Musik sintetis mengalun dengan cemas. Gambar dengan teknik handheld shot menyusul di layar penuh waswas. Gambar yang gemetar itu memvisualkan jalan di sudut-sudut kota yang lengang, gang-gang sunyi yang terasa tegang. Ambien suara-suara riuh, beat bas dengan ritma berpacu, pun semakin memunculkan perasaan gaduh. Saya merasakan suasana yang begitu hening, namun terasa begitu nyaring. Senyap, namun bergemuruh.
Gambar kemudian beralih. Sebuah kamar yang acak-acakan dengan pencahayaan yang temaram. Di ruang yang minim cahaya itu, di dindingnya tampak terpampang karya grafis cukil. Di meja yang sekaligus menjadi rak buku, di atasnya terdapat beberapa buah buku. Di samping rak tersebut, seorang laki-laki tidur dengan nyaman, penuh dengan igauan, dan dapat dipastikan bahwa ia mengalami mimpi yang begitu buruk. Ia merintih: “Sakit, sakit, sakit…,” sambil melindungi wajah dan tubuhnya. Kata itu diucapkannya berulang-ulang.
Dengan sentuhan efek glitch , wajah laki-laki itu tiba-tiba berubah-ubah. Muncul wajah-wajah para pejuang hak asasi manusia yang mati dengan cara yang begitu menggenaskan. Wajah Munir, Wiji Thukul, Salim Kancil, dan juga Marsinah berkelindan dalam kesakitan. Wajah-wajah “kesakitan” itu, nyawa mereka disingkirkan untuk membungkam suara lantang mereka.
Laki-laki itu lantas terbangun. Rasa sakit yang tidak tertahankan dari alam tidur membuatnya seketika terjaga. Ia langsung duduk. Napasnya terengah-engah. Tersadar ia telah terbangun, ia kemudian menyeka keringatnya. Lalu ia berdiri agak sempoyongan.
Alih-alih merasa lega, terjaga pun ternyata tidak membuatnya tenteram. Di alam nyata terdengar pula suara orang-orang menggedor pintu. Mereka seraya berteriak-teriak. Kadang terdengar pula suara dinding yang dihantam sepatu lars. Jangankan suara hantamanya, mendengar derapnya di lantai saja, dinding kamar itu pun ikut gemetar. Tetapi rupanya, tidak ada seorang pun yang ada di depan pintu. Dari mana asal suara-suara itu? Alam tidur dan nyata tampak tak berbeda baginya. Suara-suara itu seolah sudah berkuasa di kepala laki-laki itu. Suara yang terus mengejar dan berusaha menangkapnya. Suara yang begitu intimidatif sekaligus represif. Apakah suara-suara itu pula yang membungkam wajah-wajah yang melekat pada wajahnya sebelum terbangun tadi?
Tampak seorang laki-laki sedang merintih kesakitan
Agaknya benar. Pada adegan berikutnya, dari balik tirai jendela kamar, ia menyaksikan empat orang berbicara dengan suara yang begitu pelan: tiga laki-laki, satu perempuan. Empat orang itu sepertinya sedang membulatkan tekad. Bagi mereka, tidak ada kata-kata lain yang bisa diucapkan selain kata “lawan”. Lalu mereka melawan.
Terdengar suara tembakan. Mereka kemudian berlarian. Lari dan tidak pernah kembali lagi. Tembakan lain yang lebih keras kembali menyusul, kemudian layar menghitam tulisan Siasat Hitam muncul.
Bukannya menjadi akhir cerita, layar hitam dengan tulisan Siasat Hitam justru menjadi awal cerita yang lain. Adegan selanjutnya, di sebuah warung tongkrongan dengan gitar kecil yang nyaring, empat orang pemuda menyanyikan sebuah banyolan yang tak kalah nyaringnya. Bagaimana mungkin penculikan, penyiksaan, dan penganiayaan, bahkan pembunuhan, menjadi biasa?
Melalui lagu tersebut mereka menceritakan tentang seorang penyair yang diculik hanya karena larik-larik puisinya mengganggu penguasa. Atau seorang aktivis lingkungan, hanya karena ia ingin lahan-lahan dan areal persawahan di lingkungan sekitarnya tidak rusak, juga ia dianiaya, dikeroyok, diarak, dan diseret ke balai desanya. Ada juga seorang buruh perempuan yang hanya ingin memperjuangkan hak-haknya berupa upah yang wajar sebagai buruh, juga dibunuh dengan begitu keji. Serta juga seorang aktivis yang ingin memperjuangkan demokrasi, memperjuangkan kasus-kasus yang menimpa banyak manusia. Perjuangan itu agaknya menggugat kekuasaan-kuasa tertentu. Lalu kemudian dia dibunuh dengan cara diracun.
Itulah sedikit gambaran dari film yang berjudul Siasat Hitam , produksi perdana kolektif Cinepelan , di Pekanbaru, Riau. Film pendek berdurasi 6 menit 21 detik itu merupakan semacam bentuk visualisasi dari puisi seniman sekaligus aktivis di Pekanbaru, Riau, Husin alias Ucin. Selain menulis puisinya, Husin juga menyutradarai film tersebut. Film yang memang dibayangkan untuk merespons sekaligus sumbangan untuk gerakan September Hitam di Indonesia. Pada bulan ini, terjadi peristiwa kematian-kematian yang tidak wajar. Kematian-kematian yang tidak hanya menghilangkan nyawa manusia, melainkan juga membunuh keadilan.
Wiji Thukul Gambar diambil di google
Sebagaimana sebuah film, kekuatan utamanya adalah gambar dan suara. Maka bisa dilihat bagaimana film ini benar-benar bersiasat melalui gambar dan suara. Dengan efek glitch , teknik handheld shot , begitu jelas sutradara ingin menghadirkan visual yang penuh dengan gangguan. Gambar gemetar mengingatkan kita pada gejala-gejala psikologis tertentu: jiwa yang tidak stabil, traumatis, dan terintimidasi. Dengan wajah-wajah yang berubah-ubah, misalnya, penonton tentu hendak dibawa pada pengalaman yang dirasakan oleh wajah-wajah tersebut. Seolah-olah ingin mengatakan: meskipun penderitaan berpindah-pindah, namun yang merasakan sakit tetaplah sama, yaitu manusia.
Begitu juga dengan bunyi-bunyi yang diproduksi: musik sintetis serta suara-suara intimidatif, serupa teriakan, gedoran pintu, derap sepatu lars. Jelas sekali, sutradara ingin menghidupkan atmosfer teror yang begitu melekat dan nyata ada di sekitar kita.
Siasat Hitam untuk September yang Hitam
Pada dekade 80-an, James F. Sundah, seorang pencipta lagu ternama Indonesia, tak sabar memainkan lagu baru saja digubahnya di hadapan penyanyi Vina Panduwinata. Tak hanya Vina, komposer Addie MS pun begitu tertarik untuk segera memproduksinya. Lagu itu berjudul September Ceria .
Konon, dalam proses penciptaan lagu ini, James F. Sundah membayangkan suasana di negara-negara empat musim. Di mana pada bulan itu, musim berganti. Pada musim itu, bagi banyak orang—mungkin juga bagi James—bisa merasakan suasana yang begitu syahdu dengan pemandangan daun-daun yang berwarna kuning dan dominasi aroma basah. Bisa dibayangkan pula, orang-orang merayakan hari dengan berpayung ceria. Pendeknya, bulan ini ingin ditandai sebagai bulan yang begitu romantis. sama dengan bulan yang romantis, tentu bulan ini patut diabadikan. Tapi itu tidak berlaku di Indonesia.
Munir Gambar diambil di google
Di Indonesia, orang-orang yang percaya pada nilai-nilai kemanusiaan, oleh mereka, bulan September akan dihiasi dengan suasana gelap. Pakaian serba hitam, dan lengkap dengan atribut-atribut yang juga memberikan tanda berkabung yang begitu dalam. September adalah bulan yang begitu kelam, dan menghitam di Indonesia. Begitu banyak tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan ini.
Sejauh yang bisa kita ikuti, mulai dari peristiwa ’65, Tanjung Priok, Semanggi, perampasan hak manusia di Rempang, dan seterusnya. Hingga pembunuhan aktivis-aktivis kemanusiaan: Munir, Salim Kancil, pendeta Yeremia. Yang membuatnya menjadi lebih kelam tidak hanya menginjak-injak keadilan dan nilai kemanusiaan. Keadilan dan kemanusiaan, kita tahu, menjadi dasar negara ini didirikan. Dasar itu pulalah yang kiranya dihancurkan. Dan bisa dibayangkan, bagaimana mungkin kita bisa berdiri di atas dasar yang sudah hancur lebur itu?
Bahkan bulan September menjadi lebih legam, karena negara tak kunjung menampakkan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkuat dasar itu. Tak ada upaya konkret untuk mengungkap siapa dalang, mengapa, dan bagaimana mereka menghilangkannya.
Dengan ketidakmampuan itu, negara tentu telah gagal menyembuhkan luka sejarah. Luka yang tidak sembuh tentu dengan mudah kembali menganga. Barangkali ia akan terus berulang, dengan korban-korban baru, penganiayaan-penganiayaan baru, penculikan-penculikan baru, pembungkaman-pembungkaman baru. Tentu itu bisa saja terjadi pada diri kita, teman-teman kita, orang-orang terdekat kita.
Upaya-upaya yang sungguh-sungguh itu tentu tidak akan menghidupkan kembali jasad-jasad yang tidak berdaya itu. Akan tetapi, setidaknya bisa menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Dan selama nilai-nilai kemanusiaan itu tidak bisa dihidupkan, tentu tidak akan pernah ada bulan September, Oktober, November, bahkan Desember yang ceria. Indonesia selamanya akan gelap.
Rabu malam, 9 Juli 2025, sekitar pukul 7.00, Saya bersama seorang kawan, Andes Satolari, berkendara dari arah tenggara Lima Puluh Kota, nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang di Kecamatan Luak, menuju nagari Lubuak Batingkok di Kecamatan Harau, arah utara Lima Puluh Kota.
Saya datang ke Lubuak Batingkok untuk melihat proses latihan kelompok Teater Sambilan Ruang. Sebuah kelompok teater yang digerakkan oleh kawan saya, Fitri Noveri (tapi ia lebih senang dengan istilah sandiwara). Selain untuk mencatat hal-hal yang menarik, saya juga sekalian membantu Andes untuk menambah-nambahi ambient musik yang nanti akan disusunnya. Latihan ini adalah persiapan untuk sebuah pementasan terbarunya. Bayang Kaki Limo, cerita ketiga dari empat cerita yang sudah dikarang Feri. Cerita ini, beberapa tahun lalu dipentaskan di Taman Budaya, Padang. Pada Agustus ini akan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam gelaran Djakarta International Theater Flatform 2025.
Feri lebih senang dengan istilah sandiwara sebetulnya karena alasan historis. Sebab yang menyejarah. Seusia sekolah dasar, ia kerap diajak menjadi pemeran sandiwara di kampungnya, Lubuak Batingkok. Ia memerankan seorang anak yang hidup bersama ibunya. Saban hari bekerja sebagai tukang semir sepatu di pasar. Di keramaian pasar, ia menyemir sepatu seorang laki-laki gagah yang ternyata itu adalah ayahnya. Meskipun cerita yang begitu klise, namun Ia mengenang masa-masa itu sebagai puncaknya kreativitas pemuda dan pemudi di nagarinya yang tersuruk itu. Ia mengingat, setiap setahun sekali, pasti ada pementasan sandiwara. Yang kemudian dijadikan arena pementasan adalah ruang di sekolah dasar.
Feri menceritakan tentang bangunan kelas sekolah dasar masa lalu itu dirancang selalu memanjang. Setiap kelas akan dipisahkan oleh dinding yang terbuat dari susunan papan yang cukup tebal yang diberi nomor. Susunan itu menjadi pemisah antara ruang kelas satu dengan yang lainnya. Dan di ruang paling ujung biasanya menjadi ruang khusus. Ruang ini memang dijadikan untuk pementasan-pementasan dan penampilan bakat siswa ketika penghujung tahun ajaran telah usai. Maka, papan-papan pembatas tadi akan diturunkan. Dengan begitu, ruang memanjang itu akan beralih fungsi sebagai “gedung pertunjukan”. Ruang itulah yang kerap dipinjam oleh pemuda pemudi untuk menggelar pementasan-pementasan sandiwara dan juga paket pertunjukan lainnya. Feri masih mengingat dengan jelas meskipun itu sudah empat dekade yang lalu.
Bahkan lebih jauh sebelum itu, sandiwara bukanlah kerja-kerja kreatif yang asing bagi masyarakat nagari Lubuak Batingkok. Di tahun 50an hingga 80an proses kreatif sandiwara telah berlangsung di Lubuak Batingkok. Sejauh yang bisa ditelusuri, ada beberapa lakon sandiwara yang memang dikarang oleh orang Lubuak Batingkok, dan diperankan langsung oleh anak-anak nagari pemuda dan pemudi Lubuak Batingkok. Salah satunya, Yusfia Helmi. Lakon yang dikarangnya, Titian Kehidupan (1981), Siti Baheram (1985).
***
Jam 8 lebih sedikit Saya sampai di sebuah warung kopi. Warung itu milik Feri. Di warung itu, pada pagi hari, ia dan istrinya berjualan sarapan pagi. Jika malam tempat menyandarkan resah orang-orang kalah ditemani segelas kopi. Setelah memarkirkan motor, beberapa orang yang memang sudah Saya kenali ada di sana. Saya lantas bersalaman. Ada Dayat, Yudha, Datuak Manso, dan Uda Febri Nova. Mereka adalah pemeran dalam cerita yang nantinya akan digarap. Cerita itu berjudul bayang kaki limo. Cerita yang dikarang sendiri oleh Feri.
Setelah meminta kopi, sembari menunggu para pemeran lainnya, Saya berkesempatan mengajak beberapa orang untuk bercerita. Tapi pembicaraan kami bukanlah soal peran masing-masing. Melainkan hal yang lain. Sambil memukul-mukulkan gulungan kertas yang ada di tangannya ke meja, Dayat bercerita tentang ladang timunnya yang gersang. Kemarau yang panjang ini membuat timunnya tidak kunjung manggarik –tak tumbuh sebagaimana mestinya. Tidak dapat di akalnya lagi. Pertaniannya memang sangat bergantung pada musim. Sebagaimana timun, ia pun sudah menyerahkan panennya pada iklim yang berubah-ubah itu.
Sebelas dua belas dengan Dayat, Datuak Manso juga menceritakan parasaiannya. Sambil menyeruput kopi, ia menertawakan tanaman jagungnya. “Panas berdengkang tahun ini membuat jagung saya berubah jadi popcorn semenjak dari batangnya,” celetuknya. Dayat ikut tertawa mendengar lelucon Datuak Manso.
“Ada rumah atau gedung yang mau di pasang gypsum di tempat Uda?” Yudha mendahului pertanyaan saya. Anak muda gondrong ini memang sedang senang-senangnya bermain dengan bubuk putih bahan gyspsum itu. Sudah lebih dari 5 tahun ia bekerja di bengkel gypsum. Baginya lebih artistik bekerja sebagai tukang pasang gypsum dari pada pada jadi pramusaji di hotel. Meskipun hotelnya ada di dekat rumahnya.
Di bangku sebelah luar, Uda Febri Nova tak mengambil pusing hari-harinya. Ia menikmati benar jadi “bujangan”. Dengan begitu ia sangat leluasa tanpa beban mencubit kartu koa atau domino ketika tidak ada jadwal latihan, tidur larut malam, dan bangun larut siang.
Sementara itu, di sudut dekat pintu dapur warung, sambil terus membaca-baca dialog, Nanik terus saja meracit buncis, memotong-motong pakis, dan juga ada cempedak. Sebelum subuh, sayur-sayur itu sudah harus dimasak jadi gulai. Kalau kesiangan, bagaimana nanti langganan sarapan paginya. Sandiwara tentu perlu untuk jiwanya, sedangkan jualan sarapan pagi begitu penting bagi raganya. Nanik tidak lain adalah istri dari Fitri Noveri. Nanik adalah pemeran yang perannya begitu sentral dalam kehidupan Feri. Baik perannya di balik etalase dan rak sarapan pagi, maupun perannya dalam empat karya dari naskah-naskah yang sudah dikarangnya itu. Beberapa aktor lainnya sudah tampak berdatangan. Latihan segera akan dimulai. Saya tidak sempat bercerita dengan aktor lainnya.
***
Tanpa menunggu aba-aba dari Feri selaku tukang karang cerita ataw sutradara, Dayat, Yudha, dan Uda Febri mulai mengeluarkan beberapa box buah dari dalam warung. Tampaknya itu sudah menjadi tugas mereka. Box itu disusun di halaman warung. Halaman warung pada malam itu telah berubah menjadi pentas. Pada box tersebut, ditegakkan sebuah payung. Di atas box, digelar tampah bambu. Di dalam tampah-tampah itu diisi daun-daunan. Sebuah peristiwa akan mereka hidupkan, kehidupan para pedagang kelas bawah di sebuah pasar.
Uda Febri Nova, Uda Wan, Nanik, Gita, Yudha, Dayat, Anggun, dan Palito mondar mandir di area masing-masing. Sementara di sebelah kiri, Andes begitu serius memindah-mindahkan tangannya di neck gitar. Datuak Manso mengulang-ngulang ritma yang sama di membran gendang ketipungnya. Dan Uni Yeni tampak cukup kewalahan mencobakan pengetahuan barunya dalam bernyanyi, solfegio. Dari suara rendah, langsung meloncat dari satu interval ke interval lain di atas ataupun di bawah. Dan juga yang menarik, bagaimana mereka mencipta harmoni dengan suara. Saya sesekali juga terpancing untuk ikut menyanyikannya.
Beberapa kali diskusi, Feri begitu sering mengulang-ulang kata sandiwara. Namun, ia tidak memberi penjelasan yang rinci tentang sandiwara yang ia maksud. Dan bagaimana keterhubungannya dengan cerita bayang kaki limo yang akan ia pentaskan itu. Jika kemudian kita bersepakat dengan Dede Pramayoza dalam bukunya dramaturgi sandiwara, bahwa sandiwara diartikan sebagai sebuah seni dramatik yang berkembang pesat di nagari-nagari Sumatera Barat pada dekade 60an, yang secara bentuk membedakan dirinya dengan begitu tajam dengan randai (dramatik tradisi). Lebih jauh dapat dilihat ketajamannya, bahwa sandiwara secara pementasan menggunakan pendekatan apa yang dibayangkan dalam teater dalam konteks Eropa. Dimana, ada jarak yang tegas dan jelas antara penonton dan apa yang sedang ditontonnya. Sedangkan randai (dramatik tradisi) berada di seberangnya. Apa yang sedang dipentaskan berada begitu dekat dengan penonton, dan adakalanya penonton juga menjadi bagian dari apa yang ditontonnya. Serta kerap sekali keterbatasan-keterbatasan secara teknis pementasan dalam randai (dramatik tradisi) bisa diselesaikan secara imajiner kepada penonton. Dan ini tidak terjadi pada sandiwara ataupun teater tadi.
Namun, jika ditonton dari apa yang sedang dikembangkan oleh Feri, terlihat tidak bercorak dua-duanya, dan terkadang juga sangat bercorak dua-duanya. Bahwa, apa yang sedang digarap Feri tidak berjarak bahkan sangat dekat dengan para penontonnya. Sangat khas randai (dramatik tradisi). Namun, sebalik pada itu, jika mengacu pada apa yang dijelaskan Dede, bahwa sandiwara dalam pementasannya sangat khas Eropa. Dimana ada pentas, ada batas yang jelas dengan penonton, serta ada ruang khusus untuk pemain keluar masuk dalam peran. Serta yang paling penting juga dalam sandiwara ada istilah babakan, dan istilah selingan. Hal itu, tidak terasa ada dalam apa yang sedang diproduksi Feri melalui karya-karyanya.
Namun terlepas dari istilah tersebut, apakah teater atau sandiwara, secara dramaturgi ada banyak hal yang mungkin bisa dilihat sekaligus dicatat. Misalnya tentang teks lakon yang dikarang Feri. Bayang kaki limo ini misalnya. Teks yang dihadirkan menggunakan bahasa Minang. Teks tersebut dipotret dari kisah, dari fenomena sosial yang ada di Lubuak Batingkok. Sebagaimana digambarkan dalam tokoh ibu dalam cerita. Ibu dengan kehidupannya sebagai pedagang di pasar tradisional. Pedagang kecil dengan mimpi besar. Kehidupan yang tidak jauh dari lilitan hutang, membicarakan kejelekan orang lain, melihat dan menyimpulkan sesuatu dari apa yang tampak semata, kerap bergeming dengan segala kepura-puraan, sinisme adalah kecemburuan yang membatu, paradoks dunia pendidikan, dan lain sebagainya.
Cerita itu disampaikan oleh tokoh atau pemeran yang juga warga Lubuak Batingkok. Para pemeran ini seakan sedang menceritakan diri mereka sendiri. Adakalanya dialog-dialog yang dimuculkan untuk mencemooh. Maka ketika itu tentu saja para pemeran ini sedang mencemooh diri mereka sendiri. Kadang cemooh itu juga diikuti dengan gelak tawa sungguhan.
Menemukan para pemeran diantara warga masyarakat menjadi tantangan sendiri bagi Feri. Pada satu ketika Feri membuat surat kepada warga. Surat yang sebetulnya bermaksud mengundang. Namanya undangan, tentu di dalam termaktub maksud dan tujuannya. Bahwa ia akan membuat gelaran drama. Drama yang bercerita tentang kisah-kisah yang dekat dengan masyarakat Lubuak Batingkok. Untuk itu, yang bersedia untuk ikut ambil bagian bisa datang berkumpul di satu tempat. Dari 30 surat undangan yang disebar, separohnya datang. Dari yang separoh itu menandakan kesediaan untuk ikut bergabung. Orang-orang inilah kemudian yang dikelola oleh Feri menjadi pemeran dan tim produksi aatas karya-karyanya.
Tantangan pertama selesai, mentransfer teks ke laku dan suara kepada pemeran menjadi tantangan lebih berat lagi. Mendedahkan teori-teori pemeranan menjadi hal yang lebih rumit lagi. Tetapi, tentu Feri memulai dengan memperkenalkan cerita. Kemudian mendorong pemeran untuk memberi nada dan penekanan-penekanan suara pada dialog yang dibaca. Tidak mempan juga, Feri membuatkan pengandaian-pengandaian yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan memotret tokoh-tokoh tertentu dalam realitas Lubuak Batingkok kepada pemeran. Jika belum sampai juga, pada satu titik, Feri menyuntikkan bentuk laku, dan nada suara atas dialog yang akan dibacakan kepada para pemeran. Maka, menghapal laku, gerak, dan nada dialog menjadi pilihan oleh para pemeran bayang kaki limo ini.
Namun, yang lumayan melekat oleh para pemeran dan dijadikan sebagai “kunci” adalah bagaimana kemudian bisa mendengarkan dengan seksama dialog dari lawan main. Mendengarkan dengan seksama berarti memberi ruang pada emosi. Dengan begitu ekspresi tertentu bisa muncul dengan sendirinya. “Teori” ini kemudian begitu melekat dan selalu dipraktekan oleh para pemeran.
***
Feri begitu yakin, bahwa kesenian, apapun itu, baik seni rupa, seni pertunjukan, atau yang lainnya, mestinya tumbuh di dalam masyarakat. Biar kemudian, antara keduanya, kesenian dan masyarakat saling berpantul satu sama lain. Karena itu, ia mendirikan sebuah kelompok teater atau sandiwara di tengah-tengah masyarakat. Di nagari Lubuak Batingkok, kampung halamannya sendiri.
Berangkat dari keresahan bersama atas pertanyaan-pertanyaan reflektif atas kehidupan keminangkabauan kita hari ini. Pertama, misalnya, bagaimana kita melihat lalu memaknai kehidupan kita hari ini dalam kerangka Minangkabau? Dari tataran konsep, hingga kemudian penerapannya dalam kehidupan di kampung-kampung, nagari-nagari di Minangkabau. Atau yang kedua, adakah kita masih berpijak pada konsep-konsep tersebut? Atau jangan-jangan kita telah serba mengambang kian kemari. Tergenang-genang namun tak mengalir.
Atas dasar itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung dengan dukungan dari Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM) dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat kembali akan menggelar Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal tahun 2024. Festival budaya ini akan digelar selama tiga hari, dari tanggal 3 sampai dengan 5 Desember 2024, bertempat di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung di Jorong Padang Ranah, Kanagarian Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung.
Tak tanggung-tanggung, tema pelaksanaan Alek Mandeh tahun 2024 ini adalah “Menggantang Ambang: Matrilineal Minangkabau di Persimpangan Waktu.” Tema ini mencoba membidik, sebuah upaya bersama untuk berhitung terhadap kemungkinan kemungkinan untuk mempertahankan dan sebaliknya mengembangkan nilai-nilai budaya matrilineal Minangkabau di Sumatera Barat. Nilai-nilai budaya yang sebetulnya tidak saja perlu dihidupi namun juga pada saat yang sama menjadi nilai-nilai yang menjamin keberlangsungan hidup masyarakatnya.
Dari konsep berpikir di atas, maka, kegiatan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 akan diturunkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan. Pertama sekali akan dibuka dengan pertunjukan budaya Arak Iriang Bakaua Adat yang melibatkan kurang lebih 200 orang, terdiri atas Bundo Kanduang dan Naniak Mamak dari Nagari Sijunjuang. Kemudian, selain pertunjukan budaya juga akan ada kegiatan pentas atau pertunjukan seni, pameran rupa dan petrunjukan interaktif, pentas musik Pop Minang, pemutaran film bertajuk layar matrilineal dan klinik kritik pertunjukan dan budaya.
Pentas seni dalam Alek Mandeh 2024 akan menampilkan tiga nomor karya dengan fokus pada potret ‘ambang’ Matrilineal Minangkabau. Nomor pertama adalah karya tari bertajuk Rantak Nagari Parampuan dengan koreografer Susas Rita Loravianti. Selanjutnya satu nomor pertunjukan Teater Berbahasa Minang karya sutradara Fitri Noveri berjudul Renteng Langsai. Adapun yang ketiga, satu nomor seni rupa pertunjukan hasil kolaborasi tiga orang perempuan seniman muda yakninya Maharani Mancanagara, Haiza Putti, dan Siska Aprisia, berjudul Rundiang Si Kalingkiang. Adapun pentas musik Pop Minang tahun ini akan menampilkan Adiem MF dan Ratu Sikumbang. Selain itu, juga akan ada pertunjukan dari sekolah-sekolah di Kabupaten Sijunjung.
Dokumentasi pertunjukan Alek Mandeh 2023
Kegiatan klinik kritik pertunjukan dan budaya akan diisi oleh Dr. Sal Murgiyanto, Dr. Feriyal Aslam dan Thendra BP. Kegiatan klinik kritik ini akan diikuti oleh 12 orang penulis dari berbagai daerah di Sumatera Barat, yang juga akan diisi dengan pertunjukan spesial Baombai dari komunitas seni Gantiang Tak Putuih, Sijunjung. Kegiatan ini diharapkan dapat memancing lahirnya berbagai esai kebudayaan atau kritik pertunjukan yang menjadikan wacana matrilineal Minangkabau sebagai topiknya.
Bupati terpilih Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa pelaksanaan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 merupakan bukti dari komitmen Pemkab Sijunjung atas pelestarian kebudayaan Sijunjung, dan merupakan bagian dari upaya menumbuh kembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya di Sijunjung. Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Puji Basuki menyatakan bahwa kegiatan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 sebagai salah satu kegiatan unggulan Dinas, tahun ini akan berfokus pada upaya mendorong terjadinya transformasi pengetahuan dan keterampilan, agar di masa depan kegiatan serupa ini memiliki semakin banyak sumber daya manusia dari anak Nagari Sijunjung sendiri.
Sementara itu Direktur PMM, Ahmad Mahendra mengharapkan bahwa Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal 2024 ke depan tetap dapat terselenggara dengan skema pendukungan yang terus mengalami perkembangan. Artinya, penyelenggaraan Alek Mandeh pada tahun-tahun mendatang diharapkan selain mendapatkan dukungan selain dari pemerintahan Nagari dan pemerintahan Kabupaten dengan leading sector Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Selain Kementerian Kebudayaan, yang telah mendukung selama tiga tahun berturut-turut, ke depan Alek Mandeh juga dapat didukung oleh stakeholder lainnya, agar event ini dapat menjadi event reguler yang dimiliki secara bersama, dan memiliki peran signifikan di dalam pemajuan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung.
Pernyataan Direktur PMM tersebut dikuatkan oleh Kepala BPK III Sumatera Barat, Undri. Menurutnya, pelaksanaan Alek Mandeh: Festival Budaya Matrilineal adalah bentuk pelestarian berkelanjutan, setelah sistem matrilineal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2013, dan perkampungan adat Nagari Sijunjung tetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya peringkat nasional tahun 2017. Di samping itu, Alek Mandeh juga adalah serta salah-satu usaha untuk menciptakan ruang bersama bagi pelaku, pengamat dan masyarakat luas untuk melihat akar tradisi matrilineal sebagai sumber dari berbagai atraksi seni dan budaya Minangkabau.
Mewakili Panitia Pelaksana yang terdiri dari berbagai komunitas, Kurator Alek Mandeh, Dede Pramayoza menyampaikan harapannya agar Alek Mendeh dapat semakin memberi dampak terhadap peningkatan kesejahteraan, agar dapat memunculkan kebanggaan dan keyakinan masyarakat dalam melestarikan kebudayaannya. Dengan kata lain, budaya matrilineal Minangkabau yang dicerminkan secara representatif oleh perkampungan adat Nagari Sijunjung, yang juga tercermin melalui upacara adat bakaua adat serta tradisi batoboh kongsi, diharapkan dapat menjadi modal penting bagi pembangunan kebudayaan yang bisa berdampak baik sebagai bentuk peranti ketahanan budaya dan sekaligus sumber ekonomi budaya.