat tersebar, terutama dengan menggunakan perangkat telekomunikasi dan media massa.

Aktifitas memotret diri sendiri atau yang saat ini sudah lazim disebut dengan istilah selfie, merupakan suatu bentuk budaya populer baru yang mengglobal, karena isitilah selfie ini sangat populer bahkan pada tahun 2013 Oxford Dictionaries (kamus Bahasa Inggris) memasukan kata selfie kedalam susunannya berdasarkan pertimbangan sebagai kata yang sering digunakan untuk memotret diri sendiri.
    
Bisa dikatakan saat ini disetiap agenda festival-festival yang diselenggarakan, aktifitas selfie ini tidak pernah lupa untuk dilakukan, baik dilakukan secara perorangan, berpasangan, maupun berkelompok. Penyelenggara festival bahkan juga terkadang selalu menyiapkan tempat khusus di mana para pangunjungnya bisa berselfie untuk mengabadikan peristiwa. Aktifitas selfie saat ini seperti menjadi bagian yang tak terpisahkan pada saat festival. Ditengah kesibukan dan tuntutan hidup yang semakin padat dan banyak, mengujungi festival untuk melepaskan kejenuhan dari rutinitas harian tentu bisa juga dijadikan salah satu alternatif pilihan. 

Saling-Silang Tubuh Dalam Seni Pertunjukan; Catatan dari Diskusi FTJ 2016

Senin, 16 Januari 2017 | teraSeni.com~

“Teater dengan segala kemampuannya, selalu menjadi tempat untuk bertindak dan bersikap bagiku. Ia mampu mengadakan tantangan bagi dirinya sendiri dan bagi penonton dengan memporak-porandakan visi, perasaan dan pendapat stereotipe yang telah mapan…lebih menggetarkan karena teater “tercitra” di dalam organisme pernafasan orang, dalam tubuh dan detak jantungnya.”
“Aktor melakukan penyerahan diri secara total. Ini adalah teknik trance, suatu teknik integrasi antara psikis dengan kekuatan tubuh aktor yang muncul dari pengenalan yang paling intim terhadap diri dan nalurinya yang memancar dari apa yang disebut trans lumination.” (Jerzy Grotowski, sutradara teater)

“Teater Melarat identik dengan konsep poor theatre-nya Grotowski. Yang penting dalam teater adalah aktor, bukan yang lain-lain.” (Tengsoe Tjahyono, aktor, sastrawan)

“Kekuatan aktor yang ditunjang modal dasar aktor yang ampuh inilah yang kemudian berkembang menjadi konsep ‘berangkat dari yang ada’” (Darmanto Radjab, aktor)

“Bagiku, tari itu ya tubuh, tubuh yang berbicara.” (Eko Supriyanto,  koreografer, penari)

“A good dancer is a good dancer whatever style.”
“I was always working very hard, and I only wanted to be a dancer. My wish was only to dance. I found only that dancing was the way I expressed myself. And I found with music and with movement there was something that was me.” (Pina Bausch, koreografer, penari)

Pernyataan para tokoh, kreator dan seniman tersebut di atas menguatkan pandangan perihal tubuh sebagai sentral dalam penciptaan karya seni pertunjukan. Dalam katalog Festival Teater Jakarta (FTJ) 2016 disebutkan bahwa dalam kerja teater tubuh aktor adalah modal kerja utama pemanggungan. Namun demikian, telaah tentang tubuh dari berbagai perspektif belum banyak dilakukan.

Diskusi yang bertajuk Estetika dalam Tantangan Masa Kini adalah ruang yang dihadirkan guna mewadahi perbincangan atas tubuh dalam Seni Pertunjukan. Diadakan pada 6 Desember 2016 di lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), diskusi ini merupakan rangkaian perhelatan FTJ (21 November – 9 Desember 2016). Dua pembicara yang dihadirkan, A. Setyo Wibowo dan Heri Lentho,  saya anggap mewakili pandangan tubuh dari latar belakang filsafat “timur dan barat”.

Diskusi FTJ 2016-teraSeni.com
A. Setyo Wibowo dan Heri Lentho
tampil sebagai pembicara Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/)

Heri Lentho dalam pemaparannya mengingatkan saya akan kepekaan tubuh “timur” terutama dalam keterhubungannya dengan alam, yang beberapa kali saya tangkap pula dari pengalaman ketubuhan koreografer-penari, Sardono W. Kusumo. Dalam perjalanannya menyusuri Sungai Mahakam Kaltim, tiba-tiba pemandu sekaligus pengemudi perahu yang ditumpangi Sardono dan tim, menghentikan perahu dan meminta seluruh penumpang mengosongkan perahu, karena perahu akan dibalik. Hal itu harus dilakukan karena di hadapan mereka adalah arus berbahaya yang tidak mungkin dilalui.

Setelah itu dilakukan dan menunggu beberapa waktu di tepi sungai, datang sekelompok warga suku Dayak. Mereka masuk ke sungai membentuk formasi, melakukan gerakan-gerakan dan mengeluarkan suara-suara, menyerupai ritual tertentu. Kemudian satu-satu mereka menyelam dan muncul ke permukaan sungai dengan membawa barang-barang milik rombongan (termasuk elektronik), yang tercebur ke air ketika perahu dibalik. Semua barang terselamatkan.

Kali lain, Sardono menceritakan pengalamannya di pedalaman hutan Papua bersama suku Asmat. Ketika itu ia memiliki kesempatan menginap bersama mereka di tengah belantara hutan, dalam perjalanan ke suatu tempat. Di tengah malam, tiba-tiba salah seorang dari mereka terbangun dan mengeluarkan suara, mirip lolongan serigala. Setelah itu ia tertidur lagi. Suara itu rupanya merupakan respon terhadap suara lain di luar sana.

Diskusi FTJ 2016-teraSeni.com
Para Partisipan Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/)

Heri Lento menuturkan pengalamannya berjumpa pak Marsudi, seorang penganut Hindu-Jawa. Beliau menari di upacara-upacara Hindu, dan dengan tariannya itu ia mampu menghubungkan tubuhnya dengan alam, sehingga turun hujan. Dari pengalaman itu Heri mempelajari bagaimana manusia menghidupkan inderanya.

Salah satu sumbernya adalah pengetahuan Hindu. Dalam pengetahuan Hindu termuat konsep tentang terbentuknya Bhuana Agung terutama pada Roh Agung menciptakan unsur halus berupa panca driyani (lima indera) pembangkit getaran dan menghasilkan lima benih unsur yang sangat halus tanpa bentuk, yaitu benih suara, benih warna, benih rasa, benih bau, dan benih sentuhan/peraba. Pada Bhuana Alit dalam tubuh manusia berwujud panca indera yaitu telinga, kulit, mata, lidah, hidung. Selain itu Heri juga merujuk Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, yang pada epilognya menyebutkan bahwa semua agama dan kepercayaan baik yang purba maupun yang terbaru, media bertemu tuhan adalah melalui musik.

Dari kedua rujukan tersebut Heri menemukan kunci yang selanjutnya ia kembangkan dalam proses kreatifnya, yaitu getaran. Selain getaran dalam bentuk bunyi yang bersumber dari tubuh maupun alat/benda, Heri melakukan pengolahan energi dan kekuatan tubuh. Baginya, akhir sebuah pertunjukan adalah potret yang merangkum nilai pertunjukan tersebut. Karenanya, energi getaran di sini harus benar-benar terasa sangat kuat. Lampu panggung yang meredup jusru harus mengesankan sebagai lampu kilat kamera yang memoret (inti) pertunjukan itu. Layaknya doa, energi pertunjukan harus terbawa pulang oleh penonton, tersimpan di dada dan terus melayang dalam imajinasi masing-masing.

Diskusi FTJ 2016-teraSeni.com
Para Partisipan Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/)

Menurut Heri di sinilah teater/seni pertunjukan berfungsi memanusiakan manusia, yaitu teater yang menyalakan kembali fungsi ke-indera-an manusia seutuhnya. “Apa yang dimaksud seni mempunyai fungsi memanusiakan manusia?”, “Apakah manusia yang akan menonton seni pertunjukan nanti, sudah bukan manusia lagi?”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah perpanjangan dari pengamatan Heri bahwa tubuh manusia sekarang telah menjadi bagian kata kerja peralatan teknologi: alat transportsi modern (sepeda motor, mobil, pesawat, kereta api), komputer, telepon seluler, peralatan rumah tangga modern (kompor listrik, seterika, pemanas air, pendingin ruangan, oven, dll). Semua peralatan tersebut telah menjadi bagian rutinitas tubuh dari waktu ke waktu.

Menurutnya tubuh rutin manusia memerlukan relaksasi, raga dan jiwa, untuk penyegaran kembali keberadaan kemanusiaannya. Dalam posisi penyegaran inilah peran Seni Pertunjukan menjadi penting: Bagaimana teater dapat berperan sebagai ruang meditasi ketubuhan penonton.

Ia melihat, pada masyarakat yang maju, seperti Jepang, mereka melihat teater begitu penting. Bagi mereka menonton teater seperti menyegarkan tubuh yang mengalami kejenuhan dan kepenatan. Bahkan di sana sudah terlihat potret sosial masyarakat tampak di kehidupan teaternya. Teater Sehat = Masyarakat Sehat, Teater Sakit = Masyarakat juga sakit. Nah, pertanyaannya yang menggelitik adalah apakah potret kejiwaan masyarakat kita berbanding lurus dengan potret perteateran di negeri ini ?

Dualisme dan Monisme  
A Setyo Wibowo menyampaikan bahwa dalam filsafat Barat terdapat dua pandangan perihal hubungan tubuh-jiwa. Yang pertama adalah pandangan “dualisme” yang berpendapat bahwa raga dan jiwa terpisah dan bertentangan. Jiwa adalah substansi berpikir, sadar diri, bebas, tidak material dan tidak memiliki keluasan, sebuah “aku”. Raga didefinisikan sebagai materi keluasan, substansi tanpa kualitas psikis, tanpa finalitas.

Cara berpikir modern menghabisi pola pikir magis animis (yang percaya bahwa materi punya daya psikis) dan menolak teori simpati kosmis (bahwa hidup tiap unsur di alam saling berinteraksi). Pandangan modern dualis ini yang kemungkinan membuat kita nyaman makan binatang-binatang tertentu, menebang pohon, mencari batu bara-tembaga-besi-emas, tanpa rasa bersalah karena kita menganggap semuanya hanya raga, materi keluasan tanpa kesadaran dan tanpa rasa.

Dualisme keras ini ditemukan dalam doktrin aliran Orphico—pythagorisme yang menganggap tubuh sebagai penjara dan kuburan bagi jiwa. Tanpa memusingkan bagaimana interaksi keduanya, sejauh raga dianggap amplop atau baju, maka jiwa memiliki hidupnya sendiri, reinkarnasi berkali-kali, bergonta-ganti baju (raga manuia, raga binatang). Raga adalah tempat ujian, tempat pemurnian, sarana bagi jiwa untuk kembali ke yang illahi.

Kedua adalah pandangan “monisme”. Ini adalah pandangan yang tidak peduli kekekalan jiwa, dan menganggap bahwa material adalah satu-satunya realitas. Di jaman kuno, monisme keras diungkapkan oleh Demokritos (segalanya adalah atom) dan Stoicisme (semua adalah tubuh). Baik jiwa maupun raga berasal dari satu prinsip, dari atom (demokritos) atau dari api (stoicisme).

Materialisme modern berpikir mirip: segala gejala psikis atau spiritual diterangkan lewat mekanisme material. Pikiran, emosi, dijelaskan lewat mekanisme molekul-molekul belaka. Wanita lebih mudah menangis dari pria, karena mereka makhluk perasa, tetapi karena hormon prolactyn yang lebih banyak di tubuh mereka daripada lelaki. Kata jiwa adalah sesuatu yang datang menempel pada apa yang landasan pokoknya proses fisis tubuh, aksi-reaksi kelenjar dan syaraf.

Versi lain dari aliran ini adalah teori korporalitas yang mengetengahkan bahwa “corps” (raga) adalah keseluruhan diri manusia, adalah subyektivitas manusia itu sendiri. Ada monisme lain yang tidak material, yang menekankan prinsip kesatuan jiwa-raga. Teori besar Aristoteles tentang Hylemorphisme (kesatuan jiwa dan raga), tanpa mengatakan apakah jiwa atau raga yang lebih utama, merupakan monisme formal.

Platon
Di tengah-tengah teori besar Dualisme dan Monisme, ada pendapat lain. Platon tidak membicarakan jiwa-raga sebagai dua hal yang beroposisi secara sejajar. Ia juga menerima dualitas jiwa-raga tanpa jatuh dalam dualisme orphico-phytagorisme.

Platon menjelaskan bahwa tubuh manusia adalah bagian dari tubuh alam semesta. Materi dasar alam semesta adalah “khora”. Ia misterius, gelap, tak bisa dipikirkan. “Ruang primordial” ini berisi empat macam bentuk padat yang sangat kecil, tidak kelihatan. Tiap bentuk padat bisa ditengarai sebagai unsur-unsur tradisional api (tetrahedron), udara (octahedron), air (icosahedron), tanah (kubus). Bentuk-bentuk padat itu bisa dipecah menjadi dua segitiga, yaitu segitiga sama sisi dan segitiga sama kaki. Proses pemecahan dan penggabungan dua segitiga inilah yang memungkinkan setiap elemen bercampur satu dengan lainnya untuk memunculkan tubuh alam semesta dan tubuh manusia.

Tubuh (soma) manusia adalah tanda (sema) sejauh jiwa adalah yang diprioritaskan Platon. Tubuh menjadi pertanda bagi jiwa yang menghuninya. Sejauh soma hanyalah sema, tubuh bersifat netral. Tubuh hanyalah memberikan indikasi tentang jiwa yang menghuninya. Yang jelas bagi Platon, prioritas ada pada jiwa, karena jiwalah yang menggerakkan raga.

Dalam versi modernnya, orang berbicara tentang kebertubuhan (Leib, daging, hidup, tubuh yang dihayati) yang dipandang lebih aktif daripada sekedar tubuh sebagai benda. Lewat raganya manusia mengalami dan mengekspresikan sesuatu yang lebih lagi.

Di satu sisi bahwa tubuh bisa menjadi obyek karena bisa “dipakai” sebagai alat. Di sisi lain, tubuh-obyek atau tubuh-alat ini juga dipakai untuk mengatakan sesuatu yang ia hayati dari dalam dirinya sendiri. Tubuh kita bisa menjadi obyek (alat) bagi diri kita yang mengungkapkan diri dengan tubuh itu juga (artinya sekaligus subyek). Lewat tubuh kita mengalami diri sebagai le touchant touchee (yang menyentuh adalah sekaligus yang disentuh).

Raga adalah sema / pertanda, persis karena raga selalu merujuk pada sesuatu yang lain dari dirinya. ‘Yang lain’ itulah yang banyak ditemukan oleh para kreator. Tubuh yang menyerap, mengalami, memproses, mengekspresikan, menerima lagi, demikian seterusnya.  

Khuldi, Refleksi Teater ESKA atas Fenomena Partikularitas

Sabtu, 31 Desember 2016 | teraSeni~

Teater ESKA pada tanggal 04 Januari 2017 ini akan  melaksanakan Pentas Produksi XXXIII di Concer Hall, Taman Budaya Yogyakarta. Pentas yang akan dimulai pada pukul 19.30 WIB ini merupakan pungkasan dari pentas keliling tiga kota sebelumnya, yakni Purwokerto, Bandung, dan Bogor. Berturut-turut dari tanggal 12, 14, dsn 16 Desember 2016. Di Purwokerto pentas ini dilaksanakan di GSC IAIN Purwokerto, Bandung di Rumentang Siang, dan Bogor di Auditorium Toyib Hadiwijaya Fakultas Ekologi dan Manusia kampus IPB Dramaga.

Pementasan Khuldi Teater ESKA-teraSeni
Salah Satu Adegan dalam Khuldi,
Pementasan Teater ESKA, Sutradara Zuhdi Sang

Teater ESKA, yang telah berdiri sejak 1980an, melalui karya ini mengangkat isu sosial pasca reformasi dalam pentas berjudul KHULDI. Disutradarai oleh Zuhdi Sang, KHULDI merupakan teks yang diciptakan bersama oleh tim kreatif Teater ESKA, dengan penulis naskah Zuhdi Sang dan Ghoz TE, dua anggota aktif Teater ESKA. Ahmad Kurniawan, lurah Teater ESKA saat ini mengatakan, KHULDI menandai bahwa Teater ESKA terus produktif dan yang terpenting tetap berpegang pada satu prinsip bahwa spirit karya Teater ESKA tidak lepas dengan kajian keislaman. “Kami kelompok kesenian yang berbasis kajian keislaman seperti filsafat Islam, sejarah, dan sebagainya. dan kami juga terbuka pada alternatif kajian lain seperti kritik ideologi dan kajian budaya,” tutur Kurniawan.

Sementara terkait segmentasi penonton, Ramadan MZ, pimpinan produksi, menyatakan bahwa harapannya KHULDI ditonton semua kalangan, seperti masyarakat umum, pelajar maupun mahasiswa, akademisi atau pemerhati sosial dan sebagainya. Sebab isu yang dibawa pentas ini sangat relevan mengingat hari ini marak terjadi konflik horizontal di tubuh masyarakat. Baik konflik beda keyakinan atau agama, beda paham politik atau suku, maupun konflik disebabkan kepentingan ekonomi dan perbedaan klub sepak bola yang didukung. Karena itu KHULDI menjadi penting, sebagai tontonan KHULDI juga tajam membaca fakta sosial. “Kita semakin terpecah-pecah justru ketika kebebasan berpendapat yang tak ternilai harganya itu hadir di tengah masyarakat kita. Padahal tidak seperti ketika Orde Baru yang sedikit sekali ruang kebebasan,” kata Ramadhan MZ, sekaligus menjelaskan latar belakang pementasan KHULDI.

Pementasan Khuldi Teater ESKA-teraSeni
Salah Satu Adegan dalam Khuldi,
Pementasan Teater ESKA, Sutradara Zuhdi Sang

Faktanya, masyarakat terpecah-pecah karena partikularitas kelompok dan partikularitas nilai yang dianutnya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberagama partikular adalah syarat terbentuknya masyarakat, tetapi jika salah memahami keberagaman, keterpecahan tak lagi terelakkan. Itulah yang terjadi. Mengutip pemaparan sutradara, Zuhdi Sang, maka seperti suatu bangunan yang runtuh, kita kembali tergeletak di antara ‘ketiadaan’ sosial dan pertanyaan besar tentang apa itu masyarakat, bagaikan bongkahan batu yang berserak dan bergerak demi menentukan nasib sendiri.

KHULDI, merupakan metafora Teater ESKA atas kegagalan pemaknaan, pemujaan berlebihan kepada objek, dan keruntuhan sosial. Sebagaimana kisah Adam dan Hawa, demi adanya dunia maka buah terlarang itu harus ada. Dengan kata lain, di satu sisi keberagaman sebagai “khuldi-khuldi” adalah hal yang niscaya atau bahkan syarat bagi terbentuknya masyarakat. Namun di sisi lain ia adalah sumber petaka jika kita gagal dalam menyingkap makna atau nilainya. Berdasarkan hal itu, maka pementasan KHULDI pada dasarnya adalah sebuah refleksi atas perjalanan nasib sosial kita hari ini.

Tahun Baru di JBS (Jual Buku Sastra) #4: Apa Serunya?

Kamis, 24 Desember 2016 | teraSeni~

Merayakan Tahun Baru di Yogyakarta, tidak hanya bisa dirayakan di obyek-obyek wisata saja, namun juga dapat mengunjungi ruang-ruang alternatif lainnya, misalnya berkunjung ke toko buku Jual Buku Sastra (JBS). Jual Buku Sastra adalah toko buku yang menjual buku sastra, khususnya buku sastra indie, maupun buku sastra yang sudah tidak tersedia di toko buku, serta buku sosial-budaya. Selain menjual buku secara online di jualbukusastra.com, JBS juga punya toko offliner yang biasa disebut ‘KedaiJbS’, yang sekaligus menjadi ruang pertemuan para penulis, pecinta buku dan menjadi ruang diskusi mengenai fenomena serta kelahiran buku baru.

Tahun Baru di JBS #4-teraSeni
Tahun Baru di JBS Season 4

Setiap akhir tahun JBS mengadakan pameran buku tahunan bertajuk ‘TahunBarudiJBS,’ yang pada akhir tahun ini diselenggarakan dari tanggal Kamis 29 Desember 2016 hingga Senin, 2 Januari 2017, pukul 10.00-20.30 WIB di Kedai JBS, Jalan Wijilan, Gang Semangat no 150, Alun-alun Utara, Yogyakarta (Belakang Gudeg Yu Djum, Kompek Gudeg Wijilan). Penyelenggaraan ‘TahunBarudiJBS’ tahun ini merupakan yang keempat kalinya. Pameran tersebut menghadirkan diskon buku hingga 70%, sehingga dapat dipastikan seluruh buku yang pada hari biasa dijual dengan harga reguler, dijual dengan harga diskon. Harga mulai dari Rp.10.000,00.

Tahun Baru di JBS #4-teraSeni
Diskusi bersama Gunawan Maryanto
dan Joko Pinurbo
di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha)

Ada puluhan penerbit yang terlibat dalam pameran ‘TahunBarudiJBS’ kali ini, baik penerbit umum maupun penerbit indie. Sebagian besar buku yang ditawarkan adalah buku sastra. Tapi tidak saja berisikan pameran buku, pada sore hari hadirin ‘TahunBarudiJBS’ dapat menikmati hiburan berupa musik dan pertunjukkan sastra serta diskusi karya sastra. Rangkaian acara tersebut masih dilengkapi dengan beberapa acara lain, berupa workshop menulis esai dan puisi, diskusi mengenai sastra terjemahan dan peta penerbit di Jogja, serta launching beragam buku sastra.

Tahun Baru di JBS #4-teraSeni
Para peserta dalam keseruan diskusiTahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha)

Pada penyelenggaraan yang ke empat ini ‘TahunBarudiJBS’ mengundang puluhan penulis yang terlibat dalam berbagai rangkaian acara, mulai dari worshop, diskusi, launching buku, moderator, dan pembacaan karya. Workshop kepenulisan esai akan berlangsung bersama Muhidin M Dahlan, sedang workshop menulis puisi akan diisi oleh Hasta Indriyana. Launching buku sastra, yang terdiri dari puisi, cerpen, novel, jurnal puisi, karya terjemahan akan menghadirkan belasan penulis, di antaranya: Abu Wafa, Andy S Wahyudi, Aik Vela, An Ismanto, Astrajingga Asmasubrata, Berto Tukan, Dian Savitri, Hasta Indriyana, Hendrawan S. Thayf, Latief S. Nugraha, Mira MM Astra, Moh Syarir Hidayatulah, Muhammad Ali Fakih, Nunung Deni Puspitasari, Nurul Hanafi, Risda Nur Widia, S. Arimba, dan Zulkifli Songyanan.

Tahun Baru di JBS #4-teraSeni
Bernard Batubara Membaca Puisi
di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha)

Sementara itu diskusi mengenai dinamika penerbit Jogja akan diisi oleh Adhe, dan Eka Pocer serta Buldanun Khairi di mana ketiganya adalah pelaku dunia perbukuan di Yogjakarta yang pernah bergerak di industri penerbitan mayor maupun indie. Sementara untuk diskusi seputar pengalaman menterjemahkan karya akan hadir Tia Setiadi serta Chris Woodrich. Untuk menyemarakkan diskusi dan launching buku para moderator yang teribat terdiri dari sastrawan muda yang tinggal di Jogja. Mereka di antaranya adalah: Asef Saiful Anwar, Dahlia Rasyad, Fairuzuk Mumtaz, Irwan Bajang, Prima Suilistya Wardhani, Rozi Kembara dan Sedopati Sukandar. Sementara untuk MC di beberapa sesi akan dipandu oleh Ofix Okemix.

Tahun Baru di JBS #4-teraSeni
Suasana Pameran
di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha)

Rangkaian acara workshop diadakan jam 13.00 WIB pada 30 Desember 2016 dan 2 Januari 2017. Launching buku diadakan setiap jam 16.30 WIB, sementara untuk sesi diskusi akan berlangsung pada jam 18.20 WIB. Pameran buku sendiri diadakan setiap hari mulai jam 10.00-20.30 WIB, yang akan diikuti oleh puluhan penerbit indie dan penerbit reguler lainnya yang juga menerbitkan karya sastra. Ada pun acara lainnya adalah seni pertunjukan, baik saat pembukaan maupun penutupan acara ataupun di sela-sela acara yang lain. Para pengisi acara di antaranya adalah: Alif Rahmadani, Andy SW, Gunawan Maryanto, Iqbal H. Saputra, Kedung Dharma Romansha, Kelompok Hidup, Maharani Khan Jade, Misbah, Raedu Basha, Reddy Suzayzt, Retno Iswandari, Sasmita Serta Yulionooo Singsoot.

Tahun Baru di JBS #4-teraSeni
Diskusi buku puisi Yopi Setia
Umbara dan Nisa Rengganis bersama
Dea Anugrah di TahuanBarudiJBS #3
(Foto: Doni Martha)

Jangan lupa, selama acara berlangsung akan ada banyak ‘kadobuku’ untuk pengunjung. Seluruh rangkaian acara nantinya akan disiarkan secara live oleh radiobuku.com dan bisa diikuti d twitter/IG @jualbukusastra dan FB jual buku sastra. Di ketiga media online tersebut juga menyediakan ‘kadobuku’ untuk foto yang dishare selama event berlangsung. Dan apabila ada peserta di luar Yogyakarta yang berminat untuk membeli buku-buku yang terdapat di pameran, buku dapat dibeli melalui website www.jualbukusastra.com. Penjualan online akan diadakan selama pameran berlangsung. Informasi dan kerjasama bisa menghubungi 0818-0271-7528, atau (0274) 2872022.

Nah, kurang seru bagaimana lagi?  

Pertanyaan Tubuh; Catatan Dari Workshop Indonesian Dance Festival 2016

Sabtu, 17 Desember 2016 | teraSeni~

Perhelatan workshop Indonesian Dance Festival (IDF), 21-27 Juli 2016 di Malang, mengusung isu pentingnya riset artistik dalam koreografi kontemporer. IDF menemukan permasalahan di dunia koreografi kontemporer Indonesia dalam rentang 2-5 tahun ini, yaitu kurangnya kemauan, dan adanya kemiskinan pemahaman terhadap cara memperdalam tema yang hendak digarap. Padahal di Indonesia begitu banyak bahan dan tema yang membutuhkan respon artistik para seniman. Ditambah dengan lemahnya penggalian tema dan riset artistik dalam karya-karya koreografer muda Indonesia.

Workshop Indonesian Dance Festival 2016-teraSeni
 Para Perserta
Workshop IDF 2016 di Malang
(Sumber Foto:
https://www.facebook.com/
IndonesianDanceFestival/)

Workshop ini dimaksudkan sebagai stimulasi bagi pengkayaan perspektif kritis koreografer. Kekayaan perspektif itu modal bagi riset-riset mereka. Dengan demikian diharapkan muncul karya-karya koreografi yang kuat pada tema dan eksekusi artistiknya. IDF mendatangkan empat narasumber. Mereka adalah seniman dari pelbagai disiplin seni yang sudah terbiasa bekerja dengan riset artistik yang mendalam. Karya-karya mereka mengutamakan riset dalam prosesnya, baik tema maupun artistik.

Daniel Kok, seorang koreografer dari Singapura. Karyanya baru-baru ini, Bunny, merupakan hasil risetnya tentang ‘keterhubungan’ (relationality) dan kepenontonan (audienceship). Pada 2016 ini, ia memulai penelitian baru perihal trans-individualitas. Daniel terinspirasi konsep “the dead of the author” dari pemikir Perancis Roland Barthes, bahwa yang ‘menyelesaikan’ karya /tulisan adalah pembaca. Pembaca yang mengkonstruksi makna karya/tulisan. Dari situ ia berpikir bahwa penonton adalah hal yang penting. Eksplorasi atas penonton dan kepenontonan mewarnai karya-karyanya. Baginya tari tidak bersandar pada bahasa yang sekedar pernyataan-pernyataan. Menurutnya perlu menjelajahi sikap kritis. Mengapa kita berkumpul bersama dan menjadi kritis.

Arco Renz, koreografer asal Jerman yang menetap di Belgia. Ia memiliki perhatian mendalam terhadap Asia. Kerap berkolaborasi dengan penari dan koreografer Asia Tenggara. “Saya menari karena ingin menyatakan sesuatu yang tidak bisa saya pikirkan/ungkapkan secara verbal”, begitu katanya. Baginya tari adalah praktik, aksi. Tari adalah bahasa, memformulasikan sebuah bahasa, di mana kata-kata sangat sulit menjangkaunya. Tari sebagai bahasa membawa Arco pada pencarian perihal kekosongan dan oposisinya, kepenuhan. Arco berpegang pada konsep oposisi ini : suatu hal tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya lawan darinya.

Workshop Indonesian Dance Festival 2016-teraSeni
Arco Renz dan Daniel Kok
Berdiskusi dengan peserta
Workshop IDF 2016 di Malang
(Sumber Foto:
https://www.facebook.com/
IndonesianDanceFestival/)

Tari merupakan praktek pemahaman, kesadaran akan beragam sudut pandang dan perubahan-perubahannya. Tiga lapisan dalam tari menurutnya adalah praktik, kontemplasi, bahasa. Tari menempatkan hubungan vertikal-horizontal. Ini adalah bagian dari eksplorasinya pada sebuah karya. Tari juga menghubungkan pengalaman batin (inner experience) dan lingkungan (environment).

Bagi Arco, dramaturgi tari adalah sesuatu yang abstrak. Diperlukan parameter yaitu waktu, struktur/ruang (struktur pola energi yang mengikat kerangka), fisikalitas tubuh. Ia menemukan adanya konflik tubuh manusia dengan waktu dan ruang. Dalam arsitektur tubuh, harus ada negosiasi, didasari pertanyaan tentang pentingnya kebebasan. Parameter bergerak dalam konsep-konsep yang berlawanan. Hasilnya adalah negosiasi dari kutub-kutub yang berlawanan itu. “Life negotiation process” merupakan negosiasi antara gerak tradisi, otot-otot fisik, untuk memodifikasi gerak dari dalam.

“Solid States” merupakan karya Arco dengan penari Eko Supriyanto (Indonesia)  dan Melanie Lane (Australia). Di karya ini ia melihat ke dalam tradisi melalui sudut pandang fisikal yang berbeda. Dalam konteks lain, menurutnya, ballet dan hiphop misalnya, juga memiliki proses negosiasi yang berbeda.
Joned Suryatmoko, sutradara dan pendiri Teater Gardanala Yogyakarta. Ia kerap terlibat dalam penelitian bersama di kesenian. Karya terakhirnya, Margi Wuta, merupakan pencarian kemungkinan artistik dengan mendekati tema teater empati. Di situ ia berkolaborasi dengan para seniman tuna netra. Penonton ditutup matanya agar memiliki sensasi “mengalami”. Pada kesempatan lain, dalam perhelatan biennale seni rupa, para penonton melihat pameran dengan ditutup matanya, dan dipandu oleh para tuna netra.

Dalam workshop IDF ia mengusung tema “Mencari dan Menjawab Pertanyaan Artistik”. Dalam proses penciptaan, bagaimana kita bisa menemukan hal yang lebih besar dari pertanyaan itu. Partner berperan membantu merumuskan pertanyaan selanjutnya. Apa artistik ? Apa pertimbangan konsep kesenianmu ? Visi apa yang mendasari kita memainkan bentuk itu ? “Mengapa saya menari ?”. “Bagaimana hubungan kita dengan penari ?”. Direktur artistik adalah penentu arah. Dari pengalaman mencecap teater, baginya teater adalah menguatkan interaksi, meredam dominasi visual. Selain itu perlunya pengalaman mencecap isu. Apa yang dapat ditangkap dari dinamika kota ? Bahwa benda-benda punya cerita, sehingga kajian kehidupan sehari-hari adalah penting. Mari melihat susunan sekitar : normal ? tertata ? Mengapa bergerak, mengapa, berteriak, mengapa bergerak patah-patah, mengapa berbisik…

Nindityo, perupa, pendiri Yayasan Cemeti Yogyakarta. Dikenal dengan karya-karyanya yang melalui riset mendalam, mencoba memadukan dunia tradisional Jawa dengan kosa kata-kosa kata artistik (rupa) kontemporer. Akhir-akhir ini kerap berkolaborasi dengan penari. Dalam workshop ia menjelaskan tentang zona nyaman dan pentingnya keluar dari zona nyaman tersebut dalam kerja seorang seniman. Salah satu alasan mengapa seniman enggan keluar dari zona nyaman mereka adalah seniman tidak mau meresikokan diri dan reputasinya dengan merambah pada cara kerja atau pilihan artistik yang tak biasa ditempuhnya.

Baginya sebuah karya pasti akan dipahami secara berbeda pada tempat yang berbeda-beda. Karena itu perlu ada pendekatan tertentu agar karya tersebut bisa dimaknai oleh masyarakat di tempat yang berbeda. Ketika ia membawa karyanya ke Belanda, ia berkolaborasi dengan komunitas imigran Belanda dan mengajak mereka memaknai karyanya dengan sejarah kehidupan mereka di Belanda.
Beberapa waktu setelah workshop tersebut, saya berkesempatan bertemu dan bersiskusi dengan beberapa koreografer muda dan koreografer yang lebih senior di Jakarta.

Dari perbincangan kami, nyata bahwa dalam dunia koreografi kontemporer Indonesia tubuh memang masih terlepas dari konteks diri dan kesehariannya. Kesenjangan/keberjarakan itu menyulitkan koreografer kita membumikan-menukikkan gagasannya. Laksana air dan minyak, antara gagasan-tubuh-realita keseharian belum menyatu. Tubuh terjebak pada praktik penyerapan bentuk-bentuk dan teknik. Tubuh sangat kurang dibiarkan “mengalami”, kurang dibiarkan menjadi pasif.

Workshop Indonesian Dance Festival 2016-teraSeni
Arco Renz dalam
Workshop IDF 2016 di Malang
(Sumber Foto:
https://www.facebook.com/
IndonesianDanceFestival/)

Di sisi lain, dalam ruang penciptaan, gagasan abstrak menjadi sangat dominan. Jika itu tidak disadari dan dibiarkan begitu saja, maka pada pementasannya, karya itu tidak berbicara apa-apa. Fenomena lain menunjukkan dunia tari kita belum keluar dari dikotomi yang menyesatkan. Seolah-olah tidak mungkin terjadi irisan antara timur-barat, ekspresi komunal-ekspresi individual, tradisi-modern, feminin-maskulin, kasar-halus, dsb. Padahal jika mau kembali pada ilmu tubuh dan gerak, maka dikotomi-dikotomi itu tidak perlu ada.

Sekali lagi, kuncinya adalah pada “mengalami”. Keempat narasumber telah menyatakan itu. Tubuh tidak bisa dan tidak perlu dipisahkan dari realita keseharian. Justru yang layak diperbincangkan adalah bagaimana tubuh berproses dengan realita itu. Tubuh telah menyiapkan bahan perbincangan yang sangat kaya bagi para koreografer. Ia hadir berlapis-lapis tak terkira, karena demikian banyak hal yang ia serap dari waktu ke waktu.

Apakah tubuh disadari sebagai apa yang ia alami? Bahwa tubuh Jawa tidak sepenuhnya Jawa, karena ia tidak hanya menyerap unsur-unsur kejawaan. Bahwa tanah yang kita makan, air yang kita minum, udara yang kita hirup adalah bergerak-berubah dari waktu ke waktu. Selain juga munculnya hal-hal baru. Maka tubuh menyerap perubahan senantiasa, sehingga bagaimana bisa kita berteriak lantang tentang keaslian (orisinalitas !)? Dan mengapa juga hal itu menjadi penting? Bukankah lebih penting bersikap terbuka terhadap tubuh kita sendiri, dengan tanpa henti mengenalnya?

Riset artistik adalah sebuah upaya mengenal. Termasuk di dalamnya mengenal pengalaman-pengalaman keseharian. Riset mengungkap hal-hal yang tidak terdeteksi sebelumnya. Hal tersebut ditunjukkan oleh para narasumber.

Daniel Kok terbersit untuk ‘menyentuh’ penonton, pihak yang sangat dekat dengan seni pertunjukan. Melibatkan mereka. Mendekat kepada mereka. Ia ingin mengolah dan mengkritisi itu. Bukan jawaban final yang dicari, melainkan sebuah kondisi keterbukaan-realita. Arco lebih menukik pada persoalan tubuh. Tetapi tetap tidak memisahkannya dengan lingkungan pendukungnya. Ia menyelam di ‘tubuh dalam- tubuh luar’ ketika menyusun konsep artistiknya. Joned menyertakan penonton dalam pengalaman penciptaan. Ia menghidupkan pembacaan atas keseharian: interaksi dan keintiman di ruang publik, dinamika kota, konflik dan keabsurdan di ruang domestik. Nindityo mampu menghubungkan karyanya yang notabene berlatarbelakang budaya Jawa, dengan konteks sejarah imigran Belanda. Apa maksudnya? Karena ia ingin karya itu tidak berjarak dengan mereka, selaku penyerap karya itu. Bahwa ia ingin mengatakan kepada mereka: ada bagian dari dirimu yang terkait dengan karya ini. Mari kita telusuri, kita bongkar, dan kita perbincangkan. (sejarah adalah bagian dari tubuh !)

Keempat narasumber adalah mereka yang telah “menyikapi kembali” temuan-temuan atas proses tubuh. Kebanyakan koreografer kita belum menyentuh tubuh sebagai bagian dari realita. Karenanya tubuh pun bertanya : “sampai kapan ?”.

Yogyakarta, 4 September 2016