Komunitas ActorIdea Padangpanjang kembali akan menapaki satu perjalanan penting di jalur kesenian mereka. Sebuah perjalanan yang mereka bangun dari perjumpaan, serta kerja-kerja kolektif. Kali ini, lakon “Malin Kundang Lirih” akan mereka bawa melintas dibeberapa kota di Indoensia dalam rangkaian tur bertajuk “Selirih Dua Kota”. ActorIdea merupakan komunitas seni yang tumbuh dari inisiatif Wanda Rahmad Putra, Fajar Eka Putra, dan Akbar Munazif, yang sejak 2021 membangun ruang berkesenian di Padangpanjang. Komunitas ini tidak hanya memproduksi pertunjukan, tetapi juga menempatkan diri sebagai ruang belajar kolektif tentang seni akting dan teater. Di dalamnya, praktik panggung senantiasa disandingkan dengan produksi wacana, pembuatan konten, serta aktivitas literasi, menjadikan ActorIdea sebagai ekosistem kecil tempat eksperimen artistik dan pengetahuan saling berkelindan.
Pertunjukan dibeberapa kota ini bagi Actoridea tentu tidak hanya sebuah penjelajahan yang bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi juga upaya merawat ingatan tentang cerita rakyat dalam lanskap budaya hari ini, kontemporer. Perjalanan pertama rencananya akan dilabuhkan di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada 10 Desember 2025, dalam program Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST). Sebuah ruang temu yang digarap bersama oleh Lab Teater Ciputat (LTC) dan MTN Seni Budaya. Lalu, beberapa hari kemudian, rombongan ini akan bergerak ke kota kedua, tepatnya di Gedung Hall Suyitno, Universitas Bojonegoro, 14 Desember 2025. Bersama Yayasan Teman Penggerak Indonesia (YTPI), Teater Geniwara, dan Kolektif Ataraksa.
Sebelumnya, “Malin Kundang Lirih” telah lebih dulu menguji “kelirihannya”dan mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dimana “mitos” ini tumbuh. Di Gedung Teater Arena Mursal Esten ISI Padangpanjang, dalam program Lab Indonesiana, Dapur LTC 2024. Sebagaimana Sumatera Barat, tentu tidak ada yang tidak jadi bahan untuk didialogkan. Karya ini pun kemudian mendorong percakapan-percakapan baru. Karya ini menjadi semacam pembacaan ulang atas mitos, dengan bahasa yang lain. Dengan tubuh teater kontemporer. Pementasan berikutnya di Padang, pada 6 November 2025, dalam momen Pergelaran Seni Peringatan Sumpah Pemuda & Hari Pahlawan di Taman Budaya Sumatera Barat.
Sesungguhnya, bagi ActorIdea, tur keluar dari landscape budaya “Malin Kundang” ini bukan sekadar perjalanan pertunjukan, tetapi upaya memperluas percakapan lintas budaya. Mengenai maskulinitas, pengalaman perantauan, hingga kerentanan identitas. Tema-tema yang tentu terus bergerak seiring pengalaman-pengalaman penonton yang berbeda, ruang yang berubah, serta konteks sosial yang senantiasa membuka diri bagi tafsir baru. “Malin Kundang Lirih” sebetulnya adalah sebuah naskah monolog karya Pandu Birowo. Staf pengajar di jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Melalui naskah ini, Malin ditempatkan bukan lagi sekadar figur dalam dongeng moral. Ia adalah sosok manusia yang dibentuk oleh arus budaya rantau. Sebuah tradisi yang menjadi semacam jalan hidup sekaligus medan uji bagi anak laki-laki Minang. Dalam tafsir ini, panggung dibayangkan sebagai ruang intim bagi Malin untuk bisa diperdengarkan. Bukan kutukan sebagaimana yang selalu dilekatkan padanya, melainkan lapisan-lapisan pergulatan dirinya. Keraguan yang mengendap, rasa salah yang tak selesai, ambisi yang menggerakkan, serta kegelisahan yang menandai perjalanan seorang pemuda yang tengah merumuskan dirinya sebagai subjek sosial.
Sebagai bagian dramatik, jejak tradisi Minangkabau, khususnya Randai dan Tupai Janjang akan senantiasa menemani Malin dalam pertunjukan ini. Legaran, silek, tari, dendang, dan kostum kemudian menjadi bagian yang tidak kalah penting. Tetapi, unsur-unsur itu tidak dihadirkan sebagai masa lalu yang hanya sebagai tempelan-tempelan semata. Tetapi sebagai teknik tubuh dan pengetahuan kultural yang hidup. Ia kemudian diramu dalam estetika teater modern. Dengan begitu, pertunjukan ini seakan hendak menciptakan jembatan yang akan mempertemukan antara yang tradisional dan kontemporer. Menariknya, sebagaimana sebuah monolog, tokoh Malin tidak dibiarkan sepi sendiri dalam igauannya. Ia ditemani dan dikelilingi oleh pemain legaran, tukang kaba, dan seorang pendendang yang memerankan tokoh lainnya, ibunya. Kehadiran mereka tidak hanya berfungsi sebagai penanda perpindahan suasana, akan tetapi pembawa suasana dramatik, dan penjaga ritme yang mengatur napas cerita.
Bagian kelirihan Malin sengaja ditempatkan pada akhir pementasan sebagai momen pecahnya ketegangan. Setelah penonton mengikuti alur cerita melalui kekuatan tutur sejak awal, adegan penutup yang pelan, rapuh, dan menundukkan diri itu menghasilkan kontras emosional yang tajam. Kelirihan tersebut tidak hanya menguatkan tema, tetapi juga menempatkan kisah Malin dalam cakupan yang lebih luas, melampaui batas etnis Minangkabau. Sebagai pergulatan manusia yang berhadapan dengan ekspektasi, asal-usul, dan beban identitas.
Menelusuri konteks sosial Malin di perantauan
Jakarta dan Bojonegoro, sebagai dua titik penting dalam perjalanan tur ini, ditempatkan bukan sekadar lokasi pementasan, tetapi untuk menelusuri ruang sosial yang barangkali ikut membentuk Malin. Selain itu, tentu juga untuk membuka percakapan baru tentang rantau sebagai pengalaman lintas budaya. Jakarta, dengan ritme metropolis yang padat dan hiruk-pikuk mobilitas ekonominya, memperlihatkan wajah perantauan yang keras, kompetitif, tekanan-tekanan sosial yang tidak terlihat tetapi menghimpit, serta tempat bergulirnya negosiasi identitas yang harus terus diperbarui di tengah kota yang nyaris tak memberi jeda.
Berbeda dengan Bojonegoro, yang memberikan lanskap sosial yang lain. Di kota dengan dinamika desa-kota, kehidupan kampus, serta komunitas muda yang aktif. Dimana gagasan merantau sering dipahami sebagai proyeksi harapan generasi, yakninya sebuah dorongan untuk “pergi demi masa depan” yang sudah tentu membawa serta beban ekspektasi keluarga dan masyarakat. Lingkungan ini memunculkan refleksi tentang bagaimana impian dan tekanan saling berkelindan dalam jalan hidup anak-anak muda.
Dalam dua ruang yang kontras inilah, figur Malin ingin ditemukan kembali, dan sekaligus dieja ulang. Lagi-lagi, tentu saja bukan hanya sebagai tokoh legenda, tetapi sebagai perwakilan manusia yang tumbuh dalam pusaran tuntutan kesuksesan sekaligus rapuh oleh ketidakpastian hidup. Menjadi simbol manusia yang dibentuk oleh tuntutan kesuksesan, sekaligus korban dari ketidakpastian yang lahir dari hidup itu sendiri.
Pendeknya, melalui tur “Selirih Dua Kota,” ActorIdea mengajak publik, komunitas seni, para akademisi, dan masyarakat luas untuk menyelam kembali ke dalam mitos Malin Kundang. Tetapi tentu bukan sebagai cerita yang beku, tetapi sebagai pengetahuan budaya yang terus berubah bentuk sesuai konteks zaman. Karya ini tidak mengajukan satu kebenaran atau kesimpulan akhir. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi penonton untuk merasakan, menafsirkan, dan mempertanyakan ulang relasi mereka dengan tanah asal, perjalanan hidup, dan masa depan dalam budaya rantau yang terus tumbuh, bergerak, dan menuntut negosiasi diri di setiap langkahnya.
Indonesia Performance Camp (IPC) berawal pada 2019 melalui Padangpanjang Butoh Camp, sebuah kolaborasi antara Indonesia Performance Syndicate (IPS) dan Shinonome Butoh Tokyo, Jepang, yang mempertemukan teknik Butoh dengan Total Body Performance Method (TBPM) berbasis Tapuak Galemboang dan Silek Minangkabau. IPC sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, namun hadir kembali sebagai laboratorium ketubuhan yang membuka ruang riset dan pertukaran artistik lintas generasi dan lintas disiplin.
Pada IPC 2024, Indonesia Performance Syndicate bersama Komunitas Seni Nan Tumpah, Nusantara Art, dan Fabriek Bloc menghadirkan Mutsumi, Neiro, dan Wendy HS sebagai pemateri, dengan 20 peserta terpilih pada 10–13 September 2024 di Ruang Artistik Fabriek Bloc. Pembiayaannya dikumpulkan secara gotong royong oleh lembaga penyelenggara.
Memasuki 2025, IPC kembali menegaskan posisinya sebagai ruang yang mendorong performer menemukan bahasa tubuhnya sendiri—bahasa yang berakar pada lokalitas sekaligus terbuka pada eksperimen dan percakapan global. Dengan kolaborasi berbagai komunitas serta kehadiran mentor internasional, IPC berharap melahirkan generasi performer yang reflektif, peka, dan berani merumuskan ulang masa depan seni pertunjukan Indonesia.
IPC 2025:
Setelah sukses menyelenggarakan Indonesia Performance Camp (IPC) 2024 dengan menghadirkan seniman Butoh Mutsumi-Neiro dari Jepang–Yugoslavia, IPC 2025 akan kembali digelar pada 9–11 November 2025 di Fabriek Padang dan Pustaka Steva, Sumatera Barat.
Tahun ini, IPC mengangkat tema “Praktik Dramaturgi Postdramatic dalam Pertunjukan Kontemporer”, sebuah kerangka kerja yang mengajak performer menelusuri tubuh sebagai arsip hidup—ruang pertemuan antara memori personal, tradisi, pengalaman sosial, dan gagasan artistik.
Dengan tema tersebut, IPC 2025 difokuskan untuk memperkuat kemampuan teknis, membuka ruang riset tubuh, dan mendorong eksplorasi artistik yang berpijak pada konteks budaya Sumatera Barat sekaligus relevan dengan percakapan global. Seluruh rangkaian kegiatan dikemas dalam bentuk workshop, pertunjukan apresiasi, dan diskusi.
Penyelenggaraan IPC tahun ini dilakukan secara kolektif oleh Indonesia Performance Syndicate (IPS), Kalabuku, Komunitas Seni Nan Tumpah, Nusantara Art, Komunitas Seni Hitam Putih, Pustaka Steva, Teraseni, dan Fabriek Padang.
Wendy HS, pimpinan IPS, menjelaskan bahwa IPC berupaya menghadirkan ruang bagi performer untuk membaca ulang tubuh mereka—apa yang ia simpan, warisi, dan pertahankan— serta bagaimana tubuh dapat berbicara melampaui bentuk pertunjukan yang naratif dan konvensional. Tema ini dipilih untuk menjembatani metode ketubuhan tradisi dengan praktik postdramatic yang lebih cair, eksperimental, dan berbasis pengalaman langsung. “IPC berupaya menghadirkan ruang belajar yang menumbuhkan cara kerja seni yang reflektif, terstruktur, dan bertanggung jawab pada konteks budaya masing-masing performer,” ujarnya. (7/11). Wendy menambahkan bahwa IPC 2025 memiliki tiga fokus utama: memperdalam kapasitas teknis performer, membuka ruang kolaborasi lintas disiplin, dan memperkuat regenerasi seni pertunjukan di Sumatera Barat.
Workshop Dramaturgi Postdramatic
Workshop Dramaturgi Postdramatic ini dirancang sebagai ruang temu lintas-komunitas yang membuka dialog setara antarpraktik seni. Peserta berasal dari berbagai latar—teater, tari, musik, hingga seni visual—yang akan belajar bersama, berbagi metode, dan membangun jejaring baru. Melalui enam sesi workshop, mereka diajak mengolah tubuh sebagai pusat penciptaan; tidak hanya memproduksi bentuk, tetapi memahami proses: bagaimana tubuh merekam keseharian, bereaksi terhadap ruang, menyimpan ketegangan sosial, dan bagaimana seluruh pengalaman itu dirangkai menjadi struktur pertunjukan kontemporer.
Workshop ini akan dipandu oleh Kai Tuchmann, dramaturg dan sutradara dengan pengalaman luas di Eropa dan Asia, serta Ibed S. Yuga dari Kalanari Theatre Movement, Yogyakarta. Kai Tuchmann adalah sutradara, dramaturg, dan akademisi lulusan Akademi Drama Ernst Busch Berlin, dikenal melalui praktik teater dokumenter dan kecenderungannya menantang batas-batas dokumentasi. Secara tematis, karya-karyanya mengkaji kehidupan pasca–Revolusi Kebudayaan Tiongkok, dampak pembangunan perkotaan terhadap pekerja migran, dan penerapan teknologi digital.
Saat ini ia menjadi dramaturg untuk karya koreografi Lian Guodong A Poem to the Unknown, serta mengembangkan proyek Dear Dead Doctor bersama Kiran Kumar dan Matthias Härtig di Academy for Theatre and Digitality, Dortmund—sebuah karya yang memadukan koreografi dengan hologram digital.
Antara 2013–2018, Kai berkolaborasi dengan kelompok teater independen Tiongkok seperti Living Dance Studio, Caochangdi Workstation, dan Grass Stage, dengan karya yang diundang ke Zürcher Theaterspektakel, Kunstfest Weimar, Festival d’Automne à Paris, dan Asia Society New York. Ia juga aktif mengajar di Universitas Beijing, University of California Santa Cruz, dan Jawaharlal Nehru University, serta pernah menjadi Fulbright Scholar di City University of New York, tempat ia menyelesaikan buku Situating Visibility – Dramaturgies of The Real in Dialogue.
Sementara itu, Ibed S. Yuga adalah sutradara, penulis lakon, dan pendiri Kalanari Theatre Movement Yogyakarta yang aktif sejak 2012, dengan pengalaman panjang dalam penyutradaraan dan penulisan teater sejak awal 2000-an. Ia memulai perjalanannya melalui komunitas Seni Teku yang ia dirikan dan pimpin hingga 2011, menghasilkan sejumlah lakon yang kemudian diterbitkan dalam berbagai buku seperti Kintir, Di Luar 5 Orang Aktor, 10 Lakon Teater Indonesia, New Indonesian Plays, hingga States of Crisis.
Karya-karyanya pernah dianugerahi Penghargaan Umar Kayam dan dipresentasikan di berbagai negara termasuk Irlandia, Jepang, Singapura, Malaysia, Inggris, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jerman. Selain sebagai sutradara dan peneliti teater, Ibed dikenal melalui tulisan-tulisannya tentang budaya Bali dalam buku Bali Tanpa Bali, serta aktif sebagai editor di Kalabuku.
Secara keseluruhan, workshop ini tidak diarahkan untuk menghasilkan karya siap pentas, melainkan membuka kembali hubungan peserta dengan tubuhnya. Setiap sesi menjadi proses membaca pola lama, menemukan kemungkinan lahirnya pola baru, serta melatih kepekaan tubuh terhadap ruang, suara, cahaya, dan keberadaan tubuh lain.
Pendekatan gabungan antara Kai dan Ibed menciptakan lanskap latihan yang intens sekaligus reflektif, memungkinkan peserta mengembangkan bahasa tubuh yang lebih jujur dan kontekstual.
“Lewat workshop ini, peserta diharapkan tidak hanya mengembangkan keterampilan tubuh, tetapi juga kemampuan bekerja kolektif, terbiasa dengan proses kreatif yang berbasis riset, serta memiliki sensitivitas terhadap ruang sosial dan budaya di sekitarnya,” jelas Wendy.
Pertunjukan Apresiasi
Pada 9 dan 10 November, bertempat di ruang Exhibition Fabriek Padang, IPC akan menghadirkan pertunjukan apresiasi. Nantinya akan ada pertunjukan dari Indonesia Performance Syndicate dan Teater Hitam Putih yang menjadi ruang demonstrasi metode dan gagasan, sekaligus kesempatan untuk membaca bagaimana tubuh, ruang, dan dramaturgi bekerja di tangan para praktisi dengan pendekatan berbeda.
Minggu, 9 November 2025 pukul 20.00 WIB, akan tampil Soliloque Perburuan oleh sutradara Wendy HS, produksi Indonesia Performance Syndicate. Karya ini membaca ulang naskah legendaris Wisran Hadi melalui pendekatan tubuh dan pengalaman batin aktor. Pertunjukan menelusuri kegelisahan manusia Minangkabau yang berhadapan dengan pergeseran nilai antara tradisi dan realitas modern, ketika tubuh tunggal aktor menjadi ruang pergulatan ide, keyakinan, dan pertanyaan eksistensial tentang pendidikan di negeri ini.
Sementara itu, pada Senin, 10 November 2025 di jam yang sama, akan dipentaskan Pintu, disutradarai oleh Yusril Katil dan ditulis oleh T. Wijaya, Nasrul Aswar, dan Yusril Katil, produksi Komunitas Hitam Putih Padangpanjang.
Karya Pintu mengajak penonton merenungkan kehidupan pascapandemi, ketika teknologi digital mengubah cara kita memahami batas ruang. Teknologi memang mendekatkan, tetapi sekaligus menciptakan jarak baru yang membuat manusia semakin terasing. Dalam konteks ini, pintu tidak lagi sekadar batas fisik, tetapi menjadi ambang virtual antara koneksi dan kesendirian—simbol dunia yang perlahan menjauh dari kenyataan.
Diskusi
Selain program workshop dan pertunjukan, IPC juga menghadirkan forum diskusi yang melibatkan pemateri, akademisi, dan penggiat seni untuk membahas arah perkembangan pertunjukan kontemporer serta tantangan ekosistem seni di Indonesia, khususnya Sumatera Barat.
Forum ini menjadi ruang penting untuk memperluas wawasan peserta bahwa kerja tubuh tidak pernah terpisah dari kerja budaya dan kerja pengetahuan. Dengan mempertemukan perspektif akademik, pengalaman lapangan, dan praktik artistik, diskusi ini membuka percakapan yang lebih menyeluruh mengenai posisi seni pertunjukan hari ini.
Forum akan menghadirkan narasumber Kai Tuchmann, Ibed Surgana Yuga, Wendy HS, Tatang R. Machan, dan Mahatma Muhammad, dengan Thendra BP sebagai moderator. Diskusi akan diselenggarakan pada Senin, 11 November 2025 pukul 20.00 WIB di Pustaka Steva, Jalan Pagang Raya No. 37, Surau Gadang, Nanggalo, Padang, Sumatera Barat.
Kebebasan berkesenian yang terjamin merupakan indikator negara dengan ruang publik yang sehat, termasuk Indonesia. Sebab, ruang publik yang baik memungkinkan pegiat seni bebas mengekspresikan kritiknya, bahkan jika itu ditujukan pada negara.
Tangkapan layar diskusi dok: Koalisi Seni Indonesia
“Kebebasan berkesenian penting untuk dijaga, karena seni yang kritis kita perlukan. Sebab, seni punya peran penting untuk mengintervensi dan memberikan narasi tandingan. Untuk mencapai kebebasan berkesenian, perlu ada kebijakan yang menjaminnya,” ujar Dara Hanafi, pekerja lepas kreatif dan Anggota Koalisi Seni dalam diskusi daring Rabu malam, 10 November 2021.
Bertajuk Ruang Usik-usik Berebut Dinding: Kebebasan Berkesenian di Dinding Indonesia dan Afghanistan, diskusi ini diadakan Koalisi Seni bersama Amnesty International Indonesia. Hadir sebagai pembicara ialah Anggraeni Widhiasih, Pemimpin Redaksi Visual Jalanan dan perupa dari Indonesia, serta Omaid Hafiza Sharifi, artivis dan Presiden ArtLords dari Afghanistan. Dara Hanafi, pekerja lepas kreatif dan Anggota Koalisi Seni, menjadi moderatornya.
Menurut Anggraeni, seni adalah medium tepat untuk membicarakan problem sosial di masyarakat. Praktik kritik lewat seni, termasuk seni jalanan, bukan hal asing di Indonesia. “Sebelum kemerdekaan, banyak pejuang Indonesia menyuarakan kebebasan, keadilan, dan hak asasi manusia. Di Surabaya menjelang pertempuran yang sekarang diperingati jadi Hari Pahlawan, banyak grafiti dengan pesan serupa,” ucapnya.
Anggraeni memaparkan di ruang publik ada banyak pemilik kepentingan bertarung, mulai dari warga, pemerintah, korporasi, hingga seniman. Tegangan vertikal dengan aparat negara dan horizontal dengan warga senantiasa terjadi. Saat aparat represif, mural bisa dihapus dan memicu perdebatan, seperti yang terjadi pada kasus Jokowi 404 lalu. Sebaliknya, tak jarang warga yang tadinya enggan temboknya dihias dengan mural, setelah ada program residensi seniman justru protes jika dindingnya tak kebagian.
Untuk memastikan kebebasan berkesenian terpenuhi, perlu ada kebijakan yang menjaminnya. Riset Koalisi Seni pada 2020 menemukan Indonesia sudah meratifikasi banyak instrumen hak asasi manusia (HAM) internasional, tapi juga membiarkan peraturan yang memberi peluang pembatasan HAM secara sewenangwenang. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, termasuk melalui karya seni, adalah HAM yang dijamin oleh hukum internasional dan konstitusi Indonesia. Sehingga, pemerintah harus berperan aktif melindunginya.
Sementara, di Afghanistan, dinamika kebebasan berkesenian berubah drastis bersama perkembangan politiknya. “Saat Taliban pertama berkuasa, tidak ada tempat bagi seni. Kemudian ada peraturan yang menjamin kebebasan berkesenian, sehingga kami bisa berkesenian lagi meski tetap ada intimidasi dan ancaman karena mural ArtLords menyuarakan pesan antikorupsi dan toleransi. Taliban kembali dan mereka tidak percaya akan keberagaman maupun seni. Mural kami dihapus dan diganti propaganda, semua wajah perempuan juga dihapus di jalanan,” tutur Omaid yang mendirikan kolektif seniman ArtLords pada 2014.
Kini, banyak seniman di Afghanistan terpaksa melarikan diri atau bersembunyi demi menyelamatkan nyawanya. Seniman yang masih berada di Afghanistan meninggalkan profesinya dan menghancurkan karyanya agar tak diringkus Taliban.
Omaid mengatakan ArtLords kini fokus pada upaya evakuasi agar seniman bisa keluar dari Afghanistan. Tak kurang dari 54 seniman telah mereka selamatkan agar bisa memiliki pilihan untuk melanjutkan seninya. ArtLords juga berencana mengadakan terapi seni bagi para pengungsi Afghanistan, serta membuat ulang muralnya di beragam lokasi. “Kami akan senang sekali kalau ada seniman Indonesia mau menggambar ulang mural ArtLords,” ujarnya.
Bagaimanapun, Omaid tak kehilangan harapan. Ia berharap satu saat nanti, jaminan kebebasan berkesenian akan kembali tegak di negara asalnya. “Kalau hukum yang menjamin kebebasan itu ada lagi, kami bisa melanjutkan kerja seni di Afghanistan.” (Siaran pers)
Siang hari sekitar pukul 12.00, 28 September 2021, sehari sebelum pementasan Teater Garasi. Masuk Whatshapp (WA) dari mba Lusia Neti Cayahani. Memberi undangan apa bila ada waktu dapat datang ikut menonton “pertunjukan” Garasi di Studio. Sebuah persiapan pertunjukan untuk festival yang di selenggarakan sebuah institusi kebudayaan Belanda.
Malam Rabu, 29 September 2021 pukul 20.00 WIB, sudah hadir di studio Garasi. Sesuai undangan, rasanya lama juga tidak meyaksikan pertunjukan secara langsung. Sehingga memantik penasaran pementasan seperti apa yang akan disajikan malam ini. Ruang studio teater Garasi telah dihadiri oleh beberapa orang. Ada layar putih menggantung, lampu menyala terang, mic, sound system. Ada orang-orang yang telah datang lebih awal menduduki kursi tertentu, sementara yang baru datang diminta mengisi beberapa kursi yang telah disediakan pada bagian sudut tertentu.
Pertunjukan dimulai dengan ucapan selamat datang bagi penonton yang telah datang mengandiri undangan, sedikit pengantar mengenai pertunjukan, serta beberapa pemberitahuan dan aturan dalam menikmati peristiwa pertunjukan ini. Disusul musik dari Yennu Ariendra masuk mengiringi Gunawan Maryanto dan Ari Dwianto yang menaiki meja panjang beroda sehingga dapat bergerak, yang di dorong oleh Ega (salah satu kru Pangung).
Gunawan Maryanto dan Ari Dwianto berkostum warna-warni ala penari angguk yang penuh warna retro, duduk dengan dua buah kursi plastik di atas meja. Seolah-olah seperti menaiki sebuah bus; keduanya berperan sebagai seorang supir dan kernet, dengan logat betawian. “Ayooo Tonnngg berangkat….” teriak supir. “Iye.. Bang, tancap..terus..kiri-kiri, awas depan Bang..” sahut kernet.
Tampak dua orang sedang memasuki panggung Foto: Dokumentasi Teater Garasi
Adegan awal ini memberi pintu masuk pengantar memasuki tangga dramatik dalam peristiwa teater. Teater di dalam dan di luar peristiwa keseharian dibenturkan; tanpa batas panggung, tanpa jarak tertentu penonton. Tidak ada sinopsis. Namun, Yudi Ahamad Tajudin memberi pembuka layaknya sebuah pengantar pertemuan peristiwa pertunjukan dengan penonton. Tidak lupa pemberitahuan pada penonton, seperti peristiwa akan direkam oleh beberapa kamera dan akan berada di sekeliling penonton, tidak diperkenankan mengambil gambar dengan HP, tidak merokok, serta tetap mengupayakan prokes berjalan selama pertunjukan.
Pertunjukan kemudian seolah masuk dalam sebuah frame atau potongan adegan berkesinabungan yang secara kronologi melalui berbagai katakunci, pertanyaan, dan catatan. Bingkai pertunjukan terhubung dari kata kunci awal ke kata kunci berikutnya dramaturgi narasi selanjutnya dijahit. Kata demi kata disusun, adegan demi adegan diatur sedimikan rupa; presentasi laporan, catatan, refleksi, dan berbagai pertanyaan personal para aktor, sutradara sekaligus pemusik, lighting desaigner, pendamping lapangan program telah dilakukan oleh Teater Garasi, yakni Antar Ragam dan proses penciptaan karya Peer Gynts.
Peristiwa pertunjukan semacam obrolan santai. Semacam mendekatkan pembacaan catatan harian pengalaman lapangan setiap aktor dalam berbagai perpektif persoalan yang ditemui. Lalu bertransformasi menjadi presentasi. Pertunjukan menjelma data yang berhamburan melalui kata, musik, tubuh, video dan peristiwa yang saling bersahutan dan tumpang tindih. Penonton diberi ruang intim menonton proses kerja kreatif para personil yang terlibat dan bergulat dengan perasaan-perasaanya (ketakutan, kecemasan, keraguan, dan pertanyaan) dalam setiap pelaksanaan program dan penciptaan karya teater Garasi secara lebih dekat. Dalam pertunjukan muncul pertanyaan-pertayaaan dan aplikasi dari dinamika kerja dan fungsi teater hari ini dalam kehidupan dan pengetahuan masyarakat.
lelaku di atas panggung Foto: Dokumentasi Teater Garasi
Bagaimana menemukan posisi teater dan manusia yang bekerja di dalamnya melalui relasi ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan di tingkat lokal, nasional dan global. Bagaimana membaca ulang dan menafsir seluruh peristiwa secara ulang alik dengan mempertimbangkan aspek keberadilan, tanggung jawab moral dan etika, yang selalu disadari tidak pernah berangkat dari titik yang sama dalam memandang suatu persoalan. Posisi kerja intelektual dan ego artistik yang selalu bergesekan serta terhubung dengan berbagai persoalan menganai pemerataan akses, baik ekonomi, pengetahuan, sumberdaya manusia, teknologi, media dan moda transaksi yang tidak merata.
‘Mementaskan Garasi’ tak ubahnya menikmati pentas pada umumnya. Kemudian muncul refleksi lain pada diri yang menonton. Kita dapat melirik keseharian relasi orang di kampung. Kata ‘pentas’ dalam bahasa Jawa, secara akrab muncul misalnya jika ada seeorang akan mengadakan pertunjukan. Biasanya kemudian pertanyaan yang dilafalkan adalah ‘mentas ning endi?’(petas di mana?). Bila meminjam istilah homograf dalam ilmu bahasa, mentas juga dapat dilafalkan berbeda yakni m[ə]ntas (berarti keluar dari air). Pemaparan m[ə]ntas sebagai keluar dari air, memberi gambaran arahan kerja berproses atau perjalanan dari dalam air kemudian keluar air. Dari sebelumnya basah kemudian dapat menjadi kering.
Pertunjukan malam tersebut tampaknya berusaha ‘mem[ə]ntakan’ Teater Garasi. Sebuah proses yang telah dikerjakan sekian lama dalam berbagai program kerjanya. Kemudian mencoba dibaca dan ditafsirkan ulang dalam peristiwa bersama. Hal lain yang tak kalah urgent adalah mempercakapkan simpanan-simpanan autokritrik dari masing-masing proses kerja yang telah dilalui Teater Garasi, yaitu melalui catatan pengalaman, data, dan fakta lapangan, proses visual, tranformasi musik, dan konteks pertunjukan saat ini menjadi semacam performance lecture.
lelaku aktor di atas panggung Foto: Dokumentasi Teater Garasi
Dalam peristiwa tersebut pun, percakapan tidak hanya mengenai bagaimana pendukung telah membantu proses kerja Garasi (secara materi atau infrastruktur), tetapi juga penonton dilibatkan menjadi bagian penting dalam presentasi karya dan programnya. Selain itu, percakapan yang terjadi adalah proses kerja antar anggota di dalamnya.
Mencoba menonton ulang Garasi dan manusianya, berarti turut berproses kreatif langsung dari pergulatan dapur prosesnya. Sedekat mungkin mencoba lebih memahami dan mendialogkan bersama proses kerjanya selama ini dalam kerangka proses ‘tranformasi’ posisi relasi teater,dengan pengetahuan kehidupan dan penghidupan saat ini.
Pertanyaan selanjutnya kemudian muncul apakah pertunjukan ini benar-benar dalam rangka mem[ə]ntaskan Teater Garasi sebagaima yang terasa mencoba memasuki ruang autokritik dari dalam dan memrpercakapkan keluar? Atau dalam rangka mengambil jeda, keluar kemudian untuk masuk kembali ke dalam setelah memahami kedalaman segala persoalanya?
Pementasan yang digelar secara langsung dan terbatas dengan penonton yang menjaga jarak sesuai protokol kesehatan, seaakan menjadi udara segar. Pertemuan terasa intim di antara berbagai pertunjukan hari ini yang banyak termediakan melalui berbagai aplikasi zoom, youtube, tik-tok dan lain-lain, yang tidak semua hal dalam peristiwa pertunjukan dapat termediakan secara utuh.
Kedua telapak tangannya tertangkup di bibir meja. Ia hanya duduk terdiam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia hanya mendengar dan melihat segala sesuatu yang berada di depannya. Seorang perempuan sambil menangis membawa sebuah bingkai foto dengan bergambarkan wajah seorang perempuan tua yang baru saja meninggal. Namun lagi-lagi, ia hanya terdiam melihat peluh tangis yang terurai di seperempat malam pertama.
Ketika malam semakin larut, ketika tiada lagi insan di sampingnya, sang perempuan tua itu muncul dalam bayang-bayangnya. Mengembalikan segala ingatan yang telah dijalani oleh mereka berdua sebagai pasangan suami-istri. Kenangan mengarungi kehidupan bersama, yang memancarkan
kebahagiaan dan keintiman. Hal yang hanya diketahui olehnya, bukan orang kebanyakan, bahkan anak atau saudaranya sekalipun. Lantas hanya kenanganlah yang menemaninya hingga fajar—bahkan ajal—menjemput.
tampak sebuah tangan sedang memegang gelas di meja makan Foto: arsip Sumonar Festival
Adalah secuil peristiwa pertunjukan dari karya terbaru yang
bertajuk I Know Something that You Don’t Know dari kelompok teater boneka asal Yogyakarta, Papermoon Puppet Theatre (PPT).Setelah berhasil dengan karya A Bucket of Beetles yang dipentaskan secara daring pada awal bulan, PPT kembali menggelar pertunjukan daring untuk karya terbarunya pada rabu (12/8). Namun yang berbeda, karya terbaru mereka merupakan pertunjukan boneka binaural yang bereksperimen pada bunyi dan light mapping. Pun kesempatan eksperimen ini selaras dengan lokus pertunjukan digelar, Sumonar Fest 2020—festival video mapping dan instalasi seni cahaya.
Berdurasi tidak lebih dari 45 menit, pertunjukan ini dirancang oleh Maria Tri Sulistyani (Ria) dan Iwan Effendi. Cerita yang dibuat oleh Ria tersebut lantas diwujudkan oleh Pambo Priyojati dan Beni Sanjaya, sebagai puppeter. Sementara untuk pertunjukan topeng boneka, Pambo dan Beni dibantu oleh sang pemilik cerita, Ria. Sebagaimana digelar untuk festival cahaya, maka karya ini turut menampilkan light mapping yang diolah menggunakan OHP (overhead projector) oleh Pambo, Beni dan Rusli Hidayat dalam pertunjukannya. Sedangkan pada musik, karya ini kembali mempercayakan Yennu Ariendra untuk mengolah bunyi. Namun dalam mengelolanya menjadi pertunjukan binaural, Iwan Effendi lah yang melakukannya.
Dipertunjukkan sebagai salah satu repertoar pada festival yang mengangkat tema Mantra Lumina—atau harapan terbaik melalui cahaya—, PPT mengalami lonjakan penonton dari yang sebelumnya hanya digelar untuk 200 orang, menjadi 350 orang. Hal yang mengejutkan, 150 tiket tambahan habis dalam hitungan jam. Di luar keberhasilan penjualan tiket dan atensi penonton, apakah PPT berhasil memberikan sajian
terbaiknya? Adakah yang dapat kita petik dari karya terbarunya?
Cerita Sederhana dan Cara Ungkap yang Tidak Sederhana
Jujur saja dari sekian banyak karya PPT, cerita yang berakhir dengan air jatuh dari pelupuk mata ke pipi adalah cerita lama. Hampir semua karyanya berakhir demikian. Namun apakah cerita yang berakhir sedih itu salah? Maka jawabnya, tentu tidak. Alih-alih PPT membuat karya dengan romansa
bak sinetron televisi, cerita yang dipentaskan PPT selalu mengunggah, baik secara wacana hingga kesadaran. Kesedihan yang dibangun pun tidak dibuat-buat dan dilebih-lebihkan, melainkan selalu terbentuk dari konsekuensi pemilihan sudut pandang cerita.
I know Something that You Don’t Know, Ria menerangkan bahwa stimulasi cerita dibuat berdasarkan kisah nyata. Neneknya yang berusia 108 tahun selalu duduk dan diam di sisi yang sama. Melihat sang nenek, Ria menyadari bahwa berapa banyak memori yang ia rekam secara indrawi ketika ia duduk menyaksikan pelbagai aktivitas yang terjadi di depan matanya. Lantas stimulasi tersebut diimbuhkan Ria dengan cerita sederhana yang ada di sekeliling kita, kehilangan.
beberapa orang sedang memperkatakan sesuatu Foto: arsip Sumonar Festival
Di dalam pertunjukan, sang kakek hanya diam—tanpa sepatah kata apa pun keluar dari mulutnya—melihat keadaan setelah kehilangan terjadi. Sementara orang di sekitarnya kalang kabut merasakan kesedihan, tetapi seakan lupa setelah ia keluar dari pintu rumah. Namun hal yang menarik, di antara
kesedihan itu, sang kakek yang selalu diam justru menyimpan sebuah memori yang lebih dari siapa pun. Kenangannya bahkan menuntunnya untuk bertemu kembali dengan sang mendiang istri.
Hal ini tentu menohok bagi saya, di mana diam seperti yang kakek lakukan bukan kegiatan pasif, melainkan kegiatan aktif menyimpan segala kejadian ke dalam bentuk memori yang terkadang lebih tajam. Tamparan lebih jauh adalah apakah kita lebih banyak mendengar atau justru ingin
didengarkan? Dari sinilah saya berpendapat bahwa PPT selalu mengemas persoalan besar dengan cerita yang sederhana, tetapi subtil dan menggugah kesadaran.
Tidak hanya sampai di situ, PPT mengemas pertunjukan dengan tidak tanggung-tanggung. Di mana sudut pandang sang kakek dipaksakan—dalam artian yang positif—kepada penonton. Sederhananya, sang kakek adalah kita, penonton. Hal ini ditandai dengan kedua telapak tangan yang tertangkup di meja berada persis di depan layar bagian bawah, sehingga seolah-olah pandangan layar si kakek adalah pandangan mata penonton. Dari situ
lah emosi pertunjukan semakin meningkat dan larut, di situ lah penonton merasakan liminoid di dalam pertunjukan.
Ketika Teater Boneka Bernegosiasi dengan Teknologi
Bukan tanpa sebab, PPT bermigrasi ke platform pertunjukan digital. Adalah Covid-19 yang masih menghantui dan memengaruhi pertunjukan fisik di Indonesia, menjadi penyebabnya. Alih-alih hanya meminjam platform dan format pertunjukan digital sebagai medium presentasi, PPT justru berhasil bermain-main dengan luwes dengan momok yang kerap diwaspadai oleh insan teater ataupun teater boneka.
Pada I know Something that You Don’t Know PPT berhasil menggunakan teknologi digital sebagai bagian dari pertunjukannya. Hal ini berkelindan pada karyanya, yakni: pertama, PPT memfungsikan layar sebagai bagian dari karyanya. Sebagaimana pertunjukan digital memaksa jarak dan jangkauan pandang yang tunggal, berbeda dengan pertunjukan fisik, maka PPT menjadikan layar yang disaksikan penonton seolah-olah menjadi si kakek di dalam
pertunjukan. Ditandai dengan kedua telapak tangan yang tertangkup di meja adalah pikiran cerdik PPT menjadikan teknologi sebagai bagian dari cara ungkap pertunjukan.
pupet lengkap dengan ekspresi di atas meja foto: arsip Sumonar Festival
Pun saya sempat menimbang-nimbang, bagaimana perwujudan karya ini jika dipentaskan secara fisik? Apakah sudut pandang yang ditandai tangan tertangkup di depan layar akan berubah? Apakah hal ini hanya berhasil jika dipentaskan secara daring? Maka dari itu, karya ini berhasil menggunakan teknologi tidak hanya sebagai cara ungkap, tetapi juga estetika dari pertunjukan itu sendiri. Hal ini mengingatkan saya pada pernyataan Daniel Meyer-Dinkgräfe (2015)di mana liveness pada live-streaming tidak hanya meminjam ruang daring semata, tetapi mengolahnya sebagai bagian dari pertunjukan dan menghidupkan liveness-nya sendiri.
Kedua, pertunjukan binaural yang bereksperimen pada bunyi. Tidak hanya diputar sebagaimana mestinya, musik di dalam pertunjukan diolah menjadi
mode suara kitar (surround sound). Ada beberapa elemen bunyi pada musik yang lebih diperkuat seolah-olah nyata,seperti bunyi nyamuk, tokek, motor, dan serta ketukan pintu. Jadi bebunyian tersebut seolah-olah ada di sekitar kita jika kita menggunakan headphone atau earphone. Hal ini mengingatkan saya pada teknologi musik 8D, 24D, hingga 32D, yang elemen musiknya diurai dan dapat ditempatkan lebih kuat untuk mendukung pengalaman dengar tertentu.
Ketiga, penggunaan OHP dan artistik pertunjukan. Sejujurnya penggunaan bayang-bayang pada pertunjukan PPT bukan hal baru. Namun di dalam
karya ini, permainan bayang-bayang mendapat porsi yang kuat dan menentukan, yakni ketika mengartikulasikan memori kakek dan istrinya. Permainan
bayang-bayang yang dioperasikan dengan menggunakan OHP dengan layar tembak, seperti pintu, jendela, teko, membuat pertunjukan semakin dramatis.
Ketiga poin itu lah yang membuat karya ini menjadi penting dalam lanskap pertunjukan daring selama pandemi. Di mana ia tidak hanya meminjam ruang, tetapi mempertimbangkan unsur daring, mulai dari layar hingga suara sebagai sesuatu yang juga digarap. Namun terlepas dari keberhasilan
kelindan teknologi, PPT memanggul tanggung jawab besar. Pasalnya ia menjadi acuan penonton—dan juga seniman lain—dalam melihat seni pertunjukan
kontemporer, khususnya pada teater boneka. Maka PPT perlu terus merawat daya kritisnya agar tidak terjebak pada format yang baku dan itu-itu saja.[]